Bagaimana Doa Salaf saat FitnahIbrahîm At-Taimy (w: 192H) berdoa,
اللَّهُمَّ اعْصِمْنِي بِدِينِكَ وَبِسُّنَّةِ نَبِيِّكَ، مِنَ الِاخْتِلَافِ فِي الْحَقِّ، وَمِنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى، وَمِنْ سُبُلِ الضَّلَالَةِ، وَمِنْ شُبُهَاتِ الْأُمُورِ، وَمِنَ الزَّيْغِ وَالْخُصُومَاتِ
“Ya Allah, jagalah saya dengan agama dan sunnah Nabi-Mu dari perselisihan dalam kebenaran, mengikuti hawa nafsu, jalan-jalan kesesatan, dan kerancuan dalam segenap perkara, serta dari penyimpangan dan perdebatan.” [Disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 2333, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/143 (Tahqîq Masyhûr Hasan)]
Imam Abdullah bin Al-Mubarak Al-Khurasâny berkata,
اعْلَمُ أَنِّي أَرَى أَنَّ الْمَوْتَ الْيَوْمَ كَرَامَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ لَقِيَ اللَّهَ عَلَى السُّنَّةِ , فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ , فَإِلَى اللَّهِ نَشْكُو وَحْشَتَنَا , وَذَهَابَ الْإِخْوَانِ , وَقِلَّةَ الْأَعْوَانِ , وَظُهُورَ الْبِدَعِ , وَإِلَى اللَّهِ نَشْكُو عَظِيمَ مَا حَلَّ بِهَذِهِ الْأُمَّةِ مَنْ ذَهَابِ الْعُلَمَاءِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ , وَظُهُورِ الْبِدَعِ
“Ketahuilah bahwa saya melihat kematian pada hari ini adalah suatu karamah bagi setiap muslim yang berjumpa dengan Allah di atas Sunnah. Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râjiûn ‘Sesunggunya kami adalah milik Allah, dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya’. Kepada Allah kami mengeluhkan kehambaran kami, berpulangnya segenap kawan, sedikitnya penolong, dan tampaknya bid’ah-bid’ah. Kepada Allah kami mengeluhkan besarnya (musibah) yang menimpa umat ini dengan kepergian ulama dan ahlussunnah, dan tampaknya berbagai bid’ah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhâh dalam Al-Bida’ no. 97]

Imam Ibnul Qayyim dalam Kitabal-Fawaa’id menjelaskan syarat untuk mendapatkan pengaruh dan mukjizat Qur’an ada empat:
Pertama, Muatsir Muqtadhin [arab: مؤثر مقتض]: Sumbernya adalah sumber otentik yang mengandung kebenaran.
Kedua, Mahalun Qobil [arab: محل قابل]: Adanya hati yang hidup dan siap menerima petunjuk Qur’an [kelayakan objek yang menerima pengaruh].
Ketiga, Ishghois Sam'i [arab: إصغاء السمع] Pendengarannya Normal [tidak tertutup]. Yaitu terpenuhinya syarat sampainya petunjuk.
Keempat, Syaahidul Qolbi [arab: شاهد القلب] Hadirnya persaksian hati atau tidak adanya ‘dinding’ yang menghalangi sampainya petunjuk tersebut [عدم المانع].
Keseluruhan syarat ini dirangkum secara padat dalam ayat 37 Surah Qaaf. Allah ta'aala berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.
Keamanan adalah lawan dari rasa takut. Dan ini diisyaratkan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya:
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ، الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Maka hendaknya mereka menyembah kepada Rabb pemilik rumah ini (Ka’bah). (Dia) yang telah memberikan makan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan memberikan keamanan kepada mereka dari rasa takut” (QS Quraisy [106]: 3-4)
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan menyebutkan dan mengingatkan nikmatNya kepada penduduk tanah Haram (Makkah) dengan menyebutkan dua nikmat yaitu nikmat rezeki dan nikmat rasa aman. Setelah itu Allah menyebutkan kebalikan dari rasa aman, yaitu rasa aman. Para ahli bahasa mendefinisikan kata aman sebagai situasi yang tenang dan damai.
Keamanan atau nikmat aman ada dua macam, yaitu:
1. KEAMANAN AGAMA
Yaitu kondisi dimana agama seorang muslim selamat, dia tetap berada di atas jalan tauhid dan terus beribadah kepada Allah Ta’ala dan jauh dari kesyirikan.
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( QS Al An’am [6]: 82)
2. KEAMANAN BADAN/FISIK
Yaitu kondisi dimana seorang muslim hidup di negerinya dalam keadaan merasa aman pada perkara hartanya, jiwanya, dan harga dirinya atau kehormatannya.
Bagaimana kiat-kiat menjaga nikmat aman dan keamanan di negri kita Indonesia?
Selengkapnya: Nikmat Aman di Indonesia dan Kiat-Kiat Menjaganya
Halaman 203 dari 338