Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

Jawami'ul Akhbar

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Kajian Kitab: 99 Hadits Pilihan Pondasi Agama
Pemateri: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawiy 𝓱𝓪𝓯𝓲𝔃𝓱𝓪𝓱𝓾𝓵𝓵𝓪𝓱
Pertemuan#4: 11 Dzulqa’dah 1447 / 29 April 2026 
Tempat: Masjid Al-Aziz - Jl. Soekarno Hatta no. 662 Bandung.
Daftar Isi:



99 Hadits Pilihan Pondasi Agama #4 

Hadits ke-5: Istiqomah

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

HR. Muslim, no. 38

📃 Penjelasan:

Ustadz mengingatkan kembali untuk selalu mendo'akan Radhiyallahu’anhu sebagaimana difirmankan dalam surat At-Taubah ayat 100 :

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ۝١٠٠

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.

1. Sahabat Sufyan minta nasihat yang singkat dan padat

Hadits ini juga menunjukkan kecerdasan sahabat dalam menanyakan sesuatu yang singkat dan padat yang menghimpun kebaikan dunia dan akhirat. Hingga sahabat Sufyan tidak perlu menanyakan lagi kepada yang lain.

Ini juga menunjukkan, semangat sahabat dalam mengamalkan agama dan belajar menuntut ilmu, bertanya agar mendapatkan ilmu.

Salah satu bentuk mencari ilmu adalah dengan bertanya. Rasulullah -shallallahu `alaihi wasallam- bersabda:

أَلا سَأَلُوا إِذَا لَمْ يَعْلَمُوا ، فَإِنَّمَا شَفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ

“Tidakkah mereka bertanya jika tidak mengetahui. Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah dengan bertanya….” (Hasan, HR Abu Dawud: 336, Ibnu Majah: 572, dan lainnya).

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. An-Nahl ayat 43).

Jika kita tidak mau bertanya, maka, akan susah untuk mendapatkan ilmu. Padahal fasilitas sekarang tersedia begitu banyak.

Imam Mujahid -rahimahullah- dalam Shahih Bukhari mengatakan:

“Tidak akan sukses belajar ilmu agama, orang yang malu dan orang yang sombong.”

(Tadzkiratus Saami wal mutakallim Fii Adabil’Alim Wal Muta’alim).

Demikiannya para ulama terdahulu bersungguh-sungguh, bukan ingin tampil, tapi ingin mencari ilmu yang berkah. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang diamalkan. Kita masih ingat, ucapan sahabat Nabi yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu wa ardhahu,

“Bukanlah ilmu itu diukur dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi pokok dari ilmu adalah khas-yah/rasa takut -kepada Allah-.”

(lihat al-Fawa’id karya Ibnul Qayyimrahimahullah).

2. Nabi ﷺ seorang yang dermawan dengan ilmu dan harta.

Dan dermawan dengan ilmu lebih utama dari harta, karena lebih utama ilmu daripada harta. Sehingga Nabi ﷺ selalu memberikan pemahaman ilmu kepada umatnya.

Al-Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

أفضل الصدقة تعليم جاهل أو إيقاظ غافل

Sedekah yang paling utama adalah mengajarkan ilmu kepada orang yang bodoh, atau menyadarkan orang yang lalai.

[Majmu’ Ar Rasail: 1/186].

Beliau Nabi ﷺ dengan kedermawanannya menjawab dengan singkat dan padat :

قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ

Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.

Makna Iman

Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama'ah adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan pengamalan dengan amal perbuatan.

Maknanya, meyakini dalam hati kemudian bersyahadat dengan dua kalimat syahadat kemudian merealisasikan keimanan tersebut dengan amal.

Amal ada tiga jenis:

  1. Amalan hati : ikhlas, sabar syukur, tawakal, dan lainnya.
  2. Amalan lisan: dzikir, membaca Al-Qur’an, adzan, berdoa dan lainnya.
  3. Amalan dengan anggota badan: puasa, shalat dan lainnya.

