Mendidik Anak - Tiket Menuju Surga: Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 28 November 2025
Dibaca: 955

بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃Materi : “Mengevaluasi Peran Ayah Bunda Dalam Pendidikan Anak”
🎙┃Pemateri : Ustadz Dr. Sufyan Bin Fuad Baswedan. Lc, M.A. حفظه الله تعالى
🗓┃Hari & Tanggal : Jum'at, 7 Jumadil Akhir 1447 H | 28 November 2025 M
🕰┃Waktu : 13.00 - 15.00 WIB
🕌┃Tempat : Masjid Ibaadurrahmaan Goro Assalaam. Jl. A. Yani No.308, Gumpang Lor, Pabelan, Kec. Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
📖┃Daftar Isi :  



Mendidik Anak, Tiket Menuju Surga

Pertemuan#2: Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak

Pada pertemuan sebelumnya telah dibahas mengenai Tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak dan keutamaan mendidik anak perempuan, dimana dijelaskan bahwa Islam datang menghapus paradigma Jahiliyyah: Aib mempunyai anak perempuan.

Di mana, di masa itu memiliki anak perempuan adalah ujian. Dan ini menjadi takdir buat Nabi ﷺ yang memiliki anak perempuan, sementara anak laki-laki satu-satunya pun meninggal diwaktu kecil, sehingga menjadi bahan olok-olok kaum musyrikin (yang terputus) hingga Allah ﷻ membalasnya dengan surat Al-Kautsar ayat 3: "Sesungguhnya yang membenci kamu, dialah yang terputus".

Ustadz, mengulang bahasan agar lebih mudah dipahami:

Selengkapnya: Mendidik Anak - Tiket Menuju Surga: Kewajiban Orang Tua dalam Mendidik Anak

Tadabbur Surat Nuh #2 | Tafsir Ayat 5-14

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 28 November 2025
Dibaca: 1475
  • Tafsir Al-Quran

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 ┃Al-Mukhtaṣar fī Tafsīr Al-Qur`ān Al-Karīm
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i حفظه الله تعالى - Staff Pengajar Ponpes Al-Madinah Surakarta
🗓┃Pertemuan 2: 27 November 2025 / 6 Jumadil Akhir 1447 H 
🕰┃ Ba'da Isya [19:30-20:30]
🕌┃ Masjid Ponpes Joglo Qur'an - Boyolali



Tadabbur Surat Nuh #2 | Ayat 5-14

Melanjutkan Tafsir Surat Nuh dari pertemuan sebelumnya: Pertemuan 1

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

٥. قَالَ رَبِّ إِنِّى دَعَوْتُ قَوْمِى لَيْلًا وَنَهَارًا

qāla rabbi innī da’autu qaumī lailaw wa nahārā

5. Nuh berkata: “Ya Rabbi sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,

Tafsir: Nuh berkata, “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku telah mengajak kaumku untuk menyembah-Mu dan menauhidkan-Mu siang dan malam dengan terus menerus.

Selengkapnya: Tadabbur Surat Nuh #2 | Tafsir Ayat 5-14

Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #15 | Bab-13: Aqidah tentang Sahabat Nabi ﷺ

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 27 November 2025
Dibaca: 1064
  • Ushulus Sunnah

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 15: Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447 / 26 November 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.



POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH

Daftar Isi:

  1. 📖 Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #15 | Bab-13: Aqidah tentang Sahabat Nabi ﷺ

📖 Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

وَخَيْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا: أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ، ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، نُقَدِّمُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ كَمَا قَدَّمَهُمْ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَمْ يَخْتَلِفُوا فِي ذَلِكَ، ثُمَّ بَعْدَ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ أَصْحَابُ الشُّورَى الخَمْسُ: عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَسَعْدٌ، كُلُّهُمْ يَصْلُحُ لِلْخِلَافَةِ وَكُلُّهُمْ إِمَامٌ. وَنَذْهَبُ فِي ذَلِكَ إِلَى حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ: كُنَّا نَعُدُّ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَيٌّ، وَأَصْحَابُهُ مُتَوَافِرُونَ: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ نَسْكُتُ.

Yang terbaik dari umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq lalu Umar bin Khatab lalu Utsman bin Affan. Kami mendahulukan mereka bertiga seperti yang dilakukan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mereka tidak berselisih tentangnya. Kemudian setelah tiga orang ini adalah tim musyawarah (di zaman Umar), yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad. Mereka semua layak menjadi khalifah dan mereka semua adalah pemimpin (tokoh). Kami berpendapat seperti itu merujuk kepada hadits Ibnu Umar: “Kami dahulu mengurutkan saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Sahabat masih hidup: Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman lalu kami diam.”

ثُمَّ مِنْ بَعْدِ أَصْحَابِ الشُّورَى أَهْلُ بَدْرٍ مِنَ المُهَاجِرِينَ، ثُمَّ أَهْلُ بَدْرٍ مِنَ الأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَلَى قَدْرِ الهِجْرَةِ وَالسَّابِقَةِ أَوَّلًا فَأَوَّلًا.

Kemudian setelah tim musyawarah adalah pasukan Badar dari Muhajirin lalu pasukan Badar dari Anshor yang merupkan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (pilihan), di mana keutamaan mereka sesuai keterdahuluan hijroh dan masuk Islam.

ثُمَّ أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ هَؤُلَاءِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: القَرْنُ الَّذِي بُعِثَ فِيهِمْ. كُلُّ مَنْ صَحِبَهُ سَنَةً أَوْ شَهْرًا أَوْ يَوْمًا أَوْ سَاعَةً أَوْ رَآهُ، فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ. لَهُ مِنَ الصُّحْبَةِ عَلَى قَدْرِ مَا صَحِبَهُ، وَكَانَتْ سَابِقَتُهُ مَعَهُ، وَسَمِعَ مِنْهُ، وَنَظَرَ إِلَيْهِ نَظْرَةً. فَأَدْنَاهُمْ صُحْبَةً هُوَ أَفْضَلُ مِنَ القَرْنِ الَّذِينَ لَمْ يَرَوْهُ، وَلَوْ لَقُوا اللَّهَ بِجَمِيعِ الأَعْمَالِ.

Kemudian manusia terbaik setelah mereka para Sahabat Rasulullah adalah generasi yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus kepada mereka. (31) Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik setahun, sebulan, sehari, bahkan sesaat pun atau pernah melihatnya, maka ia termasuk Sahabatnya. Derajat persahabatannya sesuai kadar lama bersahabat, keterdahuluan masuk Islam, mendengar darinya, dan melihatnya. (32) Orang yang paling rendah kadar persahabatannya adalah lebih utama daripada generasi yang tidak melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun bertemu Allah membawa semua jenis amal shalih.

كَانَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ صَحِبُوا النَّبِيَّ ﷺ وَرَأَوْهُ وَسَمِعُوا مِنْهُ وَمَنْ رَآهُ بِعَيْنِهِ وَآمَنَ بِهِ وَلَوْ سَاعَةً: أَفْضَلَ لِصُحْبَتِهِ مِنَ التَّابِعِينَ وَلَوْ عَمِلُوا كُلَّ أَعْمَالِ الخَيْرِ.

Orang-orang yang bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, melihatnya, mendengar darinya, dan siapapun yang melihat dengan kedua matanya dan beriman kepadanya meski sesaat adalah lebih utama disebabkan persahabatan ini daripada Tabiin meskipun pernah mengerjakaan semua amal kebaikan.

Selengkapnya: Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #15 | Bab-13: Aqidah tentang Sahabat Nabi ﷺ

  • Ahadits Ishlahul Qulub: Ketakwaan Hati #1
  • Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah: #1 Agama Islam Adalah Agama Yang Haq Yang Dibawa Oleh Nabi Muhammad ﷺ
  • Bahjah Qulubil Abrar #2: Hadits ke-1 dan 2 | Barometer Amalan Bathin dan Dzahir
  • Mukhtashar fii Khuluqil Muslim#14-15: Akhlak Muslim terhadap Diri Sendiri
  • Sebab-sebab Syaitan Menguasai Manusia #7: Melakukan Perbuatan Dosa (Maksiat)
  • Risalah Ila Ahli Qaseem | Bantahan Terhadap Tuduhan: Perbedaan diantara Para Ulama adalah Petaka
  • Syarah Fadhlul Islam#21: Bid'ah itu Lebih Berat Bahayanya Dibandingkan Dosa-dosa Besar (3)
  • Kitab Tauhid Bab 40-1 | Mengingkari Sebagian Nama dan Sifat Allah ﷻ

Halaman 26 dari 324

  • 21
  • 22
  • 23
  • 24
  • 25
  • 26
  • 27
  • 28
  • 29
  • 30