Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 18: Rabu, 18 Rajab 1447 / 07 Januari 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.



POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH

Daftar Isi:

Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #18 | Bab-16: Tidak Memvonis Siapapun Masuk Surga atau Neraka

📖 Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

وَلَا نَشْهَدُ عَلَى أَهْلِ القِبْلَةِ بِعَمَلٍ يَعْمَلُهُ بِجَنَّةٍ وَلَا نَارٍ، نَرْجُو لِلصَّالِحِ، وَنَخَافُ عَلَيْهِ، وَنَخَافُ عَلَى المُسِيءِ المُذْنِبِ، وَنَرْجُو لَهُ رَحْمَةَ اللَّهِ.

(44) Kami tidak bersaksi atas siapapun dari ahli Qiblat (kaum Muslimin) karena amal yang dikerjakannya bahwa ia masuk Surga atau Neraka. Akan tetapi kami berharap Surga bagi orang shalih sekaligus mengkhawatirkannya masuk Neraka, dan kami juga mengkhawatirkan orang jelek yang berdosa sekaligus mengharapkan rahmat Allah atasnya.

وَمَنْ لَقِيَ اللَّهَ بِذَنْبٍ يَجِبُ لَهُ بِهِ النَّارُ تَائِبًا غَيْرَ مُصِرٍّ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَتُوبُ عَلَيْهِ، وَيَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ، وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ.

(45) Siapa yang bertemu Allah membawa dosa yang mengancamnya masuk Neraka, dalam keadaan bertaubat dan tidak terus-menerus berbuat dosa, maka Allah menerima taubatnya, dan Dia menerima taubat dari para hambaNya dan memaafkan dosa-dosa.

وَمَنْ لَقِيَهُ وَقَدْ أُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ الذَّنْبِ فِي الدُّنْيَا؛ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ، كَمَا جَاءَ فِي الخَبَرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.

(46) Siapa yang bertemu Allah sementara dosanya sudah ditegakkan had atasnya di dunia maka hal itu menjadi kaffarot (penebus dosanya), sebagaimana yang terdapat dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

وَمَنْ لَقِيَهُ مُصِرًّا غَيْرَ تَائِبٍ مِنَ الذُّنُوبِ الَّتِي قَدِ اسْتَوْجَبَ بِهَا العُقُوبَةَ؛ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.

(47) Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan masih bergelimang dosa tanpa bertaubat dari dosa yang mengancamnya akan disika, maka urusannya (dosanya diampuni atau tidak) terserah Allah. Terserah Allah menghendaki menyiksanya atau mengampuninya.

وَمَنْ لَقِيَهُ كَافِرًا عَذَّبَهُ وَلَمْ يَغْفِرْ لَهُ.

(48) Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan kafir maka ia pasti disiksa dan tidak akan diampuni.

 📃 Penjelasan:

1. Tujuan Pembahasan

Pembahasan masalah ini dimasukan para ulama ke dalam kitab-kitab Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dilandasi atas tiga sebab:

1. Sebagai bentuk pengagungan kepada Allah ﷻ.

Karena yang memiliki surga adalah Allah ﷻ, maka seseorang tidak boleh mendahului Allah ﷻ dengan memvonis seseorang masuk ke surga atau neraka, tanpa ada dalil yang melandasinya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.

Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, 'Berhentilah dari berbuat dosa.' Dia menjawab, 'Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.' Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, 'Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni olehNya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.'

Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul 'Alamin. Allah ﷻ berfirman kepada lelaki ahli ibadah, 'Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.' Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, 'Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmatKu.' Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, 'Masukkan orang ini ke neraka'. (Shahih. HR. Ahmad, 2/323: Abu Dawu, 4901: Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd 314, Ibnu Abi Duniya dalam Husnuzh Zhan, 45: al-Baghawi dalam Syarah as-Sunnah, 14/385.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat:1)

2. Supaya kita tidak gampang berbicara masalah ghaib tanpa ilmu

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk dosa besar dan akan dimintai tanggung-jawab, terlebih masalah-masalah ghaib.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36).

Maka, tahu diri itu penting. Lebih selamat mengatakan Wallohu'alam.

3. Untuk menjelaskan sikap seorang Mukmin terhadap saudaranya

Sikap seorang mukmin adalah mencintai saudara-saudaranya.

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, kita berharap agar saudara kita bisa masuk surga dan mengampuni dosa-dosa mereka. Inilah sikap terbaik seorang muslim, bahkan kita sendiri tidak tahu akhir hidup kita.

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)

Telah berlalu, Kisah pembunuh 99 orang yang bertaubat yaitu tentang seorang laki-laki yang membunuh 99 orang lalu ingin bertobat, namun ia membunuh rahib ketika diberitahu tidak ada jalan tobat, hingga totalnya 100 orang. Setelah itu, ia bertanya pada orang alim lain dan disuruh hijrah ke desa yang saleh. Di tengah perjalanan, ia meninggal, dan terjadi perdebatan antara malaikat rahmat dan azab tentang nasibnya, namun Allah memerintahkan untuk mengukur jaraknya, dan ternyata ia lebih dekat ke tempat yang dituju sehingga diampuni. Kisah ini menunjukkan betapa luasnya ampunan Allah ﷻ bagi yang benar-benar bertaubat, bahkan setelah dosa sebesar apapun, asalkan disertai niat ikhlas dan meninggalkan lingkungan maksiat.

Maka, kita berharap Allah ﷻ menganugerahkan kita hati yang lurus.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”

2. Persaksian Terhadap Ahlul Kiblat

Imam Ahmad mengatakan: Kami tidak bersaksi atas siapapun dari ahli Qiblat (kaum Muslimin) karena amal yang dikerjakannya bahwa ia masuk Surga atau Neraka.

📃 Penjelasan:

Persaksian terhadap saudara sesama muslim, ada dua:

1. Secara umum: bahwa semua kaum muslimin atau orang-orang yang bertakwa masuk surga. Ini boleh, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (QS. Al-Hijr ayat 45).

2. Secara individu: dengan mengatakan si Fulan masuk surga atau masuk neraka. Ini membutuhkan dalil, dan inilah yang menjadi pembahasan dalam perkataan Imam Ahmad rahimahullah di atas.

Ahlul Kiblat: maksudnya orang-orang yang nampak secara dzahirnya menampakkan keislaman Dan secara dzahirnya tidak melakukan pembatal-pembatal keislaman. Artinya seseorang masih menghadap kiblat saat shalat, karena shalat adalah pembeda dengan orang kafir dan merupakan syiar islam.

Sebagaimana hadits Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا ، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا ، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا ، فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِى لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ ، فَلاَ تُخْفِرُوا اللَّهَ فِى ذِمَّتِهِ

“Barangsiapa mengerjakan shalat kami, menghadap kiblat kami, dan memakan sembelihan kami; maka dia adalah muslim. Dia akan mendapatkan jaminan dari Allah dan Rasul-Nya. Janganlah engkau membatalkan jaminan Allah padanya.” (HR. Bukhari, no. 391)

Telah shahih dari beberapa sahabat yang menggunakan istilah ahlul kiblat, antara lain dari sahabat Jabir sebagaimana dalam riwayat Abu Ubaid dalam kitab Al-Iman dengan sanad yang shahih, bahwasanya beliau ditanya: Apakah kalian (para sahabat) menamai ahlul kiblat dengan kafir? Maka beliau mengatakan, Kami berlindung kepada Allah ﷻ dari mengatakan demikian.

Seperti pemahaman kaum Khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa-dosa besar, yang tidak akan selamat kaum muslimin akan hal ini.

3. Hukum Memvonis Individu seorang Ahlul Kiblat (Muslim)

Masalah ini diperselisihkan para ulama dalam tiga pendapat:
1. Tidak boleh memvonis masuk surga atau neraka bagi individu. Yang boleh hanyalah secara umum dan sifat saja.
2. Boleh memvonis secara umum atau individu, selama ada dalilnya. Seperti Abu Bakar di surga, Fir'aun dan Abu Thalib di neraka. Termasuk orang tua Nabi ﷺ di neraka.
3. Secara umum boleh bahkan individu yang disepakati kaum muslimin, boleh. Sebagaimana Ishaq bin Rahawayh yang mengatakan Imam Ahmad rahimahullah adalah calon penduduk surga.

Mereka berdalil dalam Shahih Bukhari, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجَبَتْ. ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: وَجَبَتْ. فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

“Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pasti baginya.’ Kemudian mereka melewati jenazah yang lain, lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka beliau pun bersabda, ‘Pasti baginya.’

Kemudian Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan pasti baginya?’

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga. Sedangkan jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi.’” (HR. Bukhari no. 1367)

Namun, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Jumhur ulama adalah pendapat yang kedua (pertengahan) yang menggabungkan antara dua dalil.

Dengan demikian, masalah ini bisa kita rinci sebagai berikut:

  1. Jika ada dalilnya bahwa seseorang adalah calon penduduk surga, maka kita katakan dia calon penduduk surga. Seperti 10 sahabat yang dijamin masuk yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Dan Sahabat yang lain seperti Ukasyah bin Mihsan, Khadijah, Fatimah, Maryam, dan Aisyah Radhiyallahu’anhum.
  2. Jika ada dalil bahwa seseorang masuk neraka, maka kita mengatakan dia penduduk neraka, seperti Abu Thalib, Fir'aun dan Abu lahab.
  3. Jika tidak ada dalil secara individu bahwa seseorang adalah masuk surga atau neraka, maka kita tidak boleh mengatakannya.

Karena kita tidak tahu hati seseorang atau akhir kehidupan seseorang, maka kita tidak boleh memvonis akhir kehidupan seseorang. Maka, Janganlah gampang melaknat pelaku dosa.

Di zaman Rasulullah, terdapat seorang lelaki yang bernama Abdullah yang pernah digelar sebagai himar. Dia adalah seorang lelaki yang pernah membuatkan Rasulullah ketawa. Berdasarkan riwayat, Rasulullah pernah mengenakan hukuman sebatan ke atas beliau atas kesalahan meminum arak.

Suatu hari dia dihadapkan ke hadapan Nabi lalu Baginda memerintahkan supaya dia disebat. Seorang lelaki telah berkata:

اللَّهُمَّ الْعَنْهُ مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ‏.

“Ya Allah, laknatlah dia. Berulangkali dia melakukan hal (kesalahan) yang sama.”

Namun, Sikap lelaki ini ditegur oleh Rasulullah. Sabda Rasulullah:

لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Janganlah kalian melaknatnya. Demi Allah tidak aku ketahui melainkan dia ini mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR al-Bukhari).

Akhlak Rasulullah ini sangat penting untuk kita teladani. Kita membenci dosa dan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Tetapi janganlah kita melaknat mereka yang ingin bertaubat kembali ke jalan Allah.

Sebagian ulama seperti Said bin Jubair (Murid Ibnu Abbas) : “Siapa orang yang paling banyak ibadahnya di antara manusia?”

(Imam) Sa’id bin Jubair menjawab: “Seseorang yang melakukan dosa, kemudian setiap kali dia teringat dosanya, dia memandang rendah amalnya” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, h. 314).

4. Kecintaan kepada Sesama Muslim

Syaikh Mengatakan: Akan tetapi kami berharap Surga bagi orang shalih sekaligus mengkhawatirkannya masuk Neraka, dan kami juga mengkhawatirkan orang jelek yang berdosa sekaligus mengharapkan rahmat Allah atasnya.

📃 Penjelasan:

Ini menunjukkan kecintaan kita kepada sesama muslim, yaitu mengharapkan kebaikan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lebih lengkap lagi, seperti apa yang disampaikan Imam At-Thahawi dalam Syarah Aqidah Thahawiyah: kami (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) mengharapkan orang-orang mukmin yang baik agar:
1. Allah ﷻ mengampuni dosa-dosa mereka.
2. Allah ﷻ memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya.
3. Tidak merasa aman terhadap mereka. (Karena bisa jadi seseorang berubah di akhir hayatnya).

Sedangkan bagi para pendosa:
1. Kita meminta ampunan untuk mereka.
2. Kita khawatir kepada mereka, akan dimasukan ke dalam neraka dengan azabNya.
3. Kita tidak membuat mereka berputus asa.

5. Dua Sayap dalam Ibadah

Yaitu Khauf (Rasa takut) dan Raja' (Rasa Harap).

Imam Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa khauf dan raja' ibarat dua sayap bagi orang beriman dalam beribadah, maka keduanya harus seimbang.

  • Khauf (Rasa Takut): Mencegah seseorang dari berbuat maksiat dan mendorongnya untuk semangat menjalankan ketaatan. Ini takut yang terpuji, bukan takut yang malah menjadikannya frustasi dan putus atau malah bunuh diri.
  • Raja' (Harapan): Mencegah seseorang dari putus asa terhadap rahmat Allah dan memotivasinya untuk terus beramal saleh.

Jika seseorang hanya memiliki rasa takut, ia bisa terjerumus dalam keputusasaan. Sebaliknya, jika hanya memiliki harapan tanpa rasa takut, ia bisa menjadi sombong dan merasa aman dari azab Allah, yang dapat menyebabkan kemalasan beribadah. Oleh karena itu, keseimbangan antara keduanya sangat penting dalam menjalani kehidupan beragama.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa sifat Raja' (harapan) memiliki tiga unsur:
1. Mencintai Allah ﷻ.
2. Takut tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.
3. Harus diimbangi dengan amal.

6. Perbanyak Do'a dan Khawatir Akan akhir Kehidupan Kita

Jangan merasa aman dari akhir kehidupan kita, maka perbanyak do'a Seperti halnya yang diajarkan Nabi ﷺ:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ .

Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi 'alaa Diinik

Wahai Yang Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku senantiasa di atas agama-Mu.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hadits berikut.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ نَظَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ ، وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُمْ فَقَالَ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . فَتَبِعَهُ رَجُلٌ فَلَمْ يَزَلْ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى جُرِحَ ، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ . فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ ، حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »

Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)

Dalam riwayat lain disebutkan,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Amalan yang dimaksud di sini adalah amalan shalih, bisa juga amalan jelek. Yang dimaksud ‘bil khawatim’ adalah amalan yang dilakukan di akhir umurnya atau akhir hayatnya.

Lihatlah Sofyan Ats-Tsauri yang menangis dan berkata, “Aku takut imanku dicabut saat kematian.”

Demikian juga Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu yang menangis saat thawaf sambil mengatakan, Ya Allah kalau Engkau menentukan saya termasuk orang yang bahagia, maka berikanlah keistiqamahan kepadaku, dan kalau Engkau menentukan saya, pada golongan orang-orang yang sengsara, maka ampunilah aku dan pindahkan aku menjadi orang-orang yang bahagia.

Ada seseorang mendatangi Nabi sallallahu alaihi wa sallam seraya mengucapkan ‘Aduhai dosa-dosaku’ maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya, katakanlah:

اللهم إن مغرفتك أوسع من ذنوبي ورحمتك أرجى لي عندي فيا رب اغفر لي

“Ya Allah, sesungguhnya ampunan-Mu itu lebih luas dari dosa-dosaku dan rahmat-Mu adalah sesuatu yang paling aku harapkan untuk diriku, oleh karena itu ampunilah diriku.”

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah juga pernah mengatakan:

الْمُؤمِنُ يَعْمَلُ بِالطَّاعَاتِ وَهُوَ مُشْفِقٌ وَجِلٌ خَائفٌ، وَالفَاجِرُ يَعْمَلُ بِالْمَعَاصِي وَهُوَ آمِنٌ

Seorang mukmin mengerjakan ketaatan-ketaatan dalam keadaan ia merasa khawatir dan takut. Adapun seorang yang fajir mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dalam keadaan ia merasa aman. (Tafsir Ibn Katsir: 2/234, Mausu’ah Nadhratin Na’im: 4003)

  • Imam Ahmad rahimahullah mengatakan:

وَمَنْ لَقِيَ اللَّهَ بِذَنْبٍ يَجِبُ لَهُ بِهِ النَّارُ تَائِبًا غَيْرَ مُصِرٍّ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَتُوبُ عَلَيْهِ، وَيَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ، وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ.

(45) Siapa yang bertemu Allah membawa dosa yang mengancamnya masuk Neraka, dalam keadaan bertaubat dan tidak terus-menerus berbuat dosa, maka Allah menerima taubatnya, dan Dia menerima taubat dari para hambaNya dan memaafkan dosa-dosa.

📃 Penjelasan:

Orang-orang yang berdosa dan bertaubat, maka Allah ﷻ berjanji akan mengampuninya. Sebagaimana Firman-Nya:

۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar ayat 53).

Allah memberi kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang banyak melakukan dosa dengan luasnya kemurahan dan rahmat-Nya.

Syarat-syarat bertaubat: taubat yang tulus (taubat nasuha) mengandung tiga unsur penting:
- Menyesal
- Berhenti
- Bertekad tidak akan mengulangi
- Jika berkaitan dengan hak orang lain, selain tiga syarat ada tambahan syarat keempat: mengembalikan hak orang lain tersebut.

Akan tetapi, kita tidak akan tahu apakah taubat kita diterima atau tidak, maka kita harus khawatir akan taubat kita.
Para salaf dahulu takut, bukan karena meragukan janji Allah yang akan menerima taubat, tapi mereka ragu terhadap diri mereka sendiri akankah taubat mereka tulus dan diterima atau tidak.

  • Imam Ahmad rahimahullah berkata :

وَمَنْ لَقِيَهُ وَقَدْ أُقِيمَ عَلَيْهِ حَدُّ ذَلِكَ الذَّنْبِ فِي الدُّنْيَا؛ فَهُوَ كَفَّارَتُهُ، كَمَا جَاءَ فِي الخَبَرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.

(46) Siapa yang bertemu Allah sementara dosanya sudah ditegakkan had atasnya di dunia maka hal itu menjadi kaffarot (penebus dosanya), sebagaimana yang terdapat dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

📃 Penjelasan:

Hal ini sejalan dengan hadits Nabi ﷺ.

Ada seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan ia dalam keadaan hamil karena zina. Wanita ini lalu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku telah melakukan sesuatu yang perbuatan tersebut layak mendapati hukuman rajam. Laksanakanlah hukuman had atas diriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memanggil wali wanita tersebut lalu beliau berkata pada walinya, “Berbuat baiklah pada wanita ini dan apabila ia telah melahirkan (kandungannya), maka datanglah padaku (dengan membawa dirinya).”

Wanita tersebut pun menjalani apa yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu, beliau meminta wanita tersebut dipanggil dan diikat pakaiannya dengan erat (agar tidak terbuka auratnya ketika menjalani hukuman rajam, -pen). Kemudian saat itu diperintah untuk dilaksanakan hukuman rajam. Setelah matinya wanita tersebut, beliau menyolatkannya. ‘Umar pun mengatakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Engkau menyolatkan dirinya, wahai Nabi Allah, padahal dia telah berbuat zina?” Beliau bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala?” (HR. Muslim no. 1696).

Dan pelebur dosa-dosa ada banyak Jenisnya, seperti adanya musibah, do'a orang-orang yang beriman dan hukuman.

  • Imam Ahmad rahimahullah berkata :

وَمَنْ لَقِيَهُ مُصِرًّا غَيْرَ تَائِبٍ مِنَ الذُّنُوبِ الَّتِي قَدِ اسْتَوْجَبَ بِهَا العُقُوبَةَ؛ فَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.

(47) Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan masih bergelimang dosa tanpa bertaubat dari dosa yang mengancamnya akan disika, maka urusannya (dosanya diampuni atau tidak) terserah Allah. Terserah Allah menghendaki menyiksanya atau mengampuninya.

Jika seorang muslim yang berdosa dan tidak bertaubat, maka, kedudukannya diserahkan kepada Allah ﷻ. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya. Jika tidak, maka akan disiksa sesuai dengan kadar dosa-dosanya.

  • Imam Ahmad rahimahullah berkata :

وَمَنْ لَقِيَهُ كَافِرًا عَذَّبَهُ وَلَمْ يَغْفِرْ لَهُ.

(48) Siapa yang bertemu Allah dalam keadaan kafir maka ia pasti disiksa dan tidak akan diampuni.

Inilah kerugian orang-orang kafir, yang tidak akan diampuni segala dosa yang dilakukan. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48)

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang berbuat syirik terhadap Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (QS. Al Maidah: 72).

Penutup Tambahan: Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah terhadap para pendosa.

1. Tidak boleh memvonis secara individu masuk neraka tanpa ada dalil.
2. Allah ﷻ Maha adil, tidak mungkin dzalim, maka tidak mungkin mengadzab hamba-Nya tanpa dosa atau melebihi kadar dosa-dosanya.
3. Tidak ada adzab kecuali sudah ada penjelasan. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Isra ayat 15:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.
4. Berdasarkan dalil yang ada, Allah ﷻ tidak akan mengadzab Semua dosa-dosa kita.

Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita, orang tua dan keluarga kita serta kaum muslimin. Aamiin.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini