Meraih Keutamaan Ramadhan

Informasi Artikel ini:
Dipublikasikan: 07 May 2018
Dibaca: 17035

ramadhan-quranPuasa merupakan ibadah yang dilaksanakan dengan jalan meninggalkan segala yang menyebabkan batalnya puasa sejak terbit fajar kedua (shadiq) hingga terbenam matahari.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang agung, sebagaimana sabda Nabi, “Islam itu didirikan di atas lima hal; Bersaksi tiada sesembahan yang hak melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.” (Muttafaq ‘alaih)

Keutamaan Puasa Ramadhan
1. Dengan puasa Ramadhan Allah mengampuni dosa orang yang berpuasa dan memaafkan semua kesalahannya, Nabi bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2. Puasa Ramadhan tidak terhingga pahalanya, karena orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala tanpa batas. Setiap muslim amalannya akan diganjar sebesar 10 hingga 700 kali lipat, kecuali puasa. Firman Allah di dalam hadits qudsi, “...Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan mengganjarnya, ia menahan nafsu dan makan karena-Ku.” (HR. Muslim)

3. Puasa dapat membuka pintu syafa’at nanti pada hari Kiamat. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya puasa dan al-Qur’an memberi syafa’at kepada pelakunya pada hari Kiamat. Puasa berkata, “Ya Tuhanku aku telah menahan hasrat makan dan syahwatnya, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya. Berkata pula al-Qur’an, ”Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya dari tidur untuk qiyamullail, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya. Nabi bersabda, “Maka keduanya diberikan izin untuk memberi syafaat.” (HR. Ahmad)

Selengkapnya: Meraih Keutamaan Ramadhan

Untaian Mutiara Salaf

Informasi Artikel ini:
Penulis: Dzulqarnain.net
Dipublikasikan: 05 April 2018
Dibaca: 17902

Mutiara SalafBagaimana Doa Salaf saat Fitnah

Ibrahîm At-Taimy (w: 192H) berdoa,

 اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي بِدِينِكَ وَبِسُّنَّةِ نَبِيِّكَ، مِنَ الِاخْتِلَافِ فِي الْحَقِّ، وَمِنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى، وَمِنْ سُبُلِ الضَّلَالَةِ، وَمِنْ شُبُهَاتِ الْأُمُورِ، وَمِنَ الزَّيْغِ وَالْخُصُومَاتِ

“Ya Allah, jagalah saya dengan agama dan sunnah Nabi-Mu dari perselisihan dalam kebenaran, mengikuti hawa nafsu, jalan-jalan kesesatan, dan kerancuan dalam segenap perkara, serta dari penyimpangan dan perdebatan.” [Disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 2333, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/143 (Tahqîq Masyhûr Hasan)]

 

Mati Yang Mulia di Kalangan Kaum Salaf

Imam Abdullah bin Al-Mubarak Al-Khurasâny berkata,

اعْلَمُ أَنِّي أَرَى أَنَّ الْمَوْتَ الْيَوْمَ كَرَامَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ لَقِيَ اللَّهَ عَلَى السُّنَّةِ , فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ , فَإِلَى اللَّهِ نَشْكُو وَحْشَتَنَا , وَذَهَابَ الْإِخْوَانِ , وَقِلَّةَ الْأَعْوَانِ , وَظُهُورَ الْبِدَعِ , وَإِلَى اللَّهِ نَشْكُو عَظِيمَ مَا حَلَّ بِهَذِهِ الْأُمَّةِ مَنْ ذَهَابِ الْعُلَمَاءِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ , وَظُهُورِ الْبِدَعِ

“Ketahuilah bahwa saya melihat kematian pada hari ini adalah suatu karamah bagi setiap muslim yang berjumpa dengan Allah di atas Sunnah. Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râjiûn ‘Sesunggunya kami adalah milik Allah, dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya’. Kepada Allah kami mengeluhkan kehambaran kami, berpulangnya segenap kawan, sedikitnya penolong, dan tampaknya bid’ah-bid’ah. Kepada Allah kami mengeluhkan besarnya (musibah) yang menimpa umat ini dengan kepergian ulama dan ahlussunnah, dan tampaknya berbagai bid’ah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhâh dalam Al-Bida’ no. 97]

Selengkapnya: Untaian Mutiara Salaf

4 Syarat agar Ilmu Bermanfaat Terhadap Hati

Informasi Artikel ini:
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits Hafidzahullah
Dipublikasikan: 11 January 2018
Dibaca: 8438

4 Syarat agar Ilmu Bermanfaat

Imam Ibnul Qayyim dalam Kitabal-Fawaa’id menjelaskan syarat untuk mendapatkan pengaruh dan mukjizat Qur’an ada empat:

Pertama, Muatsir Muqtadhin [arab: مؤثر مقتض]: Sumbernya adalah sumber otentik yang mengandung kebenaran.
Kedua, Mahalun Qobil [arab: محل قابل]: Adanya hati yang hidup dan siap menerima petunjuk Qur’an [kelayakan objek yang menerima pengaruh].
Ketiga, Ishghois Sam'i [arab: إصغاء السمع] Pendengarannya Normal [tidak tertutup]. Yaitu terpenuhinya syarat sampainya petunjuk.
Keempat, Syaahidul Qolbi [arab: شاهد القلب] Hadirnya persaksian hati atau tidak adanya ‘dinding’ yang menghalangi sampainya petunjuk tersebut [عدم المانع].

Keseluruhan syarat ini dirangkum secara padat dalam ayat 37 Surah Qaaf. Allah ta'aala berfirman:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.

Selengkapnya: 4 Syarat agar Ilmu Bermanfaat Terhadap Hati

  • Nikmat Aman di Indonesia dan Kiat-Kiat Menjaganya
  • Kisah Sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu‘anhu dalam Mencari Ilmu
  • Istiqomah Jalan Menuju Kebahagiaan
  • Cinta Sejati kepada Sang Nabi
  • 10 Sedekah yang Paling Utama
  • Khutbah Iblis yang Menyayat Hati
  • Ulbah bin Zaid: Kedermawanan Sang Faqir
  • PHK...? Siapa Takut!

Halaman 209 dari 344

  • 204
  • 205
  • 206
  • 207
  • 208
  • 209
  • 210
  • 211
  • 212
  • 213