Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 Ad-Daa wa Dawaa' #10
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.I Hafidzahullah
🗓┃Sabtu, 12 Desember 2025 / 23 Jumadil Akhir 1447 H
🕰┃ Ba'da Subuh
🕌┃Masjid Al-Ikhlash Safira Residence Kartasura



 Ad-Daa wa Dawaa' #9: Manusia yang Paling Besar Ketertipuannya

Dalam kehidupan sehari-hari, Allah telah mengaruniakan nikmat yang banyak kepada kita semua. Bahkan, kita sendiri tidak akan mampu menghitung nikmat tersebut karena saking banyaknya. Allah ﷻ berfirman,

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.S. Ibrahim [14]: 34)

Segala Nikmat Datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala

Segala kenikmatan yang mendatangkan kenyamanan dan kebahagiaan, pada asalnya bersumber dari Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan” (Q.S.An-Nahl [16]: 53).

Tidak memandang nikmat itu seperti apa bentuknya dan dari manapun asalnya, Allah-lah yang memberikan kepada kita. Sekalipun nikmat itu datang kepada kita melalui tangan hamba Allah lainnya. Tiada yang mampu memberikan rezeki atau kenikmatan melainkan Allah. Allah ﷻ berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَٰلِقٍ غَيْرُ ٱللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (Q.S. Fathir [35]: 3)

Jangan Sampai Dunia Menipumu

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Fatir Ayat 5:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلْغَرُورُ

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.

Balasan bagi orang-orang yang menahan hawa nafsunya adalah surga. Dalam surat An-Nazi’at ayat 40-41 Allah ﷻ berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ. فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).

Manusia yang Paling Tertipu

Manusia yang paling besar ketertipuannya adalah orang yang tertipu oleh dunia dan kesegeraannya, lalu dia mendahulukannya atas akhirat. Dia rela mendapatkan dunia sekalipun dengan mengorbankan akhirat. Hingga sebagian dari mereka berkata, "(Kenikmatan) dunia itu tunai, sedangkan akhirat itu ditunda, padahal yang disegerakan itu lebih bermanfaat dibandingkan yang ditunda."

Ini termasuk godaan dan rayuan setan yang paling besar. Binatang-binatang yang tidak berbicara itu lebih mengerti daripada orang-orang itu, karena jika binatang takut terhadap bahaya dari sesuatu, maka dia tidak akan berani melakukannya, sekalipun ia dipukul, sementara sebagian dari orang-orang itu malah lancang melakukannya secara serampangan, sementara dia antara membenarkan dan mendustakan.

Manusia jenis ini, bila seseorang dari mereka beriman kepad Allah, RasulNya, dan pertemuan denganNya, serta balasan dari perbuatan, maka dia termasuk manusia paling menyesal, karen dia lancang melakukan sesuatu dalam keadaan berilmu, dan bila dia tidak beriman kepada Allah dan RasulNya, maka dia lebih jauh lagi (lancangnya).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak memberikan gambaran tentang remehnya dunia di sisi Allâh Azza wa Jalla , antara lain di dalam hadits berikut ini:

  • Al-Mustaurid bin Syaddad Radhiyallahu anhu berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ – فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini –perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk- ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya”. [HR Muslim, no. 2858].

  • Dalam hadits lainya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ». فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ». قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ « فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ ».

Dari Jabir bin Abdillâh, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati sebuah pasar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dari ‘Aliyah (nama tempat, Pen.) dan para sahabat berada di sekelilingnya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati bangkai seekor kambing yang kecil telinganya, lantas beliau angkat batang telinga bangkai kambing tersebut seraya berkata: “Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini dengan satu dirham?” Para sahabat menjawab: “Kami tidak suka sama sekali, apa yang bisa kami perbuat dari seekor bangkai kambing?”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi: “Bagaimana jika kambing itu untuk kalian?” Para sahabat menjawab: “Demi Allâh, apabila kambing itu masih hidup kami tetap tidak mau karena dia telah cacat, yaitu telinganya kecil, bagaimana lagi jika sudah menjadi bangkai!”

Rasûlullâh akhirnya bersabda: “Demi Allâh, dunia itu lebih hina di sisi Allâh daripada seekor bangkai kambing ini bagi kalian”. [HR Muslim, no. 2957].

Bila manusia merenungkan keadaan dirinya sejak dia dalam wujud setetes air mani, hingga menjadi manusia utuh dan sempurna, niscaya dia akan mengetahui bahwa Allah Yang memeliharanya dengan pemeliharaan besar ini, memindahkannya dari satu keadaan ke keadaan berikutnya dan mengalihkan bentuknya melalui fase-fase tersebut, tidaklah pantas Dia membiarkan dan meninggalkannya sia-sia, tidak memerintahnya, tidak melarangnya, tidak mengenalkan kepadanya hak-hakNya, tidak memberinya pahala dan tidak pula memberinya hukuman.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Qiyamah ayat 36-39:

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى. أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمْنَىٰ. ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ. فَجَعَلَ مِنْهُ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.

Kemudian, firman-Nya dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ۝٢ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ ۝٣

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta.

Perbedaan antara berbaik sangka dengan tertipu sudah jelas, dan bahwa bila berbaik sangka mendorong untuk beramal (shalih), mengajak dan membawa kepadanya, maka ia benar. Dan sebaliknya, bila ia menyebabkan kemalasan (dalam kebaikan) dan semangat dalam kemaksiatan, maka inilah ketertipuan (ghurur). Berbaik sangka adalah sebuah harapan (raja). Barangsiapa yang harapannya adalah pembimbing baginya kepada ketaatan dan pencegah baginya dari kemaksiatan, maka inilah harapan yang benar, namun barangsiapa yang kemalasannya adalah harapan, dan harapannya adalah kemalasan dan kelalaian, maka dia teperdaya.

Abul Atahiyah berkata:

لَا تأمن الْمَوْت فِي طرف وَلَا نفس … وَإِن تسترت بالحجاب والحرس)
(وَاعْلَم بِأَن سِهَام الْمَوْت قاصدة … لكل مدرع منا ومترس)
(مَا بَال دينك ترْضى أَن تدنسه … وثوبك الدَّهْر مغسول من الدنس)
(ترجو النجَاة وَلم تسلك مسالكها … إِن السَّفِينَة لَا تجْرِي على اليبس

Engkau tidak aman dari kematian..
Walaupun berlindung di balik hijab..

Panah kematian pastilah datang..
Kepada semua yang memakai perisai..

Akankah engkau ridho mengotori agamamu..
Sementara bajumu senantiasa dibersihkan..

Kamu berharap keselamatan..
Tapi tak mau menempuh jalannya..

Sesungguhnya kapal itu tak mungkin berlayar di atas daratan…

[Bustanul Wa’idzin 1/282 karya Ibnul Jauzi]

Rahasia masalah ini adalah bahwa harapan dan berbaik sangka yang benar terjadi dengan disertai melakukan sebab-sebab yang dituntut oleh hikmah Allah dalam syariat, takdir, pahala, dan kemuliaanNya, sehingga seorang hamba melakukan sebab-sebab tersebut lalu berbaik sangka kepada Tuhannya, berharap kepadaNya agar tidak membuatnya bersandar kepadanya, dan menjadikannya sebagai perantara kepada apa yang bermanfaat baginya, dan menyisihkan apa yang menghalanginya dan menggagalkan pengaruhnya.

WallahuA’lam.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini