Benarkah perhiasan emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya? Pertanyaan seperti ini bisa jadi masih acap muncul di tengah masyarakat. Bagaimana pula dengan perhiasan yang menggunakan bahan selain emas dan perak? Simak kajian berikut!
Wanita identik dengan berhias dan mengenakan perhiasan. Karenanya dalam Kalamullah yang mulia dinyatakan:
ุฃูููู ููู ููููุดููุฃู ููู ุงููุญูููููุฉู ูููููู ููู ุงููุฎูุตูุงู ู ุบูููุฑู ู ูุจูููู
โApakah patut (menjadi anak Allah) orang (wanita) yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan, sedangkan dia tidak dapat memberi alasan yang jelas dalam pertengkaran?โ (Az-Zukhruf: 18)
Ayat yang mulia di atas menunjukkan, secara tabiat wanita memang senang berhias guna menutupi kurangnya kecantikan/ keindahannya. Sehingga ia menggunakan perhiasan dari luar sejak kanak-kanak untuk melengkapi dan menutupi kekurangannya. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/135, Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 764)
Mengenakan perhiasan jelas sesuatu yang halal. Namun harus diketahui bahwa dalam syariat yang mulia ini ada pembahasan, apakah perhiasan yang dikenakan wanita harus dikeluarkan zakatnya atau tidak. Perhiasan yang menjadi pembicaraan di sini tentunya terbatas pada perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, tidak yang selainnya, baik itu berupa mutiara, intan, berlian, dan sebagainya.
Al-Imam Malik rahimahullahu berkata,
โTidak ada zakat pada lu`lu` (mutiara), misik, dan โanbar.โ (Al Muwaththa` no. 1/232)
Al-Imam Asy-Syafiโi rahimahullahu,
โApa yang dijadikan perhiasan oleh para wanita atau yang disimpan mereka, ataupun yang disimpan oleh para lelaki berupa mutiara, zabarjad (batu permata seperti zamrud), yaqut, marjan, perhiasan yang berasal dari laut, dan selainnya, tidak ada zakatnya. Tidak ada zakat kecuali pada emas dan perak. Tidak ada zakat pada kuningan, besi, tembaga, batu, belerang dan apa-apa yang dikeluarkan dari bumi. Tidak ada zakat pada โanbar dan tidak pula pada mutiara yang diambil dari lautโฆ.โ (Al-Umm, kitab Az-Zakah, bab Ma La Zakata fihi minal Hulli)
Ada perbedaan pendapat di kalangan salaf dalam masalah zakat perhiasan emas dan perak ini. Mereka terbagi dalam beberapa pandangan, secara globalnya kita sebutkan dahulu sebelum menjelaskan perinciannya.
Pertama: Di antara mereka ada yang berpendapat zakat perhiasan itu wajib bila telah mencapai nishab, dikeluarkan setiap tahunnya, sebagaimana pendapat Abu Hanifah, salah satu dari pendapat mazhab Asy-Syafiโi dan satu riwayat dari Ahmad.
Kedua: Ada yang berpendapat bahwa perhiasan tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Ini mazhab Al-Imam Malik, Ahmad, dan Asy-Syafiโi dalam salah satu pendapatnya.
Ketiga: Ada yang menyatakan, perhiasan itu dikeluarkan zakatnya sekali saja. Demikian diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu โanhu.
Keempat: Ada yang berpendapat bahwa zakat emas adalah dengan meminjamkannya. Demikian riwayat dari Asma` dan juga Anas radhiyallahu โanhuma. (Subulus Salam, 4/42-43)
Sebelum menetapkan mana yang paling kuat dari pendapat-pendapat yang ada, maka kita akan melihat dalil masing-masingnya.
