Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

#Kajian 17: Bahjah Quluubil Abror

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

📘 | Materi : Kitab Bahjatu Qulūbil abrār wa Quratu ‘uyūnil Akhyār fī Syarhi Jawāmi’ al Akhbār - Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa'di Rahimahumullah
🎙| Bersama: Ustadz Abu Faza Ridwan Lc., M.H Hafidzahullah
🗓 | Hari : Rabu, Selasa, 17 Dzulhijjah 1447 / 3 Juni 2026
🕰 | Waktu: Ba'da Maghrib - Isya'
🕌 | Tempat: Masjid Al-Ikhlas Adi Sucipto.
📖| Daftar Isi:



 📖 Hadits ke-12: Orang Mukmin yang Kuat

Pendahuluan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Dengan nikmat, taufik, dan hidayah-Nya, kita dapat melaksanakan berbagai amal saleh, di antaranya salat berjamaah. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Dalam kajian ini, pembahasan berlanjut pada hadis ke-12 dari kitab Jawaami‘ul Akhbar karya Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, dengan penjelasan beliau dalam Bahjah Qulub al-Abrar. Hadis ini membahas keutamaan mukmin yang kuat, pentingnya mengejar perkara yang bermanfaat, memohon pertolongan kepada Allah, dan tidak menyerah pada kelemahan.

Teks hadis dan terjemahannya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ»

Artinya: Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya dahulu aku melakukan ini, tentu akan terjadi begini dan begitu.’ Akan tetapi, ucapkanlah, ‘Allah telah menakdirkannya dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan,’ sebab ucapan ‘seandainya’ membuka jalan bagi setan.”

Sumber: Shahih Muslim, Kitab al-Qadar, hadis no. 2664. Redaksi Arab di atas mengikuti riwayat Shahih Muslim.

1. Makna mukmin yang kuat

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, hadis ini langsung menegaskan, “Pada masing-masing terdapat kebaikan.” Karena itu, keutamaan mukmin yang kuat tidak boleh dipahami sebagai celaan mutlak terhadap mukmin yang lemah. Kekuatan yang dimaksud mencakup kekuatan iman, tekad, kemauan untuk taat, serta kemampuan memanfaatkan sebab-sebab kebaikan dalam urusan agama dan dunia.

Kecintaan Allah memiliki tingkatan sesuai dengan apa yang Allah cintai dan amal yang dilakukan hamba. Seorang hamba hendaknya berusaha meningkatkan iman dan amalnya, tanpa meremehkan orang lain yang belum mencapai tingkat yang sama.

Dalam penjelasan akidah, pemateri mengingatkan bahwa keyakinan seorang muslim harus dibangun di atas Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, dan pemahaman para sahabat. Di antara sifat yang diberitakan dalam wahyu adalah bahwa Allah mencintai hamba dan amal tertentu. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222).

Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan Allah disebutkan dalam wahyu. Sifat-sifat Allah ditetapkan sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunnah, dengan tetap menyucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk. Pembahasan rinci tentang perbedaan pendekatan teologis yang disinggung pemateri tidak diperluas di sini agar penyuntingan tetap berfokus pada pokok-pokok yang disampaikan dalam kajian.

2. Iman meliputi keyakinan, ucapan, dan amal

Hadis ini juga menjadi pengingat bahwa iman bukan hanya pengakuan lisan. Iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ

Artinya: “Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘la ilaha illallah’, cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu merupakan cabang iman.”

Sumber: Shahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 35 (penomoran yang umum digunakan; penomoran dapat berbeda menurut edisi).

Dengan demikian, iman mencakup amalan batin, seperti rasa malu dan keyakinan, serta amalan lahir, seperti mengucapkan kalimat tauhid dan menyingkirkan gangguan dari jalan. Kesempurnaan iman diraih dengan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan mengajak orang lain kepada kebenaran serta kesabaran. Hal ini sejalan dengan kandungan Surah al-‘Ashr.

3. Iman bertambah dan berkurang: pentingnya muhasabah

Keimanan seseorang tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Ada saat ketika hati sangat tersentuh oleh nasihat dan peringatan akhirat, tetapi ketika kembali kepada rutinitas keluarga dan pekerjaan, perasaan itu tidak sekuat sebelumnya. Perubahan keadaan hati semacam ini tidak dengan sendirinya berarti seseorang munafik. Dalam hadis tentang Hanzhalah, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia memiliki keadaan yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda.

يَا حَنْظَلَةُ، سَاعَةً وَسَاعَةً

Artinya: “Wahai Hanzhalah, ada waktunya begini dan ada waktunya begitu.”

Sumber kisah: Shahih Muslim, hadis no. 2750 dalam penomoran yang tercantum pada sejumlah edisi. Makna hadis ini bukan pembenaran untuk lalai, melainkan penjelasan bahwa keadaan hati manusia mengalami perubahan; seorang muslim tetap harus menjaga kewajiban dan terus memperbarui iman.

Karena iman dapat naik dan turun, muhasabah perlu dilakukan secara rutin. Waktu yang tenang—misalnya ketika berjalan menuju masjid, menunggu iqamah, atau sebelum tidur—dapat dimanfaatkan untuk memeriksa diri: apakah ada kewajiban yang ditinggalkan, dosa yang belum ditaubati, atau kebencian kepada sesama muslim yang perlu dihapuskan?

Dalam kajian disebutkan contoh seorang lelaki Anshar yang dikenal karena tidak menyimpan kedengkian kepada sesama muslim. Pelajaran yang ditekankan ialah pentingnya membersihkan hati sebelum tidur. Pemateri juga menyebut teladan para ulama yang berusaha agar aktivitas mereka dilakukan dengan tujuan yang jelas dan niat yang benar. Intinya, muhasabah tidak harus menunggu waktu khusus; ia dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan.

4. Tetap adil: “pada masing-masing terdapat kebaikan”

Kalimat وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ (wa fī kullin khair, “dan pada masing-masing terdapat kebaikan”) mengajarkan keadilan dalam menilai orang. Ketika seseorang memiliki kekurangan, kekurangan itu tidak otomatis menghapus seluruh kebaikannya. Sebaliknya, kelebihan seseorang tidak membuatnya bebas dari kritik yang benar.

Prinsip ini berlaku dalam keluarga, pergaulan, dan kehidupan bermasyarakat. Orang tua, misalnya, tidak boleh menganggap anak yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja sebagai anak yang tidak memiliki kebaikan. Setiap anak mempunyai sisi kebaikan yang perlu dikenali dan dibina. Demikian pula ketika menilai pasangan, teman, atau pemimpin: penilaian harus adil, tidak berlebihan dalam memuji dan tidak zalim ketika mencela.

Allah berfirman tentang dua kelompok kaum mukmin yang berperang:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

Artinya: “Jika ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, damaikanlah antara keduanya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 9).

Ayat ini menyebut kedua kelompok sebagai orang-orang mukmin, meskipun mereka melakukan kesalahan besar berupa peperangan. Ini menunjukkan pentingnya menempatkan hukum sesuai dalil dan tidak menghapus seluruh status atau kebaikan seseorang hanya karena suatu dosa.

Allah juga berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Artinya: “Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 19).

Ayat ini mengingatkan bahwa kebencian atau ketidaksukaan terhadap satu sisi seseorang tidak seharusnya membuat kita menutup mata dari kebaikan yang lain.

5. Tiga tingkatan manusia dalam beramal

Pemateri mengaitkan pembahasan tentang tingkatan iman dengan firman Allah dalam Surah Fatir ayat 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Artinya: “Kemudian, Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar.” (QS. Fatir [35]: 32).

Dalam penjelasan kajian, tiga golongan tersebut dipaparkan sebagai berikut:

a. As-sābiqūna bil-khairāt

Mereka adalah orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Mereka menunaikan kewajiban, berusaha memperbanyak amalan sunah, dan menjauhi perkara haram serta hal-hal yang tidak bermanfaat. Pemateri mengaitkan keadaan ini dengan sifat zuhud, yakni tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan meninggalkan perkara yang tidak berguna bagi akhirat.

b. Al-muqtashid

Mereka adalah golongan pertengahan yang menjaga amalan wajib dan menjauhi perkara haram. Mereka belum mencapai tingkat orang-orang yang berlomba dalam berbagai amalan sunah, tetapi tetap berada di jalan ketaatan.

c. Azh-zhālimu linafsih

Mereka adalah orang-orang yang mencampurkan amal saleh dengan perbuatan buruk. Seseorang bisa memiliki tauhid dan melakukan amal saleh, tetapi masih terjatuh dalam kemaksiatan. Keadaan ini seharusnya mendorongnya untuk bertobat dan memperbaiki diri, bukan berputus asa dari rahmat Allah.

Pemateri mengingatkan bahwa susunan ayat mendahulukan penyebutan orang yang menzalimi dirinya, lalu golongan pertengahan, dan terakhir orang yang berlomba dalam kebaikan. Ini dapat menjadi pengingat agar orang yang berdosa tidak berputus asa, sementara orang yang banyak beramal tidak merasa ujub dan sombong. Semua kebaikan yang dicapai seorang hamba terjadi dengan izin dan taufik Allah.

6. Bersungguh-sungguh dalam perkara yang bermanfaat

Bagian berikutnya dari hadis adalah perintah Nabi ﷺ: احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ. Seorang muslim diperintahkan untuk melakukan tiga hal: bersungguh-sungguh mengejar manfaat, memohon pertolongan Allah, dan tidak menyerah pada kelemahan.

Perkara yang bermanfaat mencakup urusan agama dan dunia. Dalam urusan agama, contohnya belajar ilmu yang benar, menghafal dan mengulang pelajaran, menjaga salat, serta mengerjakan amal saleh. Dalam urusan dunia, seorang muslim boleh bekerja dan mencari nafkah, selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak melalaikannya dari kewajiban.

Kesungguhan harus disertai ikhtiar. Berdoa tanpa melakukan sebab bukanlah bentuk tawakal yang sempurna; demikian pula mengandalkan kemampuan diri tanpa memohon pertolongan Allah. Hadis ini menggabungkan usaha dan isti‘anah, yaitu meminta pertolongan kepada Allah.

Sebaliknya, kemalasan membuat seseorang kehilangan banyak kesempatan. Seseorang mungkin menunda salat sunah, belajar, menulis, mengulang hafalan, atau menghadiri majelis ilmu dengan alasan akan melakukannya nanti. Jika kebiasaan menunda terus dibiarkan, kesempatan itu dapat berlalu tanpa hasil. Karena itu, jiwa perlu dilatih untuk melakukan kebaikan meskipun pada awalnya terasa berat.

Kesungguhan juga harus diarahkan kepada hal yang benar-benar bermanfaat. Tidak semua kesibukan membawa kebaikan. Seseorang bisa sangat sibuk, tetapi waktunya habis untuk perkara sia-sia dan ia justru mengabaikan ilmu agama, ibadah, keluarga, atau tanggung jawabnya. Dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan seluruhnya; yang perlu dihindari adalah kecintaan berlebihan kepada dunia hingga melalaikan akhirat.

7. Memilih lingkungan yang membantu ketaatan

Salah satu cara menjaga diri dari kesibukan yang sia-sia adalah memilih teman dan lingkungan yang baik. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar bersabar bersama orang-orang yang beribadah kepada-Nya dan mengingat-Nya pada pagi dan petang.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Artinya: “Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28).

Ayat ini mengajarkan agar seseorang menjaga pergaulan dan tidak meninggalkan lingkungan yang mengingatkannya kepada Allah hanya demi mengejar kemewahan dunia. Jika seseorang terus membiarkan dirinya larut dalam kegiatan yang tidak bermanfaat, ia berisiko baru menyadari kerugiannya setelah waktu dan kesempatan berlalu.

Mencari nafkah pun dapat bernilai ibadah apabila dilakukan secara halal, dengan niat yang benar, dan untuk memenuhi tanggung jawab. Karena itu, yang perlu diperbaiki bukan sekadar banyak atau sedikitnya aktivitas, melainkan tujuan, niat, dan manfaat dari aktivitas tersebut.

8. Menyikapi musibah dan takdir Allah

Di akhir hadis, Nabi ﷺ melarang seseorang larut dalam penyesalan dengan ucapan “seandainya” setelah musibah terjadi. Bukan berarti seorang muslim tidak boleh mengevaluasi kesalahan atau mengambil pelajaran dari pengalaman. Yang dilarang ialah penyesalan yang berubah menjadi keberatan terhadap takdir, menyalahkan diri tanpa ujung, atau membuka pintu waswas setan.

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Artinya: “Itulah takdir Allah; apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.” (Bagian dari hadis Shahih Muslim no. 2664).

Setelah melakukan ikhtiar yang benar, seorang muslim menyerahkan hasilnya kepada Allah. Jika hasilnya tidak sesuai harapan, ia menerima takdir, mengambil pelajaran yang diperlukan, lalu melanjutkan amal yang bermanfaat. Sikap ini menyatukan usaha, tawakal, dan penerimaan terhadap ketetapan Allah.

Penutup: pelajaran yang dapat diamalkan

Hadis ini mengarahkan seorang muslim untuk membangun kekuatan iman dan tekad, mengisi hidup dengan ilmu serta amal saleh, dan terus memperbaiki diri. Beberapa pelajaran pentingnya adalah:

  • Berusaha menjadi mukmin yang kuat dalam iman, tekad, dan amal, tanpa merendahkan orang lain.
  • Meyakini bahwa iman mencakup hati, lisan, dan anggota badan; iman dapat bertambah dan berkurang.
  • Membiasakan muhasabah, bertobat, dan membersihkan hati dari dengki serta kebencian.
  • Berlaku adil dalam menilai orang: mengakui kesalahan tanpa menutup mata dari kebaikannya.
  • Mengenali tiga keadaan manusia dalam beramal: berlomba dalam kebaikan, berada di tingkat pertengahan, atau mencampurkan amal baik dengan keburukan.
  • Mengejar perkara yang bermanfaat, mengambil sebab yang benar, memohon pertolongan Allah, dan tidak bermalas-malasan.
  • Menjaga lingkungan pergaulan agar membantu ketaatan dan menjauhkan diri dari kesibukan yang sia-sia.
  • Ketika musibah terjadi, menerima takdir Allah, mengambil pelajaran, dan tidak terjebak dalam penyesalan yang melemahkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengamalkan ilmu yang bermanfaat, memperbaiki iman dan amal, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini