kategori-buku

3.6 Larangan Mencaci Sahabat dan Para Imam

20 Okt 2011

A. Larangan Mencela Sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam

Salah satu prinsip-prinsip utama yang dimiliki oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah (kewajiban) selamatnya hati dan lidah mereka (dari mencela) sahabat-sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang telah disifatkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala dalam firmanNya,

Artinya: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al-Hasyr: 10).

Hal ini juga termasuk bentuk kepatuhan terhadap perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, dalam sabdanya,

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

"Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, kalaupun sekiranya seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, (hal itu) tidak akan menyamai infak satu mud atau setengah mud dari salah seorang mereka." (Mutafaq 'alaih).

Ahlus Sunnah menerima semua yang disebutkan dalam kitab dan sunnah tentang keutamaan-keutamaan mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik, seperti yang disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

خَيْرُكُمْ قَرْنِيْ

"Sebaik- sebaik kalian adalah generasiku." (HR. al-Bukhari).

Dan ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan dan bahwasanya semuanya (tempatnya) di neraka kecuali satu golongan saja, lalu para sahabat bertanya kepada beliau tentang golongan yang satu ini. Beliau menjawab,

هُمْ مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

"Mereka adalah orang yang berada pada (jalan) seperti (jalan) yang aku dan sahabat-sahabatku berada di atasnya hari ini." (HR. Ahmad dan lainnya).

B. Larangan Mencela Para Imam Dari Ulama Umat Ini

Setelah para sahabat, yang menduduki tingkatan berikutnya dalam keutamaan, kemuliaan dan derajat yang tinggi adalah para imam dari kalangan tabi'in dan para pengikut mereka dari generasi-generasi berikutnya dan juga orang-orang yang datang setelah mereka yang mengikuti dengan baik jejak para sahabat radiyallaahu ‘anhum sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya: "Dan orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah." (At-Taubah: 100).

Oleh karena itu, tidak boleh kita mencaci dan mencela mereka semua, sebab mereka adalah tokoh-tokoh petunjuk jalan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa': 115).

Ibnu Abil Izz -pensyarah kitab Thahawiyah- berkata, "Diwajibkan bagi setiap muslim, setelah dia memberikan kesetiaan dan kecintaannya kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, untuk memberikan kesetiaan dan kecintaannya pula kepada orang-orang mukmin. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh al-Qur'an, khususnya kesetiaan dan kecintaan itu diberikan kepada mereka yang termasuk pewaris para nabi (ulama) yang mereka dijadikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala seperti bintang-bintang yang bisa dijadikan patokan arah dalam kegelapan di darat maupun di laut, dan kaum muslimin telah bersepakat bahwa mereka mendapat hidayah dan pengetahuan (tentang syariat).

Merekalah para pengganti Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam umatnya dan merekalah yang menghidupkan kembali sunnah-sunnah (ajaran) beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam yang telah mati (ditinggalkan). Dengan mereka kitab al-Qur'an menjadi tegak dan dengan Kitab al-Qur'an mereka bangkit, dengan mereka kitab al-Qur'an dapat berbicara (pada kita), dan dengan kitab al-Qur'an mereka berbicara. Mereka semua telah bersepakat dengan penuh keyakinan atas wajibnya (seorang muslim) mengikuti ajaran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi bila ada pendapat yang dikemukakan salah seorang mereka ternyata bertentangan dengan hadits shahih, maka tentu saja ada sesuatu alasan baginya untuk meninggalkannya.

Alasan-alasan itu ada tiga yaitu:

1. Dia tidak meyakini bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, bersabda demikian.

2. Dia tidak meyakini bahwa sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, itu dimaksudkan untuk masalah tertentu.

3. Keyakinan bahwa hukum tersebut telah dihapus.

Mereka itu berjasa pada kita semua, merekalah yang lebih dahulu memeluk Islam dan menyampaikan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada kita. Merekalah yang menjelaskan kepada kita hal-hal yang tidak kita ketahui dari syariat ini, maka Allah Subhanahu waTa’ala pun ridha kepada mereka dan menjadikan mereka ridha (kepadaNya).

Artinya: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al- Hasyr: 10).

Melecehkan ulama, hanya Karena keliru dalam berijtihad adalah sikap orang-orang ahli bid'ah dan juga termasuk strategi musuh-musuh umat Islam untuk menimbulkan keraguan dalam agama Islam dan membangkitkan permusuhan di kalangan umat Islam, serta untuk memutuskan hubungan antara generasi Islam masa kini dengan pendahulu-pendahulunya, juga guna memecah belah antara kaum muda dan para ulama seperti yang terjadi sekarang ini. Oleh karenanya, hendaklah sadar para pelajar-pelajar muda yang melecehkan kedudukan ulama ahli fikih, juga melecehkan pengetahuan fikih Islam, tidak acuh untuk mempelajarinya dan mengambil manfaat dari kebenaran yang ada di dalamnya. Hendaklah mereka bangga dengan fikih mereka dan menghormati para ulama; janganlah mereka tertipu dengan propaganda-propaganda yang menyesatkan. Semoga Allah Subhanahu waTa’ala memberikan TaufikNya.

3.5 Keutamaan Para Sahabat dan yang Wajib Diyakini tentang Mereka serta Madzhab Ahlus Sunnah dalam Peristiwa Mereka

20 Okt 2011

A. Yang Dimaksud Sahabat dan yang Wajib Diyakini Tentang Mereka

Sahabat ( الصَّحَابَـةُ ) adalah bentuk jama' dari shahabi (صَحَـابِيْ), sahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan demikian.

Yang wajib diyakini tentang mereka yaitu bahwa para sahabat adalah sebaik-baiknya umat dan generasi, karena mereka terlebih dahulu beriman, menemani Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, berjihad bersama beliau, dan membawa serta menyampaikan syariat kepada orang-orang sesudah mereka. Allah Subhanahu waTa’ala memuji mereka dalam firman-Nya,

Artinya: "Orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 100).

Juga dalam firmanNya,

Artinya: "Muhammad itu dalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikian sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al- Fath: 29).

Dan dalam firmanNya,

Artinya: "(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirn); atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al- Hasyr: 8-9).

Dalam ayat-ayat tersebut di atas Allah Subhanahu waTa’ala memuji orang-orang Muhajirin dan Anshar serta memberi mereka sifat sebagai orang-orang yang bersegera kepada kebaikan. Allah Subhanahu waTa’ala mengabarkan bahwa Dia telah meridhai mereka dan menyediakan untuk mereka surga-surga. Sifar-sifat lain yang diberikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala kepada mereka adalah:

1. Mereka saling berkasih sayang di antara mereka dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir.

2. Mereka adalah orang-orang yang banyak ruku' dan sujud.

3. Mereka adalah orang-orang yang baik dan bersih hatinya.

4. Mereka adalah orang-orang yang dikenal dengan ketaatan dan keimanannya dan bahwa Allah Subhanahu waTa’ala memilih mereka untuk menjadi sahabat NabiNya shallallaahu ‘alaihi wasallam, sehingga menjadi marah musuh-musuh dari orang-orang kafir.

Di samping itu, Allah Subhanahu waTa’ala juga menyebutkan bahwa kaum Muhajirin meninggalkan kampung halaman dan harta benda mereka karena Allah Subhanahu waTa’ala, untuk menolong AgamaNya serta untuk mencari anugerah dan keridhaanNya. Dan mereka memang benar-benar demikian lalu Allah Subhanahu waTa’ala juga menyebutkan bahwa kaum Anshar adalah penduduk Darul Hijrah (kampung tempat hijrah), kaum yang beriman dan terpercaya. Allah ta'ala menyifati mereka dengan cinta kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin, lebih mengutamakan mereka daripada diri mereka sendiiri serta hati mereka bersih dari sifat kikir, sehingga mereka menjadi orang-orang yang beruntung.

Demikian itulah keutamaan mereka secara umum. Di samping itu, mereka memiliki keutamaan khusus dan masing-masing mereka berbeda derajat keutamaannya dari yang lain. Yakni berdasarkan permulaan masuk kepada Islam, jihad dan hijrah.

Adapun sahabat yang paling utama adalah Khulafa' Rasyidin yang empat, yakni Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radiyallaahu ‘anhum. Selanjutnya enam sahabat lain dari sepuluh sahabat yang dikabarkan pasti masuk surga bersama mereka. Yakni Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah, Sa'd bin Abi Waqqash dan Sa'id bin Zaid radiyallaahu ‘anhum. Kemudian orang-orang Muhajirin lebih utama dari pada orang-orang Anshar. Juga para sahabat yang mengikuti perang Badar dan Bai'atur Ridhwan lebih utama dari sahabat yang lain. Dan sahabat yang masuk Islam sebelum dibebaskannya kota Makkah dan ikut berperang (jihad) lebih utama daripada sahabat yang masuk Islam setelah pembebasan kota Makkah.

B. Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Hal Peperangan dan Fitnah yang Terjadi di Antara Para Sahabat

Dalam hal ini ada dua kaidah penting:

Pertama : Ahlus Sunnah wal Jama'ah bersikap diam terhadap apa yang terjadi di antara para sahabat serta tidak membahasnya. Sebab jalan yang selamat dalam menyikapi hal seperti ini adalah diam seraya berkata,

Artinya: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (Al-Hasyr: 10).

Kedua : Menjawab berbagai atsar yang diriwayatkan tentang kejelekan para sahabat melalui beberapa argumen:

1. Sesungguhnya di antara atsar tersebut terdapat atsar yang didustakan dan diada-adakan oleh musuh-musuh mereka untuk memperburuk nama baik mereka.

2. Sesungguhnya di antara atsar tersebut ada yang telah ditambah, dikurangi maupun diubah dari aslinya, sehingga di dalamnya terdapat kedustaan. Atsar tersebut telah diubah, karena itu, tidak perlu diperhitungkan.

3. Di antara atsar shahih mengenai hal tersebut, yang jumlahnya sedikit, sesungguhnya mereka dalam hal tersebut bisa dimaklumi karena ada dua kemungkinan. Yakni sebagai mujtahid yang benar atau sebagai mujtahid yang salah. Berbagai hal tersebut masih dalam ruang ijtihad, di mana jika seorang mujtahid benar maka dia mendapat dua pahala dan jika ia salah maka memperoleh satu pahala dan kesalahannya diampuni. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا اجْتَهَدَ الْحَاكِمُ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا اجْتَهَدَ فَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ

"Jika seorang hakim berijtihad dan benar maka dia memperoleh dua pahala. Jika ia berijtihad dan salah maka ia memperoleh satu pahala." (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Amr bin al-Ash radiyallaahu ‘anhu).

4. Sesungguhnya mereka adalah manusia biasa. Karena itu adalah wajib jika salah seorang mereka bersalah, sebab mereka tidak suci dari dosa, sebagai pribadi-pribadi. Akan tetapi apa yang terjadi pada mereka telah banyak peleburnya, di antaranya:

Pertama, bisa jadi ia telah bertaubat dari padanya, dan taubat itu menghapus kejelekan betapa pun kejelekan itu adanya. Demikian sebagaimana disebutkan dalam berbagai dalil.

Kedua, bahwasanya mereka memiliki keutamaan dan anugerah yang mewajibkan diampuninya dosa yang mereka lakukan, jika itu memang ada. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk." (Hud: 114).

Di samping itu mereka adalah sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan berjihad bersama beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam, sesuatu yang bisa melebur kesalahan yang tidak seberapa.

Ketiga, bahwasanya kebaikan mereka itu dilipatgandakan lebih banyak dari selain mereka, bahkan tak seorang pun yang menyamai keutamaan mereka. Dan telah dengan tegas diberitakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi. Dan bahwa satu mud yang disedekahkan oleh salah seorang dari mereka itu lebih utama dari satu gunung emas yang disedekahkan oleh selain mereka. Semoga Allah Subhanahu waTa’ala meridhai mereka.

Musuh-musuh Allah Subhanahu waTa’ala telah memanfaatkan apa yang terjadi di antara para sahabat pada masa fitnah perselisihan dan peperangan sebagai alasan untuk mencela dan melecehkan kemuliaan para sahabat. Program keji ini telah dilancarkan oleh sebagian penulis kontemporer, di mana mereka berbicara tentang apa yang tidak mereka ketahui. Mereka menempatkan diri sebagai hakim di antara para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang membenarkan sebagian mereka dan menyalahkan sebagian yang lain tanpa dalil. Bahkan berdasarkan kebodohan dan mengikuti hawa nafsu serta dengan mengulang-ulang apa yang dikatakan oleh orang-orang yang tendensius dan penuh kedengkian dari kalangan orientalis dan murid-muridnya. Upaya mereka itu berhasil membuat keraguan sebagian pemuda Islam yang masih dangkal pengetahuan sejarahnya tentang umat dan generasi terdahulunya yang mulia, bahkan sebaik-baik generasi. Pada tingkat selanjutnya, mereka ingin mencaci Islam, memecah belah persatuan umat Islam, serta menaruh sikap benci di hati generasi akhir dari umat ini kepada generasi terdahulunya, sehingga tak lagi mengikuti jejak para salaf shalih dan mengamalkan firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang," (Al- Hasyr: 10).

3.3 Dianjurkan Bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam

20 Okt 2011

Di antara hak Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang disyariatkan Allah Subhanahu waTa’ala atas umatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56).

Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah Subhanahu waTa’ala kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah pujian atas beliau di hadapan para malaikatNya, sedang shalawat malaikat berarti mendoakan dan shalawat umatnya berarti permohonan ampun untuknya.

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu waTa’ala telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan rasulNya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam di tempat yang tertinggi, bahwasanya dia memujinya dihadapan para malaikat yang terdekat, dan bahwa para malaikat mendoakan untuknya, lalu Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan segenap penghuni alam dunia untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam di alam yang tertinggi dengan alam terendah (dunia).

Adapun makna سَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا "Ucapkanlah salam untuknya" adalah berilah beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam penghormatan dengan penghormatan Islam. Dan jika bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan, صَلَّى الله عَلَيهِ (semoga shalawat dilimpahkan untuknya) saja atau hanya mengucapkan عَلَيْهِ السَّلاَمُ (semoga dilimpahkan untuknya keselamatan) saja. Hal itu karena Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.

Mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diperintahkan syariat pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah mu'akkadah. Dalam kitab Jala'ul Afham, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada 41 waktu (tempat). Beliau memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud. Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyariatkannya bershalawat untuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam namun mereka berselisih tentang hukum wajibnya. Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir qunut, lalu ketika khutbah, seperti khutbah Jum'at, hari raya dan istisqa', lalu setelah menjawab mu'adzin, ketika (hendak) berdoa, ketika masuk dan keluar dari masjid juga ketika menyebut nama beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. setelah itu Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat dari mengucapkan shalawat untuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, di mana beliau menyebutkan ada 40 manfaat.

Di antara manfaat itu adalah:

1. Shalawat merupakan bentuk kataatan kepada perintah Allah Subhanahu waTa’ala .

2. Mendapatkan sepuluh kali shalawat dari Allah Subhanahu waTa’ala bagi yang bershalawat sekali untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam.

3. Diharapkan dikabulkannya doa apabila didahului dengan shalawat tersebut.

4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam jika ketika mengucapkan shalawat dibarengi dengan permohonan wasilah (derajat yang tinggi di surga) untuk beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam.

5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.

6. Shalawat merupakan sebab sehingga Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.

Semoga Shalawat dan salam dilimpahkan oleh Allah Subhanahu waTa’ala kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallamyang mulia ini.

3.4 Keutamaan Ahlul Bait dan kewajiban Kepada Mereka Tanpa Menguranginya atau Berlebih-lebihan

20 Okt 2011

Ahlul bait adalah keluarga Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diharamkan bagi mereka untuk menerima shadaqah (zakat). Mereka adalah keluarga Ali radiyallaahu ‘anhu, keluarga Ja'far, keluarga Aqil, keluarga al-Abbas, keturunan al-Harits bin Abdil Muththalib serta isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan putera-puteri beliau.

Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Sesuatu yang tidak diragukan lagi dari perenungan terhadap al-Qur'an adalah bahwa isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam itu termasuk dalam firmanNya,

Artinya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33).

Sebab pembicaraan masalah tersebut berkaitan dengan mereka. Karena itu Allah Subhanahu waTa'ala berfirman sesudahnya,

Artinya: "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)." (Al-Ahzab: 34).

Artinya, amalkanlah apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam di rumah kalian, baik al-Qur'an maupun as-Sunnah. Demikian sebagaimana dikatakan oleh Qatadah dan lainnya. Lalu ingatlah nikmat yang diberikan Allah Subhanahu waTa’ala khusus kepada kalian di antara manusia. Dan bahwasanya wahyu itu diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala di rumah kalian, tidak di rumah orang lain. Dan Aisyah binti Abu Bakar radiyallaahu ‘anhaa adalah yang paling utama dari mereka dengan nikmat tersebut serta yang paling istimewa menerima rahmat yang banyak tersebut. Sebab tidak pernah turun wahyu kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di tempat tidur perempuan selain tempat tidur Aisyah radiyallaahu ‘anhu. Demikian seperti disebutkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam . Sebagian ulama mengatakan, hal itu karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menikah dengan gadis selainnya dan tidak ada laki-laki lain yang tidur di tempat tidurnya selain beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam (maksudnya, Aisyah radiyallaahu ‘anhaa tidak menikah dengan selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ). Karena itu, adalah tepat jika Aisyah radiyallaahu ‘anhu dikhususkan dengan keistimewaan dan kedudukan yang tinggi tersebut.

Selanjutnya, jika para isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk keluarga (ahlul bait) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam maka para kerabatnya lebih berhak untuk mendapatkan sebutan ahlul bait. Demikian sebagaimana ditulis dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Ahlus sunnah wal Jamaah mencintai Ahlul bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam , setia kepada mereka dan selalu menjaga wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diucapkannya pada hari Ghadir Khum (nama tempat):

أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ

"Aku mengingatkan kalian kepada Allah dalam hal ahli baitku." (HR. Muslim).

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mencintai ahlul bait dan memuliakan mereka, sebab hal itu termasuk kecintaan terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam . Tetapi hal itu harus dengan syarat bahwa mereka mengikuti sunnah dan berada dalam agama yang lurus. Sebagaimana para salaf mereka seperti al-Abbas dan putra putrinya serta Ali radiyallaahu ‘anhu dan putra putrinya. Adapun mereka yang menyelisihi sunnah dan tidak berada dalam agama yang lurus, maka kita tidak boleh setia kepada mereka, meskipun mereka itu termasuk ahlul bait.

Jadi, sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap ahlul bait adalah sikap adil dan inshaf (lurus/jalan tengah). Mereka setia kepada ahlul bait yang berpegang teguh pada agama dan lurus dengannya, serta berlepas diri dari yang menyelisihi sunnah dan berpaling dari agama, meskipun ia termasuk ahlul bait keberadaannya sebagai ahlul bait dan kedekatannya dengan Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dari sisi kekerabatan sungguh tidak bermanfaat sedikit pun untuknya, sampai ia berada pada agama yang lurus.

Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu meriwayatkan, "Ketika diturunkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ayat,

Artinya: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (Asy-Syu'ara': 214).
Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا- اِشْتَرُوْا أَنْفُسَكُمْ لاَ أُغْنِيْ عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ ابْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُوْلِ اللَّهِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مَاشِئْتِ مِنْ مَالِيْ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا.

 "Wahai segenap kaum Quraisy! -atau kalimat sejenis-, belilah diri kalian sendiri, sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagi kalian di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muththalib! Sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad! Mintalah kepadaku harta bendaku sesukamu, tetapi sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah." (HR. al-Bukhari).

Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

"Barangsiapa amalnya lambat, maka nasabnya tidak bisa mempercepat amalnya." (HR.Muslim).

Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam hal ini, juga dalam hal-hal lain selalu berada dalam manhaj yang adil dan jalan yang lurus, tidak meremehkan juga tidak berlebih-lebihan.

3.2 Kewajiban Menaati dan Meneladani Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam

20 Okt 2011

Kita wajib menaati Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan menjalankan apa yang diperitahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah Subhanahu waTa’ala. Dalam banyak ayat al-Qur'an, Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan kita untuk menaati beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam . Di antaranya ada yang dibarengi dengan perintah taat kepada Allah Subhanahu waTa’alaq, sebagaimana FirmanNya,

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya." (An-Nisa': 59).

Dan masih banyak lagi contoh yang lain. Disamping itu, terkadang perintah tersebut disampaikan dalam bentuk tunggal, tidak dibarengi perintah kepada yang lain, sebagaimana dalam firmanNya,

Artinya: "Barangsiapa menaati Rasul maka sesungguhnya ia telah menaati Allah." (An-Nisa': 80).

Artinya:"Dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (An-Nur: 56).

Terkadang pula Allah Subhanahu waTa’ala mengancam orang yang mendurhakai RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam , sebagaimana dalam firmanNya,

Artinya: "Maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih." (An-Nur: 63).

Artinya, hendaklah mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid'ah atau siksa pedih di dunia, baik berupa pembunuhan, had, pemenjaraan atau siksa-siksa lain yang disegerakan. Allah Subhanahu waTa’ala telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam sebagai sebab hamba mendapat kecintaan Allah Subhanahu waTa’ala dan ampunan dosa-dosanya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Katakanlah, 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'." (Ali Imran: 31).

Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan ketaatan kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai peunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk." (An-Nur: 54).

Artinya: "Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Qashash: 50).

Allah Subhanahu waTa’ala mengabarkan bahwa pada diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terdapat teladan yang baik bagi segenap umatnya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab: 21).

Dalam al-Qur'an, Allah Subhanahu waTa’ala telah menyebutkan ketaatan kepada Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dan meneladaninya sebanyak 40 kali. Demikianlah, karena jiwa manusia lebih membutuhkan untuk mengetahui apa yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bawa dan mengikutinya dari kebutuhan kepada makanan dan minuman. Sebab jika seseorang tidak mendapat makanan dan minuman, ia hanya berakibat mati di dunia, sementara jika tidak menaati dan mengikuti Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam , maka akan mendapat siksa dan kesengsaraan abadi.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar kita mengikutinya dalam melakukan berbagai ibadah, dan hendaknya ibadah itu dilakukan sesuai dengan cara yang telah beliau contohkan. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

"Shalatlah sebagaimana kalian lihat aku shalat." (HR. al-Bukhari).

خُذُوْا عَنِّيْ مَنَاسِكَكُمْ

"Ambillah dariku manasik (ibadah-ibadah)mu." (HR Muslim).

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak didasari agama kami maka amalan itu tertolak." (Muttafaq 'alaih).

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

"Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku." (Muttafaq 'alaih).

Dan masih banyak lagi dalil-dalil lain yang menunjukkan perintah mengikuti Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan larangan menyelisihinya.