Cari Artikel

 

Referensi Islam

media

Media Kajian

Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
 
artikel

E-book Islami

Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh.
offline

Download

Beberapa bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan secara offline....
  • Ahlan Wasahlan

    Ahlan Wasahlan

    Selamat datang di Al-Qur'an Sunnah dot com, situs alternatif penyedia informasi Agama Islam yang bermanhaj Salaf, Insya Alloh...
    Jika antum menemukan kesalahan, mohon kiranya untuk mengingatkan kami...
    Kami sampaikan Jazaakumullohukhoiron atas silaturahmi antum wabarokallohufiikum...
    Read More
  • Al-Qur'an Karim

    Al-Qur'an Karim

    Al-qur'an adalah firman Allah Subhaanahuwata'aala. Muncul dari zat-Nya dalam bentuk perkataan yang tidak dapat digambarkan.
    Diturunkan kepada Rasul-Nya dalam bentuk wahyu.
    Orang-orang mukmin mengimaninya dengan keimanan yang sebenar-benarnya. Mereka beriman tanpa keraguan... Read More
  • Media Kajian

    Media Kajian

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,"Karena hati itu diciptakan untuk diketahui kegunaannya...
    maka mengarahkan penggunaan hati (yang benar) adalah (dengan cara menggunakannya untuk) berfikir dan menilai…”.
    Itulah dzikrullah dan tha’atullah, sebagai kunci utama untuk membuka hati seseorang dalam merealisasikan kepuasan hati... Read More
  • Haji dan Umrah

    Haji dan Umrah

    Ibadah haji adalah salah satu kewajiban dan salah satu ibadah yang paling mulia dalam Islam.
    Oleh sebab itu Allah Subhannahu wa Ta'ala menjadikannya sebagai salah satu rukun Islam
    yang dengannya Islam tetap tegak di muka bumi ini.... Read More
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • All
  • Artikel
  • Download
  • Kajian
  • Media
  • Default
  • Title
  • Date
  • Random
  • Alhamdulillah artikel yang telah terkumpul sejak tahun 2008, dapat menjadi alternatif sarana referensi Islam dari sumber yang benar. Biidznillah...
    Read More
    • Artikel
  • Al-qur'an yang merupakan firman Allah Subhaanahuwata'aala. Berisi ta'rif Al-Qur'an, kumpulan audio maupun image yang bisa didownload.
    Read More
    • Artikel
    • Download
    • Media
  • Media, Artikel dan Materi yang berkaitan dengan Haji dan Umrah. InsyaAllah sangat membantu bagi saudara-saudarakuku yang baru pertama kali berkunjung
    Read More
    • Artikel
    • Download
    • Media
load more hold SHIFT key to load all load all

2.11 Bersumpah dengan Nama Selain Allah Ta'ala, Bertawasul dan Meminta Pertolongan kepada Selain Allah Ta'ala

20 Okt 2011

A. Bersumpah dengan Nama Selain Allah

Sumpah (الحلـف) adalah penegasan keputusan dengan menyebutkan nama yang diagungkan secara khusus. Sedangkan pengagungan itu adalah hak Allah semata, karena itu tidak dibolehkan bersumpah dengan selainNya. Para ulama secara ijma' (konsensus) menyatakan bahwa sumpah itu tidak dibolehkan kecuali dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala atau dengan Asma' dan sifatNya, dan secara ijma’ pula mereka menyatakan dilarangnya bersumpah dengan menyebut nama selain Allah Subhanahu waTa’ala .(1) Bersumpah dengan nama selain Allah adalah syirik, berdasarkan riwayat Ibnu Umar radiyallaahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau berlaku syirik."(HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim).

Dan ia termasuk syirik kecil, tetapi jika yang dijadikan sebagai sumpah itu diagungkan oleh orang yang bersumpah sampai ke derajat menyembahnya maka ia adalah syirik besar.

Bersumpah adalah pengagungan terhadap yang dijadikan sumpah dan tidak pantas kecuali dengan nama Allah. Oleh karena itu, sumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala hendaknya dimuliakan, tidak memperbanyak sumpah denganNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan jagalah sumpahmu." (Al- Ma'idah: 89).

Artinya, jangan bersumpah kecuali dalam keadaan membutuhkanya dan dalam keadaan benar serta jujur. Karena memperbanyak sumpah atau berdusta di dalamnya menunjukkan pelecehan terhadap Allah serta tidak mengagungkanNya, dan hal itu menafikan kesempurnaan tauhid. Dalam hadits disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ أُشَيْمِطٌ زَانٍ وَعَاثِلٌ مُسْتَكْبِرٌ، وَجَاءَ فِيْهِ: وَرَجُلٌ جَعَلَ اللَّهَ بِضَاعَتَهُ لاَ يَشْتَرِيْ إِلَّا بِيَمِيْنِهِ وَلَا يَبِيْعُ إِلاَّ بِيَمِيْنِهِ.

"Tiga orang, yang mereka itu tidak diajak bicara dan tidak disucikan Allah (pada Hari Kiamat) dan mereka menerima adzab yang pedih, yaitu orang yang sudah beruban (tua) yang melakukan zina, orang melarat yang congkak dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, ia tidak membeli dan tidak pula menjual kecuali dengan bersumpah." (HR. ath-Thabrani dengan sanad shahih).

Hadits di atas memberikan ancaman yang keras terhadap orang yang banyak bersumpah, sesuatu yang menunjukkan haramnya hal tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap Nama Allah Subhanahu waTa’ala dan pengagungan terhadapNya.

Demikianlah pula diharamkan bersumpah dengan nama Allah secara dusta, yakni al-yamin al-ghamus. Dan Allah Subhanahu waTa’ala telah menyifati orang-orang munafik bahwasanya mereka itu bersumpah secara dusta, padahal mereka mengetahuinya.

Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan,

1. Haram bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala , seperti bersumpah dengan amanah, Ka'bah atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , dan bahwa semua itu adalah syirik.

2. Haram bersumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala secara dusta dengan sengaja, dan itulah yang disebut dengan al-yamin al-ghamus.

3. Haram memperbanyak sumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala , meskipun benar, jika hal itu tidak diperlukan.

4. Dibolehkan bersumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala jika benar dan dalam keadaan dibutuhkan.

B. Tawassul

Yaitu mendekatkan diri dan berupaya sampai kepada sesuatu, wasilah yaitu keadaan kedekatan, atau apa yang mendekatkan kepada orang lain.
Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya." (Al-Ma'idah: 35).

Yakni dengan mentaatiNya dan mengikuti keridhaanNya. Tawassul ada dua macam: Tawassul yang dibolehkan dan tawassul yang tidak dibolehkan.

Pertama, tawassul yang dibolehkan

Tawassul yang dibolehkan ada beberapa macam:

1. Tawassul kepada Allah dengan Asma' dan SifatNya, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan hal tersebut dalam firmanNya,

Artinya:"Hanya milik Allah Asma'ul Husna (nama-nama yang indah) maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma'ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Asma'Nya, nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180).

2. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan iman dan amal shalih yang dilakukan oleh orang yang bertawassul. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang orang-orang yang beriman,

Artinya:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Ali Imran: 193).

Sebagaimana juga terdapat dalam hadits tentang tiga orang yang keruntuhan batu besar sehingga menutup pintu gua (tempat mereka singgah), dan mereka tidak bisa keluar daripadanya, lalu mereka bertawassul dengan amal shalih mereka, sehingga Allah Subhanahu waTa’ala membukanya dan mereka keluar pergi.

3. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mentauhidkanNya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yunus ’alaihissalam,

Artinya:"Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau." (Al-Anbiya': 87).

4. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan menampakkan kelemahan, hajat dan kebutuhan kepada Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana dikatakan oleh Ayyub ’alaihissalam,

Artinya:"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (Al-Anbiya' : 83).

5. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan doa orang-orang shalih yang masih hidup. Hal itu sebagaimana ketika para sahabat mengalami kekeringan lalu mereka meminta kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar berdoa untuk mereka, dan ketika beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam meninggal, mereka meminta kepada pamannya, Abbas Radiyallaahu ‘anhu, lalu ia pun berdoa untuk mereka.

6. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mengakui dosa-dosa.Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku'." (Al-Qashash: 16)

Kedua, Tawassul yang tidak diperbolehkan

Tawassul yang tidak diperbolehkan ada empat macam:

1. Tawassul dengan meminta doa kepada orang mati. Ini tidak boleh. Karena mayit tidak mampu berdoa seperti ketika dia masih hidup. Meminta syafaat kepada orang mati juga tidak dibolehkan. Karena Umar bin al-Khaththab, Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan para sahabat yang bersama mereka, juga para tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul dan meminta syafaat kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-Abbas dan Yazid bin al-Aswad Radiyallallahu ‘anhumaa. Mereka tidak bertawassul, meminta syafaat dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik di kuburan beliau atau di kuburan orang lain, tetapi mereka mencari pangganti (dengan orang yang masih hidup) seperti al-Abbas dan Yazid. Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu, berkata, "Ya Allah, dulu kami bertawassul kepadaMu dengan NabiMu, sehingga Engkau memberi kami hujan, dan kini kami bertawassul dengan paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami." Mereka menjadikannya sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak bisa bertawassul dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sesuai dengan yang disyariatkan sebagaimana yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang ke kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan bertawassul dengan beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam, demikian itu jika diperbolehkan. Dan mereka meninggalkan hal tersebut merupakan bukti tidak dibolehkannya bertawassul dengan orang-orang mati, baik dengan meminta doa atau syafaat kepada mereka. Seandainya meminta doa atau syafaat kepada orang mati atau hidup itu sama saja, tentu mereka tidak berpaling kepada orang lain yang lebih rendah derajatnya.

2. Tawassul dengan kedudukan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam atau kedudukan selainnya. Ini tidak boleh. Adapun hadits yang berbunyi,

إَذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ، فَإِنَّ جَاهِيَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيْمٌ

"Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah kepadaNya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah adalah agung."

Hadits di atas adalah hadits yang didustakan atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak dimuat dalam kitab-kitab umat Islam yang menjadi sandaran, juga tidak seorang ulama pun yang menyebutnya sebagai hadits.( 2) Dan jika tidak ada satu pun dalil shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.

3. Tawassul dengan dzat makhluk-makhluk. Ini tidak boleh. Sebab jika ba' (اَلْـبَاءُ ) tersebut untuk sumpah maka berarti sumpah dengannya terhadap Allah Subhanahu waTa’ala . Jika sumpah makhluk terhadap makhluk tidak dibolehkan, bahkan syirik, sebagaimana disebutkan dalam hadits, lalu bagaimana sumpah makhluk terhadap al-Khaliq (Sang Pencipta).

Dan jika ba' tersebut menunjukan sebab (لِلسَّبَبِيَّةِ) maka sungguh Allah tidak menjadikan permohonan kepada makhluk sebagai sebab dikabulkannya doa dan ia tidak mensyariatkan hal tersebut kepada para hambaNya.

4. Tawassul dengan hak makhluk. Ini tidak boleh pula karena dua alasan.

Pertama, bahwasanya Allah Subhanahu waTa’ala tidak wajib memenuhi hak atas seseorang (makhluk), tetapi sebaliknya Allah Subhanahu waTa’ala yang menganugerahi hak tersebut kepada makhlukNya sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman." (Ar-Rum: 47).

Orang yang taat mendapatkan balasan (kebaikan) dari Allah Subhanahu waTa’ala adalah karena anugerah dan nikmat, dan tidak karena balasan setara sebagaimana makhluk kepada makhluk yang lain.

Kedua, yang dianugerahkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada hambaNya adalah hak khusus bagi dirinya dan tidak ada kaitannya dengan orang lain dalam hak tersebut. Jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia bukan yang berhak berarti dia bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dia dengan hal tersebut, dan tidak bermanfaat untuknya sama sekali.
Adapun hadits yang berbunyi,

أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ.

"Aku memohon kepadaMu dengan hak orang-orang yang memohon." (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Maka ini adalah hadits yang tidak tetap dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena di dalam sanadnya terdapat Athiyyah al-Aufi dan ia adalah perawi dha'if yang disepakati kedha'ifannya, demikian seperti yang dikatakan oleh para ahli hadits. Jika demikian halnya, maka tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah penting ini, yang termasuk masalah akidah.

C. Hukum Isti'anah dan Istighatsah dengan Makhluk

Istianah artinya, meminta pertolongan dan dukungan dalam suatu urusan. Sedang istighatsah berarti meminta dihilangkannya kesulitan (kesukaran). Isti'anah dan istighatsah kepada makhluk ada dua macam:

Pertama, isti'anah dan istighatsah kepada makhluk yang ia mampu melakukannya. Ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (Al-Ma'idah: 2).
Dan dalam kisah Musa Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya." (Al-Qashash: 15).

Juga seperti seseorang yang meminta bantuan kawan-kawannya dalam peperangan atau lainnya dari hal-hal yang bisa dilakukan oleh makhluk.

Kedua, isti'anah dan istighatsah kepada mahluk dalam hal yang manusia tidak mampu kecuali Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana isti'anah dan istighatsah kepada orang-orang mati atau isti'anah dan istighatsah terhadap orang dalam hal yang ia tidak mampu kecuali Allah, misalnya dalam menyembuhkan penyakit, menghilangkan kesusahan dan menolak bahaya. Isti'anah dan istighatsah jenis ini tidak dibolehkan bahkan termasuk syirik besar.

Pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ada seorang munafik yang menyakiti orang mukminin. Maka sebagian sahabat mengatakan, 'Bangkitlah bersama kami untuk beristighatsah kepada Rasullullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dari orang-orang munafik ini!' Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لاَ يُسْتَغَاثُ بِيْ وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ.

"Sesungguhnya istighatsah itu tidak (boleh dimintakan) kepadaku, tetapi istighatsah itu kepada Allah." (HR. ath-Thabrani).

Jika dalam perkara yang bisa dilakukan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hidupnya itu dijawab demikian, maka bagaimana pula dengan istighatsah kepada beliau setelah beliau wafat, serta dimintai perkara-perkara yang beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mampu kecuali Allah Subhanahu waTa’ala ? Dan jika hal tersebut tidak boleh dilakukan terhadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, tentu orang lain lebih tidak pantas lagi.

2.10 Tentang Ruqyah dan Tamimah

20 Okt 2011

A. Ruqyah

الرُّقَى adalah jama' dari رُقْيَـةٌ artinya mantera atau jampi-jampi yang digunakan untuk mengobati orang yang terkena musibah, misalnya orang terkena penyakit panas, kemasukan jin atau musibah lainya. Ruqyah juga disebut azimah, terdiri atas dua macam: Yang bebas dari unsur syirik dan yang tidak lepas dari unsur syirik.

Pertama, ruqyah yang bebas dari unsur syirik

Yaitu dengan membacakan kepada si sakit sebagian ayat-ayat al-Qur'an atau dimohonkan perlindungan untuknya dengan Asma' dan sifat Allah Subhanahu waTa’ala. Hal ini dibolehkan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah meruqyah (menjampi) dan beliau memerintahkan untuk meruqyah serta membolehkannya.

Dari Auf bin Malik radiyallaahu ‘anhu ia berkata, "Kami diruqyah ketika masa Jahiliyah, lalu kami tanyakan, 'Wahai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bagaimana pendapat baginda tentang hal itu?' Maka beliau bersabda,

اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَالَمْ تَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

"Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku, tidak mengapa ruqyah selama tidak mengandung syirik." (HR. Muslim).

As-Suyuthi berkata, "Para ulama sepakat tentang dibolehkannya ruqyah bila memenuhi tiga syarat.
Pertama, hendaknya dilakukan dengan kalamullah (al-Qur'an) atau dengan Asma' dan sifatNya.
Kedua, hendaknya dengan bahasa Arab atau yang diketahui maknanya.
Ketiga, hendaknya di yakini bahwa ruqyah tersebut tidak terpengaruh dengan sendirinya, tetapi dengan takdir Allah Subhanahu waTa’ala.(1)

Caranya, hendaknya dibacakan kemudian dihembuskan kepada si sakit, atau dibacakan di air kemudian air itu diminumkan kepada si sakit, sebagaimana disebutkan dalam hadits Tsabit bin Qais.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ تُرَابًا مِنْ بَطْحَانَ فَجَعَلَهُ فِيْ قَدَحٍ ثُمَّ نَفَثَ عَلَيْهِ بِمَاءٍ وَصَبَّهُ عَلَيْهِ.

"Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengambil tanah dari lembah Bathhan lalu diletakkannya di gelas, kemudian beliau menyemburkan air padanya (orang yang sakit) dan menuangkannya di atasnya." (HR. Abu Daud).

Kedua, ruqyah yang tidak lepas dari unsur syirik

Ruqyah jenis ini di dalamnya terdapat permohonan pertolongan kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, yaitu dengan berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, meminta pertolongan dan berlindung kepadanya, misalnya meruqyah dengan nama-nama jin, atau nama-nama malaikat para nabi dan orang-orang shalih. Hal ini termasuk berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, dan ia adalah syirik besar. Termasuk ruqyah jenis ini adalah yang dilakukan dengan selain bahasa Arab atau yang tidak dipahami maknanya, sebab ditakutkan akan kemasukan unsur kekufuran atau kesyirikan sedang ia tidak mengetahuinya. Ruqyah jenis ini adalah ruqyah yang dilarang.

B. Tamimah

التّمَائِمُ adalah jama' dari تَمِيْمَـةٌ yaitu sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal penyakit 'ain (kena mata), dan terkadang juga dikalungkan pada leher orang-orang dewasa dan wanita.

Tamimah ada dua macam: Tamimah dari al-Qur'an dan tamimah selain dari al-Qur'an.

Pertama, Tamimah dari al-Qur'an
Yakni dengan menuliskan ayat-ayat al-Qur'an atau Asma' dan Sifat Allah Subhanahu waTa’ala kemudian dikalungkan di leher untuk memohon kesembuhan dengan perantaraannya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengalungkan Tamimah jenis ini dalam dua pendapat.

Pendapat pertama, ia dibolehkan. Ini adalah pendapat sekelompok sahabat, di antaranya Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radiyallaahu ‘anhu. Ini pulalah makna tekstual apa yang diriwayatkan Aisyah. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu Ja'far al-Baqir dan Ahmad bin Hanbal , menurut salah satu riwayat dari beliau. Mereka mengkhususkan hadits yang melarang mengalungkan tamimah pada tamimah yang di dalamnya terdapat syirik.

Pendapat kedua, ia dilarang. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sekelompok sahabat, di antaranya adalah Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas radiyallaahu ‘anhumaa. Ini pulalah pendapat Hudzaifah, Uqbah bin Amir dan Ibnu Ukaim. Sekelompok tabi'in juga menguatkan pendapat ini, di antaranya para sahabat Ibnu Mas'ud radiyallaahu ‘anhu dan Ahmad rahimahullaah dalam suatu riwayat yang kemudian dipilih oleh sebagian besar pengikutnya dan para ulama muta'akhkhirin memastikan pendapat ini dengan mendasarkan pada riwayat Ibnu Mas'ud radiyallaahu ‘anhu , ia berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.

"Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan tiwalah (pelet) adalah syirik." (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Pendapat kedua adalah yang benar karena tiga alasan:

1. Keumuman larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , serta tak ada dalil yang menghususkanya.
2. Untuk tindakan prefentif, karena hal itu menyebabkan dikalungkannya sesuatu yang tidak dibolehkan.

3. Bahwasanya jika ia mengalungkan sesuatu dari ayat al-Qur'an maka hal itu menyebabkan pemakaiannya menghinakan, misalnya dengan membawanya waktu buang hajat, istinja'(1) atau lainnya.(2)

Kedua, Tamimah selain dari al-Qur'an.

Tamimah jenis ini biasanya dikalungkan pada leher seseorang, seperti tulang, rumah kerang, benang, sandal, paku, nama-nama setan dan jin serta jimat. Tak diragukan lagi bahwa ini adalah diharamkan dan termasuk syirik, sebab menggantungkan kepada selain Allah, Asma', sifat dan ayat-ayatNya.

Kewajiban setiap Muslim adalah menjaga akidahnya dari sesuatu yang akan merusaknya atau mengurangi kesempurnaannya. Karena itu hendaknya ia tidak mengkonsumsi obat-obatan yang tidak diperbolehkan, tidak pergi kepada orang-orang yang sesat dan tukang sulap untuk mengobati penyakit-penyakit mereka, sebab justru mereka itu yang menyebabkan sakitnya hati dan akidahnya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah Subhanahu waTa’ala, niscaya cukuplah baginya.

Sebagian orang ada yang menggantungkan berbagai hal tersebut pada dirinya, sementara ia tidak dalam keadaan sakit. Ia hanyalah sakit ilusi yakni ketakutan terhadap orang yang iri hati dan dengki. Atau ia menggantungkan berbagai hal tersebut di mobil, kendaraan, pintu rumah dan tokonya. Semua ini merupakan bukti kelemahan akidah serta tawakalnya kepada Allah Subhanahu waTa’ala. Sungguh, kelemahan akidah itulah hakikat sakit yang sesungguhnya yang wajib diobati dengan mengetahui tauhid dan akidah yang benar.

2.9 Pandangan Materialistis terhadap Kehidupan dan Bahaya-bahayanya

20 Okt 2011

Ada dua sudut pandang terhadap kehidupan dunia. Pertama, pandangan materialistis; dan kedua, pandangan yang benar. Masing-masing sudut pandang tersebut memiliki pengaruhnya tersendiri.

A. Makna Pandangan Materialistis Terhadap Dunia

Yaitu pemikiran seseorang yang hanya terbatas pada bagaimana mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, sehingga apa yang diusahakannya hanya seputar masalah tersebut. Pikirannya tidak melampaui hal tersebut, ia tidak mempedulikan akibat-akibatnya, tidak pula berbuat dan memperhatikan masalah tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. Allah Subhanahu waTa’alaq menjadikan dunia ini sebagai kampung beramal dan akhirat sebagai kampung balasan. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal shalih, niscaya ia mendapatkan keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya barangsiapa menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj: 11).

Allah Subhanahu waTa’ala tidak menciptakan dunia ini untuk main-main, tetapi Allah Subhanahu waTa’ala menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2).

Artinya:"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7).

Demikianlah, Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan di atas dunia ini berbagai kenikmatan sesaat dan perhiasan lahiriyah, baik berupa harta, anak-anak, pangkat, kekuasaan dan berbagai macam kenikmatan lain yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu waTa’ala.

Di antara manusia dan jumlah mereka mayoritas ada yang menyempitkan pandangannya hanya pada lahiriyah dan kenikmatan-kenikmatan dunia semata. Mereka memuaskan nafsunya dengan berbagai hal tersebut dan tidak merenungkan rahasia di balik itu. Karenanya, mereka sibuk untuk mendapatkan dan mengumpulkan dunia dengan melupakan amal untuk sesudah mati. Bahkan mereka mengingkari adanya kehidupan selain kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan!" (Al-An'am: 29).

Allah Subhanahu waTa’ala mengancam orang yang memiliki pandangan seperti ini terhadap dunia, sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan dunia itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 7-8).

Artinya:"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).

Ancaman di atas berlaku bagi semua yang memiliki pandangan materialistis tersebut, mereka yang memiliki amal akhirat, tetapi menghendaki kehidupan dunia, seperti orang-orang munafik, orang-orang yang berpura-pura dengan amal perbuatan mereka atau orang-orang kafir yang tidak percaya terhadap adanya kebangkitan dan hisab (Perhitungan amal). Sebagaimana keadaan orang-orang Jahiliyah dan aliran-aliran destruktif (merusak) seperti kapitalisme, komunisme, sekulerisme dan atheisme. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui nilai kehidupan dan pandangan mereka terhadap dunia tidak lebih dari pandangan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Sebab mereka menafikan akal mereka, menundukkan kemampuan mereka dan menyia-nyiakan waktu mereka yang tidak akan kekal untuknya, juga mereka tidak melakukan amalan untuk tempat kembali mereka yang telah menunggu, dan mereka pasti menuju kesana. Adapun binatang, maka tidak ada tempat kembali yang menunggunya, juga tidak memiliki akal untuk berfikir seperti manusia, karena itu Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,

Artinya:"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (Al- Furqan: 44).

Allah Subhanahu waTa’ala menyifati orang-orang yang memiliki pandangan ini dengan sifat tidak memiliki ilmu. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Ruum: 6-7).

Meskipun mereka ahli di bidang berbagai penemuan dan industri, tetapi pada hakikatnya mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas mendapatkan julukan alim, sebab ilmu mereka tidak lebih dari ilmu lahiriyah kehidupan dunia, sedang ia adalah ilmu yang dangkal, sehingga memang tidak selayaknya para pemilik mendapat gelar mulia, yakni gelar ulama, tetapi gelar ini diberikan kepada orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu waTa’ala dan takut kepadaNya, sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama." (Fathir: 28).
Termasuk pandangan materialistis terhadap kehidupan dunia ini adalah apa yang disebutkan Allah Subhanahu waTa’ala dalam kisah Qarun dan kekayaan yang diberikan kepadanya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'." (Al-Qashash: 79).

Mereka mengangan-angankan dan menginginkan memiliki kekayaan seperti Qarun seraya menyifatinya telah mendapatkan keberuntungan yang besar, yakni berdasarkan pandangan mereka yang materialistis. Hal ini seperti keadaan sekarang di negara-negara kafir yang memiliki kemajuan di bidang teknologi industri dan ekonomi, lalu umat Islam yang lemah imannya memandang mereka dengan pandangan kekaguman tanpa melihat kekufuran mereka serta apa yang bakal menimpa mereka dari kesudahan yang buruk. Pandangan yang salah ini lalu mendorong mereka mengagungkan orang-orang kafir dan memuliakan mereka dalam jiwa mereka serta menyerupai mereka dalam tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang buruk. Ironisnya, mereka tidak meniru dalam kesemangatan mereka, dalam mempersiapkan kekuatan serta hal-hal bermanfaat lainnya, misalnya di bidang penemuan-penemuan dan teknologi.

B. Pandangan yang Benar Terhadap Kehidupan

Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa apa yang ada di dunia ini, baik harta kekuasaan dan kekuatan materi lainnya hanyalah sebagai sarana untuk amal akhirat. Karena itu, pada hakikatnya dunia bukanlah tercela karena dirinya, tetapi pujian atau celaan itu tergantung pada perbuatan hamba di dalamnya. Dunia ini adalah jembatan penyeberangan menuju akhirat dan dari padanya bakal menuju surga. Dan kehidupan baik yang diperoleh penduduk surga tidak lain kecuali berdasarkan apa yang telah mereka tanam ketika di dunia. Maka dunia adalah kampung jihad, shalat, puasa, dan infak di jalan Allah Subhanahu waTa’ala, serta medan laga untuk berlomba dalam kebaikan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman kepada penduduk surga,

Artinya:"(Kepada mereka dikatakan), 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (ketika di dunia)." (Al-Haqqah: 24).

Artikel Pilihan

  • Do'a dan Dzikir
  • Online E-book
  • Ulama
  • Penting

Do'a dan Dzikir dua kata yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang muslim. Berdzikir kepada Allah merupakan kesibukan yang terbaik, dan cara yang paling utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi.

pagi petang

Dzikir Pagi dan Petang

Dzikir yang selayaknya dibaca setiap pagi setelah subuh dan petang sebelum maghrib.

 
doa sholat

Dzikir Setelah Sholat

Dzikir setelah Sholat yang benar sesuai contoh Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam.

Demikian juga do'a-do'a dalam sholat malam.

tidur

Do'a dan Dzikir sebelum Tidur

Beberapa dzikir dan do'a yang diamalkan sebelum tidur.

Dan beberapa do'a yang diambil dari Al-Qur'an.

 
*) Klik pada gambar untuk membuka link Read More

Online E-book dari beberapa kitab yang masyhur di kalangan penuntut ilmu, dalam bentuk chm online. Akan tetapi hanya bisa dibaca melalui perangkat komputer. Untuk membaca menggunakan handphone belum tersedia.

bulughul maram

Bulughul Maram

Kitab yang masyhur dari Ibnu Hajar al-'Asqalani rahimahullah.

 
syarhus sunnah

Syarhus Sunnah

Syarhus Sunnah: Kupas Tuntas Tentang Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam.

Imam Abu Muhammad Al Barbahari rahimahullah.

kitab tauhid

Kitab Tauhid

Tiga jilid kitab yang dikarang oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan dan Team Ahli Tauhid.

Dan beberapa kitab lainnya...

 
Read More
biografi ulama

Ulama Ahlul Hadist

Berisi Ulama Ahlussunnah dari zaman sahabat hingga sekarang.

fatwa ulama

Biografi Ulama

Beberapa artikel tentang biografi ulama.

 
fatwa ulama

Fatwa Ulama

Beberapa fatwa ulama yang dapat dijadikan rujukan.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berpendapat tentang Al-Qur’an dengan akal fikirannya dan ternyata benar maka dia telah salah”.

Kewajiban berfatwa dengan bersandarkan pada ilmu syari termasuk kaidah yang telah ditetapkan (oleh para ulama).

 

 

Read More

 

Kasyfu subhat

Kasyfu Syubhat

Kitab Kasyfu Syubuhat adalah kitab dalam masalah penetapan tauhid dan pengingkaran terhadap syirik dan penjelasan hakikat keduanya.

 
10 kunci rezeki

10 Kunci-kunci Rezeki

Pembuka Kunci-kunci Rezeki Berdasarkan kitab Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 
bidah sesat

Bid'ahSesat

Berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah adalah kunci keselamatan

dari terjerumusnya kepada bid’ah dan kesesatan.

pembatal islam

10 Pembatal IslamPembatal Islam

"Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid," sepuluh sebab yang menyebabkan batalnya keislaman seseorang.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi.

 
Read More

Langganan Artikel

Hubungi Kami

  • Ahlan wasahlan... khusus bagi antum yang ingin memberikan saran, masukan, kritik dan nasehat yang membangun. Silakan tinggalkan pesan ... Read More
    Admin Al-Quran Sunnah
  • 1

Kajian Terbaru

Radio Dakwah

Klik 'tuk 'ndengerin radio online

banner_60_150

Video Kajian

Get the Flash Player to see this player.

Keluarkan Playerbox (pop up)

 

Video Kajian Lengkap

Tamu Online

Saat ini ada 411 tamu online.