Kajian Buku Bila Kumati #1 Bersama Ustadz Ammi Nur Baits Hafidzahullah
Daftar Isi:
Memahami Hakikat Kematian, Alam Barzakh, dan Kehidupan Setelahnya
Pendahuluan
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kita petunjuk. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kita juga bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya.
Kajian ini membahas sejumlah catatan penting seputar kematian, roh, alam barzakh, dan berbagai perkara gaib yang berkaitan dengan kehidupan setelah kematian. Materi tersebut disusun dalam sebuah buku yang terinspirasi antara lain dari karya Imam Al-Qurthubi, At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wa Umuril Akhirah, yang banyak membahas keadaan manusia setelah kematian.
Pembahasan tentang kematian penting untuk disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Sebab, di tengah masyarakat terdapat begitu banyak keyakinan dan cerita mengenai roh, kematian, kuburan, dan alam gaib yang sumbernya tidak jelas. Sebagian bercampur dengan mitos dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam masalah gaib, seorang muslim tidak boleh menjadikan “katanya” sebagai sumber keyakinan. Perkara gaib harus dikembalikan kepada wahyu: Al-Qur'an dan hadis Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang sahih.
Allah ta'ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar, dan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan bukti untuk itu, serta mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-A'raf: 33)
Allah juga menegaskan bahwa pengetahuan tentang perkara gaib secara mutlak merupakan hak Allah:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.’” (QS. An-Naml: 65)
Karena itu, pembahasan mengenai kematian harus dibangun di atas dalil, bukan mitos.
Mengingat Kematian untuk Mengendalikan Kecintaan kepada Dunia
Mengingat kematian bukanlah sesuatu yang membuat seorang muslim menjadi pesimis. Justru mengingat kematian merupakan salah satu sarana untuk memperbaiki kehidupan.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan,” yaitu kematian.
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa'i serta memiliki sejumlah jalur riwayat.
Kematian membuat manusia menyadari bahwa dunia bukan tempat tinggal selama-lamanya. Apa pun yang diperjuangkan manusia—harta, jabatan, popularitas, bahkan berbagai perselisihan—pada akhirnya akan ditinggalkan.
Karena itu, seseorang yang benar-benar mengingat kematian tidak seharusnya berlebihan dalam mengejar dunia hingga kehilangan saudara, memutus silaturahmi, atau mengorbankan agamanya.
Mengingat kematian seharusnya membuat seseorang bertanya: Apa yang sudah saya persiapkan untuk kehidupan setelah kematian?
Kematian Adalah Kepastian
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan bahwa seluruh makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali 'Imran: 185)
Tidak ada manusia yang dapat menghindari ketetapan tersebut. Bahkan Iblis yang meminta agar diberi penangguhan tidak mendapatkan penangguhan hingga hari Kiamat sebagaimana permintaannya. Allah berfirman:
قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
“Allah berfirman, ‘Maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan, sampai hari yang telah ditentukan waktunya.’” (QS. Al-Hijr: 37–38)
Dengan demikian, penangguhan Iblis bukan berarti ia tidak akan mati. Ia hanya diberi penangguhan sampai batas waktu yang telah Allah tentukan.
Tidak Ada Tempat untuk Melarikan Diri dari Kematian
Allah berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ
“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada dalam benteng-benteng yang tinggi dan kokoh.” (QS. An-Nisa': 78)
Manusia tidak mengetahui kapan dan di mana kematian akan datang.
Allah berfirman:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)
Karena waktu kematian merupakan perkara yang Allah rahasiakan, manusia tidak dapat menentukan kapan ajalnya akan tiba.
Allah juga berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Setiap umat mempunyai ajal. Jika ajal mereka telah tiba, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun dan tidak pula dapat mempercepatnya.”
(QS. Al-A'raf: 34)
Ayat ini menjadi prinsip penting: ajal tidak dapat dimajukan dan tidak dapat ditunda.
Sakaratul Maut Pasti Datang
Allah menggambarkan saat seseorang menghadapi kematian:
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)
Manusia secara naluriah berusaha mempertahankan hidup. Namun ketika ajal telah tiba, tidak ada manusia yang mampu menahannya. Karena itu, kematian bukan sesuatu yang dapat ditaklukkan dengan benda tertentu, jimat, atau kekuatan manusia.
Jimat Tidak Dapat Menunda Kematian
Dalam masyarakat terdapat keyakinan bahwa benda tertentu, termasuk jimat, dapat memberikan perlindungan dari kematian atau membuat seseorang sulit meninggal.
Keyakinan semacam ini harus diluruskan.
Jika seseorang terlihat mengalami proses kematian yang panjang atau berat, hal tersebut tidak berarti jimat mampu menunda ajalnya. Berat atau panjangnya proses sakaratul maut merupakan perkara yang berbeda dari tertundanya ajal.
Ajal tetap berada di bawah kehendak Allah.
Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا
“Setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Ali 'Imran: 145)
Karena itu, sebab-sebab duniawi tidak berdiri sendiri. Semuanya berada di bawah ketetapan Allah.
Kematian sebagai Musibah Terbesar di Dunia
Allah menyebut kematian sebagai sebuah musibah:
فَأَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةُ الْمَوْتِ
“Lalu kamu ditimpa musibah kematian.” (QS. Al-Ma'idah: 106)
Kehilangan harta masih memungkinkan seseorang memperoleh pengganti. Kehilangan pekerjaan masih memungkinkan seseorang mendapatkan pekerjaan baru. Namun ketika seseorang meninggal, seluruh kesempatan beramal di dunia telah berakhir.
Kematian merupakan pintu perpindahan dari kehidupan dunia menuju alam berikutnya.
Karena itu, kejadian yang terjadi setelah kematian tidak dapat seluruhnya diukur dengan pengalaman kehidupan dunia. Alam barzakh merupakan alam gaib yang memiliki hukum dan keadaan tersendiri.
Kematian Adalah Perpindahan dari Satu Alam ke Alam yang Lain
Dalam penjelasan para ulama, kematian merupakan terputusnya hubungan antara roh dan jasad.
Kematian bukan sekadar berhentinya fungsi organ secara kasatmata, tetapi merupakan berakhirnya kehidupan seseorang di dunia dan perpindahannya menuju alam barzakh.
Allah menggambarkan keadaan orang yang telah datang kematian kepadanya:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Hingga apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu'minun: 99–100)
Ayat ini menunjukkan bahwa setelah kematian terdapat barzakh, sebuah alam pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
Apa Arti Barzakh?
Secara bahasa, barzakh bermakna penghalang atau pemisah.
Allah berfirman:
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ
“Dia membiarkan dua laut mengalir yang kemudian keduanya bertemu. Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19–20)
Dalam konteks kematian, barzakh menjadi pemisah antara dunia dan kehidupan setelahnya. Karena itu, manusia yang telah meninggal tidak kembali menjalani kehidupan dunia sebagaimana sebelumnya.
Tidak Ada Dalil bahwa Roh Orang yang Meninggal Pulang ke Rumah
Di tengah masyarakat terdapat berbagai keyakinan bahwa roh orang yang meninggal akan kembali ke rumah selama beberapa hari atau pada waktu-waktu tertentu. Keyakinan semacam itu perlu dikembalikan kepada dalil.
Al-Qur'an justru menjelaskan bahwa setelah kematian terdapat barzakh sampai hari kebangkitan. Tidak terdapat dalil sahih yang menetapkan bahwa roh orang yang meninggal bebas keluar-masuk rumah keluarganya dan menjalani kehidupan dunia sebagaimana sebelumnya.
Demikian pula, berbagai ritual atau tradisi yang dilakukan karena keyakinan bahwa roh sedang pulang ke rumah tidak boleh dijadikan bagian dari akidah tanpa landasan wahyu.
Seorang muslim perlu membedakan antara pengalaman, cerita masyarakat, mimpi, dan keyakinan akidah.
Akidah Dibangun di Atas Taslim
Dalam perkara gaib, kemampuan akal manusia memiliki batas. Jika Allah dan Rasul-Nya telah memberikan berita yang sahih tentang perkara gaib, seorang mukmin menerimanya dengan sikap taslim, yaitu tunduk dan menerima berita wahyu. Contohnya adalah hadis sahih tentang kematian yang kelak diwujudkan dalam bentuk tertentu.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda bahwa pada hari Kiamat kematian akan didatangkan dalam bentuk seekor domba, kemudian disembelih. Setelah itu diumumkan kepada penghuni surga dan penghuni neraka bahwa mereka akan kekal dan tidak ada lagi kematian.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Ini adalah perkara gaib. Akal manusia tidak harus mampu membayangkan bagaimana hakikatnya. Yang menjadi dasar penerimaan seorang muslim adalah bahwa berita tersebut datang melalui wahyu yang sahih.