Iman dalam Islam bersifat dinamis, dapat bertambah dengan ketaatan (amal shalih) dan berkurang karena kemaksiatan atau kelalaian, yang dikenal dengan istilah yazidu wa yanqush. Ini adalah hal yang wajar (manusiawi) dan merupakan bagian dari akidah Ahlussunnah wal Jama'ah. Iman perlu dijaga melalui ibadah dan ilmu agar tetap stabil.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ».
[صحيح] - [رواه الحاكم والطبراني] - [المستدرك على الصحيحين: 5]

Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sungguh iman itu dapat lusuh di dalam dada salah satu di antara kalian, sebagaimana lusuhnya pakaian yang sudah usang. Maka mohonlah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati kalian."

[Sahih] - [HR. Hakim dan Tabarani] - [Al-Mustadrak 'alā Aṣ-Ṣaḥīḥain - 5]

  • Iman kepada Allah ﷻ

Merupakan bagian dari rukun iman. 6 Rukun Iman adalah pilar pokok akidah dalam agama Islam yang wajib diyakini oleh setiap muslim, terdiri dari iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi/Rasul, Hari Kiamat, serta Qada dan Qadar. Meyakini keenam hal ini merupakan landasan dasar keimanan.

Makna iman kepada Allah ﷻ mencakup 4 hal:

1. Mengimani wujud Allah ﷻ.

Keberadaan Allah adalah sesuatu yang sudah sangat jelas. Hal ini dapat ditunjukkan dengan dalil akal, hissi (inderawi), fitrah, dan dalil syariat. Jangan seperti orang-orang atheist.

2. Iman tentang keesaan Allah dalam Rububiyah Allah ﷻ.

Maksudnya adalah beriman bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb yang tidak mempunyai sekutu. Rabb adalah Dzat ayang berwenang mencipta, memiliki, dan memerintah. Tiada yang dapat mencipta selian Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah, serta tiada yang berhak memerintahkan kecuali Allah ﷻ. Disebut tauhid ibadah karena penisbatannya kepada makhluk.

3. Iman tentang keesaan Allah dalam uluhiyah

Yaitu pengesaan Allah dalam ibadah karena hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Fatihah · Ayat 5:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ۝٥

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

4. Iman terhadap asma’ (nama) dan sifat-Nya.

Pengesahan Allah ‘Azza wa Jalla dengan asma’ dan shifat yang menjadi milik-Nya. Artinya kita harus menetapkan seluruh asma’ dan shifat bagi Allah sebagaimana yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam asma’ dan shifat-Nya. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS. Asy Syuuro: 11) .

Kemudian Istiqamahlah

Inilah inti dari hadits ini, karena istiqamah sampai akhir hayat itu berat.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hijr Ayat 99:

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Bukan seperti penafsiran kaum sufi, sampai pada hakekat dan makrifat. Hingga terjerumus kepada pemahaman sesat, tidak perlu beribadah lagi. Na'udzubillahmindalik.

Level tertinggi ada pada Nabi Muhammad ﷺ, tetapi beliau tetap beribadah, shalat malam hingga kakinya bengkak. Semoga Allah Ta’ala merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu yang menulis kitab -Furqan Baina Auliya'ir Rahman wa Auliya'isy Syaithan, yang mengupas tuntas perbedaan wali Allah dan wali setan berdasarkan dalil yang shahih.

💡 Istiqamah maknanya konsisten di atas jalan yang lurus (yaitu iman dan Islam) sampai akhir hayat.

Maka, istiqamah hukumnya wajib karena ini perintah. Ukuran istiqomah adalah agama yang lurus ini. Yaitu melakukan ketaatan sebagaimana diperintahkan dengan tanpa melewati batas, tanpa mengikuti hawa-nafsu. Allâh Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Hûd/11:112].

Pada ayat ini perintah istiqomah ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, tetapi dalam ilmu tafsir, perintah kepada Nabi ﷺ juga merupakan perintah kepada umatnya. Dan hukum asal perintah adalah wajib.

Kaidah Ushul Fiqh "Al-Amru lil Wujub" menetapkan bahwa setiap perintah dalam Al-Qur'an atau hadits secara otomatis bermakna wajib, kecuali ada dalil lain (qarinah) yang memalingkannya menjadi sunnah atau mubah. Kaidah ini memastikan perintah Allah dan Rasul-Nya ditaati dan dikerjakan.

Dalam surat Fussilat ayat 6 menyebutkan :

فَاسْتَقِيْمُوْٓا اِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُۗ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِيْنَۙ ۝٦

Oleh sebab itu, istiqamahlah (dalam beribadah) dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Celakalah orang-orang yang mempersekutukan(-Nya).

Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus beristigfar (memohon ampun pada Allah).

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Ayat di atas “Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya” merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah). Istighfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqomah (di jalan yang lurus).” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 246).

Kiat-kiat Agar Istiqamah

1. Meningkatkan Iman dan Tauhid.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam mengatakan : inti dari istiqamah adalah tatkala hati kita istiqamah dalam Tauhid.

Diriwayatkan dalam Musnadnya Imam Ahmad dari hadirtsnya Anas bin Malik semoga Allah meridhoinya bahwasannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ ، وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ 

Tidak akan bisa lurus (istiqomah.pent) imannya seorang hamba sampai hatinya lurus, dan tidak akan bisa lurus hatinya seorang hamba sampai lisannya lurus“. Dan telah lewat tahrij haditsnya.

2. Berdo'a kepada Allah

Hanya Allah ﷻ yang mampu menolong hamba-hamba-Nya. Dengan berdo'a kita berharap akan selalu bisa istiqamah.

Sebagaimana Allah ﷻ sebutkan dalam Al-Qur’an Surat Ali 'Imran Ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ۝٨

rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb

(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.

Ingatlah, kita butuh doa agar bisa istiqamah karena hati kita bisa saja berbolak-balik. Oleh karenanya, do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Hadits Hassan. HR. Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315.

Untuk itu kita perlu merenungkan kembali perkataan sahabat Hudzaifah Radiyallahu anhu:

Sungguh, seseorang manusia itu akan menjumpai suatu zaman di mana tidak ada yang selamat pada saat itu kecuali orang yang berdoa “kadua’il ghariq” sebagaimana doanya orang yang tenggelam” [Shifatu Shafwah I/611)

3. Mengingat Kematian

Mengingat kematian adalah anjuran ibadah untuk menyadarkan manusia bahwa hidup bersifat sementara, memotivasi perbaikan diri, dan mempersiapkan bekal akhirat. Kebiasaan ini mendorong segeranya taubat, semangat beribadah, dan melembutkan hati yang keras. Kematian adalah kepastian yang bisa datang kapan saja, membuat hidup lebih bermakna.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).

4. Mengingat Keutamaan-keutamaan Istiqamah

Kalau kita tahu keutamaan suatu amal, maka kita akan beramal sesuai keutamaan yang kita ingat. Seperti keutamaan shalat berjama'ah, keutamaan menuntut ilmu, dan lainya.

Orang yang Istiqamah akan Dihibur malaikat dan di alam kubur.

Sebagaimana firman-Nya:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ. نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِيْٓ اَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَۗ ۝٣١ نُزُلًا مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍࣖ ۝٣٢

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (surga) kamu akan memperoleh apa yang kamu sukai dan apa yang kamu minta. Yang demikian itu adalah sebagai penghormatan bagimu dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Fussilat 41 : 30-32)

5. Berpegang Teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah

Selama berpegang teguh pada kedua pedoman ini, umat Islam dijamin selamat, terhindar dari kesesatan, serta mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Hadits ini disahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam At-Ta’zhim wa Al-Minnah fi Al-Intishar As-Sunnah, hlm. 12-13).

Hal ini juga dapat dilihat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, seolah-olah inilah nasehat terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” [HR. Abu Daud no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42].

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

6. Sabar

Hari silih berganti, semua Ada waktunya senyum, ketawa dan menangis bisa datang silih berganti.

Sabar dalam menghadapi musibah dan ujian adalah menahan diri dari berputus asa, menahan lisan dari keluh kesah, dan menahan anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Ini adalah cerminan iman, di mana musibah dianggap sebagai ujian untuk menaikkan derajat dan menghapus dosa. Kuncinya adalah ridha, bersyukur, serta percaya akan hikmah di balik takdir Allah.

Firman-Nya dalam Surat Ali 'Imran ayat 200:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ ۝٢٠٠

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

7. Menuntut ilmu

Dengan ilmu, kita mampu membedakan yang hak dan yang batil.

Benarlah apa yang dikatakan Imam Said bin Jubair (w. 95 H) yang berkata,

لا يَزَالُ الرَّجُلُ عَالِماً ما تَعَلَّمَ، فإِذَا تَرَكَ التَعَلُّمَ وَظَنَّ أنَّهُ قَدْ ٱسْتَغْنَى فَهُوَ أَجْهَلُ مَا يَكُوْنُ

Seseorang akan terus disebut alim selagi dia mau belajar. Tapi ketika dia berhenti belajar dan merasa sudah alim, maka sebenarnya dia adalah orang yang paling bodoh.

8. Mencari Teman yang Baik

Karena mereka akan mendekatkan diri kepada Allah, mengingatkan saat salah, dan memberi pengaruh positif pada perilaku dan agama. Pilihlah teman yang jujur, suportif, berakhlak mulia, serta teman yang sabar dalam kebaikan. Sahabat sejati adalah cermin yang mendorong kebaikan di dunia dan akhirat.

Yusuf bin Asbath Rahimahullah wafat pada tahun 195 H/ 811 M mengatakan: ayahku berpaham qodariyah, Saudara-saudaraku Khawarij, pamanku Syi'ah Rafidhah, Tapi Allah ﷻ selamatkan saya melalui teman dan sahabat saya Sufyan Ats-Tsauri.

9. Menjauhi sumber fitnah

Rasulullah ﷺ menyebutkan tiga kali bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang dijauhkan dari fitnah (ujian berat yang menyesatkan, kerusuhan, atau godaan).

Dari Miqdad bin Aswad bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ السَّعيدَ لمن جُنِّبَ الفتنَ إنَّ السَّعيدَ لمن جُنِّبَ الفتنَ إنَّ السَّعيدَ لمن جُنِّبَ الفتنَ ولمنِ ابتُلِيَ فصبرَ فواهًا

“Sesungguhnya orang yang bahagia adalah siapa saja yang dijauhkan dari fitnah (beliau sampaikan tiga kali). Dan seseorang yang diuji lalu bersabar. Betapa indahnya orang yang sabar menghadapinya.”

✍️ HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Targhib 2743.

Termasuk menjauhi Dajjal, terkadang kita sok sokan mencari celah dan meremehkan dengan mendekati sumber fitnah.

10. Membaca kisah-kisah para Nabi ﷺ dan ulama

Dari kisah-kisah kehidupan mereka terdapat ibrah atau pelajaran yang berfaedah bagi kita. Firman-Nya dalam surat Yusuf ayat 111:

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ۗ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

Hal terpenting dalam membaca kisah-kisah adalah hikmah serta ibrah yang bisa diambil, bukan sekedar biografi mereka saja.

Kisah-kisah mereka akan menjadi cermin bagi kita, kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka.

Contoh kehebatan dan kesabaran ulama meliputi kesabaran dalam menuntut ilmu dalam menempuh perjalanan jauh serta kesungguhan belajar, dan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.

Seperti perjuangan Sumayyah dari keluarga Ammar dan Yasir yang disiksa dengan kejam karena mempertahankan tauhid. Demikian juga Zunairah, seorang budak muslimah yang penuh kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan hingga buta, kita belum seperti Imam Ahmad rahimahullah yang dicambuk dan dipenjara, kita belum seperti imam Malik yang dilepas kukunya dan banyak kisah ulama yang menyayat hati.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

📖 Hadits ke-6: Sifat Seorang Muslim

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ

“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .”

Muttafaqun 'alaihi. HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40.

Dan tambahan dalam riwayat Tirmidzi dan An Nasa’i,

و المؤمن من أمنة الناس على دمائهم و أموالهم

“Seorang mu’min (yang sempurna) yaitu orang yang manusia merasa aman darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.”

Dan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqi,

و المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله

“Dan yang disebut dengan orang yang berjihad adalah orang yang bersungguh-sungguh melawan jiwanya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah .”

Perawi

Beliau adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma, salah satu Abdullah dari 4 nama Sahabat Abdullah.

Al-Abadilah al-Arba'ah (Empat Abdullah) atau al-abaadilah adalah sebutan untuk empat sahabat Nabi ﷺ terkemuka yang bernama Abdullah. Mereka dikenal karena ilmu, ketakwaan, dan perannya dalam meriwayatkan hadits. Keempatnya adalah Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Amr bin Ash.

📃 Penjelasan

Hadits ini memberikan pemahaman kepada kita tentang 4 istilah yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits:

1. Muslim

Islam adalah agama yang paling benar diterima di sisi Allah ﷻ. Bermakna tunduk. Dan merupakan agamanya para nabi dengan mentauhidkan Allah ﷻ.

Muslim sejati adalah muslim yang tidak menyakiti muslim lainya dengan lisan dan tangannya.

Diam adalah lebih baik dari pada ucapan yang menyakitkan dan kotor. "Berkata baik atau diam" adalah prinsip etika komunikasi dalam Islam berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, di mana orang beriman diperintahkan berbicara yang bermanfaat atau diam untuk menghindari dosa. Ini merupakan wujud menjaga lisan, iman kepada hari akhir, dan upaya menghindari perkataan sia-sia.

Jangan sampai menjadi orang yang bangkrut di akhirat karena lisan dan tangan.

Tangan adalah lisan yang kedua. Dengannya bisa mendzalimi orang lain, seperti tulisan yang menyakitkan dan perbuatan yang dzalim.

2. Hijrah

Hijrah ada dua bentuk, yaitu:

  • Pertama, hijrah tempat, dari negeri kafir ke negeri iman, yaitu hijrahnya siapa saja dari kalangan kaum muslimin yang sanggup melakukannya ke Madinah setelah Nabi menetap di sana. Untuk selanjutnya, hijrah kembali dipakai secara umum, yaitu untuk segala perpindahan dari negeri kafir ke negeri iman bagi siapa yang sanggup melakukannya.” (Kitab Fathul Bari I/23).
  • Kedua, Hijrah amal perbuatan, yakni meninggalkan amalan yang dibenci Allah ﷻ. Hijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah dari kafir menuju beriman, dari bid'ah menuju sunnah, dan lainnya. Inilah hijrah yang utama, semua kita membutuhkannya.

Hijrah kedua inilah yang dimaksud dalam hadits di atas. Dan inilah intinya hijrah.

3. Mukmin

Mukmin sejati adalah mukmin yang tidak membunuh dan mencuri. Karena dua hal ini sangat di jaga dalam syariat Islam.

Dalam Islam, terdapat lima pokok tujuan syariat (Maqashid Syariah) atau Al-Kulliyatul al-Khamsah yang wajib dijaga oleh setiap muslim untuk kemaslahatan dunia dan akhirat. Kelima hal tersebut adalah menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Maka, mukmin sejati akan menjaga kelima hal itu dari saudara muslim lainnya. Jangan sampai menjadi orang yang bangkrut. Orang yang bangkrut di akhirat adalah mereka yang membawa pahala salat, puasa, dan sedekah, namun pahala tersebut habis ditransfer untuk orang lain yang dizalimi saat di dunia. Hal ini terjadi karena sering memaki, menumpahkan darah, atau memakan harta orang lain secara tidak sah.

5. Mujahid

Mujahid sejati adalah seseorang yang berjuang melawan hawa nafsu dan syahwatnya sendiri dalam rangka ketaatan kepada Allah ﷻ.

Konsep ini menekankan bahwa perjuangan internal melawan ego dan kejahatan hati adalah dasar, meskipun perjuangan fisik (jihad qital) sangat utama, namun tidak semua orang berkesempatan dan mampu melakukannya. Mujahid sejati akan mengerahkan seluruh kemampuan, harta, dan ilmu untuk menegakkan keadilan dan keridhaan Allah ﷻ.

Seorang penyair berkata:

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞ حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

ِNafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap menyusu.
Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri

Ada yang pernah berkata pada Al Hasan Al Bashri rahimahullah Ta’ala,

يا أبا سعيد أي الجهاد أفضل

“Wahai Abu Sa’id, jihad apa yang paling afdhol?”

Jawab beliau,

جهادك هواك

“Jihadmu melawan hawa nafsumu.”

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kita keempat hal sejati dalam diri kita yaitu muslim, muhajir, mukmin dan mujahid. Aamiin.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini