kategori-buku

2.11 Bersumpah dengan Nama Selain Allah Ta'ala, Bertawasul dan Meminta Pertolongan kepada Selain Allah Ta'ala

20 Okt 2011

A. Bersumpah dengan Nama Selain Allah

Sumpah (الحلـف) adalah penegasan keputusan dengan menyebutkan nama yang diagungkan secara khusus. Sedangkan pengagungan itu adalah hak Allah semata, karena itu tidak dibolehkan bersumpah dengan selainNya. Para ulama secara ijma' (konsensus) menyatakan bahwa sumpah itu tidak dibolehkan kecuali dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala atau dengan Asma' dan sifatNya, dan secara ijma’ pula mereka menyatakan dilarangnya bersumpah dengan menyebut nama selain Allah Subhanahu waTa’ala .(1) Bersumpah dengan nama selain Allah adalah syirik, berdasarkan riwayat Ibnu Umar radiyallaahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau berlaku syirik."(HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim).

Dan ia termasuk syirik kecil, tetapi jika yang dijadikan sebagai sumpah itu diagungkan oleh orang yang bersumpah sampai ke derajat menyembahnya maka ia adalah syirik besar.

Bersumpah adalah pengagungan terhadap yang dijadikan sumpah dan tidak pantas kecuali dengan nama Allah. Oleh karena itu, sumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala hendaknya dimuliakan, tidak memperbanyak sumpah denganNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan jagalah sumpahmu." (Al- Ma'idah: 89).

Artinya, jangan bersumpah kecuali dalam keadaan membutuhkanya dan dalam keadaan benar serta jujur. Karena memperbanyak sumpah atau berdusta di dalamnya menunjukkan pelecehan terhadap Allah serta tidak mengagungkanNya, dan hal itu menafikan kesempurnaan tauhid. Dalam hadits disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ أُشَيْمِطٌ زَانٍ وَعَاثِلٌ مُسْتَكْبِرٌ، وَجَاءَ فِيْهِ: وَرَجُلٌ جَعَلَ اللَّهَ بِضَاعَتَهُ لاَ يَشْتَرِيْ إِلَّا بِيَمِيْنِهِ وَلَا يَبِيْعُ إِلاَّ بِيَمِيْنِهِ.

"Tiga orang, yang mereka itu tidak diajak bicara dan tidak disucikan Allah (pada Hari Kiamat) dan mereka menerima adzab yang pedih, yaitu orang yang sudah beruban (tua) yang melakukan zina, orang melarat yang congkak dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, ia tidak membeli dan tidak pula menjual kecuali dengan bersumpah." (HR. ath-Thabrani dengan sanad shahih).

Hadits di atas memberikan ancaman yang keras terhadap orang yang banyak bersumpah, sesuatu yang menunjukkan haramnya hal tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap Nama Allah Subhanahu waTa’ala dan pengagungan terhadapNya.

Demikianlah pula diharamkan bersumpah dengan nama Allah secara dusta, yakni al-yamin al-ghamus. Dan Allah Subhanahu waTa’ala telah menyifati orang-orang munafik bahwasanya mereka itu bersumpah secara dusta, padahal mereka mengetahuinya.

Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan,

1. Haram bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala , seperti bersumpah dengan amanah, Ka'bah atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , dan bahwa semua itu adalah syirik.

2. Haram bersumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala secara dusta dengan sengaja, dan itulah yang disebut dengan al-yamin al-ghamus.

3. Haram memperbanyak sumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala , meskipun benar, jika hal itu tidak diperlukan.

4. Dibolehkan bersumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala jika benar dan dalam keadaan dibutuhkan.

B. Tawassul

Yaitu mendekatkan diri dan berupaya sampai kepada sesuatu, wasilah yaitu keadaan kedekatan, atau apa yang mendekatkan kepada orang lain.
Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya." (Al-Ma'idah: 35).

Yakni dengan mentaatiNya dan mengikuti keridhaanNya. Tawassul ada dua macam: Tawassul yang dibolehkan dan tawassul yang tidak dibolehkan.

Pertama, tawassul yang dibolehkan

Tawassul yang dibolehkan ada beberapa macam:

1. Tawassul kepada Allah dengan Asma' dan SifatNya, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan hal tersebut dalam firmanNya,

Artinya:"Hanya milik Allah Asma'ul Husna (nama-nama yang indah) maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma'ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Asma'Nya, nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180).

2. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan iman dan amal shalih yang dilakukan oleh orang yang bertawassul. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang orang-orang yang beriman,

Artinya:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Ali Imran: 193).

Sebagaimana juga terdapat dalam hadits tentang tiga orang yang keruntuhan batu besar sehingga menutup pintu gua (tempat mereka singgah), dan mereka tidak bisa keluar daripadanya, lalu mereka bertawassul dengan amal shalih mereka, sehingga Allah Subhanahu waTa’ala membukanya dan mereka keluar pergi.

3. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mentauhidkanNya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yunus ’alaihissalam,

Artinya:"Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau." (Al-Anbiya': 87).

4. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan menampakkan kelemahan, hajat dan kebutuhan kepada Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana dikatakan oleh Ayyub ’alaihissalam,

Artinya:"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (Al-Anbiya' : 83).

5. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan doa orang-orang shalih yang masih hidup. Hal itu sebagaimana ketika para sahabat mengalami kekeringan lalu mereka meminta kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar berdoa untuk mereka, dan ketika beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam meninggal, mereka meminta kepada pamannya, Abbas Radiyallaahu ‘anhu, lalu ia pun berdoa untuk mereka.

6. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mengakui dosa-dosa.Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku'." (Al-Qashash: 16)

Kedua, Tawassul yang tidak diperbolehkan

Tawassul yang tidak diperbolehkan ada empat macam:

1. Tawassul dengan meminta doa kepada orang mati. Ini tidak boleh. Karena mayit tidak mampu berdoa seperti ketika dia masih hidup. Meminta syafaat kepada orang mati juga tidak dibolehkan. Karena Umar bin al-Khaththab, Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan para sahabat yang bersama mereka, juga para tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul dan meminta syafaat kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-Abbas dan Yazid bin al-Aswad Radiyallallahu ‘anhumaa. Mereka tidak bertawassul, meminta syafaat dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik di kuburan beliau atau di kuburan orang lain, tetapi mereka mencari pangganti (dengan orang yang masih hidup) seperti al-Abbas dan Yazid. Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu, berkata, "Ya Allah, dulu kami bertawassul kepadaMu dengan NabiMu, sehingga Engkau memberi kami hujan, dan kini kami bertawassul dengan paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami." Mereka menjadikannya sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak bisa bertawassul dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sesuai dengan yang disyariatkan sebagaimana yang pernah mereka lakukan sebelumnya.

Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang ke kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan bertawassul dengan beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam, demikian itu jika diperbolehkan. Dan mereka meninggalkan hal tersebut merupakan bukti tidak dibolehkannya bertawassul dengan orang-orang mati, baik dengan meminta doa atau syafaat kepada mereka. Seandainya meminta doa atau syafaat kepada orang mati atau hidup itu sama saja, tentu mereka tidak berpaling kepada orang lain yang lebih rendah derajatnya.

2. Tawassul dengan kedudukan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam atau kedudukan selainnya. Ini tidak boleh. Adapun hadits yang berbunyi,

إَذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ، فَإِنَّ جَاهِيَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيْمٌ

"Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah kepadaNya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah adalah agung."

Hadits di atas adalah hadits yang didustakan atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak dimuat dalam kitab-kitab umat Islam yang menjadi sandaran, juga tidak seorang ulama pun yang menyebutnya sebagai hadits.( 2) Dan jika tidak ada satu pun dalil shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.

3. Tawassul dengan dzat makhluk-makhluk. Ini tidak boleh. Sebab jika ba' (اَلْـبَاءُ ) tersebut untuk sumpah maka berarti sumpah dengannya terhadap Allah Subhanahu waTa’ala . Jika sumpah makhluk terhadap makhluk tidak dibolehkan, bahkan syirik, sebagaimana disebutkan dalam hadits, lalu bagaimana sumpah makhluk terhadap al-Khaliq (Sang Pencipta).

Dan jika ba' tersebut menunjukan sebab (لِلسَّبَبِيَّةِ) maka sungguh Allah tidak menjadikan permohonan kepada makhluk sebagai sebab dikabulkannya doa dan ia tidak mensyariatkan hal tersebut kepada para hambaNya.

4. Tawassul dengan hak makhluk. Ini tidak boleh pula karena dua alasan.

Pertama, bahwasanya Allah Subhanahu waTa’ala tidak wajib memenuhi hak atas seseorang (makhluk), tetapi sebaliknya Allah Subhanahu waTa’ala yang menganugerahi hak tersebut kepada makhlukNya sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman." (Ar-Rum: 47).

Orang yang taat mendapatkan balasan (kebaikan) dari Allah Subhanahu waTa’ala adalah karena anugerah dan nikmat, dan tidak karena balasan setara sebagaimana makhluk kepada makhluk yang lain.

Kedua, yang dianugerahkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada hambaNya adalah hak khusus bagi dirinya dan tidak ada kaitannya dengan orang lain dalam hak tersebut. Jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia bukan yang berhak berarti dia bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dia dengan hal tersebut, dan tidak bermanfaat untuknya sama sekali.
Adapun hadits yang berbunyi,

أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ.

"Aku memohon kepadaMu dengan hak orang-orang yang memohon." (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Maka ini adalah hadits yang tidak tetap dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena di dalam sanadnya terdapat Athiyyah al-Aufi dan ia adalah perawi dha'if yang disepakati kedha'ifannya, demikian seperti yang dikatakan oleh para ahli hadits. Jika demikian halnya, maka tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah penting ini, yang termasuk masalah akidah.

C. Hukum Isti'anah dan Istighatsah dengan Makhluk

Istianah artinya, meminta pertolongan dan dukungan dalam suatu urusan. Sedang istighatsah berarti meminta dihilangkannya kesulitan (kesukaran). Isti'anah dan istighatsah kepada makhluk ada dua macam:

Pertama, isti'anah dan istighatsah kepada makhluk yang ia mampu melakukannya. Ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (Al-Ma'idah: 2).
Dan dalam kisah Musa Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya." (Al-Qashash: 15).

Juga seperti seseorang yang meminta bantuan kawan-kawannya dalam peperangan atau lainnya dari hal-hal yang bisa dilakukan oleh makhluk.

Kedua, isti'anah dan istighatsah kepada mahluk dalam hal yang manusia tidak mampu kecuali Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana isti'anah dan istighatsah kepada orang-orang mati atau isti'anah dan istighatsah terhadap orang dalam hal yang ia tidak mampu kecuali Allah, misalnya dalam menyembuhkan penyakit, menghilangkan kesusahan dan menolak bahaya. Isti'anah dan istighatsah jenis ini tidak dibolehkan bahkan termasuk syirik besar.

Pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ada seorang munafik yang menyakiti orang mukminin. Maka sebagian sahabat mengatakan, 'Bangkitlah bersama kami untuk beristighatsah kepada Rasullullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dari orang-orang munafik ini!' Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لاَ يُسْتَغَاثُ بِيْ وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ.

"Sesungguhnya istighatsah itu tidak (boleh dimintakan) kepadaku, tetapi istighatsah itu kepada Allah." (HR. ath-Thabrani).

Jika dalam perkara yang bisa dilakukan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hidupnya itu dijawab demikian, maka bagaimana pula dengan istighatsah kepada beliau setelah beliau wafat, serta dimintai perkara-perkara yang beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mampu kecuali Allah Subhanahu waTa’ala ? Dan jika hal tersebut tidak boleh dilakukan terhadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, tentu orang lain lebih tidak pantas lagi.

2.10 Tentang Ruqyah dan Tamimah

20 Okt 2011

A. Ruqyah

الرُّقَى adalah jama' dari رُقْيَـةٌ artinya mantera atau jampi-jampi yang digunakan untuk mengobati orang yang terkena musibah, misalnya orang terkena penyakit panas, kemasukan jin atau musibah lainya. Ruqyah juga disebut azimah, terdiri atas dua macam: Yang bebas dari unsur syirik dan yang tidak lepas dari unsur syirik.

Pertama, ruqyah yang bebas dari unsur syirik

Yaitu dengan membacakan kepada si sakit sebagian ayat-ayat al-Qur'an atau dimohonkan perlindungan untuknya dengan Asma' dan sifat Allah Subhanahu waTa’ala. Hal ini dibolehkan, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah meruqyah (menjampi) dan beliau memerintahkan untuk meruqyah serta membolehkannya.

Dari Auf bin Malik radiyallaahu ‘anhu ia berkata, "Kami diruqyah ketika masa Jahiliyah, lalu kami tanyakan, 'Wahai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bagaimana pendapat baginda tentang hal itu?' Maka beliau bersabda,

اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَالَمْ تَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

"Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku, tidak mengapa ruqyah selama tidak mengandung syirik." (HR. Muslim).

As-Suyuthi berkata, "Para ulama sepakat tentang dibolehkannya ruqyah bila memenuhi tiga syarat.
Pertama, hendaknya dilakukan dengan kalamullah (al-Qur'an) atau dengan Asma' dan sifatNya.
Kedua, hendaknya dengan bahasa Arab atau yang diketahui maknanya.
Ketiga, hendaknya di yakini bahwa ruqyah tersebut tidak terpengaruh dengan sendirinya, tetapi dengan takdir Allah Subhanahu waTa’ala.(1)

Caranya, hendaknya dibacakan kemudian dihembuskan kepada si sakit, atau dibacakan di air kemudian air itu diminumkan kepada si sakit, sebagaimana disebutkan dalam hadits Tsabit bin Qais.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ تُرَابًا مِنْ بَطْحَانَ فَجَعَلَهُ فِيْ قَدَحٍ ثُمَّ نَفَثَ عَلَيْهِ بِمَاءٍ وَصَبَّهُ عَلَيْهِ.

"Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengambil tanah dari lembah Bathhan lalu diletakkannya di gelas, kemudian beliau menyemburkan air padanya (orang yang sakit) dan menuangkannya di atasnya." (HR. Abu Daud).

Kedua, ruqyah yang tidak lepas dari unsur syirik

Ruqyah jenis ini di dalamnya terdapat permohonan pertolongan kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, yaitu dengan berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, meminta pertolongan dan berlindung kepadanya, misalnya meruqyah dengan nama-nama jin, atau nama-nama malaikat para nabi dan orang-orang shalih. Hal ini termasuk berdoa kepada selain Allah Subhanahu waTa’ala, dan ia adalah syirik besar. Termasuk ruqyah jenis ini adalah yang dilakukan dengan selain bahasa Arab atau yang tidak dipahami maknanya, sebab ditakutkan akan kemasukan unsur kekufuran atau kesyirikan sedang ia tidak mengetahuinya. Ruqyah jenis ini adalah ruqyah yang dilarang.

B. Tamimah

التّمَائِمُ adalah jama' dari تَمِيْمَـةٌ yaitu sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal penyakit 'ain (kena mata), dan terkadang juga dikalungkan pada leher orang-orang dewasa dan wanita.

Tamimah ada dua macam: Tamimah dari al-Qur'an dan tamimah selain dari al-Qur'an.

Pertama, Tamimah dari al-Qur'an
Yakni dengan menuliskan ayat-ayat al-Qur'an atau Asma' dan Sifat Allah Subhanahu waTa’ala kemudian dikalungkan di leher untuk memohon kesembuhan dengan perantaraannya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengalungkan Tamimah jenis ini dalam dua pendapat.

Pendapat pertama, ia dibolehkan. Ini adalah pendapat sekelompok sahabat, di antaranya Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash radiyallaahu ‘anhu. Ini pulalah makna tekstual apa yang diriwayatkan Aisyah. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu Ja'far al-Baqir dan Ahmad bin Hanbal , menurut salah satu riwayat dari beliau. Mereka mengkhususkan hadits yang melarang mengalungkan tamimah pada tamimah yang di dalamnya terdapat syirik.

Pendapat kedua, ia dilarang. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sekelompok sahabat, di antaranya adalah Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas radiyallaahu ‘anhumaa. Ini pulalah pendapat Hudzaifah, Uqbah bin Amir dan Ibnu Ukaim. Sekelompok tabi'in juga menguatkan pendapat ini, di antaranya para sahabat Ibnu Mas'ud radiyallaahu ‘anhu dan Ahmad rahimahullaah dalam suatu riwayat yang kemudian dipilih oleh sebagian besar pengikutnya dan para ulama muta'akhkhirin memastikan pendapat ini dengan mendasarkan pada riwayat Ibnu Mas'ud radiyallaahu ‘anhu , ia berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ.

"Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan tiwalah (pelet) adalah syirik." (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Pendapat kedua adalah yang benar karena tiga alasan:

1. Keumuman larangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , serta tak ada dalil yang menghususkanya.
2. Untuk tindakan prefentif, karena hal itu menyebabkan dikalungkannya sesuatu yang tidak dibolehkan.

3. Bahwasanya jika ia mengalungkan sesuatu dari ayat al-Qur'an maka hal itu menyebabkan pemakaiannya menghinakan, misalnya dengan membawanya waktu buang hajat, istinja'(1) atau lainnya.(2)

Kedua, Tamimah selain dari al-Qur'an.

Tamimah jenis ini biasanya dikalungkan pada leher seseorang, seperti tulang, rumah kerang, benang, sandal, paku, nama-nama setan dan jin serta jimat. Tak diragukan lagi bahwa ini adalah diharamkan dan termasuk syirik, sebab menggantungkan kepada selain Allah, Asma', sifat dan ayat-ayatNya.

Kewajiban setiap Muslim adalah menjaga akidahnya dari sesuatu yang akan merusaknya atau mengurangi kesempurnaannya. Karena itu hendaknya ia tidak mengkonsumsi obat-obatan yang tidak diperbolehkan, tidak pergi kepada orang-orang yang sesat dan tukang sulap untuk mengobati penyakit-penyakit mereka, sebab justru mereka itu yang menyebabkan sakitnya hati dan akidahnya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah Subhanahu waTa’ala, niscaya cukuplah baginya.

Sebagian orang ada yang menggantungkan berbagai hal tersebut pada dirinya, sementara ia tidak dalam keadaan sakit. Ia hanyalah sakit ilusi yakni ketakutan terhadap orang yang iri hati dan dengki. Atau ia menggantungkan berbagai hal tersebut di mobil, kendaraan, pintu rumah dan tokonya. Semua ini merupakan bukti kelemahan akidah serta tawakalnya kepada Allah Subhanahu waTa’ala. Sungguh, kelemahan akidah itulah hakikat sakit yang sesungguhnya yang wajib diobati dengan mengetahui tauhid dan akidah yang benar.

2.8 Bergabung dengan Madzhab-madzhab Atheis (Ilhad) dan Kelompok-kelompok Jahiliyah

20 Okt 2011

Pertama Ikut bergabung dengan madzab-madzab (paham-paham) atheis seperti komunisme, sekulerisme, materialisme dan paham-paham kufur lainnya adalah kufur dan keluar dari Islam. Jika orang-orang bergabung dengan paham-paham tersebut mengaku Islam, maka ia termasuk nifaq akbar (kemunafikan besar). Karena sesungguhnya orang-orang munafik itu mengaku Islam secara lahiriyah, tetapi secara batiniyah (sesungguhnya) mereka bersama orang-orang kafir. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,

Artinya:"Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali pada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok'." (Al- Baqarah: 14).

Artinya:"(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata, 'Bukankah kami (turut berperang) besertamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, 'Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?' " (An-Nisa': 141).

Orang-orang munafik penipu, masing-masing mereka memiliki dua wajah; wajah untuk menghadapi orang orang beriman dan wajah untuk berpaling pada kawan-kawannya dari kalangan orang-orang atheis. Mereka juga memiliki dua lisan; lisan yang secara lahiriah diterima oleh umat Islam dan lisan yang mengungkapkan tentang rahasia mereka yang tersembuyi. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali pada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok'." (Al-Baqarah: 14).

Mereka berpaling dari al-Qur'an dan as-Sunnah dengan mengolok-olok dan merendahkan para pengikutnya. Mereka enggan tunduk terhadap hukum kedua wahyu tersebut karena merasa bangga terhadap ilmu yang mereka miliki, padahal memperbanyak ilmu tersebut tidak bermanfaat, kecuali malah menambah keburukan dan kesombongan. Karena itu, engkau melihat mereka senantiasa mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan wahyu yang nyata. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Rtinya:"Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (Al-Baqarah: 15).

Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan agar kita bergabung dengan orang-orang beriman,

Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (At-Tau-bah: 119).

Madzab-madzab atheis tersebut adalah madzab-madzab yang menyimpang, karena didirikan di atas kebatilan. Komunisme misalnya, mengingkari wujud Pecipta Subhanahu waTa’ala dan memerangi agama-agama samawiyah. Barangsiapa rela dengan akalnya untuk hidup tanpa akidah serta mengingkari kepastian hukum-hukum akal, maka berarti ia menafikan akalnya. Lalu sekulerisme mengingkari agama-agama dan hanya bersandar kepada materi yang tidak memiliki orientasi dan tujuan dalam hidup ini, selain kehidupan hewani. Kapitalisme yang dipentingkan hanya mengumpulkan harta dari mana saja, tanpa memperdulikan halal-haram, kasih sayang dan cinta kepada orang-orang fakir dan miskin. Dasar perekonomiannya adalah riba yang berarti memerangi Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, dan karenanya negara serta pribadi menjadi hancur dan menghisap darah rakyat miskin. Karena itu, setiap orang yang berakal, apalagi yang memiliki sedikit iman tak mungkin rela hidup berdasarkan madzab-madzab ini, hidup tanpa akal, agama, tujuan yang benar yang senantiasa diupayakan dan di pertahankan. Madzab-madzab ini masuk ke negara-negara Islam saat mayoritas mereka kehilangan dien yang lurus dan terdidik di atas kelalaian serta hidup sekedar menjadi penurut dan pengekor.

kedua Bergabung dengan kelompok-kelompok Jahiliyah serta fanatik terhadap rasialisme adalah suatu kekufuran dan kemurtadan dari Islam. Sebab Islam menolak fanatisme dan kebangkitan Jahiliyah. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (Al-Hujurat: 13).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ غَضِبَ لِعَصَيِبَّةٍ.

"Tidak termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme (Ashabiyah), tidak termasuk golongan kami orang yang membunuh karena ashabiyah, dan tidak termasuk golongan kami orang yang marah karena ashabiyah." (HR. Muslim).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عَصَبِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِاْلآبَاءِ، إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ أَوْ فَاجِرٌ شَقِيٌّ، النَّاسُ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ، وَلاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلىَ عَجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى.

"Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang celaka. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam (non Arab) kecuali dengan takwa." (HR. at-Tirmidzi dan lainnya).

Hizbiyah (fanatik kelompok) inilah yang memecah belah umat Islam, padahal Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan kita bersatu dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa serta melarang berpecah belah dan berselisih. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103).

Sesungguhnya Allah Subhanahu waTa’ala menginginkan agar kita menjadi satu kelompok (jamaah, hizb) yang satu, yaitu hizbullah yang beruntung. Tetapi, dunia Islam setelah itu diinvasi oleh Barat, baik secara politik maupun budaya, sehingga mereka tunduk kepada ashabiyah darah, ras/gender dan tanah air serta mereka percaya itu sebagai perkara ilmiah, realita yang diakui dan fakta yang pasti, sehingga mereka tidak bisa lagi menghindar daripadanya. Lalu rakyatnya dengan semangat menghidup-hidupkan ashabiyah tersebut yang sudah dipadamkan oleh Islam, mereka terus menyanyikan dan menghidupkan syi'ar-syi'arnya serta bangga dengan masa sebelum kedatangan Islam, padahal itulah masa yang oleh Islam selalu dinamai dengan Jahiliyah. Allah Subhanahu waTa’ala memberi nikmat kepada umat Islam untuk keluar dari masa Jahiliyah dan menganjurkan mereka agar mensyukuri nikmat tersebut.

Naluri seorang mukmin adalah hendaknya ia tidak menyebut tentang Jahiliyah, baik masa silam maupun yang terdekat kecuali dengan perasaan kebencian, ketidaksukaan, kemarahan dan hati yang menggeram. Bukankah seorang bekas penghuni penjara yang disiksa kemudian dilepaskan, lalu ketika diceritakan hari-hari penahanannya, penyiksaan dan penghinaan terhadap dirinya hatinya begitu menggeram menahan luapan amarah. Dan bukankah seorang yang telah sembuh dari sakitnya yang parah dan lama bahkan hampir saja ia mati pada hari-hari sakitnya itu, lalu ketika diingatkan ia menjadi gundah hati dan wajahnya pucat pasi? Sungguh wajib dipahami bahwa hizbiyah-hizbiyah tersebut adalah suatu adzab yang diturunkan Allah atas orang-orang yang berpaling dari syariatNya dan mengingkari agamaNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Katakanlah, 'Dia yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain."[i/] (Al-An'am: 65).
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,


وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ.

"Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak memutuskan hu-kum dengan Kitabullah, maka Allah akan menjadikan siksaan di antara mereka." (HR. Ibnu Majah).

Sesungguhnya fanatik terhadap golongan-golongan menyebabkan ditolaknya kebenaran yang ada pada orang lain, sebagaimana keadaan orang-orang Yahudi, yang kepada mereka Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kepada al-Qur'an yang diturunkan Allah,' mereka berkata, 'Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.' Dan mereka kafir kepada al-Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedangkan al-Qur'an itu adalah (Kitab) yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka." (Al-Baqarah: 91).

Juga sama dengan keadaan orang-orang Jahiliyah yang menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada mereka, karena fanatik dengan apa yang ada pada nenek moyang mereka.

Artinya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah,' mereka menjawab, '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'." (Al-Baqarah: 170).

Para pengikut hizbiyah tersebut ingin menjadikan hizbiyahnya sebagai ganti dari Islam yang telah dianugerahkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada manusia.

2.9 Pandangan Materialistis terhadap Kehidupan dan Bahaya-bahayanya

20 Okt 2011

Ada dua sudut pandang terhadap kehidupan dunia. Pertama, pandangan materialistis; dan kedua, pandangan yang benar. Masing-masing sudut pandang tersebut memiliki pengaruhnya tersendiri.

A. Makna Pandangan Materialistis Terhadap Dunia

Yaitu pemikiran seseorang yang hanya terbatas pada bagaimana mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, sehingga apa yang diusahakannya hanya seputar masalah tersebut. Pikirannya tidak melampaui hal tersebut, ia tidak mempedulikan akibat-akibatnya, tidak pula berbuat dan memperhatikan masalah tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. Allah Subhanahu waTa’alaq menjadikan dunia ini sebagai kampung beramal dan akhirat sebagai kampung balasan. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal shalih, niscaya ia mendapatkan keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya barangsiapa menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj: 11).

Allah Subhanahu waTa’ala tidak menciptakan dunia ini untuk main-main, tetapi Allah Subhanahu waTa’ala menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2).

Artinya:"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7).

Demikianlah, Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan di atas dunia ini berbagai kenikmatan sesaat dan perhiasan lahiriyah, baik berupa harta, anak-anak, pangkat, kekuasaan dan berbagai macam kenikmatan lain yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu waTa’ala.

Di antara manusia dan jumlah mereka mayoritas ada yang menyempitkan pandangannya hanya pada lahiriyah dan kenikmatan-kenikmatan dunia semata. Mereka memuaskan nafsunya dengan berbagai hal tersebut dan tidak merenungkan rahasia di balik itu. Karenanya, mereka sibuk untuk mendapatkan dan mengumpulkan dunia dengan melupakan amal untuk sesudah mati. Bahkan mereka mengingkari adanya kehidupan selain kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan!" (Al-An'am: 29).

Allah Subhanahu waTa’ala mengancam orang yang memiliki pandangan seperti ini terhadap dunia, sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan dunia itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 7-8).

Artinya:"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).

Ancaman di atas berlaku bagi semua yang memiliki pandangan materialistis tersebut, mereka yang memiliki amal akhirat, tetapi menghendaki kehidupan dunia, seperti orang-orang munafik, orang-orang yang berpura-pura dengan amal perbuatan mereka atau orang-orang kafir yang tidak percaya terhadap adanya kebangkitan dan hisab (Perhitungan amal). Sebagaimana keadaan orang-orang Jahiliyah dan aliran-aliran destruktif (merusak) seperti kapitalisme, komunisme, sekulerisme dan atheisme. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui nilai kehidupan dan pandangan mereka terhadap dunia tidak lebih dari pandangan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Sebab mereka menafikan akal mereka, menundukkan kemampuan mereka dan menyia-nyiakan waktu mereka yang tidak akan kekal untuknya, juga mereka tidak melakukan amalan untuk tempat kembali mereka yang telah menunggu, dan mereka pasti menuju kesana. Adapun binatang, maka tidak ada tempat kembali yang menunggunya, juga tidak memiliki akal untuk berfikir seperti manusia, karena itu Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,

Artinya:"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (Al- Furqan: 44).

Allah Subhanahu waTa’ala menyifati orang-orang yang memiliki pandangan ini dengan sifat tidak memiliki ilmu. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Ruum: 6-7).

Meskipun mereka ahli di bidang berbagai penemuan dan industri, tetapi pada hakikatnya mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas mendapatkan julukan alim, sebab ilmu mereka tidak lebih dari ilmu lahiriyah kehidupan dunia, sedang ia adalah ilmu yang dangkal, sehingga memang tidak selayaknya para pemilik mendapat gelar mulia, yakni gelar ulama, tetapi gelar ini diberikan kepada orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu waTa’ala dan takut kepadaNya, sebagaimana firmanNya,

Artinya:"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama." (Fathir: 28).
Termasuk pandangan materialistis terhadap kehidupan dunia ini adalah apa yang disebutkan Allah Subhanahu waTa’ala dalam kisah Qarun dan kekayaan yang diberikan kepadanya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'." (Al-Qashash: 79).

Mereka mengangan-angankan dan menginginkan memiliki kekayaan seperti Qarun seraya menyifatinya telah mendapatkan keberuntungan yang besar, yakni berdasarkan pandangan mereka yang materialistis. Hal ini seperti keadaan sekarang di negara-negara kafir yang memiliki kemajuan di bidang teknologi industri dan ekonomi, lalu umat Islam yang lemah imannya memandang mereka dengan pandangan kekaguman tanpa melihat kekufuran mereka serta apa yang bakal menimpa mereka dari kesudahan yang buruk. Pandangan yang salah ini lalu mendorong mereka mengagungkan orang-orang kafir dan memuliakan mereka dalam jiwa mereka serta menyerupai mereka dalam tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang buruk. Ironisnya, mereka tidak meniru dalam kesemangatan mereka, dalam mempersiapkan kekuatan serta hal-hal bermanfaat lainnya, misalnya di bidang penemuan-penemuan dan teknologi.

B. Pandangan yang Benar Terhadap Kehidupan

Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa apa yang ada di dunia ini, baik harta kekuasaan dan kekuatan materi lainnya hanyalah sebagai sarana untuk amal akhirat. Karena itu, pada hakikatnya dunia bukanlah tercela karena dirinya, tetapi pujian atau celaan itu tergantung pada perbuatan hamba di dalamnya. Dunia ini adalah jembatan penyeberangan menuju akhirat dan dari padanya bakal menuju surga. Dan kehidupan baik yang diperoleh penduduk surga tidak lain kecuali berdasarkan apa yang telah mereka tanam ketika di dunia. Maka dunia adalah kampung jihad, shalat, puasa, dan infak di jalan Allah Subhanahu waTa’ala, serta medan laga untuk berlomba dalam kebaikan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman kepada penduduk surga,

Artinya:"(Kepada mereka dikatakan), 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (ketika di dunia)." (Al-Haqqah: 24).

