Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بسم الله الرحمن الرحيم

📚 Ad-Daa wa Dawaa' #22
🎙┃ Ustadz Abdul Fattach, S.Pd.i Hafidzahullah
🗓┃ Sabtu, 19 September 2026 M / 08 Rabi’ul Akhir 1448 H
🕰┃ Ba'da Subuh
🕌┃ Masjid Al-Ikhlash Safira Residence Kartasura



Ad-Daa wa Dawaa' #22: Dampak-dampak Buruk Kemaksiatan terhadap Bumi dan Hilangnya Rasa Malu

Dosa-dosa Menimbulkan Kerusakan di Bumi

Di antara dampak dosa dan kemaksiatan adalah bahwa keduanya menimbulkan berbagai jenis kerusakan di bumi pada air, udara, tanaman, buah-buahan, dan tempat tinggal.

Allah Ta'ala berfirman:Surat Ar-Rum Ayat 41:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Di antara dampak buruk kemaksiatan di muka bumi adalah apa yang terjadi di bumi dalam bentuk tanah longsor, gempa bumi, dan dicabutnya keberkahan hidup.

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah ﷺ pernah melewati bekas perkampungan kaum Tsamud, maka beliau melarang para sahabat Radhiyallahu’anhum masuk ke sana kecuali dalam keadaan menangis, beliau juga melarang mereka minum airnya dan mengambil air dari sumur mereka, sampai-sampai beliau memerintahkan supaya adonan tepung yang sudah terlanjur dibuat (dari air mereka) agar diberikan kepada unta-unta, karena dampak buruk kemaksiatan pada air tersebut.

Maka, umat Islam perlu berhati-hati saat mendekati situs-situs yang terkait dengan peristiwa azab Allah. Salah satu tempat yang membutuhkan perhatian khusus adalah Madain Saleh (Hegra), bekas pemukiman kaum Tsamud yang dihancurkan karena kedurhakaan mereka terhadap Allah dan utusan-Nya, Nabi Shaleh.

Imam Al-Bukhari menyatakan, diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمَّا مَرَّ بِالْحِجْرِ قَالَ ” لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ “. ثُمَّ تَقَنَّعَ بِرِدَائِهِ، وَهْوَ عَلَى الرَّحْلِ.

Ketika Nabi ﷺ melewati Al-Hijr, beliau bersabda, “Janganlah kalian memasuki tempat orang-orang yang berbuat zalim [terhadap diri mereka sendiri] kecuali jika kalian masuk sambil menangis, agar kalian tidak mendapat hukuman yang sama seperti yang menimpa mereka.” Setelah itu, beliau menutupi wajahnya dengan jubahnya ketika sedang menunggangi hewan tunggangannya. (HR. Bukhari, no. 3380).

Rasulullah ﷺ memberikan nasihat khusus terkait tempat-tempat seperti ini. Dalam sebuah hadis lainnya, beliau bersabda:

 لَا تَدْخُلُوا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ الْمُعَذَّبِينَ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا بَاكِينَ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِمْ أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ

“Janganlah kalian memasuki tempat orang-orang yang diazab, kecuali jika kalian menangis. Jika kalian tidak menangis, maka janganlah kalian memasukinya, agar tidak menimpa kalian seperti yang menimpa mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ini mengajarkan bahwa ketika mengunjungi tempat-tempat seperti Madain Saleh, umat Islam harus melakukannya dengan rasa takut dan khusyuk, mengingat azab Allah yang pernah terjadi di sana.

****

Dosa-Dosa Memadamkan Rasa Cemburu (Ghirah)

Di antara hukuman dosa-dosa adalah bahwa ia memadamkan dari hati api cemburu (ghirah) yang bagi kehidupan dan kebaikannya seperti panas alami bagi kehidupan seluruh tubuh. Ghirah adalah panas dan apinya yang mengeluarkan apa yang ada di dalamnya berupa keburukan dan sifat-sifat tercela, sebagaimana perapian mengeluarkan kotoran emas, perak, dan besi.

Orang yang paling mulia dan tertinggi semangatnya adalah yang paling keras ghirahnya terhadap dirinya, keluarganya, dan masyarakat umum.

Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling cemburu terhadap umatnya, dan Allah Subhanahu lebih cemburu dari beliau.

Sebagaimana ditetapkan dalam hadits shahih:

عن المغيرة بن شعبة رضي الله عنه مرفوعاً: قال سعدُ بنُ عُبَادة رضي الله عنه : لو رأيتُ رجلًا مع امرأتي لَضربتُه بالسيف غير مُصْفِح عنه، فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: «أتعجبون من غَيْرة سعد، فوالله لأنا أغير منه، واللهُ أغير مني، من أجل غَيْرة الله حَرَّم الفواحش، ما ظهر منها، وما بطن، ولا شخص أغير من الله، ولا شخص أحبّ إليه العُذر من الله، من أجل ذلك بعث الله المرسلين، مُبشِّرين ومنذِرين، ولا شخص أحبّ إليه المِدحةَ من الله، من أجل ذلك وعد الله الجنة». [صحيح] - [متفق عليه]

Dari Al-Mugīrah bin Syu'bah -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Sa'ad bin 'Ubādah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Seandainya aku melihat seorang lelaki bersama istriku, niscaya aku tebas dia dengan pedang tanpa ada ampun baginya." Ucapan tersebut sampai kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Beliau pun bersabda, "Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa'ad. Demi Allah, sungguh, aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku. Karena kecemburuan itulah maka Dia mengharamkan hal-hal keji, yang tampak dan tersembunyi. Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu dari Allah. Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai uzur (alasan) dari Allah. Karena itu, Allah mengutus para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian dari Allah. Karena itu, Allah menjanjikan surga."
[Hadis sahih] - [Muttafaq 'alaih]

Allah Maha Pencemburu (Al-Ghayyur) adalah sifat Allah Ta'ala yang ditetapkan berdasarkan dalil sahih, di mana kecemburuan-Nya muncul ketika seorang hamba melakukan perbuatan yang diharamkan atau menduakan-Nya.

Hakikat Cemburu Allah

  • Tidak sama dengan makhluk: Kecemburuan Allah tidak menyerupai rasa cemburu manusia. Sifat ini sempurna dan sesuai dengan keagungan serta kebesaran-Nya.
  • Dasar dalil: Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, "Sesungguhnya Allah cemburu, dan cemburu Allah adalah apabila seseorang melakukan apa yang telah diharamkan-Nya."

Kecemburuan Allah ﷻ yang terbesar adalah saat hamba-hamba-Nya menyekutukan-Nya.

Pantaskah Allah dikatakan punya anak seperti yang disuarakan oleh orang Nashrani? Sungguh perkataan ini adalah perkataan mungkar yang hampir membuat langit terbelah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS. Maryam: 88-92)

*****

Dosa-dosa Menyebabkan Hilangnya Rasa Malu

Di antara hukuman kemaksiatan adalah hilangnya rasa malu yang merupakan sumber kehidupan hati, dan ia adalah asal segala kebaikan. Hilangnya rasa malu berarti hilangnya seluruh kebaikan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ قَالَ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ

‘Rasa malu itu baik seluruhnya.’ Atau ‘Rasa malu itu semuanya baik.’ (HR. Muslim no. 37 hadits dari Imran bin Hushain Radhiyallahu’anhu).

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” رَوَاهُ البُخَارِي.

Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3484, 6120]

Yang dimaksudkan adalah bahwa dosa-dosa melemahkan rasa malu hamba, sampai-sampai mungkin ia terlepas darinya sama sekali. Bahkan mungkin ia tidak terpengaruh dengan pengetahuan orang tentang keburukan keadaannya dan tidak peduli mereka mengetahuinya. Bahkan banyak di antara mereka yang menceritakan keadaannya dan keburukan apa yang ia lakukan. Yang mendorongnya untuk hal itu adalah terlepasnya ia dari rasa malu. Jika hamba telah sampai pada keadaan ini, maka tidak ada lagi harapan untuk perbaikannya.

Dan yang paling parah adalah bangga dengan dosa-dosa dan tidak ada rasa malu menceritakannya. Sebagaimana yang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam sabdakan:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Setiap umatku (diharapkan) akan mendapatkan keselamatan (dan ampunan), kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan termasuk bentuk terang-terangan ketika seseorang melakukan sesuatu (dosa) pada malam hari, lalu masuk waktu pagi sedangkan Allâh Azza wa Jalla telah menutupi aib dosanya, namun ia justru mengatakan : wahai fulan, aku telah melakukan (dosa) ini dan itu pada malam tadi. Sungguh, ia telah melalui malamnya dalam keadaan Allâh Azza wa Jalla menutupi aibnya, namun ia masuk waktu pagi dengan menyingkap apa yang telah Allâh Azza wa Jalla tutupi.

HR. al-Bukhâri kitab al-adab bab sitr al-mu’min ala nafsihi no 5721 dan Muslim kitab az-zuhd wa ar-raqâ’iq bab an-nahyu an hatkil insân sitra nafsihi no 2990.

Rasa malu (al-haya') berfungsi sebagai benteng utama yang efektif mencegah seseorang dari perbuatan kemaksiatan dan memotivasi peningkatan kualitas ibadah.

Pengaruh Rasa Malu Terhadap Kemaksiatan

    • Mencegah perbuatan dosa: Seseorang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan merasa selalu diawasi. Hal ini membuatnya berat dan takut untuk melanggar aturan-Nya.
    • Menutup niat berbuat maksiat: Rasa malu membuat seseorang enggan melakukan keburukan, baik ketika di tempat umum maupun saat sendirian.
    • Menghentikan kebiasaan buruk: Jika seseorang terlanjur berbuat salah, rasa malu akan mendorongnya untuk segera bertobat dan berhenti mengulanginya.

    Pengaruh Rasa Malu Terhadap Ibadah

      • Mendorong ketaatan: Malu karena merasa banyak menerima nikmat Allah tetapi kurang beribadah akan memotivasi seseorang untuk lebih rajin beramal saleh.
      • Meningkatkan keikhlasan: Rasa malu membuat seseorang beribadah dengan penuh kesadaran diri sebagai hamba yang butuh kepada Allah.
      • Menjaga konsistensi: Orang yang punya rasa malu akan menjaga amal ibadahnya agar tetap baik dan tidak mudah lalai.

      Poster Ringkasan

      Ringkasa addawadawa malu

                  •┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

                  اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

                  “Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

                  وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

                  • Media
                    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
                    Ebook
                    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
                  • image
                    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
                    image
                    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

                  Share Some Ideas

                  Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
                  Kirim di Sini