Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang tidak pernah sekalipun berbuat baik, hanya saja dia biasa memberi pinjaman hutang kepada orang lain. Suatu hari dia berkata kepada pesuruhnya, ‘Ambillah berapapun yang disetorkan, jangan mempersulit orang dan sering-seringlah memberi maaf, mudah-mudahan Allah berkenan mengampuni kita.’
Setelah laki-laki itu meninggal dunia Allah Ta’ala bertanya, ‘Apakah kamu pernah berbuat baik.’ Laki-laki itu dengan jujur menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku mempunyai seorang pembantu dan aku biasa memberikan pinjaman kepada orang lain, ketika aku meminta pembantuku untuk menagih, selalu saja aku berpesan kepadanya, ‘Ambillah berapapun yang dia berikan, jangan mempersulit orang dan sering-seringlah memberi maaf, mudah-mudahan Allah mengampuni kita.’
Kemudian Allah berkata, ‘Cukup, Aku telah mengampunimu’.”
Bab 1: Keutamaan Shalat
1.6 Keutamaan Dzikir setelah Adzan
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا. غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ
“Siapa yang mengucapkan setelah mendengar adzan:
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa
(artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku ), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 386)
Dunia memang bukan surga. Maka hal wajar jika kadang kehidupan suami istri dilanda kejenuhan dan kebosanan. Namun bagaimana mengatasi kejenuhan ini? Bagaimana caranya mengembalikan gairah kehidupan rumah tangga?
Wahai saudaraku, para suami yang mulia, apabila perjalanan kehidupan suami istri mengalami kebuntuan dan kehilangan daya tariknya, maka kalian berdua harus berhenti sejenak dan saling bertanya: Mengapa terjadi kelesuan dalam kehidupan rumah tangga kita? Mengapa sampai menjadi kaku, kehilangan gairah dan kasih sayang? Bagaimana kita mengatasi kondisi yang buruk ini? Yang bisa memadamkan lentera cinta dan perasaan yang meluap-luap?
Kadang-kadang kehidupan kehilangan kemilaunya disebabkan adanya musuh yang senantisa menghembuskan kejahatan dan mengambil keuntungan di dalamnya. Dan bisa jadi disebabkan adanya problematika kehidupan, dan bisa jadi disebabkan kesibukan mencari sesuap nasi atau ketidak-tahuan kita terhadap perkara yang urgen, yaitu penyegaran yang bisa mengatasi musuh yang tersembunyi ini, musuh yang selalu membidik sasarannya.
Kehidupan rumah tangga butuh penyegaran dan peremajaan. Butuh perawatan. Mengapa tidak!? Mesin yang bekerja siang malam saja butuh waktu perawatan dan start up kembali, agar kinerjanya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Selengkapnya: 14. Ketika Kehidupan Suami Istri Dilanda Kejenuhan dan Kebosanan
Halaman 177 dari 346