kategori-buku

Pembahasan Kitab Syarhus Sunnah

18 Okt 2011

Imam Abu Muhammad Al-Barbahari Rahimahullah

Begitu banyak Muslimin karena kejahilannya belum mengetahui makna dan kedudukan As Sunnah. Kebutaan terhadap Sunnah semakin merebak ketika muncul kerancuan dari pemahaman yang salah terhadap Sunnah. Sunnah hanya dikenal secara parsial semata. Kebanyakan orang beranggapan bahwa sunnah hanya berkaitan dengan urusan ubudiyah atau fiqh praktis ibadah belaka yakni sunnah adalah hukum setelah Wajib yang bermakna Jika dikerjakan mendapat pahala jika ditinggalkan tidak apa-apa. Inilah yang disebut memahami secara parsial. Padahal makna Sunnah juga tidak hanya dari sisi fiqh semata namun lebih luas lagi, diantaranya dari sisi aqidah.  Jika dari sisi Aqidah maka Sunnah adalah identik dengan Islam, sebagaimana perkataan Bisyr Bin Harits rahimahullah: " Al Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam."

Banyak sekali ulama Ahlus Sunnah yang menamakan  aqidah dengan namaAs Sunnah, sehingga beberapa  ulama  memberi judl buku-buku karya mereka yang membahas Aqidah Islam dengan judul 'As Sunnah". Seperti Kitab As Sunnah' karya Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ibnu Abi Ashim, Abdulloh bin Imam Ahmad bin Hambal, Imam Al Baghawi, Imam Al barbahari  dan ulama lainnya rahimakumulloh.

Inilah buku terjemahan dari Kitab Syarhus Sunnah yang memuat point-point penting Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah karya Imam Al Barbahari rahimakumulloh. Disajikan dalam edisi terjemahan yang telah ditahqiq oleh Syaikh Khalid Ar Roddadi hafidzahulloh.

Syarhus Sunnah : Kupas Tuntas Tentang Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam
Penulis : Imam Abu Muhammad Al Barbahari rahimahullah
Tahqiq : Syaikh Khalid Ar Raddadi

syarhussunnah

 

Kitab Syarhus Sunnah: Isi Kitab setelah Ditahqiq dan Dita'liq

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, Yang menurunkan Al-Qur'an yang mulia sebagai petunjuk dan penerangan bagi seluruh hamba-Nya baik dari kalangan manusia dan jin.

Ya Allah aku memuji-Mu dengan pujian yang tulus untuk membalas nikmat-Mu dan memenuhi tambahan nikmat-Mu. Ya Allah, aku memohon agar Engkau menjadikan ikhlas sebagai pendamping aqidahku, jujur sebagai hiasan ucapan dan langkahku, syukur sebagai pakaian penutupku dan rasa takut kepada-Mu sebagai ketenangan dan keimananku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keutamaan yang selalu berdampingan dengan taufik, ilmu yang bersih dari kebodohan, ucapan yang selalu benar dan perangai yang selalu disirami dengan mata air kebenaran.

Ya Rabbi, sudah sangat sempurna karunia dan sentuhan kasih sayang-Mu kepadaku serta sangat tepat janji-janji-Mu. Ya Rabbi, jadikanlah usahaku di pagi hari selalu bersanding dengan sikap tawakkal dan pada sore hari mendapat kesuksesan dari-Mu.

Ya Rabbi, janganlah Engkau hinakan jiwa yang sudah merasa tenang dengan mengenali-Mu dan janganlah Engkau mengambil cahaya kebesaran-Mu dari hatiku yang sudah memancarkan sinar hidayah. Ya Rabbi janganlah Engkau tahan lisan yang sudah terbiasa membaca tahlil, tasbih, tahmid dan dzikir untuk menyanjung kesucian-Mu.

Ya  Allah,  lindungiiah  diriku   dan  kedustaan  para  pendusta ,   keraguan  orang-orang  munalik, kejahatan    para penentang   ajaran-Mu dan kebodohan orang-orang yang tertipu  dan terlena dengan rayuan dunia.

Semoga Shalawat dan salam tetap tercurah atas Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam sebagai utusan Allah, manusia terpilih untuk menjadi hamba Allah yang sempurna ruh dan akalnya, tinggi kemuliaannya, luhur budi pekertinya dan terhormat kedudukannya.

Masih cukup banyak orang yang belum mengenal makna dan kedudukan sunnah, kebutaan terhadap sunnah semakin membara ketika muncul kerancuan dan salah persepsi terhadap sunnah. Di antara mereka hanya memahami sunnah sebatas pengertian parsial dan verbal tidak mengena pada inti permasalahan.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa sunnah hanya berkaitan dengan urusan ubudiyah atau fikih praktis belaka, padahal sunnah bisa identik dengan Islam atau aqidah sebagaimana yang dituturkan oleh Bisyr bin Harits: "Al Islam adalah sunnah dan Sunnah adalah Islam."

Banyak sekali para ulama Ahli sunnah menamakan aqidah dengan sebutan sunnah, sehingga beberapa ulama salaf ada yang memberi judul buku-buku aqidah dengan judul sunnah seperti Imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Ibnu Abu Ashim, Al Baghawi, Al Barbahariy dan yang lainnya.

Malapetaka akhir zaman banyak disebabkan oleh kerdilnya pemahaman sebagian besar Umat Islam terhadap aqidah Ahli sunnah lalu muncul berbagai macam kesesatan dan kebid'ahan yang ditebarkan oleh Ahli bid'ah, sehingga lambat laun Umat Islam mengalami degradasi aqidah dan moral terpicu oleh derasnya arus kesyirikan, kebid'ahan dan kesesatan maka tidak tersisa dari sunnah kecuali hanya secercah  cahaya  dalam  lautan  kegelapan  sejalan  dengan  penuturan  Hudzaifah:  "Kebid'ahan  akan

menyebar luas, ketika salah satu kebid'ahan ditinggalkan maka mereka mengatakan bahwa sunnah telah ditinggalkan."

Muncullah zaman sunnah dianggap bid'ah dan bid'ah dianggap sunnah, tuntunan agama menjadi tontonan sementara tontonan menjadi tuntunan dan ajaran, sebagaimana firman Allah:

zuhruf-37 

 zuhruf-36

Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. Az-Zukhruf: 36-37)

Agar kita tetap memiliki pegangan di tengah gencamya serangan kesesatan dan kebodohan terhadap prinsip dan manhaj aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah maka kita harus menyimak isi buku ini secara tuntas dengan disertai penghayatan dan pengamatan.

Penerjemah

Zaenal Abidin LC

Segala puji hanya milik Allah Subahanahu wata’aala Kita memuji-Nya, memohon ma'unah dan Maghfirah-Nya, bertaubat dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah Subahanahu wata’aala maka tiada yang dapat menyesatkanya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tiada yang dapat menunjukinya.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Beliau diutus untuk membawa agama dan petunjuk yang haq. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas beliau, keluarga dan sahabatnya.

Ad dinul Islamiy adalah penyempuma seluruh kenikmatan Allah atas hamba-Nya sebagaimana firman Allah:

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ، الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Al Maaidah: 3).

Sebelum Nabi Sholallohu’alaihi wasallamwafat, beliau telah meninggalkan ajaran yang bersih dan putih cemerlang, malamnya laksana siangnya, dan siapa yang berpaling darinya maka ia pasti akan hancur dan binasa.

Pada masa generasi pertama, Umat Islam menjadi umat rahmatan lil 'alamin karena mereka istiqamah di atas petunjuk dan memiliki ikatan batin   serta hati yang satu   dan terjaga dari hawa nafsu sehingga membuat mereka mampu istiqomah dalam rangka mentaati  Allah Subahanahu wata’aala dan    Rasul-Nya, mereka itulah para sahabat Nabi  yang  tidak  mengenal kecuali hanya mentaati dan menjunjung tinggi sunnah dan ajaran beliau. Mereka tunduk dan patuh terhadap seluruh  petunjuk dan kebenaran yang datang dari beiiau tanpa disertai sanggahan dan bantahan terhadap seluruh putusan syariat.

Begitulah suasana kehidupan generasi teladan, begitu pula generasi setelah mereka baik dari kalangan Tabi'in dan para ulama sunnah yang telah mendapat hidayah. Semoga Allah Subahanahu wata’aala meridhai mereka semuanya.

Kemudian muncul dekade baru yaitu sebuah generasi yang mulai gerah hidup dengan konsep wahyu dan ajaran islam sehingga melempar gagasan untuk merevisi beberapa kandungan wahyu dan mendewakan rasio untuk memandulkan kebenaran wahyu serta mengacak-acak hukum-hukum Allah lalu muncullah berbagai kerancuan sehingga lahir benih perpecahan dan umat terpecah menjadi banyak sekte dan firqah. Maka tidak bisa dielakkan perkara yang paling dikhawatirkan Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam lambat laun akan muncul yaitu merajalelanya para ulama dan tokoh agama sesat yang menjadi biang kerok perpecahan di tubuh umat dan berpaling dari ajaran agama yang murni.

Di antara mereka ada yang berusaha membenturkan ayat-ayat Al-Qur'an seakan-akan terdapat sisi kontradiktif antara ayat satu dengan ayat yang lain atau berbantah-bantahan dalam ayat-ayat Allah dengan cara yang bathil yang bertujuan untuk membasmi dan mengubur kebenaran dengan bantuan Iblis sehingga perbuatan jahat dan keji tersebut nampak, seakan suatu kebaikan serta menyangka mereka di atas kebenaran dan istiqamah.

Dengan  berbagai  usaha dan cara,  Ahli  bid'ah tidak bosan-bosannya melakukan pembusukan sunnah dari dalam dan menciptakan kekacauan dalam agama untuk membuat bingung  orang-orang  awam sehingga kebatilan  dan  kebid'ahan mereka tetap laku di masyarakat.

Namun Allah Subahanahu wata’aala selalu menjaga dan mengamankan kemurnian agama ini dengan adanya para ulama sunnah yang tetap gigih dan penuh keikhlasan dalam membela sunnah dan menghasung kesesatan para penyeleweng ajaran, menghasung kebatilan dan takwil-takwil bathil para tokoh jahil.

Alam kehidupan ini tidak akan pernah sepi dari para ulama sunnah yang mulia lagi kaya ilmu yang tetap komitmen, bersungguh-sungguh dan tegar, penuh ketabahan untuk membela Al Kitab dan As Sunnah.

Mereka terus-menerus memberikan bantahan lugas dan jelas terhadap setiap Ahli bid'ah, tokoh kesesatan dan pen-dukung kebatilan serta penyebar kerusakan.

Di antara para ulama di akhir abad ketiga yang sangat gigih dan tegas membela sunnah dan menghasung kebid'ahan adalah Imam Abu Muhammad Al Hasan bin Ali Al Barbahariy, (wafat tahun 329 H). Beliau telah mendapat ujian berat dalam rangka mempertahankan sunnah dan membela aqidah Ahli sunnah wal jamaah serta melawan berbagai macam serangan Ahli bid'ah bahkan tidak merasa gentar dan patah semangat dalam rangka membongkar kebatilan dan cacat mereka yang selama ini mereka sembunyikan.

Saya sedang menggarap tulisan agung karya ulama besar yang berjudul "SYARHUS SUNNAH", sebuah buku yang sangat berkualitas dan berbobot ditambah dengan kandungan ilmiah yang sangat tinggi. Penulis sangat komitmen terhadap manhaj salaf bahkan beliau berusaha memperjelas aqidah salaf yang bersandar kepada Al Qur'an dan As Sunnah serta memberi peringatan keras dan tegas terhadap kesesatan Ahli bid'ah dan penjelasan lugas tentang kebatilan dan kesesatan mereka serta membongkar borok kebid'ahan mereka secara tuntas.

Saya beranggapan bahwa mentahqiq dan mengoreksi kembali buku ini merupakan suatu keharusan sebagai bentuk usaha mulia dan berharga untuk menghidupkan kembali aqidah Ahli sunnah. Oleh sebab itu, saya telah membulatkan tekad untuk mengoreksi kembali buku ini dengan disertai studi ilmiyah tentang biografi penulis dan karya-karyanya untuk menambah kesempurnaan usaha di atas.

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Syaikh Falih bin Nafi' Al Harbiy yang telah banyak memberi motivasi dan dukungan yang berharga serta mulia dalam rangka menuntaskan penulisan ulang buku ini. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan terhadap usaha tersebut.

Semoga Allah menjadikan usaha ini ikhlas untuk mencari ridha-Nya dan semoga Allah memberi taufiq kepada kita untuk meraih segala apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Nama, Kunyah dan Nasab

Dia seorang imam, Mujahid, tokoh ulama panutan lagi disegani yang bermadzhab Hambali dan pemuka ulama pada zamannya, Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Kholaf Al Barbahariy nisbat kepada daerah Barbahar salah satu daerah lembah di benua India.1

Tempat lahir

Tidak ada referensi yang cukup untuk menjelaskan seeara detail tentang sejarah kelahiran beliau, namun menurut penemuan saya, beliau lahir dan besar di Baghdad sebagaimana yang dikenal dan masyhur di kalangan kaum muslimin terutama para alim ulama.

Imam Al Barbahariy banyak bergaul dengan para ulama murid-murid imam Ahli sunnah Ahmad bin Hambal dan beliau banyak mengambil ilmu dari mereka dan kebanyakan mereka berasal dari Baghdad. Yang demikian ini menjadi bukti bahwa beliau besar dan tumbuh di tengah lingkungan ilmu yang kental dengan sunnah yang memberi pengaruh besar pada dirinya.

Guru dan  Petualangan Beliau  Dalam  Mencari Ilmu.

Imam Al Barbahariy sangat menonjol dalam petualangan mencari ilmu dan memiliki perhatian besar dalam ilmu agama. Beliau banyak menimba ilmu dari para imam dan ulama dari sahabat imam Ahmad bin Hambal namun sangat disayangkan guru beliau yang tercantum dalam literatur Islam hanya dua orang saja:

  1. Ahmad bin Muhammad bin Al Hajjaj bin Abdul Aziz Abu Bakar Al Marwazi seorang imam, tokoh panutan, Fakih, Muhaddits dan pemuka ulama Baghdad sahabat karib imam Ahmad bin Hambal wafat pada tanggal 6 Jumadil Ula tahun 275 H.2
  2. Sahal bin Abdullah bin Yunus At Tustary Abu Muhammad, seorang imam, Ahli ibadah, zuhud dan memiliki beberapa mutiara hikmah dan karomah serta kelebihan. Wafat bulan Muharram tahun 233 dalam usia 80 tahun.3

Kedudukan dan Pujian Para Ulama

Imam Al Barbahariy seorang imam yang sangat disegani, tegas dalam menyampaikan kebenaran, pengajak kembali kepada sunnah dan atsar. Beliau memiliki kedudukan mulia di kalangan para pemimpin dan para pembesar negara.

Majlis ta'limnya dipenuhi dengan pengajian tentang ilmu hadits, atsar dan fikih yang dihadiri oleh para imam Ahli hadits dan fiqih.4

Abu Abdullah Al Faqih berkata: "Jika ada orang yang berasal dari Baghdad senang terhadap Abul Hasan bin Basysyar dan Abu Muhammad Al-Barbahariy, ketahuilah dia termasuk Ahli sunnah." 5

Di antara hal-hal yang menjadi bukti bahwa beliau seorang ulama yang disegani dan memiliki kedudukan mulia:

Murid beliau Ibnu Baththah berkata: "Saya mendengar Al Barbahary ketika seorang jamaah haji berkata: 'Wahai kaumku! Jika beliau butuh bantuan seratus ribu dinar dan seratus ribu dinar hingga lima kali lipat maka aku siap membantunya.'"

Ibnu Baththah berkata: "Jika beliau menghendakinya maka dia bisa memperolehnya dari para jamaah."

Adapun pujian para ulama terhadapnya antara Iain:

Ibnu Abu Ya'la berkata: "Dia seorang pemuka ulama di tengah kaumnya, terdepan dalam anti kemunkaran dan berlepas diri dari kebatilan baik dengan tangan atau lisan. Beliau sangat disegani dan terhormat di hadapan para pemimpin dan para sahabatnya, dia salah seorang imam yang berilmu dan banyak hafalannya, serta mumpuni dan terpercaya dalam meriwayatkan atsar"

Imam Adz Dzahabi dalam kitab Al 'Ibar berkata: "Dia seorang Ahli fikih dan tokoh panutan, ulama terkemuka dari kalangan madzhab Hambali di Iraq baik dalam pemikiran, kedudukan dan kebersihan hidupnya. Beliau memiliki posisi dan kedudukan yang sempurna."

Ibnul Jauzi berkata: "Dia seorang ulama pengumpul ilmu, zuhud, dan sangat tegas terhadap Ahli bid'ah." Ibnu Katsir berkata: "Beliau seorang  ulama  yang  zuhud, ulama  Ahli fikih dari  kalangan  madzhab Hambali, sangat Ahli dalam memberi nasihat dan sangat tegas dan keras terhadap Ahli bid'ah dan pelaku maksiat, serta sangat berwibawa dan disegani oleh orang alim dan orang awam."

Sikap Zuhud dan Wara' Beliau

Imam Al Barbahariy sangat dikenal kezuhudan dan wara' nya dan sebagai bukti kuat apa yang telah dituturkan oleh Abul Hasan bin Basysyar: "Imam Al Barbahariy telah berlepas diri dari harta warisan dari bapaknya sebanyak tujuh puluh ribu dirham."

Ibnu Abu Ya'la berkata: "Imam Al Barbahariy memiliki banyak kelebihan dan keistimewaan dalam urusan agama."

Sikap Beliau Terhadap Ahli Bid'ah.

Imam Al Barbahariy bersikap sangat tegas terhadap Ahli bid'ah dan sangat gencar dalam memerangi mereka baik dengan tangan atau lisan tanpa keluar dari kaidah Ahli sunnah dalam mengambil sikap dan bermuamalah terhadap mereka.

Beliau sangat komitmen dengan kemurnian ajaran dan pro aktif dalam menyingkirkan kotoran bid'ah dan hawa nafsu baik dari pemikiran Jahmiyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah, Tasawuf, Syiah dan Rafidhah.

Dalam buku ini beliau sangat memperhatikan bahaya bid'ah dari mulai yang kecil hingga yang besar sebagaimana yang beliau katakan dalam masalah nomor (6): "Waspadalah terhadap bid'ah meskipun dianggap remeh, sebab bid'ah yang remeh dan kecil bila dibiarkan akan menjadi besar."

Beliau juga menjelaskan bahaya penyebaran bid'ah dan memberi peringatan keras kepada kita agar tidak terjatuh ke dalam cara-cara dan praktek kebid'ahan sebagaimana ucapan beliau pada masalah nomor (8): "Perhatikanlah setiap ucapan orang pada zamanmu, jangan tergesa-gesa dan cepat membenarkan suatu dari ucapan tersebut hingga kamu bertanya dan memperhatikan apakah ucapan itu pernah disampaikan oleh para sahabat Nabi atau para ulama Ahli sunnah? Jika kamu mendapatkan atsar dalam hal tersebut peganglah dan jangan sampai kamu melampaui batas, dan jangan memilih - milih darinya sehingga kamu terjatuh dalam Neraka."

Beliau juga berkata dalam masalah nomor (9): "ketahuilah, orang yang tersesat dari jalan lurus ada dua macam; pertama orang yang tersesat dari jalan lurus sementara dia tidak menginginkan kecuali kebaikan, maka kekeliruan orang tersebut tidak boleh diikuti karena ia telah hancur, dan kedua orang yang sengaja menentang kebenaran dan menyelisihi orang-orang bertaqwa dari generasi sebelum mereka, dialah orang yang telah tersesat dalam kesesatan dan menyesatkan."

Beliau juga dalam nomor (64) berkata: "Jika ada seorang yang suka menghujat dan menolak atsar atau mengingkari hadits Rasul Sholallohu’alaihi wasallam maka jadikanlah dia seorang yang tertuduh dalam Islam sebab dia seorang yang buruk pemikiran dan madzhabnya."

Beliau dalam masalah nomor (101) berkata: "Ketahuilah kebid'ahan hanya tumbuh dan datang dari kaum puritan lagi kerdil ilmu yang suka ikut-ikutan dan mudah terombang-ambing oleh arus."

Masih banyak ucapan beliau yang sangat bagus dan berbobot dalam buku ini yang memberi gambaran secara jelas tentang karakter Ahli bid'ah seakan-akan kamu menyaksikan mereka di depan mata, maka perhatikanlah ucapan beliau: "Perumpamaan Ahli bid'ah laksana kalajengking yang mengubur kepala dan badannya di dalam tanah lalu mengeluarkan ekornya yang berbisa, dan bila ada kesempatan ia langsung tanpa gamang menyengatmu, begitu juga Ahli bid'ah yang senantiasa bersembunyi dari penglihatan orang dan ketika mendapat kesempatan ia langsung tanpa gamang menyebarkan racun dan bisa kebid'ahan.6

Jadi, beliau bersikap sangat tegas terhadap Ahli bid'ah sebagai bukti betapa tingginya perhatian beliau terhadap sunnah dan betapa besarnya ghirah beliau terliadap sunnah saat ada orang sesat ingin menghantamnya. Sikap seperti itu bisa menjadi contoh mulia sebagai bentuk sikap ulama Ahli sunnah terhadap Ahli bid'ah dan kebatilan dan kesesatan.

Murid-murid beliau

Banyak orang yang menimba ilmu dan mengambil faidah agama dari beliau karena beliau adalah tokoh panutan dalam ilmu dan kemuliaan.

Di antara murid-murid beliau:

  1. Seorang imam dan Ahli fikih serta tokoh panutan, Abu Abdullah bin Ubaidillah bin Muhammad Al 'Ukbary yang dikenal dengan Ibnu Baththah, wafat pada bulan Muharram tahun 387 H.7
  2. Seorang imam, tokoh panutan dan Ahli hikmah, Muhammad bin Ahmad bin Ismail Al Baghdadi Abul Husain bin Sam'un, Ahli memberi nasihat, pemilik karomah dan kedudukan mulia, wafat bulan Dzul Qa'dah tahun 387 H.8
  3. Ahmad bin KamiI bin Khalaf bin Syajarah Abu Bakar, perawi buku ini yang meriwayatkan dari penulis.
  4. Muhammad bin Muhammad bin Utsman Abu Bakar.

Al Khathib berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa dia suka hidup sederhana dan memiliki madzhab sangat bagus namun sering meriwayatkan atsar yang mungkar dan batil."9

Mutiara Ucapan Beliau

Abu Abdullah Bin Baththah berkata: "Saya mendengar Abu Muhammad Al Barbahariy berkata: 'Duduk- duduk untuk saling memberi nasihat adalah pembuka pintu faidah, sedangkan duduk-duduk untuk berdebat adalah penutup pintu faidah.' Beliau berkata: 'Manusia berada dalam ketertipuan terus- menerus.'"

Di antara syair beliau:

Barangsiapa yang puas dengan apa yang dimiliki maka dia menjadi orang kaya dan selalu tetap di alas agama

Betapa tingginya kedudukan qana'ah membuat orang rendahan menjadi mulia.

Jiwa seseorang menjadi sempit ketika dalam kemiskinan namun bila ia mendekat kepada Tuhannya semua menjadi luas.

Karya-karya Beliau

Para penulis biografi beliau menyebutkan bahwa beliau memiliki banyak tulisan, namun saya tidak mendapatkan karya-karya ilmiyah beliau kecuali hanya tulisan ini dan penjelasannya akan diuraikan nanti.

Cobaan dan Wafat Beliau

Dikarenakan kedudukan imam Al Barbahariy yang tinggi dan mulia, berwibawa lagi disegani oleh semua kalangan baik yang alim atau yang awam dan terhormat di kalangan para pemimpin maka Ahli bid'ah senantiasa membuat makar untuk memperdaya beliau dalam rangka untuk menghancurkan karier beliau dan menjilat kepada para pemimpin hingga Khalifah Al Qahir memerintahkan kepada menterinya, Ibnu Muqlah pada tahun 321 H untuk menangkap Imam Al Barbahariy dan para sahabatnya lalu beliau bersembunyi, dan sebagian besar sahabatnya ditangkap dan dibawa ke Bashrah. Dan Allah membalas perbuatan Ibnu Muqlah yang akhirnya sang Khalifah marah kepadanya sehingga dia melarikan diri lalu dipecat oleh Khalifah Al Qahir dari jabatannya dan rumahnya dilempari api. Kemudian dia ditangkap pada tanggal 6 bulan Jamadil akhir tahun 322 H kemudian dimasukkan penjara dan disiksa dengan dicongkel kedua matanya hingga menjadi buta.

Lalu imam Al Barbahariy kembali lagi kepada kedudukan semula di negeri itu hingga ketika Abu Abdullah bin Arafah yang dikenal dengan Nafthawaih wafat, banyak sekali orang yang hadir untuk menshalatkan jenazahnya dan Imam Al Barbahary mendapat kehormatan untuk menjadi imam shalat jenazah tersebut. Demikian itu terjadi pada bulan Safar tahun 323 H dan pada tahun itu beliau semakin naik daun dan tenar serta para sahabat beliau semakin diperhitungkan, mereka lebih berani dalam melarang segala kebid'ahan dan melawan Ahli bid'ah.

Ketika imam Al Barbahariy melewati daerah bagian barat lalu beliau bersin dan para sahabat beliau mendoakan hingga terdengar suara gemuruh maka sang khalifah mendengarnya dari dalam tandunya kemudian bertanya tentang kejadian tersebut dan dikabarkan kepadanya hingga sang khalifah merasa takjub dengan sikap tersebut.

Para Ahli bid'ah tidak bosan-bosan untuk terus-menerus membuat makar keji dan kebohongan dengan menjilat kepada khalifah Ar Radhiy, mereka berusaha memfitnah imam Al Barbahariy hingga Khalifah Ar Radhiy memerintahkan Badr Al Harasiy kepala polisi bagian transportasi dan komunikasi di daerah Baghdad, agar melarang para sahabat imam Al Barbahariy berkumpul dan bertemu.

Maka Al Barbahariy dengan gerak cepat mcncari tempat  persembunyian  dan   pindah dari   daerah bagian barat menuju bagian timur lalu bersembunyi di daerah tersebut hingga beliau wafat dalam masa persembunyian pada bulan Rajab tahun 329 H.

Ibnu Abu Ya'la berkata: "Telah bercerita kepadaku bahwa Muhammad bin Hasan Al Muqriy berkata bahwasannya kakek dan nenekku berkata kepadaku: 'Abu Muhammad Al Barbahariy bersembunyi di rumah saudari Tuzun di daerah bagian timur daerah Al Hammam jalan raya As Silsilah, selama satu bulan dalam persembunyian, beliau terserang pendarahan hebat hingga wafat.' Ketika beliau wafat, saudari Tuzun berkata kepada pembantunya: 'Carilah orang yang Ahli dalam memandikan mayyit, maka datang seorang yang Ahli dalam memandikan mayyit ke rumah lalu pintu ditutup agar tidak diketahui oleh orang kemudian orang tersebut menshalatkan sendirian.'"

Pada saat pemilik rumah melihat dari kejauhan tampak ruangan rumah dipenuhi kaum laki-laki yang berpakaian putih dan hijau maka ia berusaha untuk mendekati namun ketika shalat jenazah usai mereka menghilang, lalu pemilik rumah memanggil pembantu tersebut lalu berkata: "Wahai Hajjam, kamu telah menghancurkanku bersama saudaraku. Lalu pembantu berkata: 'Wahai Tuanku engkau juga melihat apa yang aku lihat?' Ia menjawab: 'Ya'. Pembantu berkata: ' I n i l a h kunci-kunci rumah dan rumah dalam keadaan tertutup.' Saudari Tuzun berkata: 'Kuburlah dia di dalam rumahku dan jika nanti aku meninggal dunia kuburlah di sisinya.'"

Semoga Allah merahmati imam Al Barbahariy dan memberi balasan yang besar, dia seorang imam dan tokoh panutan, pembela sunnah dan sangat keras terhadap Ahli bid'ah dan kaum zindiq.

Rujukan Pengambilan Kisah di atas

1.    Tabaqatul Hanabilah, Ibnu Abu Ya'la.
2.    Al Muntadzim, Ibnul Jauzi,
3.    Al Kamil Fit Tarikh, Ibnul Atsir
4.    Al 'Ibar Fi Khabar min Ghubar, Adz Dzahabiy.
5.    Siyar A 'lamin Nubala', Adz Dzahabiy
6.    Tarikhul Islam, Adz Dzahabiy.
7.    Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir
8.    Al wafi bil Wafayaat, Ash Shafady
9.    Mira'atulJinan, Yafi'ii.
10.   Syadzaratudz dzahab, Ibnul 'Ammad.

11.   Al Manhaj Al Ahmad, Ulaimi
12.  AlMaqshadul Ar Syad, Ibnu Muflih
13.  Manaqibul Imam Ahmad, Ibnu Jauzi
14.  Jam'ul Juyusy wad D'Asakir ala Ibnu 'Asakir, Yusuf bin Abdul Hady
15.  Al A'lam, Zarkaly
16.  Mu jamul Mu 'allifin, Ridha Kahalah.
17.  Tarikhut Turaisul Araby, Sazkin.

Catatan Penting.

1.   Sebagian orang dalam menguraikan tentang biografi imam Al Barbahariy menuturkan bahwa Abul Hasan Al Asy'ary ketika masuk Baghdad, imam Al Barbahariy mendatanginya lalu Al Asy'ary berkata: "Saya sering membantah Al Jubaiy dan Abu Hasyim, saya mampu mengalahkan mereka dan  mengalahkan  Yahudi,  Nashrani  dan  Majusi.  Saya  juga  saling  adu  argumentasi  dengan mereka hingga banyak pembicaraan tentang ilmu kalam dengan mereka." Maka ketika beliau diam imam Al Barbahariy berkata kepadanya: "Saya tidak mengetahui sama sekali apa yang anda bicarakan baik sedikit ataupun banyak dan saya tidak mengenal kecuali apa yang diucapkan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Hambal." Lalu Al Asy'ary keluar darinya kemudian mengarang kitab Al Ibanah, namun Al Barbahariy menolak isi kitab itu, dan beliau kurang terkenal di Baghdad hingga dia hengkang dari daerah Baghdad.

Bantahan Terhadap Kisah Di Atas.

Pertama: Pengulasan cerita di atas dilakukan oleh Abu Ali Al Ahwazi dalam kitabnya yang memuat tentang kesalahan imam Al Asy'ary. Dan Ibnu Ya'la menuturkan tentang dia dalam kitab Tabaqat Al Hanabilah bahwa saya pernah membaca di hadapan Ali Al Qurasyi dari Hasan Al Ahwazi berkata bahwa saya telah mendengar Abu Abdullah Al Hamrany................

Kedua: Cerita di atas bersumber dari Abu Ali Al Hasan bin Ali Al Ahwazi Al Muqry dan dia adalali perawi sangat lemah karena tertuduh dalam periwayatan hadits dari sebagian para Syaikh.10

Ketiga: Ibnu 'Asakir dalam kitab "Tabyinul Kidzbil Muftary" berkata: "Cerita Al Ahwazi tentang Al Barbahariy penuh kepalsuan dan kebohongan, terbukti dalam ungkapannya yang berbunyi: 'Beliau tidak terkenal di Baghdad sampai beliau hengkang dari daerah Baghdad.' Cerita tersebut sangat jauh api dari panggangnya sebab beliau tidak pernah meninggalkan dan pisah dari Baghdad serta tidak pernah pergi dari daerah tersebut bahkan beliau wafat dan dikubur di Baghdad."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga membenarkan ucapan Ibnu 'Asakir di atas seperti yang telah dikutip dalam Majmu' Fatawa AlKubra. (5/285)

Begitu juga imam Adz Dzahaby mendhaifkan cerita tersebut dalam kitab Siyar (5/90) beliau menyebutkan cerita di atas dan ketika menuturkan biografi imam Al Asy'ary dalam "Siyar" (15/89) beliau berkata: "Al Ahwazi telah menulis seputar kesalahan Ibnu Abu Bisyr yakni Asy'ary yang banyak mengandung unsur kepalsuan dan dusta."

Dan Abul Qasim atau Ibnu 'Asakir juga mengumpulkan cerita seputar manaqib beliau dan ada beberapa faidah yang tidak benar.

Dengan demikian cerita tentang imam Al Barbahariy di atas sangat tidak bisa dibenarkan.

2.  Al Kautsariy Al Mariq semoga Allah memberi balasan setimpal dengan perbuatannya, telah berusaha membuat cerita bohong tentang imam Al Barbahariy ketika dia membuat ta'liq terhadap Tabyin Kidzbil Muftary, dia berusaha mengarang kepalsuan, kebohongan dan tuduhan keji. Di sini bukan tempatnya untuk membongkar kebohongan dan kedustaan Al Kautsariy terhadap para ulama Ahli sunnah, dia sangat terkenal kebenciannya terhadap para ulama Ahli sunnah, dia berada dalam kesesatan yang nyata. Para ulama salafiyyin telah mengungkap borok kekejian dan kesesatannya namun saya sampaikan di sini sekedar untuk mengingatkan.

Al kautsariy Al Mariq telah menuduh imam Al Barbahariy seorang pembawa obor dan biang keladi fitnah, jauh dari ilmu. Para sahabat dan pengikutnya kebanyakan kaum puritan dan lemah akal serta sampah masyarakat.

Tuduhan keji lagi bohong di atas tidak perlu ditanggapi dan dibantah dan hanya kepada Allah kami serahkan urusan orang-orang pendusta lagi keluar dari kebenaran.


  1. Lihat penjelasan nasab beliau secara detail dalam kitab Al-Ansab karya As Sam'ani (1/307) dan kitab Al Lubab karya Ibnu Atsir (1/133)
  2. Lihat dalam buku "Tarikhul Baghdad', (4/423), "Tabaqatul Fuqaha", "Syirazy" (170), "Tabaqatul Hanabilah" (1/56), dan "Siyar A'lamin Nubala , (13/173)
  3. Lihat dalam kitab AI 'Ibai" (1/407) dan "As Siyar (13/330)
  4. Lihat kitab " Tabaqatul Hanabilah (2/64).
  5.  Lihat" Tabaqatul Hanabilah" (2/58)
  6. Teks ini bisa anda temukan dalam masalah nomor (148) dari kitab ini
  7. Lihat "Al •Ibar" (2/171) dan "AsSiyar", (16/529)
  8. Lihat "Al Ibar" (2/172) dan "AsSiyar", (16/505)
  9. Lihat Kitab " Tarikhul Baghdad'" (3/225) dan "Al Mizarf' (4/28). 
  10.  Lihat Kitab "Al 'Ibar" Dzahaby, (2/288) dan kitab "Al Mizan (1/152), lisan (2/237) dan As Siyar (18/13).

Judul Buku

Pengarang tidak menyebutkan judul buku secara jelas baik di awal, tengah atau di akhir pembahasan. Bisa jadi sangat dipengaruhi oleh isi buku yang hanya memuat penjelasan dan keterangan tentang masalah yang berkaitan dengan pengenalan terhadap Sunnah (Aqidah) serta penjelasan karakter Ahli sunnah dan para penentang sunnah. Pembahasan masalah sunnah (aqidah) dalam buku ini sebagai bukti kuat bahwa pengarang ingin menjelaskan secara ringkas dan lugas tentang masalah sunnah dan menyampaikan kepada Ahli sunnah pada zamannya sehingga buku ini tidak perlu diberi judul khusus.

Tulisan ini membuat berbagai masalah keyakinan dan itiqad yang dikenal pada zaman penulis dan sebelumnya  dengan  istilah  sunnah  sebagaimana  Imam  Ahmad  bin  Hambal  telah  memberi  nama kitabnya tentang masalah aqidah dengan judul As Sunnah, begitu juga putranya Abdullah, Al Khalal, Al Maruzy, Al Lalika'i dan Ibnu Jarir, dan masih banyak ulama lain yang memberi sebutan kitab aqidah dengan judul As sunnah. Oleh sebab itu buku ini dikenal sebagian besar orang dengan judul Syarhus Sunnah.

Ibnu Abu Ya'la berkata: "Imam Al Barbahariy menulis banyak buku, antara lain kitab Syarhus Sunnah."

Adz Dzahaby berkata: "Abu Muhammad Al Barbahariy telah menulis banyak karya tulis dan buku, antara lain Syarhus Sunnah."11

Banyak Ahli sejarah memberi sebutan buku ini dengan judul Syarhus Sunnah. Dan judul ini yang ditemukan dalam tulisan asli.

Judul dan Isi Buku

Imam Al Barbahariy memulai penulisan bukunya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah serta pengakuan tulus terhadap segala karunia dan nikmat-Nya. Kemudian beliau menegaskan bahwa Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam dan mendorong semua umat agar tetap teguh di atas Jamaah. Lalu beliau menjelaskan bahwa landasan sunnah dan orang yang menjadi penafsir sunnah secara benar adalah para sahabat Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam.

Beliau sangat menganjurkan dengan keras untuk mengambil ajaran agama dari mereka dan memberi ancaman keras kepada siapa saja yang menentang mereka dan pada akhirnya dia pasti tersesat dan membuat kebid'ahan.

Beliau juga memberi peringatan keras kepada semua umat agar tidak mengikuti ajaran Ahli bid'ah yang menentang sunnah. Kemudian memberi peringatan keras terhadap bahaya bid'ah dan tindakan meninggalkan sunnah.

Beliau memberi peringatan keras terhadap segala kebid'ahan sekecil apapun sebab keburukan diawali dengan perkara kecil dan remeh lalu membesar dan beliau juga memperingatkan segala bentuk dan cara yang ditempuh Ahli bid'ah untuk mengajak kepada kebid'ahan.

Beliau juga menjelaskan secara gamblang metode dan langkah Ahli bid'ah dalam menyebarkan kebid'ahan dan kebatilan.

Kemudian beliau mengajak dan memberi motivasi untuk mengikuti sunnah dan meninggalkan kebid'ahan, dan beliau juga memperingatkan terhadap bahaya qiyas dan membuat perumpamaan dalam masalah Sunnah serta mengajak setiap muslim hanya beriman dan membenarkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

Beliau juga memberi peringatan keras terhadap bahaya berbantah-bantahan, berdebat dan adu argumentasi karena semua tindakan itu menumbuhkan keragu-raguan dalam hati.

Kemudian penulis menjelaskan keyakinan yang benar dalam masalah Asma' dan Sifat.

Beliau juga berbicara tentang masalah keimanan bahwa Allah bisa dilihat pada hari kiamat dan beriman terhadap Mizan, Adzab Kubur, Telaga Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dan setiap Nabi memiliki telaga, syafaat, Shirath, para Nabi dan malaikat, Surga dan Neraka, Dajjal, dan turunnya Isa 'alaihissalam pada akhir zaman.

Penulis juga berbicara masalah iman bahwa iman terdiri dari ucapan dan perbuatan, niat dan tindakan, bisa bertambah dan berkurang.

Sebaik-baik umat setelah Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam adalah Abu Bakar Radhiyallohu’anhu, Umar Radhiyallohu’anhu, Utsman Radhiyallohu’anhu dan Ali Radhiyallohu’anhu lalu para sahabat yang telah mendapat jaminan masuk surga kemudian kaum Muhajirin pertama dan kaum Anshar lalu para sahabat yang telah bersanding dengan Nabi Sholallohu’alaihi wasallamsesuai masa dan waktu masing-masing. Beliau mengajak untuk selalu berdoa dengan rahmat kepada mereka dan tidak menyebut-nyebut  mereka kecuali kebaikan mereka saja.

Kemudian beliau mendorong kepada kita agar mentaati pemimpin dan tidak boleh seorang bermalam tidur memiliki niat berlepas diri dari pemimpin, baik dari seorang pemimpin yang shalih atau jahat, serta haji dan jihad bersama pemimpin untuk selama-lamanya.

Beliau menjelaskan bahwa Khilafah hanya dari Quraisy dan beliau memberi peringatan keras terhadap bahaya keluar dari para pemimpin meskipun mereka jahat, sebab tidak ada dalam ajaran Ahli sunnah ajakan untuk memerangi pemimpin karena memerangi pemimpin akan menimbulkan kerusakan agama dan dunia.

Kemudian beliau  membolehkan untuk  memerangi kaum  Khawarij  bila  mereka  mengganggu kaum Muslimin dan beliau memberi cara untuk mensikapi kaum Bughat.

Penulis juga menjelaskan bahwa tidak boleh mentaati makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak boleh memberi kesaksian tentang kebaikan dan keburukan secara pasti sebab tidak diketahui nasib akhir kematian seseorang.

Pintu taubat terbuka bagi setiap pelaku dosa.

Beliau menjelaskan bahwa hukum rajam benar, mengusap sepatu bot termasuk sunnah dan begitu juga mengqashar shalat dalam keadaan bepergian.

Penulis menguraikan hakekat nifak kemudian beliau memaparkan tentang hukum yang berkaitan dengan kehidupan dunia dan bagaimana seorang muslim bersikap terhadap Ahli kiblat.

Lalu penulis memaparkan tentang perbuatan yang menjadi penyebab kufur bagi orang yang melakukannya dan beliau mengulas lagi tentang sikap yang benar dalam beriman terhadap Asma' dan Sifat.

Penulis juga menguraikan secara lugas bahwa barang-siapa yang menyatakan bahwa Allah bisa dilihat di dunia berarti telah kafir. Dan beliau juga memberi peringatan keras bahaya berfikir tentang Dzat Allah Subahanahu wata’aala, sebab demikian itu cara-cara yang ditempuh Ahli bid'ah dan hanya menimbulkan kebimbangan dalam hati serta bertentangan dengan petunjuk Nabi kelika beliau melarang keras dalam berfikir tentang Dzat Allah.

Beliau juga menjelaskan bahwa segala macam makhluk yang mengganggu dan binatang buas serta hewan melata semuanya ada di bawah perintah Allah dan tidak mengganggu kecuali atas izin Allah. Beliau berbicara tentang masalah ilmu Allah dan Dia mengetahui segala sesuatu.

Kemudian beliau berbicara masalah hukum pernikahan dan thalak yang termasuk masalah yang mutawatir dan dikenal oleh kebanyakan Ahli sunnah.

Penulis juga menjelaskan bahwa darah seorang muslim tidak halal kecuali karena tiga perkara, pezina setelah menikah, pembunuh jiwa yang mukmin dan orang yang murtad dan keluar dari jamaah.

Kemudian beliau menjelaskan tentang fenomena kehancuran alam semesta pada hari kiamat dan penjelasan seputar masalah yang berkaitan tentang hukum Allah kepada para makhluk nanti pada hari kiamat.

Kemudian beliau mengajak dan mendorong untuk ikhlas beramal karena Allah dan rela menerima semua ketentuan Allah serta bersikap sabar terhadap seluruh musibah.

Kemudian beliau menuturkan sekilas tentang hukum shalat Jenazah.

Dan  beliau  juga  berbicara  bahwa  setiap  tetesan  hujan  dari  langit  disertai  oleh  malaikat  untuk meletakkan air hujan tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah.

Orang-orang musyrik yang di masukkan ke dalam sumur Badar yang meninggal di perang Badar mendengar ketika diajak bicara oleh Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam.

Penulis menjelaskan bahwa orang sakit diberi pahala sebagai balasan dari sakitnya dan orang yang mati syahid mendapat balasan pahala karena terbunuh.

Sesungguhnya anak-anak kecil ketika terkena musibah merasakan kesakitan.

Tidak seorangpun masuk Surga melainkan atas rahmat Allah dan tidak seorangpun masuk Neraka melainkan hanya karena dosa yang ia perbuat.

Beliau juga menguraikan karakter utama pengikut kebatilan dan kesesatan yaitu suka menolak dan membantah atsar.

Dan penulis juga menuturkan bahwa Al-Qur'an lebih butuh terhadap sunnah daripada sunnah terhadap Al-Qu r'an.

Beliau juga memberi peringatan keras terhadap bahaya debat, adu argumentasi dan adu mulut serta berbantah-bantahan soal masalah takdir.

Penulis memaparkan bahwa setiap orang wajib beriman terhadap peristiwa Isra' dan segala apa yang diperoleh Nabi, baik berupa tanda-tanda kekuasaan Allah dan petunjuk agama.

Beliau juga berbicara masalah ruh orang-orang yang mati Syahid, orang-orang mukmin, orang-orang kafir dan orang-orang jahat dengan penjelasan kedudukan masing-masing ruh tersebut.

Kemudian beliau berbicara masalah kalamullah dan Allah Subahanahu wata’aala, telah mengajak bicara Musa dengan suara. Dan beliau juga menuturkan bahwa akal merupakan pemberian Allah sejak lahir dan Allah memberikan kelebihan akal bagi masing-masing manusia berbeda-beda.

Beliau juga berbicara masalah pentingnya nasihat kepada kaum muslimin.

Kemudian beliau juga berbicara tentang kebesaran Allah. Beliau menjelaskan bahwa kabar gembira ketika meninggal dunia ada tiga macam sebagaimana yang telah beliau uraikan dalam buku ini.

Lalu beliau mengulas sekali lagi tentang masalah Allah bisa dilihat pada hari kiamat.

Dan beliau mengulas kembali bahaya berdebat, berbantah-bantahan dan adu mulut dalam masalah agama serta bahaya ilmu kalam.

Kemudian beliau menjelaskan bahwa Allah akan menyiksa penghuni Neraka dengan cambuk, rantai dan belenggu, dan beliau memberi bantahan terhadap pemikiran Jahmiyah dalam masalah ini.

Lalu  beliau  juga  berbicara  masalah  hukum  shalat  dan  zakat,  masuk  Islam  bisa  ditandai  dengan mengucapkan dua kalimat syahadah.

Sesungguhnya Allah tidak akan ingkar janji dan seorang muslim wajib beriman terhadap seluruh syariat. Kemudian beliau menjelaskan hukum-hukum yang berkaitan dengan jual-beli.

Dan penulis juga berbicara tentang keadaan orang-orang beriman di dunia dan semua orang harus selalu merasa khawatir selagi masih hidup di dunia.

Beliau menjelaskan bahwa pelaku dosa dan maksiat tidak boleh putus harapan dengan rahmat Allah dan harus selalu baik sangka terhadap Allah.

Seorang mukmin harus beriman bahwa Allah menampakkan kepada Nabi   apa yang diperbuat oleh umatnya hingga nanti hari kiamat.

Kemudian beliau berbicara masalah perpecahan umat dan munculnya bcrbagai firqah sesat dan beliau menjelaskan secara global karakter Ahli sunnah dan Ahli bid'ah.

Kemudian beliau menjelaskan keharaman nikah mut’ah

Lalu beliau menjelaskan kedudukan dan keutamaan Bani Hasyim begitu juga keutamaan kabilah Quraisy dan orang-orang Arab, serta mengajak kepada semua umat untuk mengenali kemuliaan mereka.

Kemudian  beliau  berbicara  tentang  kesesatan,  kebid'ahan dan bahaya pemikiran Jahmiyah. Kemudian beliau menjelaskan tentang masalah lafadz atau orang yang mengatakan bahwa pengucapan saya akan Al-Qur'an adalah makhluk, maka beliau memperingatkan kaum muslimin terhadap ucapan tersebut, dan beliau juga menyebutkan hukum orang yang mengucapkan perkataan itu.

Kemudian beliau masih mengulas pemikiran Jahmiyah dan membongkar seluruh kesesatan mereka serta sikap ulama Ahli sunnah terhadap mereka.

Beliau juga menjelaskan bahwa kebid'ahan muncul dari kalangan orang-orang puritan lagi kerdil ilmunya yang gampang terombang-ambing oleh arus kesesatan.

Kemudian beliau menguraikan sekilas tentang sebagian karakter Ahlul haq dan Ahli sunnah. Dan beliau menyatakan bahwa ilmu itu bukan karena banyaknya riwayat dan kitab akan tetapi kemauan untuk mengikuti atsar.

Kemudian beliau melarang keras dalam mengikuti ra 'yu, qiyas dan takwil.

Lalu beliau mendorong kepada seluruh umat agar mengikuti sunnah, petunjuk Nabi dan para sahabat. Beliau  juga  memberi  peringatan  keras  tentang  bahaya  kebid'ahan  dan  Ahli  bid'ah  lalu  penjelasan tentang akar bid'ah dan cabang-cabangnya.

Beliau juga mengajak semua umat agar selalu berpegang teguh kepada perkara generasi pertama lagi murni.

Beliau bersikap tegas dalam mengajak seluruh umat agar bersikap tunduk patuh terhadap isi buku ini yang berkaitan dengan aqidah dan mengambil isi buku ini merupakan suatu hal yang wajib.

Kemudian beliau menjelaskan sikap seorang muslim ketika menghadapi fitnah.

Dan beliau melarang keras kepada setiap orang Islam dari ilmu perbintangan kecuali untuk suatu yang sangat penting. Dan beliau melarang duduk-duduk dan berbicara dengan para Ahli perbintangan.

Beliau juga menjelaskan pentingnya takut kepada Allah dan itulah jalan orang-orang shalih. Beliau melarang dengan keras duduk-duduk bersama Ahli tasawwuf yang tersesat dari sunnah.

Dan beliau juga menjelaskan sikap seorang muslim terhadap perselisihan yang terjadi di kalangan para sahabat dan beliau juga menguraikan tentang hukum fikih seputar mencari rizki dan berusaha. Dan beliau berbicara soal hukum shalat di belakang Ahli bid'ah secara jelas.
Kemudian beliau mengulas kembali seputar hukum-hukum fikih dan kedudukan amar ma 'ruf nahi mungkar.

Kemudian beliau menjelaskan sebagian karakter Ahli kebatilan dan kesesatan yaitu suka menghujat terhadap sahabat Nabi dan menghujat atsar.

Lain beliau mengulas lagi pentingnya taat terhadap pemimpin dan sabar terhadap kedzaliman para pemimpin serta selalu berdoa untuk kebaikan para pemimpin dan itulah karakter Ahli sunnah. Kemudian beliau menyebutkan kembali karakter Ahli bid'ah dan kebatilan. Beliau juga mengulangi penjelasan tentang karakter Ahli sunnah.

Beliau menjelaskan bahwa semua bentuk kebid'ahan pasti akan mengajak kepada peperangan. Kemudian beliau dengan panjang lebar menjelaskan tentang sifat dan kriteria Ahli bid'ah dan pengikut kesesatan dan kebatilan serta beliau melarang keras untuk mendengar terhadap (ucapan) Ahli bid'ah
dan duduk-duduk bersama mereka.

Beliau juga mengulas kembali bahaya berdebat, berbantah-bantahan dan adu mulut dan beliau mengajak untuk berpegang teguh dengan sunnah dan atsar, serta berdiam diri dari ayat-ayat yang mutasyabih, dan beliau juga melarang berdebat dengan Ahli bid'ah dan condong terhadap mereka.

Kemudian beliau mengulas kembali karakter Ahli bid'ah secara panjang lebar, dan beliau melarang bergaul dan berdebat dengan mereka. Beliau juga memberi penjelasan tentang Ahli bid'ah dan pemikiran mereka dan kapan seorang bisa dikatakan Ahli sunnah.

Dan beliau memberi peringatan keras tentang kebid'ahan yang timbul pada masanya seperti bid'ah Irja', Syiah dan Rafidhah.

Kemudian beliau berbicara masalah sahabat dan sikap seorang muslim terhadap mereka.

Beliau menjelaskan bahwa barangsiapa yang ingkar atau ragu-ragu terhadap satu huruf dari Al-Qur'an atau sebagian riwayat dari sunnah Nabi Sholallohu’alaihi wasallammaka ia bertemu dengan Allah Subahanahu wata’aala sebagai seorang pendusta.

Termasuk bagian dari perkara sunnah (aqidah), tidak memberi bantuan terhadap pelaku maksiat. Bertaubat dari segala dosa merupakan suatu kewajiban setiap hamba Allah.

Setiap muslim wajib memberi kesaksian kepada siapa saja orang yang telah dijamin masuk surga. Barangsiapa tidak memberi kesaksian terhadap mereka maka ia termasuk Ahli bid'ah dan tersesat.

Kemudian beliau menutup bahasan buku ini dengan mengutip beberapa atsar dari para ulama salaf seputar masalah pentingnya tetap teguh di atas jamaah dan mengikuti atsar. Begitu juga atsar para ulama yang berkaitan dengan bahaya Ahli bid'ah dan pengikut kesesatan dan kebatilan.

Setelah membaca selayang pandang isi buku ini maka nampak jelas di hadapan kita semua bahwa penulis ingin menjelaskan aqidah salafiyah dan sikap dan karakter para pengikut dakwah salaf. Dan beliau juga menjelaskan secara lugas karakter penentang aqidah dan dakwah salaf sehingga beliau memberi peringatan keras terhadap langkah, cara-cara dan taktik bermuamalah dengan mereka.

Dengan demikian menjadi sangat jelas makna sunnah yang dikehendaki oleh penulis yaitu seluruh keyakinan dan hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan baik berupa ibadah, muamalah, etika dan yang lainnya yang mencakup seluruh ajaran Islam. Makna sunnah seperti di atas sangat dikenal di kalangan para imam Ahli sunnah sejak zaman dahulu dan ulama pada zaman Imam Al-Barbahariy.

Ibnu Rajab Al Hambali berkata: "As Sunnah ialah jalan yang ditempuh yang mencakup sikap berpegang teguh dengan ajaran Nabi dan para khulafaurrasyidin baik berupa keyakinan, perbuatan dan ucapan. Itulah hakekat sunnah secara sempurna. Oleh sebab itu para ulama salaf tidak mengutarakan lafadz, sunnah melainkan mencakup seluruh ajaran Islam.12

lnilah yang ditempuh oleh imam Al Barbahariy dalam menulis buku ini, meskipun kecil namun memuat sebagian pokok hukum fiqih dan etika serta sebagian besar masalah keyakinan atau aqidah.

Dan beliau juga menyoroti secara panjang lebar tentang bid'ah yang menyebar pada zamannya dan memberi peringatan keras terhadap bahaya Ahli bid'ah.

Sebab penulisan Buku

Penulis tidak menyebutkan secara khusus sebab penulisan buku ini namun di sana ada beberapa sebab yang mungkin bisa dianggap menjadi motivasi penulisan buku ini dan setelah saya melakukan kajian secara detail, ada dua penyebab paling utama :

  1. Perhatian besar penulis dalam menyampaikan aqidah yang murni yang jauh dari kontaminasi kebid'ahan dan hawa nafsu kepada seluruh umat, dan sebagai bentuk peringatan keras dari duduk- duduk bersama Ahli bid'ah dan kebatilan, serta beliau ingin menjelaskan ajaran dan pemikiran kotor serta cara-cara busuk Ahli bid'ah dalam menipu umat.
  2. Disamping itu bahwa kebid'ahan, kesesatan dan kebatilan serta pemikiran sesat telah banyak menyebar keseluruh umat pada zamannya. Bahkan sangat merajalela sehingga penulis ingin mengembalikan umat kepada ajaran yang benar dan jalan yang lurus dalam rangka untuk memanfaatkan posisi, kedudukan dan kewibawaan penulis di tengah masyarakat baik di kalangan orang alim dan awam.

Demikian itu terungkap dalam buku ini masalah nomor (8) beliau berkata: "Perhatikanlah, semoga kamu dirahmati Allah Subahanahu wata’aala setiap ucapan orang yang hidup pada masamu secara khusus, jangan tergesa- gesa dan masuk untuk menerimanya hingga kamu bertanya dan melihat apakah ucapan tersebut pernah disampaikan oleh sahabat Rasulullah atau salah seorang ulama Ahli sunnah."

Dua perkara di atas banyak memberi motivasi para penulis dan imam Ahli sunnah yang sezaman dengan beliau sebagaimana yang dilakukan oleh imam Al Ajury dalam kitab As Syari'ah dan Al Lalika'i dalam kitab Syarh usul I'tiqad Ahli sunnah wal Jamaah. Dan murid beliau imam Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra dan Al Ibanah Al Sughra.

Bobot Buku

Bobot sebuah buku bisa diukur lewat tiga kriteria:

Dari sang penulisnya, dari bobot tulisannya dan sebab-sebab yang mendorong untuk menulis tulisan tersebut. Dari ketiga kriteria di atas sangat nampak jelas bobot buku ini:

Dari sudut pandang penulisnya, dia seorang imam yang mantap ilmunya, seorang ulama dan tokoh panutan di antara para imam dan ulama sezamannya.

Bobotnya, buku ini sangat agung dan berbobot karena membicarakan masalah seputar aqidah Ahli sunnah wal jamaah.

Adapun sebab penulisan buku ini sangat nampak pada penjelasan di atas.

Dibanding dengan buku-buku lain yang mengupas tentang aqidah salafiyah yang ditulis pada akhir abad ketiga atau awal abad keempat, kitab ini tidak kalah berbobot dengan kitab-kitab lain yang dikarang pada abad itu seperti kitab As Sunnah karya Imam Abu Abdullah bin Ahmad bin Hambal, As Sunnah karya Ibnu Abu Ashim, kitab As Syari'ah karya Al Ajiri, Syarah Usui I'liqad Ahli sunnah wal jamaah karya Al Lalika'i, Kitab Sharihussunnah karya Ibnu Jarir Ath Thabariy, Al Ibanah Al Kubra dan Al Ibanah Al Sughra karya Ibnu Baththah serta kitab-kitab aqidah yang lainnya

Bahkan Ibnu Baththah dalam kitab Al-Ibanah Al-Kubra dan Al-Ibanah As-Sughra sering mengutip pendapat gurunya, Imam Al Barbahariy sehingga buku ini bisa dianggap buku saku yang memuat tentang pokok-pokok penting aqidah Ahli sunnah wal Jamaah dengan penjelasan ringan dan terkadang agak

detail. Kitab ini memiliki format yang mirip dengan kitab Aqidah Ath Thahawiyah atau kitab Ibnu Ash Shabuni atau Al Isma'ily.

Namun buku ini di banding dengan dua buku-buku di atas memiliki dua kelebihan dan keistimewaan:

  1. Beliau  sangat  mengharuskan  kepada  setiap  para  pembaca  untuk  mengikuti  isi  kitab  ini  dan menerima serta tunduk patuh terhadap materinya sebagai realisasi ketundukan terhadap As Sunnah dan mengikuti petunjuk Nabi dan para sahabat.
  2. Beliau memberi peringatan keras terhadap segala macam kebid'ahan dalam agama dan semua Ahli bid'ah, kesesatan, kebatilan dan para pengikut hawa nafsu. Dan beliau melarang keras untuk duduk- duduk dan condong kepada mereka serta penjelasan secara jelas tentang karakter mereka dan cara- cara mereka dalam menipu umat.

Secara umum buku ini sangat ringkas dalam menjelaskan masalah I'tiqad sebagaimana yang dituturkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

"Kebanyakan para penulis buku tentang ringkasan I'tiqad Ahli sunnah wal Jamaah menyebutkan karakter utama Ahli sunnah yang membedakan antara mereka dengan orang kafir dan Ahli bid'ah, mereka menyebutkan tentang penetapan masalah sifat dan bahwa Al-Qur'an adalah bukan makhluk serta Allah Subahanahu wata'aala  bisa dilihat nanti pada hari kiamat yang berbeda dengan keyakinan Jahmiyah dan Mu'tazilah serta yang lainnya.

Mereka menyebutkan bahwa Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala yang menciptakan perbuatan hamba-Nya dan Allah Subahanahu wata’aala Dzat Pengatur alam semesta, setiap yang dikehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi, berbeda dengan keyakinan kaum Qadariyah dari Mu'tazilah.

Mereka juga menyebutkan masalah yang berkaitan dengan nama-nama, hukum, janji baik dan ancaman. Seorang mukmin tidak dianggap kafir dengan sekedar perbuatan dosa dan dia tidak akan kekal di neraka, berbeda dengan keyakinan Khawarij dan Mu'tazilah. Mereka menjelaskan penjelasan yang benar dalam masalah umum dan menetapkan ancaman bagi pelaku dosa besar secara global, berbeda dengan keyakinan Murji'ah.

Mereka juga menyebutkan keabsahan kepemimpinan para Khulafaurrasyidin yang Empat dan menuturkan keutamaan mereka, berbeda dengan keyakinan firqah syiah dari kalangan Rafidhah dan yang lainnya.

Wajib beriman terhadap semua perkara yang telah menjadi kesepakatan kaum Muslimin dari mulai mentauhidkan Allah Subahanahu wata’aala, beriman kepada para Rasul dan beriman terhadap Hari Akhir yang tidak boleh tidak, adapun dalil-dalil masalah-masalah ini maka terdapat di dalam kitab-kitab besar.13

Sanad Penukilan Isi Buku

Tulisan asli buku ini terjadi peruhahan dan penyelewengan dengan dinisbatkan tulisan ini secara salah kepada bukan penulis aslinya sehingga permasalahan ini harus didudukkan dan dijelaskan  secara obyektif.

Saya telah menemukan dalam sisipan tulisan asli buku ini teks yang berbunyi: " Kitab Syarhus Sunnah dari Abu Abdullah  Ahmad  bin   Muhaminad  bin  Ghalib Al  Bahily Ghulam Khalil Rahimahullah, yang telah meriwayatkan dari Abu Bakar Ahmad bin Kamil bin Khalaf bin Dhajarali Al Qadhy, meriwayatkan dari Abu Ishaq Ibrahim bin Umar bin Ahmad Al Barmaky Al Faqih, telah mendapat wewenang (ijazah) dari Abul Hasan bin Muhammad bin Al Abbas'bin Ahmad bin Al Furaat dari Ibnu Kamil."

Sementara dalam lembaran pertama dari buku asli tulisan tangan kami menemukan teks yang berbunyi:

Telah mengabarkan kepada saya seorang imam yang terpercaya, Abul Hasan Abdul Hak bin Abdul Khalik, dikatakan kepadanya: "Telah mengabarkan kepada kalian Abu Thalib bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf berada di Masjid Jami' sedang mendengar, dikatakan kepadanya: 'Telah mengabarkan kepada kalian Syaikh Abu Ishaq Ibrahim bin Umar bin Ahmad Al Barmaky telah mengizinkan dan memberi kewenangan kepada kalian untuk meriwayatkan isi buku ini dan dia mengakui hal itu dengan berkata: Ya.' Berkata: 'Telah mengabarkan kepada kami Abul Hasan Muhammad bin Al Abbas bin Ahmad Al Furaat, semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatinya, dan telah dibacakan dari kitabnya.' Dia berkata bahwa telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Kamil bin Khalaf bin Syajarah Al Qadhy dengan cara membacakan kepadanya, dia berkata: 'Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Ghalib Al Bahily telah memberikan buku ini kepadaku dan dia berkata: 'Silahkan anda meriwayatkan buku ini dariku dari mulai pertama hingga akhir." Lalu beliau menuturkan teks buku secara sempurna.

Jadi, buku ini dinisbatkan kepada Ghulam Khalil bukan kepada Abu Muhammad Al-Barbahariy, maka ada beberapa catatan penting dari buku yang harus diluruskan:

Pertama: Ghulam Khalil terkenal pendusta dan pembuat hadits palsu sebagaimana yang telah dinukil dari beberapa ulama:

Abu Daud berkata: "Saya khawatir dia seorang Dajjal (pendusta) Baghdad."

Ad Daruquthni berkata bahwa dia orang yang ditinggalkan riwayatnya (matruk).

Ibnu Ady berkata: "Saya mendengar dari Abu Abdullah An Nahawandy berkata: Saya berkata kepada Ghulam Khalil: Apakah yang ada dalam ar Raqa'iq (nasihat-nasihat yang menyentuh) yang sering kamu riwayatkan itu? la berkata: Saya buat untuk membuat hati orang awwam menjadi lembut."14

Dia wafat bulan Rajab tahun 275 H. sementara dalam buku terdapat dalam masalah nomor (112) berbunyi: "Seluruh yang aku tuturkan dalam buku ini berasal dari Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala, Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam, para sahabat dan Tabi'in serta generasi abad ketiga hingga abad keempat ...."

Ini menunjukkan bahwa buku ini bukan karyanya sebab dia wafat menjelang abad ketiga, tidak sampai mendapati abad keempat. Sementara imam Al Barbahariy wafat tahun 329 mengalami abad keempat.

Kedua: Boleh jadi Ibnu Kamil meriwayatkan buku ini dari Ghulam Khalil ketika masih usia sangat muda belia sebab dia lahir tahun 260 H, lima belas tahun sebelum wafatnya Ghulam Khalil, sehingga dia lebih berhak meriwayatkan dari Imam Abu Muhammad Al Barbahariy sebab masih hidup sezaman. Ibnu Kamil Wafat tahun 350 H sementara Al Barbahariy walal tahun 329 H. bisa jadi ketika masa-masa fitnah menghasung imam Al Barbahariy dan para sahabatnya dari para pemimpin membuat sebagian kuli tinta pada saat itu merubah secara sengaja nama pengarang buku ini, mereka khawatir dituduh menjadi pembela imam AI Barbahariy sehingga mendapat perlakuan kejam dan sadis. Ini menunjukkan buku ini punya hubungan erat dengan AI Barbahariy. WAllah Subahanahu wata’aalau a'lam.

Sementara Ibnu Kamil seorang ulama gudang ilmu dan memiliki beberapa karya dan tulisan.15

Ketiga: Ghulam Khalil sangat terkenal sebagai pendusta dalam meriwayatkan hadits Nabi sehingga tidak menutup kemungkinan dia mencuri karya orang lain dan dinisbatkan kepada dirinya, sebagai bukti ucapan dia ketika mendapat wewenang untuk meriwayatkan buku ini dari Ibnu Kamil "Silahkan anda meriwayatkan buku ini dariku dari mulai pertama hingga akhir," Jelas, ucapan seperti itu tidak benar dan menjadi bukti kuat buku ini bukan karyanya.

Keempat: Kebanyakan Ahli sejarah yang mengutip biografi imam Al Barbahariy menuturkan bahwa beliau memiliki buku yang berjudul Syarhus Sunnah, sementara kami tidak menemukan seorang Ahli sejarah yang menuturkan bahwa Ghulam Khalil memiliki karya yang berjudul Syarhus Sunnah.

Kelima: Kebanyakan para ulama membaca buku ini dan banyak mengambil faidah dan mereka mengakui bahwa buku tersebut sah dinisbatkan kepada imam Al-Barbahariy. Inilah bukti-buktinya:

a.   Ibnu Abu Ya'la telah menuturkan dalam Thabaqaatul  Hanabilah  (2/18-43). Buku ini dengan semua isinya kecuali beberapa penjelasan yang sedikit saja yaitu lembaran pertama dan kedua dari manuskrip. Beliau menjelaskan  di  awal  tentang  kandungan  buku  ini,  berkata: Imam Al Barbahariy telah menulis banyak karya tulis antara lain, Syarhus Sunnah".
b.   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil dari beliau dalam kitab Bughyatul Murtaad (Hal.258) beliau berkata: "Dituturkan dari Abu Muhammad Al Barbahariy bahwa beliau berkata: 'Kemampuan
akal manusia bukan didapat dari sebuah usaha namun karunia dari Allah Subahanahu wata’aala.'" Teks ini mirip yang ada pada masalah nomor (77).
c.   Imam Adz Dzahaby menukil dari beliau dalam kitab Al Uluw (Hal. 244) seperti teks yang ada dalam masalah nomor (13) dalam buku ini.
d.   Ibnu Abdul Hady juga menukil dari beliau dalam kitab Tuhfatul Wushul seperti teks yang ada
pada masalah nomor (77) dalam buku ini.
e.   Ibnu Muflih Al Hambali juga menukil dari beliau dalam kitab "Al Furu"' (2/188) mirip dengan teks dalam masalah nomor (149) dalam buku ini. Beliau juga menukil dalam kitab "Al Adabus Syar'iyah" (1/203) sebagian teks yang tertulis dalam buku ini sebagaimana yang terdapat dalam masalah nomor (11), (12) dan (157).
f.   Lebih banyak Iagi mengutip dari buku ini Abu Yaman Al-Ulaimy dalam kitab "Al Manhaj Al Ahmad"',(2/27-37), Ibnu Ammad Al Hambali dalam Kitab "As Syadzaraat" (2/319-322), dan Adz Dzahaby dalam kitab "Tarikhul Islam" (Hawadits wa wafayat 321-330) dan dalam kitab Siyar A'lamin Nubala '(15/91).

Kesimpulan, bahwa sangat cukup dalil-dalil dan bukti bahwa buku ini adalah karya imam Al Barbahariy. Segala puji dan karunia hanya milik Allah Subahanahu wata’aala.


11. Lihat "Tarikhul Islam ( Hawadits wa wafayat 321-330- HI.258).
12. Lihat"Jamiul Ulum Wal Hikam, (Hal. 286)
13. Syarah Akidah Asfahaniyah hal 14
14. Lihat Biografi beliau dalam kitab "Mizanul I'tidal" (1/141) dan "As Siyar" (13/283)
15. Lihat Biografi beliau dalam kitab "Al Ibar" (2/83) dan "As Siyar" (15/544)

Segala puji hanya milik Allah Subahanahu wata’aala, Dialah Dzat yang telah memberi hidayah dan karunia Islam kepada kita semua serta menjadikan kita sebagai umat yang terbaik. Kami memohon taufik untuk meraih kecintaan dan keridhaan Allah Subahanahu wata’aala serta ter-pelihara dari murka dan kebenciaan-Nya.

    1. Ketahuilah sesungguhnya Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam dan masing-masing tidak bisa dipisahkan.
    2.  Termasuk bagian dari sunnah adalah tetap di atas jamaah, barangsiapa condong kepada selain jamaah dan menyelisihinya maka ia telah melepas tali Islam dari pundaknya dan telah tersesat dan menyesatkan.
    3. Landasan dan tolok ukur jamaah adalah para sahabat Nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam semoga Allah subahanahu wata’aala merahmati mereka semua, mereka adalah Ahli sunnah wal jamaah, barangsiapa yang tidak mengambil kebenaran dari mereka maka ia telah memilih jalan kesesatan dan kebid'ahan. Setiap yang bid'ah adalah sesat dan setiap pelaku kesesatan pasti akan menjadi penghuni Neraka.16
    4. Umar bin Khaththab Radhiyallohu’anhu berkata: "Allah Subahanahu wata’aala tidak menerima udzur bagi seorangpun  yang berbuat kesesatan yang dia anggap petunjuk."Begitu juga Allah Subahanahu wata’aala tidak menerima udzur seorang pun yang meninggalkan petunjuk yang ia anggap sebagai kesesatan karena semua perkara telah dijelaskan secara tuntas dan hujjah telah ditegakkan secara sempurna sehingga tidak ada celah bagi siapapun untuk mencari-cari alasan.17 As sunnah dan Al Jamaah telah meletakkan kerangka agama secara sempurna dan telah tampak jelas kepada seluruh manusia dan manusia hanya tinggal mengikutinya.
    5. Ketahuilah wahai saudaraku rahimakAllah Subahanahu wata’aala bahwa agama adalah hanya ajaran yang datang dari Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala dan bukan berdasarkan pada ketetapan akal dan pemikiran manusia. Semua ilmu agama bersumber dari Allah Subahanahu wata’aala dan rasul-Nya, maka janganlah anda mengikuti hawa nafsu sehingga anda terhempas dari agama dan keluar dari Islam. Tidak ada alasan bagimu sebab Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam telah menjelaskan tentang sunnah kepada seluruh umatnya dan mengajarkan secara tuntas kepada semua para sahabatnya, mereka adalah Al Jamaah dan Sawadul A'dzam. Sawadul A'dzam ialah kebenaran dan para pembelanya, maka barangsiapa yang menyelisihi para sahabat Rasul dalam sebagian masalah agama, ia telah kafir.18
    6. Ketahuilah bahwa ketika manusia mengada-adakan suatu kebid'ahan pasti mereka meninggalkan sunnah yang serupa dengannya. Hati-hatilah dari setiap perkara yang di adaadakan,  karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah dan setiap kebid'ahan adalah sesat, dan setiap kesesatan dan pelakunya berada di Neraka.
    7. Jauhilah setiap perkara bid'ah sekecil apapun, karena bid'ah yang kecil lambat laun akan membesar. Demikian pula kebid'ahan yang terjadi pada umat ini berasal dari perkara kecil dan remeh yang mirip kebenaran sehingga banyak orang terpedaya dan terkecoh, lalu mengikat hati mereka sehingga susah untuk keluar dari jeratannya dan akhirnya mendarah daging lalu diyakini sebagai agama. Tanpa disadari, pelan-pelan mereka menyelisi jalan lurus dan keluar dari Islam.19
    8. Ketahuilah  semoga  anda  dirahmati  Allah Subahanahu wata’aala,setiap anda mendengar ucapan orang pada zamanmu, janganlah anda tergesa-gesa dan menanggapinya hingga anda bertanya dan memperhatikan: Apakah hal itu telah dibicarakan oleh sahabat Nabi atau salah seorang ulama Ahli sunnah, apabila anda mendapatkan sebuah atsar tentang hal tersebut dari mereka maka  peganglah erat-erat dan  jangan coba-coba menanggalkannya karena  alasan  apapun sehingga memilih ajaran yang lain lalu anda terjatuh ke dalam api Neraka.
    9. Ketahuilah, orang yang tersesat dari jalan lurus ada dua macam; pertama orang yang tersesat dari jalan lurus sementara ia tidak menginginkan kecuali kebaikan, maka kesalahan orang tersebut tidak boleh diikuti, karena ia telah hancur, dan kedua orang yang sengaja menentang kebenaran dan menyelisihi orang-orang bertaqwa dari generasi sebelum mereka, ialah orang yang telah tersesat dalam kesesatan yang nyata dan termasuk kelompok syaithan yang terkutuk dari kalangan umat ini. Sangat wajar bagi siapa saja yang menyaksikan orang seperti kelompok ini untuk memberi peringatan keras kepada seluruh manusia agar tidak terpedaya dengan kesesatannya dan menjelaskan kepada mereka secara tegas dan Iugas agar tidak ada seorangpun yang terjerumus ke dalam kebid'ahan mereka, sehingga manusia terhindar dari kehancuran.
    10. Ketahuilah semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatimu, sesungguhnya tidak sempurna Islam seorang hamba hingga ia telah mengikuti, membenarkan dan tunduk kepada ajaran Islam, maka barangsiapa yang menyangka bahwa masih ada seberapa ajaran Islam yang belum sempurna sepeninggal para sahabat Nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam  berarti ia telah mendustakan dan membuat perselisihan dan hujatan keji terhadap mereka sementara ia termasuk Ahli bid'ah yang tersesat lagi menyesatkan dan telah mengada-ada ajaran baru dalam Islam.
    11. Ketahuilah tidak ada qiyas20 dalam  masalah Sunnah (aqidah) dan tidak boleh membuat permisalan21 atau mengikuti hawa  nafsu,  bahkan  sunnah  hanya  berprinsip  pada  tasydiq (pembenaran) terhadap atsar  Rasulullah sholallohu’alaihi wasallam tanpa menanyakan kaifiyah, penjabaran takwil22 dan tidak boleh dikatakan bagaimana dan kenapa?
    12. Berbicara tanpa dasar,berbantah-bantahan,adu mulut dan adu argumentasi merupakan perkara baru dan mengotori hati meskipun pelakunya menang di atas al hak dan Sunnah.
    13. Dan ketahuilah semoga anda dirahmati Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala,sesungguhnya berbicara  masalah yang berkaitan dengan hakikat Rabb merupakan kebid'ahan dan kesesatan. Tidak boleh berbicara soal Rabb kecuali dengan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Subahanahu wata’aala dalam Al-Qur'an dan dijelaskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya dan Ia adalah satu, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'aala:

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Ia, dan Ialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy Syuura: 11).

