alisro-9

Hukum Menulis Al Qur'an Dengan Tangan

07 Nov 2010
Tajuk fatwa : Hukum Menulis Al Qur'an Dengan Tangan
Nomor fatwa : 3
Tanggal penambahan : Kamis 5 Jumadilakhir  1425 H.  bertepatan dengan  22 Juli 2004 M.
Pihak pemberi fatwa : Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah
Sumber fatwa : [Kumpulan Fatwa, Juz: 13, 385. ]
Soal:
Imam Ibnu Taimiah ditanya tentang seorang prajurit yang ingin menuliskan kitab Sahih Muslim dan Bukhari serta Al Qur'an. Ia berniat menulis Al Qur'an dan al Hadis. Ia juga mendengar keberadaan kertas dan alat tulis, maka ia beli dengan seribu Dirham. Lalu ia berkata, aku insya Allah akan menulis hadis-hadis Rasul dan Al Qur'an di atas kertas-kertas ini. Ia mengharap dengan harapan yang sangat. Apakah perbuatan ini berdosa? Tafsir apa sajakah yang paling mendekati Al Qur'an dan al Hadis, tafsir Zamakhsyari, Qurthubi, Baghawi, atau selain dari tafsir mereka?
Jawab :

Syaikhul Islam Taqiudin Abul 'Abbas Ahmad bin Taimiah berkata, segala puji bagi Allah, tidak ada dosa atas apa yang diniatkan dan diperbuat, yaitu menuliskan ilmu-ilmu syariat. Sesungguhnya menuliskan Al Qur'an dan Al hadis serta kitab-kitab tafsir merupakan perbuatan ketaatan yang agung dan mendekatkan diri kepada Allah.

Adapun kitab-kitab tafsir yang telah tersebar di masyarakat luas, yang paling benar adalah Tafsir Muhammad ibnu Jarir Thabari. Karena kitab ini, memuat pendapat-pendapat para ulama salaf dengan sanad yang konstan, di dalamnya tidak terdapat bidah, dan tidak mengambil dari orang-orang cacat sanad, seperti, Muqatil bin Bakir dan Al Kalbi dan tidak pula mengambil dari tafsir-tafsir al Ma'tsur dengan sanad yang banyak. Seperti tafsir Abdurraziq, Abd bin Hamid, Waki', Ibnu Abi Syaibah, Ahmad ibnu Hamba dan Ishaq serta Ibnu Rahawaih.

Sementara itu, tiga tafsir yang disebutkan oleh penanya, yang paling bersih dari Bidah dan dari hadis-hadis yang lemah adalah tafsir Al Baghawi. Akan tetapi, tafsir itu merupakan ringkasan dari kitab tafsir Tsa'labi yang telah dikeluarkan darinya hadis-hadis palsu, masalah yang mengandung bidah, dan lain sebagainya.

Adapun Al Wahidi, adalah murid Tsa'labi. Ia mengambil darinya dengan bahasa Arab. Hanya saja Tsa'labi lebih baik darinya, karena dalam tafsirnya tidak banyak terdapat masalah-masalah bidah. meskipun masih cenderung meniru yang lain. Namun demikian masih banyak manfaat yang dapat dipetik dari Tsa'labi dan Al Wahidi, tafsir al Basit, al Wasit dan al Wajiz. Dan tidak sedikit pula, di dalamnya terdapat pendapat-pendapat buruk yang disadur dari ulama yang lain.

Lain halnya dengan tafsir Zamakhsyari. Tafsir ini banyak sekali muatan bidahnya dan ditulis dengan metode Muktazilah, mengingkari sifat-sifat Allah, dan mimpi serta berpendapat bahwa Al Qur'an adalah makhluk, mengingkari akan kehendak Allah atas seluruh makhluk, dan bahwa Allah adalah penentu atas segala perbuatan hambanya dan lain sebagainya.

Lima Pokok yang dianut oleh paham Muktazilah adalah Tauhid, al adu. keadilan, Posisi di antara dua posisi, Pelaksanaan ancaman, Berpesan berbuat baik dan melarang keburukan.

Makna tauhid, menurut mereka mencakup penolakan terhadap sifat-sifat Allah, yang disebut-sebut oleh Ibnu Tumart sebagai anggota Almowahid. Mereka ini adalah kafir akan Asmaulhusna.

Keadilan, menurut mereka adalah mencakup pengingkaran akan qadar. takdir, dalam arti bahwa manusia dapat menentukan segala perbuatan, dan mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu. Dan di antara mereka ada yang mengingkari kemajuan ilmu dan kitab. Akan tetapi yang demikian itu adalah pendapat para imam mazhab. Di antaranya adalah Zamakhsyari yang bermasam, mengikuti Mughirah bin Ali, Abi Hasyim dan para pengikutnya.

Almanzilah bainal Manzilatain (Posisi di antara dua posisi) yaitu bahwa orang fasik, dalam beberapa hal tidak termasuk mukmin dan tidak juga kafir, akan tetapi di antara keduanya.

Infadul wa'id, artinya, bahwa orang fasik terhadap agama, baginya kekal di dalam neraka. Dan tidak dapat keluar dari neraka meskipun dengan syafaat atau yang lainnya, sebagaimana halnya pendapat khawarij.

Dan yang mereka maksud dari Amar makruf dan nahi munkar adalah mencakup pembolehan keluar dari imam-imam dan mengangkat senjata atas mereka. Pokok-pokok tersebut dan kitabnya tidak banyak diikuti oleh orang, maksud tujuannya pun jauh dari sasarannya. Karena banyak menyadur hadis-hadis maudhu' (palsu) dan sedikit sekali menyadur dari sahabat-sahabat Nabi dan para tabiin.

Tafsir Al Qurthubi jauh lebih baik dari Zamakhsyari dan lebih mendekati metode para ahli Al Qur'an dan al Hadis serta lebih terjauh dari bidah. Memang kitab-kitab itu haruslah mendapatkan kritis. Akan tetapi tentunya harus dengan adil.

Sama halnya dengan tafsir Ibnu Athiah. Tafsir ini lebih baik dari tafsir Zamakhsyari. Pembahasan dan penyadurannya pun lebih benar, dan jauh dari bidah. Meskipun masih ada beberapa unsur bidahnya. Akan tetapi jauh lebih sedikit. Di antara tafsir-tafsir yang ada, kitab inilah yang paling baik. Akan tetapi Tafsir Thabari jauh lebih baik dari seluruh tafsir-tafsir yang ada.