Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

Jawami'ul Akhbar

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#2: 27 Syawal 1447 / 15 April 2026
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:



99 Hadits Pilihan Pondasi Agama #2

Hadits ke-1: Meluruskan Niat Dan Menjauhi Bid'ah

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”

[HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Perawi: Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu

Beliau adalah salah satu sahabat terbaik Nabi ﷺ. Beliau termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga, bahkan setelah meninggal pun kuburan beliau mendampingi Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar As-Siddiq Radhiyallahu’anhu.

Salah satu akidah Ahlussunnah wal Jama'ah adalah mencintai para sahabat Nabi ﷺ, lebih-lebih Abu Bakar dan Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhuma. Karena kedudukan keduanya yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ. Bahkan sebagian ulama berkata,

مَالَمْ يُعْرَفْ فَضْلُ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ فَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ

Siapa yang tidak mengetahui keutamaan Abu Bakar dan Umar, maka dia bukanlah Ahlussunnah wal Jama'ah.

Imam Malik bin Anas Rahimahullah berkata,

” كان السلف يعلمون أولادهم حب أبي بكر وعمر كما يعلمونهم السورة من القرآن “.

"Dulu para Salaf mengajarkan kepada anak-anak mereka kecintaan kepada Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana mengajarkan kepada mereka satu surat dari al-Qur’an.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah – al-Laalikaai, no. 2325)

Ini dianggap sebagai bagian dari akidah dan akhlak yang fundamental.

Kita bersaksi kepada Allah ﷻ bahwa kita mencintai para sahabat Nabi ﷺ khususnya Abu Bakar dan Umar dan kita berlepas diri dari Syiah Rafidhah yang membenci sahabat Nabi ﷺ khususnya Abu Bakar dan Umar.

Maka kita dianjurkan untuk mendo'akan para sahabat sebagaimana Allah ﷻ sampaikan dalam surat At-Taubah ayat 100:

رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ.

Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.

📃 Penjelasan:

Dalam hadits ini, Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu, mendengarkan langsung hadits ini dari mimbar Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa informasi yang disampaikan adalah informasi yang sangat penting karena disampaikan di atas mimbar.

Salah satu ladang pahala dalam majelis ilmu adalah mendo'akan Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً

Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku. (HR. Tirmidzi; hasan)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Kedudukan Hadits

Hadits ini sangat penting yang merupakan kaidah dalam landasan beragama, dengan alasan:

1. Semua ulama sepakat tentang kesahihan dan keagungannya.
2. Para ulama menjadikan hadits ini sebagai hadits pertama dalam kitab mereka, seperti dalam Kitab Bukhari, hadits no. 1. Seperti halnya kitab Jawami'ul Akhbar yang kita bahas ini.

Para ulama seperti Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Bagi siapa yang ingin mengarang sebuah kitab hendaknya memulai dengan hadits ini untuk mengingatkan penuntut ilmu agar memperbaiki niat.” (Kitab Syarah Shahih Muslim XIII/47).

3. Hadits ini dijadikan sebagai landasan beragama. Seperti perkataan ulama: pondasi agama ada pada empat kalimat yang diambil dari hadits dari manusia terbaik:
- Hadits hati-hati dari syubhat.
- Hadits zuhud terhadap dunia.
- Hadits tinggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.
-Hadits meluruskan niat.

4. Hadits ini disampaikan Nabi ﷺ di atas mimbar di hadapan para sahabatnya, ini menunjukkan bahwa hadits ini berisi sesuatu yang sangat penting.

5. Banyak para ulama menuliskan kitab khusus untuk menjelaskan hadits ini saja. Seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menulis kitab Syarah Hadits Innamal A'malu bin niyaat.

Faedah:

Muttafaqun alaih (متفق عليه) artinya "disepakati atasnya", merujuk pada hadis yang keshahihannya disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Ini adalah derajat hadits tertinggi, diriwayatkan oleh kedua imam tersebut dari sahabat yang sama, menunjukkan tingkat autentisitas paling kuat setelah Al-Qur’an.

💡 Faedah Hadits:

1. Menunjukkan kepada kita tentang pentingnya niat dan bahwa niat merupakan salah satu syarat sahnya suatu ibadah.

Niat terbagi dua:
1. Niatul amal: niat dalam beramal. Dengan dua tujuan:

  • Membedakan adat kebiasaan dengan ibadah.
    Makanya, dari hadits ini diambil Kaidah fikih al-umūru bi-maqāṣidihā (الأمور بمقاصدها) berarti "segala sesuatu tergantung tujuannya", menegaskan bahwa nilai amal, sah/tidaknya ibadah, serta hukum perbuatan manusia sangat bergantung pada niat dan maksud di baliknya.
    Seperti seseorang yang berpuasa akan mendapatkan pahala tergantung niatnya apakah untuk ibadah atau diet, misalnya.
  • Membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya. Seperti, seseorang yang shalat dua raka’at di masjid, bisa jadi shalat tahiyyatul masjid, shalat rawatib, atau qashar shalat Isya, ditentukan oleh niatnya.

2. Niatul Ma'muli lahu (Niat untuk siapa dia beramal), inilah yang disebut dengan ikhlas.

2. Anjuran bagi kita untuk mengoreksi niat-niat kita.

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Tidak ada sesuatu yang paling berat yang aku hadapi daripada niat, karena niat selalu berubah-ubah.” (Kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al Hikam I/34. Lihat juga kitab Tadzkirah As Sami’ karya Ibnu Jamaah Al-Kinani hal. 681

Perkataan Imam Malik bin Anas rahimahullah (wafat 796 M) saat menyusun Kitab Al-Muwattho’, ada yg mengatakan pada beliau bahwa sudah banyak ulama yg menyusun jenis Al-Muwattho’, kemudian Imam Malik Bin Anas rahimahullah menjawab :

مَا كَانَ لِلَّهِ أَبْقَى

"Apa-apa yg karena Allah, maka kekal".

3. Pentingnya hijrah, karena Rasulullah ﷺ mencontohkan dalam hadits ini.

Hijrah ada dua bentuk, yaitu:

  • Pertama, hijrah tempat, dari negeri kafir ke negeri iman, yaitu hijrahnya siapa saja dari kalangan kaum muslimin yang sanggup melakukannya ke Madinah setelah Nabi menetap di sana. Untuk selanjutnya, hijrah kembali dipakai secara umum, yaitu untuk segala perpindahan dari negeri kafir ke negeri iman bagi siapa yang sanggup melakukannya.” (Kitab Fathul Bari I/23).
  • Hijrah amal perbuatan, yakni meninggalkan amalan yang dibenci Allah ﷻ. Hijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah dari kafir menuju beriman, dari bid'ah menuju sunnah, dan lainnya. Inilah hijrah yang utama, semua kita membutuhkannya.

Agar istiqamah setelah hijrah adalah dengan meluruskan niat, mempelajari ilmu, berdo'a dan mencari teman yang sholeh.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

📖 Hadits ke-2: Barometer Amalan Dzahir

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ :( (مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ- وَفِي رِوَايَةٍ: مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا- فَهُوَ رَدٌّ ». مُتَّفَقٌ عَلَىْهِ.

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya - dan dalam riwayat lain: Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami - maka itu tertolak". (Muttafaq 'alaih).

- HR. Bukhari Muslim dan Lainnya.

Perawi Aisyah Radhiyallahu’anha

Aisyah Ummu Abdillah binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha adalah Ummul Mukminin (ibu orang-orang beriman), istri tercinta Nabi Muhammad ﷺ yang dikenal sangat cerdas, alim, dan berakhlak mulia. Sebagai putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau meriwayatkan banyak hadis dan menjadi rujukan sahabat dalam urusan agama, serta dijuluki As-Siddiqah (wanita yang jujur).

Nama Kunyah beliau Ummu Abdillah meskipun tidak memiliki anak, maka berkunyah tidak mengharuskan memiliki anak atau menikah. Memiliki nama kunyah adalah sunnah, maka hendaknya melakukannya.

Tsabit bin Muhammad berkata: Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri berkata, “Jika kamu mampu untuk tidak menggaruk kepala kecuali apabila dilandasi dengan atsar/riwayat maka lakukanlah.”  (Manaqib al-Imam al-A’zham, karya Imam adz-Dzahabi). Karena dalam sunnah Nabi ﷺ ada keberkahan dan kebaikan dunia dan akhirat.

Aisyah adalah istri yang paling dicintai oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ « عَائِشَةُ » . فَقُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ فَقَالَ « أَبُوهَا »

“Siapa orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah”. Ditanya lagi, “Kalau dari laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya (yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq).” (HR. Bukhari, no. 3662 dan Muslim, no. 2384)

Dalam Kitab Al-Ijabah li Iradi ma Istadrakathu 'Aisyah 'ala as-Shahabah (الإجابة لإيراد ما استدركته عائشة على الصحابة), sebuah karya monumental dari Imam Badruddin az-Zarkasyi (wafat 794 H) menjelaskan Keutamaan Ibunda Aisyah sekitar 40 Keutamaan.

📃 Penjelasan:

Hadits ini adalah hadits yang sangat penting. Aqidah dalam agama. Dan ini merupakan pelengkap hadits yang pertama. Karena :

  • Hadits niat adalah syarat diterimanya amal ibadah 1-ikhlas.
  • Hadits ini adalah syarat diterimanya amal ibadah 2 - Ittibâ kepada Rasul.

Maka ibadah tidak hanya tergantung niat baik. Ibnu Mas'ud Radhiyallahu'anhu berkata,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid

Terdapat sebuah syair Arab terkenal:

ترجو النجَاة وَلم تسلك مسالكها ... إِن السَّفِينَة لَا تجْرِي على اليبس

"Engkau mengharapkan keselamatan, namun tidak menempuh jalan-jalan keselamatan. Sesungguhnya kapal itu tidak mungkin berlayar di atas daratan." [Bustanul Wa'izhin, 1/282]

💡 Faedah Hadits:

1. Syarat diterimanya amal ibadah ada dua: ikhlas (dijelaskan pada hadist 1) dan ittibâ (sesuai contoh Rasulullah ﷺ) - Dijelaskan pada hadits kedua.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala pada surat Al-Kahfi ayat 110:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ ۝١١٠

Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.

Dalam surat Al-Mulk Ayat 2:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ۝٢

yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.

Salah satu bukti kekuasaan-Nya adalah Dia Yang menciptakan mati dan menentukan ajalnya, dan hidup dengan menentukan kadar-kadarnya, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya dengan seikhlas mungkin sesuai contoh Rasulullah ﷺ. Seperti yang dikatakan oleh Fudhail bin iyadh Rahimahullah, bukan yang paling banyak amalan-amalannya.

2. Hukum asal sebuah ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang mencontohkannya. Berbeda dengan urusan dunia: hukum asalnya adalah halal sampai ada yang mengharamkannya. Berdasarkan sabda Nabi

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“…kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)

3. Tercelanya perbuatan bid'ah, yaitu ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah ﷺ. Perkara yang muhdats di sini, bukanlah terkait dalam masalah dunia, namun terbatas dalam masalah agama saja.

Ibnul Qayyim memberikan nasehat yang sangat indah,

العَمَلُ بِغَيْرِ اِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابُهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ

“Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa ransel berisi pasir. Bekal pada ransel tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.” (Al-Fawa’id, hlm. 81)

Dampak negatif bid'ah :

1. Menuduh Nabi ﷺ bahwa Islam itu belum sempurna. Padahal Allah ﷻ telah menurunkan ayat-Nya :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah : 3).

Sehingga kata Imam Malik bin Anas rahimahullahu Ta’ala di dalam salah satu ucapan beliau :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم خان الرسالة

“Barangsiapa yang berbuat bid’ah di dalam agama islam yang ia anggap sebagai bid’ah hasanah, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.” (Lihat kitab Al ‘Itisham, 1/49)

Sampai Al Imam Malik berkata dengan ucapan seperti itu. kemudian al-imam Malik membawa dalil :

لأن الله يقول : { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } فما لم يكن يومئذ دينا ، فلا يكون اليوم دينا

“Karena Allah Ta’ala berfirman: “Hari telah Ku sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Jadi, apa saja yang pada hari ini bukan sebagai agama, maka tidaklah hari ini dia menjadi agama.” (Lihat kitab Al ‘Itisham, 1/49)

2. Menuduh Nabi ﷺ berkhianat, ada yang disembunyikan. Padahal Rasulullah telah menjelaskan semuanya hatta dalam urusan buang hajat.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا. قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ.

Dari Sahabat Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’”

HR. At-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, II/155-156 no. 1647 dan Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 1803.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini