Syarah Ushulus Sunnah [Pokok-pokok Aqidah Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah]
- Syarah Ushulus Sunnah [Pokok-pokok Aqidah Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah]
- Sesi #1:
- Mukadimah
- POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
- Keistimewaan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
- Mengenal Judul Kitab
- Bab 1: Berpegang Teguh Kepada Ajaran Sahabat
- 1.1. Berpegang teguh pada ajaran Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengikuti mereka.
- 1.1.2 Definisi Sahabat
- 1.1.3 Dalil-dalil Keutamaan Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
- 1.1.4 Aqidah Ahli Sunnah terhadap Sahabat Nabi ﷺ
- 1.1.5 Bagaimana Cara Berpegang Teguh dengan Sahabat
- 1. Mencintai Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ.
- 2. Mentaati Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ.
- 3. Mengilmui Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ.
- 4. Mengagungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ.
- 5. Meyakini bahwa tidak ada jalur hidayah kecuali lewat mereka (Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ).
- 6. Memahami dengan benar.
- 7. Tegar dan istiqomah berpegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ sampai akhir hayat.
- 1.1. Berpegang teguh pada ajaran Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengikuti mereka.
- 1. 2. Menjauhi bid’ah dan setiap bid’ah sesat
- 1.2.1 Dampak Negatif Bid'ah
- 1.2.2 Penyebab Munculnya bid'ah
- 1.2.3 Kaidah-kaidah dalam Memahami Bid'ah
- 1. Hukum asal ibadah terlarang
- 2. Tidak ada dalam syari'at ini bid'ah yang Hasan ah. (Setiap bid’ah adalah sesat)
- 3. Sederhana dalam sunnah lebih baik dari pada semangat dalam bid'ah
- 4. Niat yang baik tidak merubah bid'ah menjadi baik.
- 5. Adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama bukan menjadi alasan adanya bid'ah.
- 6. Tersebarnya kebid’ahan di tengah masyarakat tidak menunjukkan bolehnya bid'ah.
- 4.2. Tentang Al-Qur’an.
- 4.2.1. Definisi Al-Qur’an
- 4.2.2. Akidah Ahlussunnah terkait tentang Al-Qur’an
- 1. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an termasuk Firman Allah ﷻ
- 2. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an bukan Makhluk
- 3. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an dari Allah ﷻ
- 4. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an dibaca, didengar, ditulis, atau dihafal tetap sebagai Firman Allah ﷻ
- 5. Ahlussunnah meyakini bahwa Harus dibedakan antara Ucapan dan Suara
- 6. Ahlussunnah Meyakini bahwa Al-Qur’an Didengar Jibril Tanpa Perantara dan Menyampaikannya kepada Nabi ﷺ juga Tanpa Perantara.
- 6.1 Definisi Mizan
- 6.2 Dalil-dalil adanya Mizan
- 6.3 Kelompok-kelompok yang Mengingkari Mizan dan Bantahannya
- 6.4 Hikmah adanya Mizan
- 6.5 Apa yang ditimbang?
- 6.6 Sifat-sifat Mizan
- 6.7 Apakah Mizan itu Satu atau Banyak
- 6.8 Apakah orang-orang kafir ditimbang?
- 6.9 Amalan-amalan yang Memberatkan Timbangan
- 8.1 Beriman kepada Telaga Haud termasuk dalam Pokok-pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah
- 8.2 Dalil-dalil Dalam Aqidah ini
- 8.3 Beberapa Permasalahan Terkait Telaga
- 8.4. Sifat-sifat Telaga Nabi ﷺ
- 8.5. Kiat-kiat agar Bisa Menjadi Golongan Orang yang Minum dari Telaga Nabi
- 8.6 Pelajaran penting dari mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ
Sesi #1:
Mukadimah
Alhamdulillah atas nikmat yang tak terhitung banyaknya, saking banyaknya nikmat, kita tidak akan pernah mampu menghitungnya. Dan nikmat yang besar dan berharga adalah menuntut ilmu syar'i.
Rabi’ah ar-Ra’yi adalah ulama besar dari kalangan Tabi’in dan guru Imam Malik yang menjadikan ilmu sebagai sarana utama meraih kebaikan dunia dan akhirat. Beliau membuktikan bahwa ilmu adalah kunci kemaslahatan, menjaga kehormatan, serta kompas yang menuntun manusia menuju kebahagiaan hakiki.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah menegaskan, "Sungguh satu bab dari ilmu agama yang aku pelajari lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya." [1]
Manfaat menuntut ilmu
1. Banyaknya pahala dan jalan pintas menuju surga.
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ
“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” [2]
Dalam hadits juga menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
“Siapa yang mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang mentilik-tilik barang lainnya.” [3]
Maka, kita diharapkan untuk tetap menuntut ilmu, meskipun tidak paham. Karena ada malaikat yang menaungi dan mendo'akan serta memohon ampun kepada Allah ﷻ.
Ada kisah menarik dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin saat memberi kajian ilmu di majlis.Suatu hari di majlis syaikh Solih al-'Utsaimin, ada seorang lelaki yang terlihat tidak memahami apa yang disampaikan Syaikh, Maka beliau bertanya kepada lelaki tersebut " wahai fulan, apakah engkau faham apa yang saya sampaikan?"
lelaki itu menjawab "Tidak wahai syaikh" Syaikh kembali bertanya "Lalu untuk apa kau hadir di majlis ini?"
Lelaki itu menjawab "Karena Rasulullah -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Mereka (Para penuntut ilmu) adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang duduk bersama mereka"
Syaikh 'Utsaimin pun menangis, Kemudian beliau berkata "kita datang untuk mengajarkannya, namun dia yang mengajarkan kita"
2. Mendapatkan sakinah (ketenangan batin) dan kebahagiaan.
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” [4]
3. Bertambah Keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah ﷻ
Karena tujuan menuntut ilmu adalah agar kita semakin bertakwa. Ilmu yang manfaat atau yang tidak diukur dengan manfaatnya untuk masa depan akhirat. Sufyan al-Tsauri mengatakan:
Sesungguhnya ilmu itu dipelajari semata untuk taqwa kepada Allah.
Dalam Surah Al-Anfal ayat 2 berbunyi:
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah imannya, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal."
4. Salah satu faktor utama agar istiqomah
Karena istiqomah itu berat, butuh ilmu untuk mengawal hidayah hingga bisa masuk surga. Inilah yang berat dan perlu perjuangan. Ilmu adalah tameng bagi fitnah syubhat dan syahwat.
Dan asal dari istiqomah adalah istiqomahnya hati. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari haditsnya Anas bin Malik semoga Allah meridhoinya dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam bahwasannya beliau bersabda:
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ
“Tidaklah mungkin keimanannya seorang hamba (bisa istiqomah) sampai hatinya beristiqomah“. [5]
Maka asal dari istiqomah adalah istiqomahnya hati, dan hati jika baik dan dapat beristiqomah maka badan pun dengan sendirinya akan mengikutinya.
5. Agar bisa bertemu dengan sesama saudara muslim
Karena orang-orang yang baik tempatnya di tempat terbaik, yaitu masjid dan majelis ilmu. Inilah pentingnya persahabatan dengan orang-orang yang shalih. Persahabatan yang baik dalam Islam bukan hanya tentang kesenangan dunia, tetapi juga tentang saling mengingatkan dan mendukung dalam ketaatan kepada Allah, dengan harapan bisa bersama-sama meraih kebahagiaan di akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” [6]
Ilmu Agama itu Luas
Tidak akan cukup waktu seseorang untuk mempelajari agama seumur hidupnya, maka ambilah ilmu yang sangat penting dan prioritas. Yaitu masalah Tauhid karena inilah sumber kebaikan dunia dan akhirat. Dialah pondasi seorang muslim, yang menentukan kehidupannya kelak di surga atau neraka.
Salman Al Farisi Radhiyallahu Anhu berkata: ”Sesungguhnya ilmu itu luas, sementara umur itu pendek. Maka ambillah ilmu yang kau butuhkan dalam perkara agamamu, dan tinggalkan yang selainnya.”
📚 Hilyatul Auliya (1/189)
Tiga Prioritas ilmu:
- Aqidah
- Fiqh
- Akhlak
Almunawi dalam Fathul Qadir, kebanyakan ahli ilmu masuk neraka karena akhlaknya.
Aqidah yang benar adalah syarat diterimanya amal ibadah. Tanpa aqidah yang lurus, amal ibadah seseorang tidak akan bernilai di sisi Allah.
Maka, inilah pentingnya mempelajari kitab-kitab akidah. Diantaranya risalah yang akan kita kaji yaitu Ushul Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal.
Sebelum kita membahas isi kitab, kita sampaikan beberapa Muqaddimah dulu:
1. Biografi Imam Ahmad bin Hanbal
2. Mengenal Kitab Ushul Sunnah
3. Keistimewaan Aqidah Ahli Sunnah wal Jama'ah
Biografi Imam Ahmad Rahimahullah
Beliau adalah Abu Abdillah, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal asy-Syaibani. Dan keempat Imam madzhab, kunyahnya Abu Abdillah, kecuali Abu Hanifah.
Imam Ahmad dilahirkan di ibu kota kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, Irak, pada bulan Rabiul Awal 164 H/780 M. Ayahnya meninggal ketika masih muda, sekitar usia tiga puluh tahun, sehingga Ahmad tumbuh sebagai anak yatim. Ibunya yang mengasuh dan mendidiknya dengan penuh perhatian.
Usia 15 tahun, beliau berkelana mencari ilmu. Guru-gurunya yang terkenal antara nya Al-Walid bin Muslim, Yazid bin Harun, Waki' Ibnu Jarrah dan Imam Syafi'i Rahimahumullah.
Jumlah murid beliau lebih dari tiga ratus orang. Dan yang paling terkenal adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud rahimahumullah. Dalam kitab Musnad-nya, Adz-Dzahabi mencatat bahwa Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari lebih dari dua ratus delapan puluh orang.
Murid beliau sangat banyak, salah satunya dikisahkan belau mengajar hingga mencapai 5000 orang dalam satu majelis.
Pujian Imam Asy-Syafi’i kepada Imam Ahmad, Aku tidak mengetahui imam yang fakih dan Wara' di Baghdad Ini selain Imam Ahmad.
Ali Al Madini berkata: "Allah ﷻ membela Umat Islam dengan banyaknya yang murtad dengan mengirimkan Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhu dan Allah ﷻ membela agama ini dengan mengirimkan Imam Ahmad di saat Mihnah (Fitnah Al-Qur’an adalah Makhluk)".
Imam Ahmad adalah imamnya para ulama ahlusunah waljamaah. Dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla, Imam Ahmad tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip akidah ahlusunah waljamaah tatkala menyebarnya fitnah Kholqul Qur’an (Fitnah Al-Qur’an adalah makhluk) pada masanya.
Beliau meninggal bertepatan pada hari Jumat, tanggal 12 Rabiulawal, tahun 241 Hijriah, dan beliau berusia 77 tahun.
Keutamaan Kitab Ushulus Sunnah
- Kitab ini istimewa karena karya ulama besar, Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah.
- Bukunya ringkas.
- Mengandung pembahasan yang penting dalam akidah.
- Ditopang oleh dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits berdasarkan pemahaman para sahabat.
- Dipuji dan direkomendasikan oleh para ulama. Bahkan banyak yang mensyarah kitab ini.
Pujian Imam Abu Ya'la rahimahullah kepada kitab Ushulus Sunnah, Andaikan ada orang yang pergi ke China untuk, mendapatkan risalah ini, maka itu adalah perjalanan yang kecil.
POKOK-POKOK SUNNAH MENURUT IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
📖 Pembukaan:
قَالَ الشَّيْخُ الإِمَامُ أَبُو المُظَفَّرِ عَبْدُ المَلِكِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ مُحَمَّدٍ الهَمْدَانِيُّ: حَدَّثَنَا الشَّيْخُ أَبُو عَبْدِ اللهِ يَحْيَى بْنِ أَبِي الحَسَنِ بْنِ البَنَّا، قَالَ: أَخْبَرَنَا وَالِدِي أَبُو عَلِيِّ الحَسَنِ بْنِ عُمَرَ بْنِ البَنَّا، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو الحُسَيْنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُشْرَانَ المُعَدَّلُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ السَّمَاكُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ الحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الوَهَّابِ أَبُو العَنْبَرِ قِرَاءَةً مِنْ كِتَابِهِ فِي شَهْرِ رَبِيعِ الأَوَّلِ سَنَةَ ثَلَاثٍ وَتِسْعِينَ وَمِائَتَيْنِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ المِنْقَرِيُّ بِتِنِّيسَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُوسُ بْنُ مَالِكٍ العَطَّارُ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ يَقُولُ:
Syaikh Imam Abul Muzhaffar ‘Abdul Malik bin Ali bin Muhammad Al-Hamdani berkata: Syaikh Abu ‘Abdillah Yahya bin Abil Hasan bin Al-Banna berkata: Menceritakan kepada kami bapakku, Abu ‘Ali Hasan bin Ahmad bin Abdillah bin Al-Banna, ia berkata: Menceritakan kepada kami Abul Husain Ali bin Muhammad bin Abdillah bin Busyran Al-Mu’addal, ia berkata: Menceritakan kepada kami Utsman bin Ahmad bin As-Sammak, ia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdul Wahhab bin Abu Al-’Anbar ―dengan dibacakan kitabnya kepadanya― pada bulan Rabiul Awwal tahun 293 H, ia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Sulaiman Al-Minqari Al-Bashri di Tinnis, ia berkata: Menceritakan kepadaku ‘Abdus bin Malik Al-Aththar, dia berkata: Aku mendengar Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
📃 Penjelasan:
Sanad memiliki peranan yang sangat penting dalam menukilkan wahyu, baik Al-Qur’an Al-Karim maupun Sunnah Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dan bahkan kitab-kitab para ulama.
Abdullah bin Mubarak Rahimahullah mengatakan:
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah tidak ada sanad, orang akan sesukanya mengatakan apa saja yang dia inginkan.” [7]
Maka, ada beberapa kitab yang diklaim sebagai karangan Imam Syafi'i, namun sebenarnya bukan. Contohnya adalah kitab "Al-Fiqhul Akbar" yang dinisbahkan kepada Imam Syafi'i, namun isinya justru 100% Asy'ariyah.
Abdus bin Malik Al Athar termasuk murid terdekat Imam Ahmad. Kitab ini banyak disebut dalam kitab ulama seperti Thabaqat Hanabilah Karya Imam Abu Ya'la, Syarah Ushul I'tiqad Ahlussunnah wal Jama'ah oleh Al-Hafizh Abu Qasim Hibatullah bin Al-Hasan bin Manshur Ath-Thabari Ar-Razi Al-Lalikai, Manaqib Imam Ahmad oleh Ibnul Jauzy Rahimahullah serta Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu Fatawa dan Minhajus Sunnah, ini menunjukkan kitab ini asli karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.
Keistimewaan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
1. Sumbernya jelas Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Mereka tidak mengambil dari ahlul ahwa, sufism atau sumber yang tidak otentik.
Karena ucapan Nabi ﷺ adalah wahyu. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat An-Najm Ayat 3:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
2. Sesuai dengan Fitrah dan Akal yang Sehat
Sebagai contoh Allah ﷻ di atas langit, maka orang akan mengatakan 'kita serahkan pada yang di atas' atau tatkala berdo'a mengangkat tangan ke atas, dan ini sesuai fitrah.
Dan ini sesuai dengan akal yang sehat. Allah ﷻ Dzat yang Mulia. Dan yang Mulia selalu di atas. Jika mengatakan Allah ﷻ ada di mana-mana, berarti bisa jadi Allah ﷻ ada di jalan, di got, toilet dan lainya, dan ini tidak sesuai fitrah.
3. Pertengahan antara yang meremehkan dan berlebih-lebihan.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 143:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan, “Allah Subhaanahu Wata’ala menjadikan umat Islam ini sebagai umat yang wasath.. yang merupakan keistimewaan yang Allah berikan kepada umat Islam ini..”
Maka kewajiban kita harus wasath, tidak boleh berlebihan dan tidak boleh meremehkan... Maka dari itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manhaj yang wasath.
Contoh sikap Ahlussunnah, pertengahan terhadap para sahabat, berada di tengah-tengah antara sikap Khawarij dan Syiah Rafidhah. Mereka mencintai dan memuliakan seluruh sahabat, mengakui keutamaan mereka, namun juga tidak berlebihan dalam memuji atau mengkultuskan.
Dalam hal pelaku dosa besar, Ahlussunnah berada di tengah, Khawarij berpendapat bahwa pelaku dosa besar menjadi kafir dan kekal di neraka, sementara Murji'ah berpendapat bahwa mereka sempurna imannya. Ahlussunnah wal Jama'ah: Memiliki pandangan bahwa pelaku dosa besar tetap mukmin dan berkurang imannya dan menekankan pentingnya taubat.
Kenapa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah manhaj yang wasath? Karena Ahlussunnah wal Jama'ah menggabungkan dua dalil dan menjadikannya golongan pertengahan, tidak mengambil sebagian dalil tapi meninggalkan dalil yang lain.
4. Menjadikan istiqomah di jalan Allah ﷻ: Akidah yang Benar dan Akhlak yang Mulia
Karena aqidah yang kokoh akan melahirkan amalan-amalan dan akhlak yang baik. Akidah yang kuat diibaratkan seperti pohon yang kokoh. Akar yang menghujam dalam melambangkan keyakinan yang kuat pada Allah (tauhid), sementara batang dan cabang yang menjulang tinggi mencerminkan amal perbuatan baik dan ketaatan kepada perintah-Nya. Pohon yang kokoh ini juga memberikan manfaat bagi sekitarnya, seperti halnya akidah yang benar akan membawa dampak positif dalam kehidupan seorang Muslim.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim Ayat 24-25:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ. تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۭ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Maka, keimanan yang baik akan dikaitkan selalu dengan akhlak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”.[8]
Demikian juga kita mengimani Allah ﷻ turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, maka buktikan dengan banyak ibadah dan do'a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” [9]
5. Benteng agar selamat dari fitnah syubhat
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [10]
Banyak orang-orang yang cerdas menjadi sesat karena terkena syubhat, sebagai contoh Imran bin Khittan, ia ingin menikahi Hamnah, lalu berusaha untuk mengajaknya meninggalkan paham Khawarij. Kembali kepada manhaj Salaf. Sayangnya, Hamnah memegang kuat paham Khawarij. Kecantikan rupa yg tidak dihiasi oleh kecantikan hati !!!
Maksud hati ingin memengaruhi, apa daya hamba yang justru dipengaruhi. Bukannya Hamnah yang berhasil dibujuk untuk meninggalkan paham Khawarij, justru Imran bin Hiththan yang kemudian terbujuk oleh Hamnah untuk menjadi pengikut setia kaum Khawarij.
Demikian juga Abdullah al-Qasimi, Dia seorang intelektual Arab Saudi yang dikenal karena perubahannya dari seorang Salafis yang taat menjadi seorang atheis yang menolak agama. Al-Qasimi menulis sejumlah buku yang mengkritik agama, termasuk "The Lie to See God Beautiful", yang mempertanyakan rasionalitas dan dogma agama. Na'udzubillahmindalik.
Maka, benar apa yang dikatakan Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah andaikan bukan karena pena maka orang-orang zindiq akan bebas menyampaikan syubhatnya di atas mimbar.
Maka belajar dan berdo'alah agar Allah ﷻ menjaga kita untuk istiqomah dalam memegang teguh Sunnah.
Salah satu bacaan do'a yang bisa diamalkan:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi 'alaa diinik
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu".[11]
Mengenal Judul Kitab
Ushulus Sunnah diambil dari salah satu kata di awal kitab. Beliau mengatakan:
أصول السنة عندا
التمسك بما كان عليه أصحاب الرسول ﷺ والاقتداء هم، وترك البدع، وكل بدعة فهي ضلاله
Dasar-dasar Sunnah adalah mengikuti apa yang diikuti oleh para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti contoh mereka, dan meninggalkan segala bid’ah, karena setiap bid’ah itu sesat.
Makna أصول السنة adalah:
- Ushul berarti Pondasi-pondasi ,bisa bermakna hissi seperti pondasi rumah dan maknawi seperti ushuluddin.
- Sunnah berarti jalan. Untuk mengungkapkan 3 hal:
1. Dari sisi fikih : Lawan dari wajib, seperti shalat rawatib hukumnya Sunnah.
2. Bermakna hadits kalau diiringkan dengan Al-Qur’an.
3. Sunnah sebagai lawan kata dari bid'ah. Seperti dijelaskan dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu dalam wasiat perpisahan.
Maka: Sunnah adalah jalan bagi beragama Nabi ﷺ baik dalam masalah aqidah, ibadah maupun akhlak.
Sunnah oleh para ulama lebih ditekankan dalam masalah Aqidah, karena inilah masalah yang paling penting. Maka, banyak karya ulama diawali dengan Assunnah. Seperti Kitab As-Sunnah yang ditulis oleh Ibnu Abi Hatim, Syarhus Sunnah karya Imam Al-Barbahari, Syarhus Sunnah karya Imam Al-Muzani, Ushul I'tiqad Ahlussunnah wal Jama'ah oleh Al-Laalikaa'i dan lainnya.
Penamaan Akidah adalah beberapa istilah:
- As-Sunnah
- Aqidah
- Asy-Syariah
- Al-Fiqhul Akbar
- Al-Iman
- At-Tauhid
Bab 1: Berpegang Teguh Kepada Ajaran Sahabat
📖 Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata:
أُصُولُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا: التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَالِاقْتِدَاءُ بِهِمْ، وَتَرْكُ البِدَعِ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلَالَةٌ، وَتَرْكُ الخُصُومَاتِ وَالجُلُوسِ مَعَ أَصْحَابِ الأَهْوَاءِ، وَتَرْكُ المِرَاءِ وَالجِدَالِ وَالخُصُومَاتِ فِي الدِّينِ.
Pokok-pokok Akidah menurut kami (Ahlus Sunnah) adalah:
1. Berpegang teguh pada ajaran Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengikuti mereka,
2. Menjauhi bid’ah dan setiap bid’ah sesat,
3. Menjauhi mendebat para pengikut hawa nafsu dan duduk bersama mereka, serta meninggalkan berdebat dalam agama.
📃 Penjelasan:
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa Sunnah bermakna Aqidah, karena inilah inti dari Sunnah Nabi, sehingga, penyimpangan dalam masalah ini, lebih besar efeknya daripada penyimpangan lainya.
Pokok-pokok Akidah menurut kami (Ahlus Sunnah) adalah:
1.1. Berpegang teguh pada ajaran Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengikuti mereka.
Pondasi sangat diperlukan agar bangunan di atasnya menjadi kuat. Maka, Rasulullah ﷺ dalam setiap khutbah Jum'at selalu menekankan pondasi agama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” [12]
Jika pondasinya bagus, berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka akan menjadi bagus amal dan akhlaknya. Tetapi jika sebaliknya, jika pondasinya rusak, maka rusaklah apa yang ada di atasnya.
Dan kitab-kitab para ulama diawali dengan penjelasan dasar akidah Islam. Seperti pembuka Kitab Manzhumah al-Haiyyah, sebuah kitab matan (nadhom) yang berisi tentang akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, disusun oleh Imam Ibnu Abi Dawud. Beliau mengatakan di awalnya:
تَمَسَّكْ بِحَبْلِ اللهِ وَاتَّبِعِ الهُدَى وَلاَ تَكُ بِدْعِيّاً لَعَلَّكَ تُفْلِحُ
وَدِنْ بِكِتَابِ اللهِ وَالسُّنَنِ الَّتِي أَتَتْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ تَنْجُو وَتَرْبَحُ
Berpegang teguhlah pada tali Allah dan ikutilah petunjuk dan jangan kamu menjadi pelaku bid'ah agar kamu beruntung.
Beragamalah dengan dengan dasar kitab Allah ﷻ dan sunnah yang datang dari Rasulullah, maka kamu akan selamat dan beruntung.
Maka, imam Ahmad mengawali dengan pondasi berpegang teguh dengan Manhaj para sahabat Nabi ﷺ, karena merekalah yang terdepan dalam berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka adalah generasi terbaik setelah para nabi, yang memiliki keimanan yang kokoh, ilmu yang dalam, akhlak yang mulia, dan pengorbanan yang luar biasa demi menegakkan agama Islam. Dan merekalah yang paling paham dalam menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
1.1.2 Definisi Sahabat
Defenisi paling bagus adalah yang dikemukakan Al Hafizh Ibnu Hajar, yaitu: “Sahabat adalah siapa saja yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan Islam, walaupun pernah murtad". [13]
Penjelasan Defenisi:
- "Siapa saja", mencakup pria dan wanita, manusia dan jin.
- "Bertemu", baik lama atau sebentar, seperti nabi Isa yang bertemu saat Isra' Miraj. Berarti jika tidak bertemu maka bukan Sahabat seperti Raja Najasi tidak pernah bertemu, tapi tabi'in.
- "Beriman", maka jika tidak beriman seperti Abu Thalib dan Abu Jahal, maka bukan termasuk sahabat.
- "Mati dalam Islam", maka jika murtad seperti Abdullah bin Khathal dan mati dalam keadaan murtad, maka bukan sahabat.
- "Walau pernah murtad", namun mati dalam Islam, seperti Ada seorang sahabat Nabi bernama Asy'ats bin Qais yang pernah murtad setelah wafatnya Nabi Muhammad, tetapi kemudian kembali memeluk Islam setelah diperangi Abu Bakar Ash Shiddiq, maka dia termasuk Sahabat karena yang jadi patokan adalah akhirnya.
1.1.3 Dalil-dalil Keutamaan Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
- Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” [14]
Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah Ta’ala. Mereka telah diberikan anugerah yang begitu besar yakni kesempatan bertemu dan menemani Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala telah memilih mereka untuk mendampingi dan membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menegakkan agama-Nya. Orang-orang pilihan Allah ini, tentunya memiliki kedudukan istimewa di bandingkan manusia yang lain. Karena Allah Ta’ala tidak mungkin keliru memilih mereka.
Dalam ilmu hadits, jika ada hadits dari sahabat, langsung diterima, karena keadilan mereka tanpa perlu dicek lagi. Maka, sangat mengherankan jika ada golongan yang mencaci maki sahabat, padahal mereka telah direkomendasikan Allah ﷻ dan Rasul-Nya.
1.1.4 Aqidah Ahli Sunnah terhadap Sahabat Nabi ﷺ
1. Mencintai sahabat Nabi ﷺ, karena mencintai mereka adalah keimanan dan membenci mereka kemunafikan.
Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya,
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:” آيَةُ الإِيْمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ وَآيَــةُ النِّفَاقِ بُعْضُ الأَنْصَارِ
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshar. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar”. [15]
Maka, golongan zindiq adalah golongan yang ingin menjauhkan Umat dari sahabat, karena dari merekalah hadits-hadits Nabi ﷺ sampai kepada kita terutama, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan Aisyah Radhiyallahu’anha yang meriwayatkan banyak hadits.
Maka, Abu Zur'ah Ar-Razi rahimahullah pernah berkata, jika ada seseorang yang membenci sahabat, maka ketahuilah dia adalah zindiq.
2. Mendo'akan sahabat Nabi ﷺ.
Karena puncak kecintaan adalah do'a. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr Ayat 10:
وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
Doa agar hati bersih:
وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي
Waslul sakhiimata qolbi
Ya Allah cabutlah dari hatiku penyakit-penyakit hati. [16]
Maka, do'a kepada para sahabat adalah Radhiyallahu’anhum Seperti tersirat dalam surat At-Taubah ayat 100.
3. Memuji dan tidak Mencela Mereka
Allah melaknat orang yang mencela sahabat, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ
Barangsiapa mencela sahabatku, maka ia mendapat laknat Allah. [17]
Konsekuensi mencela sahabat adalah:
- Mencela Allah ﷻ karena Allah ﷻ meridhai mereka.
- Mencela Rasulullah ﷺ karena mereka sahabat Nabi ﷺ.
- Mencela agama karena mereka lah pengemban risalah pertama.
- Mencela Sahabat itu sendiri
Jangankan, mencela sahabat, mencela ayam jantan pun dilarang. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani Radhiyallahu ’Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ
“Janganlah kalian mencela ayam jantan. Sesungguhnya dia membangunkan untuk shalat.” [18]
4. Berpegang teguh dan mengikuti jejak mereka
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 115:
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Ketahuilah sesungguhnya umat sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan di neraka, dan 1 golongan di surga. Merekalah Al Jama’ah” [19]
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ » [أخرجه الترمذي وأبو داود]
“Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (pada pemimpin) walaupun seorang budak Habasyah. Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup sesudahku, dirinya akan menjumpai perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunahku dan sunah para khulafaur rasyidin yang mendapat pentunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, gigitlah dengan gigi geraham. Hati-hati kalian dari perkara yang baru dalam agama, sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat“. [20]
Khulafaur rasyidin adalah para sahabat Nabi ﷺ.
Dan Rasulullah sahalallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:
إقْتَدُوا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أبي بكْرٍ و عُمَرَ.
"Ikutilah dua orang setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar." [21]
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu (al-Qur’an) dan menyaksikan langsung petunjuk Rasulullah yang mulia shalallahu ‘alaihi wasallam yang dengannya mereka memahami penafsiran wahyu dengan tepat.
1.1.5 Bagaimana Cara Berpegang Teguh dengan Sahabat
Mewujudkan hal itu dengan 7 hal:
1. Mencintai Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ.
قال الإمام مالك رحمه الله : ” كان السلف يعلمون أولادهم حب أبي بكر وعمر كما يعلمونهم السورة من القرآن “.
al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Dulu para Salaf mengajarkan kepada anak-anak mereka kecintaan kepada Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana mengajarkan kepada mereka satu surat dari al-Qur’an.” [22]
2. Mentaati Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ.
Maka apa yang mereka perintah kita lakukan dan apa yang dilarang kita tinggalkan.
3. Mengilmui Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ.
Tidak ada ketaatan jika tidak ada ilmunya, maka harus bersemangat, mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah.
4. Mengagungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ.
Jangan sampai kita ihtihza yang berarti memperolok-olok, mengejek, atau merendahkan agama Islam, istihza' terhadap Allah, Rasulullah, Al-Quran, sebagai perbuatan yang sangat tercela dan dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
5. Meyakini bahwa tidak ada jalur hidayah kecuali lewat mereka (Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Barangsiapa yang memisahkan diri dari dalil, maka ia akan tersesat dari jalan yang lurus".
6. Memahami dengan benar.
Semua pemahaman yang menyelisihi para sahabat adalah menyimpang. Seperti cara memahami surat Al-Hijr ayat 99.
Allah ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin” (QS. Al-Hijr: 99).
Al-yaqin dalam ayat ini maknanya adalah al-maut (kematian). Ini ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits dari Ummul ‘Ala, bibi dari Hizam bin Hakim.
Ayat ini juga bantahan untuk orang-orang sufi dan yang semisal mereka, yang memaknai secara keliru ayat di atas. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “Orang-orang malahidah (atheis) berdalil secara keliru dengan ayat di atas, karena menafsirkan al yaqin dengan al ma’rifah (mengenal). Jika seseorang sudah sampai pada derajat mengenal Allah maka gugur darinya beban syariat. Ini adalah kekufuran, kesesatan dan kejahilan".
7. Tegar dan istiqomah berpegang teguh Al-Qur’an dan As-Sunnah dan para sahabat Nabi ﷺ sampai akhir hayat.
*****
1. 2. Menjauhi bid’ah dan setiap bid’ah sesat
Setelah Imam Ahmad menganjurkan untuk berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sahabat, beliau memperingatkan dari kebidanan, ini persis seperti wasiat perpisahan Nabi:
فَقَالَ : «أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللّٰـهِ ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِـيْرًا ، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الْـمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ ، تَـمَسَّكُوْا بِـهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُـحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُـحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Maka Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafâr Râsyidîn yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah, dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” [23]
Hadits ini penting sekali dalam berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sahabat dan memperingatkan kebidanan. Ini berarti menggabung antara mewujudkan kebaikan dan menolak kerusakan.
Agama dibangun di atas dua hal: Menggapai kebaikan dan membendung kerusakan. Dan menjauhi bid'ah berarti membendung kerusakan.
Menjauhi bid'ah mencakup Aqidah, amalan-amalan dan ucapan. Yaitu segala hal yang baru dalam agama yang tidak ada contohnya dari sahabat. Adapun urusan dunia, bukan bid'ah secara istilah, namun bid'ah secara bahasa.
Ada kaedah fikih yang cukup ma’ruf di kalangan para ulama,
الأصل في العبادات التحريم
“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”
اْلأَصْلُ فِي الشُّرُوْطِ فِي الْمُعَامَلاَتِ الْحِلُّ وَالْإِبَاحَةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ
Hukum asal menetapkan syarat dalam mu’âmalah adalah halal dan diperbolehkan kecuali ada dalil (yang melarangnya)
1.2.1 Dampak Negatif Bid'ah
1. Menuduh Islam belum sempurna.
Imam Malik berkata, "Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru (bid'ah) di dalam agama ini sedangkan ia menganggap baik perbuatan tersebut maka sungguh ia telah menuduh Nabi Muhammad telah berbuat khianat, karena Allah ta'ala telah berfirman,
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu." (QS. al-Maidah: 3). Maka perkara yang pada hari ayat ini diturunkan bukan agama maka sekarang juga bukan merupakan agama." [24]
2. Menuduh Rasulullah ﷺ berkhianat.
Ini adalah tuduhan yang sangat berat, karena Rasulullah ﷺ adalah seorang yang sangat terpercaya. Sabda Nabi ﷺ
أَلاَ تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Ucapan Beliau ﷺ: Apakah kalian tidak percaya kepadaku sedangkan aku adalah orang yang dipercaya oleh Dzat yang ada di atas. (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim).
3. Menjadikan tandingan dalam membuat syari'at Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syura Ayat 21:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا۟ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ ۚ
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?
4. Menyebabkan perpecahan.
Dan yang tertuduh biasanya Ahlussunnah. Padahal ahlul bid’ah yang memecah belah karena patokan mereka hawa nafsu dan akal, sementara keduanya memiliki standar yang berbeda-beda.
5. Mematikan sunnah.
Seorang tabi’in, Hasan bin ‘Athiyah rahimahullah mengatakan,
ما ابتدع قوم بدعة في دينهم إلا نزع الله من سنتهم مثلها ولا يعيدها إليهم إلى يوم القيامة
“Tidaklah suatu kaum melakukan suatu perkara yang diada-adakan dalam urusan agama mereka (bid’ah) melainkan Allah akan mencabut suatu sunah yang semisal dari lingkungan mereka. Allah tidak akan mengembalikan sunah itu kepada mereka sampai kiamat.” [25]
6. Bid'ah lebih disukai iblis daripada maksiat.
Perkataan seorang tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” [26]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ
“Sungguh Allah menghalangi tobat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya.” [27]
Hal itu karena pelaku bid'ah meyakini bahwa perbuatannya benar, ibadah dan berpahala sehingga susah taubatnya, berbeda dengan pelaku maksiat yang mengakui kalau dirinya salah sehingga mudah untuk bertaubat.
1.2.2 Penyebab Munculnya bid'ah
1. Kejahilan
Ibnul Jauzi rahimahullah menyatakan,
اعلم أن أول تلبيس إبليس على الناس صدهم عن العلم؛ لأن العلم نور فإذا أطفأ مصابيحهم خبطهم في الظلام كيف شاء
Ketahuilah bahwa tipu daya Iblis yang pertama kali terhadap manusia adalah menghalangi mereka dari ilmu agama. Karena ilmu adalah cahaya sehingga jika Iblis telah berhasil memadamkan cahaya lampu manusia, dia pun akan menjerumuskan mereka dalam kegelapan sekehendaknya.” [28]
2. Tokoh agama yang sesat dan menyesatkan.
Abdullah bin Al Mu'taz rahimahullah berkata: “Ketergelinciran orang berilmu bagaikan kapal yang bocor, kapalnya akan tenggelam dan tenggelam juga para penumpangnya yang banyak”. [29]
3. Adat istiadat yang bertentangan dengan syari'at.
Adat istiadat sebenarnya boleh saja asal tidak bertentangan dengan syari'at.
4. Mengikuti hawa nafsu
Maka ahli bid'ah disebut sebagai ahlul ahwa. Tidak ada standar yang jelas dan ini adalah sumber penyimpangan.
5. Berpaling dari pemahaman para sahabat.
Alangkah indahnya ucapan seorang penyair yang berkata:
فَكُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلف
وَكُلُّ شَرٍّ فِي اتِّبَاعِ مَنْ خَلَفَ
Semua kebaikan (hanya dapat dicapai) dengan mengikuti (manhaj) salaf
Dan semua keburukan ada pada perbuatan bid’ah orang-orang khalaf (belakangan).
6. Tasyabuh dengan orang-orang kafir
Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” [30]
1.2.3 Kaidah-kaidah dalam Memahami Bid'ah
1. Hukum asal ibadah terlarang
Ini adalah kaidah penting dan separuh agama tercukupi.
الأصل في العبادات التحريم
“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”
2. Tidak ada dalam syari'at ini bid'ah yang Hasan ah. (Setiap bid’ah adalah sesat)
Karena Nabi ﷺ mengatakan:
وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
seburuk-buruk perkara adalah perkara yang di ada-adakan secara baru dalam urusan agama, dan setiap yang bid’ah adalah sesat
Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma mengatakan:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah itu sesat walaupun manusia menganggapnya baik” [31]
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ bermakna semua bid'ah tercela.
3. Sederhana dalam sunnah lebih baik dari pada semangat dalam bid'ah
Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata,
الِاقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الِاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
“Sederhana dalam (menjalankan) As-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam (melakukan) bid’ah.” [32]
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Mulk Ayat 2:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,
Allah tidak mengatakan "yang paling banyak" namun "paling baik amalnya" yaitu paling ikhlas dan mutaba'ah.
4. Niat yang baik tidak merubah bid'ah menjadi baik.
Ibnu Mas’ud menyanggah perkataan mereka yang berdzikir Jama’ah sambil berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” [33]
5. Adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama bukan menjadi alasan adanya bid'ah.
Karena bisa jadi ulama tergelincir dalam pemahaman dan kita bukan berhujah kepada ulama, tetapi Al-Qur'an dan Sunnah.
6. Tersebarnya kebid’ahan di tengah masyarakat tidak menunjukkan bolehnya bid'ah.
Standar kebenaran bukan banyaknya pengikut. Sejatinya yang berpegang teguh pada kebenaran hanyalah sedikit.
وَمَا آَمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. ” (QS. Hud: 40).
Dan Allah berfirman:
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (QS. Al An'am: 116)
*****
1. 3. Menjauhi mendebat para pengikut hawa nafsu dan duduk bersama mereka, serta meninggalkan berdebat dalam agama.
1.3.1 Larangan Duduk-duduk dengan Ahlul Ahwa (Pengekor Hawa Nafsu).
Duduk-duduk maksudnya bukan hanya berkumpul dengan mereka, tetapi juga, mendengarkan ceramah mereka, membaca buku-buku mereka, berdiskusi dan berteman dengan mereka.
Imam Ahmad Rahimahullah menyebut Ahlul bid'ah dengan Ahlul Ahwa (Pengekor Hawa Nafsu) karena mereka lebih mementingkan hawa nafsu mereka, dan jika hawa nafsu dijadikan standar, maka hawa nafsu siapa yang harus diikuti?
Maka, standar beragama yang benar adalah yang berdalil berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Perlu disadari bahwa sifat manusia adalah lemah, sebagaimana firman Allah ﷻ:
وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 28)
Oleh karenanya, Allah ﷻ menganjurkan selektif dalam berteman, Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Kahfi ayat 28:
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya
Ayat ini diperintahkan kepada Nabi ﷺ, tetapi kaidah menjelaskan bahwa jika perintah diberikan kepada Nabi ﷺ maka juga berlaku bagi umatnya. Nabi diperintah untuk berteman dengan orang-orang yang senantiasa berdzikir pagi dan petang baik mereka fakir atau kaya.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan akan pengaruh teman, Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” [34]
Hadits ini terdapat permisalan teman yang shalih dengan seorang penjual minyak wangi dan teman yang jelek dengan seorang pandai besi. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan bergaul dengan teman shalih dan orang baik yang memiliki akhlak yang mulia, sikap wara’, ilmu, dan adab.
Maka, apa yang disampaikan oleh Imam Ahmad dan salafus Shalih dalam larangan duduk-duduk dengan Ahlul bid'ah adalah hal yang penting yang berkaitan dengan akidah, bukan hanya omong kosong semata, namun hal ini didukung dengan banyaknya dalil.
Dalil dari Al-Qur'an
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-an'am ayat 68:
وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا۟ فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).
Kaidah umum dalam Islam adalah bahwa setiap perintah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ juga berlaku untuk umatnya, kecuali jika ada dalil khusus yang mengecualikannya.
Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasulullah untuk berpaling dari teman-teman duduk yang mengejek ayat-ayat Allah. Dan kaidahnya, hukum asal perintah menunjukkan wajib.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: Bahwa termasuk dalam ayat ini setiap yang menuruti hawa nafsu mereka dan ahli bid’ah sampai hari kiamat.
Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata :
“Dalam ayat ini terkandung nasihat yang agung bagi mereka yang membolehkan duduk bermajelis dengan ahlul bid’ah, yaitu dengan orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah, mempermainkan Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak. Maka, jika seseorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya, tidak susah. Dan terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan kehadiran seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai syubhat, dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka) terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran” [35]
Dalil dari Al-Hadits
1. Menjauh dari penderita Lepra. Sabda Nabi ﷺ :
فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ
“Menjauhlah dari orang yang menderita lepra (judzam), seperti engkau lari dari singa.” [36]
Sisi pendalilan hadits ini adalah, kita disuruh menjauhi penyakit lepra yang mafsadatnya hanya untuk badan, apalagi menjauhi ahlul bid’ah yang mafsadatnya untuk agama dan akhirat kita.
2. Bid’ah lebih berbahaya dari rabies. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وإنَّهُ سيخرجُ من أُمَّتي أقوامٌ تَجارى بِهم تلكَ الأهواءُ كما يَتَجارى الكَلبُ لصاحِبِه ، لا يَبقى منه عِرْقٌ ولا مِفصلٌ إلَّا دخلَه
“Sesungguhnya akan keluar dari umatku beberapa kaum, akan menjalar di tengah mereka penyakit hawa nafsu bid'ah, sebagaimana menjalarnya penyakit anjing gila pada penderitanya. Tidak menyisakan satu urat ataupun persendian kecuali penyakit ini akan memasukinya.” [37]
Rabies adalah penyakit yang berbahaya, disebutkan para ahli kedokteran bahwa orang yang terkena gigitan anjing gila maka dalam hitungan menit akan menjalar ke seluruh tubuh, dan butuh waktu 90 hari untuk mengobatinya, setiap hari butuh puluhan suntikan untuk mengeluarkan racun nya.
Maka menjauhi bid'ah lebih berbahaya dari rabies pada pasien.
3. Menjauh dari Dajjal.
Dari ‘Imron bin Hushain, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهْوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يُبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يُبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ
“Barangsiapa mendengar kemunculan Dajjal, maka menjauhlah darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatangi Dajjal dan ia mengira bahwa ia punya iman (yang kokoh), malah ia yang menjadi pengikut Dajjal karena ia terkena syubhatnya ketika Dajjal itu muncul” [38]
Dajjal dalam hadits ini mengandung makna:
- Dajjal besar yang muncul mendekati hari kiamat.
- Dajjal yang bermakna Al-Kadzab (pembohong). Termasuk di dalamnya ahlul bid’ah dan pengikutnya.
Karena bisa jadi seseorang menyangka bahwa ia memiliki iman yang kokoh, namun ia terperangkap syubhat Dajjal. Akhirnya ia pun menjadi pengikut setianya. Wal ‘iyadzu billah.
4. Tatkala Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu membaca kitab Taurat, langsung ditegur Nabi ﷺ.
Diriwayatkan oleh Al Imam an Nasaii & juga yang lain dari Nabi ﷺ , bahwasanya Beliau ﷺ melihat ditangan Umar bin Khattab ada 1 lembar dari Taurat.
Bukan Taurat sempurna tapi dia adalah 1 lembar dari Taurat, Maka Nabi ﷺ berkata kepada Umar bin Khattab
أمتهوكون يا ابن الخطاب؟
Apakah kalian dalam keadaan bingung wahai Umar bin Khattab? Sehingga masih membaca kitab seperti ini, kitab yang sudah di nashk oleh Al Qur’an & seluruh kebaikan kalau memang disitu ada Wahyu maka kebaikan tersebut ada di dalam Al Qur’an
-تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ –
لقد جئتكم بها بيضاء نقية،
Sungguh aku telah datang kepada kalian dengannya (dengan syariat ini, dengan Islām ini) dalam keadaan putih bersih.
Jika Sahabat Nabi sekelas Umar saja ditegur oleh Nabi karena membaca Taurat, lantas bagaimana dengan orang semisal kita?
Dalil dari Ijmak
- Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: Telah berlalu Sunnah para Sahabat, Tabi’in serta orang-orang yang mengikutinya. Dan seluruh ulama Ahlus Sunnah telah sepakat untuk memusuhi ahlul bid’ah dan menghajr (mengisolasi) mereka. [39]
- Imam Ibnu Zamanin rahimahullah berkata, Ahlussunnah wal Jama'ah selalu mengkritik ahlul ahwa yang menyesatkan, mereka melarang dari duduk-duduk dengan Ahlul bid'ah, mereka khawatir akan terfitnah.
- Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin rahimahumallah berkata : “Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul ahwa ! Janganlah kalian berdebat dengan mereka ! Dan janganlah kalian mendengar dari mereka !” [40]
- Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata : Ada seseorang yang datang untuk mengucapkan suatu hadits, maka beliau berkata, aku akan bacakan satu ayat Al-Qur’an, maka dia menjawab tidak. Maka, Ibnu sirin berkata, kamu yang pergi atau aku yang pergi. “Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka hendaklah kalian berhati-hati dari siapa kalian mengambil agama ini” [41]
- Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata : “Barangsiapa mendengarkan ahlul bid’ah dengan pendengarannya, padahal dia mengetahui, maka ia keluar dari penjagaan Allah dan (urusannya) diserahkan kepada dirinya sendiri“. Setelah membawakan perkataan Sufyan ats-Tsauri di atas, al-Hafidz adz-Dzahabi berkata: “Kebanyakan para imam Salaf berpendapat dengan tahdzir ini, mereka melihat bahwa hati itu lemah dan syubhat-syubhat itu menyambar-nyambar” [42]
1.3.2. Bahaya Duduk-duduk dengan Ahlul Bid'ah
1. Terkena Syubhat Mereka
Abu Qilabah rahimahullah berkata :
لا تجالسوا أهل الأهواء، ولا تجادلوهم، فإني لا آمن أن يغمسوكم في الضلالة، أو يلبسوا عليكم في الدين بعض ما لبس عليهم
“Janganlah kalian duduk bersama ahlu ahwa’ (ahlul bid’ah) dan janganlah mendebat mereka dikarenakan sesungguhnya aku tidak merasa aman (khawatir) mereka akan menanamkan kesesatan kepada kalian atau menanamkan keraguan kepada kalian dalam perkara agama, yaitu dengan sebagian kerancuan yang ada pada mereka” [43]
2. Menentang ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi ﷺ yang melarang untuk dekat dengan mereka
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 63:
فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
Fudhail bin ‘Iyadh (wafat th. 187 H) rahimahullah berkata:
مَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ فَاحْذَرْهُ، وَمَنْ جَلَسَ مَعَ صَاحِبِ الْبِدْعَةِ لَمْ يُعْطَ الْحِكْمَةَ، وَأُحِبُّ أَنْ يَكُوْنَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حِصْنٌ مِنْ حَدِيْدٍ.
“Hindarilah duduk bersama ahli bid’ah dan barangsiapa yang duduk bersama ahli bid’ah, maka ia tidak akan diberi hikmah. Aku suka jika di antara aku dan pelaku bid’ah ada benteng dari besi.” [44]
Yaitu siapa yang duduk dengan Ahlul bid'ah maka segala urusannya akan diserahkan kepada dirinya sendiri, tanpa pertolongan Allah ﷻ, na'udzubillahmindalik.
3. Akan menjadikan kita mencintai mereka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan teman sebagai patokan terhadapa baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” [45]
Dalam perumpamaan yang indah, Malik bin Dinar rahimahullah menyampaikan pemahaman mendalam mengenai hubungan pertemanan manusia. Beliau menggambarkan,
النَّاسُ أَجْنَاسٌ كَأَجْنَاسِ الطَّيْرِ الْحَمَامُ مَعَ الْحَمَامِ وَالْغُرَابُ مَعَ الْغُرَابِ وَالْبَطُّ مَعَ الْبَطِّ وَالصَّعْوُ مَعَ الصَّعْوِ وَكُلُّ إِنْسَانٍ مَعَ شِكْلِهِ
“Manusia berjenis-jenis sebagaimana berjenis-jenisnya burung. Burung merpati dengan burung merpati, burung gagak dengan burung gagak, bebek dengan bebek, burung Regulus dengan burung Regulus. Begitu juga setiap orang akan bersama yang setipe dengannya.” [46]
4. Menjadikan mereka semangat dalam kebid’ahannya
Seolah-olah mereka mendapatkan support dan dukungan dari orang-orang yang duduk dengannya, dan ini berbahaya bagi pemberantasan bid'ah dan pengikutnya.
5. Fitnah bagi orang-orang awam.
Karena orang-orang awam hanya melihat dari sisi fisiknya saja.
Dan tujuan utama dari larangan duduk-duduk dengan mereka adalah membentengi diri dari syubhat-syubhat mereka. Karena hati ini lemah dan syubhat-syubhat kencang menyambar.
- Syubhat adalah penyakit hati yang berbahaya dan para ulama menyatakan, penyakit hati ada dua : Syubhat dan Syahwat.
Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 10:
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya;
Yaitu penyakit syubhat. Syubhat yaitu kerancuan pemikiran yang dibalut dengan kata-kata yang indah, sehingga mempengaruhi pemikiran seseorang.
1.3.3. Sikap Seorang Muslim terhadap Syubhat
Ada 2 bagian: preventive dan corrective.
1. Langkah preventive: karena menjaga lebih mudah daripada mengobati.
Sebelum terjadi adalah menjauh, seperti hadits Dajjal di atas, diperintahkan untuk menjauh dan perintah Allah ﷻ dalam surat Al-an'am ayat 68: فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ (maka tinggalkanlah mereka).
Dan orang-orang yang terjauhkan dari fitnah adalah orang-orang yang berbahagia.
عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ايْمُ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا
“Dari al Miqdad bin al Aswad Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Demi Allah! Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah. Dan barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya”. [47]
Maka, Jangan sok kokoh dengan alasan bisa menyaring, belum tentu! karena hati manusia diantara dua jemari Allah ﷻ.
إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” [48]
Sebagian orang mengira bahwa ini adalah kelemahan dan pengecut. Tidak, justru ini adalah keberanian karena menjaga sesuatu yang paling berharga dalam diri kita yaitu iman dan aqidah.
2. Langkah Korektif: pengobatan setelah terjadi.
1. Tetap tegar dan Tidak jatuh
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. [49]
2. Bergantung kepada Allah ﷻ
Banyaklah berdo'a dan jangan mengandalkan diri kita. Do'a yang paling sering dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ
Rabbanā lā tuzigh qulụbanā ba'da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladungka raḥmah, innaka antal-wahhāb
Artinya: (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (QS Ali Imran ayat 8).
3. Tidak larut menyimpannya
Jangan tunggu syubhat semakin lama dan semakin besar, namun segera obati agar tidak terlambat.
4. Pergi ke Dokter yang Ahli
Yaitu para ulama, alim robbani yang bisa mengajarkan ilmu. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al anbiya ayat 7:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
5. Pegang Erat-erat Prinsip Agama
Ini melibatkan penerapan prinsip-prinsip agama terutama prinsip-prinsip akidah dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tindakan, ucapan, maupun pemikiran. Memegang erat prinsip agama juga berarti menjauhi segala larangan agama dan senantiasa berupaya menjalankan perintah agama.
1.3.4. Larangan Berdebat dengan Ahlul Bid'ah
1. Debat yang terlarang: jika debatnya untuk membantah kebenaran atau memenangkan kebatilan atau debat kusir yang kotor (isi dan caranya).
مَا يُجَٰدِلُ فِىٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟
Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. (QS Al-Mukmin ayat 4)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat. [50]
Terdapat hadits yang menjelaskan bahwa seseorang yang dahulunya berada di atas hidayah bisa mejadi sesat karena sangat suka berdebat kusir yang tidak bermanfaat. Sangat disayangkan apabila seseorang sudah mendapatkan hidayah agama dan hidayah sunnah kemudian sangat hobi berdebat dan menjadi sesat karenanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً
“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat), ‘Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja’.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Mengapa bisa tersesat? Karena berdebat kusir yang mengeraskan hati dan meredupkan cahaya hidayah.
Hendaknya kita mengingat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
“Aku menjamin istana di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia di atas kebenaran.” [51]
2. Debat yang Disyariatkan
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat an-Nahl ayat 125:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Hukum asalnya adalah menjauhi debat, kecuali ulama yang benar-benar berilmu dan memandang kemaslahatannya sangat besar seperti dahulu Ibnu Abbas mendebat kaum Khawarij, Umar bin Abdul Aziz, Al Auza'i dan lain sebagainya.
*****
Sesi #2:
Bab 2: Sumber Akidah adalah Hadits Rasulullah ﷺ
📖 Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata:
وَالسُّنَّةُ عِنْدَنَا آثَارُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَالسُّنَّةُ تُفَسِّرُ القُرْآنَ، وَهِيَ دَلَائِلُ القُرْآنِ، وَلَيْسَ فِي السُّنَّةِ قِيَاسٌ، وَلَا تُضْرَبُ لَهَا الأَمْثَالُ، وَلَا تُدْرَكُ بِالعُقُولِ وَلَا الأَهْوَاءِ، إِنَّمَا هِيَ الِاتِّبَاعُ وَتَرْكُ الهَوَى.
(4) Sunnah (Akidah) menurut kami (Ahlus Sunnah) diambil dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (5) Sunnah berfungsi menafsirkan Al-Quran dan menunjukkan makna-makna Al-Quran. (6) Tidak ada analogi (qiyas) dalam Sunnah. (7) Sunnah tidak boleh dibantah dengan pemisalan dan tidak boleh dibantah dengan akal dan hawa nafsu. Akan tetapi Sunnah disikapi dengan ittiba (diikuti dan diterima) dan meninggalkan hawa nafsu.
📃 Penjelasan:
2.1. Sunnah (Akidah) menurut kami (Ahlus Sunnah) diambil dari hadits-hadits Rasulullahﷺ
Kedudukan Sunnah Nabi ﷺ
Sunnah adalah apa yang shahih dari Rasulullah ﷺ dalam bentuk qaul (ucapan), fi’il (perbuatan) dan taqrir (penetapan).
- Hadits qauli (Sunnah dalam bentuk ucapan) ialah segala ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti hadits segala sesuatu tergantung niat.
- Hadits fi’li (Sunnah yang berupa perbuatan) ialah segala perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberitakan oleh para Shahabatnya, misalnya tentang wudhu’, shalat, haji, dan selainnya.
- Hadits taqriri ialah segala perbuatan Shahabat yang diketahui oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau membiarkannya (sebagai tanda setuju) dan tidak mengingkarinya. Seperti persetujuan, Nabi ﷺ ketika menanyakan kepada budak wanita, dimana Allah ﷻ dan dia menjawab di langit. Maka, Nabi ﷺ menyuruh membebaskannya karena dia mukminah.
Bahasan hadits di sini adalah kalau haditsnya shahih. Maka, ia adalah hujjah baik dalam masalah Aqidah atau hukum, baik derajatnya ahad (diriwayatkan satu, dua atau tiga jalur) atau mutawatir (Diriwayatkan dari banyak jalur yang tidak memungkinkan adanya kebohongan).
Hadits adalah hujjah, karena ia adalah wahyu sama seperti Al-Qur'an. Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-A'raf Ayat 3:
ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu
Dan tidaklah Allah ﷻ menurunkan kepada Nabi ﷺ kecuali ada dua: Al-Qur’an dan Al-Hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه
“Ketahuilah sesungguhnya saya diberi (wahyu) Al-Quran dan (wahyu) yang semisalnya bersamaan dengannya (As-Sunnah)” [52]
Siapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” [53]
Sa'ad bin Mu’adz Radhiyallahu’anhu berkata, tidaklah aku mendengar Satu hadits pun dari Rasulullah ﷺ, kecuali aku tahu bahwa itu adalah hak (benar)dari Allah ﷻ. [54]
Maka, wajib bagi kita untuk menerima dan mengimaninya. Karena seperti kata penulis, barangsiapa menolak sunnah-sunnah Nabi ﷺ, maka dia di tepi jurang kebinasaan.
2.2. Sunnah berfungsi menafsirkan Al-Quran dan menunjukkan makna-makna Al-Quran.
Nabi ﷺ diutus untuk menjelaskan makna-makna yang ada di dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl Ayat 44:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur-an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [An-Nahl/16: 44]
Maka, kita tidak mungkin memahami Al-Qur’an tanpa penjelasan Nabi ﷺ, bahkan sekelas para sahabat Nabi yang merupakan orang-orang ahli dan jago berbahasa Arab.
Oleh karenanya, tatkala surat Al-An'am ayat 82 turun:
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Para sahabat bertanya, "Siapakah di antara kita yang-tidak berbuat zalim terhadap dirinya sendiri?" Lalu turunlah firman Allah ﷻ: Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (Luqman: 13). Yang dimaksud kezaliman adalah syirik. [55]
2.2.1 Cara Menafsirkan Ayat-ayat Al-Qur'an
Intinya, sunnah Nabi ﷺ adalah penjelas bagi Al-Qur’an, makanya kalau kita belajar Ushul tafsir, ada beberapa metode/cara menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an:
1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, contoh Firman Allah Ta’ala
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS.Yunus: 62), makna wali Allah dalam firman Allah Ta’ala di atas, ditafsirkan dengan ayat yang selanjutnya:
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” (QS.Yunus: 63).
2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan hadits. Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling paham dalam menafsirkan Al-Qur’an, maka inilah penafsiran yang terbaik. Seperti, Firman Allah ﷻ:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ َ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya ….” (QS. Yunus: 26)
Dijelaskan Nabi ﷺ melalui hadits Riwayat Ahmad bahwa makna زِيَادَةٌ adalah melihat wajah Allah ﷻ.
Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah dalam surat 238:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّـهِ قَانِتِينَ ﴿٢٣٨﴾
“Peliharalah seluruh shalat dan peliharalah shalat wustha. Dan berdirilah engkau dalam shalat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah[2]: 238)
Dan dijelaskan Nabi ﷺ melalui hadits riwayat Muslim yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu sebagai shalat Ashar, meskipun para ulama berbeda-beda pendapat hingga mencapai 50 tafsiran.
3. Menafsirkan Al-Qur'an dengan penafsiran para salaf (sahabat, tabi'in dan tabiit tabi'in).
2.2.2 Model Sunnah Dalam Menjelaskan Al Quran
Penjelasan Al-Qur’an melalui sunnah Nabi ﷺ ada beberapa model:
1. Mujmal (Global). Seperti pada ayat:
وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ
Dan dirikanlah Shalat dan tunaikanlah zakat. (QS Al-Baqarah ayat 43).
Ayat ini masih global, adapun perincian dan tata caranya dijelaskan melalui hadits-hadits Nabi ﷺ. Seperti :
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Dari Malik bin Al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatlah kalian (dengan cara) sebagaimana kalian melihatku shalat.” [56]
2. Al-Qur'an mentakyid hadits yaitu fungsi hadis dalam memberikan batasan atau penjelasan lebih lanjut terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang bersifat umum atau mutlak.
Contoh penerapan surat Al-Ma'idah ayat 38:
وَٱلسَّارِقُ وَٱلسَّارِقَةُ فَٱقْطَعُوٓا۟
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
Perinciannya dijelaskan melalui hadits Nabi ﷺ. nishâb/batasan minimal dalam masalah pencurian, yaitu tiga dirham atau seperempat dinar atau yang senilai dengan salah satu dari keduanya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist `Aisyah, bahwa Nabi ﷺ bersabda,”Tidak dipotong tangan (pencuri) terkecuali pada seperempat dinar atau lebih”
Dan Yang dipotong adalah sampai pergelangan tangan, bukan sampai siku-siku seperti dalam wudhu.
3. Bayan Tasyri' atau Ziyadah: Menjelaskan Al-Qur'an dengan memberikan tambahan hukum yang tidak ada di dalam Al-Qur’an. Seperti masalah mahram.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 24, setelah menjelaskan tentang mahram disebut وَأُحِلَّ لَكُم مَّا وَرَآءَ ذَٰلِكُمْ (dihalalkan bagi kamu selain yang demikian), dzahirnya berarti selain itu adalah halal, tetapi dalam hadits ada tambahan.
Allah ﷻ berfirman:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ …
وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ
“Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu…
dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau…”
(QS. An-Nisa’: Ayat 23)
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menambahkan haramnya menggabungkan pernikahan wanita dan bibinya, baik bibi dari pihak ayah (‘ammah), maupun bibi dari pihak ibu (kholah).
Abu hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
ﻟَﺎ ﻳُﺠْﻤَﻊُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻭَﻋَﻤَّﺘِﻬَﺎ ، ﻭَﻟَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻭَﺧَﺎﻟَﺘِﻬَﺎ
“Janganlah menggabungkan menikahi wanita dengan ‘ammahnya dan juga kholahnya” (muttafaqun alaih).
Selain itu dalam Al-Qur’an, yang diharamkan untuk dimakan ada empat. firman Allah Ta’ala:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُوَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِوَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَاأَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ(المائدة:3)
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Maidah ayat 3).
Kemudian dalam hadits ada penambahan binatang buas. Abu Tsa’labah Radhiyallohu ‘anhu berkata:
نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السَّبُعِ
“Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang memakan setiap hewan bertaring yang buas”(Muttafaqun ‘Alaih). [57]
Maka, hadits ini wajib diterima. Dalam firman-Nya.
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah“. [An-Nisaa/4 : 80]
Bahkan para ulama menjelaskan, bahwa setiap ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kenabian merupakan dalil yang menjelaskan kebenaran risalah Nabi ﷺ yang wajib ditaati dan hadits nabi yang harus diterima.
2.2.3 Kaidah-kaidah Penting yang Berkaitan dengan Sunnah Nabi ﷺ
1. Hadits Nabi ﷺ adalah hujjah seperti Al-Qur'an
Sebagaimana kita mengimani Al-Qur’an, maka demikian juga kita mengimani hadits-hadits Nabi ﷺ. Barangsiapa yang menolaknya, maka dia telah kafir.
2. Tidak boleh mencukupkan dengan Al-Qur’an saja tanpa Hadits
Seperti kelompok ingkar sunnah atau Qur’aniyyun di India. Atau di Indonesia dikenal dengan Inkarus Sunnah. Ini adalah pemahaman yang kufur berdasarkan kesepakatan para ulama. Seperti dijelaskan oleh Ibnu Hazm dan Imam Suyuthi dalam kitabnya Miftahul Jannah.
3. Hadits yang shahih adalah hujjah dalam masalah akidah dan Fiqh. Tidak disyaratkan harus hadits mutawatir.
Para ulama sepakat bahwa hadits shahih meskipun hadits ahad, dapat dijadikan hujjah baik dalam masalah Aqidah maupun fikih. Dan ini adalah bantahan terhadap kaum Mutazilah atau filsafat (juga Hizbut Tahrir) yang menolak hadits-hadits ahad dalam masalah akidah. Dan ini adalah paham yang sesat karena konsekuensinya tidak menerima banyak hadits yang berkaitan dengan akidah, seperti siksa dan adzab kubur, keluarnya Dajjal, melihat Allah ﷻ dan lainnya.
Dan teori pembagian mereka antara aqidah harus mutawatir, sedangkan fiqih cukup dengan ahad adalah pembagian yang bid'ah, tidak dikenal oleh para salaf. Apalagi antara aqidah dan fiqih ada keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan.
Sebagai contoh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a di dalam shalatnya dengan do’a:
اَللّهُمَّ إِنِّـي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ…
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….”
Hadits ini adalah hadits Ahad, dan terkandung masalah fikih dan akidah, maka merekapun menjadi bingung, dan mereka menyimpulkan boleh dibaca tetapi tidak boleh diyakini.. Laa hawla wa laa quwwata illa billah...
4. Hadits tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur’an.
Karena sebagian kelompok tidak menerima hadits dengan alasan bertentangan dengan Al-Qur’an. Padahal, hadits adalah wahyu. Allah ﷻ berfirman dalam Surat An-Najm Ayat 3:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Maka, tidak mungkin saling bertentangan. Kenapa mereka tidak merenungi firman-Nya dalam Surat An-Nisa Ayat 82:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Imam Syafi'i Rahimahumullah berkata dalam Kitab Jima'ul Ilmi menegaskan bahwa sunnah Nabi ﷺ tidak mungkin bertentangan dengan Al-Qur'an selama-lamanya.
Imam Ibnu Khuzaimah berkata : “Aku tidak mengetahui ada dua hadits yang bertentangan. Barang siapa yang memiliki hadits yang bertentangan, hendaklah mendatangiku membawa hadits itu supaya aku mengompromikannya (menyatukannya).” Beliau terkenal sebagai pakar dalam ilmu Mukhtalaf al-Hadits (ilmu yang membahas pendamaian hadits-hadits yang tampak kontradiktif).
Maka, jika ada yang menolak hadits karena berpendapat bertentangan dengan Al-Qur'an maka dia jahil. Dan kalau sekilas seperti bertentangan dengan Al-Qur'an, maka perlu penelitian lagi karena kurangnya ilmu.
5. Tidak ada pendapat seseorang jika sudah ada nash dari hadits Nabi ﷺ.
Maka, benarlah apa yang disampaikan Imam Syafi'i Rahimahumullah: “Setiap Hadits yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dari aku” [58]
Alangkah bagusnya perkataan Imam Malik,
كل يُؤخذ من كلامه ويُرد إلا صاحب هذا القبر.
“Semua orang bisa diambil atau ditolak ucapannya kecuali pemilik kubur ini”. Beliau mengisyaratkan ke kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [59]
Siapa yang menentang dalil dengan akal, maka dia menyerupai iblis. Prinsip ini sering dijelaskan oleh para ulama besar, seperti Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan ditegaskan kembali oleh Imam Ibnul Abi al-Izz dalam kitab syarah Aqidah Thahawiyah, yang menyatakan bahwa siapa saja yang membantah wahyu dengan akal, maka ia menyerupai Iblis.
Iblis adalah makhluk pertama yang menolak perintah Allah dengan qiyas dan akalnya. Saat diperintahkan untuk sujud kepada Adam, Iblis menolaknya dengan analogi (QS. Al-A’raf: 12), merasa dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.
2.2.4 Kewajiban Kaum Muslimin terhadap Sunnah Nabi ﷺ
Mengikuti jalan Nabi ﷺ melalui sunnah-sunnah beliau adalah jalan keselamatan (lurus). Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat Surat Al-Mu’minun Ayat 73:
وَإِنَّكَ لَتَدْعُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar menyeru mereka kepada jalan yang lurus.
Dan mengikut Nabi ﷺ adalah jalan menuju surga.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah yang enggan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga).”[60]
قَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ رَحِ مَهُ اللَّهُ: «السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ.
Malik bin Anas rahimahullah ta’la berkata “Sunnah itu seperti perahu Nabi Nuh. Siapa saja yang menaikinya, maka selamat. Dan siapa saja yang terlambat menaikinya, maka ia akan tenggelam (binasa)”.[61]
Adapun kewajiban kita terhadap sunnah Nabi sebagai berikut:
1. Mencintai Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
عن أنس رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ».
[متفق عليه] - [صحيح البخاري: 15]
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Tidak sempurna iman salah seorang kalian hingga dia menjadikan aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." [Muttafaq 'alaihi] [62]
Bahkan, Uhud Adalah Gunung Yang Mencintai Nabi ﷺ, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ أُحُدًا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ
“Gunung Uhud adalah sebuah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Muslim no. 1393)
2. Mengagungkan Sunnah-sunnah Nabi ﷺ
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Fath Ayat 9:
لِّتُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
Qatadah berkata: yakni agar kalian menolong dan melindunginya dari setiap orang yang ingin mencelakainya. [63]
Lawannya adalah merendahkan sunnah atau mengolok-oloknya. Seperti menganggapnya sebagai ketinggalan zaman, ciri teroris dan lainnya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 65:
قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"
3. Meyakini bahwasanya Sunnah Nabi ﷺ adalah Sebaik-baik Petunjuk
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” [64]
Maka, untuk mendapatkan hidayah dan petunjuk, hanya dengan mengikuti sunnah-sunnah Nabi ﷺ. Tidak ada jalan lain!
4. Pasrah dan Tunduk kepada Sunnah Nabi ﷺ
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 65:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
Maka, sikap seorang muslim tatkala mendapatkan perintah melalui sunnah Nabi ﷺ adalah tunduk dan patuh (sami'na wa atho'na).
Dalam surat Al-Ahzab ayat 36 Allah ﷻ berfirman :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
5. Mengamalkannya
Jika itu sebuah perintah, maka kita mengamalkannya, dan jika itu sebuah larangan, maka tugas kita untuk meninggalkannya.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 7:
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
Dengan demikian, kita akan mendapatkan kehidupan yang sebenarnya. Yaitu mendapatkan hati yang hidup. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-anfal ayat 24:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَقَلْبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.
Ibnul Qayyim menyampaikan bahwasanya telaga Rasulullah ﷺ bukan hanya terdapat di surga, namun juga terdapat di dunia, yaitu sunnah dan syariat yang beliau ﷺ bawa.
Disebutkan dalam Ijtimaul Juyusy, bahwa Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah Ta'ala berkata,
فَلَهُ ﷺ حَوْضان عظِيمان، حَوْضٌ في الدنيا وهو سُنَّتُهُ وما جاء به، وحَوْضٌ فِي الآخِرَةِ. فالشّارِبُونَ من هَذا الحَوْضِ في الدُّنْيا هُمُ الشّارِبُونَ مِن حَوْضِهِ يَوْمَ القِيامَةِ.
Ada dua telaga milik Rasulullah shallallahu alahi wa sallam.
Satu telaga di dunia, yaitu sunnah dan syariat yang beliau bawa. Sedangkan satu telaga lagi di akhirat.
Maka orang-orang yang meminum dari telaga beliau yang ada di dunia, niscaya akan minum dari telaga beliau di akhirat pada hari kiamat kelak.
6. Mencukupkan dengannya dan tidak menambah dengan kebid’ahan.
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa seburuk-buruk perkara adalah bid'ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan.” [65]
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” [66]
6. Semangat dalam Mempelajarinya
Betapa banyak hadits-hadits yang telah dibukukan oleh para ulama. Beberapa kitab hadits yang terkenal dan menjadi rujukan utama adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa'i, dan Sunan Ibnu Majah. Keenam kitab ini secara umum dikenal sebagai Kutubus Sittah (Enam Kitab Pokok) dan dianggap sebagai sumber utama hadits dalam Islam.
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ
“Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” (Hadits yang shahih dan mutawatir).[67]
8. Memahami Hadits Nabi ﷺ dengan Pemahaman yang Benar
Maka, perlu adanya bimbingan ulama Rabbani dalam memahami hadits Nabi, bukan bermodalkan cocoklagi dan logika semata seperti halnya klaim Ustadz akhir zaman dalam memahami hadits-hadits Nabi tentang peristiwa akhir zaman. Ini sangat berbahaya sekali.
Sangat penting untuk memahami hadits berpedoman dengan pemahaman para sahabat Nabi ﷺ, kalau tidak maka bisa tersesat dan mendatangkan keburukan.
9. Meyebarkannya
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” [68]
Apalagi zaman sekarang, begitu mudah menyampaikan hadits melalui perangkat elektronik. Karena banyaknya bid’ah dan kemungkaran timbul karena sedikitnya penyebaran hadits atau sunnah.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan[69],
“تبليغ سنته إلى الأمة أفضل من تبليغ السهام إلى نحور العدو؛ لأن ذلك التبليغ يفعله كثير من الناس، وأما تبليغ السنن فلا تقوم به إلا ورثة الأنبياء وخلفاؤهم “
“Menyampaikan Sunnah kepada umat lebih utama daripada melempar anak panah ke leher-leher musuh Islam. Karena hal itu (berperang dengan senjata) bisa dilakukan oleh sekian banyak orang. Adapun menyampaikan Sunnah hanya bisa dilakukan oleh para pewaris Nabi dan pengganti mereka.” Pernyataan ini membuka wawasan terhadap pentingnya penyebaran ajaran Nabi lebih daripada terlibat dalam konflik fisik.
10. Membela Sunnah Nabi ﷺ
Sebagaimana dahulu para sahabat rela berkorban untuk membela dan melindungi Nabi ﷺ, maka selayaknya kita membela hadits-hadits Nabi ﷺ dari golongan yang mememeranginya.
Sebagaimana kita membela kehormatan orang tua kita, saat dicela, apalagi terhadap sunnah-sunnah Nabi ﷺ bagi orang-orang yang ingin merubah maknanya atau mendustakannya.
Membela hadits-hadits Nabi berarti mempertahankan, menjaga, dan menegakkan ajaran-ajaran Nabi ﷺ yang terdapat dalam hadits. Ini melibatkan upaya untuk memastikan keaslian, keabsahan, dan pemahaman yang benar tentang hadits, serta melindunginya dari berbagai bentuk penolakan, penyimpangan, dan pemalsuan.
Kami menulis buku Membela Hadits Nabi sebanyak 3 jilid sebagai sedikit sumbangsih dalam masalah ini. Bisa dibaca di sini: Membela Hadits Nabi - Jilid 1
2.3 Tidak ada Qiyas dalam Aqidah & Sunnah Tidak Boleh Dibantah dengan Permisalan, Akal dan Hawa Nafsu
Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَلَيْسَ فِي السُّنَّةِ قِيَاسٌ، وَلَا تُضْرَبُ لَهَا الأَمْثَالُ، وَلَا تُدْرَكُ بِالعُقُولِ وَلَا الأَهْوَاءِ، إِنَّمَا هِيَ الِاتِّبَاعُ وَتَرْكُ الهَوَى.
(6) Tidak ada analogi (qiyas) dalam Sunnah. (7) Sunnah tidak boleh dibantah dengan permisalan dan tidak boleh dibantah dengan akal dan hawa nafsu. Akan tetapi Sunnah disikapi dengan ittiba (diikuti dan diterima) dan meninggalkan hawa nafsu.
📃 Penjelasan:
Maksud beliau tidak ada qiyas (analogi) dalam masalah akidah karena aqidah itu bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi ﷺ bukan berdasarkan akal. Akal sifatnya terbatas dan akal digunakan untuk memahami sumber dalil yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan menghakimi keduanya.
Jadi maksud beliau adalah qiyas (analogi) yang batil, seperti menganalogikan Allah ﷻ dengan makhluk.
Demikian juga menganalogikan hukum dunia dengan alam barzakh. Seperti orang-orang zindiq yang manganalogikan dengan alam dunia, sehingga mereka tidak percaya dengan azab kubur.
Maka, selama sudah ada ada dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka tidak ada analogi-analogi yang melibatkan akal yang memiliki keterbatasan, tugas kita hanya sami'na wa atha'na.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata,
إِنَّ لِلْعَقْلِ حَدًّا ينتهي إِلَيْهِ مَا أَنَّ لِلْبَصَرِ حَدًّا ينتهي إِلَيْهِ
“Akal memiliki batas, sebagaimana mata juga mempunyai batas penglihatan.” [70]
Bukan maksud beliau dengan qiyas di sini adalah qiyas dalam masalah fiqh yang benar, buktinya salah satu sumber hukum madzhab Imam Ahmad adalah qiyas, namun yang diingkari oleh beliau adalah analogi-analogi yang bathil untuk menentang wahyu. Seperti perkataan iblis ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam adalah, "Aku lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".
Iblis menggunakan akalnya, menolak perintah sujud karena merasa dirinya lebih mulia dari Adam berdasarkan asal penciptaannya.
Para ulama mengatakan, setiap qiyas yang bertentangan dengan dalil maka itu adalah qiyas yang rusak atau tidak sah.
Demikian juga tidak boleh membantah dalil dengan permisalan-permisalan.
Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu meriwayatkan dari Nabi ﷺ sebuah hadits: “Hendaklah berwudhu setelah memakan makanan yang terkena api.”
Maka ada seorang sahabat berkata padanya (Abu Hurairah), “Tidakkah kamu perintahkan mereka agar berwudhu setelah minum air panas.” Maka ia jawab, “Wahai anak saudaraku, jika aku menyampaikan padamu hadits Nabi ﷺ maka janganlah kamu membuat permisalan-permisalan untuknya.” [71]
Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Aisyah menjawab,
كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.” [72]
Sunnah juga tidak boleh dibantah dengan akal dan hawa nafsu.
Akal bukan standar dalil, tidak boleh untuk membantah nash yang sudah ada. Karena sifat akal yang terbatas dan tidak mungkin mengetahui segala dalil yang ada. Jika akal dijadikan standar, maka akal siapa yang bisa dijadikan standar kebenaran? Sesuatu hal yang tidak pasti!
Ulama mengibaratkan akal seperti handphone, tidak akan ada manfaatnya jika tidak ada pulsa(signal), akal juga seperti mata yang tidak berfungsi jika tidak ada cahaya, begitupun akal tidak berfungsi tanpa bimbingan wahyu dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 59:
فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)
Dalam ayat ini, Allah ﷻ tidak menyuruh mengembalikan kepada akal.
Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ
“Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” [73]
Demikian juga jangan membantah Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan hawa nafsu, karena hawa nafsu bukan standar kebenaran yang bisa diikuti.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Shad ayat 26:
وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.
Dalam surat Al-Mukminun ayat 71:
وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya.
Maka, salah satu tujuan pokok syari'at adalah menentang atau menyelisihi hawa nafsu.
Dari paparan ini, kita bisa simpulkan beberapa poin penting:
1. Tunduk dan Patuh kepada Dalil
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 65:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
Maka, kewajiban kita adalah tunduk dan patuh kepada Dalil, karena apa yang disampaikan Rasûlullâh pasti kebenaran.
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Dahulu aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ karena ingin menjaganya, tetapi orang-orang Quraisy melarangku. Mereka mengatakan, "Apakah engkau akan menulis segala sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah ﷺ, sedangkan Rasulullah ﷺ seorang manusia yang berbicara ketika marah dan rida?" Sehingga aku berhenti menulis. Lalu aku menceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau menunjuk dengan jari ke mulutnya seraya bersabda, "Tulislah! Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku kecuali kebenaran." - [Sahih] - [HR. Abu Daud] - [Sunan Abu Daud - 3646]
Contoh sahabat dalam ittibâ kepada Rasulullah ﷺ:
- Sikap para sahabat dalam meniru Rasulullah, meskipun Rasulullah melepas sandal dalam shalat:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu,
أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى فخَلعَ نَعليهِ فخلعَ النَّاسُ نعالَهُم فلمَّا انصرَف قالَ: لمَ خَلعتُمْ نعالَكُم ؟ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ، رأيناكَ خلَعتَ فخَلَعنا قالَ: إنَّ جَبرئيلَ أتاني فأخبرَني أنَّ بِهِما خَبثًا فإذا جاءَ أحدُكُمُ المسجِدَ فليقلِب نعليهِ فلينظُر فيهما خبثٌ؟، فإن وجدَ فيهما خبثًا فليمسَحهما بالأرضِ، ثمَّ ليصلِّ فيهما
“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika sedang shalat beliau melepas sandalnya. Maka para makmum pun melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat Nabi bertanya, ‘mengapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun mengikuti engkau.’ ‘(Adapun aku,) sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkanku bahwa pada kedua pasang sandalku terdapat najis. Maka jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, hendaknya ia lihat bagian bawahnya apakah terdapat najis Jika ada maka usapkan sandalnya ke tanah, lalu shalatnya menggunakan keduanya’” [74]
- Pada peristiwa Isra miraj (perjalanan risalah hanya dalam satu malam), banyak yang tidak mempercayai kisah Rasulullah ﷺ yang tidak masuk akal tersebut.
Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah yang paling pertama membenarkan peristiwa tersebut, karena keimanannya yang kuat terhadap peristiwa Isra Miraj dan perkataan Nabi ﷺ.
نَعَمْ إِنِّي لَأُصَدِّقُهُ فِيْمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غَدْوَةٍ أَوْ رَوْحَةٍ
“Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.”
Aisyah mengatakan,
فَلِذَلِكَ سُمِّيَ أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ
“Itulah mengapa beliau dinamakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang membenarkannya.” [75]
Maka, sungguh benar apa yang disampaikan Imam Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri rahimahullah, wahyu itu dari Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ hanya menyampaikan dan kewajiban kita adalah tunduk dan patuh. Sumber?
Seperti halnya juga, Umar tatkala mencium Hajar aswad. Umar bin Khattab pernah berkata,
إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” [76]
2. Jangan menentang wahyu dengan akal, logika dan hawa nafsu
Jika seseorang melakukan hal ini, maka dia menyerupai Iblis ketika membantah Allah ﷻ tatkala disuruh kepada Adam alaihissalam.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata
ما عارض أحدٌ الوحيَ بعقله إلا أفسد اللهُ عليه عقلَه، حتى يقول ما يضحك منه العقلاء!
“Tidaklah seseorang menentang wahyu dengan akalnya, kecuali Allah akan menjadikan akalnya rusak. Akibatnya, dia akan mengatakan hal-hal yang menjadi bahan tertawaan orang-orang yang berakal sehat.” [77]
Imam Ibnul Abi Izz Rahimahullah berkata, siapa yang menentang wahyu dengan akalnya, maka dia seperti iblis, tatkala menentang perintah Allah dengan akalnya. [78]
Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik darinya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 11—12)
Perbuatan menentang wahyu dengan akal adalah warisan iblis. Dialah yang pertama kali menentang wahyu dengan akal dan mendahulukan akal dari pada wahyu.
Perhatikan kisah berikut:
أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.
“Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Makanlah dengan tangan kananmu!’ Dia malah menjawab, ‘Aku tidak bisa.’ Beliau bersabda, ‘Benarkah kamu tidak bisa?’ -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya.” [79]
Ibnu Abbas pernah dibantah seseorang tatkala memberitahukan hadits dan dibantah dengan perkataan Abu Bakar dan Umar, maka beliau berkata:
يُوشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةٌ مِنْ السَّمَاء. أَقُولُ لَكُمْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَتَقُولُونَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ؟!
“Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda”, tetapi kalian malah mengatakan, “Kata Abu Bakar dan Umar?!”.”
Lihatlah, bagaimana Ibnu Abbas marah besar tatkala ucapan Nabi dibantah dengan pendapat Abu Bakar dan Umar, lantas bagaimana kiranya jika dibantah dengan pendapat orang zaman sekarang?!
Suatu ketika Abu Muawiyah yang buta berbicara di majlis Harun Ar-Rasyid, maka ia menyampaikan hadits: "Suatu saat Nabi Adam dan Musa 'alaihima sallam berdebat dan Adam memenangkannya.
Tiba-tiba Ali bin Ja'far menyela: "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, masa kehidupan Nabi Adam dan Nabi Musa kan berbeda masa yang lama". Lalu khalifah Harun Ar-Rasyid menghardiknya: "Dia menceritakan kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kamu membantah dengan bagaimana mungkin?" Beliau terus mengulang-ulangi, sampai Ali bin Ja'far terdiam"
Abu Utsman Ash Shabuni berkata: "Demikianlah seharusnya seseorang dalam mengagungkan hadits-hadits Nabi, menerimanya dengan sepenuh penerimaan, kepasrahan dan mengimaninya". [80]
3. Hukuman bagi Orang yang Menolak Sunnah-sunnah Nabi ﷺ
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nur Ayat 63:
فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.
Seseorang datang kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah, ia bertanya, "Wahai Abu Abdillah! Dari manakah aku mulai berihram? Jawab Imam Malik, "Dari Dzul Hulaifah sebagaimana ihramnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
Orang itu berkata, "Aku ingin berihram dari Masjid Nabawi." Imam Malik berkata, "Jangan engkau lakukan itu!"
Orang itu berkata, "Aku ingin berihram dari masjid Nabawi dari samping kubur Nabi." Imam Malik berkata, "Jangan engkau lakukan! Karena aku khawatir engkau ditimpa fitnah."
Dia berkata, "Fitnah apa? Itu hanya menambah beberapa mil saja dari tempat miqat yang seharusnya?" Imam Malik berkata, "Fitnah apakah yang lebih besar dari engkau memandang lebih mendapatkan keutamaan sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mencontohkannya?"
Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman,
فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم
"Maka orang-orang yang menyelisihi perintahnya hendaklah mereka takut akan ditimpa fitnah (syirik) atau azab yang pedih." (QS. An-Nur: 63). [81]
Dari Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah seorang tabi’in, bahwa ia pernah melihat seorang yang shalat dua raka’at setelah terbitnya fajar lebih dari dua raka’at, ia melakukan banyak rukuk dan sujud. Maka Sa’id melarangnya melakukan hal itu, lalu lelaki itu berkata kepada Sa’id:
يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، أَيُعَذِّبُنِي اللَّهُ عَلَى الصَّلَاةَ ؟!
“Wahai Abu Muhammad, apakah Allah subhanahu wata’ala akan mengadzabku atas shalatku ini?!” Sa’id menjawab:
لَا، وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلَافِ السُّنَّةِ
“Tidak, akan tetapi Allah akan mengadzabmu lantaran kamu menyelisihi sunnah.” (Ad-Darimi: 1/404, Al-Baihaqi: 2/466, Abdurrazaq: 4755)
Imam Adzahabi mengisahkan dalam Syiar Alami Nubala, ada seorang ulama menyampaikan hadits tentang larangan jual beli musharrah yaitu menjual kambing atau unta dengan membiarkan susunya tidak diperah agar terlihat gemuk.
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
لاَ تُصِرُّوا اْلإِبِلَ وَالْغَنَمَ
“Janganlah kalian menahan susu unta dan kambing (agar kelihatan gemuk)..."
Lalu ada seorang pemuda berkomentar bahwa hadits Abu Hurairah tidak diterima. Maka, tiba-tiba ada seekor ular dari atap masjid yang mengejar pemuda tersebut, maka orang-orang menasihati bertaubatlah, hingga dia bertaubat. Maka ular tersebut akhirnya menghilang.
Abu Abdillah Muhammad bin Ismalil At-Taimy berkata : Aku pernah membaca dalam sebagian kisah, bahwa pernah ada seorang ahlul bid’ah tatkala mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ حَتىَّ يَغْسِلَهَا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
Apabilah salah seorang di antara kamu bangun dari tidurnya, maka janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sehingga ia mencucinya terlebih dahulu, karena dia tidak mengetahui di mana tangannya bermalam.
Maka ahlu bid’ah tersebut berkata dengan nada mengejek: “Aku mengetahui di mana tanganku bermalam di atas tempat tidur !! maka ketika ia bangun, tangannya telah masuk ke dalam duburnya sampai pergelangan tanganya”.
At-Taimy berkata: ”Hendaklah seseorang merasa takut menganggap ringan terhadap sunnah serta keadaan-keadaan yang (seharusnya ia) tawaqquf/diam. Maka lihatlah akibat yang telah sampai pada orang tersebut akibat akibat kejekan perbuatannya” [82].
Maka hati-hati dan waspada dari menolak hadits Nabi, seperti ada diantara manusia yang tidak mempercayai hadits tentang lalat:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِيْ الآخَرِ شِفَاءً
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Apabila lalat jatuh di bejana salah satu diantara kalian maka celupkanlah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat penawarnya”. [83]
Banyak juga yang menolak isbal, masuk neraka gara-gara celana panjang yang menutupi mata kaki, karena menurutnya tidak masuk akal! Na'udzubillahmindalik. Padahal Hadits yang berkenaan dengan isbal adalah mutawatir yang diriwayatkan dari 30 sahabat.
Maka, hati-hatilah dengan meremehkan hadits-hadits Nabi ﷺ.
4. Kaidah-Kaidah tentang akal
Ada beberapa kaidah penting yang disampaikan oleh Syaikh Sholeh Sindi Hafidzahullah dalam kitabnya Manzilatul aql fil islam - "kedudukan akal dalam Islam":
- Akal memiliki kedudukan yang tinggi dalam islam. Islam menjunjung tinggi akal yaitu dengan menempatkannya sebagai syarat taklif. Yaitu ketentuan yang menjadikan seseorang wajib menjalankan hukum-hukum syariat Islam, dengan berakal sehat. Maka, Orang gila diangkat penanya. Dan diantara Lima perkara yang sangat dijaga dalam Islam adalah akal: agama, nyawa, harta, akal dan nasab.
Begitu juga Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan khamr untuk menjaga akal. - Ahlussunnah menetapkan kedudukan akal di pertengahan. Tidak berlebihan (seperti mu'tazilah dan ahli filsafat) dan tidak merendahkan (seperti sufiah ahli khurafat).
- Tidak ada pertentangan antara dalil yang shahih dengan akal yang sehat. Jika ada sekilas pertentangan bisa maka jadi: dalilnya tidak shahih, pemahamannya tidak tepat atau akalnya yang belum menjangkau.
- Sesungguhnya Akal memiliki batas, sebagaimana mata memiliki batas, maka akal tidak menjangkau ilmu ghaib, bahkan tuh pada manusia itu sendiri.
- Akal itu mengikuti naql (dalil), dan naql itu diikuti oleh akal.
Seorang penyair pernah menggambarkan keistimewaan ilmu dalam bari demi baris kalimat yang bertutur tentang perdebatan antara Ilmu dan Akal. Sang penyair berkata [84]:
عِلْمُ الْعَلِيْمِ وَعَقْلُ الْعَاقِلِ اخْتَلَفَا
مَنْ ذَا الَّذِيْ مِنْهُمَا قَدْ أَحْرَزَ الشَّرَفَا
فَالْعِلْمُ قَالَ: أَنَا أَحْرَزْتُ غَايَتَهُ وَالْعَقْلُ قَالَ: أَنَـا الرَّحْمَنُ بِيْ عُرِفَا
فَأَفْصَحَ الْعِلْمُ اِفْصَاحًا وَقَالَ لَهُ بِأَيْنَا اللهُ فِي فُرْقَانِهِ اتَّصَفَا
فَبَانَ لِلْعَقْلِ أَنَّ الْعِلْمَ سَيِّدُهُ فَقَبَّلَ الْعَقْلُ رَأْسَ الْعِلْمِ وَانْصَرَفَا
“Ilmu orang yang ‘alim dan Akal orang yang cerdik, berselisih pendapat”
“Tentang siapakah di antara keduanya yang telah meraih (puncak) kemuliaan”
“Ilmu berkata: ‘Aku telah menggapai puncaknya’”
“Akal lantas menyahut: ‘Akulah Sang akal, yang dengannya ar-Rahman (Allah) bisa dikenali (melalui keajaiban ciptaannya di alam semesta)”
“Maka dengan terang dan lugas ilmu menjawab: ‘Dengan apakah Allah dalam al-Qur’an disifatkan (dengan al-‘Aliim atau al-‘Aaqil..??)
“Maka jelaslah bagi akal, bahwa ilmu adalah tuan majikannya”
“Sang akal pun mencium kening ilmu (sebagai bentuk penghormatan), lantas ia pun pergi berlalu”
*****
Bab 3: Beriman Kepada Takdir
- Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَمِنَ السُّنَّةِ اللَّازِمَةِ الَّتِي مَنْ تَرَكَ مِنْهَا خَصْلَةً - لَمْ يَقْبَلْهَا وَيُؤْمِنْ بِهَا - لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِهَا:
Termasuk Sunnah-Sunnah (Akidah) yang jika ditinggalkan satu saja ―tidak diterima maupun tidak diimani― maka ia bukan termasuk Ahlus Sunnah adalah:
📃 Penjelasan:
Syaikh memulai dengan menyebut bahwa poin selanjutnya adalah pokok akidah (beliau menyebut Sunnah) yang dengannya menjadi pembeda antara Ahlus Sunnah dan Ahlu bid'ah. Seperti halnya, seorang ulama Abdul Wahid As-Sirozi Rahimahullah yang menulis Kitab juzun fiihi imtihanu mina sunny wal bid'i yang membahas masalah pembeda antara Ahlus Sunnah dan Ahlu bid'ah.
Dan landasan dari Pokok-pokok tersebut adalah Al-Qur’an dan sunnah serta ijmak ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata:
Barangsiapa yang menyelisihi Al-Qur'an yang jelas, dan menyelisihi hadits-hadits Nabi ﷺ yang banyak dan menyelisihi kesepakatan para salaful ummah, perselisihan-perselisihan yang tidak dianggap maka dia diperlakukan seperti ahlul bid'ah. [85]
Hal ini kaidah secara umum, adapun menghukumi kesalahan individu maka dilihat keadaannya, perlu kehati-hatian. Maka imam Ahmad berkata: Mengeluarkan seseorang dari Ahlussunnah adalah perkara yang berat. [86]
Maka, apa yang akan disampaikan Imam Ahmad rahimahullah selanjutnya adalah Pokok-pokok akidah yang membedakan antara Ahlussunnah dan ahlul bid'ah, siapa yang mengimaninya dan menerimanya maka dia ahli Sunnah, namun jika tidak menerimanya, maka dia adalah ahlul bid'ah.
*****
- Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
الإِيمَانُ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، وَالتَّصْدِيقُ بِالأَحَادِيثِ فِيهِ وَالإِيْمَانُ بِهَا، لَا يُقَالُ «لِمَ» وَلَا «كَيْفَ»، إِنَّمَا هُوَ التَّصْدِيقُ بِهَا وَالإِيمَانُ بِهَا.
(8) Beriman terhadap takdir yang baik maupun yang jelek, mempercayai semua hadits tentangnya dan mengimaninya. Tidak dibantah dengan pertanyaan “Kenapa” dan “Bagaimana”, akan tetapi wajib dipercaya dan diimani.
📃 Penjelasan:
Beliau memulai dengan pembahasan tentang takdir karena pembahasan ini sangat penting sekali.
3.1 Urgensi Pembahasan Takdir
Mempelajari iman kepada takdir adalah hal yang sangat penting karena:
- Iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman.
- Banyak ayat-ayat Al-Qur'an, hadits-hadits dan ucapan salaf tentang masalah ini.
- Adanya penyimpangan dan kesesatan dalam memahami takdir. Seperti qodariyah yang tidak percaya takdir atau Jabariyah yang berpendapat makhluk tidak punya kehendak (seperti ungkapan manusia seperti wayang, tergantung dalangnya).
Adapun maksud hadits Nabi Muhammad ﷺ ,
إِذَا ذُكِرَ القَدَرُ فَأَمْسِكُوْا
“Apabila disebutkan tentang takdir maka tahanlah diri kalian (untuk berbicara).” [87]
Mengapa Nabi Muhammad ﷺ mengatakan demikian? Maksudnya adalah jangan berbicara mengenai takdir dengan kejahilan atau tanpa dalil syar'i.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra Ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Demikian juga jangan berbicara tentang takdir dengan berlebihan, hingga menerobos hal-hal yang diluar ranah wilayah kita, yang berakibat dapat meragukan keimanan kita. Misal, kenapa Allah ﷻ tidak memberi hidayah kepada Fir'aun kenapa kepada Umar dan seterusnya.
Karena takdir adalah rahasia Allah ﷻ, maka jangan membahas di luar ranah berpikir kita.
3.2 Definisi Takdir
Takdir adalah Ilmu Allah ﷻ tentang semua kejadian sebelum terjadinya dan Allah ﷻ menulisnya dalam al-Lauhul Mahfudz, serta menghendaki dan menciptakannya.
Adakah perbedaan Qadha dan Qadar?
Sebagian ulama mengatakan tidak ada perbedaan antara keduanya, jika disebut Qadha maka mencakup Qadar, demikian juga sebaliknya. Sama seperti kata fakir dan miskin. Dan Imam Ahmad hanya menyebut dengan Qadar, maka dalam hal ini mencakup Qadha di dalamnya.
Sebagian ulama mengatakan,antara keduanya ada perbedaan:
- Qadha: Takdir setelah terjadi.
- Qadhar: Takdir sebelum terjadi.
Contoh, kita di masjid ini adalah qadha Allah ﷻ (yang menghendaki terjadi) dan jika belum terjadi adalah qadar.
3.3 Dalil-dalil Wajibnya Beriman kepada Takdir
Diantara dalil-dalil yang menyatakan wajibnya beriman kepada Qadha dan Qadar adalah :
- Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan al-qadar (takdir) [al-Qamar/54:49]
- Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Jibril, yang artinya, “(Iman itu adalah) kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR Muslim (no. 8).
- Ijmak ulama, seperti dinukil oleh Umam An-Nawawi rahimahullah dalam Shahih Muslim 1/155 dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari 11/287. Begitu juga, Ulama-ulama lain yang selalu memasukkan masalah takdir dalam kitab-kitab mereka.
Disebutkan oleh Yahya bin Abdullah Salam bahwa tidak ada di bangsa Arab kecuali mereka menetapkan adanya takdir baik yang baik maupun yang buruk, yang Jahiliyah maupun Islam. Maka, beriman kepada takdir adalah fitrah, hingga kaum Jahiliyyah pun percaya. (Syarah Ushul Itiqad Ahli Sunnah wal Jama'ah 3/538).
3.4 Tingkatan Iman kepada Takdir
Tidak dikatakan beriman kepada takdir hingga tidak mengimani empat hal:
1. Al-‘Ilm (Ilmu).
Yaitu, Kita meyakini bahwa ilmu Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu secara global dan terperinci, sebelum terjadi, ketika terjadi dan sesudah terjadi.
Firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah ataupun yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Al-An’aam: 59]
Hal ini akan menimbulkan rasa takut pada diri kita akan ilmu Allâh terhadap apa yang kita lakukan dan ucapkan, meskipun hanya lirikan mata kita.
2. Al-Kitaabah (Penulisan).
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan ilmu-Nya tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam Lauhul Mahfuzh sejak 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dalam Shahiihnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ، قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ، بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
‘Allah mencatat seluruh takdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.’ Beliau bersabda, ‘Dan adalah ‘Arsy-Nya berada di atas air.’” [HR. Muslim, (VIII/51) ]
3. Al-Masyii-ah (kehendak).
Kita meyakini bahwa Allah Ta’ala memiliki kehendak yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada satu perbuatan makhluk pun yang keluar dari kehendak-Nya. Segala sesuatu yang terjadi semuanya di bawah kehendak (masyi’ah) Allah.
Manusia memiliki kehendak, tetapi kehendak manusia dibawah kehendak Allah ﷻ. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” [At-Takwiir/81 : 29]
4. Al-Khalq (Penciptaan)
Kita meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah makhluk ciptaan Allah baik itu berupa dzat maupun sifat, demikian juga seluruh gerak-gerik yang terjadi di dalamnya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah Yang menciptakan segala sesuatu… .” [Az-Zumar/39 : 62]
Dan firman-Nya:
هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“…Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan dari bumi… .” [Faathir/35 : 3]
3.5 Buah Manis Beriman Kepada Takdir
Manfaat kepada takdir sangat banyak, diantaranya:
- Menunaikan ibadah kepada Allah ﷻ, sehingga mendapatkan pahala.
- Menumbuhkan keberanian dan tawakkal kepada Allah ﷻ. Sehingga tidak akan mempercayai hal-hal yang bersifat khurafat seperti tihyarah (merasa sial karena hewan, angka atau bulan).
- Seorang akan khawatir suul khotimah. Karena tidak ada seorang pun tahu akhir hidup kita.
- Syukur tatkala mendapatkan nikmat dan sabar tatkala mendapatkan musibah.
- Dia akan mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagian.
3.6 Kaidah-kaidah Masalah Takdir
- Pembahasan masalah takdir tidak boleh keluar dari Al-Qur'an dan Sunnah.
- Iman kepada takdir tidak menafikan masyiah (kehendak) seorang hamba. Artinya hamba tetap memiliki kehendak, memiliki pilihan yang diberikan Allah ﷻ.
- Iman terhadap takdir tidak menafikan hamba untuk berusaha. Tetap, manusia harus melakukan sebab.
Seorang yang beriman diperintahkan mengambil sebab mendapatkan kebahagiaan di akhirat dan mengambil sebab keselamatan dari adzab.
Para shahabat Nabi ﷺ ketika dikabarkan oleh Nabi ﷺ bahwa tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka, mereka bertanya,
▪ يا رسولَ اللهِ ! فلمَ نعملُ ؟ أفلا نتَّكِلُ ؟
“Wahai Rasulullah, untuk apa kita beramal? Mengapa kita tidak pasrah saja?”
Beliau ﷺ menjawab dengan jawaban yang ringkas,
«لا اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، ِ » .
“Tidak demikian, akan tetapi beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan melakukan apa yang dia diciptakan untuknya.” [HR Al Bukhari dan Muslim]
- Boleh beralasan takdir dalam hal musibah, tetapi tidak boleh beralasan dengan takdir dalam masalah dosa (maksiat).
Suatu saat ada pencuri yang hendak dipotong tangan oleh kholifah Umar, namun pencuri ini mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya aku mencuri hanya karena takdir Allah.” Umar pun menjawab, “Dan Kami pun memotong tangan dengan takdir Allah.”
- Tidak semua yang diinginkan Allah ﷻ secara kauni, berarti Allah ﷻ menginginkannya secara syar'i. (Tidak semua yang diinginkan Allah ﷻ berarti Allah ﷻ mencintainya).
Seperti Allah ﷻ mentakdirkan adanya setan, neraka, musibah dan siksa, apakah berarti Allah ﷻ mencintai hal-hal tersebut? Tentu jawabannya tidak. Tetapi ada hikmahnya dibalik semua itu.
Maka, bedakan antara takdir Iradah Kauniyah dan Syariah.
- Iradah Kauniyah maknanya masyiah (kehendak Allah ﷻ).
- Iradah Syariah maknanya mahabah (cinta).
3.7 Sebab-sebab Tersesat dalam Masalah Takdir
- Karena tidak memahami seperti pemahaman para sahabat.
- Menyamakan antara perbuatan Allah ﷻ dan perbuatan makhluk.
- Tidak membedakan antara Iradah Kauniyah dan Iradah syar'iyah.
- Mengandalkan akal. Karena akal memiliki batasan.
- Terlalu berlebih-lebihan dalam masalah takdir.
*****
- Lalu kata Imam Ahmad:
وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْ تَفْسِيرَ الحَدِيثِ وَيَبْلُغْهُ عَقْلُهُ؛ فَقَدْ كُفِيَ ذَلِكَ وَأُحْكِمَ لَهُ؛ فَعَلَيْهِ الإِيمَانُ بِهِ وَالتَّسْلِيمُ لَهُ، مِثْلُ حَدِيثِ الصَّادِقِ المَصْدُوقِ، وَمِثْلُ مَا كَانَ مِثْلَهُ فِي القَدَرِ، وَمِثْلُ أَحَادِيثِ الرُّؤْيَةِ كُلِّهَا، وَإِنْ نَأَتْ عَنِ الأَسْمَاعِ وَاسْتَوْحَشَ مِنْهَا المُسْتَمِعُ؛ فَإِنَّمَا عَلَيْهِ الإِيمَانُ بِهَا، وَأَنْ لَا يَرُدَّ مِنْهَا حَرْفًا وَاحِدًا وَغَيْرَهَا مِنَ الأَحَادِيثِ المَأْثُورَاتِ عَنِ الثِّقَاتِ.
(9) Siapa yang tidak mampu memahami tafsir sebuah hadits dan akalnya tidak mampu menjangkaunya, maka Hadits itu cukup ditetapkan, wajib baginya mengimaninya dan menerimanya seperti hadits tentang ash - shadiqul masduq, tentang pencatatan takdir janin di rahim, semua hadits tentang takdir dan rukyah (Melihat Allah ﷻ di akhirat) wajib baginya mengimaninya dan tidak boleh menolak satu huruf pun dari hadits-hadits tersebut, begitu pula hadits lain yang diriwayatkan para perawi yang terpercaya
وَأَنْ لَا يُخَاصِمَ أَحَدًا، وَلَا يُنَاظِرَهُ، وَلَا يَتَعَلَّمَ الجِدَالَ؛ فَإِنَّ الكَلَامَ فِي القَدَرِ وَالرُّؤْيَةِ وَالقُرْآنِ وَغَيْرِهَا مِنَ السُّنَنِ مَكْرُوهٌ وَمَنْهِيٌّ عَنْهُ، لَا يَكُونُ صَاحِبُهُ - وَإِنْ أَصَابَ بِكَلَامِهِ السُّنَّةَ - مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ حَتَّى يَدَعَ الجِدَالَ، وَيُسَلِّمَ وَيُؤْمِنَ بِالآثَارِ.
(10) Tidak boleh mendebat siapapun tentang takdir dan tidak boleh belajar ilmu debat, sebab belajar debat tentang masalah takdir, rukyah Allah ﷻ di akhirat dan masalah lain adalah haram dan terlarang, orang yang melakukan itu bukan termasuk Ahlus Sunnah meskipun beberapa ucapannya sesuai sunnah kecuali dia meninggalkan debat dan ia pasrah dan beriman kepada hadits-hadits tersebut.
Penjelasan:
Sebenarnya sudah kita bahas bagaimana kewajiban kita terhadap hadits Nabi, namun kita tambahi di sini satu masalah penting yaitu syubhat orang yang mendustakan hadits:
3.8 Jurus Syubhat Mengingkari Hadits-hadits Nabi ﷺ
1. Mencela sahabat dan perawi hadits.
Seperti mencela hadits sayap nyamuk. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila lalat jatuh di minuman seseorang dari kamu hendaklah ia tenggelamkan kemudian buang, karena salah satu sayapnya terdapat penyakit dan sayap lainnya terdapat penawarnya." (HR Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari).
Mereka seperti kelompok Syiah melihat perawi Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, yang hanya dua tiga tahun bertemu Nabi ﷺ tetapi banyak meriwayatkan 5000an hadits.
Tujuan mereka adalah mencela sahabat sehingga terputuslah hadits-hadits Nabi ﷺ.
2. Dianggap bertentangan dengan akal.
Seperti, Suatu ketika Abu Muawiyah yang buta berbicara di majlis Harun Ar-Rasyid, maka ia menyampaikan hadits: "Suatu saat Nabi Adam dan Musa 'alaihima sallam berdebat dan Adam memenangkannya.
Tiba-tiba Ali bin Ja'far menyela: "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, masa kehidupan Nabi Adam dan Nabi Musa kan berbeda masa yang lama". Lalu khalifah Harun Ar-Rasyid menghardiknya: "Dia menceritakan kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kamu membantah dengan bagaimana mungkin?" Beliau terus mengulang-ulangi, sampai Ali bin Ja'far terdiam"
Dalam masalah takdir, Nabi Adam Alaihissalam dapat membantah Nabi Musa Alaihissalam, sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam mengenai perdebatan keduanya:
اِحْتَجَّ آدَمُ وَمُوْسَى، فَقَالَ لَهُ مُوْسَى: أَنْتَ آدَمُ الَّذِيْ أَخْرَجَتْكَ خَطِيْئَتُكَ مِنَ الْجَنَّةِ؟ فَقَالَ لَهُ آدَمُ : أَنْتَ مُوْسَى الَّذِي اصْطَفَاكَ اللهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلاَمِهِ، ثُمَّ تَلُوْمُنِيْ عَلىَ أَمْرٍ قَدْ قُدِّرَ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ؟ فَحَجَّ آدَمُ مُوْسَى.
“Nabi Adam dan Nabi Musa Alaihissalam berbantah-bantahan. Nabi Musa berkata kepadanya, ‘Engkau Adam yang kesalahanmu telah mengeluarkanmu dari Surga?’ Nabi Adam menjawab kepadanya, ‘Engkau Musa yang dipilih oleh Allah dengan risalah-Nya dan berbicara secara langsung dengan-Nya, kemudian engkau mencelaku atas suatu perkara yang telah ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan?’ Maka, Nabi Adam dapat membantah Nabi Musa.” [88]
Demikian juga hadits tentang penciptaan manusia pada hadits ash-shadiqul masduq, banyak ditolak karena tidak diterima akal. Suatu ketika, orang-orang mengabarkan hadits sahih ini yang berasal dari al-A'masy dari Zaid bin Wahb dari Ibn Mas'ud dari Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam ...
Mendengar hadits itu, berkatalah 'Amr bin 'Ubaid, tokoh mu'tazilah dengan sombongnya: "Seandainya pun aku mendengarnya langsung dari al-A'masy, niscaya akan kudustakan.... Seandainya pun kudengar hadits ini langsung dari Zaid, niscaya takkan kuanggap benar..... Kalaupun kudengar langsung dari Ibn Mas'ud, sungguh takkan kuterima hadits ini...
Kalau pun kudengar langsung dari Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam, niscaya akan kubantah... Dan kalaupun kudengar ini langsung dari Allah, niscaya akan kukatakan kepada-Nya bahwa bukan di atas hal ini kuambil perjanjian!"
Subhanallah, sungguh perkataan yang sangat kotor dari sang pemuja akal.
Dan banyak hadits lain yang ditentang akal karena disamakan dengan akal makhluk.
3. Karena haditsnya ahad. Dan masalah akidah tidak bisa ditentang dengan hadits ahad.
4. Takwil dengan merubah makna asli. Intinya mereka menolak isi hadits, seperti hadits Allah turun ke langit dunia, datangnya Dajjal, dan lainya.
*****
Bab 4: Al-Qur'an adalah Firman Allah ﷻ dan Bukan Makhluk
- Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَالقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ وَلَيْسَ بِمَخْلُوقٍ، وَلَا يَضْعُفُ أَنْ يَقُولَ: لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ، فَإِنَّ كَلَامَ اللَّهِ لَيْسَ بِبَائِنٍ مِنْهُ، وَلَيْسَ مِنْهُ شَيْءٌ مَخْلُوقٌ، وَإِيَّاكَ وَمُنَاظَرَةَ مَنْ أَحْدَثَ فِيهِ، وَمَنْ قَالَ بِاللَّفْظِ وَغَيْرِهِ، وَمَنْ وَقَفَ فِيهِ، فَقَالَ: «لَا أَدْرِي مَخْلُوقٌ أَوْ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ، وَإِنَّمَا هُوَ كَلَامُ اللَّهِ»؛ فَهَذَا صَاحِبُ بِدْعَةٍ مِثْلُ مَنْ قَالَ: «هُوَ مَخْلُوقٌ»، وَإِنَّمَا هُوَ كَلَامُ اللَّهِ لَيْسَ بِمَخْلُوقٍ.
(11) Al-Quran adalah Kalamullah (ucapan Allah) bukan makhluk. (12) Tidak boleh kamu lemah mengatakan ia bukan makhluk, karena Kalamullah bagian dariNya, dan tidak ada apapun yang berasal dari bagianNya adalah makhluk. (13) Hindarilah mendebat orang yang melakukan penyimpangan dalam perkara ini dan orang yang mengatakan “Lafazhku dari membaca Al-Quran adalah makhluk”, begitu pula orang yang ragu-ragu hingga mengatakan “Aku tidak tahu ia mahluk atau bukan makhluk, yang jelas ia Kalamullah,” orang ini adalah pengikut bid’ah, mirip orang yang mengatakan Al-Quran makhluk. Sungguh Al-Quran hanyalah Kalamullah, bukan makhluk.
📃 Penjelasan:
Pembahasan masalah Al-Qur’an adalah kalamullah adalah pembahasan yang sangat penting karena sebab-sebab berikut:
- Pembahasan mengenai bab aqidah adalah cabang dari rukun iman, termasuk mengenai Al-Qur’an adalah kalamullah, adalah cabang dari rukun iman, karena diantara rukun iman adalah beriman kepada Kitab-kitab Allah ﷻ. Dan salah satu kitab Allah ﷻ adalah Al-Qur’an.
- Masalah Al-Qur’an adalah makhluk merupakan sebab terjadinya fitnah yang cukup besar yang menimpa kaum muslimin termasuk imam Ahmad rahimahullah sendiri hingga dipenjara, dan beliau bersabar pada pendapatnya bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Bahkan ada ulama yang terbunuh di penjara karena mempertahankan pendapat ini, seperti al-Buwaiti murid Imam Syafi'i Rahimahumullah.
Maka sungguh benar apa yang dikatakan seorang ulama temanya Imam Ahmad bernama Ali bin Al-Madini rahimahumallah,
أعز الله الإسلام بأبي بكر يوم الردة، وبأحمد يوم المحنة
“Allah Ta’ala memuliakan Islam melalui Abu Bakr pada saat fitnah riddah (banyaknya orang yang murtad, keluar dari Islam, pen.) dan melalui Imam Ahmad pada saat terjadi fitnah (ujian Mu’tazilah, pen.)” [89]
- Sumber aqidah dalam agama adalah Al-Qur’an, maka, jika kita tidak memahaminya aqidah tentang Al Quran, lantas dengan apa lagi kita beragama?
Pembahasan mengenai masalah ini ada dua poin penting:
- Sifat Kalam bagi Allah ﷻ.
- Tentang Al-Qur’an.
Al-Qur'an adalah sebagian dari firman Allah ﷻ, karena ada kitab-kitab lain yang diturunkan selain Al-Qur’an.
4.1. Sifat Kalam bagi Allah ﷻ
Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berkaitan dengan sifat Sifat Kalam bagi Allah ﷻ terkumpul dalam empat poin:
4.1.1. Bahwasanya Allah ﷻ memiliki sifat Kalam (berbicara).
Seperti berbicara-Nya kepada malaikat-malaikat, Nabi Adam, Nabi ﷺ dan lainnya.
- Dalil dari Al-Qur'an. Allah ﷻ berfirman :
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
Dan Allāh ﷻ berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya. (QS An-Nisa Ayat 64).
Ayat ini termasuk dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat kalam, dan Allāh ﷻ berbicara kepada Musa dengan sebenar-benar pembicaraan, تَكْلِيمًا disini adalah Maf'ul Mutlaq untuk menguatkan, bermakna taukid artinya betul-betul berbicara dengan nabi Musa alaihissalam. Karenanya, makanya nabi Musa alaihissalam bergelar Kalimullah (Nabi yang diajak bicara Allah ﷻ).
Dalam ayat ini fa'il (Pelaku) adalah Allah ﷻ, dan Musa adalah Maf'ul bih, maka Allah ﷻ berbicara kepada Musa, adapun kelompok Jahmiyah yang tidak menetapkan sifat kalam bagi Allah ﷻ kepanasan dengan ayat ini.
Salah satu ahli tafsir dan bahasa yaitu Abu Amr Ibnul Ala, pernah ditanya seorang Jahmiyyah dan usul agar mengganti ayat 64 surat an-Nisa di atas menjadi : wa kallamallaaha muusa takliima (Allahu menjadi Allaha) supaya subyeknya Musa menjadi: Musa berbicara kepada Allah ﷻ, karena mereka tidak menetapkan sifat kalam bagi Allah ﷻ!
Maka Abu Amr Ibnul Ala menjawab oke kamu baca seperti itu, tetapi bagaimana dengan ayat yang lain? Yaitu surat Al-A'raf ayat 143:
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya,
Dalam ayat ini tidak mungkin dirubah, karena ada dhamir وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ. Maka, penting untuk belajar bahasa Arab!
- Dalil dari Hadits Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim bahwasanya Nabi ﷺ mengatakan
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ
Tidak ada salah seorang diantara kalian kecuali akan diajak bicara oleh Rabbnya.
Dan lafadz Kalam bisa di tulis dengan istilah lain seperti al-qaul, al-hadits, al-munada (memanggil dari jauh), al-munajat (memanggil dari dekat) dan semuanya bermakna berbicara.
4.1.2. Allah ﷻ berbicara dengan huruf
Ada huruf-huruf yang dipahami. Dalilnya adalah hadits Nabi ﷺ dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, لاَأَقُوْلُ ألم حَرْفٌ وَلكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ.
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” [90]
4.1.3. Allah ﷻ berbicara dengan suara yang didengar lawan bicaranya.
Diantara dalilnya adalah hadits dari Abu Sa’iid Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
يقول الله عز و جل يوم القيامة: يا آدم، يقول: لبيك ربنا وسعديك، فينادى بصوت إن الله يأمرك أن تخرج من ذريتك بعثا إلى النار
“Allah ‘Azza wa Jalla berkata di hari kiamat, ‘Wahai Adam!’ Adam menjawab, ‘Iya wahai Rabb kami.’ Maka Allah memanggil dengan suara, ‘Sesungguhnya Allah akan memasukkan dari keturunanmu ba’tsan ke dalam neraka…‘” [91]
4.1.4. Firman Allah ﷻ tidak sama dengan ucapan Makhluk
Dan ini berlaku juga bagi sifat-sifat Allah ﷻ yang lainnya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Asyura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura: 11)
Allah ﷻ Maha Mendengar tetapi mendengar-Nya berbeda dengan mendengarnya makhluk, Allah ﷻ Maha Melihat tetapi melihat-Nya berbeda dengan melihatnya makhluk, dan Allah ﷻ Maha Berbicara tetapi berbicara-Nya berbeda dengan berbicaranya makhluk.
Ini poin penting, karena mereka kelompok yang menyimpang berpendapat, bahwa alasan mereka tidak menetapkan sifat kalam bagi Allah ﷻ karena tidak ingin menyamakan sifat Allah ﷻ dengan sifat makhluk-Nya. Dan ini alasan batil, karena menetapkan sifat Allah bukan berarti menyerupakanNya dengan makhluk. Kewajiban kita adalah menetapkan sifat kalam bagi Allah ﷻ tetapi jangan menyamakan sifatNya dengan makhluk.
*****
Sesi#3 :
4.2. Tentang Al-Qur’an.
4.2.1. Definisi Al-Qur’an
Menurut Ahlussunnah, Al-Qur'an adalah:
هو كلام الله المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم المبدوء بسورة الفاتحة والمختوم بسورة الناس
“Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wasallam- yang diawali dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas.”
Al-Qur’an dimulai dengan Tauhid dan ditutup dengan Tauhid. Karena isi dari surat Al-Fatihah dan An-Naas, keduanya isinya mengenai Tauhid.
4.2.2. Akidah Ahlussunnah terkait tentang Al-Qur’an
1. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an termasuk Firman Allah ﷻ
- Dalilnya diantaranya dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 6:
وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ٱسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ
Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah
- Dalil dari Hadits Nabi ﷺ, dari Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawarkan dirinya kepada orang-orang pada beberapa tempat seraya berkata,
ألَا رجُلٌ يحمِلُني إلى قومِهِ؛ فإنَّ قُرَيشًا قد منَعوني أن أُبلِّغَ كلامَ رَبِّي.
‘Adakah seseorang yang membawa aku kepada kaumnya karena orang-orang Quraisy menghalangi aku untuk menyampaikan ucapan Rabbku.’” [92]
2. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an bukan Makhluk
Ini untuk membantah kelompok-kelompok yang menyimpang dari kalangan Jahmiyyah dan Mu'tazilah. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-A'raf ayat 54:
أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.
Dalam ayat ini, Al-Qur’an masuk pada kata ٱلْأَمْرُ bukan ٱلْخَلْقُ, seperti kata أَمْرُهُۥٓ dalam surat Yasin ayat 82:
إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka jadilah ia.
Demikian juga seperti dalam do'a Nabi ﷺ :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan ciptaan-Nya." [93]
Dalam do'a ini disebut Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah, jika Al-Qur’an (kalimat-kalimat Allah) adalah makhluk, maka maknanya Nabi ﷺ mengajarkan kesyirikan kepada umatnya. Karena kita boleh berlindung kepada makhluk! Maka, ini dalil yang sangat jelas bahwa Al-Qur’an bukan makhluk, tapi kalamullah, dan kalam adalah sifat Allah, sedangkan sifat mengikuti Dzatnya. Sebagaimana Allah bukan makhluk, maka demikian juga sifat Allah bukan makhluk.
‘Amr bin Dinar rahimahullah berkata, “Aku berjumpa dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang hidup setelah mereka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Mereka berpendapat bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Pencipta; Apa saja selain Allah ‘azza wa jalla adalah makhluk; Al-Qur’an adalah kalamullah (yakni bukan makhluk, -ed.), dari-Nya keluar dan kepada-Nya kembali.” (Ad Darimi dalam Ar Raddu Alal Jahmiyyah)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:
من قال القرآن مخلوق فهو كافر
“Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka ia kafir” (Al-Ibanah Al-Kubra, 6/51-52).
Bahkan Imam Al-Lalikai Rahimahullah, menulis bahwa ada sekitar 500 ulama yang menulis bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, dan mereka berpendapat bahwa siapa yang mengingkarinya adalah kafir.
Dampak Negatif Paham Al-Qur’an adalah Makhluk
1. Mengingkari sifat kalam bagi Allah ﷻ
Padahal Allah ﷻ telah menetapkan di dalam Al-Qur’an, dan ada dalam hadits-hadits dan pendapat para ulama. Maka, jika kita mengingkarinya sama halnya dengan mendustakan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2. Penodaan terhadap sifat rububiyah Allah ﷻ
Karena jika tidak ada sifat Kalam bagi Allah ﷻ, maka itu aib karena Bisu. Bahkan makhluk pun jika bisu maka itu aib. Maha Suci Allah ﷻ dari segala kekurangan, karena tidak mungkin Allah ﷻ bisu, tuli dan sifat aib lainnya.
Allah ﷻ berfirman dalam Surat Maryam Ayat 42:
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِى عَنكَ شَيْـًٔا
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?
Faedah:
- Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim alaihissalam memanggil ayahnya ( يَٰٓأَبَتِ ) dengan sebutan yang lembut meskipun beliau kafir.
- Ayat ini menunjukkan bahwa nabi Ibrahim menjelaskan kenapa ayahnya menyembah Tuhan yang tuli, buta dan tidak bisa apa-apa. Maka, kelompok-kelompok yang mengingkari sifat-sifat Kalam bagi Allah ﷻ sama saja menodai sifat rububiyah dan uluhiyah Allah ﷻ.
3. Tidak Mengagungkan Al-Qur’an
Mereka tidak memiliki adab terhadap Al-Qur'an, hingga mengatakan Al-Qur'an bisa direvisi, diinjak dan lainnya. Karena dia makhluk seperti lainya. Na'udzubillahmindalik.
4. Al-Qur'an tidak Dapat Dipakai Sebagai Hujjah
Inilah yang diinginkan oleh kelompok zindiq, liberal, dan lainya. Sama dengan ucapan kafir Quraisy dahulu yang, menuduh Al-Qur’an hanya perkataan manusia biasa.
Firman-Nya dalam Surat Al-Muddatstsir Ayat 25:
إِنْ هَٰذَآ إِلَّا قَوْلُ ٱلْبَشَرِ
Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.
5. Membacanya bukan Ibadah
Karena ini konsekuensi dari menganggap Al-Qur’an adalah makhluk. Maka, jika demikian Al-Qur’an bisa mati, dan kalau mati, maka kita tidak bisa membacanya.
Padahal banyak sekali keutamaan membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya. Membaca dan mempelajari Al-Qur'an memiliki keutamaan besar, termasuk mendapat syafaat di hari kiamat, pahala berlipat ganda untuk setiap huruf yang dibaca, peningkatan derajat di mata Allah, mendapatkan ketenangan jiwa, dan menjadi sebaik-baik manusia jika mengajarkannya.
Imam Adz-Dzahaby di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir hal. 415 dengan sanadnya yang sampai kepada Ahmad bin Nashr beliau berkata: “Saya pernah melewati seorang laki-laki yang kesurupan, maka saya mendatanginya untuk meruqyahnya. Tiba-tiba dari mulutnya keluar suara: “Biarkanlah aku membunuhnya, karena orang ini mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluq!”
6. Menuduh ulama salaf di atas kebatilan.
Karena para ulama salaf berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat An-Nisa Ayat 115:
وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
7. Membuka ruang orang-orang zindiq untuk melecehkan Al-Qur’an
Karenanya sangat penting membahas akan hal ini, jangan sampai menganggap remeh dan dianggap masalah khilafiyah. Padahal para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah sampai rela dipenjara hanya karena mempertahankan masalah ini.
Kaidah penting: Yang paling utama adalah hakekatnya bukan perubahan nama. Perubahan Nama Tidak Dapat Mengubah Hakikat Dan Hukum Sesuatu.
Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa Jahmiyah tidak ada, tetapi pemikirannya akan tetap ada hingga kiamat.
Seperti orang-orang liberal, HTI dan lainnya, mereka memiliki pemikiran Mu'tazilah meskipun mereka tidak mau dituduh Mu'tazilah.
*****
3. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an dari Allah ﷻ
Telah dibahas bahwa Aqidah Ahlussunnah terkait Al-Qur’an ada dua poin: Al-Qur’an adalah kalamullah dan Al-Qur’an bukan Makhluk.
Dan asal Al-Qur’an dari Allah ﷻ kemudian diperdengarkan kepada Jibril alaihissalam dan disampaikan kepada Nabi ﷺ. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ghafir ayat 2:
تَنزِيلُ ٱلْكِتَـٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ
Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui
4. Ahlussunnah meyakini bahwa Al-Qur’an dibaca, didengar, ditulis, atau dihafal tetap sebagai Firman Allah ﷻ
Maka ketika Al-Qur’an dibaca, didengar, ditulis, dihafal tetap Firman Allah ﷻ dan tidak berubah. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Surat Al-‘Ankabut Ayat 49:
بَلْ هُوَ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ فِى صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ ۚ
Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.
Demikian juga dalam hadits keutamaan membaca Al-Qur’an, tetap sebagai kalamullah meskipun ia dibaca,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur`an maka untuknya satu kebaikan".
5. Ahlussunnah meyakini bahwa Harus dibedakan antara Ucapan dan Suara
Tatkala kita membaca Al-Qur’an, seperti membaca surat Al-Fatihah
الحمد لله رب العالمين
Maka, bacaan kita berupa suara adalah suara kita yang membacanya, tetapi ucapannya diucapkan oleh Allah ﷻ.
Seperti dalam hadits:
عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ»
Dari Al Baroo` radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara kamu”. [94]
6. Ahlussunnah Meyakini bahwa Al-Qur’an Didengar Jibril Tanpa Perantara dan Menyampaikannya kepada Nabi ﷺ juga Tanpa Perantara.
Allah ﷻ berfirman :
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ [ الشعراء: 193]
dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), [Shuara: 193]
Ini adalah bantahan terhadap ahlul bid'ah yang menuduh hal ini (turunnya Al-Qur’an) dengan perantara.
*****
Bab 5: Beriman Melihat Allah ﷻ di Akhirat
- Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَالإِيمَانُ بِالرُّؤْيَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ كَمَا رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ مِنَ الأَحَادِيثِ الصِّحَاحِ،
(14) Beriman terhadap ru’yatullah (melihat Allah) di hari Kiamat (Surga), sebagaimana dalam riwayat shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
📃 Penjelasan:
5.1 Pentingnya mempelajari Aqidah Melihat Allah ﷻ di Akhirat
Pembahasan mengenai hal ini adalah pembahasan yang sangat penting dengan beberapa alasan:
- Pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang mutawatir serta ijma' ulama.
- Para ulama mencantumkan masalah ini dalam kitab-kitab aqidah dan sebagian ulama menulisnya dalam kitab khusus, seperti Imam Ad-Daaruquthni rahimahullah dalam kitabnya Kitabur Ru'yah, demikian juga Al-Imam Al-Ajurri (Imam Madzhab Syafi’i) yang menulis At-Tashdiiqu bin Nadzar.
- Karena melihat Allah ﷻ adalah kenikmatan di surga yang paling tinggi. Hal ini memotivasi orang-orang yang beriman untuk semangat beramal shalih tuk menggapainya.
- Adanya paham yang menyimpang dan sesat, seperti kelompok sufi yang para tokoh mereka mengaku melihat Allah ﷻ di dunia dan di akhirat (berlebihan), juga Jahmiyah dan Mu'tazilah, yang mengingkari orang-orang yang beriman melihat Allah ﷻ di Akhirat (tidak beriman).
5.2 Dalil-dalil Tentang Melihat Allah ﷻ di Akhirat
Allah ta’ala berfirman:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat” (QS. Al-Qiyamah: 22-23).
Allah ta’ala berfirman:
كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. (QS. Al-Muthaffifin: 15).
Imam Syafi'i Rahimahumullah menafsirkan dengan makna terbalik (mafhum mukhalafah) mengatakan bahwa ayat ini bisa dijadikan dalil bahwa orang-orang Mukmin tidak akan terhalangi dari memandang Allah di akhirat, sebagaimana firman-Nya: Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya. [95]
Demikian juga hadits-hadits tentang melihat Allah ﷻ di Surga dijelaskan dengan hadits mutawatir (memiliki banyak sekali jalur), seperti yang disampaikan dalam kitab Hadil Arwah ila Biladil Afrah oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, yang menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang ini diriwayatkan dari 30 sahabat.
Contoh-contoh hadits-hadits mutawatir antara lain hadits tentang larangan berdusta atas nama Rasulullah, tentang melihat Allah ﷻ di Akhirat, syafaat, telaga, mengusap khuf (sepatu) dan lainnya.
Dan keimanan tentang masalah ini disepakati oleh ijmak para ulama, seperti yang disebutkan oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam Risalah Ila Ahli Saghar, berbeda dengan Mu'tazilah dan Jahmiyah dalam masalah ini.
*****
5.3 Apakah Nabi ﷺ Melihat Allah ﷻ pada Saat Isra' Mi'radj?
- Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَدْ رَأَى رَبَّهُ، وَأَنَّهُ مَأْثُورٌ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ صَحِيحٌ، رَوَاهُ قَتَادَةُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَرَوَاهُ الحَكَمُ بْنُ أَبَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ، وَرَوَاهُ عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مِهْرَانَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَالحَدِيثُ عِنْدَنَا عَلَى ظَاهِرِهِ كَمَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَالكَلَامُ فِيهِ بِدْعَةٌ، وَلَكِنْ نُؤْمِنُ بِهِ كَمَا جَاءَ عَلَى ظَاهِرِهِ، وَلَا نُنَاظِرُ فِيهِ أَحَدًا.
Juga beriman bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melihat Rabbnya, dan riwayat ini shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu diriwayatkan Qotadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkan dari Al-Hakam bin Aban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dan diriwayatkan Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihron dari Ibnu Abbas. (16) Hadits ini menurut kami (Ahlus Sunnah) dipahami zohirnya sebagaimana datangnya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Membicarakan hadits ini adalah bid’ah. Adapun kami, mengimaninya sesuai zohirnya dan tidak mendiskusikannya dengan siapapun.
📃 Penjelasan:
Bahasan ini hendaknya dibedakan dengan melihat Allah ﷻ di Akhirat, karena ini masalah lain yang berbeda yaitu apakah Nabi melihat Allah saat Isra' Mi'raj ﷺ.
Agar lebih jelas, berikut penjelasannya:
- Melihat Allah ﷻ di Akhirat. Orang-orang yang beriman melihat Allah ﷻ di Akhirat. Ini disepakati oleh ulama.
Melihat di akhirat adalah:
- Di surga: Hanya orang-orang yang beriman yang mampu melihatNya, dan hal ini para ulama sepakat.
- Di Mahsyar: orang-orang yang beriman mampu melihatNya, dan hal ini para ulama sepakat. Tetapi apakah orang-orang kafir melihatnya, para ulama berbeda pendapat. Ada tiga pendapat dalam hal ini:
1. Orang-orang kafir dan munafik bisa melihat tetapi dalam pandangan adzab, bukan rahmat.
2. Orang-orang Kafir tidak bisa melihat.
3. Orang munafik melihat setelah itu tertutupi.
- Melihat Allah ﷻ di dunia : Ulama sepakat, semua manusia tidak bisa melihat dengan pandangan mata. Demikian dibuktikan dengan ayat yang mengisahkan nabi Musa. Karena nikmat melihat Allah ﷻ adalah nikmat tertinggi dan hanya ada di tempat yang suci dan bersih, sementara dunia adalah tempat maksiat. Demikian juga manusia tidak akan mampu melihatnya sama seperti Musa.
- Masalah Nabi ﷺ melihat Allah ﷻ saat Isra Mi'raj. Ini diperselisihkan para ulama menjadi dua pendapat:
1. Jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah ﷻ. Dalilnya:
- Dalam hadis dari Abu Dzar, beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah Nabi melihat Allah ketika isra mi’raj? Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
نور أنى أراه
“Ada cahaya, bagaimana aku melihat-Nya.”
Dalam riwayat lain, “Aku melihat cahaya.” [96]
- Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,
من زعم أن محمدًا رأى ربه فقد أعظم الفرية على الله
“Siapa yang meyakini bahwa Muhammad pernah melihat Tuhannya, berarti dia telah membuat kedustaan yang besar atas nama Allah.” [97]
2. Berpendapat bahwa Nabi ﷺ melihat Allah ﷻ, inilah yang disampaikan Imam Ahmad rahimahullah. Juga diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas.
Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Jumhur ulama, yang menyatakan Nabi ﷺ tidak melihat RabbNya.
Adapun pendapat kedua, dimaknai bahwa Nabi ﷺ melihat RabbNya dengan hatinya seolah-olah melihat karena begitu dekatnya seperti halnya pada pengertian Ihsan.
5.4 Masalah-masalah yang berkaitan dengan melihat Allah ﷻ
5.4.1. Klasifikasi Manusia dalam Mengimani Rukyatullah
- Kelompok yang mengatakan dapat melihat Allah ﷻ di dunia dan di akhirat, inilah kelompok Sufi.
- Kelompok yang mengatakan tidak dapat melihat Allah ﷻ di dunia dan di akhirat, kelompok Jahmiyah dan Mu'tazilah.
- Ahlussunnah wal Jama'ah selalu pertengahan, Allah ﷻ tidak bisa dilihat di dunia dan bisa dilihat di akhirat. Inilah pendapat yang benar.
5.4.2. Kiat-kiat Agar Dapat Melihat Allah ﷻ
1. Beriman, karena hanya orang-orang yang beriman yang mampu melihat Allah ﷻ.
2. Ihsan. Sebagaimana Firman-Nya dalam Surat Yunus Ayat 26:
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya” (QS. Yunus : 26).
Ziyadah dalam ayat ini artinya melihat Allah di akhirat. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi ﷺ.
Bagi orang-orang yang beriman (orang-orang yang ihsan) yaitu orang-orang yang Ihsan di dunia:
- Ihsan itu merasa dilihat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia beriman akhirnya dia bertakwa dan beramal shaleh.
- Kemudian dia berbuat Ihsan kepada manusia.
3. Menjaga shalat Subuh dan Shalat Ashar
Dari sahabat Jarir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Pada suatu malam, kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lalu melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda,
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan untuk melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.” (Yang beliau maksud adalah shalat subuh dan shalat ashar, pent.)
Kemudian Jarir membaca ayat,
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
“(Dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya).” (QS. Qaaf: 39). [98]
Dalam ayat ini Nabi ﷺ tidak menyamakan Allah ﷻ dengan rembulan, tetapi yang beliau samakan adalah cara melihat.
Dalam hadits tersebut, terdapat hubungan antara shalat dan melihat wajah Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
“Dikatakan tentang kesesuaian antara perintah untuk menjaga dua shalat ini (shalat subuh dan shalat ashar) setelah menyebutkan tentang nikmat rukyah (melihat wajah Allah Ta’ala), bahwa sesungguhnya nikmat tertinggi di surga adalah melihat wajah Allah Ta’ala. Sedangkan amal yang paling mulia di dunia adalah dua shalat tersebut. Oleh karena itu, dengan menjaga dua shalat tersebut, seseorang diharapkan masuk surga dan kemudian melihat wajah Allah Ta’ala di dalam surga.” [99]
4. Berdo'a Memohon agar Bisa melihat Wajah Allah
Karena do'a adalah kunci kebaikan.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ
ᴀʟʟᴀᴀʜᴜᴍᴍᴀ ɪɴɴɪɪ ᴀꜱ-ᴀʟᴜᴋᴀ ʟᴀᴅᴢᴅᴢᴀᴛᴀɴ ɴᴀᴅᴢᴏʀɪ ɪʟᴀᴀ ᴡᴀᴊʜɪᴋᴀ ᴡᴀꜱʏ ꜱʏᴀᴜQᴏ ɪʟᴀᴀ ʟɪQᴏᴏɪᴋᴀ ꜰɪɪ ɢʜᴏɪʀɪ ᴅʜᴏʀʀᴏᴏ-ᴀ ᴍᴜᴅʜɪʀʀᴏᴛɪɴ ᴡᴀ ʟᴀᴀ ꜰɪᴛɴᴀᴛɪɴ ᴍᴜᴅʜɪʟʟᴀᴛɪɴ
“Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan.” [100]
5.4.3 Apakah wanita juga bisa melihatNya?
Ada tiga pendapat dalam hal ini:
- Tidak dapat melihat.
- Dapat melihatnya, karena wanita adalah saudaranya laki-laki, maka jika tidak ada dalil yang menetapkannya maka hukum asalnya sama dengan laki-laki. Inilah pendapat yang kuat.
- Dapat melihat dalam momen tertentu seperti momen perayaan.
5.4.4 Apakah Jin bisa MelihatNya?
Ulama berselisih pendapat:
- Dapat melihat
- Tidak melihat.
Keduanya diawali dengan perbedaan pendapat apakah jin masuk surga? Yang kuat, adalah jin juga masuk surga, maka mereka bisa melihat Allah ﷻ.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahqaf Ayat 19:
وَلِكُلٍّ دَرَجَٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوا۟ ۖ وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَٰلَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.
Yakni setiap golongan dari orang-orang kafir dan orang-orang beriman dari golongan jin dan manusia memiliki kedudukan masing-masing di sisi Allah pada hari kiamat.
Semoga Allah Ta’ala memberikan anugerah kepada kita untuk melihat Allah ﷻ dan menganugerahkan nikmat aman di negeri ini. Aamiin.
*****
Bab 6: Beriman Terhadap Mizan (Timbangan Amal)
- Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَالإِيمَانُ بِالمِيزَانِ كَمَا جَاءَ: «يُوزَنُ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَلَا يُوزَنُ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ»، وَتُوزَنُ أَعْمَالُ العِبَادِ كَمَا جَاءَ فِي الأَثَرِ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَالتَّصْدِيقُ بِهِ، وَالإِعْرَاضُ عَمَّنْ رَدَّ ذَلِكَ، وَتَرْكُ مُجَادَلَتِهِ.
(17) Beriman terhadap Mizan (timbangan amal) seperti dalam hadits: “Ada hamba yang ditimbang pada hari Kiamat dan beratnya lebih ringan dari sayap nyamuk.” Amal-amal hamba juga ditimbang seperti dalam beberapa hadits. (18) Wajib mengimaninya dan mempercayainya, serta meninggalkan siapa saja yang menentangnya dan tidak perlu mendiskusikannya.
📃 Penjelasan:
Beriman terhadap Mizan (timbangan amal) termasuk pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah, karena alasan-alasan berikut ini:
- Telah disebutkan dalam Al-Qur’an, sunnah dan ijmak para ulama.
- Hal ini merupakan bagian dari rukun iman, yaitu beriman kepada hari akhir, yaitu peristiwa setelah kematian.
- Adanya kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, seperti kelompok Jahmiyah, Mu'tazilah dan Wazaniyah.
- Akan menumbuhkan semangat berlomba-lomba dalam beramal shalih dan waspada dari dosa dan kemaksiatan. Karena semuanya akan ditimbang.
6.1 Definisi Mizan
- Secara bahasa: alat untuk menimbang sesuatu.
- Secara Istilah: timbangan yang hakiki dan memiliki dua neraca untuk menimbang kebaikan dan kejelekan.
Kenapa hakiki? Karena Kelompok Jahmiyah dan Mu'tazilah mengartikan mizan sebagai keadilan. Dan dua neraca ini disebutkan dalam hadits bitaqah (kartu).
6.2 Dalil-dalil adanya Mizan
Seperti yang disampaikan oleh Imam Ahmad rahimahullah, bahwa keimanan terhadap mizan disebutkan dalam Al-Qur’an, sunnah dan ijmak para ulama.
1. Allah Ta’ala berfirman:
وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْنَ (47)
“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
Ayat ini menunjukkan bahwa mizan ini sangat akurat dalam menimbang, tidak lebih dan tidak kurang sedikitpun.
2. Hadits-hadits tentang mizan derajatnya mutawatir. Salah satunya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ”. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada 2 perkataan yang ringan diucapkan oleh lidah, berat di timbangan, dicintai oleh ar Rahman; subhãnallôhi wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian bagi-Nya) subhãnallõhil’adzhim (Maha Suci Allah lagi Maha Agung”. [101]
Imam Bukhari menutup kitab Shahih Bukhari dengan hadits di atas, yang menjadi dalil adanya Mizan.
3. Ijmak para ulama. Dan perlu diketahui bahwa kesepakatan para ulama pasti bersumber dari Al-Qur'an dan hadits. Sehingga ijmak berfungsi sebagai penguat dalil.
Para ulama menyebut mizan dalam kitab-kitab aqidah mereka dan inilah bagian dari pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah, siapa yang mengingkarinya bukan bagian dari Ahlussunnah.
6.3 Kelompok-kelompok yang Mengingkari Mizan dan Bantahannya
Adanya kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, seperti kelompok Jahmiyah, Mu'tazilah dan Wazaniyah, berawal dari penggunaan logika atau akal: amal kok ditimbang, padahal amal bukan benda yang bisa ditimbang sehingga mereka mentahrif (merubah makna) menjadi keadilan.
Prinsip akhirat adalah iman, cukup dengar dan taat, jangan bandingkan dunia dengan akhirat seperti juga jangan bandingkan Allah ﷻ dengan makhluk-Nya.
Sungguh benar apa yang dikatakan Imam Ahmad : Tidak ada qiyas dalam Sunnah (Aqidah).
Maka mentahrif Mizan menjadi keadilan, adalah penyimpangan. Karena Pada asalnya, sebuah perkataan dibawa kepada makna hakikinya. Makna hakiki yang dimaksud adalah makna asal.
Maka tidak boleh memalingkan makna mizan tanpa adanya dalil. Dikembalikan kepada makna asal yaitu timbangan.
6.4 Hikmah adanya Mizan
1. Secara umum: Kewajiban kita adalah beriman, baik kita mengetahui hikmahnya atau tidak.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 36:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka
2. Secara terperinci: para ulama menyebutkan beberapa hikmah adanya mizan
Seperti Imam Ibnul Jauzy Rahimahullah dalam Zaadul Masir Fi ilmit Tafsir menyebutkan beberapa hikmah :
- Ujian bagi makhluk apakah beriman kepada Allah ﷻ ataukah tidak. Seperti halnya Allah ﷻ menguji manusia dengan masalah-masalah ghaib, seperti surga dan neraka termasuk mizan.
- Sebagai tanda kebahagian dan kesengsaraan di akhirat.
- Menegakkan hujah kepada hamba-hamba-Nya.
- Menunjukkan keadilan Allah ﷻ, bahwasanya Allah ﷻ tidak mendzalimi seorangpun.
*****
6.5 Apa yang ditimbang?
Para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:
1. Yang ditimbang adalah kartu (bitaqah) atau lembaran catatan amal.
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’ Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.” [102]
Seorang ulama yang bernama Abul Hasan, Ali bin Umar al-Harrani mengatakan,
أنا حضرت رجلا في المجلس ، وقد زعق عند هذا الحديث ، ومات ، وشهدت جنازته ، وصليت عليه
Saya pernah melihat seseorang dalam suatu majlis kajian, orang ini teriak ketika mendengarkan hadis ini, lalu mati. Saya turut hadir dalam pengurusan jenazahnya dan menshalati jenazahnya. [103]
2. Yang ditimbang adalah Amalan-amalannya
Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” [104]
3. Yang ditimbang Orangnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ
“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.”
Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: ”Bacalah..
فَلاَ نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105)
“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105). [105]
Tiga pendapat di atas tidak saling bertentangan satu sama lain. Sebagian orang ada yang ditimbang amalnya, sebagian yang lain ditimbang buku catatannya, dan sebagian yang lain ditimbang dirinya.
Makanya, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, karena semua dalil-dalilnya shahih, maka semuanya akan ditimbang untuk mengkompromikan dalil-dalil tersebut.
6.6 Sifat-sifat Mizan
Tidak boleh menetapkan tentang sifat-sifat Mizan tanpa dalil. Beberapa dalil pendukung antara lain tentang sifat mizan adalah:
1. Akurat dan detail.
2. Adil
Allah ﷻ berfirman :
وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْنَ (47)
“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
3. Di Tangan Allah ﷻ
Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sabda beliau yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، وَبِيَدِهِ الأُخْرَى المِيزَانُ، يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ
“’Arsy-Nya di atas air, dan di tangan-Nya yang lain (memegang) timbangan, yang Dia rendahkan dan Dia tinggikan.” [106]
4. Memiliki dua neraca
Seperti dijelaskan dalam hadits bitaqah di atas.
Maka, menyebutkan sifat-sifat mizan tidak boleh asal, tetapi harus berdasarkan dalil yang shahih.
Seorang Ulama Sabtuun Al-Andalusy pernah ditanya dalam suatu kajian, dalam secarik kertas: terbuat dari apakah mizan itu. Emas atau perak? Kemudian beliau menulis dibelakang kertas tersebut:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”
Artinya, bertanyalah yang ada manfaatnya bagimu... Subhanallah.
Faedah Hadits: Disebutkan oleh Syaikh Al-Albani Rahimahullah, bahwa ada hadits al-Marfu' Hukman, yaitu mauquf kepada Salman Al-Farisi tetapi secara hukum sampai kepada Nabi ﷺ, Salman Al-Farisi Radhiyallahu’anhu berkata:
فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ
Andaikan langit dan bumi ditimbang, niscaya timbangan tersebut akan mencukupi.
6.7 Apakah Mizan itu Satu atau Banyak
Ada dua pendapat dikalangan para ulama:
- Satu untuk semua manusia (umat): pendapat Jumhur ulama, seperti disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
- Timbangan itu banyak, dalilnya dalam ayat 47 surat Al-anbiya di atas, kata mizan menggunakan kata jamak. Yaitu pada kata artinya الْمَوَازِيْنَ artinya timbangan-timbangan.
Pendapat jumhur lebih kuat.
6.8 Apakah orang-orang kafir ditimbang?
Ada dua pendapat dikalangan para ulama:
1. Orang-orang Kafir Ditimbang, seperti disebutkan Allah ﷻ dalam Surat Al-A'raf ayat 9:
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَظْلِمُونَ
Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
Demikian juga ayat:
وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِيْنَ (47)
“Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
Kata نَفْسٌ شَيْئًا adalah nakirah setelah nafi yang mengandung makna umum, semua orang tanpa memandang iman atau kafir.
Inilah pendapat yang paling kuat.
2. Orang-orang Kafir tidak Ditimbang
Dalilnya surat Al-Kahfi Ayat 105:
أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَزْنًا
Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
Maksudnya kebaikannya, bukan amalan-amalannya, karena amalan-amalan mereka batal karena kekafiran mereka. Ini menunjukkan pentingnya tauhid.
6.9 Amalan-amalan yang Memberatkan Timbangan
Inilah hal terpenting agar membuahkan amal shaleh, amal apa yang dilakukan agar timbangan amal kita menjadi berat.
- Secara umum, amal kebaikan sekecil apapun akan ditimbang. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Qari’ah Ayat 8-9:
وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ
Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Adapun amalan-amalan khusus yang disebut Nabi ﷺ akan keistimewaan timbangannya antara lain:
1. Tauhid
Dalilnya hadits bitaqah yang telah disebutkan di atas.
2. Dzikir
Seperti hadits keutamaan dzikir Tasbih dan tahmid di atas.
3. Akhlak yang mulia
Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” [107]
Asy-Syaikh Al-‘Alâmah Al-Munâwî berkata:
أكثر ما يدخل الموحدين النار حقوق العباد
“Kebanyakan yang menjadi sebab memasukkan orang-orang yang nampak bertauhid (yang sudah ngaji tauhid dan nampak sibuk belajar tauhid) ke Neraka itu adalah meremehkan hak-hak sesama hamba Allah (jahat dan zalim kepada muslim yang lain dengan embel-embel tauhid).” (Faidul Qodîr, 3/565)
4. Menshalati dan Mengantar Jenazah
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ شَهِدَ الجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ، فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ ، قِيلَ: وَمَا القِيرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ الجَبَلَيْنِ العَظِيمَيْنِ
“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyalatkannya, maka baginya pahala satu qirath. Dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya, maka baginya pahala dua qirath.” Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” [108]
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ ، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ
“Barangsiapa yang menyalatkan jenazah, namun ia tidak sampai ikut mengantarnya, maka baginya pahala satu qirath. Dan jika ia turut mengantarnya, maka baginya pahala dua qirath.” Kemudian ditanyakanlah, “Seperti apakah dua qirath itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Yang paling kecil di antaranya adalah seperti gunung Uhud.” [109]
5. Sabar ketika Anak Meninggal
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:
بَخٍ بَخٍ بِخَمْسٍ مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يُتَوَفَّى لِلْمُسْلِمِ فَيَحْتَسِبُهُ
Bakh, Bakh (ucapan pujian dan keridhaan). Ada 5 hal yang sungguh betapa beratnya di timbangan (amal):
1. (Ucapan) Subhanallah,
2.(Ucapan) Alhamdulillah,
3.(Ucapan) Laa Ilaaha Illallah,
4.(Ucapan) Allaahu Akbar.
5.(Kesabaran) karena seorang anak yang saleh meninggal mendahului (orangtuanya yang) muslim, kemudian orangtuanya itu bersabar (berharap pahala dari Allah). [110]
Imam Ahmad Rahimahullah berkata, kita percaya bahwa Allah ﷻ akan berbicara esok pada hari kiamat tanpa penerjemah. Ini menunjukkan bahwa Allah punya sifat bicara, dan tanpa penerjemah karena Allah ﷻ mengerti semua bahasa.
Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan kita pada yaumul hisab kelak. Aamiin.
*****
Bab 8: Beriman Terhadap Telaga Nabi ﷺ
- Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَالإِيمَانُ بِالحَوْضِ، وَأَنَّ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَوْضًا يَوْمَ القِيَامَةِ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتُهُ، عَرْضُهُ مِثْلُ طُولِهِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، آنِيَتُهُ كَعَدَدِ نُجُومِ السَّمَاءِ، عَلَى مَا صَحَّتْ بِهِ الأَخْبَارُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ.
(20) Beriman terhadap Telaga (Haudh). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki Telaga para hari Kiamat yang dikunjungi umatnya, lebarnya seperti panjangnya yaitu perjalanan sebulan. Gayungnya sebanyak bintang di langit. Hadits-hadits tentangnya shahih dan memiliki beberapa jalur periwayatan.
📃 Penjelasan:
Pembahasan ini adalah tentang telaga Haud Nabi ﷺ di akhirat kelak, dan pembahasan ini sering ada pada kitab-kitab para ulama yang membahas masalah aqidah karena termasuk pokok aqidah, bahkan sebagian ulama menulis kitab khusus tentang masalah ini seperti: Imam Baqi' Ibnu Makhlad Al-Qurthubi dan imam Ibnu Basykuwal, dan Imam Dhiya' al-Maqdisi.
8.1 Beriman kepada Telaga Haud termasuk dalam Pokok-pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah
Ada tiga alasan yang melandasinya:
1. Masalah ini termasuk masalah Ghaib yang tidak Bisa Dicerna dengan Akal
Sifat-sifat orang yang bertakwa adalah percaya (beriman) dengan hal-hal yang ghaib yang tidak bisa dicerna dengan akal.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 3:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib.
2. Hadits-hadits tentang Masalah ini sampai Derajat Mutawatir
Bahkan para ulama yang meneliti masalah ini mengatakan ada yang menjelaskan 40 sahabat, 50 sahabat, bahkan 80 sahabat yang meriwayatkan masalah telaga ini.
Padahal seperti yang disampaikan Imam Syafi'i dalam kitabnya Ar-Risalah, para ulama sepakat bahwa hadits Ahad (yang diriwayatkan dari satu sahabat) asalkan shahih, wajib diterima, apalagi yang mutawatir.
3. Adanya kelompok-kelompok yang mengingkari akan hal ini
Baik secara terang-terangan seperti ahli filsafat Mu'tazilah, Khawarij atau salah dalam memahaminya, seperti Syiah Rafidhah yang mengkafirkan para sahabat dengan adanya hadits tentang telaga ini.
4. Motivasi dibalik Hadits ini
Hadits tentang telaga ini adalah kabar gembira bagi para pelaksana sunnah dan ancaman bagi para pelaku bid'ah.
Maka, Jangan sampai kita terusir dari telaga Nabi ﷺ kelak karena sebagai pelaku bid'ah.
8.2 Dalil-dalil Dalam Aqidah ini
Dalil-dalil yang melandasi akidah ini, yakni beriman kepada Telaga dilandasi kepada Al-Qur'an, Hadits maupun ijmak para ulama.
1. Dalil dari Al-Qur'an secara isyarat:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (Al-Kautsar:1).
Imam Ahmad mengatakan dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ menundukkan kepala sejenak, lalu beliau mengangkat kepala seraya tersenyum. Beliau bersabda kepada mereka, atau mereka bertanya kepada beliau , "Mengapa engkau tersenyum?" Maka Rasulullah ﷺ menjawab, "Sesungguhnya barusan diturunkan kepadaku suatu surah" Lalu beliau membaca firmanNya: (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar), sampai akhir. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Apakah kalian tahu, apakah Al-Kautsar itu?" Mereka menjawab, "Allah dan RasulNya lebih mengetahui" Rasulullah bersabda, ”Al-Kautsar adalah sebuah sungai yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku akan mendatanginya pada hari kiamat, jumlah bejana-bejananya sama dengan jumlah bintang-bintang". [111]
- Sebagian ulama berbeda pendapat apakah ayat ini bisa dijadikan dalil tentang telaga atau tidak.
- Sebagian Ulama berpendapat bahwa ini adalah tentang sungai di surga, jadi bukan bahas tentang telaga.
- Dan sebagian lainnya berpendapat secara isyarat tentang telaga di padang Mahsyar, karena air telaga bersumber dari sungai Al Kautsar di surga, jadi secara tidak langsung juga menunjukkan tentang telaga
2. Dalil-dalil dari hadits:
Para ulama yang meneliti masalah ini mengatakan bahwa hadits-hadits tentang telaga derajatnya mutawatir, ada yang menjelaskan 40 sahabat seperti Imam Ibnul Qayyim, 50 sahabat, bahkan 80 sahabat seperti Ibnu Hajar Al-Ashqalani.
Siapa yang mengingkarinya maka dia telah mengingkari sesuatu yang sangat pasti. Dahulu ada sahabat Abu Barzah al-Aslami mengatakan kepada seseorang yang meragukan tentang telaga ini, yaitu Ubaid bin Ziyad, Saya sering mendengar Rasulullah ﷺ berulang kali membahas tentang telaga ini, maka barangsiapa yang tidak mengimani akan telaga ini, semoga Allah ﷻ tidak memberi minum dari telaga tersebut.
Maka, aljazaa min jinzil amal, barangsiapa yang tidak mengimani adanya Haud, maka tidak akan minum di telaga Rasulullah ﷺ kelak di akhirat.
3. Ijmak Ulama
Para ulama telah bersepakat akan keabsahan akidah ini tanpa ragu sedikitpun, semuanya sepakat.
Dahulu, sahabat Anas bin malik radhiyallahu’anhu heran, ada yang meragukan akan keberadaan telaga ini. Disebutkan oleh Imam Al-Ajurri dalam Asy-Syariah menceritakan ketika ada yang meragukan aqidah ini, Anas mengatakan:
Wallahi saya nggak menyangka hidup di zaman kalian, yang mengadu dan mengeluh ada orang yang tidak percaya dengan adanya telaga, sungguh saya meninggalkan nenek-nenek di kota Madinah, ketika shalat mereka berdo'a agar diberi minum dari telaga Nabi ﷺ.
Maka, sungguh banyak di zaman sekarang ini banyak kelompok yang tidak mempercayainya. Seperti Hizbut tahrir (Mu'tazilah), ahli filsafat seperti Syaikh Muhammad Abduh Al-Mishri dalam Tafsir juz Amma.
Kesimpulannya: Ini adalah Aqidah yang mapan berdasarkan dalil-dalil yang kuat baik dari Al-Qur'an, Hadits mutawatir maupun ijmak para ulama. Maka, wajib bagi kita tentang masalah ini:
- Mengimaninya tanpa ragu sedikitpun.
- Berdo'a kepada Allah ﷻ agar mendapatkan anugerah minum pada telaga Nabi ﷺ.
- Membenci karena Allah ﷻ dengan orang-orang yang tidak percaya kepada telaga ini, seraya berharap agar mereka tidak mendapatkan minum dari telaga Nabi ﷺ.
- Berusaha melakukan upaya supaya menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat nikmat ini, bukan orang-orang yang terusir dari telaga Nabi ﷺ.
*****
8.3 Beberapa Permasalahan Terkait Telaga
8.3.1. Telaga Nabi ﷺ telah tercipta sekarang
Telaga Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (haudh) sudah ada pada sekarang ini. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda,
وَإِنِّي وَاللَّهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الآنَ
“Sungguh, demi Allah, saya benar-benar melihat telagaku (haudh) sekarang “. [112]
8.3.2. Beda Telaga Dengan Al Kautsar
Telaga (haudh) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memiliki dua aliran yang bersumber dari telaga al Kautsar suatu sungai yang ada di jannah. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang air di telaga (haudh) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau menjawab,
أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ، أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ، وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ
“Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Pada telaga tersebut ada dua saluran (miizaab) yang mengalirkan air yang terhubung dengan surga, salah satunya dari emas dan yang lain dari perak”. [113]
Perbedaan Telaga Nabi ﷺ (Al-Haud) dan Sungai di surga (Al-Kautsar).
- Al-Kautsar artinya sungai yang airnya mengalir sedangkan Al-Haud artinya telaga yang airnya tidak mengalir.
- Sumber telaga Nabi ﷺ adalah dari sungai Al-Kautsar.
- Al-Kautsar adalah sungai di surga sedangkan Al-Haud ada di padang mahsyar.
- Al-Kautsar khusus untuk Nabi ﷺ sedangkan telaga adalah untuk semua nabi.
Setiap Nabi memiliki telaga (haudh). Sebagaimana pada hadits,
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ لَيَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً
“Sesungguhnya setiap nabi memiliki telaga (haudh), sesungguhnya mereka berlomba-lomba dalam banyaknya orang yang mengunjunginya dan sungguh aku berharap aku menjadi pemilik telaga (haudh) yang paling banyak pengunjungnya.” [114]
8.3.3. Waktu Telaga : Apakah sebelum melewati Shirat atau setelahnya
Ada perselisihan dalam hal ini:
1. Pendapat Mayoritas ulama adalah sebelum melewati shirath, juga didukung oleh keadaan yang memang membutuhkan minum pada saat itu.
2. Pendapat kedua setelah melewati shirath.
8.3.4. Yang berhak minum air telaga Nabi ﷺ dan yang diusir dari telaga
Yaitu Orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta taat kepada Allah dan rasul.
8.3.5. Orang-orang yang ditolak dari Telaga Haud.
- Pertama, Orang Murtad
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَرِدُ علَيَّ يومَ القيامَةِ رهطٌ من أصحابي ، فَيُحَلَّئُونَ عن الحوضِ ، فأقولُ : أيْ ربِّ ! أصحابي ، فيقولُ : إِنَّكَ لا عِلْمَ لكَ بما أحدثوا بعدَكَ ، إِنَّهم ارتَدُّوا بعدَكَ على أدبارِهم القَهْقَرَى
"Ada serombongan dari umatku yang mendatangi telaga lalu mereka diusir, aku berkata: “Wahai Rabbku, Mereka umatku… “ Lalu disampaikan kepadaku, “Kamu tidak tahu bahwa mereka telah mengubah (agamanya) setelah kamu meninggal. Mereka telah murtad dari agama mereka". [115]
- Kedua, Orang-orang ahlul bid'ah.
Dari Abu Wail, dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” [116]
- Ketiga, Orang-orang yang maksiat.
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ
Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah ﷺ pernah keluar atau masuk menemui kami, ketika itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal dari kulit. Baginda lalu bersabda:
“Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berdusta dan dzalim. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezalimannya, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” [117]
Maka, sikap Ahlussunnah terhadap pemerintah adalah tidak memberontak dan tidak membantu kedzaliman mereka, tetapi bersikap pertengahan.
8.3.6. Apakah nabi-nabi lain memiliki Telaga?
Ya, semua Nabi memiliki Telaga dan mereka berlomba-lomba siapa yang paling banyak yang datang untuk meminum telaga mereka. Sebagaimana pada hadits,
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ لَيَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً
“Sesungguhnya setiap nabi memiliki telaga (haudh), sesungguhnya mereka berlomba-lomba dalam banyaknya orang yang mengunjunginya dan sungguh aku berharap aku menjadi pemilik telaga (haudh) yang paling banyak pengunjungnya.” [118]
Adapun pengecualian nabi Shaleh, karena telaganya air susu untanya (tetapi riwayat ini tidak shahih). Maka, semua nabi memiliki Telaga.
8.4. Sifat-sifat Telaga Nabi ﷺ
8.4.1. Luas sekali
Luas dan lebar telaga (haudh) Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sama yaitu sejauh perjalanan satu bulan. Sebagaimana di dalam hadits,
حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌ
“Telagaku (haudh) luasnya sejauh perjalanan satu bulan, (panjang) kedua sisi telagaku sama”. [119]
8.4.2. Bejana-bejananya sejumlah bintang di langit
Ini artinya:
- Jumlahnya sangat banyak.
- Gayungnya bercahaya.
8.4.3. Wanginya sewangi kesturi, Airnya seputih susu
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengkabarkan tentang sifat-sifat telaganya (haudh), beliau bersabda,
حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا
“Telagaku (haudh) luasnya sejarak perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari pada susu, aromanya lebih wangi dari pada misik, bejananya seperti bintang-bintang di langit , barang siapa yang minum dari telaga (Haudh) tersebut niscaya tidak akan merasakan haus lagi selamanya”. [120]
8.5. Kiat-kiat agar Bisa Menjadi Golongan Orang yang Minum dari Telaga Nabi
1. Berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah, dan tinggalkan bid'ah
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ الثَّقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ الْآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنْ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلُ بَيْتِي أَلَا إِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ
Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat berat, salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitabullah, tali yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan ‘itrahku ahlul-baitku, keduanya tidak akan berpisah hingga mereka tiba di telagaku” [121]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ijtima'ul Juyusy al-Islamiyah 'ala Ghazwi Jahmiyyah wal Mu'aththilah menjelaskan, Nabi ﷺ memiliki dua telaga yang sangat besar, telaga di dunia adalah sunnah-sunnah Nabi ﷺ dan apa yang dibawa beliau dan telaga beliau kelak di akhirat.
2. Menghindari perbuatan-perbuatan bid'ah
3. Memiliki hati yang bersih
Tidak ada kebencian terutama kepada para sahabat Nabi ﷺ. Karena orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai.
4. Sabar
Yaitu sabar dalam beribadah dan menjauhi maksiat dan sabar menghadapi pemimpin yang dzalim sampai berjumpa dengan Nabi ﷺ di surga.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً، فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الحَوْضِ
“Sungguh kalian akan melihat setelahku (penguasa) yang mementingkan dirinya sendiri, maka bersabarlah kalian sehingga menjumpaiku di telaga”. [Hadits Shahih. Riwayat Imam al-Bukhari]
5. Tidak mendukung kedzaliman pemimpin
Yaitu berada di tengah-tengah tidak memberontak dan tidak mendukung kedzaliman.
Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat kezaliman, maka ia adalah dari golonganku dan aku adalah dari golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” [122]
6. Berdo'a
Berdo'a adalah kunci kebaikan. Seperti halnya dikisahkan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa nenek-nenek di Madinah dahulu berdo'a agar tidak terusir dari telaga Nabi ﷺ.
7. Menghindari hal-hal yang menyebabkan terusir dari telaga Nabi ﷺ.
- Murtad
- Bid'ah
- Perbuatan maksiat.
8.6 Pelajaran penting dari mempelajari hadits-hadits Nabi ﷺ
1. Kemuliaan Nabi ﷺ dengan adanya telaga Al-Kautsar dan Haud. Maka wajib menjunjung tinggi dan tidak mencela beliau. Bahkan gunung Uhud saja mencintai beliau dan mimbar beliau menangis apalagi kita sebagai orang-orang yang beriman.
2. Nabi ﷺ tidak mengetahui ilmu ghaib.
Contoh nyata dari keyakinan keliru itu, perkataan al-Bushiri penulis qashidah Burdah yang sudah masyhur di tanah air, ia mengatakan:
فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتِهَا وَمِنْ عُلُوْمِكِ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
Sesungguhnya termasuk dari kemurahanmu-lah (wahai Rasul) adanya dunia dan akhirat.
Dan di antara pengetahuanmu, pengetahuan (tentang isi) di Lauhul mahfuzh dan pena (yang menulisnya)
Buktinya ada dalam hadits bahwa Nabi ﷺ tidak mengetahui apa yang terjadi setelah beliau meninggal.
Maka di katakan kepadaku: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelahmu”. [123]
3. Peringatan terhadap Ahlu bid'ah yang akan terusir dari telaga Nabi.
Maka mari kita berusaha dan berdoa serta agar Allah memberikan kita nikmat meminum air di telaga Nabi.
Karena kita sudah ditunggu Nabi ﷺ di telaga beliau. Sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ
“Sesungguhnya saya (Nabi shallallahu’alaihi wa sallam) akan mendahului kalian di telaga (haudh)”. [124]
Demikian pula hadits,
اصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الحَوْضِ
“Sabarlah kalian hingga kalian menemuiku di haudh (telaga)”. [125]
*****
Bab 9: Iman Terhadap Adzab atau Siksa Kubur
📖 Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَالإِيمَانُ بِعَذَابِ القَبْرِ، وَأَنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ تُفْتَنُ فِي قُبُورِهَا، وَتُسْأَلُ عَنِ الإِيمَانِ وَالإِسْلَامِ، وَمَنْ رَبُّهُ؟ وَمَنْ نَبِيُّهُ؟ وَيَأْتِيهِ مُنْكَرٌ وَنَكِيرٌ، كَيْفَ شَاءَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَكَيْفَ أَرَادَ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَالتَّصْدِيقُ بِهِ.
(21) Beriman terhadap siksa kubur, dan bahwa umat ini akan diuji di dalam kuburnya dengan ditanya tentang iman dan Islam: Siapa Rabbmu? Siapa Nabimu? Dan ia akan didatangi Munkar dan Nakir, bagaimananya terserah Allah. Wajib mengimaninya dan mempercayainya.
📃 Penjelasan:
Siksa kubur dan fitnah kubur adalah dua hal yang berbeda. Maka, diantara do'a Nabi ﷺ:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ، وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ
ᴀʟʟᴀᴀʜᴜᴍᴍᴀ ɪɴɴɪɪ ᴀ'ᴜᴜᴅᴢᴜ ʙɪᴋᴀ ᴍɪɴᴀʟ ᴋᴀꜱᴀʟɪ ᴡᴀʟ ʜᴀʀᴏᴍɪ, ᴡᴀʟ ᴍᴀ'ᴛꜱᴀᴍɪ ᴡᴀʟ ᴍᴀɢʜʀᴏᴍɪ, ᴡᴀ ᴍɪɴ ꜰɪᴛɴᴀᴛɪʟ Qᴏʙʀɪ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan pikun/usia jompo, perbuatan dosa dan hutang, fitnah kubur dan azab kubur. [126]
Fitnah kubur merupakan ujian berupa pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir kepada mayit untuk menguji keimanan dan akidah mereka tentang siapa Tuhannya, Nabinya, dan Agamanya, yang hasilnya akan menentukan nasib mayit di alam barzakh (alam kubur).
Siapa yang mampu menjawab maka dia akan mendapatkan nikmat kubur, ujian inilah yang disebut fitnatul qabr.
Adapun adzab kubur adalah siksa bagi orang-orang kafir, munafik dan orang-orang muslim yang bermaksiat sesuai dengan kadar kemaksiatannya.
9.1 Beriman kepada Fitnah dan Azab Kubur termasuk dalam Pokok-pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah
Ada tiga alasan yang melandasinya:
1. Karena merupakan bagian dari Iman kepada Hari Akhir.
Yang hal ini telah dijelaskan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih. Maka, apapun yang telah dijelaskan kita wajib mengimaninya.
Dan banyak nama tentang hari akhir, bahkan Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ada sekitar 80 nama. Dan sikap orang-orang kafir mengingkarinya dan sikap orang-orang mukmin akan mempercayainya. Dalam Surat At-Taghabun Ayat 7 mereka mengatakan:
زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَن لَّن يُبْعَثُوا۟
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan.
2. Masalah ini termasuk masalah Ghaib yang tidak bisa dicerna dengan akal
Sifat-sifat orang yang bertakwa adalah percaya (beriman) dengan hal-hal yang ghaib yang tidak bisa dicerna dengan akal.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 3:
ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib.
3. Adanya kelompok-kelompok yang mengingkarinya.
Seperti kelompok-kelompok Khawarij dan Mu'tazilah yang hanya menggunakan akal.
Hal ini dihidupkan kembali oleh ahli filsafat seperti oleh Mu'tazilah gaya baru yaitu Hizbut tahrir, seperti dalam buku:
- Tak Ada Azab Kubur ? - oleh Agus Musthofa.
- Absahkah berdalil dengan Hadits Ahad - oleh Ramadlan Syamsuddin, yang diberi pengantar oleh Tokoh Hizbut Tahrir: Abdurrahman Al-Baghdadi yang isinya tidak percaya adanya siksa kubur.
Umar bin Khattab Radhiyallahu’anhu pernah mengatakan, akan ada sekelompok orang setelah kalian nanti yang mendustakan hukum rajam, keluarnya dajjal, adanya syafa'at dan adzab kubur. (Diriwayatkan Abu Amr Ad Dani dalam Al Fitan dan dishahihkan Al Albani)
Dan hukumnya sampai kepada Nabi ﷺ, karena tidak mungkin Umar mengatakan hal itu berdasarkan hawa nafsunya.
9.2 Hikmah Iman kepada adzab kubur
1. Kita akan selalu ingat kematian
Oleh karenanya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda mengingatkan kita semua:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah oleh kalian mengingat penghancur kelezatan.”
Apabila kita mengingat kampung akhirat dan kematian, maka kita akan mendapatkan tiga faedah, sebagaimana disampaikan oleh Ad-Daqqaq:
- Semangat dalam ibadah, dan membaguskannya karena dia merasa bahwa amalnya masih sedikit dan banyak dosa, barangkali ini ibadah yang terakhir kali.
- Segera dalam taubat, dia tidak menunda-nunda.
- Qana’ah dengan rezeki dari Allah.
2. Mempersiapkan Diri
Jika kita akan lulus sekolah saja, perlu persiapan ujian, apalagi urusan alam kubur, yang kita tidak pernah tahu nasib kita, apakah selamat ataukah tidak.
Maka, dalam kitab Tsalasul Utsul - Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah dijelaskan bekal untuk menjawab di alam kubur.
*****
9.3 Siksa Kubur
Aqidah ini disebutkan dalam dalil-dalil Al-Qur’an, sunnah dan ijmak para ulama.
Perlu diketahui, bahwa siksa kubur adalah untuk semua orang yang mati meskipun dia tidak dikubur. Lafadz siksa kubur adalah untuk kebanyakan, mencakup semua orang yang mati, walaupun tidak dikubur. Karena banyak kematian yang tidak dikubur, seperti karena tertimbun longsor, tenggelam, kebakaran, dimakan bintang dan lainnya.
1. Dalil dari Al-Qur'an:
Antara lain dalam Surat Ghafir ayat 46:
ٱلنَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدْخِلُوٓا۟ ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ ٱلْعَذَابِ
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras".
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam Tafsirnya, Ayat ini merupakan sumber dalil di kalangan mazhab ahli sunnah wal jama'ah atas adanya azab di alam barzakh, yaitu firman Allah ﷻ: (Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang).
2. Dalil dari Hadits Nabi ﷺ
Para ulama yang meneliti masalah ini mengatakan bahwa hadits-hadits tentang siksa kubur derajatnya mutawatir, yaitu diriwayatkan dari banyak shahabat.
Bahkan Imam Al-Baihaqi rahimahullah, menulis buku khusus tentang siksa kubur berjudul "Itsbat Adzabul Qobr" (إثبات العذاب القبر), yang berisi dalil-dalil dan pembahasan mengenai siksa dan nikmat kubur. Ia termasuk ulama yang mengumpulkan banyak riwayat tentang siksa kubur lebih dari 30 sahabat, yang menunjukkan bahwa hal ini bukanlah isu yang baru tetapi telah dibahas sejak lama oleh para ulama terdahulu.
Bahkan sebagian ulama seperti Al Qasthalani dalam Irsyad Saari Syarah Shahih Bukhari, mengatakan jika derajat hadits tentang siksa kubur tidak mutawatir, maka tidak ada hadits mutawatir di dunia ini.
Do'a dalam hadits Muslim:
عن أَبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أرْبَعٍ ، يقول : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ )) . رواه مسلم .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan mengucapkan, ‘
ᴀʟʟᴀʜᴜᴍᴍᴀ ɪɴɴɪ ᴀ’ᴜᴅᴢᴜ ʙɪᴋᴀ ᴍɪɴ ‘ᴀᴅᴢᴀᴀʙɪ ᴊᴀʜᴀɴɴᴀᴍ, ᴡᴀ ᴍɪɴ ‘ᴀᴅᴢᴀʙɪʟ Qᴏʙʀɪ, ᴡᴀ ᴍɪɴ ꜰɪᴛɴᴀᴛɪʟ ᴍᴀʜʏᴀᴀ ᴡᴀʟ ᴍᴀᴍᴀᴀᴛ, ᴡᴀ ᴍɪɴ ꜱʏᴀʀʀɪ ꜰɪᴛɴᴀᴛɪʟ ᴍᴀꜱɪɪʜɪᴅ ᴅᴀᴊᴊᴀᴀʟ
(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal).” [127]
Hadits ini menarik karena hadits ini hadits Ahad (tidak mutawatir), juga membahas masalah fikih (do'a dalam shalat), dan kelompok ahli filsafat tidak menerima hadits Ahad dalam masalah akidah, tapi kalau masalah hukum dipakai. Maka, mereka bingung sendiri dan mengatakan : hadits ini bisa diamalkan, tetapi tidak boleh diyakini! Sesuatu yang kontradiktif!
3. Ijmak Ulama
Ijmak para ulama meyakini akan akidah ini. Maka imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah mengatakan, adzab kubur benar (haq) adanya dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang sesat dan menyesatkan.
Dan Imam Abul Hassan Al-Asy’ari rahimahullah menjelaskan dalam kitab Arisalah ila ahli Tsaghr menjelaskan bahwa para ulama sepakat dan tidak ada yang mengingkari siksa kubur.
9.4 Alasan Penyebab Ingkar terhadap Siksa Kubur
1. Masalah ini adalah Masalah Irrasional
Kata mereka tidak akan ditemui masalah siksa dan adzab di dalam kubur. Mereka lebih memilih akal dibandingkan dengan dalil, seperti perkataan tokoh mereka Fakhrurrozi.
Sementara Ahlussunnah mendahulukan adanya dalil dibandingkan dengan akal.
- Masalah ini masalah Keimanan (Ghaib). Ini ujian apakah beriman atau tidak.
- Alam Barzakh berbeda dengan alam dunia.
Karena alam dunia berbeda dengan alam barzakh, karena kita tahu bahwa alam ada tiga:
1. Kehidupan dunia.
2. Kehidupan alam barzakh.
3. Kehidupan alam akhirat.
Maka, tidak mungkin menyamakan ketiga alam kehidupan tersebut.
Dianalogikan dengan suami isteri yang tidur seranjang, jika keduanya bermimpi, maka salah satunya tidak mengetahui, apalagi beda alam.
2. Hadits-hadits masalah siksa kubur banyak yang derajatnya ahad.
Dan bagi mereka hadits ahad tidak bisa dipakai dalam masalah akidah. Kita jawab:
- Hadits-hadits tentang siksa kubur adalah tidak ahad, tetapi mutawatir menurut ahlul hadits.
- Penggunaan hadits ahad dalam masalah akidah tidak dipakai dan dalam masalah fiqh dipakai, merupakan hal yang bid'ah, karena tidak ada dari Nabi ﷺ, sahabat dan para ulama.
3. Mereka beranggapan ini masalah khilafiyah
Kita jawab, betul ini perbedaan, tetapi perbedaan diantara Ahlussunnah dan ahlul bid'ah, dan berdalil dengan adanya khilaf bukan hujjah.
Dan jika terjadi khilaf, maka kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman:
(فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ)
“Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya” (QS. An Nisa: 59).
Dan tidak semua perbedaan pendapat itu penting atau layak untuk diperdebatkan, kecuali hanya perbedaan yang memiliki dalil yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan (mu'tabar).
Contoh khilaf yang ditoleransi: Dalam shalat, turun sujud apakah tangan dulu atau kaki dulu.
Khilaf yang tidak ditoleransi adalah khilaf yang berkaitan dengan ahlussunnah dan ahlul bid'ah.
9.5 Permasalahan-permasalahan Terkait Siksa Kubur
9.5.1. Jenis-jenis Siksa Kubur
Masalah Ghaib harus berlandaskan dalil-dalil.
- Dipukul dengan palu besi
وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ
Adapun orang kafir atau munafiq maka dia menjawab: Aku tidak mengetahui, aku berkata tentang dirinya seperti apa yang dikatakan oleh manusia, maka dikatakan kepadanya: Kamu tidak akan mengetahui dan tidak akan membaca, kemudian dia dipukul dengan sebuah palu dari besi dengan satu pukulan diantara kedua telinganya, maka dia berteriak dengan teriakan yang didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia”. [128]
Dalam hadits Bara’ disebutkan: Seandainya dipukulkan pada gunung tentu akan hancur menjadi debu.
- Dihimpitkan Kuburannya.
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu: “Maka ia semakin menyesal dan tersiksa, dan kuburnya menghimpitnya hingga tulang rusuknya porak-poranda”.
- Digigit Ular Berbisa
Hal ini sebagaimana dalil berikut ini,
عن عائشة رضي الله عنها أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: يُرْسَلُ عَلىَ اْلكَافِرِ حَيَّتَانِ وَاحِدَةٌ مِنَ قِبَلِ رَأْسِهِ وَ أُخْرَى مِنْ قِبَلِ رَجْلَيْهِ تَقْرِضَانِهِ قَرْضًا كُلَّمَا فَرَغَتَا عَادَتَا إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ
Dari Aisyah radliyallahu anhabahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Akan dikirim kepada orang kafir dua ekor ular. Yang satu dari arah kepalanya dan yang lainnya dari arah kedua kakinya. Keduanya membelitnya dengan sekali belitan. Setiap kali keduanya selesai maka keduanya akan mengulanginya sampai hari kiamat”. [129]
عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ اْلمـُؤْمِنَ فىِ قَبْرِهِ لَفىِ رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ فَيُرَحَّبُ لَهُ قَبْرُهُ سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا وَ يُنَوَّرُ لَهُ كَاْلقَمَرِ لَيْلَةَ اْلبَدْرِ أَتَدْرُوْنَ فِيْمَا أُنْزِلَتْ هَذِهِ اْلأَيَةِ ((فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَ نَحْشُرُهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَعْمَى)) قَالَ: أَتَدْرُوْنَ مَا اْلمـَعِيْشَةُ الضَّنْكُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ قَالَ: عَذَابُ اْلكَافِرِ فىِ قَبْرِهِ وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهُ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ تِسْعَةٌ وَ تِسْعُوْنَ تِنِّيْنًا أَتَدْرُوْنَ مَا التِّنِّيْنُ؟ سَبْعُوْنَ حَيِّةً لِكُلِّ حَيِّةٍ سَبْعُ رُؤُوْسٍ يَلْسَعُوْنَهُ وَ َيخْدَشُوْنَهُ إِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ
Dari Abu Hurairahradliyallahu anhu dari Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin itu berada di dalam taman yang hijau di dalam kuburnya. Lalu kuburnya itu diperluas hingga tujuh puluh hasta dan diberi cahaya laksana bulan purnama. Tahukah kalian apa sebabnya diturunkan ayat ini ((maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta)). Beliau bertanya, “Tahukah kalian, apakah penghidupan yang sempit itu?”. Mereka menjawab, “Allah dan Rosul-Nyalah yang lebih tahu”. Beliau bersabda, “Yaitu siksaan orang kafir di dalam kuburnya. Demi Allah, sesungguhnya akan diberikan kepada mereka sebanyak sembilan puluh sembilan tinnin (ular naga). Apakah kalian tahu apakah tinnin itu?, yaitu tujuh puluh ekor ular, tiap-tiap ularnya itu mempunyai tujuh kepala yang akan menyengat dan menggigitnya hingga hari kiamat”. [130]
9.5.2. Faktor-faktor Penyebab Siksa Kubur
Menurut imam Ibnul Qayyim rahimahullah ada dua penyebab siksa kubur dalam kitabnya Ar-Ruh:
- Semua dosa dan Kemaksiatan, secara global: seperti kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan dan lainya.
- Faktor-faktor terperinci yang disebut dalam dalil:
- Tidak memperhatikan air kencing dan adu domba.
Ibnu Abbas radhiallahu anhuma mengatakan,
مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَينِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ. فَأَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَا فَعَلْتَ هَذَا؟ قَالَ: لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
Nabi shallallahu alaihi wa sallam melewati dua kuburan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena suatu perkara yang besar (menurut kalian). Salah satunya tidak menjaga diri dari percikan air kencing, sedangkan yang lain suka mengadu domba antara manusia.”
Beliau lalu mengambil sebuah pelepah kurma yang masih basah. Kemudian, beliau membelahnya menjadi dua bagian dan beliau tancapkan satu bagian pada tiap-tiap kuburan. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?”
Beliau menjawab, “Mudah-mudahan diringankan azab tersebut dari keduanya selama pelepah kurma itu belum kering.” [131]
- Isbal
- Dusta
- Belajar dan tidak mengamalkannya
- Zina
- Makan harta haram
*****
9.5.3. Kiat-kiat Selamat dari Siksa Kubur
- Faktor secara global: Beriman kepada Allah dan rasul-Nya Dan Amal shalih.
- Amalan-amalan yang secara khusus ada dalilnya. Seperti:
- Jihad dan orang yang mati Syahid
Dari seseorang dari kalangan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِيْ قُبُورِهِمْ إِلاَّ الشَّهِيدَ، قَـالَ: كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً.
“Sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah! Kenapa hanya orang-orang yang mati syahid saja yang tidak dikenai fitnah di dalam kuburnya?’ Beliau menjawab, ‘Kilatan pedang yang mengenai kepalanya sudah cukup merupakan fitnah.’” [132]
Hadits ‘Ubadah bin Shamit. Demikian pula hadits Qais al-Judzami Radhiyallahu anhuma. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْـرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ اْلأَكْبَرِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ اْلإِيْمَانِ وَيُزَوَّجُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ.
“Ada enam keistimewaan di sisi Allah yang dimiliki oleh seseorang yang mati dalam keadaan syahid: (1) Dia diampuni semenjak tetesan darah yang pertama. (2) Diperlihatkan tempatnya di dalam Surga. (3) Dilindungi dari siksa kubur. (4) Aman dari kegoncangan yang sangat besar. (5) Dihiasai dengan perhiasan keimanan dan dinikahkan dengan bidadari-bidadari. (6) Bisa memberikan syafa’at kepada tujuh puluh orang keluarganya.” [133]
Membaca Surat Al-Mulk
Nabi ﷺ bersabda, "Itu surat Al Mulk yang dapat menjaga pembacanya dari siksa kubur." [134]
- Mati di hari Jum'at atau malam Jum'at
Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَـا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَـوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ.
“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malamnya, kecuali Allah akan men-jaganya dari fitnah kubur.” [135]
Ini hanya kabar gembira, adapun memastikan hal ini bukanlah kuasa kita.
9.5.4. Waktu Siksa Kubur
Apakah waktu tertentu ataukah sampai kiamat? Jawabannya berbeda-beda, yaitu orang kafir seperti Fir'aun maka akan disiksa di kubur selamanya.
Adapun yang sementara waktu, yaitu bagi setiap muslim yang berdosa.
9.5.5. Kenapa siksa kubur tidak dinampakkan?
Mengandung beberapa hikmah, diantaranya:
- Sebagai ujian keimanan.
- Untuk menutupi aib si mayit.
- Untuk memberikan ketenangan kepada keluarganya.
- Karena kasih sayang untuk manusia.
Jika adzab kubur tersebut dinampakkan, maka tidak ada yang berani untuk memakamkan saudaranya yang meninggal dunia. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Seandainya kalau bukan karena kalian saling memakamkan, maka aku ingin berdoa kepada Allah untuk memperdengarkan kepada kalian adzab kubur yang aku dengar.” [136]
9.5.6. Siksa Kubur: apakah badannya, ruhnya atau keduanya
Ulama berbeda pendapat:
1. Badanya
2. Ruhnya
3. Keduanya ruh dan badan. Ini merupakan pendapat Jumhur ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata bahwa ruh kadang masih bersambung dengan jasad sehingga diadzab atau diberi nikmat bersama-sama.
Maka, hendaknya kita semua berlindung dari adzab kubur dan mempersiapkan diri dengan bekal agar terhindar dari siksa kubur.
9.6 Fitnah Kubur
Fitnah kubur adalah ujian yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Malaikat Munkar dan Nakir kepada orang yang sudah meninggal di dalam kubur mengenai Tuhan, agama, dan Nabi.
Ini adalah akidah yang wajib kita dimana berdasarkan dalil-dalil berikut:
1. Dari Al-Qur'an
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim Ayat 27:
يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱلْقَوْلِ ٱلثَّابِتِ
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh.
Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan perkataan yang benar, yaitu kalimat syahadat ‘laa ilaaha illaa Allah, Muhammad Rasulullah’. Allah meneguhkan mereka di dunia ketika kematian saat dua malaikat menanyai mereka dalam kubut, dan di hari kiamat meneguhkan mereka dari kengerian pada hari itu.
2. Hadits
Hadits-hadits tentang pertanyaan kubur derajatnya mutawatir, tetapi penamaan malaikat Munkar dan Nakir, derajatnya Ahad.
Imam Tirmidzi (1071) meriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
Apabila mayit atau salah seorang dari kalian sudah dikuburkan, ia akan didatangi dua malaikat hitam dan biru, salah satunya Munkar dan yang lain Nakir.
Imam Ibnu Abu Dawud dalam Mandzumah Al-Haiyah Karya Imam Ibnu Abu Dawud berkata, Janganlah engkau mengingkari munkar dan Nakir, demikian juga telaga, mizan dan aku memberikan nasihat kepadamu.
3. Faedah beriman kepada Fitnah Kubur
Mempersiapkan jawaban. Inilah yang terkandung dalam kitab Tsalasul Utsul yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah.
Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk istiqomah dalam mengamalkan ilmu yang bermanfaat sebagai persiapan di akhirat.
Penutup
Ibnul Jauzi rahimahullah dalam "Akhbar Al-Humqa wa Al-Mughaffalīn" (Kabar Orang-Orang Pandir dan Bodoh), berkisah: Tatkala Tokoh Mu'tazilah Misr Al-Mirrizi meninggal dunia, tidak ada yang menyolati diantara Ahlussunnah kecuali satu orang yaitu Ubaid As-Suwainizi, Kemudian ketika pulang, dia dikerumuni teman-temannya Karena menyolati ahlul bid'ah, kemudian dia berkata: tahu gak apa yang saya baca saat sholat tadi: Ya Allah ﷻ sesungguhnya hambaMu yang meninggal ini, tidak percaya dengan siksa kubur, maka siksalah dia dengan siksa kubur yang pedih, Ya Allah ﷻ sesunguhnya dia tidak percaya bisa melihat engkau, maka janganlah engkau tampakkan di depan dia, Ya Allah sesungguhnya dia tidak percaya adanya timbangan, maka ringankanlah timbangan amalnya, Ya Allah ﷻ sesungguhnya dia tidak percaya adanya syafa'at, maka janganlah Engkau beri dia syafa'at.
Mendengar Ubaid berkata demikian, maka teman-temannya memuji dan setuju dengan sikapnya.
*****
Waktu Habis, maka Ustadz Menutup dengan Bab-14
Bab 14 : Wajib Mendengar dan Taat Kepada Pemimpin Meskipun Dzalim
📖 Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:
وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلْأَئِمَّةِ وَأَمِيرِ المُؤْمِنِينَ البَرِّ وَالفَاجِرِ، وَمَنْ وَلِيَ الخِلَافَةَ فَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَرَضُوا بِهِ، وَمَنْ غَلَبَهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيفَةً وَسُمِّيَ أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ.
34. Wajib mendengar dan taat kepada para imam dan Amirul Mukminin, shalih maupun zolim, dan kepada siapa saja yang memegang kepemimpinan di mana manusia berkumpul padanya dan meridhoinya, dan kepada siapa yang menang kudeta dengan senjata hingga menjadi khalifah dan dipanggil Amirul Mukminin.
وَالغَزْوُ مَاضٍ مَعَ الأَمِيرِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ البَرِّ وَالفَاجِرِ، لَا يُتْرَكُ.
35. Berperang bersama pemimpin yang shalih dan zolim berlaku hingga hari Kiamat, dan tidak boleh ditinggalkan.
وَقِسْمَةُ الفَيْءِ وَإِقَامَةُ الحُدُودِ إِلَى الأَئِمَّةِ مَاضٍ، لَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَطْعَنَ عَلَيْهِمْ وَلَا يُنَازِعَهُمْ.
36. Pembagian fai (ghonimah yang diperoleh tanpa peperangan) dan penerapan had (hukuman) menjadi hak pemimpin dan selalu diberlakukan. Tidak boleh seorang pun memprotesnya dan menentangnya.
وَدَفْعُ الصَّدَقَاتِ إِلَيْهِمْ جَائِزَةٌ نَافِذَةٌ، مَنْ دَفَعَهَا إِلَيْهِمْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ بَرًّا كَانَ أَوْ فَاجِرًا.
37. Pembayaran zakat kepada mereka adalah diperbolehkan dan sah. Siapa yang menyerahkan zakat mereka kepada penguasa (untuk didistribusikan) maka telah sah, baik pemimpin baik maupun zolim.
وَصَلَاةُ الجُمُعَةِ خَلْفَهُ وَخَلْفَ مَنْ وَلَّاهُ جَائِزَةٌ بَاقِيَةٌ تَامَّةٌ رَكْعَتَيْنِ، مَنَ أَعَادَهُمَا فَهُوَ مُبْتَدِعٌ، تَارِكٌ لِلْآثَارِ، مُخَالِفٌ لِلسُّنَّةِ، لَيْسَ لَهُ مِنْ فَضْلِ الجُمُعَةِ شَيْءٌ إِذَا لَمْ يَرَ الصَّلَاةَ خَلْفَ الأَئِمَّةِ مَنْ كَانُوا بَرِّهِمْ وَفَاجِرِهِمْ؛ فَالسُّنَّةُ أَنَّ يُصَلِّيَ مَعَهُمْ رَكْعَتَيْنِ، وَيَدِينُ بِأَنَّهَا تَامَّةٌ، وَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ مِنْ ذَلِكَ شَكٌّ.
38. Shalat (Jumat) bermakmum kepadanya dan kepada siapa yang ditunjuk olehnya adalah boleh dan sempurna dua rakaat. Siapa yang mengulangnya (karena menganggap tidak sah) maka ia seorang ahli bid’ah, meninggalkan petunjuk dan menyelisihi Sunnah. Tidak mendapatkan pahala Jumat sedikitpun siapa yang memandang tidak sah bermakmum kepada pemimpin tersebut, yang shalih maunpun yang zolim. Sebab, yang sesuai Sunnah adalah shalat bersama mereka dua rakaat dan meyakini telah sempurna, tanpa ada keaguan sedikitpun di hatimu.
📃 Penjelasan:
Masalah ini adalah masalah yang penting karena:
- Ditekankan Allah ﷻ, RasulNya dan para ulama dalam kitab-kitab mereka.
- Dengan menerapkannya akan terwujud maslahat yang besar berupa persatuan, keamanan, terjaganya nyawa dan kehormatan.
Dan ini adalah kebutuhan yang primer. Makanya, nabi Ibrahim alaihissalam berdo'a agar dikaruniai negeri yang aman sebelum meminta rezeki yang lain.
رَبِّ ٱجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَٱرْزُقْ أَهْلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُم بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ
Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.
- Adanya kelompok-kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, terutama Khawarij yang suka memberontak dan kelompok lainya.
Dan hampir semua kelompok ahlil bid'ah menyimpang dalam masalah ini, maka inilah ciri khas Ahlussunnah wal Jama'ah, karena sebagai bagian dari ibadah dan mencari pahala. Bukan karena alasan dunia.
14.1 Definisi Imam
Imam menurut Imam Ahmad rahimahullah adalah siapa saja yang memegang kepemimpinan di mana manusia berkumpul padanya dan meridhoinya. Seperti jika kita menanyakan rakyat, siapa pemimpin Indonesia saat ini, maka semua akan menjawab dengan jawaban yang sama: Bapak Prabowo.
Adanya pemimpin bagi suatu negara adalah wajib, bahkan dalam bepergian atau keluarga saa pemimpin, apalagi suatu negara. Karena jika tidak ada pemimpin maka akan terjadi kekacauan.
ويقال: ستون سنة من إمام جائر أصلح من ليلة واحدة بلا سلطان، والتجربة تبين ذلك...
Dan telah dinyatakan (oleh para Ulama), "enampuluh tahun waktu berjalan dengan kepemimpinan penguasa yang jahat, maka itu lebih baik daripada satu malam tanpa adanya penguasa." [1]. Dan realita telah membuktikannya....
Tugas utama pemimpin:
1. Menegakkan tiang agama dan memantapkan hamba berada di atas jalan yang lurus serta menghalangi manusia dari menyelisihi agama dan menerjang aturan-aturan agama.
2. Mengatur urusan kaum muslimin dalam mewujudkan kemaslahatan mereka dan membendung kerusakan dari mereka.
14.2 Prinsip-prinsip Ahlussunnah terhadap Para Pemimpin
Sesungguhnya waliyyul Amr (pemimpin) memiliki hak-hak atas rakyat yang diwajibkan oleh Islam, diantara hak-hak tersebut adalah:
1. Mendengar dan Taat kepada pemimpin
Kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa berlaku pada seluruh perkara yang bukan maksiat, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam memaksiati Sang Khalik (Sang Pencipta).
Dalil-dalil yang menerangkan prinsip yang agung ini diantaranya adalah sebagai berikut:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa': 59).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan, “Ulil Amri mencakup dua golongan, yaitu ulama dan penguasa.”
Dalam ayat di atas, tidak ada tambahan kata taat kepada ulil amri, tetapi langsung dengan penghubung dan (و) karena bisa jadi mereka memerintahkan kepada kemaksiatan. Maka dalam hal ini tidak ada ketaatan kepadanya.
Dan dalam hal ini Ahlussunnah berada di tengah-tengah, tidak berlebihan seperti Syiah rafidhah yang taat kepada pemimpin meskipun sesat dan para penjilat yang berlebihan dalam ketaatan. Atau Khawarij yang memberontak para pemimpin.
Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata: Perintah pemerintah terbagi menjadi tiga macam:
- Perintah yang sesuai dengan perintah Allah ﷻ seperti shalat fardhu, maka wajib mentaatinya.
- Perintah yang maksiat kepada Allah seperti cukur jenggot atau minum khamr maka tidak boleh mentaatinya.
- Perintah yang bukan perintah Allah dan bukan juga maksiat kepada Allah seperti undang-undang lalu lintas, undang-undang pernikahan dan sebagainya yang tidak bertentangan dengan syari’at, maka majib ditaati juga, bila tidak mentaatinya maka dia berdosa dan berhak mendapatkan hukuman setimpal.
Adapun anggapan bahwa tidak ada ketaatan kepada pemimpin kecuali apabila sesuai dengan perintah Allah saja, sedangkan peraturan-peraturan yang tidak ada dalam perintah syari’at maka tidak wajib mentaatinya, maka ini adalah pemikiran yang bathil dan bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Wajibnya taat kepada penguasa bersifat umum, sama saja kepada penguasa yang baik atau yang zhalim, selama perintah mereka bukan kemaksiatan. Wajib taat kepada penguasa selama mereka masih muslim, mengerjakan shalat, tidak boleh berontak sampai jelas kekafirannya dengan syarat-syarat yang ketat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ
“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. [2]
Dalam hadits ini, budak sebenarnya bukan termasuk kriteria pemimpin dalam Islam, maka jika qodarullah terpilih, maka wajib ditaati. Sama halnya, jika yang memimpin perempuan ataupun cacat seperti buta, maka inipun wajib ditaati. Seperti halnya Bangsa Indonesia pernah mengalaminya. Ini demi kemaslahatan yang lebih besar.
2. Menjaga Kehormatan penguasa dan tidak mencelanya.
Islam sangat memuliakan penguasa, hal itu karena beratnya tugas yang mereka emban dalam mengatur roda pemerintahan. Islam menempatkan mereka dalam derajat yang terhormat.
Tidak boleh bagi siapapun untuk melecehkan penguasa, baik dengan celaan, ghibah atau yang lainnya. Namun sangat disayangkan ajaran yang mulia ini sudah banyak dilupakan oleh sebagian kaum muslimin, sehingga tak aneh kalau penguasa sekarang tidak berwibawa dan mudah dijatuhkan, dicela dan direndahkan.
Ketahuilah, Rasulullah ﷺ melarang keras sikap merendahkan penguasa, beliau bersabda:
السُّلطانُ ظلُ اللهِ في الأرضِ فمَن أكرمَه أكرمَ اللهَ و مَن أهانَه أهانَهُ اللهُ
“Penguasa adalah merupakan naungan Allah di atas muka bumi barang siapa memuliakannya maka ia telah memuliakan Allah dan barangsiapa menghianakannya maka ia telah menghinakan Allah.” [3]
3. Menasehati dengan cara yang santun
Pemimpin suatu negara adalah manusia biasa seperti kita, mereka juga terkadang salah, maka kewajiban bagi setiap muslim adalah saling memberikan nasehat dan mengingatkan. Ini adalah suatu kewajiban agama dan amalan ibadah yang sangat utama.
Tetapi Islam memberikan rambu-rambu tentang etika menasehati pemimpin agar tidak malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْبِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَ إِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ.
“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya.” [4]
4. Bersabar atas kezhaliman pemimpin
Bersabar atas kezhaliman penguasa termasuk pokok aqidah ahlus sunnah wal Jama’ah.
Dalil-dalil dalam masalah ini sangat banyak, bahkan hadits-hadits dalam masalah ini mencapai derajat mutawatir. Nabi ﷺ bersabda:
من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر عليه فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات ، إلا مات ميتة جاهلية
“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang keluar dari Al Jama’ah sejengkal saja lalu mati, ia mati sebagai bangkai Jahiliah” [5]
5. Tidak Memberontak Pemimpin.
Memberontak terhadap penguasa hukumnya adalah haram bagaimanapun keadaan dan kejelekan penguasa.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Tidak ada dalam sejarah kelompok yang memberontak penguasa kecuali menimbulkan kerusakan yang lebih besar dari sebelumnya.” [6]
Sungguh sejarah telah mencatat bagaimana kejamnya seorang yang bernama Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafi. Dia telah banyak membunuh jiwa tak berdosa, sampai sahabat yang mulia Abdullah bin Jubair terbunuh. Lantas bagaimana sikap para sahabat yang lain, apakah mereka menyusun kekuatan untuk memberontak?Wallohi, tidak sama sekali, bahkan mereka tetap menganjurkan untuk mendengar dan taat. Zubair bin Adiy berkata, “Kami mendatangi Anas bin Malik mengeluhkan perihal Hajjaj. Anas menjawab, “Bersabarlah, karena tidaklah datang sebuah zaman kecuali yang setelahnya akan lebih jelek hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian, aku mendengar ini dari nabi kalian.” [7]
6. Mendoakan kebaikan
Kebaikan penguasa adalah idaman bagi setiap muslim, karena kebaikan penguasa adalah kebaikan bagi rakyat dan Negara.
Mendo'akan kebaikan untuk pemimpin termasuk aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, amalan yang utama dan termasuk nasehat yang baik untuk mereka.
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Andaikan aku punya do'a yang mustajab niscaya akan aku panjatkan untuk penguasa.” [8]
Mengurus negara besar adalah tidak mudah, dan tidak mudah membuat semua orang puas. Imam Syafi'i berkata:
سِيَاسَةُ النَّاسِ أَشَدُّ مِنْ سِيَاسَةِ الدَّوَابِ.
Mengatur manusia itu lebih berat daripada mengatur hewan ternak.
*****
Footnotes:
Footnotes Bab-14:
Download E-Book Syarah Kitab Ushulus Sunnah
•┈┈┈┈┈┈•❀❁✿❁❀•┈┈┈┈┈•
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ
“Ya Allah, aku meminta pada-Mu agar dilindungi dari perbuatan syirik yang kuketahui dan aku memohon ampun pada-Mu dari dosa syirik yang tidak kuketahui”.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم