Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃Materi : "Haadzihi 'Aqidatunaa"
✍🏼┃Karya : Abu Umair Majdi bin Arafat Al-Mishri Hafidzahullah
🎙┃Pemateri : Ustadz Mohammad Alif, Lc, M.Pd Hafidzahullah (Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari)
🗓┃Hari & Tanggal : Hari Jum'at, 28 November 2025/ 7 Jumadil Akhir 1447 H
🕰┃Waktu : Ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃Tempat : Masjid Al-Qomar - Jl. Slamet Riyadi No. 414 Rel Bengkong Purwosari, Solo, Jawa Tengah 57142


Inilah Aqidah Kami - Pertemun#4

 Pembahasan yang lalu kita telah membahas:

  1. Beriman kepada Allah ﷻ dalam Tauhid Uluhiyah, Rububiyah dan Asma dan shifat Nya.
  2. Beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya baik secara Mujmal maupun terperinci. Meyakini keberadaan mereka sebagai makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya, senantiasa taat, dan menjalankan tugas-tugas yang telah diperintahkan-Nya. Keyakinan ini mencakup mengetahui hakikat malaikat, nama-nama mereka sesuai apa yang disebut dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah [terperinci], tugas mereka, serta hikmah yang didapat dari mengimaninya, yang akan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berbuat dan lebih taat beribadah.

3. Rukun Iman Ketiga: Beriman kepada Kitab-kitabNya

Kitab-kitab-Nya yang diturunkan Allah dan disebut namanya, seperti Zabur kepada Daud, Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa, Al-Qur'an kepada Muhammad, dan lembaran-lembaran kitab Suci kepada Ibrahim dan Musa, semoga damai dan berkah terlimpahkan kepada mereka semua. Dan bahwa semuanya itu benar-benar dari Allah, mereka datang dengan kebenaran, mengajak manusia untuk menyembah Allah semata, dan untuk menegaskan keesaan-Nya, dan untuk memilih-Nya sebagai tujuan ibadah.

Allah mengutus beberapa rasul dengan kitab-kitab tersebut: kitab-kitab yang Dia turunkan kepada beberapa rasul untuk disampaikan kepada kaum mereka.

Allah ﷻ berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَأَنزَلْنَا ٱلْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلْغَيْبِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِىٌّ عَزِيزٌ

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS. Al-Hadid Ayat 25).

Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya, tetapi kami tidak mengetahui darinya kecuali apa yang disebutkan namanya dalam Al-Qur'an, yang merupakan kitab terakhir—kami tidak menyebutnya, seperti yang dilakukan sebagian orang, "kitab-kitab surgawi" yang dikaitkan dengan langit (samawi) —melainkan, kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Esa kepada para nabi dan Rasul-Nya (Kutub Rabbaniyah). Kitab-kitab terakhir ini adalah Al-Qur'an, Pembeda dan Penuntun kepada Cahaya.

Berikut beberapa nama Al-Qur'an:

مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ

"Membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab-kitab Suci, dan menjadi pembeda atasnya" [Al-Ma'idah : 48].

Al-Qur'an diturunkan sebagai kitab terakhir yang diturunkan dari Allah Yang Maha Esa, membenarkan kitab-kitab sebelumnya karena semuanya menyeru kepada Keesaan Tuhan (Tauhid), dan menjadi pembeda atasnya: artinya, Al-Qur'an menghapus kitab-kitab tersebut, membatalkan hukum-hukum ibadah yang ada di dalamnya, atau menegaskan sebagian dari apa yang ada di dalamnya.

Al-Qur'an adalah wahyu terakhir dari Allah ﷻ, dan kami meyakini bahwa Al-Qur'an benar-benar firman Allah, yang diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai wahyu. Allah benar-benar telah menyampaikannya, dan Jibril mendengarnya dari-Nya, lalu menyampaikannya kepada Muhammad. Allah ﷻ berfirman:

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ٱسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُۥ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُونَ[التوبة: ٦]

Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. [At-Taubah: 6].

Di mana pun ia ditemukan, ia adalah firman Allah, baik yang ditulis oleh juru tulis, yang dihafal oleh penghafal, yang diucapkan oleh pembicara, maupun yang didengar oleh pendengar. Ia adalah firman Allah, yang dibacakan dengan lidah, yang didengar oleh telinga, yang dibacakan oleh pembacanya, dan yang tertulis dalam lembaran-lembaran. Makna yang dimaksud adalah bahwa ia tertulis di mana pun ia ditemukan, Al-Qur'an adalah firman Allah yang kau dengar dengan telingamu, firman Allah yang kau lafalkan dengan lidahmu, firman Allah yang kau lihat dengan matamu, firman Allah yang kau tulis dengan tangan kananmu, firman Allah yang ditulis dengan tinta. Al-Qur'an adalah firman Allah, dan semua hal tersebut makhluk, sementara Al-Qur'an bukan makhluk karena merupakan firman Allah, yang dibacakan dan didengar. Al-Qur'an benar-benar firman Allah. Kami tidak mengatakan, seperti yang dikatakan para penyesat dan Ahlu bid'ah, bahwa inilah makna firman Allah dan bahwa Al-Qur'an bukanlah firman Allah yang sesungguhnya. Kami berkata: Tidak, Al-Qur'an adalah firman Allah ketika kau mengucapkannya, jadi Al-Qur'an adalah firman Allah dan bukan Makhluk.

Barangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur'an itu makhluk, maka ia telah kafir karena ia akan berkata, "قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ" "Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa" [Al-Ikhlas: 1], "ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ" "Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu" [Al-Ikhlas: 2], رَبِّ ٱلنَّاسَ "Tuhan manusia" [An-Nas: 1], مَلِكِ ٱلنَّاسِ "Raja manusia" [An-Nas: 2].

Al-Qur'an terdiri dari tiga puluh juz, tidak boleh ada satu huruf pun yang ditambahkan, dan tidak ada satu huruf pun yang dihilangkan. Inilah Al-Qur'an yang telah dijamin kelestariannya oleh Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kamilah yang memeliharanya. [Al-Hijr: 9]

Penjagaan tersebut ada pada lafadz, huruf dan makna Al-Qur’an. Kalau seandainya siapa saja yang ingin merubah satu huruf saja, pasti akan ada yang meluruskannya. Kalau seandainya siapa saja yang merubahnya pasti akan ketahuan di hadapan manusia, dan akan nempak kesalahan tersebut. Subhanallah, Yang telah menjaga Al-Qur’an.

Demi Allah, tidak ada satu pun kitab yang dihafal pasti akan ditemukan kesalahan, kecuali Al-Qur’an. Sebagaimana perkataan imam Syafi'i Rahimahumullah : Allah ﷻ enggan menjaga keutuhan sesuatu, kecuali Al-Qur’an. Karena manusia pasti bisa lupa dan salah. Mushaf Al-Qur’an, bahkan jika ada kesalahan nomer halaman, pasti akan ada yang mengingatkan meskipun dari anak kecil. Padahal nomer halaman bukan dari Al-Qur'an, inilah untuk menjaga Al-Qur’an.

Al-Qur’an yang merupakan firman Allah terdapat perintah larangan yang harus kita jaga, terdapat kisah yang hendaknya kita benarkan, dan di dalamnya terdapat syariat yang menutup syariat-syariat sebelumnya. Maka, tidak ada satu pun ibadah yang diterima jika bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Dan Allah ﷻ tidak akan ridha, jika ada seseorang membaca kitab sebagai ibadah yang diturunkan kecuali Al-Qur’an.

Maka meskipun membaca hadits qudsi, yang datangnya dari Allah, ia tidak berpahala. Perbedaan hadits qudsi dan Al-Qur'an :

  1. Bahwa lafazh dan makna al-Qur'an berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sedangkan hadits qudsi tidak demikian, alias maknanya berasal dari Allah namun lafazhnya berasal dari nabi.
  2. Bahwa membaca al-Qur'an merupakan ibadah sedangkan hadits qudsi tidak demikian.
  3. Syarat validitas al-Qur`an adalah at-Tawâtur (bersifat mutawatir) sedangkan hadîts qudsi tidak demikian.
  4. Secara sederhana dapat dikatakan, hadits qudsi adalah wahyu Tuhan yang diterima Nabi Muhammad secara langsung, TANPA perantaraan malaikat Jibril. Sehingga tidak ada kata qul (katakanlah) diawal kalimat dan Allah membahasakan diri-Nya dengan sebutan AKU.

Karena Allah ﷻ menurunkan kitab-kitab itu, kepada Nashara dan Yahudi tapi tidak dijaga, hanya Al-Qur'an yang dijanjikan Allah ﷻ untuk menjaganya. Maka, jika ada yang ingin merubahnya pasti akan gagal!

Hikmah Beriman kepada Malaikat:

  1. Kita mengetahui maha besar dan berkuasa Allah ﷻ. Allah ﷻ menciptakan makhluk bermacam-macam manusia dari tanah, jin dari api dan malaikat dari cahaya.
  2. Malaikat memiliki tugas bermacam-macam dan manusia hanya ditugaskan beribadah. Maka ada malaikat yang mencatat amal ibadah kita sebagai pertanggungjawaban apa yang kita ucapkan dan perbuat.

Hikmah beriman kepada Kitab-kitabNya

  1. Meyakini bahwa Allah ﷻ di atas langit, karena Al-Qur'an diturunkan Allah ﷻ.
  2. Al-Qur'an membawa syariat sebagai rujukan dalam beribadah. Itulah syariat yang terkandung dalam Al-Qur'an dan SunnahNya.

4. Rukun Iman Keempat: Beriman kepada Rasul-rasulNya

Ini adalah prinsip keempat dari rukun iman, yaitu bahwa kita beriman bahwa Allah memilih dari makhluk-Nya rasul-rasul dari kalangan manusia yang membawa kabar gembira dan peringatan supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk menentang Allah setelah para rasul.

Allah ﷻ berfirman:

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةٌۢ بَعْدَ ٱلرُّسُلِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [An-Nisa: 165].

Mereka adalah sebaik-baik makhluk pilihan, rasul-rasul yang diutus Allah, rasul yang diutus Allah sebagai perantara antara Allah dan makhluk-Nya. Allah berfirman:

ٱللَّهُ يَصْطَفِى مِنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ ٱلنَّاسِ ۚ

Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; [Al-Hajj: 75].

Dan mereka semua sepakat dalam ajaran mereka untuk menyeru kepada Tauhid dan ibadah kepada Allah, dan menegakkan kemurnian pengesaan-Nya. Allah berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". [Al-Anbiya: 25].

Dan semua rasul, kecuali nabi kita, diutus kepada umat mereka masing-masing, sedangkan nabi kita diutus kepada seluruh manusia. Nabi kita diutus Allah secara global, Allah berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Dan tidaklah Kami utus kamu kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam [Al-Anbiya: 107], sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan.

Bersambung pada pertemuan selanjuitnya... InshaAllah

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini