Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah Ta'ala

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 14 July 2009
Dibaca: 11374
إنا لله وإنا إليه راجعون
____________________
بسم الله الرحمن الرحيم
"ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين * الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون * أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون"


Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al-Baqarah: 155-157)

Telah berpulang ke Rahmatullah Ta’ala Syaikh kita, Imam kita, Ayahanda kita Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Ibnu Jibrin pada jam 14.00, ba’da Zhuhur waktu setempat, hari Senin, Tanggal: 20 Rajab 1430 H (13 Juli 2009 M).

(Insya Allah Ta’ala) beliau akan dishalatkan pada hari selasa, tanggal: 21 Rajab 1430 H (14 Juli 2009 M) Zhuhur waktu setempat di Masjid Jami’ al-Imam Turki Bin Abdullah (Masjid Besar) di Kota Riyadh. Serta akan dimakamkan di pemakaman al-‘Aud.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepadanya, membalasnya dengan sebaik-baik balasan atas jasa dan kebaikan beliau kepada kaum muslimin, dan semoga Allah mengumpulkannya bersama para malaikat di dalam Surga Firdaus. Sesungguhnya Dia (Allah) Wali atas hal itu dan Dia Maha Kuasa atasnya.


وإنا لله وإنا إليه راجعون

Maktab Syaikh Abdullah al-Jibrin
Senin, 20 Rajab 1430 H (13 Juli 2009 M).
(http://ibn-jebreen.com/An)

Sumber : www.alsofwah.or.id

Next..... Biografi Syaikh Ibnu Jibrin.

Selengkapnya: Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Syaikh Ibnu Jibrin Rahimahullah Ta'ala

Menjadi Orang Asing di Dunia

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 11 July 2009
Dibaca: 10866
Penulis: Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh
Diterjemahkan dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 40. Oleh: Abu Fatah Amrulloh
Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

pengembaraDari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)

Penjelasan
Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berisi nasihat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Hadits ini dapat menghidupkan hati karena di dalamnya terdapat peringatan untuk menjauhkan diri dari tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur dan sebagainya.

Ibnu Umar berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku”, hal ini menunjukkan perhatian yang besar pada beliau, dan saat itu umur beliau masih 12 tahun. Ibnu Umar berkata: “beliau pernah memegang kedua pundakku”. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau penyeberang jalan”. Jika manusia mau memahami hadits ini maka di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan realita. Sesungguhnya manusia (Adam –pent) memulai kehidupannya di surga kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Alloh adalah surga. Sesungguhnya Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engkau mau merenungkan hal ini, maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prinsip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan oleh Al Musthofa shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Selengkapnya: Menjadi Orang Asing di Dunia

Bersabar Dalam Menghadapi Takdir Allah 'Azza wajalla

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 06 July 2009
Dibaca: 14059

SabarSyaikh Al Mushlih Muhammad At-Tamimi rahimahullah ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab: Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah).

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini:

“Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran. Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syariat (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syariat (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.

Maka hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syariat serta menjauhi larangan syariat dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hambaNya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir. Adapun ujian dengan ajaran agama sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Allah ta’ala berfirman: Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu.’ Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.

Selengkapnya: Bersabar Dalam Menghadapi Takdir Allah 'Azza wajalla

  • Prinsip-prinsip Mengkaji Agama
  • Makna Syahadatain, Rukun, Syarat, Konsekuensi dan yang Membatalkannya
  • Saudariku, Berjilbablah Sesuai Ajaran Nabimu!
  • JUMLAH NAMA DAN SIFAT ALLAH
  • Dokumen Rahasia Agama Syi’ah Imamiyah
  • Muda Foya-foya, Mati Masuk Sorga?
  • Bahaya JIL bagi aqidah Umat, Pembentengan dan Solusinya
  • Agar Rizki mendapat Keberkahan

Halaman 325 dari 337

  • 320
  • 321
  • 322
  • 323
  • 324
  • 325
  • 326
  • 327
  • 328
  • 329