بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#3: 5 Dzulqa’dah 1447 / 22 April 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:
- 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama #3
99 Hadits Pilihan Pondasi Agama #3
Hadits Pembuka: Motivasi dalam Menuntut Ilmu
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” “Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya”
[HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Dawud (no. 3660), at-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), ad-Darimi (no. 229), Ahmad (5/183), Ibnu Hibban (no. 680), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 4890), dan imam-imam lainnya.
Semoga kita semua menjadi orang-orang yang dicerahkan wajahnya oleh Allah ﷻ.
Berkata Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah, tidaklah aku melihat orang yang mempelajari hadits kecuali ada kecerahan di wajahnya.
*****
Hadits ke-3: Agama adalah Nasihat
Agama adalah nasihat. Begitulah hadits ketiga dari Hadits Jawami'ul Akhbar:
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.”
[HR. Muslim, no. 55]
Dalam riwayat Abu Dawud, kalimat Agama adalah Nasihat diulang tiga kali. Riwayat pengulangan tiga kali tidak ada dalam riwayat Muslim, namun ada dalam riwayat lainnya.
Perawi
Namanya Tamim bin Aus bin Kharijah Ad-Dari, Dengan Nama kunyah Abu Ruqayyah (putrinya).
Beliau salah seorang shahabat yang mulia. Namanya tidak asing bagi kaum muslimin. Beliau masuk Islam ketika Rasulullah di Madinah. Sepeninggal KhaIifah Utsman bin Affan, Tamim meninggalkan kota Madinah dan menetap di Baitul Maqdis hingga meninggal di sana pada tahun 40 H.
Shahabat inilah yang pernah meriwayatkan bertemu dengan Jasasah. Sehingga Nabi meriwayatkan darinya, sehingga ada istilah hadits Riwayat Akabir Anil Ashaghir.
Hadits ini satu-satunya hadits dari beliau, bahkan dalam Shahih Bukhari tidak dijumpai Riwayat beliau.
📃 Penjelasan:
Ustadz mengingatkan kembali amalan ringan yang berpahala besar, yaitu bershalawat atas Nabi ﷺ tatkala disebut nama Nabi ﷺ dan mendo'akan para sahabat Radhiyallahu’anhum.
💡 Faedah Hadits
- Pentingnya Nasehat karena Nabi mengulanginya tiga kali.
- Bagusnya metode pengajaran Nabi. Beliau mengulangi tiga kali sebagai penekanan dan Rasulullah menjelaskan sesuatu secara global dahulu, baru kemudian dirinci.
- Semangat sahabat dalam menuntut ilmu dengan bertanya
Maka selayaknya bagi kita bertanya masalah agama agar menjadi paham.
أن الجهل داء وأن شفاءه السؤال
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kebodohan adalah penyakit. Obat dari kebodohan adalah bertanya. (HR. Abu Dawud no. 336, Hasan).
Sebagian ulama berkata:
مفتاح العلم السؤال؛ و ضياعه الحياء
Kunci sebuah ilmu ialah bertanya, dan hilangnya suatu ilmu ketika malu.
Mujahid Rahimahullah berkata Ilmu tidak akan sampai kepada dua orang yaitu orang yang pemalu dan orang yang sombong.
Penjelasan Rinci Nasihat
1. Nasihat untuk Allah
Nasihat untuk Allah dalam konteks hadits "Ad-Dinu An-Nashihah" berarti:
1. Mengikhlaskan ketaatan, menauhidkan-Nya, membenarkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, serta menjauhi syirik dan maksiat.
Ini adalah wujud ketulusan hamba dalam beribadah, mensucikan Allah dari kekurangan, serta menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Ad-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (melainkan supaya mereka menyembah-Ku) yaitu agar mereka mengakui penyembahan mereka kepadaKu, baik dengan sukarela maupun terpaksa. (Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah).
Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.
Maka, bentuk nasehat kepada Allah ﷻ adalah beribadah kepada Allah ﷻ dalam segala hal yang telah diperintahkan dan meninggalkan segala hal yang dilarang. Kita diciptakan untuk beribadah, bukan untuk berfoya foya dan menumpuk harta.
2. Mentaatinya, tunduk dan patuh. Inilah kunci kebahagiaan seorang hamba.
3. Mengajak manusia yang lain untuk mentauhidkan dan beramal untuk Allah ﷻ. Karena kita juga menginginkan kebaikan untuk mereka.
2. Nasehat untuk Kitab-Nya: Al-Qur’an
1. Mengimani bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang berisi sebaik-baik hukum, tidak ada hukum yang sebaik Al-Qur’an. Sebagai petunjuk yang jujur (dalam beritanya) dan adil (dalam hukumnya) bagi manusia.
Firman-Nya dalam surat Al-An'am ayat 115:
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.
2. Mempelajari dan mengajarkannya.
وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ )) رَوَاهُ البُخَارِيُّ .
Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 5027
Hal ini mencakup cara membacanya (tajwid dan tahsin) dan memahami makna dan tafsirnya. Allah ﷻ berfirman :
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)
3. Mengamalkan isi kandungannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu atau musuh bagimu.” (HR. Muslim no. 223)
3. Nasehat untuk RasulNya: Muhammad ﷺ
Nasihat bagi rasul-Nya mencakup:
1. Mengimani bahwa beliau adalah utusan Allah, tidak mendustakannya, beliau adalah utusan yang jujur dan dibenarkan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم أنه قال:
«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ».
[صحيح] - [رواه مسلم] - [صحيح مسلم: 153]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
“Demi (Tuhan) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun dari umat manusia, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang diriku lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, melainkan ia adalah penghuni neraka.” [Ṣaḥīḥ Muslim - 153]
2. Mencintai Rasulullah ﷺ lebih dari siapapun
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sampai ia mencintai aku melebihi kedua orang tuanya dan anaknya.”
Cara mencintai adalah dengan cinta yang benar. Imam Syafi'i rahimahullah berkata:
لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لَأَطَعْتَهُ … إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبَّ مُطِيْعُ
"Seandainya cintamu itu benar, niscaya kamu akan menaatinya. Sesungguhnya orang yang mencintai pasti taat kepada yang dicintainya".
3. Beribadah sesuai dengan syari'atnya. Karena salah satu syarat diterimanya amal ibadah adalah ittibâ kepada Rasulullah ﷺ.
4. Membela Rasulullah ﷺ dan sunnah-sunnahnya jika ada yang mencela.
Banyak yang mencela sunnah dan ajarannya, seperti masalah jenggot, isbal, jilbab dan lainya. Seperti halnya para sahabat membela Nabi ﷺ dengan banyak peperangan jihad. Kita tidak bisa seperti mereka, tetapi hendaknya kita membela sunnah-sunnahnya.
4. Nasehat untuk Imam-imam Kaum Muslimin
Imam kaum muslimin itu ada dua macam.
- Yang pertama adalah ulama rabbaniyyun yang mewarisi ilmu, amal, akhlak, dan dakwah dari nabi. Yang pertama inilah ulil amri hakiki.
- Yang kedua adalah penguasa yang melaksanakan syari’at Allah, mereka terapkan pada diri mereka dan pada para hamba Allah.
4.1 Nasehat kepada pemimpin mencakup:
1. Taat kepada pemimpin selama bukan dalam hal maksiat.
Sabda Rasulullah ﷺ : Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. (HR. Abu Dawud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676).
Padahal budak dalam Islam tidak memenuhi syarat menjadi pemimpin, namun jika diangkat maka harus ditaati kecuali dalam kemaksiatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” (HR. Bukhari, no. 7257; Muslim, no. 1840).
2. Menasehati Pemimpin jika keliru dengan cara yang benar.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَ إِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ.
“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.”
HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (II/507-508, bab Kaifa Nashiihatur Ra’iyyah lil Wulaat, no. 1096, 1097, 1098), Ahmad (III/403-404) dan al-Hakim (III/290) dari ‘Iyadh bin Ghunm Radhiyallahu anhu.
3. Mendo'akan kebaikan kepada pemimpin.
Fudhail bin ‘Iyadh -rahimahullah- berkata,
لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها الا في الامام
“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku”.
Ada yang bertanya pada Fudhail; Kenapa bisa begitu?
Beliau -rahimahullah- menjawab,
“Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun, jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik”.
(Hilyah al-Auliya' [8/77])
4.2 Nasehat untuk para ulama mencakup:
1. Menghormati dan memuliakan tanpa berlebihan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
[ أخرجه أحمد والترمذي ] قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُوْقِرْ كَبِيْرَنَا وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ))
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil dari kami dan tidak menghormati yang tua dari kami, tidak menyuruh yang ma’ruf dan tidak mencegah dari perbuatan munkar, serta tidak mengenal hak orang yang alim (ulama) dari kami.’ [HR. Ahmad 1/257, at-Tirmidzi 1986, dan Ibnu Hibban 1913].
2. Tidak mencela meskipun mereka terjatuh kepada kesalahan. Yang dengannya merendahkan dan menginjak kehormatan ulama.
3. Tidak mengikuti kesalahan mereka. Imam Malik rahimahullah pernah menyatakan,
كل أحد يؤخذ من قوله ويرد إلا صاحب هذا القبر – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
“Setiap orang diambil pendapatnya atau ditolak kecuali pemilik kuburan ini (Nabi shallallahu alaihi wa sallam).”
5. Nasihat untuk Kaum Muslimin
Nasihat untuk Kaum Muslimin secara umum mencakup:
1. Mendo'akan kebaikan untuk mereka.
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
[HR. Bukhari, no. 13 dan Muslim, no. 45]
2. Melaksanakan hak-hak sesama muslim
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).”
( HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162]
3. Menasehati mereka, tatkala salah atau lalai
Inilah amar ma'ruf dan nahi mungkar. Yang menurut Ibnu Rajab rahimahullah Inilah sedekah terbaik.
👤 Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata :
أفضل الصدقة تعليم جاهل أو إيقاظ غافل.
"Sedekah yang paling afdal adalah mengajari orang yang tidak mengetahui atau menyadarkan orang yang lalai."
📚 Majmu' Rasail Ibnu Rajab, jilid 1 hlm. 186.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
📖 Hadits ke-4: Sifat Penghuni Surga
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الجَنَّةَ، قَالَ: «تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ المَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ» قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا، فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا».
[صحيح] - [متفق عليه] - [صحيح البخاري: 1397]
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- beliau berkata, Ada seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Tunjukilah aku suatu amalan, jika aku mengerjakannya maka aku masuk surga." Beliau bersabda, "Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan salat wajib, membayar zakat fardu, dan berpuasa di bulan Ramadan." Laki-laki itu berkata, "Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku tidak akan menambah lebih dari hal itu." Tatkala ia pergi, Nabi ﷺ bersabda, "Siapa yang ingin melihat laki-laki penghuni surga, maka lihatlah orang itu." (Muttafaqun 'alaih)
HR. Al-Bukhari no.1333 dan Muslim no.14
Perawi:
Abu Hurairah adalah sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadis (5.374 hadis).
Mengenai namanya dan orang tuanya, ulama berselisih pendapat, bahkan sampai 18 pendapat. Yang masyhur Bernama asli Abdurrahman bin Sakhr dari suku Daus (Yaman), ia dijuluki "Bapak Kucing" karena kecintaannya pada kucing.
Masuk Islam pada tahun 7 Hijriah, ia menetap di Masjid Nabawi sebagai Ahlu Suffah yang fokus menuntut ilmu. Meskipun hanya 3 tahun bersama Nabi ﷺ, berkat taufik dan kesungguhan beliau, beliau terhitung paling banyak yang meriwayatkan hadits.
📃 Penjelasan:
Dalam hadits ini orang Badui yang disebut dalam hadits ini tidak disebutkan. Disebut sebagai Mubham.
Orang Badui ini cerdas, ia menanyakan sesuatu yang sangat penting yaitu amalan-amalan yang dapat memasukkan ke surga.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“(Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan“.” (QS. Al-Mursalat: 42)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
“Amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari, no. 5673 dan Muslim, no. 2816)
Maksudnya kamu tidak masuk surga semata-mata dengan amalanmu, karena tidak seimbang antara amalan dengan surga. Maka, juga dengan rahmat Allah ﷻ kita bisa masuk surga.
Surga itu harganya mahal, bukan barang murah, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الجَنَّةُ
“Ketahuilah, bahwa barang dagangan Allah itu mahal. Dan ketahuilah, bahwa barang dagangan Allah itu adalah Surga.” (HR: Tirmidzi)
💡 Faedah Hadits:
1. Cita-cita seorang muslim adalah masuk surga.
Dari Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami radhiyallahu’anhu, beliau berkata,
” كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ ، فَقَالَ لِي : سَلْ ، فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ “. رواه مسلم في ” صحيحه“(489).
Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku menyiapkan air wudhu` dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Mintalah sesuatu!’ Maka sayapun menjawab, ‘Aku meminta kepadamu agar memberi petunjuk kepadaku tentang sebab-sebab agar aku bisa menemanimu di Surga’. Beliau menjawab, ‘Ada lagi selain itu?’. ‘Itu saja cukup ya Rasulullah’, jawabku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Jika demikian, bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (dalam shalat)‘” (HR. Muslim, no. 489).
2. Kunci masuk surga adalah Tauhid dan tidak menyekutukan Allah ﷻ dengan siapapun.
Inilah tujuan kita diciptakan dan kunci masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَبِلَ مِنِّي الْكَلِمَةَ الَّتِي عَرَضْتُ عَلَى عَمِّي، فَرَدَّهَا عَلَيَّ، فَهِيَ لَهُ نَجَاةٌ
“Barang siapa yang menerima kalimat (tauhid) yang pernah aku tawarkan kepada pamanku yang menolak kalimat itu, maka ia akan memperoleh keselamatan (pada hari Kiamat).”
(Hadits ini marfu’nya dinyatakan shahih karena syahawidnya oleh pentahqiq Musnad Ahmad 1/201 cet. Ar Risalah)
3. Allah ﷻ menyebut tegakkan Shalat bukan perintah shalat saja, maknanya Shalat sesuai dengan syarat dan rukunnya sesuai contoh Nabi ﷺ.
4. Kunci masuk surga adalah menunaikan amalan-amalan yang wajib.
Umar bin Abdul Aziz berkata amalan yang paling mulia adalah apa yang Allah ﷻ wajibkan.
Maka, jangan mengutamakan Sunnah hingga melalaikan yang wajib. Seperti sibuk berdakwah tetapi lalai memberi nafkah.
5. Bolehnya bersumpah walaupun tidak diminta sumpah. Tetapi bersumpah untuk sesuatu yang penting.
Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya: Karena jiwa kita berada di tangan Allah ﷻ.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu menuturkan:
“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak berdoa :
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Sang Pembolak-balik hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu”.
Lalu akupun berkata:
“Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu, dan beriman kepada ajaran Islam yang engkau bawa, maka apakah engkau mengkhawatirkan kami?”.
Beliau menjawab :
نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ
“Ya! Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!”. [HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2140].
6. Penetapan sifat Tangan bagi Allah ﷻ.
Menetapkan sifat ini sesuai dengan kebesaran dan kesempurnaan-Nya. Dan sifat ini berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Firman-Nya dalam surat Asy-Syura 12:
لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.
💡 Kesimpulan: Memprioritaskan amalan-amalan Wajib sebagai kunci masuk ke dalam surga.
Orang yang menunaikan hal-hal yang wajib dengan sempurna berarti ia mencintai Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan orang yang masih menambahnya dengan amalan-amalan sunnah, ia dicintai Allâh Azza wa Jalla. Ini seperti dalam hadits qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.”
[HR. Al-Bukhâri 6502 Fathul Bârî (11/348]
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم