Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #6 | Bab ke-3: Beriman kepada Takdir

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 21 August 2025
Dibaca: 3490
  • Ushulus Sunnah

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 6: 27 Safar 1447 / 20 Agustus 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.



POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH

Daftar Isi:

  1. Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #6 | Bab ke-3: Beriman kepada Takdir
  2. Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

Ustadz mengingatkan kembali untuk selalu bersyukur agar kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat seperti air yang menyuburkan tanaman.

Benarlah apa yang dikatakan Ibnu Faris Rahimahullah:

إذَا كُنْتَ تُؤذَى بِحَرِّ المَصِيف ... وَيُبْسِ الخَرِيفِ وَبَرْدِ الشِّتَا
وَيُلْهِيْكَ حُسْنُ زَمَانِ الرَّبِيْع ... فَأَخْذُكَ لِلْعِلْمِ قُلْ لِي مَتَى؟

Jika kamu tersiksa dengan teriknya musim panas ... gersangnya musim gugur dan dinginnya musim dingin.
Dan juga terlenakan dengan indahnya musim semi ... Maka katakan kepadaku, kapan kamu akan belajar ilmu?

Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #6 | Bab ke-3: Beriman kepada Takdir

Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

وَمِنَ السُّنَّةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي مَنْ تَرَكَ مِنْهَا خَصْلَةً - لَمْ يَقْبَلْهَا وَيُؤْمِنْ بِهَا - لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِهَا:

Termasuk Sunnah-Sunnah (Akidah) yang jika ditinggalkan satu saja ―tidak diterima maupun tidak diimani― maka ia bukan termasuk Ahlus Sunnah adalah:

📃 Penjelasan:

Syaikh memulai dengan menyebut bahwa poin selanjutnya adalah pokok akidah (beliau menyebut Sunnah) yang dengannya menjadi pembeda antara Ahlus Sunnah dan Ahlu bid'ah. Seperti halnya, seorang ulama Abdul Wahid As-Sirozi Rahimahullah yang menulis Kitab juzun fiihi imtihanu mina sunny wal bid'i yang membahas masalah pembeda antara Ahlus Sunnah dan Ahlu bid'ah.

Dan landasan dari Pokok-pokok tersebut adalah Al-Qur’an dan sunnah serta ijmak ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata:

Barangsiapa yang menyelisihi Al-Qur'an yang jelas, dan menyelisihi hadits-hadits Nabi ﷺ yang banyak dan menyelisihi kesepakatan para salaful ummah, perselisihan-perselisihan yang tidak dianggap maka dia diperlakukan seperti ahlul bid'ah. (Majmu' Fatawa 24/96).

Hal ini kaidah secara umum, adapun menghukumi kesalahan individu maka dilihat keadaannya, perlu kehati-hatian. Maka imam Ahmad berkata: Mengeluarkan seseorang dari Ahlussunnah adalah perkara yang berat. (As Sunnah, 513 karya Al Khallal).

Maka, apa yang akan disampaikan Imam Ahmad rahimahullah selanjutnya adalah Pokok-pokok akidah yang membedakan antara Ahlussunnah dan ahlul bid'ah, siapa yang mengimaninya dan menerimanya maka dia ahli Sunnah, namun jika tidak menerimanya, maka dia adalah ahlul bid'ah.

Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

الإِيمَانُ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، وَالتَّصْدِيقُ بِالأَحَادِيثِ فِيهِ وَالإِيْمَانُ بِهَا، لَا يُقَالُ «لِمَ» وَلَا «كَيْفَ»، إِنَّمَا هُوَ التَّصْدِيقُ بِهَا وَالإِيمَانُ بِهَا.

(8) Beriman terhadap takdir yang baik maupun yang jelek, mempercayai semua hadits tentangnya dan mengimaninya. Tidak dibantah dengan pertanyaan “Kenapa” dan “Bagaimana”, akan tetapi wajib dipercaya dan diimani.

Selengkapnya: Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #6 | Bab ke-3: Beriman kepada Takdir

Mukhtashar fii Khuluqil Muslim#2: Akhlak Muslim kepada Allah ﷻ

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 20 August 2025
Dibaca: 4135
  • Akhlak

ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ

Kajian Mukhtashar fii Khuluqil Muslim#2 | Oleh: Sulthan Bin Abdullah Al-‘Umary Hafidzahullah
Download Kitab: s-alamri.com

🎙| Bersama: Al Ustadz Abu Adib Hafidzahullah
🗓 | Hari/Tanggal: Rabu, 26 Shafar 1447 / 20 Agustus 2025
🕰 | Waktu: ba'da maghrib - isya
🕌 | Tempat: Jajar Islamic Center Surakarta


 


#2 Akhlak Muslim kepada Allah ﷻ

Daftar Isi:

  1. 5. Menjauhi hal-hal yang diharamkan karena Allah ﷻ telah mengharamkannya dan karena hal-hal tersebut merupakan sumber murka dan azab-Nya.

Telah berlalu pembahasan mengenai 4 poin akhlak seorang muslim kepada Allah ﷻ:

  1. Menyembah-Nya semata dan tidak memalingkan kepada selain-Nya.
  2. Menjauhi kemusyrikan, sarananya, dan segala hal yang mengarah kepadanya.
  3. Setia kepada orang-orang yang beriman dan memusuhi orang-orang kafir sesuai dengan syariat.
  4. Bertakwa kepada Allah ﷻ setiap saat, merasa diawasi Allah ﷻ dan yakin bahwa Dia bersama kita melalui ilmu-Nya.

mukhtashor akhlak muslim 2

Selanjutnya:

5. Menjauhi hal-hal yang diharamkan karena Allah ﷻ telah mengharamkannya dan karena hal-hal tersebut merupakan sumber murka dan azab-Nya.

📃 Penjelasan:

Larangan-Nya, selain berpengaruh terhadap adzab, juga merusak hati dan badan. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui dengan jelas apa-apa saja bentuk larangan Allah Ta’ala. Di antara larangan Allah tersebut adalah melakukan dosa-dosa besar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِن تَجْتَنِبُوا۟ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS. An-Nisaa’: 31).

Selengkapnya: Mukhtashar fii Khuluqil Muslim#2: Akhlak Muslim kepada Allah ﷻ

Kitab Tauhid Bab 36 | Riya': Definisi, Hukum dan Jenisnya

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 20 August 2025
Dibaca: 2431
  • Kitab Tauhid

بسم الله الرحمن الرحيم

🎙Bersama: Al Ustadz Fuad Efendi Lc.,M.H حفظه الله تعالى
📘 Materi : Bab-36: Riya' - Pertemuan 1
🗓 Hari : Selasa, 25 Safar 1447 / 19 Agustus 2025
🕰 Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 Tempat: Masjid Jajar Surakarta



٣٦. ما جاء في الرياء
Bab Tentang Hal-hal yang Berkaitan dengan Riya

Mukadimah

Definisi:

Riya’ berasal dari kata رَاءى – يُرَائِي – مُرَاءاةً ، رِئَاء ، رِيَاءً yang artinya memperlihatkan. Apa yang diperlihatkan? Yaitu memperlihatkan amal saleh kepada orang lain agar mendapat pujian atau pengakuan mereka. ([Maqoyis Al-Lughoh, Ibnu Faris, 2/473])

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: Riya adalah seorang beramal untuk dilihat oleh orang lain. Masuk pula dalam hal ini seorang yang beramal untuk didengar oleh orang lain (sum’ah). (Lihat Al-Qaulul Mufid: 2/124)

Sum'ah yaitu menyembunyikan amalan kemudian menceritakannya. Maka, riya’ terjadi pada perbuatan sedangkan sum’ah terjadi pada ucapan.

Dalam sebuah hadits disebutkan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Barangsiapa (beramal) tujuannya untuk didengar (oleh manusia) maka Allah akan memperdengarkan padanya. Dan barangsiapa (beramal) dengan tujuan supaya dilihat (orang) maka Allah akan memperlihatkan padanya“. [HR Bukhari no: 6499. Muslim no: 2987].

Selengkapnya: Kitab Tauhid Bab 36 | Riya': Definisi, Hukum dan Jenisnya

  • Syarah Fadhlul Islam#9: Istiqamah - Kunci Kemenangan
  • Khulasatul Kalam: Do'a Sesudah Tasyahud Akhir
  • Syarah Aqidah Wasithiyah: Beriman Kepada Hari Akhir
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Ad-Daa wa Dawaa' #5: Berdo'a dengan Ismul A'dzom
  • Al Qaul Al Mubin fi Huquqi An Nabiyyil Amin: Membenarkan Apa yang telah Dikabarkan Nabi ﷺ dan Tidak Mendustakannya
  • Riyadush Shalihin Bab-216 Hadits#1211-1214 | Peneguhan Wajibnya Zakat dan Keutamaannya
  • Tafsir Surat Al-Qalam Ayat 1-7 [Bagian 1]

Halaman 111 dari 346

  • 106
  • 107
  • 108
  • 109
  • 110
  • 111
  • 112
  • 113
  • 114
  • 115