  1. Rabb kami Yang Pertama tanpa ada pertanyaan kapan,dan Yang Paling Akhir tanpa kesudahan, mengetahui yang rahasia dan yang nampak, di atas 'Arsy bersemayam. Ilmu-Nya meliputi setiap tempat dan tidak ada tempat yang terlepas dari ilmu-Nya.
  2. Tidak ada seseorang yang mengatakan dalam masalah sifat Rabb kenapa dan bagaimana? Kecuali orang yang meragukan dalam hal Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala. Al Qur'an adalah kalamullah,wahyu dan cahaya-Nya bukan makhluk, karena ia bagian dari dzat Allah Subahanahu wata’aala dan sesuatu yang dari bagian Allah Subahanahu wata’aala bukan makhluk dan itulahh yang menjadi keyakinan Imam Malik bin Anas dan Ahmad bin Hambal serta para ulama sunnah sebelum beliau berdua, maka barangsiapa berbantah-bantahan dalam perkara tersebut ia telah kafir.
  3. Dan beriman terhadap masalah ru'yah pada hari kiamat bahwa seluruh manusia melihat Allah Subahanahu wata’aala dengan mata kepala mereka ketika Allah menghisab mereka tanpa penghalang dan masing-masing diajak bicara tanpa penerjemah.
  4. Beriman terhadap mizan (timbangan) pada hari kiamat, kebaikan dan keburukan ditimbang dalam mizan tersebut yang memiliki dua daun dan satu lisan.23
  5. Beriman terhadap adzab kubur beserta malaikat Mungkar dan Nakir.
  6. Beriman terhadap telaga Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam24  dan setiap para Nabi memiliki telaga25  kecuali Nabi Shalih ‘alaihissalam karena telaganya adalah ontanya.26
  7. Beriman terhadap syafaat Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bagi orang yang berdosa dan bersalah pada hari kiamat, dan ketika  di atas shirath. Mengeluarkan mereka dari perut neraka Jahannam, setiap Nabi memiliki hak untuk memberi syafaat begitu juga para As Shiddiqin, As Syuhada' dan As Shalihin. Setelah itu Allah Subahanahu wata’aala memberikan izin untuk mengeluarkan banyak dari hamba-Nya yang dikehendaki, mereka keluar dari Neraka setelah terbakar hangus hingga seperti arang.27

______________________________________________________

  1. Sebagaimana dalam sabda Nabi: "Setiap yang bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat di dalam neraka." (H.R Nasa’i, dalam kitabul Jum'ah (3/188) dan Al Baihaqi dalam Asma' dan Sifat dari hadits Jabir yang dishahihkan Ibnu Taimiyah dalam "Al Fatawa Al Kubra" (3/163).
  2. Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra" (162) dari jalan Al Auzai bahwa Umar menyampaikan kepadanya namun sanadnya munqathi’. Dan Al Mawarzi mengeluarkan dalam "As Sunnah"(95) dari Umar bin Abdul Aziz berkata: "Setelah datang sunnah tidak ada alasan bagi siapapun untuk melakukan suatu kesesatan, sementara hal itu dianggap petunjuk".
  3. Ini tidak secara mutlak, sebab kufur tidak bisa dituduhkan kepada orang per orang, kecuali telah nyata-nyata melakukan kekufuran sementara tidak ada penghalang untuk dikafirkan.Syaikhul Islam dalam Majmu' Fatawa (12/487) berkata: "Mengkafirkan orang ada beberapa syarat dan penghalangnya yang mungkin tidak ada pada seseorang, sebab mengkafirkan secara umum tidak melazimkan takfir secara orang per orang kecuali setelah memenuhi syarat dan tidak ada penghalang
  4. Hukum di atas tidak bisa secara mutlak karena kebid'ahan itu ada yang mengeluarkan seseorang dari Islam namun ada yang tidak sampai keluar darinya sehingga pelakunya tidak boleh dikeluarkan dari Islam. Tidak diragukan bahwa setiap macam bid'ah adalah buruk dan pelan-pelan membawa pelakunya menyeleweng dari Islam, boleh jadi, ini yang dimaksud oleh penulis. Lihat penjelasan ini dalam kitab Tanbih Ulil Abshar Ila Kamaliddin, Syaikh DR. Shalih bin Saad As Suhaimy. (Hal.215).
  5. Yang dimaksud penulis adalah qiyas yang melawan dan untuk menolak sunnah nabi, Wallahua'lam.
  6. Yang dimaksud dengan permisalahan adalah kesamaan dan keserupaan. Abu Hurairah berkata kepada seseorang: "Wahai Anak saudaraku! Jika aku menceritakan hadits dari Rasulullah janganlah membuat permisalan yang mirip dengannya." (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Mukaddimah, bab mengagungkan hadits Rasulullah dan sanksi keras bagi orang yang melawannya. dengan sanad hasan).
  7. Ini hanya dalam masalah Asma' dan Sifat. adapun dalam masalah lain penjelasan dan penjabaran merupakan suatu keharusan agar orang mampu memahami atsar tersebut dan demikian itu hanya bisa dilakukan oleh ulama ahli ilmu dan fikih dalam agama.
  8. Dikeluarkan oleh Abu Syaikh dalam tafsirnya sebagaimana dalam tafsir Ad durul Manshur (3/418) dari jalan Al Kalby dari Ibnu Abbas berkata: "Mizan memiliki satu lisan dan dua daun. Namun Al Kalby tertuduh pendusta sebagaimana dalam Taqrib (476) . lihat dalam Tahqiqul Burhan Fi Itsbat Hakikatul Mizan, karya Mara'i Al Hambali. Dan dalam Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah (4/302).
  9. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam "An Nihayah" (2/5-13) berkata: "Penuturan tentang telaga Nabi Muhammad, semoga Allah Subahanahu wata’aala memberi minum kita darinya pada hari kiamat, terdapat hadits-hadits yang mutawatir dari jalan banyak sekali, mekipun ahli bid'ah yang sombong lagi congkak tetap bersikeras mengingkarinya, semoga Allah Subahanahu wata’aala membalas dengan tidak memberi minum darinya," sebagaimana ucapan salaf: "Siapa yang mengingkari karomah maka ia tidak akan mendapatkannya." Jikalau para pengingkar membaca riwayat yang akan kami paparkan maka mereka akan menarik pendapat mereka.
  10. Dari Samurah berkata bahwasanya Nabi Sholallohu’alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya setiap nabi punya telaga dan mereka berlomba-lomba telaga siapa yang paling banyak dilewati orang, dan saya berharap kepada Allah Subahanahu wata’aala semoga telagaku paling banyak orang yang melaluinya." Dikeluarkan Bukhari dalam "At Tarikhul Kabir (1/1/44), Tirmidzi, Sifat Kiamat bab Sifat telaga. (4/212) , Ibnu Abu Ashim (739), Tabrani "Al Kabir" dan disahihkan oleh Al Bani Dalam Sahihah (1589).
  11. Ini hadits palsu: Dikeluarkan Al Uqaily dalam Ad Dhu'afa'(3I 64-65), Ibnu Jauzi dalam Al Maudhu'aat (3/244) dari jalan Abdul Karim bin Kaisan dari Suwaid bin Umair secara marfu'. Ibnu Jauzi berkata: "Hadits ini palsu tidak ada asal usulnya." Uqaily berkata: "Abdul Karim majhul dalam periwayatan dan hadits tidak terpelihara." Adz Dzahaby dalam Al Mizan tentang Abdul Karim berkata: "Dia termasuk perawi majhul dan haditsnya munkar, kemudian beliau menuturkan hadits di atas lalu berkata bahwa hadits tersebut palsu." Dikeluarkan oleh Humaid bin Zajawaih dan Ibnu 'Asakir meriwayatkan dari beliau dalam "Tarikhnya" seperti dalam Al la'ali Al mashnu'ah (2/444/445) dari jalan katsir bin Murrah secara Mursal. Semua sanadnya majhul secara beruntun.
  12. Lihat Takhrij Hadits tentang Syafaat dan penjelasan macam-macamnya dalam: An Nihayah, Ibnu katsir (2/139/176), Syarah Thahawiyah, Ibnu Abul Izz, (Hal.223)., Kanzul 'Ummal (14/390-415), Ma'arijul Qabul (2/206-223), dan Kitab As Syafaat karya Syaikh Muqbil Al Wadi'i.
    1. Beriman terhadap Shirath (titian) yang dibentangkan di atas neraka Jahannam, dan Shirath tersebut menghasung siapa saja yang dikehendaki Allah Subahanahu wata’aala dan meloloskan siapa saja yang dikehendaki-Nya serta jatuh ke dalam neraka Jahannam siapa saja yang dikehendaki Allah Subahanahu wata’aala. Masing-masing manusia memiliki cahaya sesuai kadar keimanan yang mereka miliki.
    2. Beriman terhadap para Nabi dan para malaikat.
    3. Beriman bahwa Neraka adalah benar dan Surga adalah benar, keduanya berupa makhluk.Surga berada di langit ketujuh, beratapkan 'Arsy begitu juga Neraka berada pada lapis bumi ketujuh dan keduanya adalah makhluk. Allah Subahanahu wata’aala telah mengetahui jumlah penghuni Surga dan jumlah orang yang akan memasukinya. Allah Subahanahu wata’aala juga mengetahui jumlah penghuni Neraka dan orang yang akan memasukinya. Keduanya tidak mengalami kepunahan selama-lamanya dan bersifat kekal bersama kekalnya Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala serta keduanya bertahan sepanjang masa.28
    4. Adam 'alaihissalam dahulu berada di Surga yang kekal yang juga makhluk lalu dikeluarkan dari tempat itu setelah maksiat kepada Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.
    5. Beriman terhadap keberadaan Al Masih AdDajjal.
    6. Beriman terhadap turunnya Isa bin Maryam 'alaihissalam, ia turun lalu membunuh Dajjal beliau menikah dan shalat di belakang imam dari keluarga Muhammad sholallohu'alaihi wasallam. Dan beliau meninggal lalu dikuburkan kaum Muslimin.
    7. Beriman bahwa iman adalah berupa ucapan dan perbuatan, perbuatan dan ucapan, niat dan pembuktian, bisa bertambah dan berkurang, bertambah sesuai yang dikehendaki Allah Subahanahu wata’aala dan berkurang hingga tidak tersisa sedikitpun.
    8. Sebaik-baik umat sepeninggal Nabinya adalah Abu Bakar Radhiyallohu’anhu, Umar Radhiyallohu’anhu dan Utsman Radhiyallohu’anhu.

Demikian itu sebagaimana yang telah diriwayatkan Ibnu Umai kepada kita bahwa beliau berkata: "Kami mengatakan sementara Rasulullah ada di tengah kita: 'Sesungguhnya manusia terbaik setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, Umar dan Utsman, dan Nabi mendengarkan ucapan itu namun beliau tidak mengingkarinya."29

Kemudian manusia terbaik setelah mereka adalah Ali, Thalhah, Zubair, Saad bin Abu Waqqas, Said bin Zaid, Abdurrahman bin 'Auf dan Abu Ibaidah Amir bin Al Jarrah, semua layak untuk menjadi khalifah. Kemudian manusia terbaik setelah mereka adalah para sahabat Rasulullah yang hidup pada generasi pertama semasa kenabian; mereka adalah kaum Muhajirin pertama dan Anshar, dan mereka adalah orang-orang yang pernah shalat menghadap dua kiblat. Kemudian manusia terbaik setelah mereka adalah setiap orang yang pernah bersahabat dengan Rasulullah meskipun hanya dalam kurun waktu sehari, sebulan, setahun atau lebih sedikit atau lebih banyak dari waktu tersebut.

Kita harus memohonkan rahmat untuk mereka, menyebut kebaikan mereka, berdiam dari membicarakan kesalahan mereka dan tidak menyebut salah satu di antara mereka kecuali kebaikan, sebab Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda: "Jika sahabatku disebut maka hendaklah kalian menahan (tidak berbicara jelek tentang mereka). 30

Sufyan bin 'Uyainah berkata: "Barangsiapa berbicara tentang (kesalahan) sahabat Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dengan satu kata maka ia termasuk Ahli bid'ah."

Nabi Sholallohu’alaihi wasallam bersabda: "Sahabatku laksana bintang dengan siapa saja dari mereka anda mengikutinya maka anda akan mendapat petunjuk.31

    1. Wajib mendengar dan mentaati para pemimpin dalam perkara yang dicintai dan diridhai Allah Subahanahu wata’aala, dan orang yang memegang tampuk khilafah yang diangkat berdasarkan kesepakatan dan kerelaan seluruh ummat maka ia termasuk Amirul Mukminin.
    2. Tidak boleh seseorang bermalam sementara tidak merasa memiliki imam baik seorang imam, adil ataupun dzalim.
    3. Haji dan berjihad bersama imam terus berlanjut dan boleh shalat jum'at di belakang mereka, dan setelah itu melakukan shalat enam rakaat dengan cara salam setiap dua rakaat sebagaimana pendapat imam Ahmad bin Hambal.32
    4. Manusia yang paling berhak memegang khilafah adalah keturunan Quraisy sampai Isa bin Maryam 'alaihissalam turun.
    5. Barangsiapa keluar dari imam kaum Muslimin maka ia termasuk kelompok Khawarij dan telah mematahkan tongkat kepemimpinan kaum Muslimin serta menentang atsar, apabila meninggal maka mati dalam keadaan jahiliyah.
    6. Tidak boleh mengangkat pedang untuk memerangi pemimpin dan keluar dari mereka meskipun mereka sosok pemimpin jahat.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi kepada Abu Dzar Al Ghifari: "Bersabarlah meskipun (pemimpin itu) seorang budak Habasyi."33

Dan sabda Nabi Sholallohu’alaihi wasallamkepada kaum Anshar: "Bersabarlah hingga kalian bertemu aku di Haudh (telaga)34

Bukan termasuk dari sunnah mengangkat pedang untuk memerangi pemimpin sebab demikian itu akan menimbulkan kerusakan dalam agama dan kehidupan dunia.

  1. Boleh mernerangi kaum Khawarij bila mereka mengganggu kaum Muslimin baik harta, jiwa atau keluarga mereka. Apabila di antara mereka keluar dari pemimpin, tidak boleh dicari, yang terluka tidak boleh dibunuh, tidak boleh diambil harta benda mereka dan yang tertawan tidak boleh dibunuh serta yang melarikan diri dari medan perang tidak boleh dikejar.
  2. Ketahuilah semoga kalian dirahmati Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala, bahwa tidak boleh mentaati makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.
  3. Tidak boleh memastikan terhadap pemeluk Islam bahwa ia termasuk jelas-jelas baik atau buruk karena anda tidak tahu nasib akhir orang tcrsebut ketika meninggal dunia, namun boleh menaruh harapan rahmat bagi orang yang baik dan merasa takut terhadap orang yang buruk akibat dosa yang lelah ia kerjakan, sebab anda tidak tahu ketika ia meninggal dunia mungkin telah menyesali dosanya. Jika Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala membuat ketentuan seperti itu maka ketika ia meninggal dunia hendaklah memohon rahmat Allah Subahanahu wata’aala untuknya dan merasa cemas terhadap dosa-dosanya.
  4. Setiap dosa bagi seorang hamba berhak mendapat kesempatan untuk bertaubat.
  5. Hukum rajam merupakan bentuk hukum yang hak (benar).
  6. Mengusap sepatu khuf(Bot) termasuk bagian dari Sunnah.

___________________________________________________

  1. Untuk menambah penjelasan masalah surga dan Neraka makhluk dan bantahan telak terhadap orang yang menyatakan bahwa Surga dan Neraka mengalami kepunahan maka lihat sumber-sumber sebagai berikut: Taufiqul fariqain Ala Khulud ahliddarain, karya Mar'a Al Hambali, "Kasyful Astar Ibthal Adllatil Qailiin Bi Fanain Nar, karya Imam Shan'any, dan kitab Ar Rad ala man Qala bi Fanail Jannati wan Nar karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  2. Hadits serupa telah dikeluarkan oleh Al Bukhari dalam kitab fadhailul Shahabat, bab fadhlu Abu Bakar dan dalam bab Manaqib Utsman (7/53-54 lihat Fathul Bari) dan imam Ahmad dalam Fadhailul Shahabat (53.54,55, 56...)
  3. Hadits hasan yang telah dikeluarkan At Tabrani dalam Al Kabir (10/243/244) , Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (4/108) dari Hadits Abdullah Ibnu Mas'ud. Ada beberapa hadits pendukung yang telah dipaparkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah shahihah (34).
  4. Ini sebuah hadits yang mana para ulama ahli hadits telah sepakat mendhaifkannya. Al Bazzar berkata: "Hadits tidak sah disandarkan kepada nabi." Ibnu Hazm berkata: "Hadits dusta, palsu dan bathil." Baihaqi berkata: "Matannya masyhur namun seluruh sanad-sanadnya dhaif, tidak ada yang sahih." Ibnu Katsir berkata: "Tidak seorang ahli sunnah yang pernah meriwayatkan hadits ini dan dia dhaif." Dan hadits ini juga didhaifkan oleh Al Iraqy, Ibnu Hajar dan Al Bani. (lihat At Madkhal, Baihaqi (Hal. 162-164), Tuhfatul Thalib, Ibnu Katsir (Hal. 165-169), Al Mu'tabar, zarkasyi (Hal.9\82-85), Takhrlj Ahaditsul Minhaj, Al Iraqi (Hal.81-86), Muwafaqtul Khabar Al Khabar, Ibnu Hajar, (1/ 145-148), Talkhisul Khabir (4/190-191) dan Silsilah Dhaifah, Al Bani (58,59,60,61 dan 62).
  5. Lihat Dalam kitab Tabaqatul Hanabilah, (1/42, 241,194,311, 329, 342).
  6. Hadits serupa telah dikeluarkan imam Muslim dalam kitab Imarah, bab Wujub Taatit Umara 'fi ghalri ma'shiyyah (1837), Ahmad (3/171) dan Ibnu Majah fll Jihad bab TaatulImam (2862)
  7. Hadits dikeluarkan oleh Bukhari dalam kitab Manaqibul Anshar, bab Qaulun Nabi liI Anshar " Bersabarlah hingga kamu bertem Aku di telaga.(7/17) dan Muslim dalam kitab Imarah bab Ash Shabru 'inda Dzulmil Wulaat(1845). Dan Ahmad (3/57, 171) dari hadits Usaid bin Huidhir.
    1. Mengqashar shalat ketika dalam keadaan bepergian termasuk bagian dari Sunnah.
    2. Puasa ketika dalam keadaan bepergian; barangsiapa yang ingin berpuasa diperbolehkan dan barangsiapa yang ingin berbuka diperbolehkan.35
    3. Tidak mengapa shalat mengenakan pakaian celana.
    4. Nifak adalah menampakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran.
    5. Ketahuilah, bahwa dunia adalah Negara Iman dan Islam.36
    6. Umat Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam di dalamnya adalah orang-orang mukmin dalam hukumnya, perkara warisan dan sembelihannya serta sah shalat di belakang mereka.
    7. Kita tidak memberi kesaksian iman secara hakiki kepada seseorang hingga ia telah melaksanakan semua ajaran syariat Islam dan apabila ada sebagian syariat yang belum diamalkan maka orang tersebut kurang imannya hingga ia bertaubat. Ketahuilah sesungguhnya keimanannya itu bisa disifati sempuma atau berkurang kecuali bila ia menampakkan kepadamu keteledoran dalam mengamalkan seluruh syariat.
    8. Termasuk sunnah menshalati orang muslim yang meninggal dunia karena dirajam, pezina laki- laki, pezina perempuan, orang yang bunuh diri, pemabuk, dan yang semisal dengan mereka maka menshalati mereka adalah sunnah.
    9. Seseorang tidak dinyatakan keluar dari Islam hingga nyata-nyata telah menolak sebagian ayat Al Qur'an atau mengingkari sebagian sunnah Nabi atau menyembelih untuk selain Allah Subahanahu wata’aala atau shalat untuk selain Allah Subahanahu wata’aala, maka barangsiapa telah melakukan sebagian dari perkara di atas wajib bagimu untuk mengeluarkan ia dari Islam. Jika tidak melakukan salah satu dari perkara di atas maka ia tetap sebagai seorang mukmin lagi muslim secara sebutan namun bukan secara hakekat.
    10. Segala atsar yang datang dari Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam yang tidak mampu dicerna oleh akalmu seperti sabda Rasulullah Shollallohu'alaihi wasallam:

"Hati para hamba di antara dua jari jemari dari jari jemari Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.37

Dan sabdanya:
"Sesungguhnya Allah Subahanahu wata’aala tabaraka wa ta'ala turun kelangit dunia.38

Dan beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Subahanahu wata’aala turun pada hari Arafah."39

Dan Allah Subahanahu wata’aala juga turun pada hari kiamat.40 Nabi bersabda: "Terus-menerus dilempar ke dalam neraka Jahannam hingga Allah Subahanahu wata’aala meletakkan telapak kaki-Nya.41

Dalam hadits qudsi Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala berfirman kepada hamba-Nya: "Jika mendekat kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendekat kepadamu dengan berlari- lari kecil.42

      Nabi bersabda: "Sesungguhnya Allah Subahanahu wata’aala tabaraka wa la'ala turun di Arafah.

43

Dan Nabi bersabda: "Allah Subahanahu wata’aala menciptakan Adam dalam bentuk-Nya.44

Dan Nabi juga bersabda: "Saya melihat Tuhanku dalam bentuk yang paling indah."45

Masih banyak hadits-hadits yang serupa dengan itu maka hendaklah anda cukup membenarkan dan Tafwidh (menyerahkan)46 tanpa menafsirkan dengan hawa nafsu karena mengimaninya berhukum wajib. Barangsiapa menafsirkan dengan hawa nafsu atau menolak (nash-nash seperti di atas) ia termasuk kelompok Jahmiyah.

  1. Barangsiapa mengaku telah melihat Rabbnya di perkampungan dunia, maka ia telah kafir terhadap Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.
  2. Berfikir tentang Dzat Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala merupakan perkara bid'ah berdasarkan sabda Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam:
    "Berfikirlah tentang ciptaan dan jangan berfikir tentang Allah Subahanahu wata’aala."47
    Karena berfikir tentang Allah Subahanahu wata’aala akan menumbuhkan bibit keraguan dalam hati.
  3. Ketahuilah, bahwa seluruh makhluk yang mengganggu, binatang buas dan seluruh hewan melata serta serangga seperti semut kecil, semut besar dan lalat semua di bawah perintah tidak mengetahui sesuatupun kecuali atas izin Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.
  4. Beriman bahwa Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala telah mengetahui segala yang telah terjadi dan belum terjadi dari sejak zaman azali, segala sesuatu yang telah terjadi telah dihitung dan dijumlah secara rinci oleh Allah Subahanahu wata’aala maka barangsiapa menyangka bahwa Allah Subahanahu wata’aala tidak mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, ia telah kafir terhadap Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.
  5. Tidak sah pernikahan kecuali harus dengan seorang wali dan dua orang saksi yang adil serta mahar baik sedikit atau banyak, barangsiapa tidak mendapatkan wali maka pemimpin adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.
  6. Bila seorang telah menceraikan isterinya tiga kali maka sang isteri haram dan tidak halal baginya hingga ia menikah dengan laki-laki lain.
  7. Seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subahanahu wata’aala dan Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya darahnya tidak halal kecuali dengan tiga perkara;48 berzina sesudah menikah, keluar dari agama setelah beriman dan mem bunuh jiwa orang mukmin tanpa dasar kebenaran, ia ha rus dibunuh dan selain itu darah seorang muslim haram bagi muslim yang lain selama-lamanya hingga hari kiamat.
  8. Segala sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala fana' (kehancuran) maka pasti akan mengalami fana' kecuali Surga, Neraka, Arsy, Kursyi, Lauh, Qalam dan Sangkakala maka semua itu tidak akan mengalami fana' (rusak) selama-lamanya. Kemudian Allah Subahanahu wata’aala membangkitkan makhluk pada hari kiamat sesuai dengan amal masing-masing ketika mati. Dan Allah Subahanahu wata’aala menghisab mereka sebagaimana yang dihendaki-Nya, di antara mereka menjadi penghuni Surga dan sebagian yang lain menjadi penghuni Neraka Sa'ir lalu Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala berfirman kepada makhluk yang tidak diciptakan untuk kekal "Jadilah kalian tanah".
  9. Beriman terhadap adanya qishash pada hari kiamat di antara para makhluk, antara anak cucu Adam, binatang buas, makhluk pengganggu hingga semut kecil dengan semut kecil. Allah Subahanahu wata’aala mengadili masing-masing makhluk, mengambil hak penghuni Surga dari penghuni Neraka dan menyelesaikan hak penghuni Neraka dengan penghuni Surga dan mengadili antara penghuni Surga serta pengadili antara penghuni Neraka.
  10. Mengikhlaskan amal perbuatan karena Allah Subahanahu wata’aala.
    1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu'Fatawa (25/209): "Bepergian yang boleh mengqashar shalat maka dibolehkan juga berbuka puasa dengan konsekwensi qada', bagi seorang musafir yang boleh mengqashar shalat diperbolehkan berbuka puasa menurut kesepakatan ulama baik mampu berpuasa atau tidak, baik keberatan melakukan puasa atau tidak, seperti ia melakukan bepergian dalam suasana sejuk atau membawa air atau bersama pembantu maka tetap diperbolehkan untuk memilih antara berbuka atau mengqashar shalat." Barangsiapa berkata: "Berbuka hanya diperbolehkan bagi orang yang tidak mampu berpuasa maka harus diminta untuk bertaubat dan apabila menolak bertaubat dia harus dihukum bunuh. Begitu seorang yang mengingkari orang yang berbuka dalam keadaan bepergian maka dia harus diminta bertaubat.
    2. Imam Abu Bakar Al Ismaily dalam kitab "I'tiqad ahli sunnah" (Hal. 15) berkata: "Ahli sunnah berpandangan bahwa suatu negeri dikatakan negeri Islam bukan negeri kufur sebagaimana pandangan Mu'tazilah selagi adzan dan iqamah masih dikumandangkan sementara para penduduknya bebas untuk menegakkan shalat." As Syaukani dalam kitab As Sailul Jarrar (4/575) berkata: "Yang menjadi tolok ukur negara Islam adalah tampaknya kalimah Allah Subahanahu wata’aala, artinya penentu kebijakan baik yang bersifat perintah atau larangan di bawah kendali kaum muslimin sementara orang kafir tidak mampu menampakkan kekufuran kecuali setelah mendapat izin dari penduduk Negara Islam, maka kondisi demikian memungkinkan suatu wilayah disebut dengan Negara Islam dan keberadaan syiar kekufuran yang nampak tidak menafikan penamaan ini sebab nampaknya syiar kekufuran bukan atas usaha dan kekuatan dari orang-orang kafir. Tetapi bila masalahnya berbalik maka status Negara juga berbalik." Silahkan membaca kitab "Ahkamudz Dzimmiyyin wal Musta'maniin Fi Daril Islam' (DR. Abdul Karim Zaidan).
    3. Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Qadar, bab Tashrifullah ta'ala Al Qulub kaifa Sya'a. (2645) dan Musnad Ahmad (2/168) dari hadits Abdullah bin Amr.
    4. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Kitab Tahajjud, bab Ad Du'a was Shalat Min Akhiril fail (3/29) dan dalam kitab Ad Da'waat bab Ad Du'a Nisfillail (11/128) dan Muslim dalam Kitab Shalatul Musafirin, bab Targhib fiddua' wadz Dzikr Fi Akhiril Lail(758)
    5. Dikeluarkan oleh Ibnu Mandah dalam kitab "Tauhid, (1/147), Abu Faraj dalam kitab Fawaid (2/78) ,AI Bani dalam Silsilah Dhaiifah (679) serta Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah dari jalan Marzuq Maula Thalhah dan Zubair dari Jabir secara marfu'. Masih ada riwayat lain dari hadits Jabir dengan sanad yang dha'if sebagaimana yang disebutkan dalam Silsilah Dha'ifah (2/125-126).
    6. Terdapat nash secara sahih baik dalam Al Kitab dan As Sunnah tentang datangnya Al Jabbar untuk memberi keputusan akhir pada hari kiamat. Adapun turunnya Allah Subahanahu wata’aala pada hari kiamat telah terdapat beberapa atsar dan anda bisa merujuk dalam kitab "Ar rad Ala Jahmiyah" karya Ad Darimiy (72-75) dan Tafsir Ibnu Katsir (3/315-316).
    7. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam kitab Tafsir bab firman Allah Subahanahu wata’aala: "Dia menjawab: "Masih adakah tambahan" (Lihat Fathul Bari) (8/594-595) dan Muslim dalam kitab Al Jannah wa na'imuha, bab An Nar yadkhuluhal Al jabbaru (2848) dari hadits Anas bin Malik.
    8. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam kitab At Tauhid bab firman Allah Subahanahu wata’aala : "Allah Subahanahu wata’aala memperingatkan dengan diri-Nya."(13/384) (lihat Fathul Bari) dan Muslim dalam kitab Dzikr dan Doa (2675) dari hadits Abu Hurairah.
    9. Penulis mengulangi hadits ini.
    10. Dikeluarkan Al Bukhari dalam kitab Al Isti'dzan, bab bad'us Salam 11/3 (Lihat Fathul Bari), dan Muslim dalam kitab Al Bir, bab An Nahyu an Dharbil Wajhi. (4/2017) dari Hadits Abu Hurairah. Syaikh Hamud At Tuwaijiry memiliki buku yang sangat bagus berjudul Aqidah ahlil Iman fi Khalqi Adam 'ala Suratirrohmaan.
    11. Hadits Sahih dari Muadz bin Jabal dalam Musnad Ahmad (5/243) dan Tirmidzy dalam bab tafsir bab surat Shaad, (5/368) dia berkata: "Hadits ini Hasan Sahih," dan saya bertanya kepada Hasan bin Ismail tentang hadits ini maka beliau berkata: "Hadits ini hasan sahih, yang memiliki banyak sanad dari beberapa sahabat dan telah saya takhrij secara lengkap dan saya memberi bantahan lugas terhadap orang yang ingin menolak hadits ini."
    12. Yang dimaksud penulis Tafwidh ilmil Kaifiyah bukan Tafwidhh ilmil Ma'ani. Untuk menambah penjelasan masalah ini silahkan anda membaca kitab 'Alaqatul Itsbat wat Tafwidhh bi sifati rabbil Alamin (Hal.69) karya Syaikli Ridha Na'san dan kitab Radul Al Allamah Bin Baz ala Shabuni(Hal.8-18)
    13. Lafadz hadits ini dikeluarkan oleh Abu Syaikh dalam kitab "Al Adzamah' nomor (5) dan Abul Qasim Al Ashfahani dalam kitab At targhib nomor (668,669,670) dari hadits Ibnu Abbas secara Marfu' namun sanad hadits ini dhaif yang memiliki Syahid dari hadits Abdullah bin Salam secara marfu'. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab "Al Hilyah" (6/66-67) dan Al Ashfahani dalam "At targhib" nomor (673), dengan demikian hadits ini menjadi hasan, dan masih banyak hadits yang bisa menjadi syahid namun tidak lepas dari komentar ulama ahli hadits. Lihat Silsilah Ash-Shahihah (1788).
    14. Dari hadits Abdullah bin Mas'ud dikeluarkan oleh Bukhari dalam kitab Ad Diyaat, bab firman Allah Subahanahu wata’aala: "Sesungguhnya jiwa dengan jiwa." (12/201) (lihat Fathul Bari) dan Muslim dalam kitab Al Qasamah, bab Ma Yubalui bihi damul Muslim (1676).
  11. _____________________________________________________
  1. Rela terhadap putusan Allah Subahanahu wata’aala dan bersabar dalam menerima segala ketentuan Allah Subahanahu wata’aala, beriman terhadap seluruh firman Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala dan beriman terhadap semua takdir Allah Subahanahu wata’aala baik yang bagus atau yang buruk, yang manis atau yang pahit. Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala mengetahui segala apa yang dikerjakan oleh hamba-Nya dan kemana mereka akan berakhir. Mereka tidak bisa lepas dari pemantauan ilmu Allah Subahanahu wata’aala, tiada suatu yang ada di bumi atau di langit kecuali telah diketahui oleh Allah Subahanahu wata’aala. Ketahuilah suatu yang ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu, tidak akan menimpamu serta tidak ada pencipta selain Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.
  2. Jumlah takbir shalat Jenazah empat kali sebagaimana pendapat Imam Malik bin Anas, Sufyan Ats Tsauri, Al Hasan bin Shalih49, Ahmad bin Hambal dan para ulama Ahli fikih karena pendapat itu lebih sesuai sabda Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam. 50
  3. Beriman bahwa setiap tetesan hujan disertai satu malaikat51 yang turun dari langit untuk meletakkan air hujan pada tempat yang telah diperintahkan oleh Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.
  4. Beriman bahwa Nabi mengajak bicara kepada kaum musyrikin yang telah meninggal yang dilempar ke sumur dalam perang Badar dan mereka mendengar pembicaraan itu.52
  5. Beriman bahwa orang yang sakit diberi pahala oleh Allah Subahanahu wata’aala karena sakit yang dideritanya.53
  6. Orang yang mati Syahid mendapat pahala sebagai balasan dari kematian di medan perang.
  7. Beriman bahwa anak-anak kecil ketika tertimpa musibah di dunia merasakan kesakitan, karena Bakar anak saudari Abdul Wahid54 menyangka tidak merasakan kesakitan dan ia telah berdusta.
  8. Ketahuilah bahwa tidak seorangpun masuk Surga kecuali dengan rahmat Allah Subahanahu wata’aala subahanahu wata’aala, dan tidaklah Dia menyiksa seorangpun melainkan karena dosa-dosanya. Jika seandainya Allah Subahanahu wata’aala menyiksa semua penghuni langit dan bumi baik yang shalih atau yang buruk, maka ia telah menyiksa mereka tanpa dzalim kepada mereka, tidak bisa dikatakan Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala berlaku dzalim. Sebab seorang bisa disebut dzalim bila mengambil sesuatu yang bukan menjadi miliknya sementara semua makhluk dan putusan menjadi milik-Nya, makhluk yang ada adalah makhluk-Nya dan kampung dunia adalah kepunyaan-Nya, Ia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat bahkan merekalah yang akan ditanya, maka tidak boleh ditanyakan kepada Allah Subahanahu wata’aala kenapa dan bagaimana? Tidak ada seorangpun yang mampu mempengaruhi antara hubungan Allah Subahanahu wata’aala dengan makhluk-Nya.
  9. Jika anda mendengar orang yang menghujat atsar, tidak mau menerimanya atau mengingkari sebagai khabar yang datang dari Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam maka jadikanlah ia tertuduh dalam Islam sebab ia seorang yang buruk pendapat dan madzhab, dan bahwasanya ia menghujat Rasul Sholallohu’alaihi wasallam dan para sahabatnya, dikarenakan kita mengenal Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam, mengenal Al-Qur'an, mengenal kebaikan dan keburukan, dan mengenal dunia dan akhirat dengan atsar tersebut.55
  10. Sesungguhnya Al-Qur'an lebih butuh kepada Sunnah daripada Sunnah kepada Al-Qur'an.56
  11. Berbicara tanpa dasar, berbantah-bantahan dan beradu argumentasi terutama dalam masalah takdir menurut semua firqah dilarang keras sebab masalah takdir merupakan rahasia Allah Subahanahu wata’aala dan Rabb telah melarang para Nabi berbicara soal takdir serta Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam juga melarang berbantah-bantahan dalam masalah takdir. Begitu pula para sahabat Nabi, Tabi'in, para ulama sunnah dan Ahli wara' sangat membenci setiap pembicaraan ma salah takdir dan melarang berbantah-bantahan dalam perkara takdir. Maka cukuplah bagimu bersikap tunduk patuh, menetapkan dan beriman serta menyakini apa yang telah diucapkan Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam segala perkara dan mendiamkan selain perkara itu.
  12. Beriman bahwa Rasulullah telah diangkat ke langit hingga sampai ke 'Arsy lalu berbicara dengan Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala, masuk Surga, menengok ke Neraka, melihat para malaikat, mendengar pembicaraan Allah Subahanahu wata’aala, bertemu dengan para Nabi dan melihat payungan 'Arsy dan Kursyi serta beliau juga melihat seluruh apa yang ada di langit dan di bumi. Beliau melakukan Isra' dalam keadaan terjaga dan sadar,dibawa oleh malaikat Jibril dengan kendaraan Buraq hingga mengelilingi seluruh langit dan beliau mendapat perintah shalat pada malam itu dan kembali ke Mekkah pada malam itu juga sementara peristiwa itu terjadi sebelum hijrah.57
  13. Ketahuilah Ruh para Syuhada58 terletak di dalam lampu-lampu yang bergelantungan di bawah 'Arsy59 dan dibiarkan lepas di Surga. Ruh orang mukmin di bawah Arsy dan ruh orang kafir serta orang jahat di Barahut60 yaitu di Sijjin.
  14. Beriman bahwa mayyit didudukkan di alam kubur lalu Allah Subahanahu wata’aala mengirimkan dua malaikat Munkar dan Nakir untuk mengajukan pertanyaan tentang keimanan dan syariat-syariatnya, kemudian ruhnya dilepas lagi, kemudian ruhnya di lepas tanpa merasakan kesakitan. Sang mayyit dapat mengenali orang yang menziarahinya,61 orang mukmin mendapatkan nikmat dan orang jahat akan memperoleh adzab sebagaimana yang dikehendaki Allah Subahanahu wata’aala.
  15. Ketahuilah sesungguhnya ........ 62 dengan qada' dan qadar Allah Subahanahu wata’aala.
  16. Beriman bahwa Allah Subahanahu wata’aala telah mengajak bicara Musa bin 'Imran ketika berada di gunung Thur, Musa mendengar dari Allah Subahanahu wata’aala pembicaraan dengan suara, dan suara yang sampai ke telinga beliau berasal dari Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala bukan dari selain-Nya. Barangsiapa berpendapat selain di atas maka ia telah kafir kepada Allah Subahanahu wata’aala Yang Maha Agung.
  17. Akal itu terlahir, setiap manusia diberi akal sesuai apa yang dikehendaki Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala. Masing-masing orang memiliki kadar kemampuan akal berbeda-beda seperti perbedaan molekul yang berada di langit. Maka wajib bagi setiap manusia untuk beramal sesuai kadar kemampuan akal yang dimiliki. Akal didapat bukan dari usaha manusia namun karunia dari Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala.
  18. Ketahuilah, sesungguhnya Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala memberi karunia kepada hamba-Nya berbeda-beda dalam masalah keduniaan dan agama sebagai bentuk sikap keadilan Allah Subahanahu wata’aala. Tidak boleh dikatakan bahwa Allah Subahanahu wata’aala bersikap dzalim atau curang dalam memberi karunia tersebut. Barangsiapa mengatakan bahwa Allah Subahanahu wata’aala memberikan karunia secara sama rata kepada orang mukmin dan kafir ia termasuk Ahli bid'ah, bahkan Allah Subahanahu wata’aala telah mengutamakan orang-orang mukmin di atas orang-orang kafir, orang Ahli yang taat di atas Ahli maksiat dan orang yang terpelihara di atas orang yang terhina sebagai bentuk sikap adil dan karunia Allah Subahanahu wata’aala, dan Allah Subahanahu wata’aala memberi karunia kepada siapa saja yang dikehendaki dan menghalangi dari siapa saja yang la kehendaki.
  19. Dilarang menyembunyikan nasihat untuk kaum Muslimin dalam perkara agama, baik kepada yang shalih atau yang jahat. Barangsiapa menyembunyikan nasihat maka ia telah menipu kaum Muslimin dan siapa yang menipu kaum Muslimin berarti telah menipu agama, dan siapa yang menipu agama sungguh ia telah mengkhianati Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala, Rasul-Nya dan orang-orang beriman.
  20. Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala adalah Dzat Yang Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, kedua tangan- Nya terbuka lebar, sebelum makhluk diciptakan Allah Subahanahu wata’aala telah mengetahui bahwa mereka akan bermaksiat. llmu Allah Subahanahu wata’aala pasti terlaksana pada mereka dan ilmu-Nya tidak menghalangi untuk memberikan petunjuk kepada mereka untuk menerima Islam bahkan Allah Subahanahu wata’aala memberikan mereka hidayah tersebut sebagai bentuk pemberian, keutamaan dan karunia maka segala puji hanya milik- Nya.

________________________________________________

  1. Al Hamadany, terpercaya, seorang ahli fikih, ahli ibadah tertuduh Tasyayu' meninggal tahun 169. (lihat taqrib hal. 239 dan Siyar A'lamin Nubala' (7/361)
  2. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiyallohu’anhu bahwa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam mengumumkan kematian Najasyi ketika beliau meninggal dunia dan nabi melakukan shalat jenazah untuk beliau bersama kaum Muslimin, beliau meluruskan shaf dan bertakbir empat kali. (H.R Bukhari dalam kitab janaiz, bab At takbir ala janaiz Arba'an (3/202 lihat Fathul Bari) dan Muslim dalam kitab Al Janaiz, bab At Takbir alal Janaiz (951). Boleh shalat jenazah dengan sembilan kali takbir karena terdapat hadits yang menunjukkan hal itu. Dan keterangan secara detail anda bisa membaca kitab "Majmu" (5/211) Nawawi, "Syarhus Sunnah" (5/341) Baghawai, Subulus salam (2/143) As Shan'ani, Zadul Ma'ad (1/508-509) dan Ahkamul Janaiz Albani (Hal.111-114).
  3. Ini adalah perkataan Al Hakam bin Utaibah dan Al Hasan Al Bashry: "Adapun perkataan Al Hakam dikeluarkan oleh At Thabariy dalam tafsirnya (14/19)dan Abu Syaikh dalam kitab Al A'dzamah, (493) dengan sanad yang hasan. Dan Hasan Al Bashry dikeluarkan oleh Abu Syaikh dalam kitab "AlAdzamah" (761) dengan sanad yang hasan. Lihat kitab Al Bidayah wan Nihayah (1/14) Ibnu Katsir Ad Durul Manshur As Suyuthi.
  4. Sebagaimana dalam Sahih Muslim dalam Kitabul Jannah Wa Sifatu-na'imiha, bab Ardu Maq'adil Mayyit Minal Jannah Au An Nar Alaih (2874) dari hadits Anas bin Malik bahwa Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam membiarkan bangkai orang-orang musyrik pada perang Badar kemudian beliau mendatangi mereka dan berdiri menghadap mereka lalu memanggil mereka: "Wahai Abu Jahal bin Hisyam, Wahai Umayyah bin Khalaf, Wahai 'Utbah bin Rabi'ah, Wahai Syaibah bin Rabi'ah, bukankah kalian sudah mendapati apa yang telah dijanjikan Allah Subahanahu wata’aala kepada kalian! Sesungguhnya aku benar-benar telah mendapati apa yang telah dijanjikan Allah Subahanahu wata’aala kepadaku." Maka Umar mendengar ucapan Rasulullah sholallohu’alaihi wasallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana mereka bisa mendengar dan menjawabnya sementara mereka sudah membangkai?" Beliau bersabda: "Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya! Kalian tidak lebih mendengar ucapanku daripada mereka akan tetapi mereka tidak mampu menjawabnya." Kemudian bangkai mereka dikumpulkan lalu dilempar ke dalam sumur Badar.
  5. Sebagaimana dalam Sahih Bukhari dalam kitab Al Mardho, bab Syiddatul Marad (10/110) Fathul Bari, dan Sahih Muslim dalam kitab Al Bir was Shilah, bab TSawabul Mukmin Fima Yushibuhu min maradl. (2571) dari hadits Abdullah berkata bahwa Rasulullah bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu musibah kecuali Allah Subahanahu wata’aala akan menghapus dengannya kesalahannya seperti daun gugur dari pohonnya."
  6. Dalam teks asli anak saudari Abdul Wahhab dan ini jelas salah. Bakar termasuk tokoh ahli bid'ah. Lihat biografinya dalam kitab "Lisanul Mizan (2/60-61) dan dalam kitab "AlFashl' Ibnu Hajm (3/157) dan telah keliru pentahqiq kitab "Al Fashl' dalam biografinya. Dan lihat kitab "Maqlatul islamiyah Al Asy'ary (Hal.286)
  7. Imam Ahmad berkata: "Barangsiapa menolak hadits Rasulullah dia berada dl pinggir jurang kehancuran. (Tabaqatul Hanabilah 2/15) dan Al-Ibanah Al Kubra Ibnu Baththah, 1/97)
  8. Makalah ini diriwayatkan dari Makhul As Syamy yang dikeluarkan oleh Al Khaththib dalam kitab "Al Kifayah" (Hal.14) Ibnu Abdul Barr dalam kitab "Jami’u Bayanil 'Ilmi' (2/191) dan Al Hazimi dalam kitab "An Nasikh wal mansukh (Hal. 25) dengan sanad yang sahih. Yahya bin Abu Katsir berkata: "Sunnah penghukum Al-Qur'an dan bukan yang menghukumi As sunnah. (Dikeluarkan oleh Ad darimiy dan Sunnannya (1/117) dan Ibnu Abdul Bar dalam Al Jami' (2/191). Al Fadhl bin Ziyad berkata bahwa saya mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Hambal ditanya tentang hadits yang menyatakan bahwa Sunnah menghakimi Al Kitab, maka beliau berkata: "Saya tidak suka dengan ungkapan bahwa sunnah menghakimi Al Kitab tetapi yang lebih baik dikatakan Sunnah menafsirkan dan menjelaskan Al- Kitab." (disebutkan Ibnu Abdul bar dalam Al-Jaml' (Hal.191/192). Inilah yang benar karena SESUAI dengan firman Allah Subahanahu wata’aala: "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (An Nahl-44).
  9. Imam As Suyuthi memiliki buku sangat bagus yang membahas seputar peristiwa Isra'yang berjudul "Al Ayatul Kubra Fi Qishatil Isra". Dan lihat Risalah Isra'wal Mi'raj karya Syaikh Muhammad Abu Syuhbah.
  10. Dalam teks asli berbunyi "Ruh para Suhada' terletak di dalam tembolok burung hijau yang dilepas di Surga, dan bertengger di lampu-lampu yang berada di bawah 'Arsy. Sebagaimana hadits yang terdapat dalam Sahih Muslim dalam kitab Imarah, bab Bayan anna Arwahas Syuhada' Fil Jannah (1878) dari hadits Abdullah bin Mas'ud.
  11. Ibnu Qayyim secara panjang lebar menjelaskan masalah ini dalam kitab "AR Ruh" (Hal. 125-159) dan lihat "Ahwalul Qubur" Ibnu rajab (Hal.209-242)
  12. Sumur yang sangat dalam yang tidak bisa diselami kedalamannya, terdapat di daerah Hadramaut. Dan tidak benar bahwa Ruhnya orang-orang kafir berada di dalam sumur Barahut sebagaimana yang telah dijelaskan secara gamblang dalam kitab "Ar Ruh" oleh Ibnu Qayyim. (Hal.145-147). Dan dalam kitab "Ahwalul Qubur" Ibnu Rajab (255-263). Pendapat yang benar dan sesuai dengan dalil adalah pendapat yang menyatakan bahwa ruhnya orang-orang kafir berada di Sijjin.
  13. Ada beberapa hadits yang menegaskan bahwa mayyit bisa mengenali para penziarah ketika menziarahinya, merasa tenang dan tentram dengan kedatangan para penziarah namun tidak ada satupun riwayat yang sahih mengenai masalah tersebut. Lihat kitab Busyral Kaiib, As Suyuthi Tahqiq Syaikh Masyhur Hasan (Hal.87-89) dan Ahwalul Qubur Ibnu Rajab (Hal.184-192). Tahqiq Ustadz Muhammad Nidhamuddin.
  14. Suatu kata yang tidak bisa saya (pentahqiq) telusuri bacaannya.
    1. Ketahuilah kabar gembira ketika datang kematian ada tiga macam, maka dikatakan: "Bergembiralah wahai kekasih Allah Subahanahu wata’aala dengan keridhaan dan Surga Allah Subahanahu wata’aala, bergembiralah wahai musuh Allah Subahanahu wata’aala dengan kemurkaan Allah Subahanahu wata’aala dan Neraka, dan bergembiralah wahai hamba Allah Subahanahu wata’aala dengan Surga setelah Islam," demikian itu pendapat Ibnu Abbas.
    2. Ketahuilah, Orang yang pertama kali menyaksikan Allah Subahanahu wata’aala di Surga kelak adalah orang buta 63 lalu kaum laki-laki kemudian kaum wanita dengan mata kepala mereka, sebagaimana sabda Rasulullah:

"Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhanmu sebagai mana kalian melihat bulan purnama yang tidak terhalangi dalam melihat-Nya."64'

      Dan beriman terhadap perkara ini wajib dan ingkar ter-hadapnya adalah perbuatan kufur.
    1. Ketahuilah semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatimu, sesungguhnya tidak ada zindiq, kekufuran, keraguan, kebid'ahan dan kesesatan serta kebimbangan dalam agama kecuali setelah menyebar ilmu kalam dan pengikutnya, berbantah-bantahan, adu mulut dan berdebat. Sangat mengherankan bahwa ada sebagian orang sangat berani berdebat sementara Allah Subahanahu wata’aala beriman:

"Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah Subahanahu wata’aala, kecuali orang-orang yang kafir." (Al- Mu'min: 4)

      Maka cukuplah bagimu berserah diri, rela menerima segala atsar dan para pembela atsar. Hendaklah beriman dan menahan diri dari sikap melawan agama dengan hawa nafsu.
    1. Beriman bahwa Allah Subahanahu wata’aala akan menyiksa makhluk dalam api Neraka dengan belenggu, rantai dan terali. Api Neraka masuk ke dalam perut mereka, dari atas mereka dan dari bawah mereka orang-orang Jahmiyah di antaranya orang yang bernama Hisyam Al Futhi65, dia adalah orang yang berpendapat bahwa Allah Subahanahu wata’aala menyiksa mereka di sisi Neraka sebagai bentuk penolakan putusan Allah Subahanahu wata’aala dan Rasul- Nya.
    2. Ketahuilah bahwa shalat fardhu sebanyak lima kali, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi dari waktunya, daiam keadaan bepergian menjadi dua rokaat kecuali maghrib. Barangsiapa yang berpendapat lebih dari lima waktu maka ia telah berbuat kebid'ahan dan siapa berpendapat kurang dari lima waktu maka ia juga berbuat kebid'ahan. Allah Subahanahu wata’aala tidak menerima shalat seseorang kecuali dikerjakan tepat pada waktunya terkecuali bila ia lupa, maka ia termasuk orang yang dimaklumi sehingga wajib menunaikan ketika sudah ingat. Jika seorang sedang musafir, boleh menjama' dua jenis shalat bila ia mau.
    3. Zakat wajib dari jenis emas, perak, kurma, biji-bijian dan hewan ternak sesuai dengan perintah Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dan boleh langsung dibagikan kepada yang berhak atau diserahkan kepada imam.
    4. Ketahuilah bahwa syarat awal masuk Islam bersaksi La ilaha IllAllah Subahanahu wata’aala (tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subahanahu wata’aala) dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
    5. Sesungguhnya apa yang difirmankan oleh Allah Subahanahu wata’aala adalah sebagaimana yang Dia firmankan dan tidak ada pengingkaran terhadap apa yang Dia firmankan, dan Dia sesuai dengan apa yang Dia firmankan.
    6. Beriman terhadap seluruh ajaran syariat.
    7. Ketahuilah barang-barang yang diperjualbelikan daiam pasar kaum Muslimin adalah halal, selagi dijual sesuai dengan ketentuan Al Kitab, Islam dan As Sunnah tanpa ada perubahan, dzalim, curang, penipuan, menyelisihi Al-Qur'an atau menyelisihi ilmu agama.
    8. Ketahuilah semoga Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala merahmatimu, selagi masih hidup di dunia hendaklah seorang hamba selalu merasa prihatin sebab ia tidak tahu nasib ketika mati dan mengakhiri hidup dengan apa dan tidak pasti nasib akhir ketika bertemu dengan Allah Subahanahu wata’aala meskipun beramal segala macam kebaikan.
    9. Seharusnya seorang hamba yang telah mengotori dirinya dengan dosa-dosa ketika mati tidak putus harapan dari rahmat Allah Subahanahu wata’aala bahkan berprasangka baik kepada Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala dan merasa cemas dengan dosa-dosanya. Jika Allah Subahanahu wata’aala is memberinya rahmat itu semata-mata hanya karena karunia-Nya dan jika menyiksanya hanya karena dosa.
    10. Beriman bahwa Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala telah menampakkan kepada Nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam tentang peristiwa yang akan terjadi pada umatnya hingga hari kiamat.
    11. Ketahuilah sesungguhnya Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

"Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya masuk Neraka kecuali satu yaitu Al Jama'ah, beliau ditanya: 'Wahai Rasulullah siapa mereka?’ Beliau bersabda: jalan yang sekarang aku tempuh bersama para sahabatku.'66'

Ajaran agama dalam keadaan seperti itu hingga masa khilafah Umar bin Khaththab Radhiyallohu’anhu dan Utsman bin Affan Radhiyallohu’anhu, dan ketika Utsman Radhiyallohu’anhu terbunuh muncullah perselisihan dan kebid'ahan sehingga umat terbagi menjadi beberapa kelompok dan firqah, di antara mereka ada yang tetap teguh di atas kebenaran pada saat terjadi fitnah, mereka tetap komitmen dan konsis mengamalkan dan menyampaikan kebenaran tersebut kepada manusia.

Perkara agama tetap dalam kondisi istiqamah hingga Thabaqah ke empat masa pemerintah bani Fulan maka zaman berubah, manusia berubah sikap, kebid'ahan merajalela dan banyak muncul para juru dakwah yang tidak berpijak di atas kebenaran dan jamaah sehingga timbul berbagai macam fitnah dalam seluruh lini kehidupan yang belum pernah dikenal oleh Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dan para sahabat bahkan mereka mengajak kepada firqah sesat padahal Rasulullah melarang berfirqah.

Satu kelompok dengan yang lainnya saling mengkafirkan dan masing-masing mengajak kepada pemikirannya. Ajakan untuk mengkafirkan setiap para penentangnya, sehingga sesatlah orang-orang bodoh, kelompok puritan dan orang yang kerdil ilmu, serta orang yang tamak terhadap kenikmatan dunia serta sangat takut kehilangan posisi dunia sehingga membuat jejak untuk orang lain agar bersikap gila dunia dan tergantung terhadap kenikmatan semu. Sunnah dan para pengikutnya dibungkam dan termarginal sementara kebid'ahan unjuk gigi dan merajalela.

Tanpa disadari banyak orang menjadi kafir lewat berbagai macam sebab, mereka banyak membuat qiyas, menilai kekuasaan Allah Subahanahu wata’aala, ayat-ayat-Nya, hukum-Nya dan perintah-Nya serta larangan-Nya dengan akal dan pikiran mereka. Apa yang sesuai dengan akal mereka maka mereka mau menerima dan bila tidak sejalan dengan kemauan akal mereka, maka mereka menolak mentah-mentah akhirnya Islam menjadi aneh, sunnah menjadi perkara langka dan bahkan Ahli sunnah merasa terasing dalam lingkungan sendiri.

    1. Ketahuilah sesungguhnya kawin mut'ah atau istihlal berhukum haram hingga hari kiamat.
    2. Kenalilah keutamaan bani Hasyim karena ada hubungan kerabat dengan Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dan kenalilah keutamaan Quraisy dan orang Arab serta seluruh keturunan mereka, serta kenalilah jasa dan hak- hak mereka dalam Islam. Dan maula-maula mereka adalah bagian dari mereka dan kenalkan kepada semua manusia hak-hak mereka dalam Islam.

Kenalilah keutamaan kaum Anshar dan wasiat Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam yang berkaitan dengan kedudukan mereka begitu juga jangan melupakan kedudukan, keutamaan dan kehebatan keluarga Rasulullah? serta kenalilah kedudukan orang-orang Madinah. Kenalilah keutamaan mereka semua.

    1. Ketahuilah para ulama sunnah senantiasa memberi peringatan keras terhadap bahaya Jahmiyah hingga pada zaman pemerintah bani fulan muncul kelompok Ruwaibidhah (orang kerdil ilmu) berbicara soal agama sehingga mereka dengan gampang menghujat atsar Nabi dan mengedepankan qiyas dan ra'yu lalu mengkafirkan setiap orang yang dianggap menyelisihi pendapatnya. Orang bodoh dan lalai ikut campur tangan terhadap urusan mereka tanpa dasar ilmu sehingga mereka mengkafirkan orang lain tanpa dasar ilmu maka umat mengalami kehancuran dari berbagai arah dan mengkafirkan dengan segala cara tanpa kaidah, mereka banyak menjadi zindiq dengan berbagai sebab, mereka tersesat karena berbagai macam fitnah dan membuat bermacam- macam kebid'ahan kecuali sebagian umat yang tetap teguh di atas sunnah dan ajaran para sahabat. Mereka tidak berani melangkahi seorangpun dan tidak berani melampaui perkara mereka sedikitpun, yang terbaik untuknya adalah sesuatu yang telah dianggap baik oleh mereka. Mereka tidak membenci ajaran dan madzhab para salaf karena mereka mengetahui bahwa para ulama salaf berada di atas Islam yang benar dan keimanan yang benar, mereka mengikuti jejak para ulama salaf 'sehingga merasa tenang, karena mereka faham bahwa agama itu hanya berpijak pada prinsip taklid, meniru perilaku para sahabat Nabi Muhammad Sholallohu’alaihi wasallam.67
    2. Ketahuilah bahwa siapa yang mengatakan, "Lafadh saya akan Al-Qur'an makhluk maka ia termasuk Ahli bid'ah, dan barangsiapa diam, tidak menyatakan bahwa Al-Qur'an makhluk atau bukan makhluk maka ia termasuk kelompok Jahmiyah. Itulah pernyataan imam Ahmad bin Hambal.68
    3. Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

 

"Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian hidup setelahku maka akan melihat perselisihan yang sangat banyak, waspadalah terhadap perkara bid'ah karena ia adalah sesat, dan berpegang teguhlah dengan sunnah-ku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk serta peganglah dengan kuat.69

  1. Ketahuilah awal kehancuran jahmiyah dikarenakan mereka berfikir tentang hakekat Rabb, lalu mereka mengajukan pertanyaan kenapa dan bagaimana? Mereka meninggalkan atsar dan membuat qiyas lalu mereka mengukur agama dengan ra'yunya sehingga mereka datang membawa kekufuran secara terang-terangan dan tidak diragukan bahwa demikian itu kufur, dan mereka mengkafirkan makhluk dan mengingkari ciptaan kemudian mereka mengeluarkan pernyataan ta'thil.
  2. Sebagian ulama menyatakan di antaranya imam Ahmad bin Hambai bahwa Jahmiyah adalah kafir bukan termasuk Ahli kiblat, halal darahnya, tidak boleh menerima warisan dan tidak boleh diwarisi karena mereka berpendapat bahwa tidak ada anjuran shalat jum'at, jamaah, shalat idul fitri dan idul adhha dan tidak ada kewajiban untuk bersedekah. Mereka juga menyatakan bahwa barangsiapa tidak mengatakan Al-Qur'an makhluk maka ia dianggap kafir, mereka membuat fitnah di tengah umat dengan sesuatu yang tidak pemah dinyatakan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, mereka hendak membuat masjid dan jami' kosong, melecehkan Islam, menggugurkan syariat Jihad, menciptakan perpecahan dan menyelisihi Atsar. Mereka berbicara seputar ayat-ayat yang sudah dinasakh dan mutasyabihat sehingga membuat orang-orang diracuni sikap bimbang dan ragu terhadap ajaran Islam Ialu berbantah-bantahan dalam perkara yang menjadi urusan Rabb mereka dan mereka menafikan adzab kubur, telaga, syafa'at, surga dan neraka belum diciptakan dan mereka banyak mengingkari sunnah Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam akhirnya di antara ulama ada yang menghalalkan untuk mengkafirkan mereka70 dan darah mereka halai sebab siapa menolak satu ayat dari Kitabullah sama saja menolak seluruhnya dan siapa menolak satu atsar dari Rasullullah berarti ia telah menolak semua atsar, dengan demikian ia bisa dianggap kafir terhadap Allah Subahanahu wata’aala Yang Maha Agung. Mereka punya cukup waktu untuk menyebarkan kesesatan ditambah dukungan dari pemimpin, pedang dan cambuk untuk itu sehingga lenyaplah ilmu tentang As sunnah dan Al Jamaah, mereka menghinakan Ahli sunnah wal Jamaah hingga benar-benar redup dan berganti dengan kebid'ahan dan ilmu kalam. Mayoritas umat berpihak kepada mereka sehingga mereka memiliki beberapa majlis untuk menebar kesesatan ra'yu mereka dan mereka menulis buku-buku untuk menipu manusia serta mencari posisi jabatan maka muncullah fitnah besar dan tidak ada yang selamat kecuali orang yang telah mendapat pemeliharaan dari Allah Subahanahu wata’aala. Pengaruh yang paling sederhana akibat bergaul dan duduk-duduk dengan mereka adalah timbulnya benih keraguan terhadap agama atau mengikuti mereka atau menganggap mereka di atas kebenaran, sementara tidak tahu persis apakah ia di atas kebenaran atau kebatilan sehingga menjadi orang bimbang dan ragu, maka hampir semua orang hancur hingga datang masa pemerintahan Ja'far yang sebutan Mutawakkil71 dan melalui perantara beliau Allah Subahanahu wata’aala memadamkan bid'ah, menampakkan kebenaran dan memenangkan Ahli sunnah hingga perjuangan mereka hingga sekarang meskipun mereka sedikit sementara kebid'ahan banyak sekali. Peninggalan dan simbol kesesatan masih tersisa diamalkan dan didakwahkan oleh sekelompok kaum sementara tidak seorangpun yang mencoba untuk menghambat dan menghalangi penyebaran dan pengamalan kesesatan tersebut.

--------------------------------------

  1. Ada hadits seputar masalah ini namun tidak ada yang sahih. Ad Dailami menuturkan dalam kitab Firdausul Akhbar (1/55) dari Samurah bin Jundub dengan cara marfu' dan Imam Al Lalika'i dalam "As Sunnan' (924) dengan sanad dhaif dari Hasan Al Bashry
  2. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam kitab Al Mawaqit, bab Fadhlu Shalatil Ashry{2l33, Fathul Bari) dan Muslim dalam kitab AlMasajid, bab Shalati As Subh wal' Ashr. (633) dari hadits Jarir bin Abdullah.
  3. Hisyam Al Futhi bin Umr salah seorang pengikut Abu Hudzail tokoh Mu'tazilah, "Lisanul Arab (6/195) dan lihat Al fahrasat Ibnu Nadim (Hal. 214) serta "AlFashl' Ibnu Hajm. (5/62).
  4. Hadits Hasan dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam kitab Al Iman bab Ma Ja'a fif Tiraqil hadzihil Ummah, (5/26), Ibnu Wadhdhah, dalam "Al Bida" (Hal. 85) Al Ajiri "As Syari'ah" (Hal.15) dan "Al Arba’in {Ha\.13) Al Hakim (1/128-129) dan Ibnu Nashr dalam As Sunnah (62), Ai Lalikal dalam As Sunnah (148) dan Ibnu Jauzi dalam "Talbisul lblis" (16) dan 'Uqaili dalam "Ad Duafa" dan lihat As Silsilah Ash Shahihah Al Bani (2,3,4).
  5. Yang dimaksud dengan taklid disini adalah Ittiba pada Rasulullah
  6. Li hat kitab "Al Masail war Rasail Al Marwiyah anil Imam Ahmad Fil Aqidah(1/232/241) dan kitab Al Aqidah As salafiyah fikalamirabbil Barriyah Syaikh Abdullah Al Judai' (181-260)
  7. Penggalan dari hadits Al Irbadh bin Sariyah dan hadits tersebut sahih yang dikeluarkan oleh Ahmad (4./126-127), Abu daud dalam kitab As Sunnah, bab Luzumus Sunnah (5/13) At Tirmidzi dalam kitab Al Ilm, bab Ma ja'a Fil Akhdi Bis sunnah waj tinabil Bida' (5/44) dan Ibnu MAJAHI dalam Muqaddimah, bab Ittiba''sunnatil Khulafaurrasyidin (42). Dan lihat Ta'liq dan Takhrij saya terhadap kitab "Al Mudzakkar wa tadzkir wa dzikr" Ibnu Abu Ashim (Hal.98).
  8. lihat kitab "Masail wa Rasail Al Marwiyah anil Imam Ahmad Fil Aqidah (2/375) dan kitab Al Aqidah As salafiyah fl kalamirabbil Bariyah Syaikh Abdullah Al Judai' (Hal.303-321)
  9. Dia adalah Khalifah Al Abbasy Al Mutawakkil "AlAllah Subahanahu wata’aala. Abu Fadhl Ja'far bin Al Mu'tashim Billah bin Muhammad bin Rasyid Harun bin Al Mahdi bin Manshur Al Quraisy Al Abbasy Al Baghdady wafat tahun (248) H lihat biografinya dalam kitab "Siyar A'lamin Nubala' (12/30 dan As Syadzuraat (2/114)
    1. Ketahuilah kebid'ahan hanya tumbuh dan datang dari kaum puritan dan kerdil ilmu yang suka ikut- ikutan dan condong kemana saja angin bertiup. Barangsiapa memiliki prinsip seperti itu maka tidak ada agama baginya sebagaimana firman Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala:

"Maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka." (Al Jaatsiyah: 17)

dan firman Allah Subahanahu wata’aala:

"Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keteranganyang nyata, karena dengki antara mereka sendiri." (AI Baqarah: 213).

Mereka adalah ulama buruk, para pendulang kepentingan dan penyebar bid'ah.

    1. Ketahuilah masih selalu ada sekelompok manusia yang tetap konsis di atas kebenaran dan Sunnah, Allah Subahanahu wata’aala selalu memberi hidayah kepada mereka dan mereka menjadi pemberi cahaya hidayah bagi selain mereka dan penghidup sunnah, maka merekalah kelompok yang dikecualikan oleh Allah Subahanahu wata’aala dari firman-Nya:

"Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri" (Al Baqarah: 213).

Sehingga Allah Subahanahu wata’aala berfirman:

"Maka Allah Subahanahu wata’aala memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah Subahanahu wata’aala selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (Al Baqarah: 213)

      Dan Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

"Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku tetap teguh di atas kebenaran yang tidak dibahayakan oleh hinaan orang hingga datang perkara (kemenangan) Allah Subahanahu wata’aala dan mereka tetap teguh selamanya. "72

    1. Ketahuilah semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatimu, bahwa ilmu itu bukan karena banyaknya riwayat dan buku, namun ulama adalah orang yang telah mampu mengikuti ilmu dan sunnah-sunnah meskipun hanya memiliki sedikit ilmu dan kitab. Barangsiapa yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah maka ia termasuk Ahli bid'ah walaupun memiliki banyak ilmu dan kitab.
    2. Ketahuilah semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatimu sesungguhnya barangsiapa berbicara dalam masalah agama dengan ra'yu, qiyas atau takwil tanpa ada sandaran dari As Sunnah dan Al Jamaah maka ia telah berbicara tentang Allah Subahanahu wata’aala tanpa ilmu dan siapa yang berbicara tentang Allah Subahanahu wata’aala tanpa dasar ilmu berarti ia termasuk orang-orang yang memaksakan diri.
    3. Kebenaran adalah yang datang dari Allah Subahanahu wata’aala dan As Sunnah adalah sunnah Rasulullah, serta Jamaah adalah apa saja yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Rasulullah pada masa khalifah Abu bakar, Umar dan Utsman Radhiyallohu’anhum.
    4. Barangsiapa yang mencukupkan diri dengan sunnah Rasulullah dan ajaran yang dipraktekkan oleh para sahabat serta selalu meniti di atas Al jamaah, pasli ia akan mampu mengalahkan seluruh Ahli bid'ah dan badan bisa istirahat serta agamanya selamat insya Allah Subahanahu wata’aala. Karena Rasulullah bersabda: "Umatku akan pecah. Lalu beliau menjelaskan bahwa yang selamat ialah: "Apa yang aku ada di atasnya pada hari ini bersama para sahabatku."
    5. Itulah penjelasan dan pengobatan tuntas, perkara jelas dan menara penyinar yang terang. Dan Rasulullah bersabda:

"Waspadalah dari sikap memaksakan sesuatu dan waspadalah dari sikap berlebihan, dan berpeganglah dengan agamamu yang murni."73

    1. Ketahuilah bahwa ajaran agama yang murni terhitung sejak wafatnya Nabi hingga khalifah Utsman, dan setelah beliau terbunuh mulai muncul bibit firqah dan perpecahan sampai meletus persengketaan antara umat, sehingga barisan umat menjadi retak dan kebanyakan orang mengikuti hawa nafsu dan bid'ah serta condong kepada kehidupan dunia. Tidak seorang pun punya wewenang untuk mengada-ada ajaran yang tidak pernah dipraktekkan para sahabat Rasulullah atau mengajak kepada perkara bid'ah yang menjadi peninggalan para pendahulu Ahli bid'ah sebab usaha menghidupkan kembali kebid'ahan sama saja telah mengada ada perkara bid'ah dan berusaha untuk menolak As Sunnah, menyelisihi kebenaran dan jamaah, dan telah mempermudah gerak bid'ah sementara ia lebih berbahaya buat umat dari pada Iblis.
    2. Barangsiapa mengenali sunnah yang telah ditinggalkan Ahli bid'ah dan menyelisihi Ahli bid'ah serta berpegang teguh pada sunnah berarti ia termasuk pengikut Ahli sunnah wal jamaah. Itulah orang yang paling berhak menjadi panutan dan mendapat pembelaan karena ia termasuk golongan yang dipesan dalam wasiat Rasulullah untuk mendapat perhatian.
    3. Ketahuilah semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatimu, bahwa akar bid'ah ada empat lalu mengakar menjadi tujuh puluh dua firqah kemudian masing-masing firqah menebar pemikiran bid'ah hingga berkembang menjadi dua ribu delapan ratus kebid'ahan, seluruhnya sesat dan semuanya masuk Neraka kecuali satu yaitu Al Jamaah. Ia satu-satunya kelompok yang telah beriman terhadap isi Al Kitab lalu menyakini tanpa ada unsur keraguan dan bimbang dalam hatinya sehingga termasuk pengikut Sunnah dan berhak mendapat keselamatan insya Allah Subahanahu wata’aala.
    4. Ketahuilah semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatimu sesungguhnya seandainya orang-orang menahan diri dari segala kebid'ahan dan tidak melampaui sunnah dengan sesuatu apapun serta tidak melahirkan suatu pemikiran yang tidak didukung dengan atsar dari Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dan para sahabatnya tentu tidak akan ada bid'ah.
    5. Ketahuilah semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatimu sesungguhnya tidak ada penghalang di antara seorang hamba yang beriman sehingga dia menjadi kafir kecuali ia mengingkari sebagian ajaran Allah Subahanahu wata’aala atau menambah atau mengurangi atau mengingkari sebagian ayat Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala atau sunnah Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam.
    6. Bertakwalah semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmatimu, jagalah dirimu dan waspadalah dari sikap ghuluw (berlebihan) dalam agama sebab kebenaran tidak diperoleh sedikitpun darinya.
    7. Seluruh yang saya tuturkan dalam buku ini berasal dari Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala, Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam , para sahabat dan Tabi'in serta generasi abad ketiga hingga abad keempat.
    8. Bertakwalah dan berusahalah, wahai hamba Allah Subahanahu wata’aala untuk selalu bersikap tunduk patuh, membenarkan, berserah diri dan menyerahkan perkara ghaib kepada Allah Subahanahu wata’aala serta rela menerima segala isi buku ini. Dan jangan sekali-kali menyembunyikan isi buku ini dari siapapun dari kaum muslimin, mudah-mudahan dengan perantara buku ini, Allah Subahanahu wata’aala menyadarkan orang yang sedang bimbang dan bingung, dan mengembalikan Ahli bid'ah atau orang sesat kepada sunnah agar selamat.

 

      Bertakwalah kepada Allah Subahanahu wata’aala dan berpegang teguhlah dengan ajaran yang murni yang telah saya paparkan dalam buku ini. Semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmati seorang hamba dan kedua orang tuanya yang telah membaca buku ini, menyebarkan, mengamalkan, mendakwahkan dan menjadikan hujjah untuk menegakkan kebenaran sebab demikian itu adalah agama Allah Subahanahu wata’aala dan agama Rasulullah.

 

      Barangsiapa menghalalkan sesuatu hingga menyelisihi isi buku ini maka bukan termasuk bagian dari agama Allah Subahanahu wata’aala dan ajaran sedikitpun bahkan telah menolak seluruh ajaran agama. Apabila seseorang telah beriman terhadap semua kalamullah namun ragu terhadap satu huruf dari Al Kitab berarti ia telah menolak seluruh kalamullah dan bisa dianggap kafir.

 

      Kesaksian seseorang terhadap LaailahaillAllah Subahanahu wata’aala tidak diterima kecuali muncul dari kejujuran niat dan keyakinan yang ikhlas. Allah Subahanahu wata’aala tidak menerima bila sebagian ajaran-Nya ditinggalkan maka barangsiapa meninggalkan sebagian sunnah berarti telah meninggalkan seluruh sunnah.

 

      Biasakanlah sikap tunduk patuh dan hindarkanlah sikap suka membantah dan mendebat sebab demikian itu bukan bagian dari agama sedikitpun. Zamanmu khususnya adalah zaman fitnah maka bertakwalah kepada Allah Subahanahu wata’aala.

 

    1. Jika telah muncul fitnah maka berdiamlah di tengah rumahmu dan menghindarlah dari keburukan fitnah. Waspadalah dari sikap ta'ashub sebab segala bentuk pertikaian antar kaum muslimin dalam urusan memperebutkan dunia adalah fitnah.
    2. Bertakwalah kepada Allah Subahanahu wata’aala yang tiada sekutu bagi-Nya, janganlah keluar, ikut-ikutan, condong, mendukung dan ikut campur tangan dalam pertikaian tersebut.

 

      Janganlah mencintai sedikitpun dari ajaran mereka sebab siapa yang mencintai sesuatu baik yang bagus atau buruk maka sama saja seperti mengamalkannya. Semoga Allah Subahanahu wata’aala memberi taufiq kepada kita dan menjauhkan kita dari maksiat.

 

    1. Jangan sering-sering melihat (mempelajari) bintang kecuali hanya sekedar untuk mengetahui waktu shalat dan jauhilah untuk selain itu sebab terlalu sering menyaksikan bintang bisa mengarahkan kepada zindiq.
    2. Berhati-hatilah dari mempelajari ilmu kalam74 dan duduk-duduk dengan Ahli ilmu kalam.
    3. Berpegang teguhlah dengan atsar dan para pembela atsar dan jangan sekali-kali menjauhi mereka, maka bertanyalah kepada mereka, duduk-duduklah bersama mereka dan ambillah ilmu dari mereka.
    4. Ketahuilah bahwa tidak ada ibadah yang paling mulia dibanding rasa takut kepada Allah Subahanahu wata’aala dan cara untuk meraih rasa takut, selalu waspada, mudah sadar, dan menumbuhkan rasa malu adalah dari Allah Subahanahu wata’aala.
    5. Hendaklah kalian berhati-hati dari duduk-duduk bersama orang yang mengajak kepada ibadah dengan cara jatuh cinta dan merasa rindu kepada Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala atau beribadah dengan cara berkhalwat dengan wanita atau lewat jalan madzhab karena seluruhnya berada di atas kesesatan.
    6. Ketahuilah sesungguhnya Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala mengajak kepada seluruh makhluk agar beribadah kepada-Nya dan memberi hidayah Islam kepada siapa saja yang dikehendaki sebagai bentuk karunia.
    7. Anda harus menahan diri membicarakan tentang peperangan Ali dengan Mu'awiyah, Aisyah dengan Thalhah dan Zubair semoga Allah Subahanahu wata’aala merahmati mereka semua, serta orang-orang yang bersama mereka. Janganlah berdebat mengenai mereka dan serahkan urusan mereka kepada Allah Subahanahu wata’aala sebab Rasulullah bersabda: "Janganlah anda mengungkit-ungkit perkara sahabatku, besanku dan mertuaku75
    8. Dan Nabi Sholallohu’alaihi wasallam juga bersabda:

"Sesungguhnya Allah Subahanahu wata’aala Tabaraka wa Ta 'ala melihat Ahli Badar dan berfirman: 'Berbuatlah sesuka hatimu sesungguhnya Aku telah mengampunimu.'"76'

---------------------------------------

  1. Hadits dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab AlImarah, bab sabda nabi La Tazalau.... (1924) dari Uqbah bin Amir
  2. Atsar ini dari ucapan Abdullah Ibnu Mas'ud bukan dari Rasulullah yang telah dikeluarkan Abdurrazaq dalam Mushannafnya (10/252) dan Ad Darimy (1/50), Ibnu Nashr Al Marwazi dalam "As Sunnah (85), At Thabrani dalam "Al Kabir" (9/189), Al Lalika'i dalam As Sunnah' (108), Al Baihaqi dalam "Al Madkhal' (387-388) dan Ibnu Abdul Bar dalam Jami Bayanil Ilmi (1/152) serta Al Khaththib dalam "Al Faqih wal Mutafaqqih' (l/'lJ). Dan ini adalah sahih
  3. Imam As Syafi'i Rahimahullah berkata: "Adalah seorang yang dicoba dengan seluruh dosa selain syirik lebih baik daripada dicoba dengan Ilmu Kalam." (dikeluarkan oleh Ibnu Abu Hatim dalam Manaqib As Syafi'i (Hal.182), Abu Nu'aim dalam "Al Hilyah" (9/111), Ibnu Abdul Bar dalam Al Intlqa' (Hal. 78) dan imam Ahmad berkata: "Para penuntut ilmu kalam tidak akan mendapatkan kesuksesan selama-lamanya dan ulama ilmu kalam adalah kaum zindiq." (dikeluarkan oleh Ibnu Jauzi dalam Manaqib Ahmad (Hal.204). Imam Ahmad juga berkata: "Janganlah anda duduk-duduk bersama tokoh ilmu kalam meskipun mereka membelasunnah." (dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra (3/421) dan Ibnu Jauzi dalam Al Manaqib (Hal.204-205) dan Ibnu Abu Ya'la menukil dalam kitab "Tabaqatul Hanabilah" (1/334)
  4. Saya tidak mendapatkan teks hadits seperti ini dan ada beberapa riwayat yang mirip dengan hadits ini, lihat dalam kitab "Kanzul 'Ummal (11/ 529, 531, 523,541) namun tidak ada satupun yang sahih sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Dhaiful Jami 'Al Bani (1535,1536,1537). Dalam masalah ini kita cukup menggunakan hadits yang berbunyi: "Bila sahabatku disebut-sebut maka tahanlah dirimu."
  5. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam kitab Al Maghazi, bab Ghazwatul Fath (7/519, Fathul Ban) dan Muslim dalam kitab Fadhailus Sahabah bab Fadhail Ahlu Badr. (2494) dari hadits Ali bin Abu Thalib.
    1. Ketahuilah tidak halal harta seorang muslim kecuali telah diberikan dengan kerelaan hatinya. Jika pada seorang muslim terdapat harta haram maka ia telah menanggungnya, tidak boleh seorangpun mengambil sesuatu apapun darinya kecuali atas izinnya sebab bisa jadi ia bertaubat dan hendak mengembalikan harta-harta tersebut kepada pemiliknya maka anda bisa dianggap telah mengambil harta haram.
    2. Segala bentuk usaha berhukum mutlak, apa yang nampak bagimu keabsahannya maka hukumnya adalah mutlak hingga nampak rusaknya. Jika usaha tersebut rusak maka anda harus menahan diri dan tidak boleh mengatakan: "Saya tinggalkan usaha yang rusak dan saya mengambil apa yang telah diberikan kepada saya," sebab cara demikian tidak pernah dikerjakan para sahabat dan para ulama hingga zaman kita sekarang bahkan Umar bin Khaththab berkata: "Bekerja yang mengandung sedikit unsur kehinaan lebih mulia daripada selalu merasa butuh kepada orang lain.77
    3. Shalat wajib lima waktu boleh dikerjakan di belakang setiap orang yang pernah shalat di belakangmu kecuali Jahmiyah sebab mereka termasuk mu'athilah (meniadakan sifat Allah Subahanahu wata’aala), dan jika anda terpaksa shalat di belakangnya maka hendaklah anda mengulanginya. Apabila ia (jahmiyyah itu) seorang pemimpin lalu menjadi imam shalat jum'at maka shalatlah di belakangnya dan anda harus mengulangi shalat tersebut. Akan tetapi bila seorang imam shalat baik seorang pemimpin atau bukan dari kalangan Ahli sunnah, shalatlah di belakangnya dan tidak perlu mengulanginya.78
    4. Beriman bahwa Abu Bakar, Umar rahmatullah 'alaihima telah di kubur di sisi Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam di kamar Aisyah dan bila anda datang berziarah wajib79 memberi salam kepada keduanya setelah Rasulullah.
    5. Amar ma'ruf nahi mungkar adalah wajib kecuali terhadap orang yang anda takut pedang dan kekuasaannya.80
    6. Dianjurkan mengucapkan salam kepada seluruh hamba Allah Subahanahu wata’aala.
    7. Barangsiapa meninggalkan shalat jum'at dan shalat jamaah di masjid tanpa udzur berarti ia seorang mubtadi' (Ahli bid'ah). Di antara bentuk udzur adalah sakit yang tidak mampu pergi ke masjid atau takut kepada seorang pemimpin yang dzalim, maka selain itu tidak bisa dianggap udzur baginya.
    8. Barangsiapa shalat di belakang imam, terus ia tidak mengikutinya maka ia tidak sah shalatnya.
    9. Amar Ma'ruf nahi mungkar bisa dilakukan dengan tangan, lisan dan hati tanpa dengan pedang."
    10. Orang yang mastur dari kaum muslimin adalah orang yang tidak tampak perilaku yang meragukan.
    11. Setiap ilmu yang diklaim oleh orang-orang bahwa itu adalah dari ahlu batin yang tidak ada dalam Al Kitab dan As Sunnah maka hal itu termasuk bagian dari kebid'ahan dan kesesatan, dan tidak boleh seorangpun mengamalkan dan mendakwahkan ilmu tersebut.
    12. Wanita mana saja yang menghibahkan dirinya kepada seorang laki-laki maka wanita tersebut tidak halal baginya, bahkan keduanya terkena sanksi bila telah bersetubuh kecuali melalui akad nikah dengan seorang wali dan dua orang saksi yang adil serta membayar mahar.
    13. Jika anda melihat orang yang menghujat salah seorang sahabat Nabi, ketahuilah ia seorang penebar pemikiran sesat dan pengikut hawa nafsu karena Rasulullah bersabda:

"Jika disebut-sebut sahabatku maka kendalikanlah (dirimu)."81

      Sebab Nabi telah mengetahui kekeliruan yang akan menimpa mereka sebelum beliau wafat namun beliau tidak berkomentar tentang mereka kecuali kebaikan sebagaimana sabda beliau:

"Biarkanlah sahabatku dan janganlah berkomentar tentang urusan mereka kecuali tentang kebaikan."82

      Jangan sekali-kali membicarakan kekeliruan dan tentang peperangan mereka. Jangan bertanya- tanya tentang sesuatu yang tidak ada ilmunya padamu atau janganlah mendengar orang yang menuturkan keburukan mereka sebab jika anda mendengarnya pasti hatimu tidak sehat.
    1. Jika anda mendengar seseorang mencela atsar atau menolak atsar atau menginginkan selain atsar maka jadikanlah ia seorang yang tertuduh dalam Islam dan janganlah anda ragu-ragu menganggap ia sebagai seorang pengikut hawa nafsu dan Ahli bid'ah.
    2. Ketahuilah kedhaliman para pemimpin tidak mengurangi pelaksanaan kewajiban agama yang telah difardhukan oleh Allah Subahanahu wata’aala melalui lisan Nabi-Nya, kedhalimannya kembali pada diri mereka sendiri, sementara kebaikan dan amal shalih yang anda kerjakan bersama mereka tetap utuh dan sempurna insya Allah Subahanahu wata’aala, yaitu baik berupa shalat jum'at, shalat jamaah, jihad dan segala bentuk ketaatan. Maka bergabunglah bersama mereka dan anda akan mendapat balasan pahala sesuai dengan niatmu.83
    3. Jika anda melihat orang yang berdo'a buruk kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah seorang pengikut hawa nafsu, namun bila anda melihat orang yang berdoa untuk kebaikan seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia tergolong seorang Ahli sunnah insya Allah Subahanahu wata’aala.
    4. Fudhail bin lyadh berkata: "Jikalau aku mempunyai doa baik yang dikabulkan, maka semua akan aku persembahkan bagi para pemimpin." Saya adalah Ahmad bin Kamil berkata bahwa telah bercerita Husain bin Muhammad Ath Thabari dari Mardawaih As Shabigh

84

      berkata bahwasannya aku mendengar Fudhail berkata: "Jika aku tahu mempunyai doa baik yang dikabulkan maka akan aku persembahkan bagi para pemimpin." Ia ditanya: "Wahai Abu Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?" Beliau berkata: "Bila doa itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat untuk diriku, namun bila aku persembahkan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik maka semua orang dan negara merasakan manfaat dan kebaikannya."

85

    Kita diperintahkan untuk mendoakan mereka dengan kebaikan bukan keburukan, meskipun ia seorang pemimpin yang dzalim lagi jahat karena kedzaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara bila mereka baik maka mereka dan seluruh kaum muslimin akan merasakannya.
  1. Janganlah kalian menyebut-nyebut para Ummahatul Mukminin (para isteri Nabi) kecuali kebaikan mereka.
  2. Jika anda menyaksikan seorang muslim menunaikan shalat fardhu berjamaah bersama pemimpin atau bukan pemimpin, ketahuilah ia termasuk Ahli sunnah insya Allah Subahanahu wata’aala, namun bila anda menyaksikan seorang muslim bersikap acuh terhadap shalat fardhu berjamaah walaupun bersama seorang pemimpin maka ia termasuk Ahli bid'ah.
  3. Perkara yang halal sesuatu yang telah engkau saksikan dan engkau bersumpah bahwa perkara itu halal dan begitu juga perkara yang haram, dan apa yang ada keraguan dihatimu maka itu perkara syubhat.
  4. Orang yang tidak dikenal adalah orang yang tidak dikenal jati dirinya, dan seorang yang tercela adalah orang yang nyata-nyata nampak tercela.

________________________________________________________

  1. Dikeluarkan oleh Ibnu Abu Dunya dalam kitab "Ishlahul Mal nomor (321) dan Waqi' bin Al Jarrah dalam "Kanzul 'Ummal' (4/122) serta Ibnu Jauzi dalam Manaqib Umar(Hal.l94) dengan sanad yang bisa diterima.
  2. Litiat kitab "Al Masail war Rasail Al Marwiyah anil Imam Ahmad Fil Aqidah (2/412/415) dan Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (23/354-355).
  3. Maksud Penulis: "Ditekankan sekali."
  4. Hadits dari Abu Said Al Khudry berkata bahwa saya mendengar Rasulullah bersabda: "Barangsiapa melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, bila tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya dan bila tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya dan itulah selemah- lemahnya iman." (H.R Muslim dalam kitab Al Iman, bab Kaunun Nahyi anil Munkar minal Iman. (49).
  5. Hadits hasan
  6. Saya tidak mendapatkan teks hadits lengkap seperti ini namun berasal dari penggalan beberapa hadits. Sabda nabi" Biarkanlah sahabatku" (H.R Bazzar 3/290 dalam kitab Kasyful Astar dengan sanad hasan) dan lafadz " Tinggalkan sahabatku karenaku" dan sabda beliau "''janganlah berkomentar tentang urusan mereka kecuali tentang kebaikan" dikeluarkan oleh Khaitsamah bin Sulaiman dalam Fadhailus Sabahah sebagaimana bagian dari penggalan hadits "Janganlah kalian menghujat sahabatku (Ibnu Hajar dengan sanad yang dhaif).
  7. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa (22/61) berkata: "Para pemimpin tidak boleh diperangi hanya sekedar fasik, meskipun boleh jadi sebagian orang dihukum bunuh karena perbuatan fasik seperti zina atau yang lainnya, tidak setiap perbuatan yang mengharuskan hukuman mati membolehkan seorang pemimpin diperangi karena melakukan perbuatan fasik serupa, sebab kerusakan yang timbul dari peperangan lebih berbahaya daripada kerusakan yang diakibatkan pemimpin melakukan dosa besar. Lihat kitab "Muamalatul Hukkam Fi Dhauil kitab wa As Sunnah" karya Syaikh Abdus Salam Al Barjis. (4/444).
  8. Abdus Shamad bin Zaid sahabat Al Fudhail bin lyadh, seorang yang jujur dan termasuk ahli sunnah serta sangat wara', wafat tahun 235 H. Lisanul Mizan 4/23-24.
  9. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam "Al Hilyah" (8/91) dari jalan MARdawaih As Shabigh dan sanad Abu Nu'aim sahih. Dan dikeluarkan juga oleh Al Khallal dalam "As Sunnah" dengan sanad yang sahih.
    1. Jika anda mendengar seseorang berkata: "Si Fulan adalah seorang musyabihah atau si Fulan berbicara tentang masalah tasybih," maka tuduhlah bahwa ia seorang Jahmiyah, bila seseorang berkata: "Si Fulan termasuk Nashibiyah" maka ketahuilah bahwa ia seorang Rafidhah, bila anda mendengar seseorang berkata: "Berbicaralah tentang tauhid atau jelaskan kepadaku tentang hakekat tauhid," ketahuilah ia seorang Khawarij atau Mu'tazilah86
    2. Jika seseorang berbicara masalah Ijbar atau Jabriyah atau ia mempersoalkan keadilan Allah Subahanahu wata’aala, ketahuilah ia seorang Qadariyah, sebab nama-nama di atas termasuk perkara baru yang diada- adakan para pengikut hawa nafsu atau Ahli bid'ah.

87

    1. Abdullah bin Mubarak berkata: "Janganlah sama sekali anda mengambil penjelasan tentang masalah Rafidhah dari penduduk Kuffah, penjelasan tentang pedang dari penduduk Syam, penjelasan tentang Takdir dari penduduk Bashrah, penjelasan tentang irja' dari penduduk Khurasan, penjelasan tentang hukum Sharf dari penduduk Mekkah dan penjelasan hukum nyanyian dari penduduk Madinah. Jangan sekali-kali kalian mengambil penjelasan hukum dan masalah-masalah di atas dari mereka.88
    2. Jika anda menyaksikan seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, Usaid bin Hudhair, ketahuilah ia seorang Ahli sunnah insya Allah Subahanahu wata’aala. Dan jika anda melihat seseorang mencintai Ayyub,89
    3. Ibnu Aun',

90

      Yunus bin Ubaid,

91

      Abdullah bin Idris Al Audy,

92

      As Sya'by,

93

      Malik bin Mighwal,

94

      Yazid bin Zurai',

95

      Muadz bin Muadz,

96

      Wahb bin Jarir,

97

      Hamad bin Salamah,

98

      Hamad bin Zaid,

99

      Malik bin Anas dan Al Auza'i

100

      serta Zaidah bin Qudamah,

101

      ketahuilah ia seorang Ahli sunnah. Apabila anda melihat seseorang mencintai Ahmad bin Hambal, Hajaj bin Minhal

102

      dan Ahmad bin Nashr.

103

      sementara ia menyebut-nyebut kebaikan mereka dan sering mengutip pendapat mereka, ketahuilah ia seorang pengikut Ahli sunnah.

104

    1. Jika anda melihat seseorang duduk-duduk bersama Ahli bid'ah, berikanlah peringatan keras dan jelaskanlah kepadanya tentang kepribadiannya. Apabila ia tetap duduk-duduk bersama Ahli bid'ah setelah ia mengetahuinya maka jauhilah ia karena ia termasuk pengikut hawa nafsu (Ahli bid'ah).105
    2. Jika anda menyampaikan sebuah atsar kepada seseorang lalu menolaknya dan ia menginginkan Al- Qur'an maka tidak diragukan bahwa ia seorang yang telah mengidap virus zindiq, maka beranjaklah darinya dan tinggalkan.
    3. Ketahuilah bahwa semua bentuk bid'ah membawa bencana dan mengajak kepada peperangan.106
    4. Ahli bid'ah yang paling buruk dan paling kufur adalah Rafidhah, Mu'tazilah dan Jahmiyah karena mereka mengajak manusia kepada pemikiran ta'thil dan zindiq.
    5. Ketahuilah bahwa siapa yang mencela salah seorang sahabat Nabi maka pada hakekatnya ia telah mencela Nabi Muhammad dan berarti ia telah menyakiti Nabi di alam kuburnya.
    6. Jika anda melihat suatu kebid'ahan pada seseorang, jauhilah dia sebab yang dia sembunyikan darimu lebih banyak dari yang ia perlihatkan kepadamu.107
    7. Jika anda menyaksikan salah seorang dari Ahli sunnah buruk perangai dan perilakunya, fasik lagi jahat, maka dia itu disebut pelaku maksiat yang dhalim namun ia tetap di atas sunnah maka silahkan anda bergaul dan duduk-duduk bersamanya sebab kemaksiatannya tidak membahayakanmu.
    8. Jika anda melihat seseorang bersungguh-sungguh dan serius dalam ibadah, namun ia itu Ahli bid'ah maka janganlah anda duduk-duduk dan bergaul bersamanya, mendengar ucapannya dan berjalan bersama dalam satu jalan karena saya khawatir anda akan mengikutinya sehingga anda hancur bersamanya.

108

      Yunus bin Ubaid pernah melihat putranya keluar dari majelis salah seorang Ahli bid'ah maka ia berkata kepadanya: "Wahai anakku, dari manakah anda datang?" la menjawab: "Dari si Fulan."

109

      la berkata: "Wahai anakku, Seandainya aku melihatmu keluar dari rumah waria (banci) lebih aku senangi daripada aku melihatmu keluar dari rumah si Fulan. Dan jikalau anda bertemu dengan Rabbmu dalam keadaan berzina lagi fasik, atau mencuri lagi berkhianat lebih aku cintai daripada engkau bertemu dengan Rabbmu dengan membawa pendapat Si Fulan dan si Fulan."

110

      Yunus bin Ubaid sangat faham bahwa waria tidak akan menyesatkan agama anaknya sementara Ahli bid'ah pasti menyesatkan hingga membuatnya kafir.
    1. Waspadalah dan waspadalah terhadap setiap orang yang hidup bersamamu, lihatlah siapa teman duduk-dudukmu dan dari mana anda mendengar dan siapa orang yang anda jadikan teman bergaul sebab seseorang hampir terperangkap dalam kemurtadan akibat teman kecuali orang yang telah dijaga oleh Allah Subahanahu wata’aala.
    2. Perhatikanlah, apabila anda mendengar orang yang menyebut-nyebut nama Ibnu Abu Duad111, Bisyr Al Marisy,112 Tsumamah,113 Abu Hudzail,114 Hisyam Al Futhy atau salah seorang pengikut atau pendukung mereka maka berhati-hatilah sebab ia termasuk Ahli bid'ah dan mereka berada di atas kemurtadan.
    3. Tinggalkanlah orang yang menyebut-nyebut kebaikan mereka dan siapa saja orang-orang yang disebut dari golongan mereka.
    4. Menguji orang dalam Islam termasuk perbuatan bid'ah dan zaman sekarang orang cukup diuji dengan Sunnah berdasarkan sabda Rasulullah:

"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, lihatlah dari-mana anda mengambil agamamu."115

      Nabi bersabda:

"Janganlah kalian menerima hadits kecuali dari orang yang diterima kesaksiannya116

      Perhatikanlah, jika ia dari Ahli sunnah dan memiliki pengetahuan tentang riwayat lagi jujur, anda boleh menulis riwayat darinya. Dan bila tidak seperti itu maka tinggalkan dia.
    1. Jika anda menginginkan istiqamah di atas kebenaran dan jalan Ahli sunnah sebelummu, waspadalah dari ilmu kalam dan para penebar ilmu kalam, jauhilah dari berbantah-bantahan, berbicara tanpa dalil, qiyas dan adu argumentasi dalam agama sebab jika anda mendengar ucapan mereka akan menimbulkan keragu-raguan dalam hati meskipun dengan disertai penolakan.
    2. Sikap seperti itu sudah cukup dianggap menerima pemikiran mereka sehingga anda celaka. Tidaklah muncul zindiq, bid'ah, hawa nafsu, kesesatan kecuali dari ilmu kalam dan berbantah-bantahan, berbicara tanpa dalil dan qiyas. Semua perkara di atas menjadi pintu masuk segala macam kebid'ahan, keraguan dan zindiq.
    3. Bertakwalah kepada Allah Subahanahu wata’aala dan hendaklah tetap berpegang teguh dengan atsar dan para pengikutnya serta bersikap taklid, sebab agama hanya dibangun di atas dasar taklid yaitu taklid (yakni Ittiba-red) kepada Nabi dan para sahabat serta kepada orang-orang sebelum kita yang tidak mengajak kepada kerancuan aqidah. Maka ikutilah mereka anda pasti akan merasa tenang dan janganlah melampaui atsar dan para pengikutnya.
    4. Berhentilah ketika anda berada di hadapan ayat-ayat mutasyabihat dan jangan sekali-kali menggunakan qiyas dalam hal tersebut.
    5. Janganlah anda mencari-cari alasan dari dirimu untuk menolak dengannya atas Ahli bid'ah, sesungguhnya anda hanya diperintahkan untuk berdiam diri dari mereka dan jangan sekali-kali memberi kesempatan mereka untuk mengusai dirimu.
    6. Bukankah anda sudah mengetahui bahwa Muhammad bin Sirin dengan ketinggian ilmunya, tidak mau menjawab pertanyaan Ahli bid'ah sama sekali walaupun hanya satu masalah dan beliau juga tidak mendengar satu ayatpun dari mereka. Beliau ditanya tentang itu? Maka beliau menjawab: "Saya takut ia menyelewengkan sesuatu sehingga kotoran syubhat masuk ke dalam hatiku."

117

    1. Jika anda mendengar ketika seseorang mendengar atsar Rasulullah lalu berkata: "Saya hanya mengagungkan kalamullah," ketahuilah ia termasuk kelompok Jahmiyah, dengan pernyataan tersebut ia ingin berusaha menolak dan membuang atsar Rasulullah - Dia hendak mengagungkan Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala dengan cara menjauhkan Allah Subahanahu wata’aala dari beberapa sifat-sifat ketika mendengar hadits ru'yah, nuzul atau yang lainnya. Bukankah ia telah menolak atsar Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam.

 

      Jika ia berkata: "Kami mengagungkan Allah Subahanahu wata’aala dengan menafikan bahwa Allah Subahanahu wata’aala turun dari satu tempat ke tempat lain," maka ia telah mengaku lebih tahu tentang Allah Subahanahu wata’aala dari selainnya. Waspadalah terhadap mereka, sebab kebanyakan orang awam dan yang lainnya bersikap demikian maka berikanlah peringatan keras kepada semua orang dari pengaruh mereka.

 

      Apabila salah seorang bertanya tentang isi buku ini dalam rangka mencari kebenaran, berikanlah penjelasan dengan baik, akan tetapi bila datang ingin mengajakmu berdebat tentang isi buku ini, waspadalah darinya sebab berbicara tanpa dalil, berbantah-bantahan, adu argumen, dan berdebat sangat dilarang keras dan menjauhkan dari jalan kebenaran.

 

      Tidak pernah para Ahli fikih dan ulama sunnah berbantah-bantahan, adu argumentasi dan berdebat sama sekali.

 

      Hasan Al Bashry berkata: "Orang bijak tidak pernah berbantah-bantahan dan tidak pernah berbasi-basi dalam menyampaikan hikmah, ia sampaikan apa adanya, bila diterima ia memuji Allah Subahanahu wata’aala dan bila ditolak juga tetap memuji Allah Subahanahu wata’aala."

118

      Ada salah seorang datang kepada Hasan Al Bashry lalu berkata: "Saya ingin mengajak anda berdebat dalam masalah agama," Hasan berkata: "Saya sudah mengetahui agamaku. Maka jika anda tersesat dalam agamamu silahkan pergi untuk mencarinya."

119

      Suatu ketika pernah Rasulullah mendengar dari arah pintu kamarnya salah seorang berkata: "Alif Lam Mim, Allah Subahanahu wata’aala telah berfirman seperti ini," temannya berkata: "Bukankah Allah Subahanahu wata’aala telah berfirman seperti ini?" Maka beliau keluar dalam keadaaan marah lalu bersabda: "Apakah kalian diperintah seperti ini ataukah aku diutus kepada kamu untuk membawa misi seperti ini, kalian membenturkan Kitabullah satu sama lain

120

      Maka beliau melarang mereka berdebat.

 

      Ibnu Umar, Malik bin Anas dan orang-orang sebelum dan sesudah mereka hingga sekarang sangat melarang berbantah-bantahan dalam urusan agama.

121

      Dan ternyata firman Allah Subahanahu wata’aala Subahanahu wata’aala lebih keras daripada ucapan makhluk maka Allah Subahanahu wata’aala berfirman:

 

"Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah Subahanahu wata’aala, kecuali orang-orang yang kafir. " ( Al-Mu'min: 4)

      Ada salah seorang bertanya kepada Umar bin Khaththab Radhiyallohu’anhu tentang An Nasyithaati Nasythal Maka beliau berkata: "Seandainya anda bercukur gundul maka aku pasti memenggal lehermu.

122

      Nabi bersabda:

"Orang mukmin tidak berbantah-bantahan dan aku tidak memberi syafaat kepada orang yang berbantah-bantahan pada hari kiamat maka tinggalkanlah be-bantah-bantahan (karena hanya sedikit kebaikannya).123

    1. Tidak boleh seorang muslim berkata: "Si Fulan seorang Ahli sunnah," hingga benar-benar melihat bahwa orang tersebut telah menunjukkan perangai Ahli sunnah dan tidak boleh seorang dikatakan Shahibus Sunnah hingga benar-benar semua sunnah telah lengkap menghiasi dirinya.
    2. Abdullah bin Mubarak berkata: "Akar kebid'ahan ada empat firqah kemudian berakar menjadi tujuh puluh dua cabang bid'ah. Adapun akar bid'ah yang empat, Qadariyah, Murji'ah, Syi'ah dan Khawarij." 124

 

      Barangsiapa mendahulukan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di atas para sahabat Rasulullah dan tidak menyebut-nyebut para sahabat selain mereka kecuali kebaikan maka ia telah terbebas dari seluruh bentuk At Tasyayu' (mendukung Syi'ah).

 

      Barangsiapa mengatakan: "Iman adalah ucapan dan perbuatan bisa bertambah dan berkurang berarti ia telah terbebas dari seluruh pemikiran Irja'. Siapa yang tetap shalat di belakang imam, baik pemimpin tersebut seorang yang shalih atau jahat, dan berjihad bersama pemimpin, tidak keluar dari pemimpin dengan pedang, maka selalu mendoakan bagi mereka kebaikan, maka sebab ia telah terbebas dari pengaruh pemikiran Khawarij."

 

      Barangsiapa menyatakan bahwa semua takdir baik yang bagus atau yang buruk berasal dari Allah Subahanahu wata’aala , memberi petunjuk dan menyesatkan siapa saja yang la kehendaki maka Allah Subahanahu wata’aala terbebas dari seluruh pemikiran Qadariyah dan termasuk Ahli sunnah.

 

  1. Barangsiapa menampakkan bid'ah kekufuran kepada Allah Subahanahu wata’aala dan ia secara terang-terangan menyatakannya, tidak diragukan lagi bahwa ia telah kafir. Barangsiapa beriman terhadap pemikiran Raj'ah dan menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib akan kembali hidup sebelum hari kiamat dan juga Muhammad bin Ali125, Ja'far bin Muhammad,126 dan Musa bin Ja'far,127 dan memperbincangkan masalah ini dan bahwa mereka mengetahui perkara ghaib maka waspadalah dari mereka dan setiap orang yang mengikuti pemikiran tersebut sebab mereka telah kafir terhadap Allah Subahanahu wata’aala.

______________________________________________________

  1. Yang dimaksud oleh penulis dengan Tauhid adalah tauhid Mu'tazilah karena firqah Mu'tazilah memiliki lima dasar di antaranya adalah Tauhid yang artinya menafikan sifat-sifat dari Allah Subahanahu wata’aala . Lihat Risalah Al Mu'tazilah wa Usuluhum Al Hamsah wa Mauqif Ahli Sunnah Minha, Syaikh Awad Al Mu'tiq (Hal.81-150) dan kitab "Bayan talbisul Jahmiyah" Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (1/132-134)
  2. Imam Abu Hatim Ar Razy rahimahullah berkata: "Tanda-tanda ahli bid'ah suka mencela ahli atsar dan tanda-tanda zindiq memberi sebutan ahli sunnah dengan Hasyawiyah, yang dimaksud membatalkan atsar, ciri-ciri Jahmiyah memberi sebutan ahli sunnah Musyabbihah, ciri-ciri Qadariyah memberi sebutan ahli atsar dengan Mujbirah, ciri-ciri Murji'ah memberi sebutan ahli sunnah penentang atau Nuqshaniyah dan ciri-ciri Rafidhah memberi sebutan ahli sunnah dengan Nashibah. Sementara ahli sunnah hanya mungkin memiliki satu sebutan tidak mungkin semua sebutan di atas bisa disandang oleh ahli sunnah." (dikeluarkan oleh Al Lalika'i dalam "As Sunnah" (1/179) dengan sanad yang sahih.
  3. Saya tidak menemukan riwayat ini dari sumber aslinya. Arti 'Sharf adalah menjual emas dengan perak atau perak dengan emas,disebut dengan sharf karena dua sebab; karena menjauh dari kebiasaan akad jual beli, tidak boleh berpisah sebelum terjadi serah terima barang, dan tidak boleh menjual dengan salah satu barangnya ditangguhkan. Dan kedua dari Sharifihima yaitu menyamakan dalam timbangan sebab penjualan emas dengan emas atau perak dengan perak disebut saling Murathalah. Ucapan Abdullah bin Mubarak banyak menyerupai beberapa atsar dari ulama salaf: "Dari Ma'mar bin Rasyid dan Muhammad bin Yahya Al Qaththan, Ibrahim bin Abu 'Ablah sebagaimana yang telah dinukil dalam kitab Masa'il Imam Ahmad Abdullah bin Ahmad. (1632) dan kitab Al amru bil Ma'ruf wan Nahyi Anil Mungkar, Khallal (Hal.87-88), Siyar DZAhabi (3/391-324) dan lihat risalah Zajrus Sufaha'an Tatabu'i Rukhasil Fu qaha', Syaikh Ad Duwaisiry, sementara Ibnu Qayyim juga mengupas masalah ini secara bagus dalam kitab"MadarijusSalikin"', (2/57058).
  4. Ayyub bin Kaisan As Sakhtiyani, Abu Bakar Al Bashry, seorang imam panutan dan penegak hujjah. Beliau termasuk pembesar ahli zuhud dan ahli fikih. Wafat tahun 131 H
  5. Abdullah bin "Aun Al Bashry, seorang imam terpercaya, tokoh yang disegani dan seorang yang wara'. Wafat tahun 139.(SiyarDzahabi, 6/364)
  6. Yunus bin Ubaid Al Abdy Al Bashry, seorang imam panutan, seorang yang teguh dan pemilik hujjah, wafat tahun 139 H. (Siyar 6/288)
  7. Dia seorang imam panutan sebagaimana yang dikatakan oleh imam Ahmad bahwa dia seorang yang istimewa dan sangat teguh membela sunnah, wafat tahun 192 H. (Siyar 4/294).
  8. Amir bin Syarahil As Sya'by, Abu Amr Al Hamady, seorang imam panutan dalam ilmu sunnah , wafat tahun 105 H. {Siyar 4/294)
  9. Abu Abdullah Al Bajali Al Kufi, seorang imam terpercaya lagi hafidz wafat tahun 159 H. (Siyar 70/174)
  10. Abu Mu'awiyah Al Aisyi Al Bashry, seorang imam panutan dan terpercaya, wafat tahun 182 H. (Siyar 8/296).
  11. Abu Mutsanna Mu'awiyah Al Anbary, Al Hafidz, terpercaya, wafat tahun 206 H. Siyar (9/442)
  12. Abu Abbas Al Azdy, Al Hafidz, jujur dan terpercaya, wafat 206 H. (Siyar 9/442)
  13. Ibnu Dinnar. Abu Salamah Al Bashry, seorang imam panutan dan syaikhul Islam, wafat tahun 167 H. (Siyar 7/555).
  14. Ibnu Dirham, Abu Ismail Al Bashry Al Azdy, Al Allamah, Al Hafidz dan seorang yang teguh serta ahli hadits pada zamannya, wafat 179 H. (Siyar, 7/456)
  15. Abdurrahman bin Amr, Abu Amr As Syamy, seorang imam panutan, Syaikhul Islam, tokoh ulama di daerah Syam, wafat tahun 157 H. (Siyar 7/107)
  16. Abu Shalt At Tsaqafi Al Kufi, seorang imam teguh dan Al Hafidz, wafat tahun 160 H. (Siyar 7/375)
  17. Abu Muhammad Al Bashry, Al Anmathi, Al Hafidz, seorang imam panutan dan ahli ibadah serta hujjatul Islam, wafat tahun 217 H.(Siyar 10/352)
  18. Ibnu malik Al Khuza'i, seorang imam panutan, As Syahid, Wafat tahun 231 H (Siyar 11/166).
  19. Dalam teks asli disebutkan bahwa Al Hajjaj bin Minhal, Ahmad bin Hambal, Ahmad bin Nashr termasuk ahli sunnah Insya Allah Subahanahu wata’aala.
  20. Abu Daud As Sajistani berkata bahwa saya berkata kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hambal: "Saya menyaksikan seorang ahli sunnah selalu bersama ahli bid'ah, apakah saya tinggalkan perkataannya?" Beliau menjawab: "Tidak, atau anda harus memberitahu kepadanya bahwa laki-laki yang bersamanya adalah meninggalkan perkataannya maka anda bergaullah dengannya dan bila tidak, maka anggaplah dia termasuk bagian darinya," sebagaimana ucapan Ibnu Mas'ud: "Seseorang tergantung teman karibnya." (dituturkan oleh Ibnu Muflih dalam Al Adabus Syar'iyah (1/263).
  21. Ibnu "Aun berkata: "Orang yang duduk-duduk bersama ahli bid'ah lebih bahaya daripada ahli bid'ah sendiri." (dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Ibanah Al Kubra 486). Dalam kitab Tabaqatul Hanabilah karya "Ibnu Abu Ya'la (1/233-234) bahwa Ali bin Abu Khalid berkata: "Saya bertanya kepada Ahmad bahwa sesungguhnya Syaikh ini selalu hadir bersama kami yang telah aku larang untuk mendekati seseorang namun dia ingin mendengar komentar anda tentang seorang yang bernama Harits Al Qashir atau Hants Al Muhasiby," anda melihat saya telah bersamanya selama beberapa tahun dan anda berkata kepadaku: "Janganlah anda duduk-duduk bersamanya dan janganlah berbicara dengannya, dan hingga saat ini saya tidak pernah berbicara dengannya sementara Syaikh ini duduk bersamanya." Bagaimana komentar anda dalam masalah ini? Maka saya melihat muka imam Ahmad memerah dan urat syaraf dan Matanya menegang yang tidak pernah sama sekali aku melihat seperti itu sebelumnya, lalu beliau mulai memberi bantahan dan berkata: "Dia seorang yang telah diperingatkan oleh Allah Subahanahu wata’aala, tiada orang yang mengenalinya kecuali orang yang tahu secara persis tentang dia, jauhilah dia, jauhilah dia dan jauhilah dia, tiada seorang yang mampu mengenalinya kecuali seorang yang dekat dengannya, telah duduk-duduk bersamanya Al Maghazili, Ya'qub dan si Fulan sehingga mereka berubah menjadi pembela madzhab Jahmiyah lalu mereka hancur karenanya." Lalu Syaikh tersebut bertanya kepadanya: "Wahai Abu Abdullah dia seorang perawi hadits, pendiam dan sangat khusyu' ? Abdullah sangat marah dan berkata: "Janganlah anda tertipu dengan kekhusu'an dan kelembutannya." Dan beliau berkata: "Anda jangan terkecoh dengan kepala yang sering menunduk sebab dia seorang yang buruk, dan tiada yang mampu mengenalinya kecuali orang yang telah berpengalaman, janganlah anda berbicara dengannya sebab tiada kemuliaan baginya." Apakah setiap orang meriwayatkan hadits Rasulullah boleh bagi anda untuk duduk- duduk bersamanya?! jelas tidak, sebab dia tidak memiliki kemuliaan dan tidak menenangkan mata. Dan dia seperti itu.
  22. Abu Qilabah berkata: "Tidaklah suatu kaum membuat suatu kebid'ahan melainkan telah mengobarkan peperangan." Abu Qilabah rahimahullah berkata: "Sesungguhnya ahli bid'ah pelaku kesesatan dan tidak ada tempat baginya kecuali Neraka, buktikanlah, tiada seorangpun dari mereka yang mau menggunakan hadits, hingga perkara mereka berakhir dengan pedang, sebab kemunafikan itu ber-macam-macam lalu beliau membaca firman Allah Subahanahu wata’aala: "Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah Subahanahu wata’aala." ( At Taubah: 74) dan firman Allah Subahanahu wata’aala: "Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat;" ( At taubah: 58) dan firman Allah Subahanahu wata’aala: "Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi." (At Taubah: 61). Ucapan-ucapan munafikin itu beragam, namun mereka bersepakat dalam keraguan dan kedustaan, mereka berbeda pendapat namun bersepakat dalam mengobarkan peperangan, dan tidak ada tempat akhir yang paling layak kecuali Neraka. (Dikeluarkan Ad Darimy (1/44) dengan sanad yang sahih.
  23. Penulis rahimahullah dalam kitab Tabaqatul Hanabilah (2/44) dan Al Manhaj Al Ahmad (2/37) berkata: "Perumpamaan ahli bid'ah seperti kalajengking, mengubur kepala dan badannya dalam tanah namun mengeluarkan ekornya, ketika ada kesempatan mereka menyengatkan bisanya." Begitu juga ahli bid'ah yang selalu menyembunyikan jati dirinya dari manusia, ketika mereka punya kesempatan mereka menebarkan kebid'ahan sesuai yang mereka inginkan.
  24. Imam Syafil rahimahullah berkata: "Jikalau seorang hamba bertemu Allah Subahanahu wata’aala dengan membawa setiap macam dosa selain syirik lebih baik daripada bertemu Allah Subahanahu wata’aala dengan membawa suatu kebid'ahan." (H.R Baihaqi dalam "Al I'tiqad'(Hal 158). Imam Ahmad dalam "Tabaqatul Hanabilah (1/184) berkata: "Kuburan pelaku dosa besar ahli sunnah bagaikan taman, sementara kuburan seorang yang zuhud dari ahli bid'ah bagaikan lubang Neraka," kaum fasik dari kalangan ahli sunnah adalah wali Allah Subahanahu wata’aala dan ahli zuhud dari kalangan ahli bid'ah adalah musuh Allah Subahanahu wata’aala.
  25. Yang dimaksud adalah Amr ibnu Ubaid Al Bashriy. Seorang ahli zuhud dan ahli ibadah, Qadariyah, dan pemuka dan tokoh Mu'tazilah, mati tahun 143 H. (Lihat Siyar 6/104)
  26. Dikeluarkan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (3/ 20-21) dan Al Khaththib dalam Tarikh Baghdad'(12/172-173) serta Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra (464) dengan sanad yang sahih
  27. Ahmad bin faraj, seorang Jahmiyah dan mengobar fitnah Al-Qur'an adalah makhluk, mati tahun 240 H. {Siyar 11/169)
  28. Bisyr bin Ghayyats Al Marisy, penggagas pemikiran Jahmiyah pada zamannya dan tokoh umat firqah Jahmiyah, para ulama ahli sunnah banyak yang menghujat bahkan mengkafirkannya, mati tahun 218 H. {Siyar (10/199)
  29. Tsumamah bin Usyrah termasuk pemuka dan tokoh Mu'tazilah yang mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk. {Siyar 10/203)
  30. Muhammad Al Hudzail Al "Allaf Al Bashry, tokoh ahli bid'ah dan juru dakwah kepada bid'ah pada zamannya, mati tahun 227 H.{Siyar 10/542)
  31. Dikeluarkan Ibnu Ady dalam Al Kamil (1/155) dan As Sahmi dalam Dalam "Tarikh Jurjan' (473) dan Ibnu Jauzi dalam "Al Wahiyaat' (1/131) dari Anas secara Marfu'. Dengan sanad yang sangat dhaif karena terdapat Khalid bin Duluj dan dia sangat lemah sekali sebagaimana yang dituturkan dalam "Al Mizan' (1/663) Qatadah As Sadusy Mudallis dengan An'an. Ibnu Jauzi dalam Al Wahiyat dan Al Manawi dalam "At Taisir" (1/352-353) dan Al Bani dalam Dhaiful Jami1'(2021). Yang benar berasal dari ucapan Muhammad bin Sirin: "Dikeluarkan oleh Muslim dalam Muqaddimah (1/41) Ibnu Ady dalam Al Kamil (1/155) dan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (2/278) serta Khaththib dalam Al Kifayah (Hal.161) Ramaharmuzi dalam Al Muhaddits Al Fashil, (Hal.414)
  32. Dikeluarkan oleh Ramaharmuzi dalam kitab "Al Muhadits Al Fashil' (Hal.411), Ibnu Ady dalam "Al Kamil' (1/159, 2/798), Al Khaththib Baghdadi dalam "Al Kifayah" (Hal.125-126), dan Ibnul Jauzi dalam kitab "Al Wahiyaat' (1/131).Adapun hadits yang dikabarkan oleh Al Qadhy Abu Umar Qasim bin Jafar Al Hasyimi sebagaimana lafadz hadits di atas dengan sanad sebagai berikut: Shalih bin Hassaan menyendiri dalam riwayatnya dan dia termasuk perawi yang sepakat tidak boleh berhujjah dengan haditsnya karena hafalannya buruk dan sedikit. Beliau meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Ka'ab terkadang secara muttasil dan terkadang secara mursal atau terkadang secara marfu', dan terkadang secara mauquf kemudian beliau memaparkan beberapa riwayat di atas.
  33. Dikeluarkan oleh Ad Darimy (1/91), Ibnu Wadhdhah dalam Al Bida', (53), Al Ajiry dalam "Syari'ah' (Hal.57), Al Lalika'i dalam "AsSunnah (242) dan Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra" (398-399) dengan sanad yang sahih
  34. Dikeluarkan oleh Nu'aim bin Hammad dalam "Az Zawaid ala Az Zuhud' Ibnu Mubarak (30) dan Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra" (611) dengan sanad yang dhaif karena ada perawi yang sangat lemah
  35. Dikeluarkan oleh Al Ajiri dalam "As Syari'ah' (57), Al Lalika'i dalam "As Sunnah' (215) dan Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra" dengan sanad yang sahih.
  36. Atsaryang sahih, dikeluarkan oleh Ahmad (2/195-196), Ibnu Majah dalam Mukaddimah, bab Qadar (85) dan Al Lalika'i dalam As Sunnah (1118-1119). Disahihkan oleh Al Bushairy dalam Zawaid Ibnu Majah (1/14) dan Al Bani dalam Hasyiah syarah Thahawiyah (Hal.218)
  37. Sunan Ad Darimy (1/77), As Sunnah, Al Lalika'i, Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra" (483- 549) dan Baghdadi dalam "Al Faqlh Wal Muttafaqqih" (1/230) dan Al Ashfahani dalam "Al Hujjah" (1/311).
  38. Orang yang datang kepada Umar bernama Shabigh dan kisah ini sangat masyhur. Dikeluarkan oleh Ad Darimy (1/51, Ibnu Wadhdhah dalam Al Bida (Hal.56), Al Ajiri dalam "As Syari'ah" (Hal.73), Al Lalika'i dalam As- Sunnah (4/634-636) dan Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra (27489-490). Karena kalau dia bertanya seperti itu, terus keadaan dia gundul, beliau memastikan bahwa orang itu dari khawarij (Pen).
  39. Hadits ini sangat lemah. Dikeluarkan oleh At Thabrani dalam "Al Kabir" (8/178-179), Al Ajiri dalam As Syari'ah' (Hal.55-56), Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra" (2/489-490) dan Abu Ismail Al Harawi dalam "Dzammil Kalarrf' nomor 57. Al Haitsami dalam Majma'Zawaid' (1/156-159) berkata: "Katsir bin Marwan sangat lemah sekali." Dalam (1/106) beliau mengatakan: "Katsir di- nyatakan pendusta oleh Yahya dan Daruquthni." Lihat Mizanul I'tidal Dza-habi (3/409). Peringatan: "Terdapat kesalahan penulisan nama Katsir bin Marwan dalam kitab "As Syari'ah' Ajiri yang ditulis dengan nama "Hukaim bin Marwan
  40. Dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam " Al Ibanah Al Kubra" (278)
  41. Dia adalah Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib atau Ja'far Al Baqir, seorang imam yang terpercaya, wafat tahun 113 H. (Siyar 4/401)
  42. Dia adalah Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, yang dikenal dengan As Shaadiq, seorang imam yang faqih wafat pada tahun 148 H. (Siyar 6/255)
  43. Dia adalah Musa bin Ja'far, Abul Hasan Al Hasyimi, yang dikenal dengan sebutan Al Kadzim, seorang yang jujur dan ahli Ibadah, wafat tahun 183H. (Siyar 6/270).
    1. Tha'mah bin Amr128 dan Sufyan bin Uyainah berkata: "Barangsiapa diam (tidak menilai mana yang lebih baik) antara Utsman dan Ali berarti ia pengikut Syi'ah, tidak bisa dianggap adil, tidak bisa diajak berbicara dan tidak bisa dijadikan teman duduk-duduk. Dan barangsiapa mengutamakan Ali daripada Utsman berarti ia termasuk dari kelompok Rafidhah dan mereka telah menolak atsar para sahabat Rasulullah.
    2. Barangsiapa mengutamakan tiga sahabat (Abu Bakar, Umar dan Utsman) di atas semua sahabat namun tetap mendoakan rahmat kepada semua para sahabat serta berdiam diri dari kekeliruan mereka maka ia berada di atas jalan yang istiqamah dan petunjuk dalam perkara ini.
    3. Termasuk bagian dari sunnah (aqidah), bahwa para sahabat sepuluh yang mendapat jaminan dari Rasulullah masuk surga, benar-benar mereka nanti berada dalam surga.
    4. Janganlah membaca shalawat untuk orang per orang kecuali hanya kepada Rasulullah dan keluarganya saja.129
    5. Ketahuilah bahwa Utsman terbunuh secara aniaya dan yang membunuh adalah orang yang dzalim.
    6. Barangsiapa mengakui dan beriman terhadap isi buku ini lalu menjadikan sebagai petunjuk hidup dan tidak ada kebimbangan sama sekali dalam menerima serta tidak mengingkari meskipun satu huruf saja berarti ia termasuk Ahli sunnah wal Jamaah secara sempurna dan perkara sunnah telah sempurna pada dirinya.
    7. Barangsiapa mengingkari satu huruf saja dari isi buku ini atau ragu-ragu atau bimbang atau tidak mengambil sikap, ia termasuk Ahli bid'ah.

130

    1. Barangsiapa bersikap ingkar atau ragu-ragu terhadap satu huruf saja dari Al-Qur'an atau sebagian ajaran Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam maka nanti bertemu Allah Subahanahu wata’aala dalam keadaan sebagai orang yang mendustakan. Bertakwalah kepada Allah Subahanahu wata’aala, waspadalah dan jagalah imanmu.
    2. Termasuk bagian dari sunnah (aqidah) hendaklah anda tidak membantu orang untuk berbuat maksiat baik kepada seorang pemimpin atau orang biasa sebab tidak ada ketaatan kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subahanahu wata’aala. Janganlah menampakkan kecintaan kepada setiap pelaku maksiat bahkan hendaklah anda membenci mereka dalam rangka mencari ridha Allah Subahanahu wata’aala.
    3. Beriman bahwa taubat berhukum wajib bagi setiap hamba dan hendaklah mereka bertaubat kepada Allah Subahanahu wata’aala dari dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil.
    4. Barangsiapa tidak menyaksikan kepastian masuk surga setiap orang yang disaksikan Rasulullah masuk surga maka ia termasuk Ahli bid'ah dan pelaku kesesatan sebab dia ragu terhadap apa yang telah disabdakan Rasulullah.
    5. Malik bin Anas berkata: "Barangsiapa tetap di atas sunnah dan tidak menghujat salah seorang sahabat Rasulullah lalu meninggal dunia maka ia bersama para Nabi, As Shiddiqin, As Syuhada' dan orang-orang yang shalih meskipun ada beberapa kekurangan dalam amaliyah-nya."

 

      Bisyr bin Harits

131

      berkata: "Al Islam adalah sunnah dan Sunnah adalah Islam."

132

      Fudhail bin Iyadh berkata: "Apabila aku sedang melihat salah seorang dari Ahli sunnah, seakan- akan aku sedang melihat salah seorang sahabat Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dan ketika aku melihat salah seorang Ahli bid'ah seakan-akan aku sedang melihat salah seorang munafik."

 

      Yunus bin Ubaid berkata: "Suatu perkara yang sangat menakjubkan adalah masih ada orang yang mau mengajak kepada sunnah namun lebih menakjubkan lagi masih ada orang yang memenuhi ajakan sunnah lalu menerimanya."

133

      Ibnu Aun ketika menjelang ajal tiba berkata: "Tetaplah kalian di atas sunnah dan waspadalah terhadap kebid'ahan hingga mati."

134

      Ahmad bin Hambal

135

      berkata: "Salah seorang sahabatku meninggal dunia lalu aku melihatnya dalam mimpi berkata: 'Katakanlah kepada Abu Abdullah agar selalu berpegang teguh dengan sunnah sebab pertanyaan pertama kali yang ditanyakan oleh Allah Subahanahu wata’aala kepadaku adalah tentang sunnah.' Abu Aliyah

136

      berkata: "Barangsiapa meninggal di atas Sunnah dia termasuk orang yang terpelihara lagi jujur."

 

      Dikatakan bahwa berpegang teguh dengan sunnah merupakan jalan keselamatan.

 

      Sufyan Ats Tsauri berkata: "Barangsiapa pasang telinga untuk mendengarkan ucapan Ahli bid'ah berarti telah keluar dari perlindungan Allah Subahanahu wata’aala dan tergantung dengan kebid'ahan tersebut."

137

      Daud bin Abu Hindun

138

      berkata: "Allah Subahanahu wata’aala telah memberi wahyu kepada Musa bin Imran berbunyi: 'Janganlah anda duduk-duduk dengan Ahli bid'ah dan jika anda duduk-duduk bersama mereka maka hatimu terpengaruh dengan ucapan mereka sehingga anda masuk ke dalam Neraka.'

139

      Fudhail bin Iyadh berkata: "Barangsiapa duduk-duduk bersama Ahli bid'ah maka Allah Subahanahu wata’aala tidak memberikan hikmah kepadanya."

140

      Fudhail bin Iyadh berkata: "Janganlah anda duduk-duduk bersama Ahli bid'ah sebab saya khawatir laknat Allah Subahanahu wata’aala turun kepadamu."

141

      Fudhail bin Iyadh berkata: "Barangsiapa mencintai Ahli bid'ah, Allah Subahanahu wata’aala akan menghapus kebaikannya dan mengeluarkan cahaya Islam dari hatinya."

142

      Fudhail bin Iyadh berkata: "Apabila anda sedang melihat seseorang sedang duduk-duduk bersama Ahli bid'ah maka lewatlah pada jalan lain."

143

      Fudhail bin Iyadh berkata: "Barangsiapa mengagungkan Ahli bid'ah, dia telah membantu untuk menghancurkan Islam,

144

      barangsiapa tersenyum di hadapan Ahli bid'ah, dia telah meremehkan apa yang diturunkan oleh Allah Subahanahu wata’aala kepada Muhammad, dan barangsiapa menikahkan mahramnya dengan Ahli bid'ah dia telah memutuskan hubungan kerabatnya, dan barangsiapa menghantarkan jenazah Ahli bid'ah ia berada dalam kemurkaan Allah Subahanahu wata’aala hingga kembali pulang."

145

      Fudhail bin Iyadh berkata: "Saya masih mau makan bersama orang Yahudi dan Nashrani namun aku sangat benci makan bersama Ahli bid'ah dan saya sangat senang sekali bila di antara aku dengan Ahli bid'ah ada tembok pembatas yang terbuat dari besi."

146

      Fudhail bin Iyadh berkata: "Jika Allah Subahanahu wata’aala mengetahui ada seorang hamba membenci Ahli bid'ah, Allah Subahanahu wata’aala akan mengampuni dosa-dosanya meskipun amalnya sedikit.

147

      Tidak mungkin seorang Ahli sunnah berbasi-basi terhadap Ahli sunnah kecuali ada kemunafikan dalam hatinya.

148

      Siapa yang berpaling dari Ahli bid'ah Allah Subahanahu wata’aala akan memenuhi hatinya dengan keimanan, siapa yang mengusir dan menghardik Ahli bid'ah Allah Subahanahu wata’aala akan menjadikan keamanan pada hari goncangan yang sangat dahsyat (hari kiamat), dan siapa yang menghina Ahli bid'ah Allah Subahanahu wata’aala akan mengangkatnya seratus derajat dalam Surga. Dan janganlah sekali-kali anda menjadikan suatu kebid'ahan dalam agama Allah Subahanahu wata’aala.

149

________________________________________________________

  1. Dia adalah Al Ja'fary Al Amiry Al Kufy, seorang yang jujur dan ahli ibadah dan dia memiliki beberapa komentar dalam AsSunnah, wafat tahun 169H. H. (AtTahdzib 5/13) dan Aljarh wa Tadil karya Ibnu Abu Hatim (4/496)
  2. Begitu juga membaca shalat untuk para nabi dan rasul. Lihat penjelasan masalah ini dalam Jalaul Afham, Ibnu Qayyim (Hal.345),Tafsir Ibnu Katsir (3/516-517), Fathul Bari (11/169) dan Al Qaulul Badi (81-87) As Sakhawi
  3. Lihat Penjelasan masalah ini dalam mukaddimah buku ini
  4. Dia adalah Bisyr bin Al Harits yang dikenal dengan Bisyr Al Hafi seorang imam, zuhud, dan wara', wafat tahun 227 H. (Siyar 10l 469).
  5. Saya tidak menemukan asal usul atsar ini..
  6. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam "Al Hilyah' (3/21), Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra" (20) dan Al Lalika'i dalam As Sunnah' (21,22,23) dengan sanad yang hasan
  7. Saya tidak menemukan sumber atsar ini
  8. Dalam teks asli tertulis Abu Abdullah Ghulam Khalil
  9. Dia adalah Rufai' bin Mihran, Abu Aliyah Ar Rayyahi, seorang imam terpercaya dan seorang ulama panutan, wafat tahun 90 H. {Siyar 4/207)
  10. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya' (VII/26), Ibnu Bathah dalam Al Ibanah Al-Kubra (444) dari Sufyan, lihat dalam Syiaru 'Alamin nubala (VII/261).
  11. Dia adalah Al Qusyairy, Al Bashry, seorang imam dan hafidz yang terpercaya, wafat tahun 140 H. (Siyar 6/ 376)
  12. Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhdhah dalam Al Bida'(Hal 49) dari Muhammad bin Aslam. Al Ajiri dalam "As Syari'ah" (Hal.57), Ibnu Baththah dalam "Al Ibanah Al Kubra" (556) dari Khushaif bin Abdurrahman Al Jazry, Al baihaqi dalam "As Syu'ab' (7/60) dari Bisyr Al Harits
  13. Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam As Sunnah (263-1149), Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra (439) dan Al Baihaqi dalam "AsSyua’b (7/64)
  14. Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam As Sunnah (263-1149), Ibnu Baththah dalam Al Ibanah AlKubra(441-451) dengan sanad yang sahih.
  15. Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam As Sunnah (263-1149), Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra (441-451) dan Abu Nu'aim dalam "Al Hilyah' (8/103) Ibnu Jauzi dalam Talbisul Iblis (Hal.16) dengan sanad yang shahih
  16. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam "Al Hilyah' (8/103), Ibnu Baththah (493) dan Ibnu Jauzi dalam Talbisul Iblis (Hal. 16) dengan sanad yang sahih.
  17. Ada sebuah hadits yang semakna dengan atsar ini namun lemah dan tidak bisa diterima sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikh Al AlBani dalam Silsilah Dhaifah Nomor: 1862
  18. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam "Al Hilyah' (8/103), Ibnu Jauzii dalam Talbisul lblis (Hal. 16) hingga ucapan beliau "Berarti telah memutus hubungan kerabatnya" dengan sanad yang sahih. Namun ungkapan yang berbunyi: "Barangsiapa tersenyum...." Tidak ada.
  19. Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam As Sunnah (1149), Abu Nu'aim (8/103) dan Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra (470) dengan sanad yang sahih
  20. Dikeluarkan oleh Abu Nu'aim dalam 'Al Hilyah" (8/103) dengan sanad yang sahih, di dalamnya, saya mengharapkan dia diampuni.
  21. Dikeluarkan oleh, Abu Nu'aim (8/104) dengan sanad yang sahih dan dikeluarkan oleh Ibnu Baththah dalam Al Ibanah Al Kubra (470) dengan Sanad yang bisa diterima.
  22. Saya tidak menemukan sumber atsar ini