2.7 Mengaku Memiliki Hak Membuat Syariat Menghalalkan dan Mengharamkan

20 Okt 2011

Membuat hukum-hukum syariat yang berlaku bagi semua hamba dalam ibadah, muamalah dan segenap perkara mereka, serta memutuskan persengketaan dan menyelesaikan perseteruan di antara mereka adalah hak Allah Subhanahu waTa’ala semata, Rabb segenap manusia dan Pencipta segala makhluk. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (Al-A'raf: 54).

Allah Maha Mengetahui apa yang baik bagi hambaNya sehingga meletakkan syariat demi kebaikan mereka. Dengan rububiyahNya Allah meletakkan syariat untuk mereka dan karena posisinya sebagai hamba maka mereka menerima hukum-hukumNya, dan maslahatnya adalah untuk manusia itu sendiri. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah-nya), jika kamu benar-benar beriman pada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa': 59).

Artinya:"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah, Tuhanku." (Asy-Syura: 10).

Allah Subhanahu waTa’ala mengingkari jika para hamba menjadikan selainNya sebagai pembuat syariat, Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (Asy-Syura: 21).

Maka barangsiapa menerima syariat selain syariat Allah berarti ia telah menyekutukan Allah Subhanahu waTa’ala. Dan apa-apa yang disyariatkan Allah Subhanahu waTa’ala serta RasulNya dari berbagai ibadah, maka ia termasuk bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.

"Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru dalam perkara kami ini (agama) yang tidak termasuk daripadanya maka ia tertolak." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

"Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak didasari agama kami maka ia tertolak." (HR. Muslim).

Dan apa yang tidak disyariatkan Allah Subhanahu waTa’ala serta RasulNya, baik dalam hal politik atau hukum di antara sesama manusia maka ia adalah hukum Thaghut dan hukum Jahiliyah. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al-Ma'idah: 50).

Demikian pula dalam hal menghalalkan dan mengharamkan sesuatu, ia adalah hak Allah Subhanahu waTa’ala, dan tak seorang pun boleh berserikat denganNya dalam hal tersebut. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (At- Taubah: 31).

Di dalam kitab Ash-Shahih disebutkan, "Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca ayat ini di hadapan 'Adi bin Hatim ath-Tha'i radiyallaahu ‘anhu, maka ia berkata, 'Wahai Rasulullah, sungguh kami tidaklah menyembah mereka!' Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya,

أَلَيْسَ يُحِلُّوْنَ لَكُمْ مَاحَرَّمَ اللَّهُ فَتُحِلُّوْنَهُ، وَيُحَرِّمُوْنَ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَتُحَرِّمُوْنَهُ، قَالَ: بَلَى، قَالَ النَّبِيُّ فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ.

“Bukankah mereka itu menghalalkan bagi kalian apa yang telah diharamkan Allah, lalu kamu pun menghalalkannya, dan mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kamu pun mengharamkannya?' Ia berkata, 'Tentu.' Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Itulah ibadah (penyembahan) kepada mereka'." (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Jarir dan lainnya).

Maka mentaati mereka dalam menghalalkan dan mengharamkan sesuatu selain dari pada Allah Subhanahu waTa’ala adalah bentuk ibadah kepada mereka serta suatu kesyirikan. Dan ia termasuk syirik besar yang menghilangkan tauhid, dan itulah kandungan syahadat La Ilaha Illallah(1), sebab di antara kandungannya yaitu bahwa menghalalkan dan mengharamkan adalah hak Allah Subhanahu waTa’ala semata. Jika demikian hukum terhadap orang yang mentaati ulama dan ahli ibadah dalam hal penghalalan dan pengharaman yang menyelisihi syariat Allah Subhanahu waTa’ala, padahal mereka lebih dekat terhadap ilmu dan dien, bahkan terkadang kesalahan mereka itu karena ijtihad mereka yang tidak benar, tetapi mereka tetap berpahala karenanya, lalu bagaimana pula halnya dengan mereka yang mentaati para hakim dalam undang-undang buatan manusia yang dibuat oleh orang-orang kafir dan atheis, undang-undang dibawa ke negara-negara kaum muslimin dan menjadi pemutus hukum di antara mereka sungguh tiada daya kekuatan kecuali karena pertolongan Allah Subhanahu waTa’ala.

Hal di atas sungguh berarti telah menjadikan orang-orang kafir sebagai sesembahan selain Allah Subhanahu waTa’ala. Sebab mereka meletakkan hukum-hukum untuk ia terapkan, yang menghalalkan baginya sesuatu yang haram, lalu hal itu dijadikannya sebagai pemutus hukum di antara manusia.