Enam Pilar Bukti Butuhnya Hamba Kepada Allah Di Masa-masa Sulit

11 Apr 2020

Penyusun : Syaikh Sholeh bin Abdullah al-‘Ushoimiy
Penerjemah : Muhammad Sulhan Jauhari

enam pilarSegala puji bagi Allah yang Maha melakukan apa yang Dia kehendaki dan Maha memutuskan apa yang Dia inginkan. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai persaksian tauhid. Aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan- Nya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas beliau, keluarga dan para sahabatnya, dengan sholawat yang sempurna lagi kekal hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Kaum Mukminin, sesungguhnya butuhnya hamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala merupakan hal penting yang harus ia miliki. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai sekalian manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, dan Allah Dia-lah yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Pentingnya hal tersebut lebih ditekankan lagi pada masa-masa sulit dan ketika adanya hajat di tengah umumnya manusia. Sebab manusia itu, apabila tertimpa kesulitan dan kesempitan, mereka sangat butuh kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Dan butuhnya hamba kepada Allah di dalam Syariat Islam terbukti jelas pada enam pilar agung berikut:

Pilar Pertama: BERIMAN KEPADA TAKDIR ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA

Allah ta’ala berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan takdir-takdirnya dengan tepat.” (QS. al-Furqon: 2)

Allah ta’ala juga berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (QS. al-Qomar: 49)

Maka, sudah sepatutnya seorang hamba beriman kepada takdir Allah subhanahu wa ta'ala dan menghadapinya dengan penuh kesabaran.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sungguh, segala urusannya adalah kebaikan. Dan itu tidaklah dimiliki melainkan oleh seorang mukmin. Apabila tertimpa kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan apabila tertimpa kesulitan ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999 dari hadits Shuhaib ar- Rumiy radhiyaAllahu ‘anhu)

Oleh karena itu, sepatutnya seorang hamba memakmurkan hatinya dengan cara beriman kepada takdir Allah subhanahu wa ta'ala, dan beriman bahwa segala urusan hanya Allah-lah yang Maha mengaturnya, serta segala keputusan hanyalah menjadi milik-Nya. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Apa yang tidak Dia kehendaki niscaya tak akan terjadi.

Pilar Kedua: BERTAWAKAL SECARA SEMPURNA KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA DAN MENYERAHKAN SEGALA URUSAN HANYA KEPADA-NYA

Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

“Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. ath- Thalaq: 3) Maksudnya, Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.

Allah ta’ala pun berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia-lah Maha pelindung kami, dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” (QS. at-Taubah: 51)

Maka itu, sepatutnya seorang hamba bertawakal hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan menyerahkan segala urusannya hanya kepada-Nya. Hendaknya ia tidak mengikuti arus bersama angan-angan yang buruk. Jangan sampai ia menjadi seorang yang lemah yang mudah diombang- ambingkan kesana-kemari oleh berbagai khayalan. Sungguh, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda:

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah. Dan pada keduanya sama-sama ada kebaikan.” (HR. Muslim No. 2664, dari hadits Abu Hurairah radhiyaAllahu ‘anhu)

Pilar Ketiga: KEMBALI KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA DAN BERTAUBAT KEPADA-NYA

Allah ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. ar-Rum: 41)

Maksudnya, bahwa telah tampak kerusakan pada banyak kondisi makhluk di darat dan di laut; pada makanan mereka, minuman mereka, kesehatan mereka, kekuatan mereka, dan pada segala urusan mereka.

Sumber semua itu adalah akibat perbuatan tangan manusia. Allah subhanahu wa ta'ala menginginkan agar mereka merasakan sebagian hukuman, agar mereka kembali (kepada-Nya).

Ibnu Abbas berkata radhiyaAllahu ‘anhuma pada riwayat Ibnul Mundzir: “(Yakni) agar mereka bertaubat.” Beliau juga berkata dalam sebuah redaksi yang juga diriwayatkan Ibnul Mundzir: “Agar mereka kembali” yakni dari berbagai macam kemaksiatan.”

Maka itu, sepatutnya seorang bersungguh- sungguh kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan bertaubat kepada-Nya. Hendaknya ia sadar bahwa tujuan Allah menangguhkan ajalnya dan menampakkan kepadanya sebagian bukti dari kekuatan-Nya, agar ia ingat dan kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ (٤٢) فَلَوْلا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٤٣) فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (٤٤)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan setanpun menampakkan kepada mereka keindahan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong- konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. al-An’aam: 42-44)

Maksudnya, siksa Allah subhanahu wa ta'ala datang kepada mereka secara tiba-tiba. Seketika itu mereka berputus asa dari segala kebaikan.

Maka itu, apabila Allah subhanahu wa ta'ala telah menampakkan kepada makhluk sebagian bukti dari kekuatan-Nya yang semestinya menjadikan mereka kembali, maka hendaknya mereka segera bertaubat kepada Allah azza wa jalla. Jika tidak, maka sungguh bila mereka telah berpaling dari hal itu, hati-hati mereka telah menjadi keras, dan setan menjadikan indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan, lalu Allah azza wa jalla membukakan bagi mereka pintu- pintu kelapangan, hingga apabila mereka telah mendapatkan semuanya dan bergembira dengannya, maka Allah subhanahu wa ta'ala benar-benar menurunkan azab yang pedih yang mereka tidak akan bisa selamat darinya.

Pilar Keempat: HENDAKNYA SEORANG HAMBA MENGAMBIL SEBAB (BERIKHTIYAR)

Karena Allah azza wa jalla berfirman:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kalian menjatuhkan (diri kalian sendiri) ke dalam kebinasaan.” (QS. al- Baqarah: 195)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Janganlah pemilik unta yang sakit menyatukan unta itu dengan unta yang sehat.” (HR. Muslim No. 6115 dari hadits Abu Hurairah radhiyaAllahu ‘anhu)

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

“Menjauhlah dari orang yang menderita lepra (judzam), seperti engkau lari dari singa.” (HR. Ahmad No. 9853, dari hadits Abu Hurairah radhiyaAllahu ‘anhu)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Apabila kalian mendengarnya (yakni wabah) ada di suatu negeri maka janganlah kalian mendatanginya, dan apabila wabah tersebut berada di suatu negeri sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya". (HR. Bukhari)

Maka itu, sudah sepatutnya seorang hamba mengambil sebab (keselamatan) dengan cara menjaga diri dari hal-hal yang dikhawatirkan menimpa dirinya, baik berupa kekurangan maupun penyakit.

Pilar Kelima: UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI PENTING, HENDAKNYA SEORANG BERUSAHA MENGAMBILNYA DARI SUMBER-SUMBER RESMI DAN BERHATI- HATI DARI BERBAGAI ISU (HOAKS)

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ


“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang- orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri).” (QS. an-Nisa: 83)

Maka itu, sepatutnya seorang mengembalikan urusan kepada ahlinya. Hendaknya informasi yang ia ambil sebagai penerangan berasal dari pihak resmi yang khusus mengurusi hal itu, bukan dari selainnya. Ia juga jangan menjadi seperti terompet yang ditiup untuk menyebarkan isu-isu (berita hoaks) di tengah-tengah manusia, sehingga dapat membahayakan agama dan dunia mereka.

Pilar Keenam: HENDAKNYA SEORANG HAMBA BERSUNGGUH-SUNGGUH BERDOA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA, SEBAB “DOA ADALAH IBADAH,”1 SEBAGAIMANA SABDA NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Doa tersebut ada dua macam:

PERTAMA: Doa yang bersifat umum. Yakni seseorang berdoa agar bala’ diangkat, dihindarkan, atau doa-doa semacamnya yang biasa ia panjatkan ketika berdoa. Seperti ucapan, “Ya Allah, lindungilah kami dari bala’ ini, ya Allah hindarkanlah kami dari wabah ini.” Sungguh, doa semacam ini disyariatkan.

Imam al-Bukhari membawakan di dalam kitab Shahih-nya sebuah bab, “Bab: Berdoa Agar Wabah Dan Penyakit Diangkat.” an-Nasa-i dalam kitabnya as-Sunan al-Kubro menulis sebuah bab, “Bab: Berdoa Agar Wabah Dipindahkan.”

Di dalamnya beliau membawakan sebuah hadits bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdoa agar demam kota Madinah dipindahkan ke Juhfah. (HR. al-Bukhari No. 6372, dan an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubro No. 7477 dari hadis Aisyah radhiyaAllahu ‘anha)

Hendaknya seorang memohon kepada Rabb- nya azza wa jalla agar menolak wabah dan bala’ ini dari kaum muslimin secara umum, dan dari negeri ini secara khusus.

KEDUA: Doa khusus berkaitan dengan memohon perlindungan dan penjagaan dari berbagai kekurangan dan penyakit. Doa model kedua ini terbagi menjagi tiga macam:

Doa Pertama: Membaca surat al-Falaq dan an-Naas. Sungguh, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tak ada yang dapat menandingi seorang yang berlindung (kepada Allah) dengan keduanya.” (HR. Abu Dawud, No. 1463, dan an-Nasa-i No. 5430, 54331. Lafal ini milik Abu Dawud dari hadits Uqbah bin Amir radhiyaAllahu ‘anhu)

Maksudnya, apabila seseorang takut sesuatu, hendaknya ia membaca dua surat ini, seraya memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar menjaganya dari apa yang ia takutkan, dimana di antaranya adalah wabah.

Doa Kedua: Sebuah doa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lain, dan dihukumi shahih oleh Ibnu Hibban: Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit sopak, gila, kusta dan segala penyakit buruk lainnya.” (HR. Abu Dawud No. 1554 dari hadits Anas radhiyaAllahu ‘anhu)

Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah dengan doa tersebut. Dan termasuk ke dalam sabda Beliau shallallahu alaihi wa sallam, “dan segala penyakit buruk lainnya” adalah wabah-wabah yang ditakuti oleh manusia. Maka itu, hendaknya seorang berdoa dengan kalimat ini.

Doa Ketiga: Yaitu sebuah zikir di waktu pagi dan sore hari, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lain: Bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، إِلاَّ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ

“Tidaklah seorang hamba di setiap pagi dan sore hari membaca kalimat, “bismillaahil- ladzii laa yadhurru ma’as-mihi syai-un fil- ardhi wa laa fis-samaa’ wa huwas-samii’ul- ‘aliim,” (dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di langit dan di bumi tak akan membahayakan, dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui) sebanyak tiga kali, lalu ada sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.”

Pada riwayat Abu Dawud: “Maka tidak akan membahayakannya bala’ yang datang secara tiba-tiba.” (HR. Abu Dawud No. 5088, at- Tirmidzi, No. 3388, dan Ibnu Majah No. 3869 dari hadits Utsman bin Affan radhiyaAllahu ‘anhu)
Oleh karenanya, di antara kalimat doa yang dapat menjaga seseorang dari berbagai wabah adalah doa yang biasa diucapkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada pagi dan sore hari sebanyak tiga kali tersebut.

Itulah enam pilar, dimana sudah sepatutnya seorang berantusias untuk melaksanakan dan mengamalkannya. Kesemuanya merupakan bukti teragung akan butuhnya kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala pada kondisi- kondisi dimana wabah ini menjerumuskan banyak manusia kepada rasa takut dan kematian. Yang dapat menjaga diri dari semua itu yaitu dengan segera berlindung kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan senantiasa merasa butuh kepada-Nya, dimana bukti terbesarnya adalah enam pilar tersebut di atas.

Aku memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar segera menghilangkan wabah ini dari kaum muslimin secara umum, dan dari negeri kita secara khusus. Semoga Allah senantiasa menjaga keislaman kita baik ketika berdiri, duduk, maupun pada saat kita tidur. Semoga Allah selalu menjaga kesehatan badan kita, kelapangan rezeki kita, kesempurnaan iman dan keyakinan kita. Dan semoga Allah-pun selalu melindungi dan memerhatikan kita. 

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta.

 Footnote: 1) HR. Tirmidzi no. 2969, 3247, 3372, dan Ibnu Majah no. 3828 dari hadits an-Nu’man bin Basyir radhiyaallahu ‘anhu.

Kuliah singkat ini disampaikan ba’da sholat ashar, Selasa, 15 Rojab, 1441 H di Masjid Jami’ Mush’ab bin Umair di Distrik al-Jazirah kota Riyadh

Download e-book materi ini: Enam Pilar - Syaikh Sholeh Al-Ushoimy