بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 15: Rabu, 5 Jumadil Akhir 1447 / 26 November 2025
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
- 📖 Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
- 📃 Penjelasan:
- 1. Definisi Sahabat
- 2. Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah terkait Para Sahabat
- 1. Mencintai Mereka
- 2. Meyakini Keutamaan dan Keadilan Mereka
- 3. Meyakini bahwa Para Sahabat Bertingkat Levelnya
- Kemudian di bawahnya adalah para sahabat Ahli Uhud, kemudian para sahabat yang ikut Baitur Ridwan. Dan Muhajirin lebih baik dari pada Anshar. 4. Menyebarkan Keutamaan dan Kebaikan Mereka
- 5. Bersaksi bahwa secara umum mereka calon penghuni surga dan secara khusus kepada sahabat yang telah dijamin masuk surga oleh Nabi.
- 6. Mendo'akan Mereka
- 7. Tidak Mencela Mereka
- 9. Membenci orang yang membenci sahabat dan membela kehormatan para sahabat Nabi ﷺ
- 10. Meneladani para sahabat Nabi ﷺ dan Mengikuti jejak Mereka
Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #15 | Bab-13: Aqidah tentang Sahabat Nabi ﷺ
📖 Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَخَيْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا: أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ، ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، نُقَدِّمُ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ كَمَا قَدَّمَهُمْ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَمْ يَخْتَلِفُوا فِي ذَلِكَ، ثُمَّ بَعْدَ هَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةِ أَصْحَابُ الشُّورَى الخَمْسُ: عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَطَلْحَةُ، وَالزُّبَيْرُ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَسَعْدٌ، كُلُّهُمْ يَصْلُحُ لِلْخِلَافَةِ وَكُلُّهُمْ إِمَامٌ. وَنَذْهَبُ فِي ذَلِكَ إِلَى حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ: كُنَّا نَعُدُّ وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَيٌّ، وَأَصْحَابُهُ مُتَوَافِرُونَ: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ نَسْكُتُ.
Yang terbaik dari umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq lalu Umar bin Khatab lalu Utsman bin Affan. Kami mendahulukan mereka bertiga seperti yang dilakukan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mereka tidak berselisih tentangnya. Kemudian setelah tiga orang ini adalah tim musyawarah (di zaman Umar), yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad. Mereka semua layak menjadi khalifah dan mereka semua adalah pemimpin (tokoh). Kami berpendapat seperti itu merujuk kepada hadits Ibnu Umar: “Kami dahulu mengurutkan saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Sahabat masih hidup: Abu Bakar lalu Umar lalu Utsman lalu kami diam.”
ثُمَّ مِنْ بَعْدِ أَصْحَابِ الشُّورَى أَهْلُ بَدْرٍ مِنَ المُهَاجِرِينَ، ثُمَّ أَهْلُ بَدْرٍ مِنَ الأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَلَى قَدْرِ الهِجْرَةِ وَالسَّابِقَةِ أَوَّلًا فَأَوَّلًا.
Kemudian setelah tim musyawarah adalah pasukan Badar dari Muhajirin lalu pasukan Badar dari Anshor yang merupkan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (pilihan), di mana keutamaan mereka sesuai keterdahuluan hijroh dan masuk Islam.
ثُمَّ أَفْضَلُ النَّاسِ بَعْدَ هَؤُلَاءِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: القَرْنُ الَّذِي بُعِثَ فِيهِمْ. كُلُّ مَنْ صَحِبَهُ سَنَةً أَوْ شَهْرًا أَوْ يَوْمًا أَوْ سَاعَةً أَوْ رَآهُ، فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ. لَهُ مِنَ الصُّحْبَةِ عَلَى قَدْرِ مَا صَحِبَهُ، وَكَانَتْ سَابِقَتُهُ مَعَهُ، وَسَمِعَ مِنْهُ، وَنَظَرَ إِلَيْهِ نَظْرَةً. فَأَدْنَاهُمْ صُحْبَةً هُوَ أَفْضَلُ مِنَ القَرْنِ الَّذِينَ لَمْ يَرَوْهُ، وَلَوْ لَقُوا اللَّهَ بِجَمِيعِ الأَعْمَالِ.
Kemudian manusia terbaik setelah mereka para Sahabat Rasulullah adalah generasi yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus kepada mereka. (31) Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baik setahun, sebulan, sehari, bahkan sesaat pun atau pernah melihatnya, maka ia termasuk Sahabatnya. Derajat persahabatannya sesuai kadar lama bersahabat, keterdahuluan masuk Islam, mendengar darinya, dan melihatnya. (32) Orang yang paling rendah kadar persahabatannya adalah lebih utama daripada generasi yang tidak melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun bertemu Allah membawa semua jenis amal shalih.
كَانَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ صَحِبُوا النَّبِيَّ ﷺ وَرَأَوْهُ وَسَمِعُوا مِنْهُ وَمَنْ رَآهُ بِعَيْنِهِ وَآمَنَ بِهِ وَلَوْ سَاعَةً: أَفْضَلَ لِصُحْبَتِهِ مِنَ التَّابِعِينَ وَلَوْ عَمِلُوا كُلَّ أَعْمَالِ الخَيْرِ.
Orang-orang yang bersahabat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, melihatnya, mendengar darinya, dan siapapun yang melihat dengan kedua matanya dan beriman kepadanya meski sesaat adalah lebih utama disebabkan persahabatan ini daripada Tabiin meskipun pernah mengerjakaan semua amal kebaikan.
📃 Penjelasan:
Mempelajari aqidah tentang para sahabat Nabi ﷺ sangat penting dilakukan dilandasi dengan beberapa alasan:
1. Akidah tentang para sahabat banyak disebut dalam Al-Qur’an, Sunnah dan kitab-kitab para ulama.
Yaitu aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah terhadap sahabat Nabi ﷺ. Hal itu karena cinta dan benci seorang muslim mengikuti cinta dan bencinya Allah ﷻ. Oleh karena itulah dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa sekuat-kuat tali iman itu adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Sekuat-kuatnya tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Thabarani)
Maka kita wajib mencintai dan membenci apa yang telah Allah ﷻ cintai dan benci. Dan para sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang Allah ﷻ cintai, maka kita mencintai mereka karena Allah ﷻ dan Rasul-Nya mencintai mereka.
2. Untuk membentengi diri kita dari penyimpangan-penyimpangan yang sesat dalam masalah ini, seperti penyimpangan aqidah Syiah Rafidhah yang mencela, mengkafirkan dan melaknat para sahabat. Dan aqidah mereka merajalela menyerang Kaum Muslimin, maka selayaknya kita membentengi diri kita dan kaum Muslimin.
3. Meneladani dan mengikuti jejak para sahabat.
Dengan meneladani mereka, kita berharap ikut masuk ke dalam surga seperti mereka. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah/9: 100]
Setiap orang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintai olehnya meski mungkin saja amalnya jauh dari mereka. Hadits Dari Abdullah bin Mas`ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata,
جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، كَيفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أحَبَّ قَومًا ولم يَلحَق بِهم؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka?" Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjawab, "Seseorang itu bersama orang yang dicintainya." [Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnya]
Maksudnya, seorang Muslim akan dibangkitkan nanti di hari kiamat dan dikumpulkan bersama orang-orang yang ia cintai.
Maka, jika kita mencintai sahabat Radhiyallahu’anhum, semoga kita bersama mereka di surgaNya kelak.
1. Definisi Sahabat
Definisi sahabat terbaik adalah defenisi yang disampaikan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya Al-Ishaabah fii Tamyiz As-Shahaabah, yaitu: “Sahabat adalah siapapun yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan mukmin (beriman kepadanya) walaupun pernah murtad dan meninggal dalam keadaan Islam".
Sehingga tercakup dalam definisi ini orang yang berjumpa dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bermulazamah (dalam waktu) lama atau sebentar. Maka raja Najasi karena tidak bertemu Nabi ﷺ meskipun sezaman, bukan sahabat tetapi diistilahkan Mukhadram (masuk dalam Tabi'in).
