#Kajian 8: Bahjah Quluubil Abror
بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 25 Rajab 1447 / 14 Januari 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
📖 | Daftar Isi:
Hadits ke-5: Istiqamah
عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 38]
📝 Tambahan Faidah:
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: Pokok istiqomah adalah istiqomah hati di atas tauhid, sebagaimana penjelasan Abu Bakar ash-Shiddîq dan lainnya terhadap firman Allâh:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka”. [al-Ahqâf/46:13].
(Yaitu) bahwa mereka tidak berpaling kepada selain-Nya.
Tingkatan istiqomah:
- Di atas Tauhid dan jauh dari syirik.
- Diatas yang wajib dan meninggalkan yang haram.
- Di atas sunnah-sunnah yang mustahab.
Siapa yang mampu menjalankan istiqamah yang ketiga, maka akan menjadi wali Allah ﷻ. (Lihat penjelasan sebelumnya).
Allâh Ta’ala berfirman memberitakan keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allâh kepadamu”. [Fush-shilat/41:30].
Salah satu cara untuk memahami keimanan kita adalah dengan merujuk kepada hadist Nabi Muhammad ﷺ. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dan al-Hakim disebutkan,
عن أبي أُمَامَة: (أَن رجلا سَأَلَ رَسُول الله، ﷺ: مَا الْإِيمَان؟ قَالَ: إِذا سرتك حَسَنَة وساءتك سَيِّئَة. فَأَنت مُؤمن. قَالَ: يَا رَسُول الله ﴿مَا الْإِثْم؟ قَالَ: إِذا حك فِي صدرك شَيْء فَدَعْهُ)
“Dari Abu Umamah: seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Apa itu iman?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Jika kebaikanmu membuatmu senang dan keburukanmu membuatmu sedih, maka engkau adalah seorang mukmin.”
Semoga kita menjadi mukmin yang lebih baik, yang selalu mendengarkan suara hati yang lurus dan mengikuti petunjuk Allah ﷻ dan istiqomah di dalamnya.
****
📖 Hadits ke-6: Sifat Seorang Muslim
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ
“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .”
(Muttafaqun 'alaihi. HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).
Dan tambahan dalam riwayat Tirmidzi dan An Nasa’i,
و المؤمن من أمنة الناس على دمائهم و أموالهم
“Seorang mu’min (yang sempurna) yaitu orang yang manusia merasa aman darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.”
Dan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqi,
و المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله
“Dan yang disebut dengan orang yang berjihad adalah orang yang bersungguh-sungguh melawan jiwanya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah .”
📃 Penjelasan:
Dalam hadits ini disebutkan tentang kesempurnaan gelar-gelar yang mulia ini. Allah dan Rasul-Nya menyiapkan balasan bagi para penyandang gelar-gelar tersebut, yaitu kebahagiaan di dunia da akhirat. Gelar-gelar tersebut adalah Islam, iman, hijrah, dan jihad. Lalu Rasulullah menyebutkan definisi dari masing-masing gelar tersebut dengan kata-kata yang mencakup dan menyeluruh. Yaitu dengan sabda beliau bahwa “Seorang muslim itu adalah seseorang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Maksud seorang muslim (yaitu seorang muslim yang sempurna islamnya).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja dan memperbaiki akhlak manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”
[Shahiihul Adabil Mufrad no. 207, Ahmad (II/381), dan al-Hakim (II/613), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu].
Sesungguhnya antara akhlak dengan ‘aqidah terdapat hubungan yang sangat kuat sekali. Karena akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman, semakin sempurna akhlak seorang Muslim berarti semakin kuat imannya.
Anas bin Malik radhiallahu’anhu menyatakan :
لَقَدْ خَدَمْتُ رَسُوْلَ اللهِ عَشَرَ سِنِيْنَ, فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ وَلَا قَالَ لِشَيْئٍ فَعَلْتُهُ لِمَ فَعَلْتَهُ؟, وَلَا لِشَيْئٍ لَمْ أَفْعَلْهُ: أَلَا فَعَلْتَ كَذَا؟
Sungguh aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah berkata kepadaku sekalipun, “Aah”, tidak pernah berkomentar tentang apa yang aku lakukan, “Mengapa kamu lakukan (ini)”, dan tentang apa yang tidak aku lakukan, “Mengapa kamu tidak melakukan demikian (saja.)” (Muttafaqun ‘alaih)
Hal itu karena Islam yang hakiki adalah berserah diri kepada Allah menyempurnakan penghambaan kepada-Nya, serta menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak kaum muslimin. Tidaklah sempurna keislaman seseorang hingga dia menyukai kaum muslimin mendapat kebaikan sebagaimana dia suka kebaikan itu untuk dirinya.
Inilah akhlak seorang muslim yang sejati, bisa disimpulkan ada tiga kondisi:
- Jika kondisinya lebih rendah dari kita, maka kita memberikan motivasi agar saudara kita menjadi lebih baik.
- Jika kondisinya sama satu level, maka kita jaga agar tidak ada ghil dan hasad, berusaha saling mendoakan dalam kebaikan. Kita katakan Hadza fadhlullah yu'tiihi man yasyaa.
- Jika kondisinya lebih baik, maka kita hendaknya iri jika dalam urusan akhirat (ghibtoh) Dan berdo’a agar Allah ﷻ menjadikan kita seperti dia. Jika lebih baik dalam urusan dunia maka tidak boleh hasad dan mendoakan kebaikan.
Tentu saja, perkara tersebut tidak akan terlaksana kecuali dengan selamatnya mereka dari kejelekan lisan dan tangannya. Inilah pokok kewajiban yang harus ia tunaikan bagi kaum muslimin. Sehingga, barang siapa yang kaum musimin tidak selamat dari gangguan lisan dan tangannya, bagaimana mungkin dia bisa menegakkan kewajibannya bagi saudaranya sesama muslim? Maka keselamatan kaum muslimin dari kejelekan perkataan dan perbuatannya merupakan tanda kesempurnaan Islam orang tersebut.
Lalu Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwasanya mukmin yang sempuma adalah yang orang lain merasa aman terhadap jiwa dan hartanya dari gangguannya. Karena jika iman itu telah tertanam di dalam hati seseorang dan memenuhi hati tersebut, akan mendorongnya untuk menunaikan hak-hak iman.
Islam menjaga 5 perkara utama (Maqashid Syariah) yaitu agama (din), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasl), dan harta (mal), bertujuan melindungi kebutuhan dasar manusia demi kebahagiaan dunia akhirat.
Sedangkan di antara hak iman yang paling penting adalah menjaga amanah, jujur dalam bermuamalah, dan menjauhkan diri dari berbuat zhalim kepada jiwa dan harta manusia. Barang siapa memiliki sifat-sifat tersebut, manusia akan mengetahui bahwa dia merupakan seorang mukmin dan mereka akan merasa aman darinya serta akan mempercayainya? ketika mereka tahu bahwa dia seseorang yang menjaga amanah. Menjaga amanah termasuk hal yang paling khusus dari kewajiban-kewajiban iman sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda,
لاَ إِيْـمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَـةَ لَهُ
“Tidak ada keimanan (tidak sempurna imannya) bagi seseorang yang tidak menunaikan amanah.” [HR. Ahmad no. 12383, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah no.2335 dan Ibnu Hibban no.194].
Gambaran-gambaran amanah antara lain amanah dalam pekerjaan, amanah terhadap harta titipan, anak-anak dan isteri, dan banyak yang lainnya.
Menjelang hari kiamat, amanah akan menjadi hal pertama yang hilang dari umat manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا تَفْقِدُونَ مِنْ دِينِكُمُ الْأَمَانَةُ
"Sesungguhnya hal pertama yang akan hilang dari agama kalian adalah amanah." (HR Thabrani, dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu).
Tanda-tanda ini sudah mulai terlihat ketika banyak orang mengabaikan tanggung jawabnya, baik kepada Allah ﷻ maupun kepada sesama manusia. Mereka tidak lagi peduli terhadap kewajiban seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Hak-hak dalam keluarga dan pekerjaan pun sering kali diabaikan. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa salah satu ciri orang munafik adalah mengkhianati amanah.
Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa menjaga kejujuran dan menunaikan setiap amanah yang diberikan. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba-Nya yang dapat dipercaya dan melindungi kita dari sifat-sifat kemunafikan.
Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan tentang makna hijrah yang hukumnya wajib bagi setiap muslim. Yaitu berhijrah dari dosa-dosa dan kemaksiatan. Kewajiban ini tidak akan gugur dari seorang mukalaf (orang dewasa yang wajib menajalankan hukum agama) dalam keadaan apa pun. Karena Allah telah mengharamkan bagi seluruh hamba-Nya melakukan perbuatan-perbuatan haram dan kemaksiatan.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم