Kewajiban Menuntut Ilmu Syar'ie 2

Featured
7,541
by admin, 11 years ago
1375 128

Imam at-Tirmizi (wafat th. 249 H) rahimahullaah meriwayatkan dari Abu Hurairah (wafat th. 57 H) radhi-yallaahu anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu. (H/R Tirmizi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), dan Ibnu Abdil Barr (I/135, no. 135), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu anhu. Lihat Shahiih at-Targhib wat Tarhiib (no. 74). Lafazh ini milik at-Tirmizi.)

Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian yang paling baik adalah al-wara (ketakwaan). (H/R Tabrani dalam Mujamul Ausath (no. 3972) dan al-Bazzar dari Huzaifah bin al-Yaman radhiyallaahu anhu, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 68), lihat juga Jaami Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi (I/106, no. 96)) Ali bin Abi Thalib (wafat th. 40 H) Radhiyallaahu anhu berkata, Orang yang berilmu lebih besar ganjaran pahalanya daripada orang yang puasa, shalat, dan berjihad di jalan Allah. (Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 133)

Al-Hasan rahimahullaah berkata, Orang yang berilmu lebih baik daripada orang yang zuhud terhadap dunia dan orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. (Jaami Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi , I/120, no. 113) Sufyan ats-Tsauri (wafat th. 161 H) rahimahullaah mengatakan, Aku tidak mengetahui satu ibadah pun yang lebih baik daripada mengajarkan ilmu kepada manusia. (Jaami Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi. I/211, no. 227) Imam asy-Syafii (wafat th. 204 H) rahimahullaah mengatakan, Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik setelah berbagai kewajiban syariat daripada menuntut ilmu syari.(Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 135)

Ilmu Adalah Jalan Menuju Kebahagiaan Imam Ahmad dan at-Tirmizi meriwayatkan hadis dari Sahabat Abu Kabasyah al-Anmari (wafat th. 13 H) radhiyallaahu anhu, ia berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ...Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang:

  1. seorang hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung sila-turahmi, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya paling baik (di sisi Allah).
  2. Seorang hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan. Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama.
  3. Seorang hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu. Lalu ia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Kedudukan orang tersebut adalah yang paling jelek (di sisi Allah).
  4. Dan seorang hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan. Ia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.

(H/R Ahmad (IV/230-231), Tirmizi (no. 2325), Ibnu Majah (no. 4228), Baihaqi (IV/ 189), Baghawi dalam Syarhus Sunnah (XIV/289), dan Thabrani dalam Mujamul Kabir (XXII/345-346, no. 868-870), dari Shahabat Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallaahu anhu. Lihat Shahiih Sunan Tirmizi (II/270, no. 1894).)