Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

#Kajian 11/12: Bahjah Quluubil Abror

بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 12 Syawal 1447 / 1 April 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.



 📖 Hadits ke-8: Pengobatan Was-Was Dalam Iman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهَ، وَلْيَنْتَهِ. وَفِي لَفْظٍ فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ. مُتَّفَقُّ
عَلَيْهِ. وَفِي لَفْظِ لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُونَ: مَنْ خَلَقَ الله؟

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Syaithan senantiasa mendatangi salah seorang dari kalian seraya berkata, Siapakah yang menciptakan ini dan siapa yang menciptakan itu?" Hingga dia berkata, "Siapakah yang menciptakan Allah? Apabila telah sampai seperti itu, hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dan menghentikannya". (HR. Al-Bukhari (no. 3276) dan Muslim (no. 134)).

Dalam lafazh yang lain, “Maka katakanlah: Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 134). Muttafaqun 'alaih.

Dalam Lafazh yang lain, “Manusia akan senantiasa bertanya-tanya hingga mereka mengatakan: Siapakah yang menciptakan Allah ﷻ?" (HR. Muslim no. 130).

📃 Penjelasan:

Hadits ini menunjukkan bahwa syaithan pasti melontarkan pertanyaan yang batil ini, baik berupa bisikan belaka, atau melalui lisan syaithan-syaithan dari kalangan manusia dan dari orang-orang yang mengingkari Allah. Sungguh, hal ini telah terjadi sebagaimana yang beliau khabarkan. Dua perkara tersebut benar-benar telah terjadi (Yaitu bisikan syaithan di dalam hati dan lontaran pertanyaan syaithan dari kalangan manusia). Syaithan senantiasa membisikkan pertanyaan yang batil ini kepada seseorang yang tidak memiliki bashirah (pengetahuan). Dan orang yang mengingkari Allah pun demikian, senantiasa melontarkan syubhat (perkara yang masih samar) ini yang merupakan syubhat paling batil. Mereka berbicara tentang berbagi sebab akibat dan tentang pengetahuan alam dengan perkataan lemah yang ma'ruf.

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ telah memberi petunjuk untuk menangkis pertanyaan berbahaya ini dengan tiga perkara, yaitu dengan berhenti, berlindung dari syaithan, dan dengan keimanan.

Cara Pertama dengan berhenti (memikirkannya), karena Allah ﷻ telah menjadikan pikiran dan akal-akal manusia mempunyai batas jangkauan yang telah ditentukan. Apabila seseorang berusaha untuk melampauinya, dia tidak akan mampu mencapainya, karena itu adalah sesuatu yang mustahil. Berusaha untuk melampaui sesuatu yang mustahil merupakan suat kebatilan dan kebodohan. Sedangkan sesuatu yang paling mustahil adalah terus berlanjutnya pertanyaan tersebut pada seeorang yang terpengaruh olehnya dan bagi yang melontarkan pertanyaan tersebut. Karena makhluk-makhluk itu memilki batas permulaan dan batas akhir. Terkadang makhluk itu terus berlanjut dalam banyak perkaranya hingga berujung kepada Allah Dzat Yang telah menciptakan mereka, menciptakan sifat-sifatnya, dan hal-hal yang berhubungan dengan mereka. Allah ﷻ berfirman,

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلْمُنتَهَىٰ

“Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu)". (QS. An-Najm ayat 42).

Sehingga jika akal-akal telah berhenti pada Allah Ta'ala, dia akan berhenti dan terdiam. Karena Allah ﷻ adalah al-Awwal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Dialah al-Akhir yang tidak ada sesuatu pun setelahNya. Maka posisi Allah ﷻ sebagai permulaan, tidak ada yang mendahului-Nya baik dari segi waktu maupun keadaan. Karena Allah ﷻ lah yang menciptakan waktu, keadaan, dan akal yang merupakan faktor pendukung manusia. Lalu bagaimana mungkin suatu akal berusaha untuk terus menerus melontarkan pertanyaan yang batil ini?

Maka kewajiban yang harus dilakukan dalam keadaan seperti ini adalah diam dan berhenti.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hadid Ayat 3:

هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Nabi ﷺ bersabda ketika mengajarkan sebuah doa tidur, yang penggalannya sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ

Ya Allah, Engkau adalah Al-Awwal (Yang pertama), maka tidak ada sesuatupun sebelum-Mu. Engkau adalah Al-Akhir (Yang akhir), maka tidak ada sesuatupun yang sesudah-Mu. Engkau adalah Azh-Zhahir (Yang paling atas), maka tidak ada sesuatupun yang ada di atas-Mu. Dan Engkau adalah Al-Bathin (Yang paling Bathin), maka tidak ada sesuatupun yang lebih lembut/lebih bathin daripada-Mu.

HR. Muslim, Kitab adz-dzikri wa ad-du’a, Bab Maa Yaquulu ‘Inda an-Naum wa Akhdzi al-Madh-ja’. Syarh Nawawi: Kalil Ma’mun Syiha XVII/37-38,hadits no. 6827. Ibnu Katsir juga menukil riwayat senada dari Imam Ahmad. Lihat Tafsir Ibnu Katsir IV/387-388; Al-Hadid/57 : 3

Cara kedua adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah ﷻ dari syaithan. Karena pertanyaan tersebut merupakan salah satu dari bentuk bisikan syaithan yang dilontarkan ke dalam hati-hati manusia agar mereka ragu terhadap keimanan kepada Rabbnya. Oleh karena itu, apabila seorang hamba mendapati hal seperti ini, hendaknya ia meminta perlindungan kepada Allah ﷻ. Barang siapa meminta perlindungan kepada Allah ﷻ dengan jujur dan kuat, Allah ﷻ akan melindunginya dan akan mengusir syaithan darinya serta melemahkan bisikan syaithan yang batil.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Fussilat Ayat 36:

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ نَزْغٌ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dari ‘Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

يا رسولَ اللهِ حالَ الشيطانُ بيني وبين صلاتي وبين قراءتي قال: ذاك شيطانٌ يقالُ له خِنْزَبٌ فإذا أنت حَسَستَه فتعوذ باللهِ منه واتفلْ عن يسارِك ثلاثًا قال: ففعلتُ ذاك، فأذهبه اللهُ عزَّ وجلَّ عني

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menggangguku dalam shalat dan bacaanku, sehingga aku kesulitan. Maka Rasulullah bersabda: ‘Itu adalah setan yang disebut Khanzab. Jika engkau merasakannya, maka mintalah perlindungan kepada Allah dan meludahlah ke arah kiri sebanyak tiga kali.’ Maka aku pun melakukannya, dan Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR. Muslim no. 2203)

Cara ketiga adalah menangkisnya dengan sesuatu yang berlawanan dengannya, yaitu keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena Allah ﷻ dan Rasul-Nya telah mengabarkan bahwa Allah itu adalah al-Awwal yang tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya dan Allah itu Esa dan satu-satunya Dzat yang menciptakan makhluk-makhluk yang terdahulu dan yang akan datang.

Dalam riwayat lain: Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib, dari bapaknya ia berkata,

خَرَجْنَا فِى لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِيُصَلِّىَ لَنَا فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ « أَصَلَّيْتُمْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ « قُلْ ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ قَالَ « (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِى وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ »

“Pada malam hujan lagi gelap gulita kami keluar mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukannya. Beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?” Akan tetapi, sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah.” Akan tetapi, sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah.” Akan tetapi, sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah.” Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah (bacalah surah) QUL HUWALLAHU AHAD (surah Al-Ikhlas) dan  al-mu’awwidzatain (surah Al-Falaq dan An-Naas) ketika sore dan pagi sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akan mencukupkanmu (menjagamu) dari segala keburukan.” (HR. Abu Daud, no. 5082 dan An-Nasai, no. 5428. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Tiga surah ini juga bisa dibaca bebas pada waktu kapan pun.

Keimanan yang benar, jujur, dan yakin akan melawan seluruh hal yang berlawanan dengannya, seperti syubhat-syubhat yang menafikan keimanan. Kebenaran akan menolak kebatilan. Begitu pula keyakinan akan mengalahkan keraguan.

Ketiga perkara yang disebutkan oleh Nabi ﷺ ini akan menghacurkan syubhat ini yang senantiasa dilontarkan golongan orang-orang yang mengingkari Allah ﷻ. Mereka melontarkan syubhat tersebut dengan ungkapan yang bermacam-macam. Maka hal tersebut dilawan dengan berhenti sehingga akan memutuskan rantai kebatilan, dan dengan meminta berlindungan kepada Allah ﷻ dari syaithan yang melontarkan syubhat ini, serta dengan keimanan yang benar sehingga akan melawan segala kebatilan yang bertentangan dengannya, alhamdulillah. Dengan berhenti, maka memutus kejelekan secara langsung. Dengan meminta perlindungan, maka memutus sebab yang mendorong kepada kejelekan, Dan dengan keimanan, berarti berlindung dan berpegang teguh dengan keyakinan yang benar sehingga dapat melawan segala sesuatu yang bertentangan dengannya.

Tiga perkara ini merupakan kumpulan sebab-sebab yang dapat melawan setiap syubhat yang menentang keimanan.

Oleh karena itu, sepantasnya bagi kita untuk menggunakan tiga metode ini dalam melawan hal-hal yang bertentangan dengan iman, seperti syubhat atau perkara yang semisalnya. Seorang hamba hendaknya melawan hal tersebut secara langsung dengan bukti-bukti yang menunjukkan akan kebatilannya. Dan juga dengan menetapkan lawannya yaitu kebenaran yang tidak ada setelahnya itu kesesatan. Selain itu, dengan memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari syaithan yang melemparkan fitnah syubhat dan syahwat pada hati-hati manusia untuk menggoyahkan keimanan mereka dan supaya mereka terjatuh dalam kemaksiatan.

Begitu pula dengan kesabaran dan keyakinan, sehingga seorang hamba akan memperoleh keselamatan dari fitnah syahwat dan syubhat, wallahu huwa al-Muwaffiq al-Hafizh (Dan Allah lah Yang Maha Pemberi Taufik dan Maha Menjaga).

Tambahan catatan:

Was-Was Adalah Godaan Setan

Was-was merupakan salah satu senjata setan untuk membuat seorang hamba gelisah, ragu, dan pada akhirnya lelah dalam beribadah. Inilah penyakit was-was yang Allah ajarkan kepada kita untuk berlindung kepadaNya:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَـٰهِ النَّاسِ (3) مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5)

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (QS. An-Naas: 1–5)

Dalam hadis yang shahih, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا نُودي للصَّلاةِ أدبر الشَّيطانُ له ضُراطٌ حتَّى لا يسمَعَ النِّداءَ فإذا قُضِي النِّداءُ أقبل ، حتَّى إذا ثُوِّب بالصَّلاةِ أدبر ، حتَّى إذا قُضِي التثويبُ أقبل حتَّى يخطُرَ بين المرءِ ونفسِه ، يقولُ : اذكُرْ كذا واذكُرْ كذا لما لم يكُنْ يذكُرُه حتَّى يظلَّ الرَّجلُ إن يدري كم صلَّى

“Apabila azan untuk shalat dikumandangkan, maka setan lari sambil mengeluarkan kentut agar tidak mendengar azan. Setelah azan selesai, ia kembali. Ketika iqamah dikumandangkan, ia kembali lari. Setelah iqamah selesai, ia datang lagi hingga ia membisiki seseorang antara dirinya dan hatinya, seraya berkata: ‘Ingat ini dan ingat itu’, yaitu hal-hal yang sebelumnya tidak ia ingat, sampai-sampai orang itu tidak tahu lagi berapa rakaat yang telah ia shalatkan.” (HR. al-Bukhārī no. 608, Muslim no. 389).

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

إذا عَرَضَ له الوِسواسُ، فيلْجأْ إلى الله – تعالى – في دفعِ شرِّه، وليُعرِضْ عن الفكر في ذلك، ولْيَعلمْ أن هذا الخاطر من وسوسةِ الشيطان، وهو إنما يسعى بالفساد، والإغراء؛ فلْيُعرِضْ عن الإصغاء إلى وسوسته، ولْيُبادرْ إلى قطعِها بالاشتغال بغيرها”

“Jika seseorang mendapatkan waswas (bisikan/gangguan pikiran) dalam shalat, hendaklah ia berlindung kepada Allah Ta‘ala untuk menolak keburukannya, dan berpaling dari memikirkannya. Hendaknya ia menyadari bahwa pikiran tersebut berasal dari bisikan setan, dan setan itu tidak menginginkan kecuali kerusakan dan godaan. Maka janganlah mendengarkan bisikannya, dan segeralah memotongnya dengan menyibukkan diri pada hal lain.” (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim).

Dalam Fatawa Islam no. 248161 (2014/1435) juga terdapat keterangan,

وما تحققت أنه وسوسة فأعرض عنه ولا تلتفت إليه، فإن علاج الوساوس يكون بالإعراض عنها وألا يعيرها الشخص اهتماما، وإياك أن تستجيب له فيما يزينه لك من ترك الصلاة أو غير ذلك من المعاصي، بل داوم على طاعة الله، وابتعد عن معصيته سبحانه

Jika kamu sudah yakin bahwa itu adalah” was-was (bisikan setan), maka abaikan saja dan jangan menoleh kepadanya. Cara mengatasi was-was adalah dengan tidak menanggapinya dan tidak memberinya perhatian. Jangan sekali-kali mengikuti bisikan yang membujukmu untuk meninggalkan shalat atau melakukan maksiat lainnya. Sebaliknya, teruslah dalam ketaatan kepada Allah dan jauhilah segala bentuk kemaksiatan kepada-Nya”.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini