بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah#39
📚┃Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
🖋 ┃Karya : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Rahimahullah
🎙┃ Pemateri : Ustadz Abu Ubaid Rizqi, Lc, M. Pd. حفظه الله تعالى
- Alumnus LIPIA Jakarta
- Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari
🗓┃ Hari & Tanggal : Kamis, 08 Januari 2026 M / 20 Rajab 1447
🕰┃ Waktu : Ba'da Maghrib Sampai Selesai
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto Laweyan, Surakarta.
📖┃ Daftar Isi:
Syarat-syarat dan Rukun-rukun Kalimat Laa ilaaha illallah
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa syarat-syarat kalimat tauhid adalah:
1. Al-Ilmu: Yaitu mengetahui makna kalimat Laa ilaaha illallah.
2. Al-Yaqiin: Yaitu yakin serta benar-benar memahami kalimat Laa ilaaha illallah tanpa ada keraguan dan kebimbangan sedikitpun.
3. Al-Ikhlash: Yaitu memurnikan amal perbuatan dari segala kotoran-kotoran syirik dan mengikhlaskan segala macam ibadah hanya kepada Allah ﷻ.
4. Ash-Shidqu: Yaitu jujur, maksudnya mengucapkan kalimat ini dengan disertai pembenaran dalam hatinya.
5. Al-Mahabbah: Yaitu cinta, maksudnya mencintai kalimat tauhid ini, mencintai isinya dan apa-apa yang ditunjukkan atasnya.
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 18: Rabu, 18 Rajab 1447 / 07 Januari 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
وَلَا نَشْهَدُ عَلَى أَهْلِ القِبْلَةِ بِعَمَلٍ يَعْمَلُهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ، نَرْجُو لِلصَّالِحِ، وَنَخَافُ عَلَيْهِ، وَنَخَافُ عَلَى المُسِيءِ المُذْنِبِ، وَنَرْجُو لَهُ رَحْمَةَ اللَّهِ.
(44) Kami tidak bersaksi atas siapapun dari ahli Qiblat (kaum Muslimin) karena amal yang dikerjakannya bahwa ia masuk Surga atau Neraka. Akan tetapi kami berharap Surga bagi orang shalih sekaligus mengkhawatirkannya masuk Neraka, dan kami juga mengkhawatirkan orang jelek yang berdosa sekaligus mengharapkan rahmat Allah atasnya.
وَمَنْ لَقِيَ اللَّهَ بِذَنْبٍ يَجِبُ لَهُ بِهِ النَّارُ تَائِبًا غَيْرَ مُصِرٍّ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَتُوبُ عَلَيْهِ، وَيَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ، وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ.
(45) Siapa yang bertemu Allah membawa dosa yang mengancamnya masuk Neraka, dalam keadaan bertaubat dan tidak terus-menerus berbuat dosa, maka Allah menerima taubatnya, dan Dia menerima taubat dari para hambaNya dan memaafkan dosa-dosa.
وَمَنْ لَقِيَهُ وَقَدْ أُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ الذَّنْبِ فِي الدُّنْيَا؛ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ، كَمَا جَاءَ فِي الخَبَرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
(46) Siapa yang bertemu Allah sementara dosanya sudah ditegakkan had atasnya di dunia maka hal itu menjadi kaffarot (penebus dosanya), sebagaimana yang terdapat dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
وَمَنْ لَقِيَهُ مُصِرًّا غَيْرَ تَائِبٍ مِنَ الذُّنُوبِ الَّتِي قَدِ اسْتَوْجَبَ بِهَا العُقُوبَةَ؛ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.
(47) Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan masih bergelimang dosa tanpa bertaubat dari dosa yang mengancamnya akan disika, maka urusannya (dosanya diampuni atau tidak) terserah Allah. Terserah Allah menghendaki menyiksanya atau mengampuninya.
وَمَنْ لَقِيَهُ كَافِرًا عَذَّبَهُ وَلَمْ يَغْفِرْ لَهُ.
(48) Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan kafir maka ia pasti disiksa dan tidak akan diampuni.
#Kajian 7: Bahjah Quluubil Abror
بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 18 Rajab 1447 / 07 Januari 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
📖 | Daftar Isi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الجَنَّةَ، قَالَ: «تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ المَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ» قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا، فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا».
[صحيح] - [متفق عليه] - [صحيح البخاري: 1397]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- beliau berkata, Ada seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Tunjukilah aku suatu amalan, jika aku mengerjakannya maka aku masuk surga." Beliau bersabda, "Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat wajib, membayar zakat fardu, dan berpuasa di bulan Ramadan." Laki-laki itu berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah lebih dari hal itu." Tatkala ia pergi, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang ingin melihat laki-laki penghuni surga, maka lihatlah orang itu." (Muttafaqun 'alaih)
HR. Al-Bukhari no.1333 dan Muslim no.14.
Selengkapnya: Bahjah Qulubil Abrar #7: Hadits ke-4 dan 5 | Sifat Penghuni Surga dan Istiqamah
Halaman 18 dari 324