kategori-buku

1.5. Penjelasan Hakikat Jahiliyah, Kefasikan, Kesesatan Keluar dari Keislaman (Riddah), Macam-macam dan Hukumnya

18 Okt 2011

A . Jahiliyah

Jahiliyah adalah keadaan yang ada pada bangsa Arab sebelum Islam, yakni kebodohan tentang Allah, para RasulNya dan syariat agama. Ia berasal dari kata al- jahl (kebodohan) yaitu ketiadaan ilmu. Jahiliyah terbagi menjadi dua macam:

Pertama, Jahiliyah 'Ammah (Jahiliyah Umum).

Yaitu yang terjadi sebelum diutusnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan ia telah berakhir dengan diutusnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam .

Kedua, Jahiliyah Khashshah (Jahiliyah Khusus).

Yakni yang terjadi pada sebagian negara, sebagian daerah dan sebagian orang. Jahiliyah jenis ini masih ada hingga sekarang. Karena itu Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعٌ فِيْ أُمَّتِيْ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ.

"Ada empat (perkara) dalam umatku yang termasuk perkara jahiliyah." (HR .Muslim).

Dan beliau shallallaahu alaihi wasallam bersabda kepada Abu Dzar radiyallaahu 'anhu.

إِنَّكَ امْرُءٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ.

"Sesungguhnya engkau adalah seorang yang masih memiliki (sifat) jahiliyah" (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, nyatalah kesalahan orang yang mengenelarisir jahiliyah pada zaman sekarang hingga mengatakan, jahiliyah pada abad ini atau yang semisalnya. Yang benar adalah hendaknya dikatakan, jahiliyah sebagian orang yang hidup di abad ini, atau mayoritas yang hidup di abad ini. Adapun mengeneralisir jahiliyah, maka hal itu tidak benar dan tidak diperbolehkan, sebab dengan diutusnya Nabi shallallaahu alaihi wasallam berarti jahiliyah secara umum itu telah hilang.

B . Kefasikan

Secara bahasa kefasikan اْلفِسْقُ(al-fisq) adalah al-khuruj (keluar). Sedangkan yang dimaksud kefasikan menurut syara' adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Subhanahu waTa’ala.

Kefasikan ada dua macam :

Pertama, Kefasikan yang membuatnya keluar dari agama, yakni kufur. Karena itu orang kafir juga disebut orang fasik, maka ketika menyebut Iblis, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka ia berbuat fasik (mendurhakai) perintah Rabbnya." (Al-Kahfi: 50).

Kefasikan Iblis di atas adalah kekufurannya, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan adapun orang-orang fasik maka tempat mereka adalah neraka." (As-Sajdah: 20).

Yang dimaksud orang-orang fasik di atas adalah orang-orang kafir, hal itu sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu waTa’ala sesudahnya:

Artinya:"Setiap kali mereka hendak keluar dari padanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya'." (As-Sajdah: 20).

Kedua, kefasikan yang tidak membuat seseorang keluar dari agama, sehingga orang-orang fasik dari kaum muslimin disebut al-'ashi (pelaku maksiat), dan kefasikan itu tidak mengeluarkannya dari Islam. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan orang- orang yang menuduh wanita-wanita yang baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nur: 4).

Artinya:"Barangsiapa menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengucapkan ucapan-ucapan kotor, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji." (Al-Baqarah : 197).

Dalam menafsirkan kata-kata fasik dalam ayat di atas, para ulama mengatakan, ia adalah perbuatan maksiat.(1)

C. Kesesatan

Kesesatan (الضَّلاَلُ) adalah berpaling dari jalan yang lurus. Ia adalah lawan dari petunjuk (الْهِدَايَةُ), Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya ia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya ia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri." (Al-Isra': 15).

Kesesatan dinisbatkan kepada beberapa makna:

1. Terkadang diartikan kekufuran (الْكُفْرُ), firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Barangsiapa kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan Hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (An-Nisa': 136).

2.Terkadang diartikan kemusyrikan (الشِّرْكُ), firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya"Barangsiapa menyekutukan (sesuatu) dengan Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (An-Nisa': 116) .

