#Kajian 13: Bahjah Quluubil Abror
بسم الله الرحمن الرحيم
📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 19 Syawal 1447 / 8 April 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
📖 Hadits ke-9: Beriman kepada Takdir
عَنْ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ، حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ، أَوِ الْكَيْسِ وَالْعَجْزِ».
[صحيح] - [رواه مسلم] - [صحيح مسلم: 2655]
Dari Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir. Bahkan sampai kelemahan dan kecerdasan, atau kecerdasan dan kelemahan."
HR. Muslim no. 2655.
📃 Penjelasan:
Hadits ini mengandung suatu pokok landasan agung yang termasuk dalam jajaran rukun iman yang enam, yaitu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, yang manis dan yang pahit, yang umum dan yang khusus, yang telah berlalu maupun yang akan datang.
Kelompok-kelompok yang menyimpang dari iman kepada Takdir Allah ﷻ:
- Qadariyah: Mengingkari adanya takdir Allah ﷻ. Allah tidaklah mengetahui dan menetapkan takdir sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, dan meyakini kalau perbuatan makhluk bukan Allah yang menciptakan.
- Jabariyah: Manusia tidak memiliki kehendak dalam menentukan takdirNya. Biasanya seseorang mengatakan perbuatan maksiatnya menyandarkan kepada takdirNya.
Supaya seorang hamba tahu bahwa Ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu. Dan bahwa Allah mengetahui seluruh amalan yang dilakukan seorang hamba, yang baik dan yang buruk.
Kisah Kemunculan Paham Qadariyah
Imam Muslim rahimahullah di awal kitab beliau, Shahih Muslim, meriwayatkan sebuah atsar yang panjang yang mengisahkan kemunculan paham qadariyyah, “Dari Yahya bin Ya’mar, beliau mengatakan, “Orang yang pertama kali berbicara masalah takdir di Bashrah adalah Ma’bad Al Juhani. Aku dan Humaid bin ‘Abdirrahman kemudian pergi berhaji –atau ‘umrah- dan kami mengatakan, “Seandainya kita bertemu salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan mengadukan pendapat mereka tentang takdir tersebut”
Kami pun bertemu dengan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang sedang memasuki masjid. Lalu kami menggandeng beliau, satu dari sisi kanan dan satu dari sisi kiri. Aku menyangka sahabatku menyerahkan pembicaraan kepadaku sehingga akupun berkata kepada Ibnu ‘Umar, “Wahai Abu ‘Abdirrahman (panggilan Ibnu ‘Umar –pen), sungguh di daerah kami ada sekelompok orang yang berpandangan takdir itu tidak ada, dan segala sesuatu itu baru ada ketika terjadinya (tidak tertulis di catatan takdir dan tidak pula diketahui oleh Allah sebelumnya –pen).
Maka Ibnu ‘Umar berkomentar, “Kalau kamu bertemu dengan mereka, beritahukan mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku! Demi Dzat yang Ibnu ‘Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya mereka memiliki emas sebanyak gunung Uhud lantas menginfaqkannya, niscaya Allah tidak akan menerima infaq mereka tersebut sampai mereka mau beriman kepada takdir” (HR. Muslim)
Tahapan dalam mengimani takdir:
1. Al-Ilmu (Mengetahui): Allah pun mengetahui seluruh urusan dan keadaan mereka.
2. Al-Kitabah (Penulisan): Allah menulis segala sesuatu tersebut di Lauhul Mahfuzh.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِى كِتَٰبٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al-Hajj: 70)
3. Kehendak (Al-Masyi'ah): Kemudian Allah menjalankan takdir-takdir ini pada waktunya, sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya yang mencakup segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, serta mencakup juga makhluk-Nya dan perintah-Nya.
Kehendak Allah
Dalam akidah Islam, kehendak Allah (Iradah) terbagi menjadi dua: Kauni dan Syar'i. Kehendak Kauni (Takdir) adalah kehendak mutlak yang pasti terjadi, mencakup segala hal baik/buruk. Kehendak Syar'i adalah ketetapan agama yang dicintai Allah, belum tentu terjadi (tergantung pilihan manusia), serta berkaitan dengan perintah dan ketaatan.
1. Kehendak Kauni (Iradah Kauniyyah/Qadariyyah)
- Definisi: Kehendak Allah terkait ciptaan, takdir, dan kejadian di alam semesta.
- Karakteristik: Pasti terjadi. Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, pasti akan terjadi.
- Cakupan: Meliputi segala sesuatu, baik yang dicintai maupun yang dibenci Allah (misalnya: kekafiran, penyakit, kematian).
- Tujuan: Untuk hikmah tertentu yang dikehendaki Allah.
- Contoh: Allah takdirkan seseorang sakit atau si A menjadi mukmin, si B menjadi kafir.
2. Kehendak Syar'i (Iradah Syar'iyyah/Diniyyah)
- Definisi: Kehendak Allah terkait syariat, perintah, dan agama-Nya.
- Karakteristik: Belum tentu terjadi. Allah mencintai dan memerintahkannya, namun tidak memaksakannya kepada hamba.
- Cakupan: Hanya meliputi hal-hal yang dicintai dan diridhai Allah, seperti iman, ketaatan, dan amal saleh.
- Tujuan: Untuk kemaslahatan manusia, dan Allah memberi pahala bagi yang melaksanakannya.
- Contoh: Allah menghendaki manusia beriman, berbuat baik, dan bertaubat.
4. Al-Khalaq (Penciptaan): Bersamaan dengan itu, di samping Allah menciptakan hamba-hamba-Nya berikut segala perbuatan dan sifat mereka, Allah pun telah memberi mereka kemampuan dan kehendak yang dengannya seseorang bisa melakukan sesuatu sesuai pilihannya, Allah tidak memaksa mereka. Dia lah yang telah menciptakan kemampuan mereka dan kehendak mereka.
Sedangkan Sang Pencipta sebab, Dialah pula Sang Pencipta akibatnya. Perbuatan dan perkataan para hamba terjadi karena kemampuan dan kehendak mereka yang keduanya diciptakan oleh Allah untuk mereka. Sebagaimana Allah menciptakan kekuatan mereka yang tampak dan yang tersembunyi, akan tetapi Allah lah yang memudahkan semua itu agar berjalan sesuai takdir yang telah ditentukan-Nya.
Akupun Menghukummu Karena Takdir
Suatu saat, ada seorang pencuri pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab yang hendak dihukum potong tangan, lalu dia beralasan dengan takdir seraya mengatakan, “Saya mencuri begini karena takdir Allah.” Mendengar ucapan pencuri tersebut, Umar pun menjawab, “Dan saya juga akan memotong tanganmu dengan qadha‘ dan takdir Allah.” (Syarh Aqidah Thahawiyyah 1/135 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi)
Kisah ini memberikan faedah kepada kita bahwa takdir tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk melakukan dosa dan maksiat. Itu hanyalah perilaku para zindiq dan orang jahil semata.
Beralasan dengan takdir baru dibenarkan dalam masalah musibah. Dahulu dikatakan:
الْقَدَرُ يُحْتَجُّ بِهِ فِي الْمَصَائِبِ لاَ فِي الْمَعَايِبِ
“Takdir dijadikan alasan dalam musibah bukan untuk maksiat.”
(Lihat secara luas dalam al-Iman bil Qadha‘ wal Qadar hlm. 81–87 oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.)
Maka barang siapa menghadapkan wajahnya dan menujukannya kepada Rabbnya, Allah akan memberikan kepadanya kecintaan terhadap iman dan keimanan tersebut akan menghiasi hatinya, serta Allah akar menjadikannya benci terhadap kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, kemudian Dia akan memasukkannya ke dalam golongan orang yang diberi petunjuk. Maka ketika itu sempurnalah kenikmatan Allah dari segala sisi-Nya.
Dan barang yang menghadapkan wajahnya kepada selain Allah, bahkan dia berloyal kepada musuh Allah, yaitu syaithan, niscaya Allah tidak akan memberinya kemudahan dalam perkara-perkara ini. Bahkan Allah palingkan dia kepada perkara yang dia sukai, Allah akan menghinakannya dan akan menyandarkan segala urusannya kepada dirinya sendiri. Maka dia pun akan tersesat dan menyimpang lalu dia tidak akan mempunyai alasan di hadapan Allah. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikannya seluruh sebab yang dengannya dia mampu untuk mencapai hidayah. Akan tetapi, dia lebih memilih kesesatan daripada petunjuk. Maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri.
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم