Raih Pahala yang Terus Mengalir

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.”
(HR. Muslim nomor. 1893)
Jangan hentikan artikel bermafaat cuma sampai kepada anda, tapi beri kesempatan saudara kita untuk turut membaca dan mengambil manfaat dari artikel itu dengan cara anda share artikel tersebut...

بسم الله الرحمن الرحيم

📚┃Materi : "Haadzihi 'Aqidatunaa"
✍🏼┃Karya : Abu Umair Majdi bin Arafat Al-Mishri Hafidzahullah
🎙┃Pemateri : Ustadz Mohammad Alif, Lc, M.Pd Hafidzahullah (Pengajar Ilmu Syar'i Pondok Pesantren Imam Bukhari)
🗓┃Hari & Tanggal : Hari Jum'at,  23 Januari 2026 M / 4 Sya'ban 1447 H
🕰┃Waktu : Ba'da Maghrib - Isya'
🕌┃Tempat : Masjid Al-Qomar - Jl. Slamet Riyadi No. 414 Rel Bengkong Purwosari, Solo, Jawa Tengah 57142


Inilah Aqidah Kami - Pertemun#7 [Beriman Adanya Syafa'at]

Keyakinan akan syafaat pada Hari Kiamat, bahwa itu benar sebagaimana yang telah disampaikan dan ditegaskan oleh Nabi (shalawat dan salam kepadanya), dan bahwa itu diperuntukkan bagi orang-orang Islam. Adapun bagi orang-orang kafir, Allah ﷺ berfirman:

فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشّٰفِعِيْنَۗ ۝٤٨

Maka, tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari para pemberi syafaat. [Al-Muddaththir: 48].

Syafa’at hanya akan terjadi dengan izin Allah dan ridha-Nya baik kepada pemberi syafaat maupun kepada orang yang diberi syafa’at. Allah ﷻ berfirman:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُوْنَۙ اِلَّا لِمَنِ ارْتَضٰى وَهُمْ مِّنْ خَشْيَتِهٖ مُشْفِقُوْنَ ۝٢٨

Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan mereka (malaikat) dan yang ada di belakang mereka. Mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang Dia ridai dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. [Al-Anbiya: 28].

Allah berfirman:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥

Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung. [Al-Baqarah: 255]

Syarat-syarat Syafa’at di Akhirat:

  1. Dia ridha kepada pemberi syafaat.
  2. Dan kepada orang yang dimohonkan syafaat.
  3. Izin dari-Nya, Yang Maha Kuasa, untuk memberi syafaat, dan itu adalah haq.

Jika urusan dunia, syafa'at (rekomendasi) dibolehkan misal dalam urusan pekerjaan.

Kategori Syafaat:

  1. Ada syafaat khusus untuk Nabi ﷺ.
  2. Syafaat umum untuk Nabi dan beberapa orang lainnya, dan syafaat yang melibatkan nabi-nabi lain, dan syafaat untuk para malaikat, dan syafaat untuk orang-orang beriman dari semua jenis dan kategori.

Semua ini benar, bertentangan dengan mereka yang mengingkari syafaat. Kami percaya pada Syafaat Udzma ( besar) , dan Kedudukan Terpuji yang dimiliki Nabi, dan tidak seorang pun akan berbagi di dalamnya. Itu adalah syafa'at agar Allah datang untuk menghakimi, dan hadits syafaat dalam dua kitab Sahih dan lainnya, di mana dinyatakan bahwa orang-orang yang akan berkumpul akan datang kepada: Adam, kemudian Nuh, kemudian Ibrahim, kemudian Musa, kemudian Isa.

Masing-masing dari mereka akan menolak posisi ini, dengan mengatakan: Sesungguhnya Allah ﷻ telah murka hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah Dia lakukan sebelumnya, dan Dia tidak akan murka lagi seperti itu. Dan masing-masing dari mereka akan merujuk kepada orang setelahnya: Adam kepada Nuh, Nuh kepada Ibrahim, Ibrahim kepada Musa, Musa kepada Isa, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada mereka, dan Isa kepada Muhammad. Dia berkata, (أنا لَهَا) “Akulah orang yang tepat untuk itu,” dan dia meminta izin kepada Tuhannya dan bersujud. Kemudian Dia berfirman kepadanya,

يَا مُحَمَّدٌ ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَسَلْ تُعْطَهُ، وَاشْفَعْ تُشَفَّع ....

“Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah maka akan diberikan kepadamu, berilah syafaat maka syafaatmu akan diterima…” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4476, 4712, 6565, 7410, 7440, 7510, 7517), Muslim (326, 322), dan al-Tirmidhi (2434).)

Dengan demikian, Nabi tidak memberi syafaat untuk kedatangan Allah ﷻ untuk memberikan keputusan.

Beliau memberi syafa'at bagi seluruh umat beriman, sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah, semoga Allah meridainya, yang berkata:

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ؛ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ»

Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu kelak di hari kiamat?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh aku telah menduga, wahai Abu Hurairah, bahwa menurutku tidak akan ada yang mendahuluimu untuk bertanya kepadaku tentang hadis ini dikarenakan semangatmu kepada hadist. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak di hari kiamat ialah orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh secara tulus dari dalam hatinya -atau jiwanya-."  Ṣaḥīḥ Bukhari - 99 dan Ahmad (8845)).

Hal ini bertentangan dengan kaum Khawarij, Mu'tazilah, dan pengikut mereka yang mengingkari syafaat dan mengatakan bahwa siapa pun yang masuk neraka tidak akan keluar darinya. Telah ditetapkan bahwa Allah ﷻ akan mengeluarkan manusia dari neraka melalui syafa'at Nabi ﷺ, para syuhada, sebagian orang beriman, dan lainnya. Para malaikat, dan Allah Yang Maha Kuasa, dengan rahmat-Nya, akan mengeluarkan syafa'at Yang Maha Penyayang, sehingga hanya orang-orang yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an yang akan tetap berada di neraka, yaitu orang-orang yang telah dihakimi sebagai orang kafir, bahwa mereka akan berada di dalamnya selamanya. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ۝٤٨

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa menyekutukan dengan Allah, tetapi Dia mengampuni dosa yang lebih ringan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa menyekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah membuat dosa besar.” [An-Nisa: 48].

Kami mengimani adanya syafaat, bahwa itu adalah hak Nabi dan keluarganya dalam segala bentuknya, dan bahwa itu juga merupakan hak orang-orang beriman, para malaikat, dan para syuhada, serta syafaat dari Yang Maha Penyayang. Kami percaya itu adalah haq, bertentangan dengan kaum sesat di antara Khawarij dan Mu'tazilah yang mengatakan bahwa siapa pun yang masuk Neraka tidak akan pernah meninggalkannya. Mereka mengutip ayat-ayat yang tidak mendukung klaim ini; sebaliknya, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir, begitu mereka masuk Neraka, tidak akan meninggalkannya (kekal selamanya).

Prinsip Iman keenam: Beriman kepada Takdir, baik dan buruk

Beriman kepada Takdir berarti bahwa Allah ﷻ mengetahui, menulis, menghendaki, dan menciptakan segala sesuatu, baik benda fisik maupun sifat-sifatnya. Dia menciptakan segala sesuatu, baik benda-benda nyata maupun tubuh fisik, dan sifat-sifat yang berkaitan dengan tubuh-tubuh ini, seperti sifat pendengaran, penglihatan, wajah, tangan, kaki, kepala, dan mata. Dia menciptakan sifat-sifat dermawan, berani, beriman, taat, dan selalu mengingat Allah ﷻ. Allah ﷻ menciptakan sifat-sifat ini sendiri.

Kepercayaan pada takdir memiliki tingkatan, yaitu:

1. Ilmu: Pengetahuan Allah ﷻ bersifat abadi, tidak didahului oleh kebodohan, dan tidak pula diikuti oleh ketidaktahuan.

Dia tidak mudah lupa, namun tidak ada sesuatu pun yang Dia ketahui yang luput dari pengetahuan-Nya. Pengetahuan adalah salah satu sifat-Nya yang kekal dan tak terelakkan. Oleh karena itu, kepercayaan kita pada takdir berarti kepercayaan pada pengetahuan kekal Allah tentang segala sesuatu yang ada.

2. Menulis: Dia telah menuliskan ilmu itu.

3. Kehendak dan Ketetapan: Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta kecuali apa yang telah Dia kehendaki dan tetapkan. Maha Suci Allah ﷻ.

4. Penciptaan: Tidak ada sesuatu pun di alam semesta kecuali apa yang telah Dia, Subhanahu wa Ta’ala, ciptakan.

Jadi, tingkatan iman pada takdir adalah: iman pada ilmu Allah ﷻ, iman pada tulisan catatan takdir, iman pada kehendak Allah ﷻ, dan iman pada penciptaan.

Dalil-dalil Tingkatan Takdir

1. Iman kepada Ilmu Allah ﷻ (Al-Ilmu).

Allah Yang Mahakuasa berfirman:

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

“Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sesungguhnya hal itu sudah terdapat dalam Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian sangat mudah bagi Allah.” [Al-Hajj: 70]

2. Iman kepada catatan takdir (Kitabah).

Allah Yang Maha Agung berfirman:

قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ فِيْ كِتٰبٍۚ لَا يَضِلُّ رَبِّيْ وَلَا يَنْسَىۖ ۝٥٢

“Dia (Nabi Musa) menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku di dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuz). Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa.” [Ta-Ha: 52]

Dia, Subhanahu wa Ta’ala mengetahui dan telah menulis catatan takdir.

3. Kehendak dan Ketetapan Ilahi (Al-Masyiiah).

Allah Yang Maha Agung berfirman:

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَࣖ ۝٢٩

“Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” [At-Takwir: 29]

Allah Yang Mahakuasa berfirman:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ۝٢

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-Fatihah: 2]

Allah Yang Mahakuasa berfirman:

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۖ

“Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali kehendak Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” [Al-Insan: 30]

Maka barangsiapa di antara kamu berkehendak sesuatu, maka itu akan sesuai dengan kehendak-Nya, Maha Suci dan Maha Tinggi Dia. Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali mengikuti kehendak Allah. Oleh karena itu, kehendak ciptaan dan kehendak hamba tidak menyimpang dari kehendak Allah, dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali apa yang Dia kehendaki dan inginkan.

Iradah (kehendak) Allah terbagi menjadi dua: Iradah Kauniyah (takdir/masti'ah) dan Iradah Syar'iyyah (kecintaan/ridha). Iradah Kauniyah pasti terjadi, mencakup segala kejadian (baik/buruk), dan berkaitan dengan kekuasaan-Nya. Iradah Syar'iyyah adalah apa yang Allah cintai dan perintahkan (taat/iman), namun belum tentu terwujud dalam kenyataan.

4. Iman pada Penciptaan (Al-Kholqu).

Segala sesuatu di alam semesta ada hanya karena ciptaan-Nya. Allah Yang Mahakuasa berfirman:

اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍۙ وَّهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ ۝٦٢

Allah menciptakan segala sesuatu, dan Dialah Pelindung segala sesuatu. [Az-Zumar: 62].

Dia juga berfirman:

وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ ۝٩٦

Padahal Allahlah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” [As-Saffat: 96].

Oleh karena itu, tidak ada sesuatu pun yang ada kecuali Allah adalah Penciptanya, dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali Allah adalah Pembuatnya. Inilah makna iman pada takdir (ketetapan) ilahi.

Segala sesuatu yang ada, baik dan buruk, berasal dari Tuhan. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِۗ

Katakanlah, "Segala sesuatu berasal dari Allah" [An-Nisa: 78].

Namun, kejahatan tidak semata-mata dikaitkan dengan Allah, baik untuk menegaskan keagungan-Nya maupun untuk menunjukkan bahwa kejahatan murni tidak ada dalam ciptaan Tuhan. Kejahatan hanya jahat dalam kaitannya dengan orang yang melakukannya. Kejahatan adalah kejahatan bagi Anda, tetapi bagi Allah, itu bukanlah kejahatan. Kita percaya pada takdir, baik aspek baik maupun buruknya, manis maupun pahitnya, semuanya dari Allah. Tetapi kita tidak mengatakan bahwa Allah ﷻ adalah pencipta keburukan atau pencipta kejahatan.

Bersambung pada pertemuan selanjuitnya... InshaAllah

•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

  • Media
    Sarana belajar Agama Islam melalui video dan audio kajian dari Asatidz Indonesia yang bermanhaj salaf...
    Ebook
    Bahan bacaan penambah wawasan berupa artikel online maupun e-book yang bisa diunduh. Ebook Islami sebagai bahan referensi dalam beberapa topik yang insyaAllah bermanfaat.
  • image
    Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]
    image
    ‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy]

Share Some Ideas

Punya artikel menarik untuk dipublikasikan? atau ada ide yang perlu diungkapkan?
Kirim di Sini