Merenungkan Makna Gerakan dalam Shalat

Merenungkan Makna Gerakan dalam Shalat

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 25 Juni 2023
Dibaca: 56149
  • Ustadz Ammi Nur Baits, ST., BA
  • Tafsir Shalat

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Merenungkan gerakan dalam shalat, bentuknya ada 2:

Pertama, Merenungkan bagaimana cara melakukan gerakan yang sesuai sunah

Modal utama untuk bisa melakukan ini adalah dengan mempelajari sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat. Seperti bagaimana cara melakukan takbiratul ihram yang sesuai sunah, bagaimana cara sedekap yang sesuai sunah, cara rukuk yang benar, cara i'tidal yang benar, dst.

Mengapa harus sesuai sunah?

Karena secara umum, manusia akan semakin yakin dengan amalannya, jika amalan itu sesuai dengan praktek yang dilakukan panutannya. Sehingga, jika anda ingin gerakan shalat anda yakin benar, ikuti praktek shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau pernah menegaskan hal ini dalam sabdanya,

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 6008)

Kata kuncinya adalah jadikan gerakan shalat kita berdalil, sehingga anda bisa berfikir untuk melakukan gerakan sesuai sunah ketika shalat. InsyaaAllah saya akan menyebutkan beberapa rincian sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beberapa gerakan dalam shalat.

Hanya saja, para pembaca yang ingin melihat lebih detail sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat, kami sarankan agar membaca buku: Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah. Buku ini termasuk salah satu karya ilmiah, yang menginspirasi saya untuk belajar shalat lebih serius. Alhamdulillah, sudah banyak edisi terjemah bahasa Indonesia.

Selengkapnya: Merenungkan Makna Gerakan dalam Shalat

Keutamaan Muadzin

Keutamaan Muadzin

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 24 Juni 2023
Dibaca: 2655
  • Fadhlul Islam
  • Shahih Fadhail Amal
  • adzan
  • muadzin

 Bab 1: Keutamaan Shalat

4. Keutamaan Muadzin

Dari Muawiyah radhiallahu ‘anhu, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat nanti” (HR. Muslim No. 387, Ibnu Majah No. 725, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 777

📄 Kosakata

Kata الْمُؤَذِّنِينَ : para penyeru adzan sholat.
Kata أَعْنَاقًا : leher

🏷️ Penjelasan Singkat

Mu'awiyah bin Abu Sufyan Radhiyallahuma, seorang Sahabat Nabi yang juga sebagai penulis wahyu telah membawakan kepada kita kabar gembira dan anugerah Rabbaniyyah melalui lisan Nabi yang suci ini. Maka, berbahagialah para muadzin yang ikhlas semata-mata demi berharap pahala. Dan sepatutnyalah kita berlomba-lomba meraih karunia itu.

Ulama berbeda pendapat mengenai hakikat kemuliaan muadzin ini. Imam an-Nawawi Rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya Syarah Muslim: “Ada yang mengatakan: “Makna hadits di atas adalah, orang yang paling banyak memandang rahmat Allah ﷻ. Karena orang yang memandang itu akan memanjangkan lehernya ke arah sesuatu yang dipandangnya.

Maksudnya, memandang banyaknya pahala yang mereka lihat. Ada juga yang mengatakan: ‘Ketika manusia dikepung oleh banjir keringat di hari Kiamat, leher mereka memanjang sehingga banjir air keringat itu tidak mencapai wajah mereka' Ada juga yang berpendapat: ‘Maksudnya, para muadzin itu merupakan para pemuka dan pemimpin, karena bangsa Arah menyebut para pemuka dan pemimpin sebagai orang-orang yang berleher panjang'. Serta ada juga yang mengatakan. ‘Maksudnya, orang-orang yang paling banyak amalnya.”" (Syarh An-Nawawi 'alaa Muslim I/88).

Selengkapnya: Keutamaan Muadzin

Kasih Sayang Allah sangat Luas

Kasih Sayang Allah sangat Luas

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 24 Juni 2023
Dibaca: 2533
  • Kisah Muslim
  • Taubat

Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Pada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 orang, kemudian ia mencari-cari orang yang paling alim (pandai) di negeri itu, maka ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. lapun lantas datang kepada sang pendeta dan menceritakan bahwasanya ia telah membunuh 99 orang, ia bertanya, 'Apakah masih bisa diterima taubatnya?'

Kemudian sang pendeta mengatakan, "Tidak, taubatmu tidak akan bisa diterima.' Lantas orang itu membunuh sang pendeta tadi maka genaplah menjadi 100 orang. Ia pun mencari-cari lagi orang yang paling alim di negeri itu, maka ia ditunjukkan pada seseorang yang sangat alim. Ia menceritakan bahwa ia telah membunuh 100 orang, maka apakah masih bisa diterima taubat nya? Orang yang sangat alim itu menjawab, 'Ya, masih bisa siapakah yang akan menghalangi seseorang untuk bertaubat! Pergilah ke daerah sana karena penduduk daerah itu menyembah kepada Allah ﷻ. Sembahlah Allah bersama-sama dengan mereka dan janganlah engkau kembali lagi ke kampung halamanmu karena perkampunganmu adalah daerah hitam.'

Maka pergilah orang itu, setelah menempuh jarak kira-kira setengah perjalanan ia mati. Kemudian Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab bertengkar. Malaikat Rahmat membela, 'Ia berangkat ke sana untuk benar-benar bertaubat dan menyerahkan dirinya dengan sepenuh hati kepada Allah ﷻ.' Sedang Malaikat Adzab berkata, 'Sesungguhnya ia belum pernah berbuat kebaikan sedikitpun.'

Lantas seorang malaikat datang dalam bentuk manusia, dan kedua malaikat itu bersepakat menjadikannya sebagai hakim. Malaikat yang menjadi hakim itu berkata, 'Ukurlah olehmu jarak kedua daerah itu, dan kepada daerah yang lebih dekat itulah ketentuan nasibnya'.

Mereka mengukurnya, kemudian mereka mendapatkan daerah yang dituju itulah yang lebih dekat, dengan demikian orang itu dicabut nyawanya dan diterima oleh Malaikat Rahmat."

📖 HR. Al-Bukhari no. 3470; Muslim no. 2766.

Selengkapnya: Kasih Sayang Allah sangat Luas

  • Keutamaan Adzan
  • Istighfar dan Waktu Mengucapkannya
  • 11. Menjaga Rahasia Suami-Isteri
  • Keutamaan Berwudhu ketika Kondisi Sulit
  • Wanita Tukang Sisir Anak Puteri Fir'aun
  • Keutamaan Berwudhu
  • E-Book: 10 Sebab Penggugur Dosa
  • Keluarga Shahibul Qurban Dilarang Memotong Kuku dan Rambut?

Halaman 170 dari 337

  • 165
  • 166
  • 167
  • 168
  • 169
  • 170
  • 171
  • 172
  • 173
  • 174