RISALAH UNTUK SAUDARIKU TERKASIH, URGENSI MENUNTUT ILMU
Wahai ukhti muslimah…..
Saya akan kemukakan.nasehat yang utama bagi kalian. Yakni tentang perlunya semangat dalam menuntut ilmu dan tafaqquh fid-din, akan tetapi pada kenyataannya banyak wanita yang tidak sungguh-sungguh dalam belajar, bahkan meninggalkannya (berpaling darinya). Telah menjadi keprihatinan tersendiri dalam benak saya. Oleh karena itu, insya Allah saya akan menjelaskan dan menguraikan urgensi tholibul ilmi dari dalil-dalil Al-Qur’an, disertai ta’liq sederhana.
Ukhti muslimah yang dirahmati-Nya,
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah banyak memaparkan pentingnya menuntut ilmu dalam deretan firman-Nya yang mengagumkan.
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالۡمَلٰٓـئِكَةُ وَاُولُوا الۡعِلۡمِ قَآئِمًا ۢ بِالۡقِسۡطِؕ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُؕ ﴿3:18﴾
"Artinya : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [Ali-Imran :18]
Berkata Imam Al Qurtubi rahimahullah dalam tafsirnya :
"Ayat ini adalah dalil tentang keutaman ilmu dan kemuliaan ulama. Seandainya ada orang yang lebih mulia dari ulama, sungguh Allah akan menyertakan nama-Nya dan nama malaikat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kemuliaan ilmu."
وَقُلْ رَّبِّ زِدۡنِىۡ عِلۡمًا ﴿20:114﴾
"Artinya : Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." [Thaha :114]
Asy Sya’bi menceritakan bahwa setelah Syuraih menikah dengan perempuan dari Bani Tamim, ia berkata kepadanya: “Hai Sya’bi… nikahilah wanita Bani Tamim, karena merekalah wanita yang sebenarnya”.
“Bagaimana bisa begitu?” tanyaku.
“Aku pernah lewat di kampung Bani Tamim, maka kulihat ada seorang wanita yang duduk di atas bantal, dan di depannya ada gadis dengan wajah tercantik yang pernah kulihat. Aku pun mampir untuk minta minum kepada si wanita…” kata Syuraih.
“Minuman apa yang kau suka” tanya si wanita.
“Apa saja deh, seadanya” jawabku.
“Beri dia susu, karena nampaknya ia orang dari jauh” perintah si wanita.
Setelah minum, kutatap si gadis tadi dan aku kagum terhadapnya…
“Siapa dia?” tanyaku.
“Puteriku” jawab si wanita.
“Siapa namanya” tanyaku lagi.
“Zainab binti Hudair dari Bani Tamim, tepatnya Bani Hanzhalah” katanya.
“Dia masih ‘kosong’ atau sudah ada yang meminang?” tanyaku lagi.
“Masih ‘kosong’ ” jawabnya.
“Maukah kau menikahkannya denganku?” tanyaku.
“Ya, kalau kamu pantas untuknya” jawabnya.
Maka kutinggalkan dia dan aku pulang ke rumahku untuk tidur siang sejenak…. Tapi aku tak bisa tidur nyenyak, dan selepas shalat dhuhur, kuajak beberapa sahabatku yang merupakan pemuka orang Arab dan kami tetap bersama hingga melaksanakan shalat ‘Asar berjama’ah. Tiba-tiba kulihat paman si gadis duduk di mesjid,
Sudah merupakan ketentuan Allah ta’ala diciptakannya manusia berbeda-beda dalam hal ekonomi. Sebagian dari mereka kaya dan sebagian yang lain hanya memiliki sedikit harta. Perbedaan jenjang ekonomi seperti ini bukanlah hal baru yang hanya kita saksikan di zaman sekarang. Akan tetapi sudah sejak zaman para sahabat dahulu atau bahkan sebelumnya manusia sudah terbagi menjadi beberapa golongan.
Oleh karenanya, pernah suatu ketika para sahabat dari kalangan fuqoro` pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengeluhkan sesuatu. Kisah ini diceritakan oleh seorang sahabat yang bernama Jundub bin Junadah radhiyallahu ‘anhu, yang lebih masyhur dengan kunyah Abu Dzar al-Ghifari.
Teks Hadits
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bercerita:
أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ! ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالأُجُوْرِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّيْ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ
قَالَ: ((أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُوْنَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ))
قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ! أَيَأْتِيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: ((أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا))
Sekumpulan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, orang-orang yang berharta pergi dengan membawa banyak pahala, mereka salat sebagaimana kita salat, mereka berpuasa sebagaimana kita berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka.
Beliau bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan jalan bagi kalian untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih (ucapan: subhanallah) adalah sedekah, setiap takbir (ucapan: Allahu akbar) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan: alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan: la ilaha illallah) adalah sedekah, memerintahkan kepada yang makruf adalah sedekah, melarang dari hal yang mungkar adalah sedekah, dan seorang dari kalian yang menggauli istrinya adalah sedekah.
Mereka berkata: Wahai Rasulullah, seorang dari kami mendatangi syahwatnya apakah juga mendapatkan pahala?
Beliau menjawab: Bagaimana menurut kalian bila ia meletakkan syahwatnya pada (tempat) yang haram, apakah ia akan mendapat dosa? Demikian pula bila ia meletakkan pada yang (tempat) halal niscaya ia akan mendapatkan pahala. (HR. Muslim, no. 1005)
Halaman 191 dari 338