Fatwa-fatwa tentang Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Informasi Artikel ini:
Penulis: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts wal Ifta’
Dipublikasikan: 04 Juni 2020
Dibaca: 9065

Fatwa-fatwa tentang Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Dalil-dalil tentang Puasa Syawal

Dari Abu Ayyub radhiyallahu anhu:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup’.” [Riwayat Muslim 1984, Ahmad 5/417, Abu Dawud 2433, At-Tirmidzi 1164]

Hukum Puasa Syawal

Hukumnya adalah sunnah: “Ini adalah hadits shahih yang menunjukkan bahwa berpuasa 6 hari pada Syawal adalah sunnah. Asy-Syafi’i, Ahmad dan banyak ulama terkemuka mengikutinya. Tidaklah benar untuk menolak hadits ini dengan alasan-alasan yang dikemukakan beberapa ulama dalam memakruhkan puasa ini, seperti; khawatir orang yang tidak tahu menganggap ini bagian dari Ramadhan, atau khawatir manusia akan menganggap ini wajib, atau karena dia tidak mendengar bahwa ulama salaf biasa berpuasa dalam Syawal, karena semua ini adalah perkiraan-perkiraan, yang tidak bisa digunakan untuk menolak Sunnah yang shahih. Jika sesuatu telah diketahui, maka menjadi bukti bagi yang tidak mengetahui.”
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/389]

Hal-hal yang berkaitan dengannya adalah:

1. Tidak harus dilaksanakan berurutan.

“Hari-hari ini (berpuasa syawal-) tidak harus dilakukan langsung setelah ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah ‘Id, dan mereka boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang lebih mudah bagi seseorang. … dan ini (hukumnya-) tidaklah wajib, melainkan sunnah.”
[Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/391]

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
“Shahabat-shahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa 6 hari Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena dia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini dan inilah juga pendapat Ahmad dan Abu Dawud.” [Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab]

Bagaimanapun juga bersegera adalah lebih baik: Berkata Musa: ‘Itulah mereka telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbi, supaya Engkau ridho kepadaku. [QS Thoha: 84]

Selengkapnya: Fatwa-fatwa tentang Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Golongan Manusia dalam Beribadah

Informasi Artikel ini:
Penulis: Muhammad Sulhan Jauhari
Dipublikasikan: 17 April 2020
Dibaca: 8026

Golongan Manusia dalam Beribadah

Di antara hal yang kita harapkan dari amal ibadah yang telah kita lakukan adalah amalan-amalan tersebut diterima di sisi Allah ta’ala. Namun ternyata tidak semua orang yang berharap amalannya diterima di sisi Allah, amalannya tersebut benar-benar diterima oleh Allah azza wa jalla. Begitu banyak manusia yang amalannya tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah ta’ala.

Apabila kita melihat manusia dalam beribadah kepada Allah, ternyata mereka terbagi menjadi beberapa golongan, setiap golongan berharap bahwa dia-lah yang paling baik amalannya. Namun harapan adalah harapan, tidak semua orang yang berharap dapat merasakan hasil baiknya, kecuali apabila ia meniti jalan yang telah disyariatkan. Seorang penyair bersenandung:

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا             إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَمْ تَجْرِ عَلَى الْيَبَسِ

“Engkau berharap keselamatan namun enggan meniti jalannya, ketahuilah bahtera itu takkan berjalan di atas daratan”

Bila kita cermati secara mendalam, manusia dalam beribadah kepada Allah terbagi menjadi empat golongan. Dari keempat golongan tersebut, tidak ada yang selamat atau menjadi firqoh naajiyah kecuali satu golongan saja. Untuk lebih jelasnya, berikut kami paparkan keempat golongan tersebut:

Selengkapnya: Golongan Manusia dalam Beribadah

Enam Pilar Bukti Butuhnya Hamba Kepada Allah Di Masa-masa Sulit

Informasi Artikel ini:
Penulis: Muhammad Sulhan Jauhari
Dipublikasikan: 11 April 2020
Dibaca: 10354
Enam Pilar Bukti Butuhnya Hamba Kepada Allah Di Masa-masa Sulit

Penyusun : Syaikh Sholeh bin Abdullah al-‘Ushoimiy
Penerjemah : Muhammad Sulhan Jauhari

Segala puji bagi Allah yang Maha melakukan apa yang Dia kehendaki dan Maha memutuskan apa yang Dia inginkan. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai persaksian tauhid. Aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan- Nya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas beliau, keluarga dan para sahabatnya, dengan sholawat yang sempurna lagi kekal hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Kaum Mukminin, sesungguhnya butuhnya hamba kepada Allah subhanahu wa ta'ala merupakan hal penting yang harus ia miliki. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai sekalian manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, dan Allah Dia-lah yang Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Pentingnya hal tersebut lebih ditekankan lagi pada masa-masa sulit dan ketika adanya hajat di tengah umumnya manusia. Sebab manusia itu, apabila tertimpa kesulitan dan kesempitan, mereka sangat butuh kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Selengkapnya: Enam Pilar Bukti Butuhnya Hamba Kepada Allah Di Masa-masa Sulit

  • Berlindung dari Adzab Kubur
  • Masjid Ditutup sementara Pasar Masih Buka
  • Hukum Berjabat Tangan dalam Islam
  • Tiga Sifat Penghuni Neraka
  • Panduan Lengkap Membenahi Akidah Berdasarkan Manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah
  • Larangan Meniru Orang Kafir
  • 13 Waktu yang Mustajab untuk Berdo'a
  • Nabi yang Tidak Memiliki Pengikut

Halaman 185 dari 346

  • 180
  • 181
  • 182
  • 183
  • 184
  • 185
  • 186
  • 187
  • 188
  • 189