بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#1: 18 Syawal 1447 / 8 April 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.
Setelah berlalunya Ramadhan, hendaknya kita melakukan hal-hal positif berikut ini :
Karena bertemu dengan Ramadhan, berarti kesempatan bagi kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, kesempatan menambah pahala, kesempatan dihapuskannya dosa dan kesempatan dimasukkan ke dalam surga. Biidznilah.
Dengan bersyukur Allah ﷻ akan menambah nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan. Karena Allah Ta’ala berfirman,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian mau bersyukur, maka Aku sungguh akan menambah nikmat bagi kalian.” (QS. Ibrahim: 7) (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 124)
Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187) menjelaskan rukun syukur itu ada tiga:
1. Dengan hati: Mengakui nikmat itu berasal dari Allah.
2. Dengan lisan: Memuji Allah atas nikmat tersebut.
3. Dengan anggota badan: Menggapai rida Allah dengan memanfaatkan nikmat dalam ketaatan.
Syukur adalah penjaga (pengawal) nikmat dari segala sebab yang mengakibatkan hilangnya nikmat tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama menamakan syukur itu sebagai pengikat nikmat karena syukur itu mengikat nikmat (Al-Hafizh) sehingga tidak lepas dan kabur.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, ”Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah.” (Syu’abul Iman, no. 4546)