Dalil Ahlul Ilmi yang Mewajibkan Zakat Perhiasan
1. Dalil yang umum dalam Al-Qur`anul Karim.
Seperti firman Allah 'Azza wa Jalla:
ููุงูููุฐูููู ููููููุฒูููู ุงูุฐููููุจู ููุงููููุถููุฉู ููููุง ูููููููููููููุง ููู ุณูุจูููู ุงูููู ููุจูุดููุฑูููู ู ุจูุนูุฐูุงุจู ุฃููููู ู. ููููู ู ููุญูู ูู ุนูููููููุง ููู ููุงุฑู ุฌููููููู ู ููุชูููููู ุจูููุง ุฌูุจูุงููููู ู ููุฌููููุจูููู ู ููุธููููุฑูููู ู ููุฐูุง ู ูุง ููููุฒูุชูู ู ููุฃูููููุณูููู ู ููุฐูููููุง ู ูุง ููููุชูู ู ุชูููููุฒูููู
โDan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, โInilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang akibat dari apa yang kalian simpan ituโ.โ (At-Taubah: 34-35)
Abdullah bin โUmar radhiyallahu โanhuma ketika ditanya tentang apa yang dimaksud dengan al-kanzu yang disebutkan dalam ayat ๏ฎ ๏ฎ, beliau menjawab: โAl-Kanzu adalah harta yang tidak ditunaikan zakatnya.โ (Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa` no. 606)
Jabir bin Abdillah radhiyallahu โanhuma berkata,
โBila engkau mengeluarkan sedekah/zakat dari hartamu maka sungguh telah hilang kejelekannya, dan harta itu bukan lagi dikatakan kanzun.โ (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 4/107, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/190)
Ayat di atas berikut hadits yang nanti akan disebutkan bersifat umum mencakup seluruh emas dan perak, tidak ada sesuatu yang dikhususkan. Maka barangsiapa menyatakan emas dan perak yang berbentuk perhiasan tidak termasuk di dalam keumuman ini, hendaknya ia mendatangkan dalil. Demikian kata Samahatusy Syaikh Abdul โAziz bin Baz dalam Majmuโ Fatawa wa Maqalah Mutanawwiโah-nya (14/85) dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-โUtsaimin dalam Majmuโ Fatawa wa Rasa`il-nya (18/158), semoga Allah Subhanahu wa Taโala merahmati keduanya.
2. Dalil dari hadits-hadits yang umum, yang berisi perintah mengeluarkan zakat emas dan perak.
Seperti hadits-hadits berikut ini:
a. Abu Hurairah radhiyallahu โanhu berkata, โRasulullah Shallallahu โalaihi wa sallam bersabda:
ู ูุง ู ููู ุตูุงุญูุจู ุฐูููุจู ูููุงู ููุถููุฉู ูุงู ููุคูุฏููู ู ูููููุง ุญููููููุงุ ุฅููุงูู ุฅูุฐูุง ููุงูู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ุตููููุญูุชู ูููู ุตูููุงุฆูุญู ู ููู ููุงุฑู ููุฃูุญูู ููู ุนูููููููุง ููู ููุงุฑู ุฌููููููู ู ููููููููู ุจูููุง ุฌูููุจููู ููุฌูุจููููููู ููุธูููุฑูููุ ูููููู ูุง ุจูุฑูุฏูุชู ุฃูุนูููุฏูุชู ูููู ููู ููููู ู ููุงูู ู ูููุฏูุงุฑููู ุฎูู ูุณููููู ุฃููููู ุณูููุฉูุ ุญูุชููู ููููุถูู ุจููููู ุงููุนูุจูุงุฏู ููููุฑูู ุณูุจูููููููุ ุฅูู ููุง ุฅูููู ุงููุฌููููุฉู ููุฅูู ููุง ุฅูููู ุงููููุงุฑู...
โTidak ada seorang pun yang memiliki emas dan perak yang tidak menunaikan haknya (zakat dari emas dan perak tersebut) melainkan pada hari kiamat nanti disiapkan untuknya lempengan besi dari api, lalu lempengan itu dipanaskan di neraka jahannam, kemudian lambung, dahi, dan punggungnya dibakar dengan lempengan membara tersebut. Setiap kali lempengan itu dingin, dipanaskan lagi lalu dibakarkan padanya. Hal itu dilakukan padanya pada hari yang kadarnya 50.000 tahun, hingga diputuskan perkara di antara para hamba. Maka akan dilihat ke mana ia menuju, apakah ke surga ataukah ke nerakaโฆ.โ (HR. Muslim no. 2287)
b. Jabir bin Abdillah radhiyallahu โanhuma berkata, โAku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu โalaihi wa sallam bersabda:
ู ูุง ู ููู ุตูุงุญูุจู ุฅูุจููู ูุงู ููููุนููู ููููููุง ุญููููููุง ุฅููุงูู ุฌูุงุกูุชู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ุฃูููุซูุฑู ู ูุง ููุงููุชู ููุทูู ููููุนูุฏู ููููุง ุจูููุงุนู ููุฑูููุฑูุ ุชูุณูุชูููู ุนููููููู ุจูููููุงุฆูู ูููุง ููุฃูุฎูููุงููููุงุ ูููุงู ุตูุงุญูุจู ุจูููุฑู ูุงู ููููุนููู ููููููุง ุญููููููุง ุฅููุงูู ุฌูุงุกูุชู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ุฃูููุซูุฑู ู ูุง ููุงููุชู ููููุนูุฏู ููููุง ุจูููุงุนู ููุฑูููุฑูุ ุชูููุทูุญููู ุจูููุฑูููููููุง ููุชูุทูุคููู ุจูููููุงุฆูู ูููุงุ ูููุงู ุตูุงุญูุจู ุบูููู ู ูุงู ููููุนููู ููููููุง ุญููููููุง ุฅููุงูู ุฌูุงุกูุชู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ุฃูููุซูุฑู ู ูุง ููุงููุชู ููููุนูุฏู ููููุง ุจูููุงุนู ููุฑูููุฑูุ ุชูููุทูุญููู ุจูููุฑูููููููุง ููุชูุทูุคููู ุจูุฃูุธููุงูููููุงุ ููููุณู ููููููุง ุฌูู ููุงุกู ูููุงู ู ูููููุณูุฑู ููุฑูููููุงุ ูููุงู ุตูุงุญูุจู ููููุฒู ูุงู ููููุนููู ููููู ุญููููู ุฅููุงูู ุฌุงูุกู ููููุฒููู ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ุดูุฌูุงุนูุง ุฃูููุฑูุนู ููุชููุจูุนููู ููุงุชูุญูุง ููุงููุ ููุฅูุฐูุง ุฃูุชูุงูู ููุฑูู ู ูููููุ ููููููุงุฏููููู: ุฎูุฐู ููููุฒููู ุงูููุฐูู ุฎูุจูุฃูุชูููุ ููุฃูููุง ุนููููู ุบูููููู. ููุฅูุฐูุง ุฑูุฃูู ุฃููู ูุงู ุจูุฏูู ู ููููู ุณููููู ููุฏููู ููู ูููููู ููููููุถูู ูููุง ููุถูู ู ุงููููุญููู
โTidak ada seorang pun dari pemilik unta yang tidak menunaikan hak yang harus ditunaikan dari unta-untanya tersebut (tidak mengeluarkan zakatnya) melainkan unta-untanya akan datang pada hari kiamat lebih banyak dari yang sebelumnya. Si pemilik unta itu duduk menghadapi unta-untanya di tanah yang datar yang luas, dalam keadaan unta-unta itu melompat dan menyergap ke arahnya, menendang dengan kaki-kaki mereka. Dan tidak ada seorang pun dari pemilik sapi yang tidak menunaikan hak yang harus ditunaikan dari sapi-sapinya tersebut melainkan sapi-sapinya akan datang pada hari kiamat lebih banyak dari yang sebelumnya. Si pemilik sapi itu duduk menghadapi sapi-sapinya di tanah yang datar yang luas, dalam keadaan sapi-sapi itu menanduknya dengan tanduk-tanduk mereka dan menginjaknya dengan kaki-kaki mereka. Dan tidak ada seorang pun dari pemilik kambing yang tidak menunaikan hak yang harus ditunaikan dari kambing-kambingnya tersebut melainkan kambing-kambingnya akan datang pada hari kiamat lebih banyak dari yang sebelumnya. Si pemilik kambing itu duduk menghadapi kambing-kambingnya di tanah yang datar yang luas, dalam keadaan kambing-kambing itu menanduknya dengan tanduk-tanduk mereka dan menginjaknya dengan kaki-kaki mereka. Tidak ada di antara kambing-kambing itu yang tidak bertanduk dan tidak ada yang patah/pecah tanduknya.
Dan tidak ada seorang pun dari pemilik kanzun yang tidak menunaikan hak yang harus ditunaikan dari kanzun tersebut melainkan kanzun-nya akan datang pada hari kiamat dalam bentuk ular jantan besar yang botak yang terus mengikutinya dalam keadaan ular itu membuka mulutnya (menganga). Bila ular itu mendatanginya, ia lari. Ular itu menyerunya, โAmbillah kanzun-mu yang dulunya engkau sembunyikan, karena aku tidak membutuhkannya.โ Bila si pemilik kanzun itu melihat tidak ada jalan baginya kecuali harus mengambil kanzun-nya (yang berada dalam mulut ular tersebut), ia pun memasukkan tangannya ke dalam mulut ular tersebut maka ular itu mengunyah tangannya seperti hewan jantan mengunyah makanannya.โ (HR. Muslim no. 2293)
c. Abdullah bin โAmr ibnul โAsh radhiyallahu โanhuma menyebutkan, pernah datang seorang wanita bersama putrinya menemui Rasulullah Shallallahu โalaihi wa sallam. Putrinya mengenakan dua gelang emas yang tebal/berat pada tangannya. Melihat hal itu Rasulullah Shallallahu โalaihi wa sallam bertanya kepada si ibu:
ุฃูุชูุนูุทููููู ุฒููุงูุฉู ููุฐูุงุ ููุงููุชู: ูุงู. ููุงูู: ุฃูููุณูุฑูููู ุฃููู ููุณููููุฑููู ุงูููู ุจูููู ูุง ููููู ู ุงููููููุงู ูุฉู ุณูููุงุฑููููู ู ููู ููุงุฑูุ ููุงูู: ููุฎูููุนูุชูููู ูุง ููุฃูููููุชูููู ูุง ุฅูููู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู ููููุงููุชู: ููู ูุง ููููู ููููุฑูุณููููููู
โApakah engkau telah memberikan zakat dua gelang ini?โ
Si wanita menjawab, โBelum.โ โApakah menyenangkanmu bila pada hari kiamat nanti Allah memakaikanmu dua gelang dari api?โ tanya Rasulullah lagi.
Kata Abdullah, โSi wanita lalu melepaskan dua gelang tersebut dari tangan putrinya, kemudian menyerahkannya kepada Nabi Shallallahu โalaihi wa sallam seraya berkata, โDua gelang ini untuk Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nyaโ.โ (HR. Abu Dawud no. 1563, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)
d. Ummu Salamah radhiyallahu โanha berkata, โAku memakai gelang kaki dari emas, maka aku tanyakan kepada Rasulullah Shallallahu โalaihi wa sallam, โWahai Rasulullah, apakah ini kanzun?โ Beliau Shallallahu โalaihi wa sallam menjawab:
ู ูุง ุจูููุบู ุฃููู ุชูุคูุฏููู ุฒููุงูุชููู ููุฒูููููู ููููููุณู ุจูููููุฒู
โBila mencapai kadar harus ditunaikan zakatnya lalu dizakati, maka itu bukanlah kanzun.โ (HR. Abu Dawud no. 1564, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)
3. Atsar dari para sahabat Nabi Shallallahu โalaihi wa sallam
a. Atsar Ibnu Masโud radhiyallahu โanhu
Ketika ada seorang wanita bertanya kepada Ibnu Masโud radhiyallahu โanhu tentang perhiasan yang harus dikeluarkan zakatnya, beliau menjawab, โBila perhiasan itu mencapai kadar 200 dirham maka keluarkanlah zakatnya.โ Wanita itu berkata, โAku mengasuh anak-anakku yang yatim. Apakah boleh aku memberikan zakat tersebut kepada mereka?โ โIya, boleh,โ jawab Ibnu Masโud. (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 4/83)
b. Atsar Aisyah radhiyallahu โanha
Aisyah radhiyallahu โanha berkata, โTidak apa-apa mengenakan perhiasan jika diberikan zakatnya.โ (Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam As-Sunan no. 1938)
c. Atsar Abdullah ibnu โAmr ibnul โAsh radhiyallahu โanhuma
Ia menulis surat kepada bendaharanya yang bernama Salim agar mengeluarkan zakat perhiasan putri-putrinya setiap tahun. (Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dalam As-Sunan no. 1938)
4. Atsar dari tabiโin
a. Atsar Saโid ibnul Musayyab rahimahullahu
Ia berkata, โPada perhiasan emas dan perak ada zakatnya. Sementara mutiara (marjan) tidak ada zakatnya, kecuali bila diperdagangkan.โ (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 4/85)
b. Atsar Ibrahim An-Nakhaโi rahimahullahu
Ibrahim berkata, โZakat ada pada perhiasan emas dan perak.โ (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 4/84)
c. Atsar โAtha` rahimahullahu
โApabila perhiasan mencapai nishab zakat maka padanya ada zakat yang harus dikeluarkan,โ katanya. (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/153)
d). Atsar Az-Zuhri rahimahullahu
โZakat ada pada perhiasan dikeluarkan setiap tahun,โ kata Az-Zuhri. (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 4/83)
Dalil Ahlul Ilmi yang Berpendapat Tidak Wajibnya Zakat Perhiasan
1. Hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu โanhuma.
Dia menyatakan bahwa Nabi Shallallahu โalaihi wa sallam bersabda:
ููููุณู ููู ุงููุญููููููู ุฒูููุงุฉู
โTidak ada zakat pada perhiasan.โ (Diriwayatkan Ad-Daraquthni dalam As-Sunan no. 1937)
Namun hadits ini telah dihukumi oleh Al-Baihaqi rahimahullahu dan selainnya sebagai hadits yang batil, tidak ada asalnya. Al-Baihaqi berkata, โHadits ini hanyalah diriwayatkan dari ucapan Jabir1. Afiyah bin Ayyub (salah seorang perawinya, pent.) adalah seorang yang majhul. Siapa yang berhujjah dengannya secara marfuโ maka orang itu dihukum karena dosanya. Ia masuk dalam celaan kita terhadap orang-orang yang menyelisihi, yakni berhujjah dengan periwayatan para pendusta.โ
Kesimpulannya, hadits ini memiliki penyakit dari tiga sisi:
Pertama: Hadits ini mauquf dari ucapan Jabir radhiyallahu โanhuma.
Kedua: Afiyah bin Ayyub lemah. Sebagian ulama mengatakannya majhul.
Ketiga: Dhaifnya rawi yang meriwayatkan dari โAfiyah, yaitu Ibrahim bin Ayyub. (lihat Al-Irwa`, 3/295)
2. Atsar dari Beberapa Sahabat
a. Atsar Ibnu โUmar radhiyallahu โanhuma
Ia memakaikan perhiasan emas kepada putri-putrinya dan budak-budak perempuannya, kemudian ia tidak mengeluarkan zakat dari perhiasan tersebut (Diriwayatkan Asy-Syafiโi rahimahullahu dalam Musnad-nya no. 432)
b. Atsar Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu โanha
Asma radhiyallahu โanha tidak mengeluarkan zakat perhiasan. (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/155)
c. Atsar Jabir bin Abdillah radhiyallahu โanhuma
Ia berkata, โTidak ada zakat pada perhiasan.โ Abuz Zubair (perawi yang meriwayatkan dari Jabir) berkata, โNilai perhiasan itu mencapai seribu dinar.โ Jabir berkata, โDipinjamkan dan dipakai.โ (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 4/82)
Adapun pendapat ketiga dan keempat tidak memiliki sandaran dalil sehingga hanya tinggal dua pendapat. Bila kita melihat dalil-dalil dari dua pendapat tersebut, kita dapatkan dalil pendapat pertama lebih kuat daripada pendapat yang kedua. Dan memang demikian kenyataannya, pendapat pertama yang menyatakan perhiasan harus dikeluarkan zakatnya lebih rajih.
Zakat perhiasan ini sebagaimana zakat lainnya dikeluarkan bila telah mencapai nishab, selain telah mencapai haul (telah satu tahun dalam pemilikan). Demikian pendapat mayoritas ahlul ilmi. Adapun Al-Imam Ash-Shanโani rahimahullahu setelah membawakan hadits Abdullah bin โAmr ibnul โAsh radhiyallahu โanhuma yang telah disebutkan di atas mengatakan, โHadits ini merupakan dalil wajibnya zakat pada perhiasan. Zahirnya tidak ada nishabnya, karena Nabi Shallallahu โalaihi wa sallam hanya memerintahkan untuk mengeluarkan zakat dari dua gelang yang disebutkan.โ (Subulus Salam, 4/42)
Namun dalam hadits Ummu Salamah radhiyallahu โanha yang telah lewat disebutkan: โBila mencapai kadar harus ditunaikan zakatnya lalu dizakatkan maka itu bukanlah kanzun.โ Dengan demikian zakat perhiasan pun harus mencapai nishab. (Majmuโ Fatawa wa Maqalat Mutanawwiโah,14/86)
Bila berupa emas maka nishabnya seperti nishab emas yaitu 20 dinar2, zakatnya sebesar 1/2 dinar. Sedangkan perak sebanyak 200 dirham3, zakatnya sebanyak 5 dirham. Berarti, zakat emas dan perak besarnya 2,5%. Nishab emas dan perak ini disebutkan dalam hadits โAli bin Abi Thalib radhiyallahu โanhu dari Nabi Shallallahu โalaihi wa sallam:
ููุฅูุฐูุง ููุงููุชู ูููู ู ูุฆูุชูุง ุฏูุฑูููู ู ููุญูุงูู ุนูููููููุง ุงููุญูููู ููููููููุง ุฎูู ูุณูุฉู ุฏูุฑูุงููู ูุ ููููููุณู ุนููููููู ุดูููุกู โููุนูููู ููู ุงูุฐููููุจู- ุญูุชููู ูููููููู ูููู ุนูุดูุฑููููู ุฏูููููุงุฑูุง. ููุฅูุฐูุง ููุงููุชู ูููู ุนูุดูุฑููููู ุฏูููููุงุฑูุง ููุญูุงูู ุนูููููููุง ุงููุญูููู ููููููููุง ููุตููู ุฏูููููุงุฑู. ููู ูุง ุฒูุงุฏู ููุจูุญูุณูุงุจู ุฐููููู
โApabila engkau memiliki 200 dirham (perak) dan telah lewat haul (setahun dalam pemilikan, pent.) maka padanya ada zakat sebesar 5 dirham. Dan tidak ada kewajiban apa-apa atasmu โyaitu pada emasโ hingga engkau memiliki 20 dinar. Bila engkau memiliki 20 dinar dan telah lewat haul maka padanya ada zakat sebesar 1/2 dinar. Apa yang lebih dari itu maka perhitungannya demikian.โ (HR. Abu Dawud no. 1573, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud)
Apabila pada perhiasan emas dan perak itu ada batu-batu mulia seperti berlian, mutiara dan sebagainya, maka batu-batu ini tidaklah terhitung dalam zakat. Yang dihitung zakatnya hanyalah emas dan peraknya. Wallahu taโala aโlam bish-shawab.
1 Tidak marfuโ hukumnya/ bukan ucapan Nabi Shallallahu โalaihi wa sallam, tapi ucapan Jabir radhiyallahu โanhu. Dalam istilah lain hadits ini mauquf. โpent.
2 Perkiraan kadar gramnya sebagai berikut: 1 dinar sekitar 4,25 gram. Berarti 20 dinar sama dengan 4,25 x 20 = 85 gram. Adapula yang mengatakan 20 dinar itu sama dengan 92 gram. Wallahu aโlam.
3 Perkiraan kadar gramnya sebagai berikut: 1 dirham sekitar 2,975 gram. 200 dirham sama dengan 2,975 x 200 = 595 gram.
Artikel: Majalah asysyariah - Niswah Edisi 43.