بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
📚┃ Materi : Bulughul Maram - Kitabul Jami' [Bab Do'a dan Dzikir Hadits 11-13].
🎙┃ Pemateri : Ustadz Ibnu Amny Sahid hafizhahullah.
🗓️┃ Hari, Tanggal : Ahad, 25 Oktober 2026 M / 14 Jumadil Awal 1448
🕌┃ Tempat : Masjid Al-Ikhlas - Safira Residence Singopuran
📖 | Daftar Isi:
<
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada kita. Kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kita juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya.
Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, istri-istri, keturunan, serta seluruh pengikut beliau.
Pada kesempatan ini kita memohon kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima. Kita juga memohon pertolongan-Nya agar senantiasa dapat mengingat, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.
Amma ba'du.
Kajian kali ini merupakan kelanjutan pembahasan Kitabul Jami' dari kitab Bulughul Maram, yaitu bab keenam yang membahas hadits-hadits seputar zikir dan doa. Pada pertemuan ini kita akan mempelajari hadits ke-11 sampai ke-13.
Tema yang akan kita bahas adalah "Senjata Itu Bernama Doa: Sebuah Kekuatan bagi Orang Beriman yang Sering Kali Diabaikan."
Salah satu ibadah yang sangat mulia dalam agama Islam, tetapi sering kali belum benar-benar dipahami dan diyakini oleh sebagian manusia, adalah berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam kehidupan masyarakat, terkadang doa justru ditempatkan pada urutan kedua. Sebagian orang lebih mengutamakan ritual-ritual tertentu atas nama budaya dan kearifan lokal, bahkan seolah-olah meyakini bahwa ritual tersebut lebih manjur daripada doa yang disyariatkan.
Sebagai contoh, ketika menghadapi musim kemarau panjang dan musibah kebakaran hutan serta lahan, terdapat sebagian masyarakat yang melakukan ritual adat berupa memandikan benda pusaka, termasuk meriam kuno, dengan harapan agar hujan segera turun.
Padahal, Islam telah mengajarkan solusi yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ, yaitu melaksanakan shalat istisqa, shalat meminta hujan, disertai doa dan permohonan kepada Allah.
Pertanyaannya, apakah tuntunan Nabi ﷺ tersebut masih kurang sehingga sebagian orang justru mencari jalan lain dengan menggantungkan harapan kepada benda-benda pusaka?
Kita perlu menyadari bahwa doa adalah ibadah. Oleh karena itu, doa hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak boleh seorang muslim memalingkan doa kepada selain-Nya, baik kepada orang yang telah meninggal, benda pusaka, maupun makhluk lainnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan gambaran mengenai keteladanan para nabi dan rasul dalam beribadah dan berdoa.
Allah berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 90:
يَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Yad'ụnanā ragabaw wa rahabā, wa kānụ lanā khāsyi'īn.
"Mereka senantiasa berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya: 90)
Ayat ini menjelaskan karakter para nabi dan orang-orang saleh. Mereka senantiasa bersegera dalam melakukan kebaikan dan terus-menerus berdoa kepada Allah dengan penuh harapan sekaligus rasa takut kepada-Nya.
Allah juga berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
"Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya: 90)
Inilah teladan yang seharusnya kita ikuti. Para nabi dan rasul, manusia pilihan Allah, senantiasa menggantungkan harapan kepada-Nya.
Para ulama juga telah mengingatkan bahwa salah satu bentuk kesyirikan yang banyak terjadi di tengah manusia adalah kesyirikan dalam masalah doa, yaitu memohon kepada orang-orang yang telah meninggal dunia atau kepada selain Allah.
Oleh sebab itu, tugas kita adalah mengedukasi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat agar memahami bahwa doa hanya boleh dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah membawakan hadits dari sahabat An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ
Innad-du'ā'a huwal-'ibādah.
"Sesungguhnya doa itu adalah ibadah." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi menilainya hasan sahih).
Hadits ini menunjukkan bahwa doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat agung dalam agama Islam. Namun, bukan berarti seluruh ibadah hanya terbatas pada doa. Maksudnya, doa merupakan bagian penting dari penghambaan seorang hamba kepada Allah.
Setiap ibadah yang agung tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Termasuk ketika seseorang berada dalam keadaan sulit dan membutuhkan pertolongan. Ia harus kembali memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bahkan, apabila kita memperhatikan ibadah shalat lima waktu, kandungan bacaan di dalamnya dipenuhi dengan doa. Secara bahasa, kata shalat juga memiliki makna doa.
Shalat merupakan sarana seorang hamba membangun hubungan penghambaan dengan Allah. Di dalamnya terdapat pujian, permohonan, pengakuan atas kelemahan diri, serta permintaan petunjuk dan pertolongan.
Karena itu, salah satu indikator lurus atau tidaknya akidah seseorang dapat dilihat dari kepada siapa ia memanjatkan doa.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan peringatan mengenai salah satu bentuk kesyirikan yang banyak dilakukan manusia, yaitu berdoa dan meminta kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.
Beliau menjelaskan bahwa banyak manusia terjerumus dalam kesyirikan melalui doa kepada selain Allah. Jika pada zaman jahiliah sebagian orang meminta kepada orang-orang yang dianggap saleh, pada zaman sekarang bahkan ada yang menggantungkan harapan kepada benda-benda mati dan pusaka.
Ini merupakan perkara yang harus diwaspadai. Bagaimana mungkin seseorang menggantungkan harapan kepada benda mati yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat ataupun menolak bahaya dengan sendirinya?
Oleh karena itu, seorang muslim harus berhati-hati dalam masalah doa. Jangan sampai hati bergantung kepada makhluk, benda, atau sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan apa pun.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Wa qāla rabbukumud'ụnī astajib lakum, innallażīna yastakbirụna 'an 'ibādatī sayadkhulụna jahannama dākhirīn.
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." (QS. Ghafir: 60)
Ayat ini merupakan perintah Allah agar manusia berdoa dan memohon kepada-Nya.
Para ulama menjelaskan bahwa orang yang sombong dari beribadah kepada Allah termasuk orang yang enggan berdoa kepada-Nya.
Bayangkan, ketika Allah memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya dan menjanjikan pengabulan doa, tetapi kita justru enggan melakukannya. Ini merupakan sikap yang sangat tercela.
Apalagi jika seseorang meninggalkan Allah dan justru meminta kepada pihak lain yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengabulkan permintaannya.
Ada sebuah nasihat dari seorang penyair Arab yang sangat baik untuk kita renungkan:
Lā tas'alanna bani Ādama hājatan, was'alillāhal-ladzī abwābuhu lā tuh jabu.
"Janganlah engkau meminta suatu kebutuhan kepada manusia. Mintalah kepada Allah yang pintu-pintu-Nya tidak pernah tertutup."
Allāhu yaghdhabu in tarakta su'ālahu, wa bani Ādama hīna yus'alu yaghdhabu.
"Allah murka apabila engkau meninggalkan permohonan kepada-Nya, sedangkan manusia akan marah ketika dimintai sesuatu."
Nasihat ini mengandung pelajaran yang sangat berharga. Manusia memiliki keterbatasan. Ketika kita terlalu sering meminta kepada manusia, mereka bisa merasa terganggu, bosan, bahkan marah.
Berbeda dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seorang hamba justru diperintahkan untuk terus berdoa, merendahkan diri, dan memohon kepada-Nya. Maka jangan pernah merasa malu atau bosan untuk meminta kepada Allah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah kemudian membawakan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الدُّعَاءِ
Laisa syai'un akrama 'alallāhi minad-du'ā'.
"Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa." (HR. At-Tirmidzi no. 3370. At-Tirmidzi menilainya hasan gharib; hadits ini juga dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim sebagaimana disebutkan dalam Bulughul Maram).
Hadits ini menjelaskan betapa mulianya doa di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kata akram dalam hadits tersebut bermakna sesuatu yang sangat mulia. Para ulama juga menjelaskan kandungan kemuliaan doa sebagai amalan yang dicintai Allah.
Mengapa doa memiliki kedudukan yang demikian tinggi? Karena di dalam doa terdapat pengakuan seorang hamba terhadap kelemahan dan kebutuhannya kepada Allah. Ia menunjukkan ketundukan, kefakiran, serta penghambaan kepada Zat Yang Mahakaya.
Ada tiga unsur penghambaan yang terkandung dalam doa.
Ketika seseorang berdoa, hatinya tunduk dan bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah, sedangkan Allah adalah Zat Yang Mahakaya dan Mahakuasa.
Jangan sampai hati kita justru terikat kepada benda-benda pusaka atau makhluk lainnya. Jangan sampai seseorang memiliki keyakinan bahwa suatu benda harus dimandikan atau diberikan ritual tertentu agar hujan turun atau masalahnya selesai.
Hati seorang mukmin harus senantiasa bergantung kepada Allah.
Ketika berdoa, lisan kita menyebut dan memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang indah. Salah satu doa yang diajarkan dan dibaca oleh Rasulullah ﷺ ketika menghadapi kesulitan adalah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
Yā Hayyu Yā Qayyūm, bi rahmatika astaghīts, ashlih lī sya'nī kullahu, wa lā takilnī ilā nafsī tharfata 'ain.
"Wahai Zat Yang Mahahidup, wahai Zat Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurus seluruh makhluk-Nya. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata."
Doa ini mengandung pujian kepada Allah dengan dua nama-Nya, yaitu Al-Hayyu dan Al-Qayyum. Al-Hayyu berarti Yang Mahahidup dengan kehidupan yang sempurna. Al-Qayyum berarti Zat yang berdiri sendiri dan mengurus seluruh makhluk-Nya.
Di dalam doa ini kita mengakui bahwa seluruh urusan kita membutuhkan pertolongan dan pengaturan Allah.
Ketika seseorang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, ia sedang menunjukkan kerendahan dirinya di hadapan Allah. Demikian pula ketika kita melaksanakan shalat istisqa, kita menengadahkan tangan dan memohon hujan kepada Allah dengan penuh ketundukan.
Inilah bentuk penghambaan anggota badan yang disertai ketundukan hati dan lisan. Jadi, doa bukan sekadar mengucapkan permintaan. Di dalamnya terdapat penghambaan hati, lisan, dan anggota badan. Karena itulah seorang muslim seharusnya tidak pernah jemu berdoa kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ
Yustajābu li ahadikum mā lam ya'jal.
"Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa."
Para sahabat bertanya mengenai orang yang tergesa-gesa tersebut. Rasulullah ﷺ menjelaskan:
يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ رَبِّي فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي
Yaqūlu: qad da'autu rabbī falam yastajib lī.
"Dia berkata, 'Aku sudah berdoa kepada Tuhanku, tetapi Dia belum juga mengabulkan permintaanku'." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).
Hadits ini mengajarkan agar kita tidak mudah berputus asa ketika doa belum terlihat hasilnya. Jangan sampai seseorang berkata, "Saya sudah berdoa berkali-kali, setiap hari berdoa, bahkan sudah bertahun-tahun, tetapi Allah belum juga mengabulkannya."
Ucapan semacam itu menunjukkan ketergesa-gesaan dalam mengharapkan hasil doa. Padahal, doa seorang mukmin tidak akan sia-sia selama ia memenuhi ketentuan yang disyariatkan dan tidak terdapat penghalang yang menghalangi terkabulnya doa.
Ketika seorang hamba berdoa kepada Allah, pengabulan doa dapat terjadi dalam beberapa bentuk.
Dengan demikian, jangan menilai pengabulan doa hanya berdasarkan apa yang terlihat dan kita peroleh di dunia. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap belum dikabulkan ternyata Allah menggantinya dengan perlindungan dari bahaya atau pahala yang jauh lebih besar.
Hadits ketiga yang dibawakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar adalah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ لَا يُرَدُّ
Ad-du'ā'u bainal-adzāni wal-iqāmati lā yuraddu.
"Doa yang dipanjatkan antara azan dan iqamah tidak akan ditolak." (HR. Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidzi no. 212. At-Tirmidzi menilainya hasan).
Hadits ini menjelaskan salah satu waktu terbaik untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu waktu antara azan dan iqamah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar membawakan hadits ini agar kita memahami bahwa ada waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan khusus untuk berdoa.
Waktu antara azan dan iqamah sering kali sangat terbatas. Di sebagian masjid, jeda antara azan dan iqamah mungkin sekitar 15–20 menit. Pada waktu shalat lainnya, jedanya bahkan bisa lebih singkat.
Waktu yang terbatas ini merupakan kesempatan berharga yang seharusnya tidak kita sia-siakan. Namun, apa yang sering terjadi?
Sebagian orang justru sibuk memperhatikan jam atau timer. Ketika melihat masih ada beberapa menit sebelum iqamah, mereka membuka telepon genggam, membaca pesan WhatsApp, membalas pesan, atau mengakses media sosial.
Ada pula yang bertemu dengan teman kemudian asyik berbincang hingga iqamah dikumandangkan. Padahal, waktu tersebut merupakan kesempatan yang sangat baik untuk berdoa kepada Allah.
Jangan sampai kita melewatkan waktu emas tersebut hanya untuk perkara-perkara yang sebenarnya dapat dilakukan setelah shalat.
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah pernah menjelaskan pembahasan mengenai pemanfaatan waktu antara azan dan iqamah: apakah lebih baik digunakan untuk membaca Al-Qur'an atau berdoa?
Dalam penjelasan yang disampaikan pemateri, beliau memilih untuk mengutamakan doa pada waktu tersebut karena waktu antara azan dan iqamah merupakan kesempatan khusus yang terbatas. Sementara membaca Al-Qur'an dapat dilakukan kapan saja, tidak terbatas pada waktu itu.
Oleh karena itu, hendaknya kita memanfaatkan waktu antara azan dan iqamah untuk berdoa kepada Allah. Jika belum ingin berdoa atau tidak memiliki permintaan tertentu, manfaatkan waktu tersebut untuk membaca Al-Qur'an.
Setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca memiliki nilai kebaikan yang dilipatgandakan. Apabila menggunakan mushaf digital di telepon genggam, sebaiknya matikan koneksi internet agar tidak tergoda membuka media sosial atau aplikasi lainnya.
Seorang mukmin harus cerdas dalam memanfaatkan kesempatan beramal. Jangan sampai waktu yang penuh keutamaan justru berlalu tanpa memberikan manfaat. Bayangkan, dalam sehari semalam kita memiliki lima kali kesempatan memanfaatkan waktu antara azan dan iqamah, yaitu pada waktu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Alangkah meruginya jika kesempatan tersebut selalu kita lewatkan.
Dari tiga hadits yang telah kita pelajari, terdapat beberapa faedah penting yang perlu kita perhatikan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berdoa, bertawakal, dan menggantungkan seluruh harapan hanya kepada-Nya.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua, membimbing kita di atas kebaikan dan kebenaran hingga ajal menjemput.
Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Menguasai dan Mahakuasa atas segala sesuatu.
Seorang jamaah bertanya, apabila seseorang sedang berada di rumah dan sedang berwudu, kemudian mendengar azan dari masjid, apakah lebih utama menjawab azan terlebih dahulu atau menyelesaikan wudu dan segera berangkat ke masjid?
Jawaban pemateri:
Wallahu a'lam. Apabila waktunya masih longgar dan diperkirakan tidak akan terlambat mengikuti shalat berjamaah, sebaiknya menjawab azan terlebih dahulu.
Salah satu keutamaan menjawab azan dan membaca doa setelah azan adalah mendapatkan syafaat Rasulullah ﷺ dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, jangan sampai seseorang justru meninggalkan salah satu amalan tersebut. Jika waktunya memungkinkan, lakukan keduanya.
Setelah menjawab azan dan membaca doa setelahnya, lanjutkan dengan berwudu. Adapun jika waktunya sempit, tidak mengapa menjawab bagian azan yang terdengar sambil melanjutkan wudu, selama tidak mengganggu ketertiban dan kesempurnaan wudu.
Ketika muazin mengucapkan:
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
Hayya 'alash-shalāh.
Dan:
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Hayya 'alal-falāh.
Maka kita menjawab:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Lā haula wa lā quwwata illā billāh.
"Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
Seorang jamaah bertanya, apabila sudah berada di masjid dan waktu iqamah tinggal sekitar tiga menit, mana yang lebih utama: mengerjakan shalat tahiyatul masjid atau memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa?
Jawaban pemateri:
Kita melihat kondisi dan kemampuan masing-masing. Apabila masih memungkinkan, kita dapat mengerjakan shalat tahiyatul masjid dengan bacaan yang ringkas, kemudian memanfaatkan sisa waktu untuk berdoa kepada Allah. Namun, jika waktunya sangat sempit dan dikhawatirkan tidak dapat menyelesaikan shalat sebelum iqamah, tidak perlu memaksakan diri. Gunakan waktu tersebut untuk berdoa.
Sebenarnya, ketika seseorang mengerjakan shalat, ia juga sedang berdoa kepada Allah. Terlebih ketika sujud. Dalam keadaan tersebut, seorang hamba berada dalam posisi yang sangat dekat dengan Allah dan dianjurkan memperbanyak doa.
Dengan demikian, apabila memungkinkan, gabungkan kedua amalan tersebut. Jika tidak memungkinkan, pilihlah yang lebih mudah dilakukan tanpa menimbulkan kesulitan.
Seorang jamaah bertanya apakah doa-doa yang biasa dibaca dalam zikir pagi dan petang, seperti Sayyidul Istighfar, boleh dibaca dalam kesempatan lain, misalnya ketika sujud atau sebelum salam dalam shalat.
Jawaban pemateri:
Wallahu a'lam, boleh.
Tidak berarti suatu doa hanya boleh dibaca pada waktu zikir pagi dan petang karena doa tersebut terdapat dalam rangkaian zikir pagi dan petang. Yang perlu diperhatikan adalah kandungan dan substansi bacaan tersebut.
Apabila bacaan itu mengandung permohonan kepada Allah, maka boleh digunakan untuk berdoa pada kesempatan lainnya. Misalnya, membaca Sayyidul Istighfar:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allāhumma anta rabbī, lā ilāha illā anta.
"Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau."
Doa tersebut boleh dibaca ketika seseorang berdoa kepada Allah, termasuk dalam sujud atau sebelum salam. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seseorang memilih doa yang disukainya sebelum mengakhiri shalat dengan salam. Namun, perlu dibedakan antara bacaan yang benar-benar mengandung doa dan bacaan yang hanya berupa zikir atau tasbih.
Apabila suatu bacaan hanya berupa tasbih, seperti Subhanallah wa bihamdihi, maka itu termasuk zikir, bukan permohonan secara langsung. Jadi, kita dapat memilih doa-doa yang terdapat dalam zikir pagi dan petang untuk dibaca pada waktu lainnya selama kandungannya memang berupa doa.
Seorang jamaah menyampaikan sebuah riwayat yang sering dijadikan dalil untuk membolehkan seseorang mendatangi kuburan Nabi ﷺ setelah beliau wafat, kemudian meminta kepada beliau agar memohonkan hujan untuk umat Islam.
Dalam riwayat tersebut diceritakan bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu terjadi musim kemarau. Kemudian Bilal bin Harits mendatangi kuburan Nabi ﷺ dan menyampaikan permintaan agar hujan diturunkan untuk umat Islam.
Disebutkan pula bahwa Bilal kemudian bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ yang mengabarkan bahwa hujan akan turun. Riwayat ini sering dijadikan argumentasi oleh sebagian pihak untuk membolehkan meminta kepada Nabi setelah beliau wafat.
Jawaban pemateri:
Pertama, kita perlu memeriksa terlebih dahulu kebenaran dan keautentikan riwayat tersebut.
Pemateri menyampaikan bahwa beliau belum dapat memastikan kualitas riwayat tersebut. Oleh karena itu, tidak tepat apabila langsung menjadikannya sebagai dalil sebelum dilakukan penelitian terhadap sanad dan penjelasan para ulama hadits.
Pada zaman sekarang, banyak beredar video pendek di media sosial yang mengambil potongan-potongan riwayat, kemudian diberikan narasi mengenai keutamaan suatu amalan tanpa penjelasan ilmiah yang memadai. Masyarakat harus berhati-hati agar tidak mudah menerima setiap informasi agama yang beredar.
Kedua, terdapat prinsip mendasar dalam Al-Qur'an bahwa doa dan permohonan ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Allah berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Wa annal-masājida lillāhi fa lā tad'ū ma'allāhi ahadā.
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah dan berdoa kepada siapa pun selain Allah." (QS. Al-Jinn: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah doa harus dimurnikan hanya kepada Allah. Tidak boleh seseorang memalingkan doa kepada selain Allah, sekalipun yang dimaksud adalah malaikat yang dekat dengan Allah ataupun nabi dan rasul. Oleh karena itu, jangan sampai seseorang menjadikan kedudukan Nabi ﷺ sebagai alasan untuk memalingkan doa kepada beliau setelah wafatnya.
Adapun ketika seseorang berziarah ke makam Nabi ﷺ, amalan yang disyariatkan adalah mengucapkan salam dan bershalawat kepada beliau, bukan menjadikan makam tersebut sebagai tempat meminta dan memanjatkan permohonan kepada Nabi.
Pemateri menegaskan kembali bahwa riwayat Bilal bin Harits tersebut masih perlu diperiksa lebih lanjut. Beliau belum memberikan keputusan akhir mengenai autentisitas riwayat itu dalam sesi kajian ini.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Sebagai penutup majelis ilmu, dibacakan doa kafaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Subhānakallāhumma wa bihamdika, asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik.
"Mahasuci Engkau, ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu."
Demikian rangkaian kajian pada kesempatan ini. Semoga ilmu yang telah disampaikan memberikan manfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa memperbaiki kualitas ibadah serta menggantungkan seluruh permohonan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jazakumullahu khairan. Barakallahu fikum.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
ʙɪsᴍɪʟʟᴀʜ
Bismillahirrahmanirrahim
Innal hamda lillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh, wa na’udzu billahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. Man yahdihillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.
Asyhadu an la ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashabihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).
Amma ba’du.
Kaum muslimin dan muslimat, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa merahmati kita semua.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan nikmat yang telah diberikan kepada kita. Di antara nikmat tersebut adalah kesempatan untuk menghadiri salah satu majelis ilmu. Kita berharap majelis ini menjadi salah satu amalan yang dengannya Allah memudahkan jalan kita menuju surga-Nya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kita harapkan syafaatnya pada hari kiamat kelak.
Pada kesempatan ini kita melanjutkan kajian kitab ‘Umdatul Ahkam min Kalami Khairil Anam, karya Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah. Pembahasan kali ini memasuki hadits ke-14 sampai hadits ke-17, yang berkaitan dengan adab buang hajat dan bersuci.
Selengkapnya: Umdatul Ahkam #7 | Hadits Ke-12 dan 17 | Adab Buang Hajat dan Istinja
ʙɪsᴍɪʟʟᴀʜ
Bismillahirrahmanirrahim.
الْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Artinya:
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).
Ma‘asyiral muslimin wal muslimat, rahimani wa rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Di antara nikmat yang patut kita syukuri ialah kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu. Kita berharap semoga majelis ini menjadi salah satu sebab Allah memudahkan jalan kita menuju surga-Nya.
Pada kesempatan ini, kita melanjutkan kajian kitab ‘Umdatul Ahkam min Kalam Khairil Anam karya Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah. Pembahasan kali ini mencakup tiga hal: anjuran mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan dalam perkara yang baik, keutamaan wudhu dan tanda-tandanya pada hari kiamat, serta adab masuk kamar mandi dan berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.
Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah membawakan hadis dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang kebiasaan Rasulullah ﷺ mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ.
Artinya:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Nabi ﷺ menyukai mendahulukan bagian kanan ketika memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh urusan beliau.”
Sumber: HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 168; HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 268.
Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ menyukai at-tayammun, yaitu mendahulukan bagian kanan dalam perkara-perkara yang baik dan terhormat.
Perlu dibedakan antara tayammun dan tayamum. Tayammun berasal dari kata yang berkaitan dengan kanan, sedangkan tayamum merupakan cara bersuci menggunakan debu atau tanah yang suci ketika memenuhi ketentuannya.
Dalam hadis ini, yang dimaksud adalah mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan, bukan tayamum.
Pelajaran pertama dari hadis ini adalah disyariatkannya mendahulukan bagian kanan ketika berwudhu dan mandi.
Ketika berwudhu, seseorang dianjurkan untuk mendahulukan:
Mendahulukan bagian kanan dalam hal ini merupakan sunnah Nabi ﷺ yang menunjukkan kesempurnaan adab dalam bersuci. Namun, hendaknya seseorang tetap memperhatikan tata cara bersuci sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ dan tidak meninggalkan anggota wudhu yang wajib dibasuh.
Anjuran mendahulukan bagian kanan juga berlaku dalam berbagai aktivitas sehari-hari yang baik.
Di antaranya:
Dengan demikian, mengikuti sunnah Nabi ﷺ tidak terbatas pada ibadah ritual, tetapi juga mencakup adab dalam kegiatan sehari-hari.
Anjuran mendahulukan bagian kanan bukan berarti seluruh aktivitas harus selalu dimulai dari kanan. Ada perkara yang justru disyariatkan untuk didahulukan dengan bagian kiri, terutama aktivitas yang berkaitan dengan membersihkan kotoran.
Contohnya:
Prinsipnya, seorang Muslim mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dalam setiap perkara. Bagian kanan didahulukan dalam perkara yang baik dan terhormat, sedangkan bagian kiri digunakan pada aktivitas tertentu yang memang diajarkan demikian.
Hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga menunjukkan perhatian Rasulullah ﷺ terhadap kebersihan dan kerapian. Beliau menyukai menyisir rambut, bersuci, dan melakukan berbagai aktivitas dengan adab yang baik.
Seorang Muslim hendaknya berusaha meneladani Rasulullah ﷺ sesuai kemampuannya. Menjaga kebersihan, merapikan rambut, bersuci dengan benar, serta memperhatikan adab sehari-hari termasuk bentuk mengikuti petunjuk beliau.
Persaksian bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allah memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan. Para ulama menjelaskan bahwa konsekuensi tersebut mencakup empat perkara:
Karena itu, mencintai Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan mengaku mencintai beliau. Kecintaan tersebut perlu dibuktikan dengan mengikuti sunnahnya dalam perkara akidah, ibadah, akhlak, dan adab sehari-hari.
Selanjutnya, pembahasan beralih kepada hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu melalui Nu‘aim Al-Mujmir.
عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ.
“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan wajah dan anggota tubuhnya bercahaya karena bekas wudhu. Maka barang siapa di antara kalian mampu memperluas cahaya pada dirinya, hendaklah ia melakukannya.”
Sumber: HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 136; HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 246, dengan sedikit perbedaan lafaz.
Dalam hadis ini terdapat istilah ghurran muhajjalin.
Rasulullah ﷺ menggunakan gambaran tersebut untuk menjelaskan keistimewaan umat beliau pada hari kiamat. Mereka akan datang dengan cahaya yang menjadi tanda dari bekas-bekas wudhu.
Nu‘aim Al-Mujmir merupakan perawi hadis ini. Beliau meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi ﷺ.
Dalam riwayat Imam Muslim, Nu‘aim Al-Mujmir menceritakan bahwa ia melihat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berwudhu dengan membasuh anggota tubuh melebihi batas yang biasa diwajibkan.
عَنْ نُعَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُجْمِرِ أَنَّهُ رَأَى أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَوَضَّأُ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ حَتَّى كَادَ يَبْلُغُ الْمَنْكِبَيْنِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى رَفَعَ إِلَى السَّاقَيْنِ.
Dari Nu‘aim bin ‘Abdillah Al-Mujmir, bahwa ia melihat Abu Hurairah berwudhu. Abu Hurairah membasuh wajah dan kedua tangannya hingga hampir mencapai kedua pundaknya, kemudian membasuh kedua kakinya hingga mencapai bagian betis.
Dalam riwayat tersebut, Abu Hurairah kemudian menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ tentang umat beliau yang akan datang pada hari kiamat dengan cahaya dari bekas wudhu.
Sumber: HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 246, dalam pembahasan anjuran memperluas cahaya wudhu.
Riwayat ini menjadi dasar pembahasan para ulama tentang memperluas bagian yang dibasuh ketika berwudhu. Namun, perlu dibedakan antara batas anggota wudhu yang diwajibkan oleh syariat dan praktik tambahan yang dilakukan oleh sebagian sahabat berdasarkan pemahaman mereka terhadap hadis tersebut.
Batas wajib membasuh tangan adalah sampai siku, sedangkan kaki sampai mata kaki. Adapun membasuh lebih jauh dari batas tersebut merupakan masalah yang dibahas para ulama dan tidak selayaknya dipahami sebagai kewajiban umum bagi setiap orang.
Hal yang paling penting ialah menyempurnakan wudhu sesuai tuntunan Nabi ﷺ, memastikan seluruh bagian yang wajib dibasuh terkena air, dan menghindari pemborosan air.
Dalam riwayat lain, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ:
تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ.
“Perhiasan seorang mukmin akan mencapai bagian yang dicapai oleh wudhunya.”
Sumber: HR. Muslim, Shahih Muslim, no. 250, dalam pembahasan keutamaan wudhu dan cahaya pada hari kiamat.
Hadis ini menjelaskan keutamaan wudhu bagi seorang mukmin. Bekas wudhu menjadi tanda kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.
Pembahasan ini sekaligus mengingatkan kita agar tidak menganggap wudhu sekadar rutinitas sebelum shalat. Wudhu merupakan ibadah yang memiliki keutamaan besar dan berkaitan dengan keadaan seorang mukmin di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
Artinya:
“Pada hari ketika ada wajah yang putih berseri dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikatakan), ‘Mengapa kamu kafir setelah beriman? Oleh karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 106).
Ayat ini menerangkan bahwa pada hari kiamat manusia akan mengalami keadaan yang berbeda-beda. Ada wajah yang putih berseri dan ada pula yang gelap. Ayat ini merupakan dalil tentang keadaan manusia pada hari kiamat, sedangkan hadis tentang ghurran muhajjalin secara khusus menjelaskan keutamaan umat Nabi Muhammad ﷺ yang dikenali melalui bekas wudhu.
Keduanya mengingatkan kita akan pentingnya beriman kepada hari akhir dan mempersiapkan diri dengan amal saleh.
Keimanan kepada hari akhir mencakup seluruh peristiwa yang terjadi setelah kematian, bukan hanya meyakini bahwa dunia akan berakhir.
Di antara peristiwa yang termasuk dalam pembahasan hari akhir adalah:
Seorang Muslim harus mengimani seluruh perkara gaib tersebut berdasarkan dalil yang sahih.
Hadis tentang keutamaan wudhu juga mengajarkan bahwa amalan yang tampak sederhana dalam kehidupan sehari-hari dapat memiliki keutamaan besar di akhirat. Oleh sebab itu, hendaknya kita memperhatikan wudhu dan berharap kepada Allah agar diberikan kemuliaan pada hari kiamat.
Dari hadis-hadis tersebut, terdapat beberapa pelajaran:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An‘am [6]: 141).
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak berlebih-lebihan. Ketika berwudhu, gunakan air secukupnya, tetapi tetap pastikan anggota wudhu yang wajib dibasuh terkena air secara sempurna.
Dalam kajian fikih, perlu dibedakan antara menambah jumlah atau bentuk suatu ibadah ritual yang telah ditentukan dan memberikan tambahan dalam amalan yang bersifat sosial atau kebajikan.
Misalnya, shalat wajib tidak boleh ditambah jumlah rakaatnya dengan sengaja. Adapun seseorang yang membayar zakat melebihi jumlah minimum yang diwajibkan, dengan niat memberikan sedekah tambahan, maka kelebihan tersebut dapat menjadi sedekah sesuai ketentuan syariat.
Demikian pula dalam urusan lain, rincian hukumnya perlu dikembalikan kepada dalil dan penjelasan para ulama. Tidak semua amalan dapat dianalogikan secara langsung, sebab setiap ibadah memiliki ketentuan masing-masing.
Karena itu, ketika membahas praktik wudhu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, kita perlu memahami riwayat tersebut secara proporsional dan tidak menjadikannya alasan untuk melakukan pemborosan air.
Setelah menyelesaikan pembahasan tentang wudhu, kajian beralih kepada bab Dukhul al-Khala wa al-Istithabah dalam kitab ‘Umdatul Ahkam.
Bab ini membahas dua perkara utama:
Islam mengajarkan bahwa adab seorang Muslim tidak hanya berlaku ketika berada di masjid atau majelis ilmu. Bahkan ketika hendak memasuki kamar mandi pun, terdapat tuntunan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Al-Hafizh Abdul Ghani Al-Maqdisi rahimahullah membawakan hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.
Artinya:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ apabila memasuki tempat buang hajat, beliau mengucapkan: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.”
Sumber: HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 142.
Lafaz al-khubutsi wal-khaba’its dijelaskan oleh para ulama sebagai setan laki-laki dan setan perempuan. Doa ini merupakan permohonan perlindungan kepada Allah dari gangguan setan ketika memasuki tempat buang hajat.
Dari hadis ini, kita memperoleh pelajaran bahwa seorang Muslim hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dalam berbagai keadaan, termasuk ketika melakukan aktivitas yang bersifat pribadi.
Doa masuk kamar mandi di atas merupakan doa yang diajarkan melalui hadis. Karena itu, hendaknya kita mengamalkan doa tersebut sebagaimana petunjuk Rasulullah ﷺ.
Dalam pembahasan ini, penting untuk memahami perbedaan antara dua jenis zikir:
Pertama, zikir yang terikat dengan keadaan tertentu (muqayyad).
Zikir ini diajarkan untuk waktu, tempat, atau aktivitas tertentu. Contohnya adalah doa ketika masuk kamar mandi. Doa tersebut dibaca pada saat yang telah ditentukan dalam tuntunan syariat.
Kedua, zikir yang bersifat umum (mutlak).
Zikir ini tidak terikat dengan waktu atau aktivitas khusus sehingga dapat dibaca dalam berbagai keadaan yang sesuai dengan syariat.
Prinsipnya, apabila Rasulullah ﷺ mengajarkan doa tertentu untuk suatu aktivitas, hendaknya kita mengamalkannya sesuai dengan tuntunan tersebut.
Contohnya, doa ketika masuk kamar mandi tidak diganti dengan doa untuk aktivitas lain hanya karena maknanya sama-sama memohon perlindungan dari setan. Demikian pula doa yang diajarkan untuk qunut witir tidak serta-merta diperlakukan sebagai doa khusus untuk semua bentuk qunut.
Dalam urusan ibadah, kesesuaian dengan tuntunan Nabi ﷺ sangat penting. Kita tidak hanya memperhatikan baiknya makna suatu doa, tetapi juga memperhatikan apakah doa tersebut memang diajarkan untuk keadaan yang sedang kita hadapi.
Sebagai contoh, doa berikut memiliki konteks masing-masing:
Hal ini bukan berarti seseorang dilarang berdoa dengan doa yang baik secara umum. Akan tetapi, apabila suatu doa ditetapkan dengan tuntunan khusus, hendaknya kita menjaga tuntunan tersebut dan tidak mengubahnya tanpa dasar.
Sebaliknya, doa yang tidak dibatasi pada waktu atau keadaan tertentu dapat dibaca pada waktu yang sesuai, selama tidak bertentangan dengan tuntunan syariat.
Dengan memahami prinsip ini, seorang Muslim akan lebih berhati-hati dalam beribadah dan tidak mencampuradukkan berbagai tuntunan hanya berdasarkan kesamaan makna.
Doa masuk kamar mandi juga mengingatkan kita bahwa seorang Muslim perlu memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan.
Dalam akidah Islam, jin merupakan makhluk Allah. Mereka tidak semuanya memiliki keadaan yang sama; di antara mereka ada yang saleh dan ada yang menyimpang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang perkataan jin:
وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا
“Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) yang kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jinn [72]: 11).
Ayat ini menunjukkan bahwa jin memiliki keadaan yang beragam. Karena itu, ketika menjelaskan doa perlindungan dari al-khubutsi wal-khaba’its, pembahasan diarahkan pada permohonan perlindungan dari gangguan setan dan keburukan yang mungkin menimpa manusia.
Seorang Muslim tidak boleh menggantungkan perlindungan kepada makhluk, melainkan memohon perlindungan kepada Allah semata.
Bab Dukhul al-Khala wa al-Istithabah juga mencakup pembahasan tentang bersuci setelah buang air kecil atau buang air besar.
Di antara adab yang perlu diperhatikan adalah:
Pembahasan ini menegaskan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan. Bersuci bukan hanya urusan penampilan, tetapi juga bagian dari pelaksanaan ibadah dan ketaatan kepada Allah.
Seorang Muslim hendaknya mempelajari tata cara bersuci dengan benar agar ibadahnya, terutama shalat, dapat dilaksanakan sesuai tuntunan syariat.
Salah satu pelajaran utama dari pembahasan ini adalah pentingnya meneladani Rasulullah ﷺ dalam perkara yang baik dan mengikuti tuntunan beliau dalam beribadah.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim, pada pembahasan hadis mendahulukan bagian kanan, bahwa hadis tersebut menjadi dasar anjuran mendahulukan bagian kanan dalam bersuci dan perkara-perkara baik yang disebutkan dalam hadis. Penjelasan ini sejalan dengan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang telah dibahas di atas.
Adapun sebagai kaidah umum dalam mengikuti Rasulullah ﷺ, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu.” QS. Al-Ahzab [33]: 21.
Ayat ini menegaskan kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai teladan bagi kaum Muslimin. Dalam menyusun artikel ini, kutipan di atas sengaja disajikan sebagai dalil Al-Qur’an, bukan sebagai perkataan langsung seorang ulama. Untuk kutipan ulama dalam bahasa Arab yang benar-benar verbatim beserta halaman kitabnya, diperlukan pemeriksaan terhadap teks edisi kitab yang digunakan agar tidak menisbatkan redaksi yang keliru kepada seorang imam.
Dari keseluruhan pembahasan dalam kajian ‘Umdatul Ahkam ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran utama.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai sunnah Rasulullah ﷺ, mengamalkannya dengan ilmu, serta istiqamah dalam ketaatan hingga akhir hayat.
وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

*****
ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
Bismillahirrahmanirrahim.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du.
Selengkapnya: Umdatul Ahkam #5 | Hadits Ke-7 dan 8 | Sifat Wudhu Nabi
ʙɪꜱᴍɪʟʟᴀʜ
Bismillahirrahmanirrahim.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du.