Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab: Pokok-pokok Aqidah (Ushulus Sunnah) Imam Ahmad
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan 20: Rabu, 2 Sya'ban 1447 / 21 Januari 2026 
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.



POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH

Daftar Isi:


Ushulus Sunnah - Imam Ahmad #20 |  Bab-18: Hukum Mencela Sahabat

📖 Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

وَمَنِ انْتَقَصَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، أَوْ أَبْغَضَهُ بِحَدَثٍ كَانَ مِنْهُ، أَوْ ذَكَرَ مَسَاوِئَهُ؛ كَانَ مُبْتَدِعًا حَتَّى يَتَرَحَّمَ عَلَيْهِمْ جَمِيعًا، وَيَكُونَ قَلْبُهُ لَهُمْ سَلِيمًا.

(50) Siapa yang merendahkan salah satu Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau membencinya dikarenakan sebuah peristiwa atau menyebut-nyebut keburukannya maka ia seorang mubtadi. Akan tetapi selayaknya ia mendoakan rahmat untuk mereka dan hatinya bersih dari membenci mereka.

 📃 Penjelasan:

Telah berlalu pembahasan mengenai Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah terhadap para Sahabat:

  • Mencintai para sahabat Nabi ﷺ
  • Tidak mencela sahabat Nabi ﷺ
  • Mendo'akan kebaikan untuk sahabat Nabi ﷺ
  • Menahan lisan kita dari menceritakan perselisihan diantara mereka.
  • Mengikuti dan meneladani sahabat Nabi ﷺ

Pada bab ini, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah kembali menekankan hukum mencela sahabat Nabi ﷺ karena banyak kelompok yang mencela, memusuhi, melaknat sahabat Nabi ﷺ baik dulu maupun sekarang.

Padahal dalam Islam mencela binatang saja dilarang, apalagi mencela muslim, lebih-lebih sahabat Nabi ﷺ sebagai generasi terbaik. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani Radhiyallahu ’Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda,

لا تَسُبُّوا الدِّيْك فإنه يُوْقِظ للصلاة

“Janganlah kalian mencela ayam jantan. Sesungguhnya dia membangunkan untuk shalat.” (HR. Abu Dawud di dalam Sunan Abu Dawud)

قال الفضيل بن عياض -رحمه الله- : وَاللهِ.. مَا يَحِلُّ لَكَ أَنْ تُؤذِي كَلْبًا وَلَا خِنْزِيرًا بِغَيْرِ حَقٍّ فَكَيْفَ تُؤذِي مُسْلِمًا؟

al-Fudhail bin ‘Iyyadh -rahimahullahu- berkata : “Demi Allah, tidak halal bagimu menyakiti seekor anjing dan seekor babi tanpa hak. Bagaimana mungkin (halal) bagimu menyakiti seorang Muslim?” (Siyar 7/396)

Seorang mukmin sangat menjaga lisannya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ. (رواه الترمذي)

Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah termasuk hamba yang mukmin, yaitu mereka yang selalu mengungkap aib, gemar melaknat, berperangai buruk, dan suka menyakiti."

Dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting), namun tidak membuatnya patah dan rusak.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir)

Banyak melaknat bukanlah perangai seorang Mukmin, maka jika seseorang biasa mencela dan melaknat, dia harus menjauhkan dirinya dari sifat tersebut.

Bahkan, mencela para sahabat adalah termasuk dosa besar (alkabair) dan ini dijelaskan Imam Adzahabi dalam kitabnya. Beliau berkata, “Dosa besar ke empat  puluh empat adalah orang yang banyak melaknat/ mencela”. [Al-Kabair, hal: 164]

1. Dalil-dalil Khusus Larangan Mencela Sahabat

1. Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَااكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.[Al-Ahzab/33:58].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan golongan yang ditunjuk dalam ayat ini adalah orang-orang kafir, kemudian Syiah Rafidhah. Karena mereka mencela Orang-orang yang dipuji Allah ﷻ dan memuji orang-orang yang Allah ﷻ benci. Maka, akal mereka terbalik.

2. Dalam hadits Bukhari dan Muslim:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘ahnu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya".

Dalam kaidah Ushul Fikih disebutkan:

الأصل في النهي للتخريم

“Asal hukum dalam larangan itu haram"

Maka, mencela para sahabat hukumnya haram.

3. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam ath-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.

“Barangsiapa yang mencela para Sahabatku, maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan semua manusia.” [Al-Mu’jamul Kabiir (XII/110-111, no. 12709) ].

Salah satu tanda dosa-dosa besar adalah pelakunya diancam dengan laknat, seperti dalam hadits di atas.

Maka mencela para sahabat Nabi ﷺ adalah dosa besar berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur'an, hadits dan ijmak para ulama.

2. Dampak Buruk Mencela Para Sahabat

Semua ulama sepakat, bahwa siapa yang mengkafirkan mayoritas para sahabat adalah kafir. Karena konsekuensinya berat, yaitu jika seseorang mencela sahabat, berarti:

1. Mencela para sahabat itu sendiri.
2. Mencela syariat islam, karena kita dapat mengenal agama ini melalui para sahabat, merekalah pengemban risalah.

Al-Imam Abu Zur'ah Ar-Razi rahimahullah berkata,

"Apabila kamu melihat seseorang mencela salah satu dari para sahabat Rasulullah ﷺ, maka ketahuilah bahwa dia adalah ZINDIQ. Hal itu karena bagi kita, Rasulullah ﷺ adalah HAQ dan Al-Qur'an itu HAQ.

Dan yang menyampaikan Al-Qur'an dan Sunnah kepada kita hanya para sahabat Rasulullah ﷺ.

Dan sesungguhnya yang mereka inginkan hanyalah melemahkan para saksi kita (yakni para sahabat Rasulullah ﷺ) untuk menggugurkan Al-Kitab dan As-Sunnah, padahal celaan lebih pantas pada mereka dan mereka itu orang-orang zindiq." (Diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Al-Kifayah fi Ilmi Ar-Riwayah (104).

3. Mencela Rasulullah ﷺ karena mereka sahabat Nabi ﷺ. Dan seseorang itu sesuai dengan agama temannya. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927).

Maka, siapapun yang mencela sahabat terutama Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu’anhuma, maka berarti dia mencela Nabi ﷺ.

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan sahabat ‘Amru bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu untuk memimpin pasukan Dzatus Salasil, maka ia pun menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya,

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ : عَائِشَةُ، فَقُلْتُ : مِنَ الرِّجَالِ؟ فَقَالَ : أَبُوهَا، قُلْتُ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ, فَعَدَّ رِجَالًا

“Siapakah orang yang paling engkau cintai? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya, ‘(Maksudku) dari kaum laki-laki?’ Beliau pun menjawab, ‘Ayahnya (yaitu Abu Bakar)’. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Umar bin Khattab.’ Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang dicintainya. (HR. Bukhari, no. 3662 dan Muslim, no. 2384)

Maka, bagaimana mungkin orang-orang yang paling dicintai Nabi ﷺ kemudian dikafirkan? Itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang sesat dan terbalik otaknya!

4. Mencela Allah ﷻ karena Allah ﷻ meridhai mereka. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 100:

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ۝١٠٠

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.

Maka, Imam Syafi'i rahimahullah pernah memberi nasihat kepada Rabi', jangan engkau memusuhi para sahabat. Karena engkau akan berhadapan dengan Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Maka, siapapun pasti akan kalah.

3. Beberapa Bukti Celaan Syiah Rafidhah kepada para sahabat

Kelompok yang paling merugi adalah kelompok Syiah Rafidhah, berikut beberapa perkataan mereka:

  • Nikmatullah Al-Jazâiri (seorang tokoh agama Syiah masa lalu) mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu’anhuma tidak pernah beriman kepada Allah dan rasul-Nya hingga akhir hayatnya, keduanya telah berbuat syirik dengan memakai kalung berhala, saat shalat di belakang nabi dan bersujud untuknya.
  • Al-Kulaini (seorang tokoh agama Syiah masa lalu) meriwayatkan (riwayat dusta) dari Abu Ja’far, bahwa ia mengatakan, “Orang-orang telah menjadi murtad sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kecuali tiga individu saja”. Aku bertanya, “Siapakah mereka bertiga itu?”. Ia menjawab, “Al-Miqdâd bin al-Aswad, Abu Dzarr dan Salmân al-Fârisi”. [ar-Raudhah dari al-Kâfi 8/245-246].
  • Ayatullah Khomaini mengatakan Aisyah, Thalhah, Zubair, Muawiyah, dan orang-orang sejenisnya adalah najis dan lebih najis daripada anjing dan babi.

Dan banyak lagi ucapan-ucapan kufur lainnya yang begitu banyak, bahkan tokoh lokal Jalaludin Rahmat dan isterinya banyak tersebut celaan-celaannya di buku-bukunya.

Diantara doa yang mereka agungkan adalah doa untuk melaknat Abu Bakar dan Umar bin Al-Khottob serta kedua putri mereka Aisyah dan Hafsoh radhiallahu ‘anhum.

Doa agung tersebut dikenal dengan doa صَنَمَيْ قُرَيْشٍ “Sonamay Quraisy” yang artinya dua berhala kaum Quraisy, yang mereka maksud adalah Abu Bakar dan Umar.

Mereka juga menafsirkan surat Al-Lahab dengan merujuk kepada Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu’anhuma.

Bahkan menafsirkan Baqarah sebagai Aisyah. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Ini adalah celaan-celaan kotor yang dilakukan Syiah Rafidhah yang bahkan menjadikannya sebagai taqarrub kepada Allah ﷻ. Maka, benar apa yang dikatakan Imam Asy-Sya'bi Rahimahullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih baik dari pada Syiah dalam masalah ini, karena kalau kita tanya siapa teman-teman terbaik, mereka menjawab temannya nabi Musa, kalau kita tanya umat Nasrani, siapa teman terbaik, mereka menjawab pembela Isa, dan jika kita tanya kepada orang-orang Syiah siapa manusia terburuk, Mereka menjawab sahabat-sahabat Nabi ﷺ.

4. Hubungan Baik Ahli Bait dengan Para Sahabat

Kaum Syi'ah bertopeng dengan Ahlul bait untuk mencela sahabat Nabi ﷺ. Yang membuat gambaran seolah-olah ahlul bait memusuhi para sahabat Nabi ﷺ.

Imam Asy-Syaukani menulis buku Irsyadul Ghabi ila Madzhabi Ahlil Bait fi Shabin Nabi ﷺ, yang berisi bukti bahwa ahlul bait sangat mencintai para sahabat Nabi ﷺ. Buktinya banyak yang menamai mereka dengan nama para sahabat dan menikahi mereka, seperti Umar bin Khattab menikahi Ummu Kultsum binti Ali, putri dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra (putri Nabi ﷺ ).

Maka, jangan tertipu dengan mereka, karena mereka adalah kaum pendusta seperti yang dikatakan Imam Syafi'i rahimahullah, saya tidak mendapati seorang pun dari pengekor hawa nafsu yang lebih pendusta daripada kaum Rafidhah. (Adab Syafi'i hal.187 oleh Imam Ibnu Hatim).

Bahkan ada yang mengatakan iblis pun perlu belajar dusta kepada Rafidhah.

5. Kenapa Syiah Rafidhah Mencela Sahabat Nabi ﷺ?

1. Sifat Orang-orang Kafir mencela Orang-orang yang beriman.

Aisyah Radhiyallahuanha pernah ditanya, wahai Aisyah, ada seseorang yang tidak mengakui bahwa anda ummul mukminin. Kemudian beliau menjawab, memang benar saya bukan ibundanya, karena saya hanya ibunda bagi orang-orang yang beriman.

Karena siapa yang tidak mengakui Aisyah adalah Ummahatul mukminin, maka dia kafir.

2. Untuk menghujat Al-Qur’an dan Hadits, seperti disampaikan oleh Abu Zurah ar-Razy di atas.

Maka, yang paling dibenci setelah Abu Bakar dan Umar, Radhiyallahu’anhuma adalah Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, karena beliau meriwayatkan ribuan hadits, kemudian Aisyah Radhiyallahu’anha (keduanya ada 7000 Hadits).

3. Mengalirkan terus pahala para sahabat.

Karena mereka telah wafat, maka jika dicaci maka pahala akan mengalir kepada mereka Radhiyallahu’anhum.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?” Para Sahabat Radhiyallahu anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amalan) shalat, puasa dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” [HR. Muslim, no. 2581]

Imam Syafi'i rahimahullah menjelaskan bahwa tidaklah manusia diberi kesempatan untuk mencela sahabat Nabi ﷺ kecuali agar Allah ﷻ menambah pahala mereka ketika amalan-amalan telah terputus.

4. Untuk membalas dendam atas runtuhnya kaum Majusi

Maka, pembunuh Umar, Abu Lu'luah Al-Majusi sangat disanjung oleh kelompok Syiah dan dijadikan hari besar untuk menghormati pembunuh Umar. Inilah bentuk dendam kepada Umar Radhiyallahu anhu.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini