10 Sedekah yang Paling Utama

Informasi Artikel ini:
Penulis: Ustadz Marwan bin Musa
Dipublikasikan: 03 January 2018
Dibaca: 8861

Sedekah yang Paling utamaSedekah semuanya baik, namun antara satu dengan yang lain berbeda keutamaan dan nilainya, tergantung niat, kondisi orang yang bersedekah dan kepentingan proyek atau sasaran sedekah. Di antara sedekah yang utama menurut Islam adalah sbb:

1.  Sedekah Sirriyyah

Sedekah sirriyyah adalah sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sedekah ini sangat utama karena lebih mendekati ikhlas dan selamat dari sifat riya’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Jika kamu Menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 271)

Perlu diketahui, bahwa yang utama untuk disembunyikan adalah pada sedekah kepada fakir dan miskin. Hal ini, karena ada banyak jenis sedekah yang mau tidak mau harus ditampakkan, seperti membangun masjid, membangun sekolah, jembatan, membuat sumur, membekali pasukan jihad dan sebagainya.

Di antara hikmah menyembunyikan sedekah kepada fakir miskin adalah untuk menutupi aib saudara kita yang miskin tersebut. Sehingga tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui kekurangan dirinya. Tidak diketahui bahwa tangannya berada di bawah dan bahwa dia orang yang tidak punya. Hal ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam berbuat ihsan kepada fakir-miskin. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji sedekah sirriyyah, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk tujuh golongan yang dinaungi Allah Subhanahu wa Ta’ala nanti pada hari kiamat.

Selengkapnya: 10 Sedekah yang Paling Utama

Khutbah Iblis yang Menyayat Hati

Informasi Artikel ini:
Penulis: Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
Dipublikasikan: 31 Desember 2017
Dibaca: 18827

nerakaIblis berkhutbah…??, benar…ia berkhutbah…bahkan khutbah yang paling menyentuh hati…tidak ada khutbah yang menyentuh hati sebagaimana khutbah Iblis ini.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ ، قَامَ إِبْلِيْسُ خَطِيْبًا عَلَى مِنْبَرٍ مِنْ نَارٍ ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ

"Tatkala hari kiamat Iblis berdiri di atas sebuah mimbar dari api lalu berkhutbah seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya…" (Tafsiir At-Thobari 16/563)

Al-Haafizh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata :

يُخْبِرُ تَعَالَى عَمَّا خَطَبَ بِهِ إِبْلِيْسُ أَتْبَاعَهُ، بَعْدَمَا قَضَى اللهُ بَيْنَ عِبَادَهُ، فَأدخل المؤمنين الجنات، وأسكن الكافرين الدركات، فقام فيهم إبليس -لعنه الله -حينئذ خطيبا ليزيدهم حزنا إلى حزنهم (4) وغَبنا إلى غبْنهم، وحسرة إلى حسرتهم

"Allah mengabarkan tentang khutbah yang disampaikan oleh Iblis kepada para pengikutnya, yaitu setelah Allah memutuskan/menghisab para hambaNya, lalu Allah memasukan kaum mukminin ke surga, dan Allah menempatkan orang-orang kafir ke dalam neraka jahannam. Maka Iblispun tatkala itu berdiri dan berkhutbah kepada para pengikutnya agar semakin menambah kesedihan di atas kesedihan mereka, kerugian di atas kerugian, serta penyesalan di atas penyesalan…." (Tafsiir Al-Qur'an Al-'Adziim 4/489).

Selengkapnya: Khutbah Iblis yang Menyayat Hati

Ulbah bin Zaid: Kedermawanan Sang Faqir

Informasi Artikel ini:
Penulis: Ustadz Armen Halim Naro rahmatullah alaih
Dipublikasikan: 28 Desember 2017
Dibaca: 10240
  • Kisah Muslim

Ketika itu, musim paceklik sedang melanda kota Madinah. Ekonomi kaum muslimin sedang sulit. Musim panas sedang berada di puncaknya. Angin musim itu juga membawa hawa panas, debu-debu berterbangan mengotori atap-atap dan halaman rumah penduduk kota Madinah, kulit terasa diiris, mata perih seperti diteteskan air cuka pada luka.

Bagi penduduk Madinah, musim panas seperti itu biasanya mereka lebih memilih istrirahat di rumah atau tinggal di kebun mereka sambil memetik kurma muda, yang kebetulan sedang ranum-ranumnya, karena pohon kurma memang berbuah pada musim panas. Tahun tersebut bertepatan dengan tahun kesembilan hijrah, satu bulan sebelum meghadapi bulan Ramadhon.

Akan tetapi bagi mereka, perkembangann kondisi politk Islam di Madinah sebagai dampak dari pengiriman surat-surat Rasulullah shallallah’alaihi wasallam kepada semua raja yang dikenal oleh bangsa Arab, menambah panas keadaan. Bahwa telah tersebar berita akan persiapan bala tentara Ramawi –sebagai negera terbesar dan terkuat tatkala itu- dengan kerajaan Ghossasinah sebagai negara boneka Romawi di wilayah Syam. Sebagai tindak lanjut dari peperangan di Mu’tah yang sangat terkenal itu, Romawi tidak puas dengan hasil yang mereka peroleh dalam peperangan tersebut, apalagi ia adalah peperangan pertama Arab melawan kerajaan Romawi.

Tidak biasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengabarkan kepada para sahabat tentang tujuan mereka pada peperangan ini. Keberangkatan kali ini sangat jelas yaitu Tabuk. Daerah yang sangat jauh bagi bangsa Arab.

Para munafiqin gelisah dengan perjalanan jauh di musim itu. Mereka selalu mengatakan , “Seharusnya keberangkatan tidak di musim panas ini.”

Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat,

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.(QS. At-Taubah: 81).

Suatu kali Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam hendak menguji salah seorang diantara mereka beliau berakata kepada Jad bin Qois,
“Wahai Jad, bagaimana menurutmu kita berperang dngan Banil Ashfar (yaitu Romawi)?”
Lantas iapun menjawab,
“Wahai Rasulullah ijinkan aku (untuk tidak berangkat) dan jangan jatuhkan aku ke fitnah. Demi Allah, kaumku tahu bahwa tak seorang pun yang mudah terfitnah dengan wanita melebihiku dan aku takut jika melihat wanita Romawi aku tidak tahan.”
Beliaupun berpaling dan mengatakan,
“Engkau telah aku ijinkan untuk tidak ikut berperang.”

Selengkapnya: Ulbah bin Zaid: Kedermawanan Sang Faqir

  • PHK...? Siapa Takut!
  • Surga Dunia
  • Rajin Ngaji tapi Malas Bekerja
  • Khutbah Jumát: Boikot Produk Yahudi
  • Hauqolah - Perbendaharaan dan Pintu Surga
  • Niat: Hakikat, Keutamaan dan Hal-hal yang Berkaitan dengannya.
  • Berjihad Tanpa Ilmu
  • Sifat-sifat Penduduk Surga (Tafsir Surat Qaf ayat 31-35)

Halaman 205 dari 338

  • 200
  • 201
  • 202
  • 203
  • 204
  • 205
  • 206
  • 207
  • 208
  • 209