Kisah Sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu‘anhu dalam Mencari Ilmu

Informasi Artikel ini:
Penulis: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.
Dipublikasikan: 11 January 2018
Dibaca: 39918

Kisah jabirDari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dia mendengar Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِفَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا ثُمَّ شَدَدْتُ عليه رَحْلِي فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ، فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أُنَيْسٍ فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ: قُلْ لَهُ جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ. فَقَالَ: ابْنُ عَبْدِ اللهِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ فَقُلْتُ: حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ فِي الْقِصَاصِ فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْقَالَ الْعِبَادُ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا. قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍيَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ حَتَّى اللَّطْمَةُ. قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ

“Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang langsung mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sedangkan aku tidak mendengar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, –pen).” Jabir berkata, “Aku pun bersegera membeli seekor unta. Aku persiapkan bekal perjalananku dan aku tempuh perjalanan satu bulan untuk menemuinya, hingga sampailah aku ke Syam. Ternyata orang tersebut adalah Abdullah bin Unais.” Aku berkata kepada penjaga pintu rumahnya, “Sampaikan kepada tuanmu bahwa Jabir sedang menunggu di pintu.” Penjaga itu masuk dan menyampaikan pesan itu kepada Abdullah bin Unais. Abdullah bertanya, “Jabir bin Abdillah?” Aku menjawab, “Ya, benar!” (Begitu tahu kedatanganku), Abdullah bin Unais bergegas keluar, lalu dia merangkulku dan aku pun merangkulnya.” Aku berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits, dikabarkan bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qishash (pembalasan atas kezaliman di hari kiamat, –pen.). Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dahulu meninggal sementara aku belum sempat mendengarnya.”

Abdullah bin Unais berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seluruh manusia atau hamba nanti akan dikumpulkan di hari kiamat dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan buhma.’ Kami bertanya, ‘Apa itu buhma?’ Beliau menjawab, ‘Tidak membawa apa pun.

Selengkapnya: Kisah Sahabat Jabir bin Abdillah Radhiallahu‘anhu dalam Mencari Ilmu

Istiqomah Jalan Menuju Kebahagiaan

Informasi Artikel ini:
Penulis: Ustadz Aunur Rofiq Ghufron, lc
Dipublikasikan: 06 January 2018
Dibaca: 10618
Istiqomah Jalan KenahagiaanMateri Kajian Masjid Namira, Lamongan

Oleh Ustadz Aunur Rofiq Ghufron,lc  Hafidzahullah

 Setiap orang pasti ingin hidup bahagia selamanya, baik dunia dan akhiratnya, namun manusia berbeda pendapat didalam meraih kebahagiaan, ada kalanya dengan mencari harta yang banyak, mencari hiburan dan cara lainnya, sedangkan kebahagiaan menurut islam ditempuh dengan ibadah dan istiqomah

Allah memerintah kita ibadah hanya sebentar , yaitu ketika kita hidup di dunia, umur antara 60-70 tahun, tidak lama

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

...dan beribadahlah kepada Robbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). [QS. Al Hijer(15) ayat 99].

Dengan dasar ayat ini, kita tidak lama beribadah kepada Allah yang berupa melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya, sungguh sangat sedikit dan pendek umur kita di dunia kita beribadah kepada Allah, karena orang ketika sudah mati tidaklah diwajibkan beribadah lagi, Rasulullah bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ

Apabila seseorang telah meninggal dunia maka terputuslah semua amal perbuatannya {Muslim: 5/73}

Selanjutnya beribadah kepada Allah, sangat mudah dikerjakan, perhatikan orang shalat lebih mudah dari pada mencari rezki, yang tidak bisa berdiri boleh duduk, masih sulit mencari dunia, belum tentu orang yang berjuang menjadi orang kaya dia kaya, tetapi siapa yang ingin sorga jalannya mudah.

Selengkapnya: Istiqomah Jalan Menuju Kebahagiaan

Cinta Sejati kepada Sang Nabi

Informasi Artikel ini:
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawy
Dipublikasikan: 05 January 2018
Dibaca: 10469
love muhammadManusia yang paling terpuji di dunia ini adalah Nabi Muhammad . Beliau diutus oleh Allohsebagai penutup Nabi dan rasul, diutus sebagai rahmatan lil alamin. Nama Beliau sering disebut dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Nama beliau senantiasa disebut oleh para ahli hadits, bahkan setiap waktu nama beliau selalu disebut seperti ketika adzan dan iqomat dikumandangkan, ketika tasyahhud dalam shalat, dan ketika membaca atau mendengar nama beliau. Sunnah Beliau ditulis, diamalkan, dibela dan disebarluaskan oleh pembelanya. 

Oleh karenanya, mencintai beliau merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim dan muslimah, bahkan dia harus lebih mencintai Nabi daripada orang-orang kesayangannya. Rasululloh bersabda :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (HR. Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.44)

Hanya saja masalahnya, bagaimanakah hakekat cinta kepada beliau?! Sungguh, betapa banyak orang mengaku cinta kepada beliau, tetapi ternyata hanya sekedar pengakuan belaka!! Oleh karenanya, Allah mendustakan pengakuan-pengakuan semu tersebut: 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Imron: 31) 

Imam Ibnu Katsir berkata: “Ayat mulia merupakan hakim bagi orang-orang yang mengaku cinta Allah tetapi dia tidak mengikuti jalan yang ditempuh Nabi, dia dusta dalam pengakuannya sehingga dia mengikuti syariat dan agama Nabi Muhammad dalam setiap ucapannya, perbuatannya, dan keadaannya”. 

Memuliakan Nabi bukanlah dengan cara-cara yang tidak diridhoi oleh Alloh seperti mengadakan peringatan maulud nabi, isro’ mi'roj, membuat shalawat-sholawat bid'ah yang tidak ada tuntunannya dan amalan bid’ah lainnya. Lalu bagaimanakah seharusnya umat Islam mencintai Nabi yang mulia?!!

Selengkapnya: Cinta Sejati kepada Sang Nabi

  • 10 Sedekah yang Paling Utama
  • Khutbah Iblis yang Menyayat Hati
  • Ulbah bin Zaid: Kedermawanan Sang Faqir
  • PHK...? Siapa Takut!
  • Surga Dunia
  • Rajin Ngaji tapi Malas Bekerja
  • Khutbah Jumát: Boikot Produk Yahudi
  • Hauqolah - Perbendaharaan dan Pintu Surga

Halaman 204 dari 338

  • 199
  • 200
  • 201
  • 202
  • 203
  • 204
  • 205
  • 206
  • 207
  • 208