Membersihkan Hati Dengan Dzikir

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 10 May 2025
Dibaca: 6419
  • tazkiyatun nufus

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 

🎙️ Bersama Ustadz Abu Haidar As-Sundawy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱 
📌 Masjid Al-Ukhuwah BSD Tangerang 
🗓️ Tangerang, 12 Dzulqa’dah 1446 / 10 Mei 2025


Membersihkan Hati dengan Dzikir

 Dzikir secara bahasa berarti ingat (lawan dari lupa). Secara syariat Dzikrullah menurut Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitab As-Suluk adalah segala yang diucapkan oleh lisan dan dihayati dalam hati yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ baik tasbih, tahmid, takbir, menuntut ilmu atau amar makruf nahi mungkar, bahkan dzikir terbaik adalah majelis ilmu, baik yang belajar atau mengajarkannya.

Karena, dzikir hakikatnya adalah mengingat Allah ﷻ. Dan ilmu lah yang paling dapat dengan mudah mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.

Dzikir adalah amalan yang agung, karena:

1. Ungkapan untuk berdzikir adalah dengan kata Perintah

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 41:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.

Dalam surat Al Baqarah ayat 152:

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 200:

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنْ خَلَٰقٍ

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

Selengkapnya: Membersihkan Hati Dengan Dzikir

Agungnya Shalat 2: Shalat Mencakup Seluruh Inti Rukun Islam

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 09 May 2025
Dibaca: 2323
  • Kajian Kitab
  • Shalat
  • Keutamaan Shalat

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab Al-Qaulul Mubin fi Akhthaa'il Mushallin
🎙️ Bersama Ustadz Abu Haidar As-Sundawy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
📌 Masjid Umar bin Khathab Ma'had Tarbiyah Sunnah Bandung Barat
🗓️ Bandung, 11 Dzulqa’dah 1446 / 9 Mei 2025



Agungnya Shalat - Bagian-2

Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas keagungan shalat. Bukti dari agungnya shalat adalah:

1. Jarak terdekat seorang hamba kepada Allah ﷻ dan fokusnya fikiran serta perasaan kepadaNya yang menyebabkan orang tersebut dalam kondisi yang paling mulia.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ». 
[صحيح] - [رواه مسلم] - [صحيح مسلم: 482]

Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Kondisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia bersujud, sebab itu perbanyaklah doa padanya.” [Sahih] - [HR. Muslim] - [Sahih Muslim - 482].

Maka, saat shalat semuanya fokus kepada Allah ﷻ hingga merasa dekat, bersama dan merasa diawasi Allah ﷻ.

Jika Kita shalat tidak khusyu, hati berkelana disaat shalat, maka Allah ﷻ Maha Mengetahui. Maka kita akan kena dengan ayat  di dalam surah Al-Ma'un ayat 4-7:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ

"Celakah orang-orang yang melaksanakan salat (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan engga (memberi) bantuan."

Maka, jika shalat nyambung dengan Allah ﷻ maka setelahnya akan berdzikir dan ingin sholat lagi, maka dia akan dilanjutkan dengan shalat sunnah.

Selengkapnya: Agungnya Shalat 2: Shalat Mencakup Seluruh Inti Rukun Islam

Keutamaan Pembaca Al-Qur’an

Informasi Artikel ini:
Penulis: admin-alquransunnah
Dipublikasikan: 09 May 2025
Dibaca: 4364

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab Nashihati Lin Nisa' - Oleh Ummu Abdillah binti Asy Syaikh Muqbil.
🎙️ Bersama Ustadz Abu Haidar As-Sundawy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
📌 Masjid Agung Al-Ukhuwwah Bandung
🗓️ Bandung, 10 Dzulqa’dah 1446 / 8 Mei 2025



Keutamaan Pembaca Al-Qur’an

Melanjutkan pembahasan Kitab Nashihati Lin Nisa', Hendaknya setiap ibu memberi perhatian dan mengarahkan anaknya dan melatih anak-anaknya untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an dengan beberapa tahap, sesuai dengan kemampuannya: Membaca secara musalsal (Berkesinambungan), menghafal, memahami (Terjemah dan Tafsir yang ringkas) dan mengamalkan.

Karena keutamaan ahlul Qur'an adalah:

1. Menjadi Manusia yang Terbaik dan Utama

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .

Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027]

عن طَلْحَة بْنُ مُصَرِّفٍ، قَالَ: سَأَلْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصَى؟ فَقَالَ: لَا. فَقُلْتُ: كَيْفَ كُتِبَ عَلَى النَّاسِ الْوَصِيَّةُ –أَوْ أُمِرُوا بِالْوَصِيَّةِ؟- قَالَ: أَوْصَى بِكِتَابِ اللهِ

Artinya: Dari Ṭalḥah bin Muṣarrif dia berkata, “Saya pernah bertanya kepada ‘Abdullāh bin Abu Aufa raḍiyallahu’anhu, “Apakah Rasulullah ṣallallāhu‘alaihiwasallam berwasiat?” Dia menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Lalu, kenapa wasiat itu diwajibkan bagi kaum muslimin atau mengapa mereka diperintahkan untuk berwasiat?” Dia menjawab, “Beliau hanya mewasiatkan dengan Kitabullah azza wajalla.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhāri dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ; kitab al-Waṣāya, Bab al-Waṣāya, nomor 2740 dan Imam Muslim dalam kitabnya al-Ṣaḥīḥ; kitab al-Waṣiyyah, nomor 1634.

Berkata imam Ibnu Hajar al-ashqalani rahimahullah saat mensyarah hadits ini berkata, yang di maksud wasiat dalam hadits ini adalah menjaga dengan cara menghafalkannya, mengikuti isinya, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya, mendawamkan dalam membacanya dan mengajarkannya kepada orang lain.

Selengkapnya: Keutamaan Pembaca Al-Qur’an

  • Wasiat Sughro Ibnu Taimiyah #4: Ciri-ciri Ilmu yang Bermanfaat dan Beberapa Penyakit Penuntut Ilmu
  • Adab-adab Penutut Ilmu: Mengamalkan Ilmu
  • Cara Setan Menggoda Manusia: Menghiasi Kemaksiatan
  • Peran Pengusaha Kaya dalam Dakwah
  • Keberkahan Muamalah Bisnis para Sahabat
  • Agar Selamat di Alam Kubur
  • Wasiat Sughro Ibnu Taimiyyah #3: Iringi perbuatan buruk dengan Perbuatan Baik
  • Jihad Fi Sabilillah : Syarat dan Kaidahnya

Halaman 150 dari 337

  • 145
  • 146
  • 147
  • 148
  • 149
  • 150
  • 151
  • 152
  • 153
  • 154