Bohong, Sifat yang Hina di Masyarakat Jahiliyah

Informasi Artikel ini:
Penulis: Nurfitiri Hadi
Dipublikasikan: 05 October 2018
Dibaca: 6750

Dialog Heraclius dan Abu Sufyan

bohongDi masa jahiliyah bohong atau dusta adalah sifat yang hina. Mereka benar-benar memandang dusta sebagai sifat rendahan. Islam hadir di lisan masyarakat yang jujur ini sehingga syahadat bisa terwakili dengan zhahir ucapan lisan. Ketika lisan mereka telah berucap itu berarti isi hati dan perbuatan pun sama.

Berikut ini sebuah kisah dimana orang-orang Arab jahiliyah menganggap dusta adalah aib yang tercela dan memalukan. Orang-orang akan mengingatnya dalam waktu yang panjang. Dan dicap sebagai pembohong. Apalagi kalau yang berdusta adalah seorang tokoh. Kisah ini sekaligus menguatkan hikmah mengapa Nabi Muhammad ﷺ diutus di Arab.

Dari Abdullah bin Abbas:

Setelah Caisar Heraclius (Raja Romawi) membaca surat Rasulullah ﷺ yang ditujukan kepadanya, ia berkata, “Hadapkan kepadaku salah seorang dari kaum orang yang mengaku Nabi ini. Aku ingin bertanya tentang dia”.

Abdullah bin Abbas melanjutkan:

Abu Sufyan bercerita kepadaku bahwa ia dan orang-orang Quraisy berada di Syam untuk berdagang. Saat itu Rasulullah ﷺ dan orang-orang Quraisy masih sedang mengikat perjanjian damai. Lalu datanglah utusan Caisar. Kami pun diundang bertemu raja. Kami masuk menemui Caisar. Caisar duduk di singgasananya dengan mengenakan mahkota. Dan di sekelilingnya terdapat tokoh-tokoh Kerajaan Romawi.

Selengkapnya: Bohong, Sifat yang Hina di Masyarakat Jahiliyah

Syubhat-syubhat Seputar Demonstrasi

Informasi Artikel ini:
Penulis: Abu Hudzaifah Sofyan Basweidan Hafidzahullah
Dipublikasikan: 05 October 2018
Dibaca: 15373

Bissmillahirrahmaanirrahiem…

DemonstrasiAdalah musibah besar ketika umat kehilangan ulama-ulama robbani-nya. Musibah ini mengakibatkan sejumlah mafsadat nyata. Yang paling besar di antaranya ialah: makin beraninya ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu dalam mendakwahkan bid’ah dan kesesatan mereka. Imam Al Aajurry mengatakan dalam kitab “Akhlaqul Ulama”: “ Para ulama ibarat pelita manusia, penerangan negara, dan tonggak kejayaan umat. Mereka ibarat sumber hikmah yang selalu memancing kemarahan setan. Melalui mereka, hati pengikut kebenaran akan hidup, dan hati pengikut kesesatan akan mati. Perumpamaan mereka di bumi ibarat bintang-bintang di langit, yang menjadi petunjuk di kegelapan malam saat berlayar di tengah lautan. Jika bintang-bintang itu hilang, bingunglah para pelaut tak karuan; dan begitu cahayanya terlihat, barulah mereka bisa melihat di kegelapan”.

Salah satu contohnya ialah sebagaimana yg diceritakan oleh Al Hafizh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’, dari Yahya bin Aktsam yang mengisahkan: “Khalifah Al Ma’mun (yg berakidah mu’tazilah dan meyakini bahwa Al Qur’an adalah makhluk) pernah berkata kepada kami: “Kalaulah bukan karena posisi Yazid bin Harun (salah seorang tokoh Ahli Sunnah di zamannya), pastilah kunyatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk. Ada yg bertanya: Memangnya siapa itu Yazid sehingga perlu disegani? Jawab Al Ma’mun: Payah kamu ! Aku menyeganinya bukan karena ia berkuasa, namun aku khawatir jika kunyatakan masalah ini kemudian ia membantahku, sehingga terjadi perselisihan di tengah masyarakat dan timbul fitnah”.

Ini menunjukkan bahwa hidupnya para tokoh Ahlussunnah merupakan benteng bagi syari’at dan manusia secara umum dari pengaruh bid’ah dan kesesatan. Meskipun kisah ini berkaitan dengan penjagaan terhadap bid’ahnya penguasa, akan tetapi maknanya juga berlaku dalam menjaga umat dari kesesatan semua kalangan, baik mereka itu penguasa maupun rakyat jelata. Sebagian orang yang berjiwa revolusioner cenderung memahami keberanian hanya dalam skup amar ma’ruf nahi munkar; dan ketika seseorang berani menyatakan kebenaran di depan penguasa saja; bukan di depan yg lainnya.

Padahal, realita yang terjadi adalah bahwa keberanian itu lebih luas cakupannya dari kedua contoh tadi. Bahkan keberanian sesungguhnya ialah ketika seseorang bisa bersabar demi membela sunnah dan membasmi bid’ah saat kebanyakan orang menentang sikapnya. Betapa banyak kalangan yang mendapat dukungan publik dan popularitas karena sikapnya yang ‘anti-pemerintah’… bahkan ada di antara mereka yang sengaja menjadikan hal itu sebagai wasilah untuk mewujudkan ambisinya… sehingga bila pengikutnya telah demikian banyak, ia pun akan ‘bernegosiasi’ dengan pemerintah dengan imbalan materi atau yang semisalnya !

Selengkapnya: Syubhat-syubhat Seputar Demonstrasi

Gempa Bumi dan Amalan Ketika Terjadi

Informasi Artikel ini:
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits & Ustadz Abu Ubaidah Yusuf
Dipublikasikan: 04 October 2018
Dibaca: 10966

Bismillah…

Gempa Bumi Merupakan Peringatan dari Allah Kepada Hamba-Nya

gempaDi antara bentuk peringatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah wujudkan dalam bentuk musibah dan bencana alam. Terkadang dalam bentuk angin kencang yang memporak-porandakan berbagai bangunan, terkadang dalam bentuk gelombang pasang, hujan besar yang menyebabkan banjir, gempa bumi, termasuk peperangan di antara umat manusia. Semuanya bisa menjadi potensi untuk mengingatkan manusia agar mereka takut dan berharap kepada Allah.

Allah berfirman,

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَاباً مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعاً وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain...” (QS. Al-An’am: 65)

Semua Musibah, Sebabnya Adalah Maksiat

Gempa bumi, musibah yang saat ini menggelayuti perasaan takut banyak manusia bisa jadi merupakan hukuman dari Al-Jabbar (Dzat Yang Maha Perkasa), disebabkan sikap manusia yang meninggalkan aturan Allah, yang bergelimang dengan maksiat dan dosa. Manusia bemaksiat kepada Allah, mereka melakukannya secara terang-terangan di hadapan Allah, tanpa ada rasa malu kepada Allah. Selanjutnya Allah perintahkan bumi untuk berguncang, terjadilah gempa bumi, agar manusia mau kembali betaubat, dan memohon ampunan kepada-Nya. Allah berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Tidaklah kami mengirim tanda-tanda kekuasaan itu (berupa musibah dan sejenisnya), selain dalam rangka menakut-nakuti mereka.” (QS. Al-Isra’: 59)

Untuk lebih menguatkan hal ini, mari kita perhatikan ayat berikut

Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Allah menyebut maksiat manusia sebagai makar, dan adzab bisa jadi akan turun secara tiba-tiba tanpa aba-aba:

أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لا يَشْعُرُونَ * أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُمْ بِمُعْجِزِين

“Maka apakah orang-orang yang membuat makar dengan melakukan maksiat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari. Atau Allah mengazab mereka di waktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu).” (QS. An-Nahl: 45 – 46)

Selengkapnya: Gempa Bumi dan Amalan Ketika Terjadi

  • Tiga Poros Kehidupan: Syukur, Sabar, dan Istighfar
  • Enam Hadits Lemah dan Palsu Tentang Keutamaan Amalan di Bulan Muharram
  • Tiga Hal yang Dicintai dan Tiga Hal yang Dimurkai Allah Azza wajalla
  • Menggabungkan Dua Niat
  • Pahala Berlipat di Malam Jum'at
  • Memahami Makna Syukur
  • Amalan-amalan Ringan yang Pahalanya Besar
  • Mengenal Putra Putri Rasulullah

Halaman 195 dari 338

  • 190
  • 191
  • 192
  • 193
  • 194
  • 195
  • 196
  • 197
  • 198
  • 199