Bahaya Tarikat Sufi/Tasawuf (2/5)

2,880
by admin, 11 years ago
294 41
Banyak orang menyangka bahawa ajaran tasawuf itu dari Islam, dan banyak pula orang menyangka bahawa antara penganut sufi ada yang menjadi wali. Kajilah, ucapan-ucapan mereka menunjukkan betapa jauhnya orang-orang sufi dari Islam dan ajaran al-Quran. (1). Syeikh Muhayiddin Ibn Arabi yang dikuburkan di Damaskus (Syiria) adalah salah seorang tokoh besar sufi, dia berkata di dalam kitabnya Al-Futuhaat al-Makiyah: "Berapa banyak hadis menjadi sahih dari jalan periwayatnya sampai kepada al-Makaasyif (orang yang menyingkap tabir ghaib) kerana sudah ditentukan tanda-tandanya. Lalu ia bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa-sallam tentang darjat hadis tersebut, maka baginda mengingkarinya lantas bersabda: Saya tidak pernah mengatakannya dan saya juga tidak pernah menghukumi dengannya". Kitab hadis masyhur karangan al-Ajluny amat merbahaya dan ucapan semacam ini sangat merbahaya sekali dan menghina hadis nabi serta merendahkan ulama-ulama hadis seperti Imam Bukhari, Muslim dan lain-lainnya. (2). Ibn Arabi telah berkata tentang kesatuan antara agama-agama seperti agama Yahudi, Nasrani dan Majusi dan Islam: "Dahulu saya membantah temanku kerana agamaku tidak menjadi agamanya. Kemudian hatiku boleh menerima atas semua keadaan itu, kini hatiku jadi padang gembalaan orang-orang kesamaran, menjadi kuil para pendita, rumah untuk penyembah patung, Ka'bah untuk orang tawaf, papan untuk menulis Taurat dan Mushaf menulis ayat al-Quran". Al-Quran mengingkari perkataan Ibn Arabi ini dengan firman: "Barangsiapa mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi". ALI-IMRAN 3: 85. (3). Ibn Arabi beriktikad bahawa Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah. Sehingga antara yang satu dengan yang lain saling mengibadahi. Ia memperkatakan tentang hal ini dengan ucapannya: "Dia (Allah) memujiku dan akupun memujiNya, Dia beribadah kepadaku dan akupun beribadah kepadaNya". (4). Ibn Arabi dalam kitabnya al-Fusyush berkata: "Sesungguhnya apabila seseorang suami menyetubuhi isterinya, maka sesungguhnya dia sedang menyetubuhi Allah". (5). An-Nablisi menjelaskan maksud ungkapan Ibnu Arabi di atas: "Sesungguhnya ia sedang menikahi al-haq (Allah)." (6). Abu Yazid al-Bustami mendakwa berbicara secara langsung kepada Allah: "Dan hiasilah aku dengan ke EsaanMu, ikut sertakanlah aku ke dalam rabbaniyah (sifat ketuhanan)Mu, sehingga apabila hamba-hambaMu melihatku mereka akan berkata: Kami melihatMu". Sehingga ia berkata kepada dirinya sendiri: "Maha suci aku, maha suci aku, alangkah agungnya kedudukanku, al-Jannah (syurga) hanyalah permainan anak-anak kecil." (7). Jalalluddin ar-Rumi berkata: "Saya adalah seorang muslim tapi juga Nasrani, saya seorang Brahmana juga Zorodisty. Aku tidak mempunyai tempat ibadah kecuali satu masjid, gereja dan rumah berhala." (8). Ibnu al-Faridh berkata: "Sesungguhnya Allah menampakkan diri kepada Qais dalam bentuk Laila. Ia menampakkan diri kepada Kutsair dalam bentuk Azah dan ia menampakkan diri kepada Jumail dalam bentuk Busainah". Apa yang tersebut dalam syair at-Taubah yang terkenal adalah bukti bahawa dia mengakui penampakan-penampakan Allah. (Ibnu al-Faridh yang sufi tersebut memiliki kesamaan iktiqad dengan agama Hindu (reinkarnasi). (9). Rabiah al-Adawiyah pernah ditanya: Apakah kamu membenci syaitan? Dia menjawab: "Kecintaanku hanya untuk Allah, maka tidak pernah tersisa dalam hatiku kebencian kepada seorangpun (walaupun terhadap syaitan)". Dia (Rabiah al-Adawiyah kononnya) pernah berbual dengan Allah Ta'ala: "Jika aku beribadah kepadaMu lantaran rasa takut dari api nerakaMu, maka bakarlah diriku dengannya (api neraka itu)." Padahal Allah Ta'ala telah kerkali-kali mengingatkan supaya kita berwaspada dari api neraka sebagaimana firmanNya: "Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". AT-TAHRIM 66:6 Ramai manusia yang berkata tentang (keperibadian) Rabiah: "Sesungguhnya dia adalah seorang wanita penyanyi (artis) atau penari. Lalu bagaimana kita boleh mengambil ucapan-ucapan yang bertentangan dengan al-Quran? (10). As-Syeikh Usman al-Burhani, seorang sufi kontemporer dari Sudan, dia menulis sebuah buku berjudul "Intisaru Aulia'ir-Rahman 'Ala Aulia'isy-Syaitan" yang ia maksudkan adalah orang-orang Wahhabi dan Ikhwanul Muslimin.