بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#1: 18 Syawal 1447 / 8 April 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:
99 Hadits Pilihan Pondasi Agama #1
Mukadimah
Setelah memuji Allâh dan bershalawat atas Nabi-Nya Ustadz mengawali kajian dengan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan hingga masih dipertemukan dalam majelis ilmu.
Setelah berlalunya Ramadhan, hendaknya kita melakukan hal-hal positif berikut ini :
1. Bersyukur atas Dipertemukan dengan Ramadhan
Karena bertemu dengan Ramadhan, berarti kesempatan bagi kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, kesempatan menambah pahala, kesempatan dihapuskannya dosa dan kesempatan dimasukkan ke dalam surga. Biidznilah.
Dengan bersyukur Allah ﷻ akan menambah nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan. Karena Allah Ta’ala berfirman,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian mau bersyukur, maka Aku sungguh akan menambah nikmat bagi kalian.” (QS. Ibrahim: 7) (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 124)
Ibnul Qayyim dalam ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin (hlm. 187) menjelaskan rukun syukur itu ada tiga:
1. Dengan hati: Mengakui nikmat itu berasal dari Allah.
2. Dengan lisan: Memuji Allah atas nikmat tersebut.
3. Dengan anggota badan: Menggapai rida Allah dengan memanfaatkan nikmat dalam ketaatan.
Syukur adalah penjaga (pengawal) nikmat dari segala sebab yang mengakibatkan hilangnya nikmat tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama menamakan syukur itu sebagai pengikat nikmat karena syukur itu mengikat nikmat (Al-Hafizh) sehingga tidak lepas dan kabur.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, ”Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada Allah.” (Syu’abul Iman, no. 4546)
2. Banyak Istighfar dan Berdo'a setelah Ramadhan
Dengan inilah amalan utama untuk menyempurnakan ibadah, memohon ampunan atas kekurangan, dan menjaga keberkahan.
Karena masih banyak dosa-dosa yang kita lakukan dan banyak amalan-amalan yang belum sempurna, bahkan mungkin tidak diterima disisi Allah ﷻ. Na'udzubillahmindalik.
Berkacalah pada nabi Ibrahim alaihissalam, yang banyak beristighfar dan berdo'a setelah membangun Ka'bah. Nabi Ibrahim alaihissalam dan putranya, Ismail alaihissalam, menunjukkan keteladanan tertinggi dengan tetap beristighfar dan berdo'a memohon agar amalan mulia mereka (membangun Ka'bah) diterima oleh Allah, sebagaimana diabadikan dalam Al-Baqarah: 127-128.
"Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.".
Hal ini mengajarkan bahwa meskipun telah melakukan amal shalih besar, seseorang tidak boleh sombong dan hendaknya tetap merendah kepada Allah ﷻ.
Diterimanya amalan-amalan Shalih adalah nikmat yang paling besar dan merupakan tujuan dari ibadah kita. Maka, setelah Ramadhan usai, para sahabat saling mendoakan dengan berkata:
تقبل الله منا ومنكم
Semoga Allah Ta’ala menerima amal ibadah kami dan anda.
Abud Darda’ radhiallahu’anhu pernah mengatakan:
لئن أستيقن أن الله تَقَبَّلَ مني صلاةً واحدةً أَحَبُّ إِلَيَّ من الدنيا وما فيها
“Andaikan aku yakin bahwa Allah menerima satu saja dari shalatku, itu lebih aku cintai daripada seluruh dunia dan seisinya” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/166).
Allah ﷻ berfirman :
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Ma’idah Ayat 27)
Semoga Allah Ta’ala menerima amalan-amalan ibadah kita. Aamiin.
3. Istiqamah
Karena berakhirnya ibadah bukanlah dengan berakhirnya Ramadhan, tetapi hingga ajal tiba.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr Ayat 99:
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
Karena Rabb yang kita sembah pada bulan Ramadhan sama dengan yang kita sembah diluar bulan Ramadhan, Puasa bukan hanya di bulan Ramadhan tetapi terus ada di bulan lainnya, seperti halnya puasa Syawal yang melengkapi pahala seperti puasa setahun penuh. Demikian juga shalat malam, ada perintah dilakukan di luar bulan Ramadhan, demikian juga sedekah, apalagi sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah.
Begitulah kehidupan kita, sejatinya hanya berpindah dari satu ibadah ke ibadah lainnya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Insyirah Ayat 7:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
Salah satu ibadah yang agung yang harus kita rawat baik-baik adalah menuntut ilmu. Padanya terkumpul banyak kebaikan. Dia adalah jihad, jembatan menuju surga, dengannya kita tahu halal dan haram, dengannya kita menjadi bertakwa.
Ibadah akan diterima bila memenuhi dua syarat; ikhlas dan ittibâ. Dan ittibâ hanya bisa didapatkan dengan menuntut ilmu.
Sebagai motivasi agar kita istiqomah dalam semangat menuntut ilmu, berikut kiat-kiatnya:
Kiat Istiqamah dalam Menuntut Ilmu
1. Perbaiki niat
Ikhlas kepada Allah ﷻ adalah sumber kebaikan, dengan niat yang baik menuntut ilmu akan menjadi mudah dan ringan.
Pesan Imam Ahmad rahimahullah kepada anaknya :
يَا بُنَيَّ انْوِ الْخَيْرَ فَإِنَّكَ لَا تَزَالُ بِخَيْرٍ مَا نَوَيْتَ الْخَيْرَ
"Wahai anakku, niatkanlah kebaikan. Karena engkau senantiasa berada dalam kebaikan selama engkau terus meniatkan kebaikan."
Diriwayatkan oleh Ibnu Muflih: Wasiat ini dicatat dalam kitab Al-Adab asy-Syar'iyyah (1/104) ketika Abdullah meminta petunjuk kepada ayahnya, Imam Ahmad.
Niatkan menuntut ilmu untuk mencari pahala. Supaya saya bisa beribadah dengan benar dan supaya kita bertaqwa kepada Allah ﷻ. Ilmu yang bermanfaat membuat seseorang lebih takut kepada Allah dan berhati-hati dalam bertindak (menjaga diri dari dosa).
Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata:
«إِنَّمَا يُتَعَلَّمُ الْعِلْمُ لِيُتَّقَى اللَّهُ بِهِ وَإِنَّمَا فُضِّلَ الْعِلْمُ عَلَى غَيْرِهِ؛ لِأَنَّهُ يُتَّقَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ»
Sesungguhnya ilmu dipelajari agar (kita) bertaqwa kepada Allah dengannya (yakni mengamalkannya). Dan sesungguhnya ilmu diutamakan atas selainnya karena dengannya (tumbuh) ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
📚 Jami’ Bayan Al-Ilm Wa Fadhlih 1/665 no. 1159 oleh Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله
Demikian juga, setelah diniatkan untuk memperbaiki diri, niatkan juga untuk menyebarkan kepada orang lain, terutama anak-anak dan isteri. Kitalah kepala keluarga yang dituntut menuntun keluarga kita agar terhindar dari api neraka. Marilah kita perhatian perintah Allâh Yang Maha Kuasa berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[at-Tahrîm/66:6]
Ingatlah pepatah ini:
فاقد الشيء لا يعطيه
"Yang tidak memiliki sesuatu, tak akan bisa memberikannya"
Maka, dengan ilmu kita akan mampu memberikan kepada orang lain.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وما لا يكون له لا ينفع ولا يدوم
“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.” (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).
Para ulama juga memiliki istilah lain,
ما كان لله يبقى
“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.”
2. Berdo'a kepada Allah ﷻ
Hanya Allah ﷻ yang mampu menolong hamba-hamba-Nya. Dengan berdo'a kita berharap akan selalu bisa istiqamah.
Ilmu adalah nikmat yang Allah ﷻ bagi kepada hamba-hamba pilihan-Nya, maka selayaknya bersyukur dan jaga nikmat ini dengan banyak berdo'a agar istiqamah di atasnya.
Berdasarkan hadits shahih, barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menjadikannya paham atau faqih dalam urusan agama. Hadits utama yang mendasari hal ini adalah:
مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun 'alaihi).
Betapa banyak orang-orang yang cerdas, tetapi tidak dipahamkan dalam agama. Bahkan Nabi ﷺ diajarkan untuk ditambah ilmu. Dasar dari hal ini adalah firman Allah dalam Al-Qur'an:
وَّقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
"...dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku'." (QS. Thaha: 114)
Hingga beliau selalu berdo'a setiap hari, do'a nabi yang paling masyhur agar diberi ilmu yang bermanfaat adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
(Allahumma innii as-aluka 'ilman naafi'an, wa rizqon thoyyiban, wa 'amalan mutaqobbalan).
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.
3. Mengingat Keutamaan Ilmu
Dengannya kita akan menjadi semangat untuk menuntut ilmu. Seperti :
- Mudahkan jalan menuju surga.
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)
- Berpahala seperti Haji
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ
“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.”
(HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 8: 94. Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)
- Bagian dari Jihad
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
“Siapa yang mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang mentilik-tilik barang lainnya.” (HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, shahih kata Syaikh Al Albani).
- Ilmu adalah warisan para Nabi ﷺ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6297).
- Orang yang menuntut ilmu akan didoakan penduduk langit dan bumi, bahkan hewan dan ikan di lautan.
Terdapat bentangan sayap malaikat dan doa permohonan ampunan dari penghuni langit dan bumi bagi orang-orang yang menuntut ilmu.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيْـقًـا يَبْـتَغِي فِيْهِ عِلْمًا سَهَّـلَ اللهُ لَهُ طَرِيْـقًـا إِلَى الْجَنَّـةِ، وَإِنَّ الْمَـلاَئِـكَةَ لَتَضَعُ أَجْـنِحَـتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَـسْـتَغْـفِـرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَـا وَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الْحِـيْتَـانُ فِي الْمَـاءِ .
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.”
(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), dan ulama lainnya).
Salah satu rahasia kenapa demikian?Disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahullah dalam Kitab Warasatul Anbiya li Syarah Hadits Abi Darda : Karena orang-orang yang belajar agama mengajarkan kebaikan hingga manusia berbuat baik kepada makhluk hidup dan lingkungan dimanapun berada, maka mereka membalas kebaikan tersebut. (Al-Jazaa min jinzil amal).
4. Bersabar dalam Menuntut Ilmu
Belajar ilmu syar'i membutuhkan kesabaran yang tinggi. Lihatlah, dulu di saat nabi Musa belajar kepada Khidhir, Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ صَابِرًا وَلَآ أَعْصِى لَكَ أَمْرًا
“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.” (QS. Al-Kahfi: 69)
Karena ganjarannya Surga, maka butuh kesabaran yang berat. Ungkapan yang patut direnungkan "kesabaran itu pahit tapi buahnya manis".
Sabar dalam menuntut ilmu terkait dalam waktu, tenaga, harta, bahkan kecerdasan. Sekelas Imam Ahmad Hanbal mengatakan, “Saya perlu menekuni pembahasan fikih darah haid selama 9 tahun untuk bisa memahaminya.” (Dzail Thobaqat Al-Hanabilah 1/135)
Ibnu Al-Qasim berkata,
قال ابن القاسم: أفضى بمالك طلب العلم إلى أن نقض سقف بيته فباع خشبه، ثم مالت عليه الدنيا
“Mencari ilmu juga menyebabkan Imam Malik membongkar atap rumahnya dan menjual kayunya. Kemudian setelah itu dunia berdatangan kepadanya.” [Tartibul Madarik 1/31, Syamilah]
Para ulama dahulu, memiliki kebiasaan rihlah menuntut ilmu hanya mencari satu hadits dengan melakukan perjalanan yang sangat jauh.
5. Mencari Teman yang Baik
Karena mereka akan mendekatkan diri kepada Allah, mengingatkan saat salah, dan memberi pengaruh positif pada perilaku dan agama Anda. Pilihlah teman yang jujur, suportif, berakhlak mulia, serta teman yang sabar dalam kebaikan. Sahabat sejati adalah cermin yang mendorong kebaikan di dunia dan akhirat.
Lihatlah Musa saat berdakwah ke Fir'aun, mengajak teman yang baik, yaitu Harun Alaihissalam. Bahkan Nabi ﷺ saat berdakwah, mengajak teman Abu Bakar As-Sidiq Radhiyallahu’anhu.
Maka, jika ada yang mensupport kita disaat kita turun atau patah semangat. Yahya bin Abi Katsir berkata:
"Dahulu para ulama mengatakan: Sebaik-baik teman adalah yang mengatakan kepada temannya: Ayo kita shalat dan puasa sebelum kita mati". ("Riyadhul Muta'allimin 305 karya Ibnu Sunni").
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
Tentang Kitab Jawami'ul Akhbar
Jawami'ul Akhbar (جوامع الأخبار) karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di Rahimahullah.
Kitab ini merupakan himpunan 99 hadis pilihan yang memuat sabda-sabda Nabi Muhammad ﷺ yang komprehensif, padat makna, dan mencakup berbagai prinsip ajaran Islam (Jawami'ul Kalim).
Mengenal Penulis dan Kitabnya
Sebagaimana yang sering dilakukan oleh para ulama, sebelum membahas suatu kitab, maka akan dijelaskan terlebih dahulu tentang dua hal: pengarang Kitab dan Isi kitab.
1. Penulis Kitab
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di Rahimahullah. Nama kunyahnya Abu Abdillah.
Beliau adalah Syekh Abu Abdillah Abdurrahman bin Nasir bin Abdullah bin Nasir As-Sa’di. Beliau berasal dari suku Tamim dan dilahirkan di kota Unaizah di Qassim pada tanggal 12 Muharram tahun 1307 H.
Beliau tumbuh besar sebagai seorang yatim piatu. Ibunya meninggal ketika beliau berusia 4 tahun, dan ayahnya meninggal ketika beliau berusia 7 tahun. Meski begitu, beliau meraih pendidikan yang baik berkat takdir Allah, begitu pula berkat kecerdasan beliau dan keinginan kuat serta ketertarikan beliau kepada ilmu dan pengetahuan.
Beliau mulai mempelajari Al-Qur’an sepeninggal ayahnya, kemudian menyelesaikan hafalannya di umur 11 tahun. Beliau juga belajar dari para ulama besar di negaranya dengan sangat bersungguh-sungguh. Beliau terbilang hampir menguasai setiap bidang ilmu, kemudian beliau mulai mengajar di usia 23 tahun, dan menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan belajar dan mengajar. Pada tahun 1350 H, beliau telah menjadi rujukan dalam keilmuan di negaranya, Saudi Arabia.
Diantara murid-murid Beliau adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin Rahimahullah (wafat 1421 H) dan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam Rahimahullah (wafat 1423 H).
Karya beliau banyak sekali, beberapa diantaranya yang terkenal adalah :
- Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan (Tafsir As-Sa'di).
- Al Qawaid Wa Al Ushul Al Jamiah.
- Bahjah Quluubil Abror bi Syarhi Jaami’ul Akhbar (Syarah Jawami'ul Akhbar).
Dan kitab-kitab lainnya yang banyak jumlahnya.
Kitab adalah karya yang mampu membuat pengarangnya mendapatkan transfer pahala, selama kitabnya dipelajari dan dihafalkan.
Setelah menjalani kehidupannya yang diberkahi selama hampir 69 tahun untuk mengabdi pada ilmu, beliau berpulang ke sisi Allah ‘Azza Wajalla pada tahun 1376 H di kota Unaizah di Qassim, rahimahullah rahmatan wasi’ah.
2. Tentang Kitab
Jawami'ul Akhbar berasal dari Jawami'ul yang bermakna kumpulan. Dan Akhbar yang dimaksud adalah khobar yaitu hadits.
Maksudnya adalah kumpulan hadits-hadits yang merupakan kalimat yang singkat namun bermakna yang padat dan luas.
Bagian dari keistemewaan Nabi ﷺ adalah Jawami’ al-Kalim. Disebut sebagai keistemewaan Nabi Muhammad ﷺ, karena Jawami’ al-Kalim tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelum beliau.
Terdapat beberapa hadis shahih yang menegaskan keistimewaan berupa Jawami’ al-Kalim. Diantaranya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ..
“Aku diberi kelebihan dibandingkan nabi-nabi sebelumku dengan 6 hal: aku diberi Jawami’ al-Kalim, aku ditolong dengan rasa takut yang disematkan di hati para musuh…” (HR. Muslim 1195 & Turmudzi 1640).
Dan kitab ini berisi 99 hadits pilihan yang merupakan Jawami'ul Kalim (hadits-hadits yang singkat dan padat).
Kenapa 99 hadits? Wallohu'alam, seakan-akan beliau ingin mengamalkan hadits dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi :
إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“ Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang menghafalnya (mengamalkannya) pasti masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Beberapa keistimewaan kitab
- Menghimpun hadits-hadits Nabi ﷺ yang merupakan sumber agama. Keutamaan suatu ilmu sangat bergantung pada mulianya objek yang dipelajari. Ilmu yang mempelajari tentang Allah, syariat-Nya, dan Rasul-Nya adalah yang paling utama karena berkaitan langsung dengan pengenalan terhadap Pencipta.
- Secara umum, hadits-hadits yang terdapat dalam buku ini shahih.
- Hadits-hadits yang dipilih adalah hadits yang singkat dan padat. (Jawami'ul Kalim).
- Kitabnya ringkas. Sesuai level kita dalam belajar, masih belajar dari dasar secara bertahap.
- Menjadi perhatian para ulama, sehingga banyak yang mensyarahnya, termasuk beliau sendiri: Bahjah Quluubil Abror bi Syarhi Jaami’ul Akhbar.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم