Hubungan Cinta Kasih Sepasang Suami Isteri
Saudaraku para suami yang mulia...
Cinta kasih sepasang suami istri adalah sesuatu yang sangat bernilai. Sebab ia ibarat ruh dalam kehidupan berumah tangga. Yaitu perasaan cinta dan kasih sayang yang dipendam oleh kedua belah pihak terhadap pasangannya. Cinta ibarat lokomotif penggerak bagi gerbong-gerbong kebahagiaan dan kedamaian. Bahkan cinta ibarat cahaya yang menerangi bahtera mereka berdua. Cinta adalah magnet yang bisa merekatkan sepasang suami istri hingga keduanya merasa seolah jiwa dan raga mereka satu. Bahkan hati mereka seolah satu dan begitu padu. Cinta adalah perasaan jiwa yang penuh kerelaan terhadap pasangannya, ridha kepada pasangannya dan keterpesonaan kepada sifat, perbuatan serta perilakunya.
Oleh karena itu...
Pandai-pandailah engkau menyemai benih-benih cinta dalam hati istrimu. Sehingga seiring bertambahnya usia pernikahan, semakin bertambah pula cintanya kepadamu.
Rawat dan siramilah pohon-pohon cinta dan kasih sayang itu hingga ia terus bersemi, berkembang dan tidak layu ataupun mengering.
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Merenungkan gerakan dalam shalat, bentuknya ada 2:
Pertama, Merenungkan bagaimana cara melakukan gerakan yang sesuai sunah
Modal utama untuk bisa melakukan ini adalah dengan mempelajari sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat. Seperti bagaimana cara melakukan takbiratul ihram yang sesuai sunah, bagaimana cara sedekap yang sesuai sunah, cara rukuk yang benar, cara i'tidal yang benar, dst.
Mengapa harus sesuai sunah?
Karena secara umum, manusia akan semakin yakin dengan amalannya, jika amalan itu sesuai dengan praktek yang dilakukan panutannya. Sehingga, jika anda ingin gerakan shalat anda yakin benar, ikuti praktek shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau pernah menegaskan hal ini dalam sabdanya,
وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari, no. 6008)
Kata kuncinya adalah jadikan gerakan shalat kita berdalil, sehingga anda bisa berfikir untuk melakukan gerakan sesuai sunah ketika shalat. InsyaaAllah saya akan menyebutkan beberapa rincian sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beberapa gerakan dalam shalat.
Hanya saja, para pembaca yang ingin melihat lebih detail sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat, kami sarankan agar membaca buku: Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karya Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah. Buku ini termasuk salah satu karya ilmiah, yang menginspirasi saya untuk belajar shalat lebih serius. Alhamdulillah, sudah banyak edisi terjemah bahasa Indonesia.
Bab 1: Keutamaan Shalat
4. Keutamaan Muadzin
Dari Muawiyah radhiallahu ‘anhu, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat nanti” (HR. Muslim No. 387, Ibnu Majah No. 725, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 777
📄 Kosakata
Kata الْمُؤَذِّنِينَ : para penyeru adzan sholat.
Kata أَعْنَاقًا : leher
🏷️ Penjelasan Singkat
Mu'awiyah bin Abu Sufyan Radhiyallahuma, seorang Sahabat Nabi yang juga sebagai penulis wahyu telah membawakan kepada kita kabar gembira dan anugerah Rabbaniyyah melalui lisan Nabi yang suci ini. Maka, berbahagialah para muadzin yang ikhlas semata-mata demi berharap pahala. Dan sepatutnyalah kita berlomba-lomba meraih karunia itu.
Ulama berbeda pendapat mengenai hakikat kemuliaan muadzin ini. Imam an-Nawawi Rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya Syarah Muslim: “Ada yang mengatakan: “Makna hadits di atas adalah, orang yang paling banyak memandang rahmat Allah ﷻ. Karena orang yang memandang itu akan memanjangkan lehernya ke arah sesuatu yang dipandangnya.
Maksudnya, memandang banyaknya pahala yang mereka lihat. Ada juga yang mengatakan: ‘Ketika manusia dikepung oleh banjir keringat di hari Kiamat, leher mereka memanjang sehingga banjir air keringat itu tidak mencapai wajah mereka' Ada juga yang berpendapat: ‘Maksudnya, para muadzin itu merupakan para pemuka dan pemimpin, karena bangsa Arah menyebut para pemuka dan pemimpin sebagai orang-orang yang berleher panjang'. Serta ada juga yang mengatakan. ‘Maksudnya, orang-orang yang paling banyak amalnya.”" (Syarh An-Nawawi 'alaa Muslim I/88).
Halaman 179 dari 346