3. Terkadang diartikan menyalahi (kebenaran), tetapi di bawah kekufuran, sebagaimana dikatakan, الْفِرَقُ الضَّالَّةُ (kelompok-kelompok yang sesat), artinya yang menyalahi (kebenaran).

4. Terkadang diartikan kesalahan (الْخَطَأ), sebagaimana ucapan Musa alaihissalam,

Artinya:"Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf (salah)." (As-Syu'ara: 20).

5. Terkadang diartikan lupa(النِّسْيَانُ) , Allah Subhanahu waTa’alaberfirman,

"Supaya jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya" (Al- Baqarah : 282).

6. Terkadang diartikan hilang dan tidak ada (الضَّيَاعُ وَالْغَيْبَةُ), seperti dikatakan,ضَالَّةُ اْلإِبِلِ (unta yang hilang).

D. Riddah, Macam- macam dan Hukumnya

Secara bahasa riddah (الرِّدَّة) artinya kembali (الرُّجُوْعُ). Dan menurut istilah syara, riddah berarti kufur setelah Islam, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya" (Al-Baqarah: 217)

Riddah ada empat macam:

1. Riddah dengan ucapan. Seperti mencaci Allah Subhanahu waTa’ala atau RasulNya shallallaahu alaihi wasallam atau malaikat-malaikatNya atau salah seorang dari rasulNya. Atau mengaku mengetahui ilmu ghaib atau membenarkan orang yang mengaku nabi. Atau berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala atau memohon pertolongan kepadanya, sesuatu yang tidak kuasa dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu waTa’ala atau berlindung kepadanya dalam hal yang juga tidak kuasa dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu waTa’ala.

2. Riddah dengan perbuatan. Seperti sujud kepada patung, pohon, batu, kuburan, dan memberikan sembelihan untuknya. Termasuk juga membuang mushaf al-Qur'an di tempat-tempat yang kotor, melakukan sihir, mempelajari dan mengajarkannya serta memutuskan hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala dan meyakini kebolehannya.

3. Riddah dengan kepercayaan (i'tiqad). Seperti kepercayaan adanya sekutu bagi Allah Subhanahu waTa’ala atau kepercayaan bahwa zina, khamar dan riba adalah halal. Atau percaya bahwa roti adalah haram, shalat adalah tidak wajib atau hal semisalnya yang telah disepakati kehalalan, keharaman atau kewajibannya secara ijma' (konsensus) yang pasti, yang tak seorang pun tidak mengetahuinya.

4. Riddah dengan keraguan tentang sesuatu sebagaimana yang disebutkan di atas. Seperti ragu tentang diharamkannya syirik atau diharamkannya zina atau khamr. Atau ragu tentang halalnya roti atau ragu terhadap risalah Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wasallam atau risalah nabi-nabi selainnya, atau ragu tentang kebenarannya, ragu tentang agama Islam atau ragu tentang kesesuaian dengan zaman sekarang.

Konsekuensi Hukum Setelah Terjadinya Riddah

1. Yang bersangkutan diminta untuk bertaubat. Jika bertaubat dan kembali kepada Islam dalam masa tiga hari, maka taubatnya diterima kemudian ia dibiarkan (tidak dibunuh).

2. Jika ia tidak mau bertaubat, maka ia wajib dibunuh, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam ,

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ.

"Barangsiapa mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah dia." (HR. al-Bukhari dan Abu Daud).

3. Dilarang membelanjakan hartanya di saat ia dalam masa diminta untuk bertaubat, jika ia masuk Islam kembali, maka harta itu miliknya, jika tidak maka harta itu menjadi rampasan (fai') Baitul Mal sejak ia dibunuh atau mati karena riddah. Pendapat lain mengatakan, begitu ia jelas-jelas murtad, maka hartanya dibelanjakan untuk kemaslahatan umat Islam.

4. Terputusnya hak waris mewarisi antara dirinya dengan keluarga dekatnya, ia tidak mewarisi harta mereka dan mereka tidak mewarisi hartanya.

5. Jika ia mati atau dibunuh dalam keadaan Riddah, maka ia tidak dimandikan, tidak dishalatkan dan tidak dikubur di kuburan umat Islam. Sebaiknya ia dikubur dikuburan orang-orang kafir atau dipendam dalam tanah, di mana saja, selain di kuburan umat Islam.

1.4. Nifaq, Definisi dan Jenisnya

18 Okt 2011

A. Definsi Nifaq

Nifaq secara bahasa berasal dari kata النّافِقَاءُ (nafiqa') yaitu salah satu lobang tempat keluarnya yarbu (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu maka akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata النفق (nafaq) yaitu lobang tempat bersembunyi.

Nifaq menurut syara' yaitu menampakkan Islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.

B. Jenis Nifaq

Nifaq ada dua jenis : Nifaq I'tiqadi dan Nifaq 'Amali.

Nifaq I'tiqadi (Keyakinan)

Nifaq I'tiqadi (keyakinan) yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan keluar dari agama dan pelakunya berada di dalam kerak neraka. Allah Subhanahu waTa’ala menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh agama untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafik jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti itu mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama umat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Karena itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah Subhanahu waTa’ala , malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan Hari Akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya. Nifaq jenis ini ada empat macam:

  1. Mendustakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
  2. Membenci Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa.
  3. Merasa gembira dengan kemunduran agama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam .
  4. Tidak senang dengan kemenangan agama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam .

Nifaq 'Amali ( perbuatan)

Nifaq amali (perbuatan) yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan perantara (wasilah) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.

"Ada empat hal, yang jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya; bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertikai ia berbuat curang." (Muttafaqun 'alaih).

Terkadang pada diri seorang hamba berkumpul kebiasaan-kebiasaan baik dan kebiasaan-kebiasaan buruk, kebiasaan-kebiasaan iman dan kebiasaan-kebiasaan kufur dan nifaq. Karena itu, ia mendapatkan pahala dan siksa sesuai dengan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan, seperti malas dalam melakukan shalat berjamaah di masjid. Ini adalah di antara sifat orang-orang munafiq. Sifat nifaq adalah sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya, karena itulah sehingga para sahabat begitu sangat takutnya kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam nifaq. Ibnu Abi Mulaikah berkata, "Aku bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam , mereka semua takut kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya".

Perbedaan antara Nifaq Besar dengan Nifaq Kecil :

  1. Nifaq besar mengeluarkan pelakunya dari agama, sedangkan nifaq kecil tidak mengeluarkannya dari agama.
  2. Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan, bukan dalam hal keyakinan. 
  3. Nifaq besar tidak terjadi dari seorang mukmin, sedangkan nifaq kecil bisa terjadi dari seorang mukmin. 
  4. Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertaubat, seandainya pun bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterimanya taubatnya di hadapan hakim. Lain halnya dengan nifaq kecil, pelakunya terkadang bertaubat kepada Allah Subhanahu waTa’ala , sehingga Allah Subhanahu waTa’ala menerima taubatnya.

1.2. Syirik, Definisi dan Jenisnya

18 Okt 2011

A. Definisi Syirik

Syirik yaitu menyamakan selain Allah ‘Azza waJalla dengan Allah ’Azza waJalla dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah Subhanahu waTa’ala, seperti berdoa kepada selain Allah Ta’ala di samping berdo’a kepada Allah Subhanahu waTa’ala, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdoa dan sebagainya kepada selainNya.

Karena itu barangsiapa menyembah selain Allah Subhanahu waTa’ala berarti ia meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak, dan itu adalah kezhaliman yang paling besar. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (Luqman: 13).

Allah Subhanahu waTa’ala tidak akan mengampuni orang musyrik, jika ia meninggal dunia dalam kesyirikannya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." (An-Nisa': 48).

Surga pun diharamkan atas orang musyrik. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Al-Maidah: 72).

Dan Syirik menghapuskan pahala segala amal kebaikan. Allah q berfirman,

Artinya:"Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 88).

Artinya:"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, 'Jika kamu menyekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65).

Artinya:"Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian." (At-Taubah: 5).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَإِذَا قَالُوْهَا عَصَمُوْا مِنّيْ دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا.

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka menyatakan, 'Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah.' Jika mereka telah menyatakannya, niscaya darah dan harta mereka aku lindungi kecuali karena haknya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, syirik adalah dosa yang paling besar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ: اْلإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ.

"Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa yang paling besar?" Kami menjawab, "Ya, wahai Rasulullah!" Beliau bersabda, "Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Syirik adalah suatu kekurangan dan aib yang Allah Ta’ala menyucikan diri dari keduanya. Karena itu, barangsiapa berbuat syirik kepada Allah Subhanahahu waTa’ala, berarti dia menetapkan untuk Allah Azza waJalla apa yang dia menyucikan diri dari padanya. Dan ini adalah puncak pembangkangan, kesombongan, dan permusuhan kepada Allah Ta’ala.

B. Jenis Syirik

Syirik ada dua jenis: Syirik Besar dan Syirik Kecil

SYIRIK BESAR

Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat daripadanya. Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, seperti berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala atau mendekatkan diri kepadanya dengan menyembelih kurban dan nadzar untuk selain Allah Subhanahu waTa’ala , baik untuk kuburan, jin dan setan. Termasuk juga takut kepada orang-orang telah mati, jin atau setan, bahwa mereka bisa membahayakan atau membuatnya sakit, juga mengharapkan sesuatu kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala , yang tidak kuasa melakukannya kecuali Allah Subhanahu waTa’ala , berupa pemenuhan kebutuhan dan menghilangkan kesusahan, hal yang saat ini dilakukan di sekeliling bangunan-bangunan yang didirikan di atas kuburan para wali dan orang-orang shalih di sebagian wilayah Islam. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah'." (Yunus: 18).

Syirik besar ada empat macam:

1. Syirik Dakwah (doa):

Yaitu di samping dia berdoa kepada Allah Subhanahu waTa'ala ia berdoa kepada selainNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah de-ngan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menye-lamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mem-persekutukan (Allah)." (Al-Ankabut: 65).

2. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan:

Yaitu ia menujukan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah Ta’ala. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, nis-caya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usaha-kan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).

3. Syirik Keta'atan:

Yaitu menaati selain Allah q dalam hal maksiat kepada Allah Ta’ala. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (At-Taubah: 31).

4. Syirik Kecintaan (Mahabbah):

Yaitu menyamakan selain Allah Subhanahu waTa’ala dengan Allah Subhanahu waTa’ala dalam hal kecintaan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandi-ngan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah." (Al-Baqarah: 165).

SYIRIK KECIL

Syirik Kecil tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan perantara (wasilah) kepada syirik besar. Syirik kecil ada dua macam.

1. Syirik Nyata (Zhahir):

Yaitu syirik dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ.

"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik." (HR. at-Tirmidzi dan dihasankan-nya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).

Termasuk di dalamnya adalah ucapan, مَا شَاءَ اللّٰهُ وَشِئْتَ (atas kehendak Allah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan kehendakmu). Ibnu Abbas radiyAllahu ‘anhu menuturkan,

لَمَّا قَالَ لَهُ رَجُلٌ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ فَقَالَ: أَجَعَلْتَنِيْ لِله نِدًّا قُلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ.

"Ketika ada seseorang berkata kepada Nabi, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu', maka ketika itu beliau bersabda, 'Apakah engkau menjadikan diriku sebagai sekutu bagi Allah? Katakanlah, 'Hanya atas kehendak Allah saja'." (HR. an-Nasa'i).
Termasuk pula ucapan, "Kalau bukan karena Allah Subhanahu waTa’ala dan karena si fulan." Yang benar adalah hendaknya diucapkan,

مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ فُلاَنٌ

"Atas kehendak Allah Subhanahu waTa’ala kemudian kehendak si fulan."

وَلَوْلاَ اللَّهُ ثُمَّ فُلاَنٌ

"Kalau bukan karena Allah Subhanahu waTa’ala kemudian karena si fulan."
Sebab kata ثُمَّ (kemudian) menunjukkan tertib berurut, yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah Subhanahu waTa’ala .
Sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam." (At-Takwir: 29).

Sedangkanوَ (dan) maka untuk menunjukkan kebersamaan dan persekutuan, tidak menunjukkan tertib berurut. Termasuk dalam larangan ini adalah ucapan 'Tidak ada penolong bagiku kecuali Allah Subhanahu waTa’ala dan engkau', 'Ini adalah atas berkah Allah Subhanahu waTa’ala dan berkahmu.'
Adapun yang berbentuk perbuatan adalah seperti memakai kalung atau benang sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya, atau menggantungkan tamimah(1) karena takut kena 'ain (penyakit mata ed.) atau perbuatan lainnya, jika ia berkeyakinan bahwa perbuatannya tersebut merupakan sebab-sebab pengusir atau penangkal mara bahaya, maka ia termasuk syirik kecil. Sebab Allah Subhanahu waTa’ala tidak menjadikan sebab-sebab (hilangnya mara bahaya) dengan hal-hal tersebut. Sedangkan jika ia berkeyakinan bahwa hal-hal tersebut bisa menolak atau mengusir mara bahaya, maka ia adalah syirik besar, sebab ia berarti menggantungkan diri kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala .

2. Syirik tersembunyi (Khafi):

Yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti ingin dipuji orang (riya') dan ingin didengar orang (sum'ah). Seperti melakukan suatu amal tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu waTa’ala , tetapi untuk mendapatkan pujian manusia, misalnya dengan memperbagus shalatnya atau bersedekah agar dipuji dan disanjung karenanya, atau ia melafazhkan dzikir dan memperindah suaranya dalam bacaan (al-Qur'an) agar didengar orang lain, sehingga mereka menyanjung atau memujinya. Jika riya itu mencampuri (niat) suatu amal, maka amal itu menjadi tertolak. Karena itu, ikhlas dalam beramal adalah sesuatu yang niscaya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia berbuat syirik sedikit pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللَّهِ: وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ.

Artinya:"Yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Beliau menjawab, "Yaitu riya'." (HR. Ahmad, ath-Thabrani dan al-Bagha-wi dalam Syarhus Sunnah).

Termasuk di dalamnya adalah motivasi amal untuk kepentingan duniawi, seperti orang yang menunaikan haji atau berjihad untuk mendapatkan harta benda. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ.

Artinya:"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan celakalah hamba khamilah(1) jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah." (HR. al-Bukhari).

* (1)Khamishah dan khamilah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan diberi sulaman atau garis-garis yang menarik dan indah. Maksud ungkapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam -wallahu a'lam- dengan sabdanya tersebut adalah untuk menunjukkan orang yang sangat ambisi dengan kekayaan duniawi, sehingga menjadi hamba harta benda. Mereka itulah orang-orang yang celaka dan sengsara. (pent).

1.3. Kufur, Definisi dan Jenisnya

18 Okt 2011

A. Definisi Kufur

Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara', kufur adalah tidak beriman kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

B.Jenis Kufur

Kufur ada dua jenis: Kufur Besar dan Kufur Kecil

KUFUR BESAR

Kufur besar bisa mengeluarkan seorang dari agama Islam. Kufur besar ada lima macam:

1. Kufur karena mendustakan, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mendustakan kebenaran tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?" (Al-Ankabut: 68).

2. Kufur karena enggan dan sombong, padahal membenarkan, dalilnya firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Tunduklah kamu kepada Adam.' Lalu mereka tunduk kecuali Iblis; ia enggan dan congkak dan adalah ia termasuk orang-orang kafir." (Al-Baqarah: 34).

3. Kufur karena ragu, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Dan ia memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri; ia berkata, 'Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, niscaya akan kudapati tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.' Temannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya, 'Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun'." (Al-Kahfi: 35-38).

4. Kufur karena berpaling, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan orang-orang kafir itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka." (Al-Ahqaf: 3).

5. Kufur karena nifaq, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Yang demikian itu adalah karena mereka beriman (secara lahirnya, lalu kafir (secara batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti." (Al-Munafiqun: 3).

KUFUR KECIL

Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur 'amali. Kufur 'amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti kufur nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya,

Artinya:"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir." (An-Nahl: 83).

Termasuk juga membunuh orang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِِتَالُهُ كُفْرٌ.

Artinya:"Mencaci orang Islam adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam,

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُم رِقَابَ بَعْضٍ.ٍ

Artinya: "Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Termasuk juga bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala . Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam bersabda,


مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

Artinya:"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik." (At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).
Yang demikian itu karena Allah Subhanahu waTa’ala tetap menjadikan para pelaku dosa sebagai orang-orang mukmin. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh." (Al-Baqarah: 178).
Allah Subhanahu waTa’ala tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan menjadikannya sebagai saudara bagi wali yang (berhak melakukan) qishash(1).
AllahSubhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula)." (Al-Baqarah: 178).
Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat di atas -tanpa diragukan lagi- adalah saudara seagama, berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujurat: 9-10).(1)

Kesimpulan Perbedaan antara Kufur Besar dengan Kufur Kecil:

1. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala) amalnya, tetapi bisa mengurangi (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

2. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal di dalam neraka, sedangkan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah Subhanahu waTa’ala memberikan ampunan kepada pelakunya, sehingga ia tidak masuk neraka sama sekali.

3. Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.

4. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapa pun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kadar kemaksiatannya.

Hal yang sama juga dikatakan dalam perbedaan antara pelaku syirik besar dengan syirik kecil.

1.1. Penyimpangan dalam Kehidupan Manusia

18 Okt 2011

Pada asalnya, manusia adalah bertauhid. Dan bertauhid merupakan fitrah yang dikaruniakan Allah Subhanahu waTa’ala untuk manusia. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah." (Ar-Rum: 30).

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Artinya:"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (beragama Islam ed.), maka kedua ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Karena itu, syirik adalah unsur luar yang menyusup terhadap fitrah tersebut. Dan pertama kali, syirik serta penyimpangan akidah itu terjadi pada kaum Nuh. Mereka menyembah patung-patung. Lalu datanglah Amru bin Luhay al-Khuza'i, dan mengubah agama Ibrahim serta membawa patung-patung ke tanah Arab, dan ke tanah Hijaz secara khusus, sehingga patung-patung itu pun disembah selain Allah Ta’ala. Selanjutnya perbuatan syirik itu menyebar ke negeri suci tersebut dan negeri-negeri tetangganya, sampai kemudian Allah Ta’ala mengutus NabiNya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk menyeru manusia kepada tauhid dan mengikuti agama Ibrahim. Beliau berjuang keras sampai akidah tauhid dan agama Ibrahim kembali lagi dianut. Beliau menghancurkan patung-patung, dengannya Allah Ta’ala menyempurnakan agama ini serta menyempurnakan nikmatNya untuk segenap alam. Demikianlah, generasi-generasi pertama yang diutamakan dari umat ini berjalan di atasnya, sampai kemudian kebodohan (tentang agama) merajalela pada generasi-generasi akhir dan unsur-unsur asing dari agama-agama lain merasukinya, sehingga kembali merebaklah kesyirikan di tengah-tengah umat. Hal yang juga disebabkan oleh da’i-da’i sesat dan didirikannya bangunan-bangunan di atas kuburan sebagai bentuk pengagungan kepada para wali dan orang-orang shalih dengan dalih cinta kepada mereka, hingga dibangun di atas kuburan mereka bangunan-bangunan peringatan, dan dijadikan sembahan-sembahan selain Allah Ta’ala dengan segala bentuk pendekatan, baik dengan do’a, memohon pertolongan, menyembelih (kurban) atau nadzar karena kedudukan mereka. Ini adalah perbuatan syirik dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Adapun terhadap tauhid rububiyah, maka mereka mengakuinya. Dan tidak ada manusia yang mengingkari rububiyah kecuali sedikit sekali, seperti Fir'aun, orang-orang atheis dan komunis pada zaman ini. Tetapi pengingkaran mereka tersebut hanyalah karena kesombongan mereka. Jika tidak, tentu mereka mau tidak mau akan mengakuinya dalam hati dan sanubari mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
Artinya: "Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (An-Naml: 14).