بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#5: 25 Dzulqa’dah 1447 / 13 Mei 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:
Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu’anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Ada empat sifat, siapa yang keempat-empatnya ada padanya maka ia adalah seorang munafik sejati. Dan siapa yang memiliki salah satu darinya, maka pada dirinya ada salah satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya, yaitu: Jika diberi amanah, ia berkhianat; Jika berbicara, ia berdusta; Jika membuat perjanjian, ia mengingkari; Dan jika berselisih, ia berbuat curang atau melampaui batas.”
HR. Bukhari no. 34, Muslim no. 58.
Perawi Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu’anhuma, keduanya bapak dan anak adalah sahabat Nabi ﷺ. Maka, kita mendo'akan agar Allah ﷻ meridhoi keduanya, kita tidak mencela dan mengkafirkan para sahabat seperti halnya orang-orang Syiah Rafidhah.
Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam ath-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
“Barangsiapa yang mencela para Sahabatku, maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para Malaikat dan semua manusia.” [Al-Mu’jamul Kabiir (XII/110-111, no. 12709)].
Dan mencela sahabat Nabi ﷺ adalah mencela banyak hal, yaitu:
1. Allah ﷻ, karena Allah ﷻ meridhoi mereka.
2. Mencela Nabi ﷺ. Karena Nabi ﷺ sendiri yang memuji mereka, sebaik-baiknya manusia adalah Generasi ku... Maka, Imam Syafi'i rahimahullah pernah memberi nasihat kepada Rabi', jangan engkau memusuhi para sahabat. Karena engkau akan berhadapan dengan Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Maka, siapapun pasti akan kalah bila berhadapan dengan Allah dan Rasul.
3. Mencela syariat Islam, karena Al-Qur'an dan Sunnah sampai kepada kita melalui para sahabat.
4. Mencela Sahabat itu sendiri.
Bila kita saja dilarang mencela binatang, apalagi mencela sahabat Nabi ﷺ, yang merupakan generasi terbaik.
Dalam Islam, mencela ayam jantan dilarang karena hewan ini memiliki keutamaan luar biasa. Kokokannya berfungsi sebagai alarm alami yang membangunkan umat Muslim untuk menunaikan ibadah shalat shubuh. Berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mencela ayam jantan, sebab ia membangunkan (orang) untuk shalat".
Maka, jangan mengikuti sebagian orang yang berpaham Syiah Rafidhah, dimana mereka selalu mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi ﷺ.
Perawi termasuk "Empat Abdullah" atau dikenal dengan istilah Al-Abadilah yaitu empat sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang memiliki nama Abdullah, dikenal berilmu tinggi, dan menjadi rujukan utama umat Islam. Mereka adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu’anhum.
Rasulullah ﷺ menyampaikan ilmu dengan cara yang mudah, antara lain dengan menyebutkan dengan bilangan. Banyak hadits yang poin-poinnya dengan bilangan, sebagaimana dalam hadits ini: Menyebutkan 4 tanda-tanda orang munafik.
Nifaq (kemunafikan) dibagi menjadi dua macam, yaitu:
إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
> Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
هُمُ ٱلْعَدُوُّ فَٱحْذَرْهُمْ ۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ ۖ
Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka.
Ini menunjukkan berbahayanya musuh dalam selimut dibandingkan dengan musuh yang nyata.
Dan lawannya adalah orang-orang yang beriman dengan ciri-ciri sebaliknya. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah membawakan riwayat al-Baihaqi yang menurut beliau sanadnya shahih, dari Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu , beliau (Abu Bakar) berkata :
اَلْكَذِبُ يُجَانِبُ اْلإِيْمَانَ
Dusta akan menjauhkan keimanan. [Lihat Fathul Bâri X/508].
Maka, hati-hati dari sifat nifak jenis ini, karena dosa-dosa akan mengajak kepada dosa lainya.
Ciri-ciri Munafik dalam hadits ini yaitu:
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 72:
> اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ ٧٢
innâ ‘aradlnal-amânata ‘alas-samâwâti wal-ardli wal-jibâli fa abaina ay yaḫmilnahâ wa asyfaqna min-hâ wa ḫamalahal-insân, innahû kâna dhalûman jahûlâ
Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.
Amanat ada dua jenis:
Tatkala seseorang berbicara dengan orang lain dan dia meminta untuk tidak dikabarkan kepada orang lain, maka merupakan sifat amanah untuk tidak disebarkan kepada siapapun. Bahkan ketika dia menoleh ke kanan dan ke kiri, itu sudah cukup sebagai isyarat bahwa dia tidak ingin diketahui oleh orang lain. Di dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
” إذا حدث الرجل بالحديث ثم التفت فهي أمانة“
“Apabila seseorang mengajak berbicara orang lain dengan suatu pembicaraan kemudian dia menoleh, maka ini adalah amanah”( Abu Daud, no. 4868 dan at-Tirmidzi, no. 1959 dengan lafal Abu Daud dan dihasankan oleh syekh al-Albani di dalam ash-Shahihah, no. 1090).
Dusta adalah tindakan berkata atau bertindak tidak sesuai dengan kebenaran, dan hukumnya termasuk dosa besar.
Dusta ada tiga macam:
2.1. Dusta kepada Allah ﷻ.
Ini adalah dusta yang paling berat hukumnya. Seperti orang-orang yang menghalalkan zina, riba, dan lainya.
Maka, sungguh berdosa besar jika seseorang berbicara tanpa ilmu. Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl (16): 116)
Dalam surat Al-Isra ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ٣٦
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
2.2 Dusta Kepada Nabi ﷺ
Berdusta atas nama Nabi Muhammad ﷺ adalah dosa besar yang diancam dengan siksa neraka. Seperti, Seseorang yang menyebarkan hadits palsu atau membuat pernyataan bohong yang dinisbatkan kepada beliau telah melakukan kemungkaran fatal yang sangat dilarang dalam agama.
Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ بنيَ لَهُ بَيْتٌ فِي جَهَنَّمَ
“Barangsiapa berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan baginya rumah di (neraka) Jahannam.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir)
Sebagaimana hadits palsu yang disandarkan kepada Nabi ﷺ, padahal bukan:
2.3 Dusta Kepada Manusia
Dalam ajaran Islam, dusta kepada anak adalah perbuatan yang dilarang. Nabi Muhammad ﷺ menegaskan bahwa memberikan janji palsu atau membohongi anak kecil agar mereka diam atau menuruti perintah termasuk dalam catatan kedustaan. Orang tua wajib menepati janji dan jujur agar anak tidak meniru sifat buruk tersebut.
Dusta tetap dilarang, meskipun untuk membuat orang lain tertawa. Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud no. 4990 dan Tirmidzi no. 3315. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Dalam Islam, menepati janji adalah perintah mutlak dan bagian dari cabang keimanan. Allah ﷻ mewajibkan setiap Muslim untuk menunaikan amanah dan perjanjian, karena janji adalah utang yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Firman-Nya dalam surat Al-Ma'idah ayat:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji!
Maka jika kita ada penyakit ingkar janji, maka hati-hati, ada indikasi orang munafik.
Sufyan bin Unaiyah berkata dusta yang paling menyedihkan adalah mengingkari janji. Dan menuduh orang-orang baik dengan tuduhan-tuduhan dusta.
Maka, janji yang telah diucapkan hendaknya selalu kita tepati, jangan sampai diingkari tanpa alasan yang Syar'i. Terutama sering dijumpai pada para politikus.
Dahulu seorang Jahiliyah Auf bin Malik mengatakan saya mati dengan kehausan, lebih aku sukai daripada mengingkari janji.
Termasuk di dalamnya mengatakan InshaAllah, tetapi berniat untuk mengingkarinya. Mengucapkan Insya Allah dengan niat tidak menepatinya adalah perbuatan tercela yang termasuk dalam ciri-ciri kemunafikan (nifaq amali). Hal ini ditegaskan oleh seorang ulama besar tabi'in, Imam Al-Auza'i. Beliau menyatakan bahwa berjanji dengan mengucap Insya Allah padahal dalam hati meniatkan untuk tidak melakukannya adalah sebuah kemunafikan.
Beliau juga mengatakan, belajarlah jujur sebelum belajar ilmu.
Hal ini banyak dijumpai di media sosial dan perdebatan atas nama membela Islam dan Sunnah, namun ketahuilah bahwasanya Islam tidak butuh dengan pembelaan menggunakan kata-kata kotor.
Adab dan kata-kata yang baik sangat diperlukan dalam meluruskan agama yang haq ini.
Hal ini telah dicontohkan oleh Imam Syafi'i Rahimahullah yang berdebat mengenai masalah batasan masa suci haid dan masa minimal kehamilan. Imam Syafi'i bersikeras bahwa kata (3 quru') dalam Surah Al-Baqarah ayat 228 bermakna tiga kali masa suci. Beliau berdebat ketat dengan imam Abu Ubaid Al Qasim bin Salam yang memaknainya sebagai tiga kali haid. Namun pada akhirnya mereka tetap bersahabat karena yang dicari kebenaran.
*****
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهَ، وَلْيَنْتَهِ. وَفِي لَفْظٍ فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ. مُتَّفَقُّ
عَلَيْهِ. وَفِي لَفْظِ لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُونَ: مَنْ خَلَقَ الله؟
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Syaithan senantiasa mendatangi salah seorang dari kalian seraya berkata, Siapakah yang menciptakan ini dan siapa yang menciptakan itu?" Hingga dia berkata, "Siapakah yang menciptakan Allah? Apabila telah sampai seperti itu, hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dan menghentikannya".
HR. Al-Bukhari (no. 3276) dan Muslim (no. 134).
Dalam lafazh yang lain, “Maka katakanlah: Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 134). Muttafaqun 'alaih.
Dalam Lafazh yang lain, “Manusia akan senantiasa bertanya-tanya hingga mereka mengatakan: Siapakah yang menciptakan Allah ﷻ?" (HR. Muslim no. 130).
Hadits ini menunjukkan bahwa syaithan pasti melontarkan pertanyaan yang batil ini, baik berupa bisikan belaka, atau melalui lisan syaithan-syaithan dari kalangan manusia dan dari orang-orang yang mengingkari Allah.
Cara menangkisnya adalah:
Yaitu permohonan atau permintaan perlindungan kepada Allah ﷻ dari segala bentuk kejahatan dan godaan setan yang dapat merusak agama maupun kehidupan.
Karena setan bisa membisikkan dua penyakit : Syubhat dan Syahwat.
Maka Nabi ﷺ jauh hari mengingatkan kepada kita: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)
Karena segala sesuatu itu ada batasnya. Termasuk akal.
👤 Imam Syafi'i rahimahullah berkata,
إِنَّ لِلْعَقْلِ حَدًّا ينتهي إِلَيْهِ مَا أَنَّ لِلْبَصَرِ حَدًّا ينتهي إِلَيْهِ
"Akal memiliki batas, sebagaimana mata juga mempunyai batas penglihatan."
📚 Adab asy-Syafi'i wa Manaqibuhu karya Ibnu Abi Hatim, hlm. 271
Maka, jangan sampai akal kita dipermainkan setan dengan menuruti apa kata akal tanpa dibatasi.
Yaitu iman adalah benteng yang paling kokoh dalam diri kita. Mengucapkan "Aku beriman kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya" adalah pondasi tauhid. Dan perkataan ini menuntut pembuktian nyata melalui lisan, hati, dan amal perbuatan.
Inilah 3 cara menangkis penyakit syubhat yang terkandung dalam hadits ini.
Imam Adz-Dzahabi –rohimahulloh– mengatakan:
“Mayoritas para imam salaf.. mereka memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar” (Siyaru A’lamin Nubala‘ 7/261).
Ini di zaman mereka, apalagi di zaman kita sekarang ini...
Karena inilah Cahaya Ilmu Di Saat Fitnah:
Fitnah tidak akan membahayakanmu selama kamu tahu agamamu.
Tetapi fitnah itu tatkala samar bagimu antara kebenaran dan kebathilan, lalu kamu tidak tahu manakah yang kamu ikuti. Itulah fitnah.
(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 37292)
Salah satu pokok akidah adalah tidak duduk-duduk dengan ahli bid’ah dan menjauhinya. Jangan coba-coba dalam masalah akidah.
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ, فَوَاللهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُهُ مِنَ الشُّبُهَاتِ
Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu’anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa yang mendengar Dajjal, maka hendaknya dia menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang datang menghampirinya dengan anggapan bahwa dirinya beriman, lalu dia mengikuti Dajjal karena terbius oleh syubhat-syubhatnya.
[Shahih. HR. Ahmad 4/43, 441, Abu Dawud 4319, al-Hakim 4/531 dan dishahihkan al-Albani dalam al-Misykah 5488.]
Maka, jaga iman kita dengan menjauhi fitnah. Jangan terlalu percaya diri!
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al anbiya ayat 7:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
Maka, jika terlanjur kena syubhat, jangan biarkan. Karena hati yang sakit harus segera diobati.
Lihatlah para salaf, tatkala muncul paham Qodariyah ada 2 tabi'in dari Bashrah melakukan perjalanan jauh untuk menemui Sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma di Madinah. Mereka langsung bertanya akan penyimpangan akidah ini.
Perbanyaklah ibadah. Simak baik-baik hadis yang mulia ini. Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia, Ma’qal bin Yasaar radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْعِبادَةُ في الهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إلَيَّ
“Beribadah di masa haraj (sulit) itu layaknya berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948 dan Tirmidzi no. 2201)
Jangan disibukkan dengan isu dan berita yang tidak jelas dan tidak bermanfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Hadits ini mengandung makna bahwa di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baik berupa perkataan atau perbuatan. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 288)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata barangsiapa yang bukan untuk Allah ﷻ, tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, maka kematian lebih baik baginya dari pada kehidupan.
Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Aamiin.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#3: 5 Dzulqa’dah 1447 / 22 April 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” “Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya”
[HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Dawud (no. 3660), at-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), ad-Darimi (no. 229), Ahmad (5/183), Ibnu Hibban (no. 680), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 4890), dan imam-imam lainnya.
Selengkapnya: Jawami'ul Akhbar#3 - Hadits ke-3/4: Agama adalah Nasihat dan Sifat Penghuni Surga
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#2: 27 Syawal 1447 / 15 April 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”
[HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Selengkapnya: Jawami'ul Akhbar#2 - Hadits ke-1/2: Barometer Amalan Batin dan Amalan Dzahir