بسم الله الرحمن الرحيم
📚 ┃Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
🎙┃ Ustadz Dr. Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc Hafidzahullah
- Pembina Ponpes Darush Shalihin
🗓┃Sabtu, 16 Agustus 2025 / 22 Shafar 1446 H
🕰┃ Kajian Dhuha
🕌┃ Masjid Jami' Hubbul Khoir Sukoharjo
Nikmat kemerdekaan adalah karunia besar dari Allah yang tidak boleh disia-siakan. Di tengah bangsa yang merdeka, kita bisa beribadah dengan leluasa, menuntut ilmu dengan tenang, dan membangun masa depan dengan penuh harapan. Namun, nikmat ini bisa menjadi azab jika tidak disyukuri. Berikut ini beberapa langkah nyata untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan menurut pandangan Islam:
1. Mensyukuri dengan Menegakkan Tauhid dan Ibadah
Kemerdekaan sejati adalah ketika hati terlepas dari penghambaan kepada selain Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” - (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Tujuan utama hidup manusia adalah beribadah kepada Allah. Maka, kemerdekaan hakiki bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi bebas dari perbudakan hawa nafsu, dunia, dan sesembahan selain Allah.
Bentuk syukur tertinggi atas kemerdekaan adalah menggunakan kebebasan ini untuk beribadah kepada Allah. Jangan sampai kita lalai dan justru menggunakan kemerdekaan untuk bermaksiat. Karena kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan lahiriah, tetapi juga kesempatan untuk menunaikan ketaatan dengan lebih leluasa.
بسم الله الرحمن الرحيم
📚 Ad-Daa wa Dawaa' #5
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.I Hafidzahullah
🗓┃Sabtu, 16 Agustus 2025 / 22 Shafar 1446 H
🕰┃ Ba'da Subuh
🕌┃ Masjid Al-Ikhlash Safira Residence Kartasura
Ad-Daa wa Dawaa' #5: Berdo'a dengan Ismul A'dzom [Nama-nama Allah ﷻ yang Agung]
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya, Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu setelah melakukan shalat subuh berjama'ah, semoga amalan-amalan kita diterima dan menjadikannya jalan mudah bagi kita menuju surga Allah ﷻ.
Telah berlalu pembahasan hal-hal yang berkaitan dengan do'a:
Ismul A'dzom ( اسم الله الأعظم): Yaitu nama-nama Allah ﷻ yang paling agung, yang diyakini memiliki keutamaan luar biasa dalam doa dan ibadah.
Dzun Nuun adalah sebutan untuk Nabi Yunus ‘alaihis salam yang pernah ditelan oleh ikan. Cobalah kita lihat, betapa mustajabnya doa Nabi Yunus ‘alaihis salam.
Hal ini pernah disebutkan oleh Nabi ﷺ:
دَعْوَةُ ذِى النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِى بَطْنِ الْحُوتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِى شَىْءٍ قَطُّ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ
“Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
ʟᴀᴀ ɪʟᴀᴀʜᴀ ɪʟʟᴀᴀ ᴀɴᴛᴀ ꜱᴜʙʜᴀᴀɴᴀᴋᴀ ɪɴɴɪɪ ᴋᴜɴᴛᴜ ᴍɪɴᴀᴢʜ ᴢʜᴏᴏʟɪᴍɪɪɴ
Tidak ada Sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim.
Selengkapnya: Ad-Daa wa Dawaa' #5: Berdo'a dengan Ismul A'dzom
بسم الله الرحمن الرحيم
📚┃Materi:"Al Qaul Al Mubin fi Huquqi An Nabiyyil Amin"
✍🏼┃Karya: Ustadz Mohammad Alif, Lc Hafidzahullah
🎙┃Pemateri: Ustadz Mohammad Alif, Lc Hafidzahullah (Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari)
🗓┃Hari & Tanggal: Hari Jum'at, 15 Agustus 2025/ 21 Shafar 1447 H
🕰┃Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃Tempat: Masjid Al-Qomar - Jl. Slamet Riyadi No. 414 Rel Bengkong Purwosari, Solo, Jawa Tengah 57142
Telah berlalu pembahasan mengenai hak-hak Nabi ﷺ, yaitu:
باب التصديق بكل ما أخبر به النبي ﷺ
Bab: Membenarkan Apa yang telah Dikabarkan Nabi ﷺ
1. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى. اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
2. Hadits Nabi ﷺ:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ وَقَالُوا أَتَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنْ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوْمَأَ بِأُصْبُعِهِ إِلَى فِيهِ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ] سنن أبي داوود# ٣٦٤٩ [
Dari [Abdullah bin 'Amru] ia berkata: “Dahulu aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah agar aku dapat menghafalkannya. Maka orang-orang Quraisy pun menegurku dan mengatakan: “Apakah kamu menulis seluruh yang kamu dengar dari Rasulullah, sedangkan dia adalah manusia yang terkadang berbicara sambal marah dan ridha.” Setelah itu, akupun berhenti menulis. Lalu aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah. Maka beliau berisyarat dengan jarinya ke mulutnya, seraya bersabda: “Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada yang keluar dari mulutku kecuai kebenaran.” - [H.R. Abu Dawud no. 3646 dan dishahihkan oleh Al-Albani.]
Halaman 113 dari 346