Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

#Kajian 6: Bahjah Quluubil Abror

بسم الله الرحمن الرحيم

📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, 13 Rajab 1447  / 31 Desember 2025
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
📖 | Daftar Isi:



Bahjah Qulubil Abrar: Hadits Ke-3 | Agama Adalah Nasihat: Ketulusan kepada Allah, Pemimpin, dan Sesama Muslim

 

Muqaddimah

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة.

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba'du.

Kita melanjutkan pembahasan kitab Bahjah Qulub al-Abrar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di رحمه الله. Pada pertemuan ini, kita membahas hadis ketiga tentang kedudukan nasihat dalam agama, yaitu sabda Nabi ﷺ:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.”

Hadis ini sangat ringkas, tetapi mengandung makna yang luas. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang hak Allah, hak kitab-Nya, hak Rasul-Nya, hak para pemimpin kaum muslimin, serta hak kaum muslimin secara umum.

1. Kedudukan Nasihat dalam Agama

Rasulullah ﷺ mengulangi sabdanya, ad-din an-nashihah, sebanyak tiga kali. Pengulangan ini menunjukkan betapa pentingnya nasihat dalam kehidupan beragama.

Agama tentu tidak hanya terdiri atas nasihat. Ada akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya. Namun, Nabi ﷺ menyebut agama sebagai nasihat untuk menegaskan kedudukannya yang sangat penting.

Hal ini serupa dengan sabda beliau bahwa doa adalah ibadah. Ibadah tidak terbatas pada doa, tetapi doa memiliki kedudukan yang sangat agung di antara berbagai bentuk ibadah.

Dalil hadits

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ». قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ».

Artinya:

Dari Tamim ad-Dari رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum.”

Sumber: Shahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 55.

Hadis ini menjadi dasar pembahasan kita. Nasihat dalam hadis tersebut bukan sekadar memberikan wejangan atau menegur orang lain. Maknanya lebih luas, yaitu ketulusan, pemurnian sikap, dan pelaksanaan hak-hak pihak yang disebutkan dalam hadis.

2. Nasihat kepada Allah

Ketika Rasulullah ﷺ menyebutkan nasihat untuk Allah, bukan berarti Allah membutuhkan nasihat dari makhluk-Nya. Allah Mahakaya dan Mahasempurna. Tidak ada kekurangan pada diri-Nya yang perlu diperbaiki oleh manusia.

Dalam konteks hadis ini, nasihat kepada Allah bermakna memurnikan agama untuk-Nya, mengikhlaskan ibadah, serta mengimani Allah sesuai dengan apa yang Dia kabarkan tentang diri-Nya melalui wahyu.

Ketulusan ini mencakup pengakuan terhadap tiga pokok pembahasan tauhid:

  1. Tauhid rububiyah, yaitu mengimani bahwa Allah satu-satunya Rabb, Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh alam.
  2. Tauhid uluhiyah, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
  3. Tauhid asma wa sifat, yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih, sesuai dengan keagungan-Nya.

Dengan demikian, nasihat kepada Allah diwujudkan dengan memurnikan keyakinan dan ibadah hanya kepada-Nya, menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta menjadikan keridaan-Nya sebagai tujuan dalam beragama.

3. Nasihat kepada Kitab Allah

Nasihat kepada kitab Allah, terutama Al-Qur'an, diwujudkan dengan memuliakannya, mengimani bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah, membacanya, mempelajari maknanya, mengamalkan petunjuknya, dan menjadikannya pedoman kehidupan.

Ketulusan kepada Al-Qur'an tidak cukup hanya dengan membacanya. Seorang muslim hendaknya berusaha memahami kandungannya dan mengikuti petunjuk yang dibawanya.

Apabila Al-Qur'an memerintahkan suatu kebaikan, ia berusaha melaksanakannya. Apabila Al-Qur'an melarang suatu keburukan, ia berusaha meninggalkannya. Ia juga menyampaikan ajaran Al-Qur'an dengan ilmu dan cara yang benar.

4. Nasihat kepada Rasulullah ﷺ

Nasihat kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dengan mencintai beliau, membenarkan berita yang beliau sampaikan, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, serta mengikuti petunjuk beliau.

Kecintaan kepada Nabi ﷺ harus didahulukan daripada kecintaan kepada diri sendiri dan manusia lainnya apabila terjadi pertentangan antara keinginan pribadi dan petunjuk beliau.

Dalil tentang kesempurnaan iman

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ».

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”

Sumber: Shahih al-Bukhari, hadis no. 15; Shahih Muslim, hadis no. 44. Penomoran dapat berbeda menurut edisi.

Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar pengakuan lisan. Kecintaan itu harus tampak dalam kesungguhan mengikuti ajaran beliau, baik dalam akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlak.

Pembahasan pokok-pokok agama berkaitan dengan usuluddin, terutama akidah. Adapun cabang-cabang agama mencakup fikih dan berbagai persoalan amaliah. Dalam seluruh bidang tersebut, seorang muslim hendaknya menjadikan petunjuk Rasulullah ﷺ sebagai pedoman.

5. Nasihat kepada Para Pemimpin Kaum Muslimin

Bagian berikutnya adalah nasihat kepada a'immat al-muslimin, yakni para pemimpin kaum muslimin. Maknanya adalah bersikap tulus terhadap mereka, mengharapkan kebaikan bagi mereka, menyampaikan nasihat yang bermanfaat, dan membantu mereka melaksanakan tanggung jawab dengan benar.

Cakupan pemimpin dapat meliputi pemimpin tertinggi negara, pejabat pemerintahan, hakim, serta orang-orang yang diberi kewenangan mengurus urusan masyarakat pada tingkat yang berbeda-beda.

Dalam pembahasan ini, ketaatan kepada pemimpin harus dipahami bersama dalil-dalil syariat. Ketaatan bukan berarti membenarkan semua tindakan pemimpin atau menaati perintah yang bertentangan dengan perintah Allah.

Ketaatan hanya dalam perkara yang makruf

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ».

“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang makruf.”

Sumber: Shahih al-Bukhari, hadis no. 7257; Shahih Muslim, hadis no. 1840.

Hadis ini menjadi prinsip penting dalam memahami hubungan antara rakyat dan pemimpin. Perintah yang makruf wajib ditaati sesuai ketentuan syariat, sedangkan perintah untuk bermaksiat tidak boleh ditaati.

Tetap menaati pemimpin dalam perkara yang makruf

Dalam kajian disebutkan pula hadis dari 'Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه tentang kewajiban mendengar dan taat.

عَلَيْكُمْ بِالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ.

Artinya:

“Hendaklah kalian mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah.”

Rujukan: Diriwayatkan dalam sejumlah kitab hadis dalam redaksi yang berdekatan, di antaranya Sunan at-Tirmidzi, hadis no. 2676 dalam penomoran yang umum digunakan. Redaksi lengkap dan penomoran perlu dicocokkan dengan edisi kitab yang dipakai.

Hadis tersebut dijelaskan dalam kajian sebagai peringatan agar kaum muslimin tidak menjadikan ketidaksukaan pribadi terhadap pemimpin sebagai alasan untuk meninggalkan prinsip ketaatan dalam perkara yang makruf.

Ketaatan kepada pemimpin tidak berarti menyetujui kezaliman, membenarkan kemaksiatan, atau meninggalkan kewajiban menasihati. Kewajiban-kewajiban tersebut perlu dipahami secara bersamaan dengan seluruh dalil yang berkaitan.

Menghadapi pemimpin yang melakukan kezaliman

Dalam kehidupan bermasyarakat, bisa terjadi seorang pemimpin melakukan kesalahan, berlaku tidak adil, atau mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan petunjuk agama. Dalam keadaan demikian, seorang muslim perlu memahami dalil-dalil tentang ketaatan, kesabaran, nasihat, dan larangan melakukan kemaksiatan secara menyeluruh.

Di antara hadis yang dibahas dalam kajian adalah riwayat Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه mengenai munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا بِشَرٍّ، فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ، فَنَحْنُ فِيهِ، فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قُلْتُ: هَلْ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قُلْتُ: هَلْ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ».

Artinya secara ringkas:

Hudzaifah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai keadaan baik dan buruk yang akan terjadi setelah masa beliau. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa akan ada berbagai keadaan dan pemimpin setelah beliau, sehingga kaum muslimin perlu berpegang pada petunjuk agama ketika menghadapi fitnah.

Sumber: Shahih al-Bukhari, hadis no. 3606; Shahih Muslim, hadis no. 1847.

Dalam riwayat yang sama terdapat penjelasan lebih lanjut tentang para penyeru yang menyeru ke pintu-pintu neraka. Hadis ini perlu dibaca secara utuh agar penjelasannya tidak dilepaskan dari konteks pertanyaan Hudzaifah.

Inti yang ditekankan dalam kajian adalah bahwa persoalan pemimpin tidak boleh disikapi semata-mata dengan luapan emosi. Seorang muslim hendaknya berpegang pada dalil, mempertimbangkan maslahat dan mudarat, serta tidak melampaui batas syariat.

6. Menyampaikan Nasihat kepada Pemimpin dengan Cara yang Tepat

Salah satu pokok pembahasan kajian adalah pentingnya memperhatikan cara menyampaikan nasihat. Nasihat yang benar hendaknya bertujuan memperbaiki keadaan, bukan mempermalukan orang yang dinasihati atau sekadar menunjukkan kesalahan mereka kepada masyarakat.

Dalam transkrip, pemateri menekankan tiga hal:

  1. Tidak menjadikan penyebaran aib sebagai tujuan nasihat. Menyampaikan kritik dan memperingatkan masyarakat dari kezaliman merupakan persoalan yang memiliki ketentuan tersendiri. Karena itu, tindakan tersebut tidak boleh serta-merta disamakan dengan nasihat pribadi ataupun dinilai tanpa melihat dalil, keadaan, dan maslahatnya.
  2. Tidak menggantungkan kewajiban nasihat pada penerimaan orang yang dinasihati. Seseorang bertanggung jawab menyampaikan nasihat yang benar dengan cara yang tepat. Ia tidak dapat memaksa orang lain untuk menerimanya.
  3. Memperhatikan cara, tempat, dan keadaan ketika memberikan nasihat. Nasihat yang disampaikan dengan bijaksana diharapkan lebih mudah diterima dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Dalil tentang nasihat kepada pemegang kekuasaan

عَنْ عِيَاضِ بْنِ غَنْمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ لِهِشَامِ بْنِ حَكِيمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «أَلَمْ تَسْمَعْ بِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فِي أَمْرٍ، فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ».

Diriwayatkan dari Iyadh bin Ghanm رضي الله عنه bahwa ia berkata kepada Hisyam bin Hakim رضي الله عنه, “Tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah ﷺ, ‘Barang siapa hendak menasihati pemegang kekuasaan dalam suatu perkara, janganlah ia menyampaikannya secara terang-terangan. Hendaklah ia menggandeng tangannya dan berbicara dengannya secara pribadi. Jika nasihat itu diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak, ia telah menunaikan kewajibannya.’”

Rujukan: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad dan Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah. Syaikh al-Albani menilainya sahih berdasarkan jalur-jalurnya dalam Zhilal al-Jannah fi Takhrij as-Sunnah, no. 1096–1097, menurut penomoran edisi yang dirujuk.

Catatan: penilaian hadis ini memiliki pembahasan di kalangan ahli hadis. Karena itu, ketika mengutipnya dalam artikel ilmiah, sebaiknya disebutkan sumber dan penilaian ulama hadisnya, bukan hanya mencantumkan redaksinya.

Hadis tersebut digunakan dalam kajian untuk menjelaskan keutamaan menasihati secara pribadi. Namun, penerapan prinsip ini pada setiap keadaan memerlukan pemahaman yang menyeluruh. Tidak semua bentuk kritik, pengaduan, kesaksian, atau peringatan publik memiliki hukum yang sama. Masing-masing harus ditimbang berdasarkan dalil dan keadaan yang melatarbelakanginya.

Nasihat hendaknya disampaikan dengan ketulusan, ilmu, dan harapan akan perbaikan. Jika nasihat belum diterima, seseorang tidak boleh serta-merta menganggap bahwa kewajibannya telah gugur dalam seluruh keadaan; ia tetap perlu memperhatikan kewajiban lain yang mungkin berlaku.

7. Nasihat kepada Kaum Muslimin Secara Umum

Bagian terakhir dari hadis adalah nasihat kepada kaum muslimin secara umum. Maknanya adalah menginginkan kebaikan bagi saudara sesama muslim sebagaimana seseorang menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri.

Seorang muslim tidak semestinya merasa senang ketika saudaranya tertimpa keburukan. Ia berusaha membantu, mengingatkan, dan memberikan arahan sesuai dengan kemampuannya.

Dalil tentang mencintai kebaikan bagi saudara

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ».

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.”

Sumber: Shahih al-Bukhari, hadis no. 13; Shahih Muslim, hadis no. 45.

Hadis ini merupakan landasan penting dalam membangun hubungan sesama muslim. Jika kita menginginkan keselamatan, kebaikan, dan keberhasilan bagi diri sendiri, hendaknya kita juga menginginkan hal yang sama bagi saudara kita.

Sikap tersebut tidak hanya berlaku dalam perkara ibadah dan akhirat, tetapi juga dalam urusan kehidupan sehari-hari, termasuk perdagangan, pekerjaan, dan hubungan sosial.

8. Kaum Mukminin Saling Menguatkan

Rasulullah ﷺ menggambarkan hubungan antarsesama mukmin seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan.

عَنِ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا».

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian bagiannya menguatkan bagian yang lain.”

Sumber: Shahih al-Bukhari, hadis no. 481; Shahih Muslim, hadis no. 2585.

Sebagaimana sebuah bangunan membutuhkan banyak bagian yang saling menopang, kaum muslimin juga membutuhkan sikap saling membantu, menasihati, dan menguatkan dalam kebaikan.

Dalam kajian ini juga dinukil penjelasan yang dinisbatkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang hubungan seorang muslim dengan muslim lainnya yang diumpamakan seperti tangan dan mata. Ketika tangan terluka, mata dapat mengeluarkan air mata; ketika mata menangis, tangan mengusap air matanya. Perumpamaan tersebut menggambarkan sikap saling merasakan kesulitan dan saling membantu.

Redaksi Arab persis dan lokasi kitab untuk nukilan perumpamaan ini belum dapat dipastikan dari transkrip yang tersedia. Karena itu, nukilan tersebut sebaiknya tidak dicetak sebagai kutipan verbatim Ibnu Taimiyah sebelum sumber primernya ditemukan.

9. Amar Makruf Nahi Mungkar Harus Dilandasi Kasih Sayang

Menegakkan amar makruf nahi mungkar merupakan bagian dari ketulusan kepada sesama muslim. Akan tetapi, pelaksanaannya perlu dilandasi keinginan agar orang yang dinasihati memperoleh kebaikan, bukan keinginan untuk mempermalukan atau merendahkannya.

Allah Ta'ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”

Sumber: Al-Qur'an, Surah At-Taubah [9]: 71.

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan kaum mukminin dibangun di atas sikap saling menolong dan kepedulian terhadap kebaikan. Amar makruf nahi mungkar hendaknya dilakukan sebagai wujud kasih sayang dan ketulusan, dengan memperhatikan ilmu, kemampuan, serta cara yang sesuai dengan syariat.

Orang yang sungguh-sungguh menginginkan kebaikan bagi saudaranya akan berusaha memilih cara yang paling bermanfaat. Ia tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai kesempatan untuk mencaci atau menghina.

Pemateri mengibaratkannya dengan seorang dokter yang menangani pasien. Dokter yang baik berusaha mencari cara terbaik untuk mengobati penyakit pasiennya. Demikian pula orang yang menasihati saudaranya: ia berusaha menemukan cara yang tepat agar kesalahan itu dapat diperbaiki.

10. Kisah Umar bin Khattab dan Nasihat kepada Pelaku Maksiat

Dalam kajian disampaikan kisah tentang seorang sahabat yang dahulu sering mengunjungi Umar bin Khattab رضي الله عنه. Ketika sahabat tersebut tidak lagi terlihat, Umar mencari tahu keadaannya. Ia kemudian diberi kabar bahwa orang tersebut telah terjerumus dalam kebiasaan meminum khamar.

Umar tidak langsung menyebarkan keburukannya. Beliau justru mengirimkan surat yang berisi nasihat dan mengingatkannya kepada rahmat Allah serta ancaman-Nya.

Di dalam surat tersebut, Umar mengutip firman Allah Ta'ala:

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Yang mengampuni dosa dan menerima tobat, yang keras hukuman-Nya, yang memiliki karunia. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali.”

Sumber: Al-Qur'an, Surah Ghafir [40]: 3.

Ayat ini menggabungkan penyebutan ampunan, penerimaan tobat, kerasnya hukuman, dan luasnya karunia Allah. Seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, tetapi juga tidak boleh merasa aman dari hukuman-Nya.

Dalam kisah yang disampaikan pemateri, surat itu membuat orang tersebut merenungkan keadaannya dan akhirnya kembali bertobat. Umar pun merasa gembira atas kembalinya orang tersebut kepada kebaikan.

Catatan sumber: Kisah surat Umar ini disampaikan dalam transkrip kajian, tetapi rujukan primer yang memuat sanad dan redaksi lengkapnya tidak disebutkan. Karena itu, kisah tersebut perlu diverifikasi sebelum dinyatakan sebagai riwayat yang sahih dengan redaksi persis.

Pelajaran yang ditekankan ialah bahwa nasihat yang baik berusaha membuka pintu perbaikan. Orang yang menasihati tidak hanya menunjukkan kesalahan, tetapi juga membantu saudaranya menemukan jalan untuk memperbaiki diri.

11. Nasihat Tidak Terbatas pada Urusan Akhirat

Nasihat kepada sesama muslim juga mencakup perkara dunia. Dalam kajian disebutkan contoh seorang sahabat yang hendak membeli seekor kuda. Ketika mengetahui bahwa harga yang dibayarkan terlalu rendah dibandingkan nilai yang semestinya, ia berusaha agar transaksi tersebut berlangsung dengan adil.

Sahabat yang dimaksud dalam riwayat ini adalah Jarir bin Abdullah al-Bajali رضي الله عنه, bukan Jabir bin Abdullah.

Jarir bin Abdullah رضي الله عنه berkata:

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.

“Aku berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat yang tulus kepada setiap muslim.”

Sumber: Shahih al-Bukhari, hadis no. 57; Shahih Muslim, hadis no. 56, menurut penomoran yang umum digunakan.

Hadis ini menunjukkan luasnya makna nasihat. Ketulusan kepada sesama muslim bukan hanya dengan mengingatkan mereka agar beribadah, melainkan juga dengan membantu mereka terhindar dari kerugian, penipuan, dan kesalahan dalam urusan dunia.

Dalam perdagangan, misalnya, orang yang lebih memahami suatu bidang hendaknya memberikan penjelasan yang benar kepada orang yang belum memahami bidang tersebut. Nasihat semacam ini dapat membantu orang lain mengambil keputusan dengan lebih baik.

Karena itu, ketika ada saudara yang memberikan nasihat dengan tulus, hendaknya kita bersyukur kepada Allah. Nasihat tersebut bisa menjadi jalan bagi kita untuk mengetahui kesalahan yang sebelumnya tidak kita sadari.

12. Menerima Nasihat Merupakan Sikap yang Terpuji

Nasihat tidak hanya menuntut ketulusan dari orang yang menyampaikannya, tetapi juga kelapangan hati dari orang yang menerimanya.

Apabila seseorang mengingatkan kita tentang suatu kesalahan, hendaknya kita tidak langsung marah atau merasa direndahkan. Kita perlu memeriksa kebenaran nasihat tersebut. Jika benar, kita berusaha memperbaiki diri.

Allah Ta'ala berfirman:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.”

Sumber: Al-Qur'an, Surah Adz-Dzariyat [51]: 55.

Ayat ini menunjukkan manfaat peringatan bagi orang-orang beriman. Nasihat yang benar dapat membantu seorang muslim tetap istiqamah dalam ketaatan dan memperbaiki kekurangan dirinya.

Seseorang yang menerima nasihat tidak harus menganggap dirinya sama sekali tidak memiliki ketakwaan. Nasihat justru dapat menjadi pengingat agar ia terus menjaga ketakwaan dan tidak lalai.

13. Waspada terhadap Kesombongan yang Menghalangi Nasihat

Salah satu bahaya dalam kehidupan beragama adalah menolak nasihat karena merasa diri lebih tinggi, lebih berilmu, atau tidak ingin dikritik.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah,’ bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka cukuplah baginya neraka Jahanam. Sungguh, Jahanam itu tempat tinggal yang terburuk.”

Sumber: Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah [2]: 206.

Ayat ini menggambarkan orang yang ketika diingatkan agar bertakwa, justru dikuasai kesombongan sehingga semakin mempertahankan kesalahannya.

Dalam kajian, pemateri juga menukil perkataan Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه tentang orang yang menjawab nasihat dengan kalimat, “Urus dirimu sendiri.” Namun, redaksi Arab lengkap dan sumber primer perkataan tersebut tidak dicantumkan dalam transkrip. Oleh sebab itu, atribusi dan penomoran sumbernya perlu diperiksa sebelum dicantumkan sebagai kutipan pasti.

Pelajarannya, jangan sampai nasihat yang benar dibalas dengan kesombongan atau ucapan yang merendahkan orang yang mengingatkan. Apabila seseorang berkata, “Bertakwalah kepada Allah,” kita dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk berdoa dan memperbaiki diri.

Di antara doa yang baik untuk memohon ketakwaan adalah:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.

“Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik Zat yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Tuannya.”

Sumber: Doa Nabi ﷺ yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, hadis no. 2722.

Doa ini lebih kuat rujukannya daripada redaksi doa “Allahumma-j'alni minal muttaqin” yang disebut secara spontan dalam transkrip. Keduanya dapat dibedakan: redaksi pertama memiliki rujukan hadis sahih yang jelas, sedangkan redaksi kedua dapat dipakai sebagai doa dengan makna yang baik, tanpa harus dinisbatkan sebagai hadis Nabi ﷺ.

14. Nasihat Mencakup Seluruh Hak dalam Agama

Dari seluruh pembahasan ini, kita memahami bahwa nasihat merupakan prinsip yang mencakup banyak sisi kehidupan beragama.

Nasihat kepada Allah diwujudkan dengan keikhlasan dan pemurnian tauhid. Nasihat kepada kitab Allah diwujudkan dengan mengimani, membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur'an. Nasihat kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dengan mencintai serta mengikuti petunjuk beliau.

Nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin diwujudkan dengan menginginkan kebaikan bagi mereka, menaati mereka dalam perkara yang makruf, serta memberikan nasihat dengan cara yang sesuai dengan syariat. Adapun nasihat kepada kaum muslimin secara umum diwujudkan dengan mencintai kebaikan bagi mereka, membantu mereka, serta mengingatkan mereka dengan cara yang baik.

Hadis ini juga memperlihatkan salah satu keistimewaan sabda Nabi ﷺ, yaitu jawami' al-kalim: ungkapan yang singkat, tetapi mengandung makna yang sangat luas.

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya tidak memahami nasihat hanya sebagai kegiatan menegur atau mengoreksi orang lain. Nasihat adalah ketulusan yang diwujudkan dalam keyakinan, ibadah, ketaatan, hubungan dengan pemimpin, dan interaksi dengan sesama manusia.

Penutup

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tulus dalam beragama, mencintai kebaikan bagi saudara-saudara kita, lapang dada ketika menerima nasihat, dan bijaksana ketika menyampaikannya.

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, amal saleh, keteguhan dalam ketakwaan, serta akhir kehidupan yang baik.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين. والله أعلم بالصواب.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini