ulama

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

07 Jan 2009

Beliau adalah Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qanidah Al-Hamadani Al-Wadi’i Al-Khallaaly dari kabilah Aalu Rasyid dan di timur Sha’dah dari lembah Dammaj. Pada permulaan mencari ilmu, beliau belajar pada sebuah jami’ Al-Hadi dan tak ada seorangpun pada waktu itu yang membantunya dalam thalabul ilmi. Selang beberapa waktu beliau pergi menuju Al-Haramain dan Najd.

Suatu ketika seorang penceramah memberinya nasihat tentang kitab-kitab yang ber-manfaat dan menunjukkannya pada Shahih Bukhari, Bulughul Maram, Riyadlush Shalihin, Fathul Majid dan memberinya satu nuskhah dari Kitab Tauhid. Beliau menekuni dan mempelajari buku-buku tersebut. Beberapa waktu kemudian beliau pulang ke negerinya dan mengingkari setiap apa yang dilihatnya yang menyelisihi tauhid dari penyembelihan yang diperuntukkan selain kepada Allah, membangun kubah di atas kuburan dan berdoa kepada orang-orang yang telah mati.

Ketika berita ini terdengar oleh orang-orang Syi’ah pada waktu itu, mereka mengatakan, “Barang-siapa yang mengubah ajaran agamanya, maka bunuhlah!” Sebagian dari mereka mengadukan kepada kerabat-kerabat Syaikh, “Jika kalian tidak melarangnya, maka kami akan memenjarakannya.” Setelah itu mereka memutuskan untuk memasukkannya kembali ke Jami’ Al-Hadi untuk belajar pada mereka dan menghilangkan syubhat-syubhat yang ada pada Syaikh (menurut anggapan mereka pent). Berkata Syaikh, “Ketika aku melihat kurikulum yang ditetapkan adalah Syi’ah Mu’tazilah maka aku putuskan untuk konsentrasi dalam ilmu nahwu.” Dan tatkala terjadi perubahan politik antara Republik dan Kerajaan (Yaman), beliau meninggalkan negerinya dan pergi ke Najran untuk ber-mulazamah kepada Abul Husain Majduddin Al-Muayyid dan men-dapatkan faedah darinya, terlebih khusus dalam bahasa Arab. Beliau tinggal di sana selama kurang lebih selama dua tahun, kemudian ber-’azzam untuk ber-rihlah (menempuh perjalanan pent) ke negeri Haramain dan Najd dan belajar pada sebuah madrasah tahfizh Al-Qur’an Al-Karim. Kemudian bertekad lagi untuk safar ke Makkah dan beliau menghadiri durus (halaqoh-halaqoh ilmu pent) di antaranya adalah Syaikh Yahya bin Utsman Al-Baqistani dan Syaikh Al-Qadhi Yahya Asywal dan Syaikh Abdurrazzaq Asy-Syahidi Al-Mahwithi. Lalu beliau masuk ke ma’had Al-Haram Al-Makki dan selesai dari tingkatan mutawasith dan tsanawi beliau pindah ke Madinah dan masuk ke Jami’ah Al-Islamiyah pada fakultas da’wah dan ushuluddin. Saat tiba waktu liburan Syaikh merasa takut kehilangan waktunya, sehingga beliau mengikutsertakan dirinya pada fakultas syari’ah untuk menambah ilmu. Karena materi-materinya saling berdekatan dan sebagiannya sama, maka hal itu dianggap sebagai murajaah (pengulangan) atas yang beliau pelajari di fakultas da’wah.

Selengkapnya: Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah

07 Jan 2009
Beliau adalah Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, salah seorang anggota Badan Ulama besar (Hai’ah Kibar al-’Ulama), anggota al-Lajnah ad-Da’imah Li al-Buhuts al-’Ilmiyyah Wa al-Ifta’ (Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Penggodokan Fatwa) serta imam dan khatib Masjid Raya Emir Mut’ib bin Abdul Aziz di Riyadh. Di antara jabatan yang pernah beliau pegang adalah sebagai direktur Ma’had ‘Ali (Per-guruan Tinggi) Peradilan.

Beliau belajar kepada banyak ulama, di antaranya yang paling terkenal adalah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dan Syaikh Shalih al-Bulaihi.

Selengkapnya: Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah

Syaikh Ibnu Jibrin hafidzahullah

07 Jan 2009
Beliau adalah Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ibrahim bin Fahd bin Hamad bin Jibrin.

Syaikh Ibnu Jibrin dilahirkan pada tahun 1352 H di salah satu perkampungan daerah al-Quwai’iyyah dan tumbuh berkembang di kota ar-Rin. Beliau mulai belajar pada tahun 1359 H sekalipun terlam-bat menyelesaikan studinya dari waktu yang semestinya karena tidak adanya madrasah tingkat lanjutan di sana. Akan tetapi, beliau dapat menekuni al-Qur’an saat berusia 12 tahun, belajar menulis dan kaidah imla’ secara tradisional. Kemudian beliau mulai menghafal al-Qur’an sehingga berhasil mengkhatamkannya pada tahun 1367 H. Sebelum itu, beliau sudah belajar dengan metode al-Qira’ah dasar-dasar ilmu dan beliau memulainya dari ayahnya, yaitu awal kitab al-Ajrumiyyah dalam ilmu Nahwu. Demikian juga, Matn ar-Rahbiyyah di dalam Ilmu Faraidh, kitab al-Arba’in an-Nawawiyyah di dalam Ilmu Hadits secara hafalan dan kitab ‘Umdah al-Ahkam di dalam Ilmu Fiqh dan berhasil menghafal sebagiannya. Setelah sempurna hafalan al-Qur’annya, be-liau mulai belajar dengan metode yang sama kepada guru beliau, Syaikh Besar Abdul Aziz bin Muhammad Abi Habib asy-Syatsri, setelah itu kepada Syaikh Shalih bin Muthlaq dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali Syaikh.

Selengkapnya: Syaikh Ibnu Jibrin hafidzahullah

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah

07 Jan 2009
Nama dan Nasab
Beliau adalah Abu Abdillah, Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin, al-Muqbil al-Wuhaibi at-Tamimi.

Kelahiran Dan Perkembangannya
Syaikh Abu Abdullah ini dilahirkan di kota ‘Unaizah, salah satu kota besar yang berada di wilayah Qashim pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H dalam lingkungan keluarga yang dikenal agamis dan istiqamah.

Beliau berguru kepada sebagian anggota keluarga besarnya sendiri, seperti; kepada kakeknya dari pihak ibu, Syaikh Abdurrahman bin Sulaiman Ali Damigh rohimahullah. Beliau belajar membaca al-Qur’an padanya dan menghafalnya. Kemudian beliau menuntut ilmu dan belajar kaligrafi, ilmu hisab dan sebagian seni sastra.
 
Beliau dianugerahi oleh Allah kecerdasan, semangat serta antusiasme yang tinggi untuk menimba ilmu dan meramaikan majlis-majlis pengajian para ulama dengan menghadirinya, di antara majlis yang amat digandrunginya adalah majlis yang diajarkan oleh Syaikh al-’Allamah, Ahli Tafsir dan Fiqh, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rohimahullah.

Selengkapnya: Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahullah

Syaikh Ibnu Baz rohimahullah

06 Jan 2009

Beliau adalah yang mulia asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abdullah bin Baz rohimahullah. Dilahirkan di kota Riyadh, pada tanggal 12 Dzulhijjah tahun 1330 H di tengah keluarga yang mayoritasnya dikenal sebagai para penuntut ilmu.

Penglihatan Samahah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah ketika masih kecil normal, namun baru pada tahun 1336 H beliau mengalami gangguan pada kedua matanya sehingga penglihatannya kurang baik dan kemudian sama sekali tidak dapat melihat pada permulaan bulan Muharram tahun 1350 H.

Beliau tumbuh di bawah naungan tarbiyah agama yang mengutamakan Kitabullah dan Sunnah NabiNya shollallaahu’alaihi wasallam dan di bawah gemblengan sebagian tokoh panutan keluarga. Al-Qur’an adalah nur yang menerangi hidup beliau dimana pada permulaan langkahnya menuntut ilmu dibarengi dengan menghafal Kitabullah sehingga ketika masih kecil dan belum mencapai usia baligh, beliau sudah menghafalnya di luar kepala.

Selengkapnya: Syaikh Ibnu Baz rohimahullah