Prinsipnya:
Apa yang tidak mampu dijangkau oleh akal bukan berarti bertentangan dengan akal. Bisa jadi kemampuan akal memang tidak sampai untuk menjangkaunya.
Karena itu, dalam perkara akidah yang bersumber dari wahyu, sikap seorang muslim adalah menerima berita Allah dan Rasul-Nya.
Kematian Akan Dimatikan
Hadis tentang kematian yang diwujudkan dalam bentuk domba menunjukkan keadaan luar biasa pada hari akhirat.
Ketika kematian telah disembelih, diumumkan:“Wahai penghuni surga, kekal dan tidak ada lagi kematian.”
Dan kepada penghuni neraka juga diumumkan:
“Wahai penghuni neraka, kekal dan tidak ada lagi kematian.”
Pada saat itu tidak ada lagi perpindahan dari hidup menuju mati.
Penduduk surga memperoleh kehidupan abadi dalam kenikmatan, sedangkan orang-orang yang menjadi penghuni neraka mendapatkan balasan yang telah Allah tetapkan.
Keabadian makhluk berbeda dengan keabadian Allah. Allah adalah Al-Awwal dan Al-Akhir, sedangkan surga dan neraka adalah makhluk yang Allah ciptakan dan kekal karena kehendak-Nya.
Manusia Mengalami Dua Kematian dan Dua Kehidupan
Al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia mengalami dua kematian dan dua kehidupan.
Allah berfirman:
قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ
“Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali. Kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah jalan bagi kami untuk keluar?’” (QS. Ghafir: 11)
Allah juga berfirman:
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 28)
Ayat tersebut menggambarkan rangkaian: mati → hidup → mati → hidup kembali.
Kematian pertama berkaitan dengan keadaan manusia sebelum memperoleh kehidupan. Kemudian Allah memberikan kehidupan kepadanya. Setelah hidup di dunia dan ajalnya tiba, manusia mengalami kematian. Kemudian Allah membangkitkannya kembali pada hari kiamat.
Penciptaan Manusia dan Ditiupkannya Roh
Allah menjelaskan tahapan penciptaan manusia:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati yang berasal dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, kemudian segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu'minun: 12–14)
Hadis Ibnu Mas'ud yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim menjelaskan tahapan penciptaan manusia dan bahwa setelah beberapa tahapan tersebut malaikat diperintahkan untuk meniupkan roh.
Dalam pembahasan fikih, persoalan perkembangan janin dan ditiupkannya roh memiliki konsekuensi hukum tertentu. Karena itu, pembahasan tentang keguguran, nifas, pemakaman janin, dan hukum-hukum lainnya perlu dikembalikan kepada penjelasan para ulama fikih secara terperinci.
Wafat Sugra dan Wafat Kubra
Kematian dalam pembahasan para ulama dapat dibagi menjadi dua:
1. Wafat Sugra
Wafat sugra adalah keadaan ketika jiwa seseorang ditahan sementara, seperti ketika tidur. Allah kemudian mengembalikannya sehingga orang tersebut bangun.
Allah berfirman:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى
“Allah memegang nyawa seseorang ketika matinya dan nyawa seseorang yang belum mati ketika tidurnya. Kemudian Dia tahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Az-Zumar: 42)
Ayat ini menjadi salah satu dalil bahwa tidur memiliki kemiripan dengan kematian dari sisi ditahannya jiwa, tetapi orang yang tidur kemudian dikembalikan kehidupannya.
2. Wafat Kubra
Wafat kubra adalah kematian yang mengakhiri kehidupan dunia seseorang. Setelah itu ia memasuki alam barzakh dan tidak kembali menjalani kehidupan dunia.
Tidur sebagai Pengingat tentang Kematian
Allah juga berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan. Kemudian kepada-Nya tempat kembalimu, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-An'am: 60)
Setiap kali seseorang tidur, sebenarnya ia sedang mendapatkan pelajaran tentang lemahnya manusia. Ia tidak memiliki jaminan bahwa setelah memejamkan mata pada malam hari, ia akan kembali membuka mata pada pagi hari.
Karena itu, tidur semestinya menjadi pengingat bahwa kehidupan sepenuhnya berada di tangan Allah.
Hakikat Roh adalah Perkara Gaib
Roh merupakan salah satu perkara yang Allah rahasiakan dari manusia.
Allah berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.’” (QS. Al-Isra': 85)
Ayat ini memberikan pelajaran penting: manusia memang dapat mengetahui sebagian informasi tentang roh melalui wahyu, tetapi hakikat roh secara keseluruhan bukanlah sesuatu yang dapat dijangkau manusia.
Karena itu, berbagai klaim tentang roh yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur'an atau hadis tidak boleh dijadikan keyakinan.
Mimpi Bertemu Orang yang Telah Meninggal
Pembahasan mengenai roh juga berkaitan dengan mimpi.
Seseorang dapat bermimpi bertemu orang yang telah meninggal. Namun mimpi tidak boleh secara otomatis dipahami sebagai bukti bahwa roh orang yang telah meninggal kembali ke dunia.
Demikian pula mimpi bertemu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memiliki pembahasan tersendiri dalam hadis. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي
“Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupai diriku.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Namun pengalaman mimpi tetap tidak boleh dijadikan dasar untuk menetapkan keyakinan agama baru atau hukum syariat.
Pelajaran Besar dari Mengingat Kematian
Pembahasan tentang kematian bukan sekadar pembahasan tentang bagaimana manusia berhenti hidup.
Kematian adalah pintu menuju kehidupan yang lebih panjang.
Maka manfaat mempelajari kematian setidaknya mencakup beberapa hal:
1. Meluruskan keyakinan yang keliru
Banyak keyakinan tentang roh, kematian, kuburan, dan alam gaib beredar di masyarakat tanpa sumber yang jelas.
Belajar akidah membantu seorang muslim membedakan antara wahyu dan mitos.
2. Menambah ilmu yang sebelumnya tidak diketahui
Seseorang bisa saja tidak mengetahui sesuatu dalam perkara akidah. Setelah mempelajari dalilnya, ia mendapatkan pengetahuan dan keyakinan baru.
3. Mengurangi keterikatan berlebihan kepada dunia
Orang yang yakin akan mati akan menyadari bahwa dunia bukan tujuan akhir.
4. Mendorong persiapan menuju akhirat
Kematian tidak memberikan kesempatan kepada seseorang untuk kembali ke dunia dan memperbaiki seluruh amal yang telah ditinggalkan.
5. Menumbuhkan sikap taslim kepada wahyu
Tidak semua perkara gaib dapat dipahami dengan kemampuan akal manusia. Karena itu, seorang mukmin tunduk kepada berita Allah dan Rasul-Nya yang sahih.
Penutup: Bila Mati, Apa yang Kita Bawa?
Pada akhirnya, semua manusia akan sampai pada titik yang sama: kematian.
Tidak peduli berapa panjang umur seseorang, seberapa banyak hartanya, seberapa tinggi kedudukannya, atau seberapa kuat ia berusaha menghindari kematian, ajal pasti datang ketika ketetapan Allah telah tiba.
Allah telah menciptakan kematian dan kehidupan sebagai ujian.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini memberikan perspektif yang sangat penting: ukuran keberhasilan manusia bukanlah seberapa lama ia hidup, melainkan seberapa baik amal yang ia persiapkan selama hidupnya.
Maka pertanyaan terpenting bukan:
“Kapan saya akan mati?”
Sebab waktunya tidak kita ketahui.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang sudah saya persiapkan ketika kematian datang?”
Kita tidak mengetahui kapan malaikat maut akan datang. Kita tidak mengetahui di mana kita akan meninggal. Kita tidak mengetahui bagaimana keadaan kita ketika ajal tiba.
Yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan diri dengan iman, tauhid, amal saleh, taubat, dan memperbanyak bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepada kita husnul khatimah, meneguhkan kita di atas iman, dan menjadikan kematian sebagai pintu menuju rahmat-Nya.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Poster Ringkasan

*****