Kutunggu Kau Di Telagaku - Ustadz Firanda Andirja, MA.

503
by admin, 3 years ago
4 0

Sifat-Sifat Telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi Rahimahullah berkata, “Kesimpulan yang dapat diambil dari hadits-hadits sahih yang menyebutkan sifat-sifat telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam adalah sebagai berikut.

  • Telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam adalah sebuah telaga yang agung
  • Tempat yang mulia
  • Dialiri dari air minum yang berada di surga dari sungai al-Kautsar
  • Warnanya lebih putih daripada susu
  • Suhunya lebih dingin daripada salju/es
  • Lebih manis daripada madu
  • Lebih wangi daripada misik
  • Telaga yang sangat luas, panjang dan lebarnya sama.
  • Panjang setiap sisinya sejarak perjalanan satu bulan.” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 311)

Adapun di antara dalil yang menunjukkan sifat-sifat telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam yang disimpulkan oleh al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi Rahimahullah adalah:

a. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ

“Warna airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu. Dua pancuran yang bersumber dari sungai surga (al-Kautsar) yang mengalirinya: satu pancuran dari emas dan pancuran lainnya dari perak.” (HR. Muslim dari Tsauban radhiyallohu'anhu)

b. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda,

حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا

“Telagaku (lebar dan panjangnya) sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada perak, baunya lebih harum daripada misik, dan bejana-bejananya sejumlah bintang-bintang di langit. Barang siapa yang meminumnya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr)

Kaum yang Dihalangi dari Telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullah berkata, “Yang akan datang dan minum dari telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam adalah orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi Wasallam, yaitu orang yang mengikuti syariat beliau Shallallaahu ‘alaihi Wasallam. Adapun orang yang enggan dan sombong untuk mengikuti syariatnya, niscaya akan diusir dari telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam.” (Syarh Aqidah al-Wasithiyah 2/158)

Dari Asma’ bintu Abu Bakr Radhiyallohu'anhu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ، وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي. فَيُقَالُ: هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ، وَاللهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ

“Sungguh, aku (akan menunggu) di telaga hingga aku bisa melihat orang yang datang kepadaku dari kalian (kaum muslimin). Beberapa orang akan diambil sebelum sampai kepadaku. Aku lantas mengatakan, ‘Wahai Rabbku, mereka dari golonganku dan dari umatku.’ Lalu dikatakan kepadaku, ‘Apakah engkau mengerti apa yang mereka lakukan sepeninggalmu? Demi Allah, mereka telah murtad dari agamanya’.” (HR. Muslim)

يَرِدُ عَلَيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ أَصْحَابِي فَيُحَلَّئُونَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أَصْحَابِي. فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا عِلْمَ لَكَ بِمَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Satu rombongan dari sahabatku akan melewatiku nanti pada hari kiamat. Namun, mereka diusir dari telaga itu. Aku katakan, ‘Wahai Rabbku, mereka adalah para sahabatku.’ Allah l menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah menerangkan, “Yang dimaksud oleh hadits ini adalah satu kaum yang murtad dari agamanya. Mereka bukan para sahabat radhiyallohu'anhum. Oleh karena itu, dikatakan kepada beliau Shallallahu’alaihi wasallam, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.’ Adapun para sahabat radhiyallohu'anhum tidak mengadakan sedikit pun perkara yang baru (dalam agama) setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam wafat. Bahkan, mereka menyebarkan agama (ke seluruh dunia) dan menyampaikan risalah beliau sebagaimana mestinya.” (Syarh Aqidatus Salaf hlm. 152)

Al-Imam al-Qurthubi Rahimahu