Maka, Abu lahab dan Abu Jahal bukanlah sahabat karena mati dalam kekafiran, demikian juga Abdullah bin khatal juga bukan sahabat Nabi ﷺ, meskipun bertemu Nabi ﷺ, karena murtad maka dihukumi bukan sahabat.
Dan seorang sahabat bernama Asy'ats bin Qais pernah murtad sepeninggal Nabi ﷺ, namun setelah diperangi Abu Bakar Radhiyallahu’anhu Beliau masuk Islam lagi, maka disebut sebagai sahabat.
2. Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah terkait Para Sahabat
Ada 10 poin terkait dengan Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah terkait Para Sahabat:
1. Mencintai Mereka
Karena mencintai mereka adalah tanda keimanan. Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya,
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:” آيَةُ الإِيْمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ وَآيَــةُ النِّفَاقِ بُعْضُ الأَنْصَارِ
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshar. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar”. (HR. Al-Bukhari)
Imam Malik bin Anas Rahimahullah berkata,
” كان السلف يعلمون أولادهم حب أبي بكر وعمر كما يعلمونهم السورة من القرآن “.
"Dulu para Salaf mengajarkan kepada anak-anak mereka kecintaan kepada Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana mengajarkan kepada mereka satu surat dari al-Qur’an.”
(Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah – al-Laalikaai, no. 2325)
2. Meyakini Keutamaan dan Keadilan Mereka
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah/9: 100]
Mereka adalah calon-calon penghuni surga yang selalu dipuji Nabi ﷺ sebagai manusia terbaik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)
Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah Ta’ala. Mereka telah diberikan anugerah yang begitu besar yakni kesempatan bertemu dan menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah memilih mereka untuk mendampingi dan membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan agama-Nya. Orang-orang pilihan Allah ini, tentunya memiliki kedudukan istimewa dibandingkan manusia yang lain. Karena Allah Ta’ala tidak mungkin keliru memilih mereka.
Para dari itu, para ulama hadits sepakat bahwa semua sahabat itu adil terpercaya.
3. Meyakini bahwa Para Sahabat Bertingkat Levelnya
Jangankan para sahabat, bahkan nabi pun bertingkat, maka ada istilah ulul azmi.
Maka, para sahabat pun keutamaannya bertingkat tanpa merendahkan Keutamaan sahabat yang lain. Seperti keutamaan Abu Bakar dan Umar tentu lebih utama dari sahabat lainnya.
Maka, setelah para nabi, manusia terbaik adalah Abu Bakar dan Umar, serta ashabus syura, yaitu enam sahabat yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab untuk bermusyawarah dalam memilih khalifah selanjutnya, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa'd bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf.
Dan mereka adalah bagian para sahabat yang dijamin masuk surga yang merupakan sahabat terbaik: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Mereka disebutkan secara khusus oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis sebagai jaminan yang diberikan Allah ﷻ.
Tingkatan di bawahnya adalah para sahabat Ahli Badar, dimana Allah ﷻ telah mengampuni mereka dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ أَحَدٌ شَهِدَ بَدْرًا
Yang ikut serta dalam Perang Badar tidak akan masuk neraka [Al-Fath, 9/46].
Kemudian di bawahnya adalah para sahabat Ahli Uhud, kemudian para sahabat yang ikut Baitur Ridwan. Dan Muhajirin lebih baik dari pada Anshar.
4. Menyebarkan Keutamaan dan Kebaikan Mereka
Sebarkan kisah dan teladan baik para sahabat kepada orang lain, baik melalui cerita, pengajian, atau tulisan. Mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan memiliki keutamaan besar dan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.
Dalam Mandzumah Haiyaah Ibnu Abi Dawud dikatakan:
وقل خيرض قولٍ في الصحابة كلِّهم# ولا تك طعَّاناً تعيبُ وتجرحُ
Dan berkatalah dengan perkataan yang baik pada semua shahabat # Janganlah menjadi pencela yang mencaci dan mencerca.
5. Bersaksi bahwa secara umum mereka calon penghuni surga dan secara khusus kepada sahabat yang telah dijamin masuk surga oleh Nabi.
Para ulama sepakat bahwa semua sahabat Nabi calon penduduk surga. Ini secara global.
Adapun secara individu, kita bersaksi beberapa sahabat tertentu yang dikabarkan oleh Nabi bahwa mereka akan masuk surga, seperti 10 sahabat nabi yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Mereka disebutkan secara khusus oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis sebagai jaminan yang diberikan Allah ﷻ.
Demikian juga Abdullah bin Salam, Bilal bin Rabah, Ukashyah bin Mihshan, Qais bin Tsabit, semuanya disebut Nabi ﷺ ada berada di surga.
Maka, mengatakan individu masuk surga diperlukan dalil khusus. Jika tidak, maka kita katakan secara umum bahwa para Sahabat adalah calon penghuni Surga.
6. Mendo'akan Mereka
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr Ayat 10:
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
Maka, kita menyebut mereka dengan do'a Radhiyallahu’anhu, Radhiyallahu’anhuma, Radhiyallahu’anhum atau Radhiyallahu’anha. Sesuai yang Allah ﷻ sebut dalam surat At-Taubah ayat 100. Dan tidak perlu menyebut dengan sebutan yang tidak berdalil, seperti menyebut Ali Karomallahuwajhah karena ini merupakan kebiasaan Syi'ah Rafidhah.
7. Tidak Mencela Mereka
Bahkan mencela binatang atau manusia biasa pun kita dilarang, apalagi mencela sahabat Nabi ﷺ yang merupakan manusia terbaik.
Diriwayatkan oleh al-Imam ath-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
“Barangsiapa yang mencela para Sahabatku, maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan semua manusia.” (Al-Mu’jamul Kabiir (XII/110-111, no. 12709).
Karena konsekuensi mencela sahabat adalah mencela Allah ﷻ dan Rasul-Nya, mencela sahabat Itu sendiri dan mencela syariat Islam.
8. Tidak Membicarakan Pertikaian diantara para Sahabat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.
إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِيْ فَأَمْسِكُوْا
“Apabila (perselisihan) sahabatku disebutkan, maka tahanlah (lisan-lisan kalian)…. (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (2/96, 10/198) dan lain-lain, dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dan Tsauban Radhiyallahu ‘anhu)
Sebagian ulama berkata, Ini sebuah fitnah yang telah Allah sucikan pedang-pedang kita darinya. Maka, hendaknya kita pun mengharap agar Allah mensucikan lisan-lisan kita darinya.
Apalagi banyak kisah-kisah yang sudah diselewengkan ahli sejarah. Dan merupakan tanda kebaikan seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. Mereka adalah manusia biasa yang tidak maksum, tetapi kebaikan mereka begitu banyak, bagaikan air laut yang tetap suci walau ada barang najis yang mencampurinya.
9. Membenci orang yang membenci sahabat dan membela kehormatan para sahabat Nabi ﷺ
Allāh ﷻ mencintai mereka Radhiyallahu’anhum, kemudian justru sebagian manusia malah membenci para sahabat. Maka kita benci kepada orang yang menentang Allāh ﷻ dengan membenci sahabat Nabi ﷺ.
10. Meneladani para sahabat Nabi ﷺ dan Mengikuti jejak Mereka
Meneladani dan mengikuti jejak para sahabat Nabi ﷺ berarti meneladani keimanan, akhlak, dan amal saleh mereka, dengan menjadikan mereka sebagai teladan utama setelah Rasulullah ﷺ.
Merekalah saksi Al-Qur'an diturunkan yang langsung dibina Nabi ﷺ, maka merekalah yang paling paham tentang Al-Qur’an, paling utama amalannya dan paling baik akhlaknya.
Dan caranya adalah dengan berpegang teguh pada sunnah Rasulullah ﷺ dan sunnah para sahabat, termasuk mengikuti petunjuk mereka dan menjauhi bid'ah.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم