Kajian Buku Bila Kumati #3 Bersama Ustadz Ammi Nur Baits Hafidzahullah
Daftar Isi:
PERISTIWA KEMATIAN PARA NABI
Pelajaran dari Wafatnya Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa عليه السلام
Pendahuluan
Melanjutkan pembahasan dari buku Bila Kumati, kita akan mengutip kisah tentang kematian para nabi. Mengapa yang dipilih adalah kisah para nabi? Walaupun sebagian ulama—seperti dalam buku Wafayatul A'yan—mengumpulkan kisah kematian tokoh-tokoh besar dalam sejarah, baik nabi maupun non-nabi, pembahasan di sini dibatasi hanya pada para nabi yang disebutkan dalam dalil.
Kematian adalah ketetapan Allah yang berlaku bagi seluruh makhluk. Tidak ada manusia yang dapat menghindarinya. Para nabi dan rasul, meskipun mereka adalah manusia pilihan Allah dan memiliki kedudukan yang sangat mulia, juga mengalami sakit, kematian, dan kehidupan setelah kematian sebagaimana yang telah Allah tetapkan.
Pembahasan mengenai kematian para nabi memberikan pelajaran penting tentang hakikat kehidupan dunia, keyakinan kepada akhirat, sikap menghadapi kematian, serta kewajiban untuk tetap beribadah kepada Allah setelah wafatnya seorang manusia yang paling kita cintai.
Allah berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ اَفَا۟ىِٕنْ مَّاتَ اَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلٰٓى اَعْقَابِكُمْۗ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang?” QS. Ali ‘Imran: 144.
Ayat ini menjadi salah satu ayat terpenting dalam pembahasan wafatnya Rasulullah ﷺ. Ketika beliau wafat, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu membacakan ayat tersebut kepada kaum Muslimin untuk mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah manusia dan utusan Allah, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Mahahidup dan tidak akan pernah mati. Riwayat tersebut terdapat dalam Sahih al-Bukhari.
1. TIGA CATATAN PENTING TENTANG WAFATNYA PARA NABI
Sebelum membahas kisah wafatnya beberapa nabi secara spesifik, ada tiga catatan mendasar yang perlu dipahami terlebih dahulu:
Pertama: Para nabi adalah manusia
Meskipun berkedudukan mulia, para nabi adalah manusia biasa yang tidak abadi di dunia. Kematian yang dialami para nabi menunjukkan bahwa mereka memiliki hakikat kemanusiaan yang sama dengan manusia lainnya. Mereka makan, tidur, sakit, dan pada waktunya mengalami kematian.
Allah berfirman:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati. Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu." QS. Az-Zumar: 30.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat 34:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu. Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?"
Ketentuan ini merupakan kaidah umum bagi seluruh makhluk bernyawa, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ali 'Imran: 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati."
Karena itu, tidak tepat menjadikan seseorang sebagai makhluk yang tidak mengalami kematian hanya karena ia seorang nabi.
Bagaimana dengan Iblis?
Iblis pun tidak abadi dan akan mengalami kematian. Iblis pernah memohon kepada Allah agar diberi penangguhan umur sampai hari kebangkitan sbagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Hijr: 36–38
قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
"(Iblis) berkata: 'Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.' Allah berfirman: 'Maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi penangguhan, sampai hari (waktu) yang telah ditentukan.'"
Allah tidak mengabulkan permintaan Iblis untuk hidup hingga hari kebangkitan (yaumi yub'atsun), melainkan hanya sampai batas waktu yang ditentukan (ilā yaumil-waqtil-ma'lūm). Artinya, Iblis akan mati saat ditiupnya sangkakala pertama yang menghancurkan alam semesta, sebelum akhirnya dibangkitkan kembali pada tiupan sangkakala kedua bersama makhluk lainnya.
Penegasan bahwa semua manusia pasti wafat juga berlaku bagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Jasad beliau dimakamkan di kamar Aisyah radhiyallahu 'anha. Keyakinan sebagian orang bahwa Nabi Khidir atau Nabi Ilyas masih hidup hingga saat ini adalah anggapan khurafat yang tidak berdasar. Manusia yang paling mulia saja wafat, apalagi yang derajatnya berada di bawah beliau.
Kedua: Para nabi diberi pilihan sebelum wafat
Sebagai bentuk pemuliaan, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan tawaran kepada para nabi sebelum wafat: apakah mereka memilih untuk tetap tinggal di dunia atau dipanggil menghadap Allah. Keistimewaan ini khusus diberikan kepada para nabi dan tidak berlaku bagi manusia biasa maupun para wali.
Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam HR. Bukhari no. 4586 & Muslim no. 2444:
مَا مِنْ نَبِيٍّ يَمْرَضُ إِلاَّ خُيِّرَ بَيْنَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
"Tidak ada seorang nabi pun yang menderita sakit melainkan diberi pilihan antara dunia dan akhirat."
Aisyah menceritakan bahwa saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sakit parah menjelang wafatnya, suara beliau menjadi serak dan berat. Beliau mendengar ucapan terakhir yang keluar dari lisan Rasulullah:
"Bersama orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka..."
Dari perkataan tersebut, Aisyah menyadari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang diberi pilihan oleh Allah dan beliau memilih untuk dipanggil menuju akhirat.
Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
HR. Bukhari no. 4437 & Muslim no. 2444
إِنَّهُ لَمْ يُقْبَضْ نَبِيٌّ قَطُّ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُحَيَّا أَوْ يُخَيَّرُ
"Sesungguhnya tidak seorang nabi pun yang diwafatkan hingga diperlihatkan kepadanya tempat duduknya di surga, kemudian diperhitungkan (diberi kehidupan) atau diberi pilihan."
Ketika pandangan Rasulullah menatap ke langit-langit rumah, beliau berucap:
“Allahumma ar-Rafīqal-A'lā” (Ya Allah, hamba memilih bersama teman-teman yang tertinggi [penghuni surga]).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa kondisi diberi pilihan antara tetap di dunia atau wafat ini merupakan salah satu kekhususan (khaṣā`iṣ) yang hanya dimiliki oleh para nabi.
Ketiga: Para Nabi Dimakamkan di Tempat Mereka Meninggal
Keistimewaan lain dari para nabi adalah tempat pemakaman mereka ditentukan tepat di lokasi mereka mengembuskan napas terakhir.
Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, para sahabat sempat berselisih pendapat mengenai lokasi pemakaman beliau. Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu 'anhu kemudian menengahi dengan menyampaikan sabda Nabi:
HR. Tirmidzi no. 1018
مَا قَبَضَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُدْفَنَ فِيهِ
"Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang nabi kecuali di tempat yang Dia sukai nabi tersebut dimakamkan di sana."
Mendengar hadis tersebut, para sahabat memindahkan ranjang tempat tidur Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menggali makam tepat di bawahnya.
2. WAFATNYA RASULULLAH ﷺ
Para ulama sepakat bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam wafat pada hari Senin tahun 11 Hijriah. Walaupun terdapat perbedaan penanggalan di antara ahli sejarah, pendapat mayoritas menyebutkan beliau wafat pada tanggal 12 Rabiulawal.
Pentingnya Tanggal Wafat Dibandingkan Tanggal Kelahiran
Perhatian para ulama dan ahli sejarah terhadap ketepatan tanggal wafat Rasulullah jauh lebih besar dibandingkan tanggal kelahiran beliau. Hal ini disebabkan dua alasan utama:
- Jumlah saksi sejarah: Saat beliau lahir, tidak ada yang mengetahui bahwa beliau adalah calon nabi sehingga hanya pihak keluarga yang memperhatikan. Sebaliknya, saat beliau wafat, kaum muslimin sudah sangat banyak dan memperhatikan setiap detail peristiwa yang dialami pemimpin mereka.
- Kaitan dengan syariat: Wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menandai terputusnya wahyu dan penyempurnaan ajaran Islam, sehingga tidak akan ada lagi syariat baru setelahnya.
Perbedaan Hari Bersejarah dan Hari Ibadah
Dalam Islam, penetapan hari besar untuk ibadah murni berdasarkan bimbingan wahyu dan perintah Allah, bukan didasarkan pada peristiwa latar belakang sejarah semata.
Sebagai contoh, penetapan tanggal 1 Syawal atau 10 Zulhijah sebagai hari raya dijalankan karena adanya perintah syariat, bukan karena ada peristiwa sejarah tertentu pada tanggal tersebut. Berbeda dengan syariat Islam, tradisi Yahudi menetapkan hari ibadah berdasarkan peristiwa sejarah, seperti penetapan puasa Asyura karena selamatnya Nabi Musa dari kejaran Firaun.
Oleh karena itu, tanggal bersejarah (seperti 12 Rabiul awal) boleh dianggap sebagai hari yang memiliki nilai sejarah, namun tidak boleh dijadikan sebagai landasan untuk menyelenggarakan bentuk ibadah atau peringatan khusus tanpa adanya perintah dari syariat.
Wafatnya Rasulullah ﷺ merupakan salah satu peristiwa paling berat yang pernah dialami para sahabat.
Rasulullah ﷺ wafat setelah mengalami sakit yang berat. Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi salah satu orang yang paling dekat dengan beliau pada saat-saat terakhir kehidupan beliau. Rasulullah ﷺ sendiri pernah menjelaskan bahwa para nabi juga mengalami beratnya sakit.
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa beliau menjenguk Rasulullah ﷺ ketika sedang mengalami demam yang sangat berat.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa rasa sakit yang dialami Nabi dua kali lipat dari sakit yang dirasakan manusia biasa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam HR. Bukhari no. 5648 & Muslim no. 2571
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
"Tidak ada seorang muslim pun yang tertimpa penderitaan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya."
Ini menunjukkan bahwa beratnya penyakit tidak berarti seseorang mengalami kehinaan. Bagi seorang mukmin, sakit dapat menjadi sebab penghapus dosa apabila dihadapi dengan kesabaran.
3. RASULULLAH ﷺ DIBERI PILIHAN ANTARA DUNIA DAN AKHIRAT
Aisyah radhiyallahu ‘anha mendengar Rasulullah ﷺ mengucapkan ayat: “Bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.” QS. An-Nisa: 69.
Aisyah memahami bahwa Rasulullah ﷺ sedang diberi pilihan. Tidak lama kemudian Rasulullah ﷺ memilih perjumpaan dengan Allah dan Ar-Rafiq Al-A'la.
Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa seorang mukmin tidak seharusnya menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
4. SURAH AN-NASR DAN ISYARAT DEKATNYA WAFAT RASULULLAH ﷺ
Allah ﷻ menurunkan Surah An-Nasr:
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (۱) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (۲) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (۳)
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat." (QS. An-Nashr: 1–3)
Dalam penjelasan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Surah An-Nasr merupakan isyarat bahwa ajal Rasulullah ﷺ telah dekat. Ketika pertolongan Allah dan kemenangan telah datang serta manusia masuk Islam secara berbondong-bondong, Rasulullah ﷺ diperintahkan memperbanyak tasbih dan istighfar.
Dengan demikian, surah ini tidak hanya berbicara tentang kemenangan, tetapi juga menjadi tanda telah sempurnanya tugas kerasulan beliau.
5. PESAN PERPISAHAN RASULULLAH ﷺ
Menjelang wafat, Rasulullah ﷺ memberikan berbagai nasihat kepada umat. Di antaranya adalah agar umat berpegang teguh kepada petunjuk beliau dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk.
Dalam hadis Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat menyentuh dan memerintahkan umat untuk berpegang teguh kepada sunnah beliau.
عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Dari Abu Najih Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati menjadi bergetar dan mata menangis, maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah wasiat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah wasiat kepada kami.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak. Sungguh, orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan Sunnah khulafaur rosyidin al-mahdiyyin (yang mendapatkan petunjuk dalam ilmu dan amal). Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta jauhilah setiap perkara yang diada-adakan, karena setiap bidah adalah sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, ia berkata bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].
Pesan tersebut menunjukkan bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, keselamatan umat bukan dengan menggantungkan diri kepada keberadaan seseorang, tetapi dengan mengikuti petunjuk yang beliau tinggalkan.
6. PESAN KEPADA FATIMAH RADHIYALLAHU ‘ANHA
Mengingatkan Fatimah: Pada masa sakitnya, Rasulullah ﷺ memanggil Fatimah radhiyallahu ‘anha. Beliau memberitahukan bahwa sakit tersebut merupakan sakit yang menjadi sebab wafatnya beliau. Fatimah menangis. Kemudian Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa beliau akan menjadi orang yang pertama dari keluarga beliau yang menyusulnya. Fatimah kemudian meninggal sekitar enam bulan setelah Rasulullah ﷺ.
Peristiwa ini menunjukkan besarnya kecintaan Rasulullah ﷺ kepada keluarganya sekaligus mengajarkan agar seseorang menghadapi kematian dengan kesabaran dan ketundukan kepada ketetapan Allah.
7. WASIAT-WASIAT RASULULLAH ﷺ MENJELANG WAFAT
Di antara pesan yang dibahas dalam kajian adalah:
- Berbuat baik kepada kaum Anshar: Beliau meminta kaum muslimin untuk menjaga, menghormati, dan memaafkan kesalahan kaum Anshar karena peran besar mereka dalam membela Islam.
- Berprasangka baik (Husnudzan) kepada Allah: Tiga hari sebelum wafat, beliau berpesan agar seseorang tidak meninggal dunia kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
- Menjaga Salat dan Hak Hamba: Wasiat hukum terakhir yang ditekankan beliau adalah menjaga salat dan memperlakukan hamba sahaya/bawahan dengan baik.
- Pengusiran Kaum Musyrik dari Jazirah Arab: Beliau berwasiat agar mengusir kaum musyrik dari Jazirah Arab dan memuliakan utusan atau tamu negara.
- Larangan Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah: Beliau memberikan peringatan keras agar tidak membangun masjid di atas kuburan atau mengagungkan makam, sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani terhadap kuburan para nabi dan orang saleh mereka.
- Peringatan Terhadap Bahaya Dunia: Beliau memperingatkan umatnya agar tidak berlomba-lomba mengejar harta dunia yang dapat membinasakan mereka sebagaimana umat-umat terdahulu.
- Keadilan Terhadap Para Istri: Dalam kondisi sakit berat, beliau tetap meminta izin kepada istri-istrinya agar diperkenankan dirawat di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha, yang kemudian disetujui oleh seluruh istri beliau.
LARANGAN MENJADIKAN KUBURAN SEBAGAI TEMPAT IBADAH
Salah satu pesan penting menjelang wafat Rasulullah ﷺ adalah peringatan agar kuburan tidak dijadikan tempat ibadah.
Hal ini sangat penting karena kecintaan kepada orang saleh dapat berubah menjadi sikap berlebihan apabila tidak dikendalikan dengan tauhid.
Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan tentang umat-umat terdahulu yang menjadikan kuburan nabi dan orang saleh sebagai tempat ibadah.
Pesan ini menjadi bagian dari penjagaan tauhid setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
8. RASULULLAH ﷺ MEMINTA IZIN KEPADA PARA ISTRI
Ketika sakit beliau semakin berat, Rasulullah ﷺ meminta izin kepada para istri beliau untuk dirawat di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Setelah mendapatkan izin, beliau kemudian tinggal di rumah Aisyah sampai wafat. Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi orang yang mendampingi Rasulullah ﷺ pada saat-saat terakhir kehidupan beliau.
9. ABU BAKAR MENJADI IMAM SHALAT
Karena sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, beliau memerintahkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam shalat. Hal ini menjadi salah satu peristiwa penting menjelang wafatnya Rasulullah ﷺ.
Pada hari Senin, Rasulullah ﷺ sempat membuka tirai kamar Aisyah. Beliau melihat para sahabat sedang melaksanakan shalat dengan Abu Bakar sebagai imam. Rasulullah ﷺ tersenyum melihat mereka, kemudian memberi isyarat agar mereka melanjutkan shalat.
Itulah salah satu pertemuan terakhir Rasulullah ﷺ dengan para sahabat sebelum beliau wafat.
10. RASULULLAH ﷺ TIDAK MENINGGALKAN WARISAN HARTA
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kami, para nabi, tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”
Riwayat: Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Sumber: Sahih al-Bukhari no. 6727.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Fatimah dan Al-Abbas datang kepada Abu Bakar untuk meminta bagian dari harta yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ. Abu Bakar menjelaskan hadis tersebut dan berpegang kepada apa yang pernah dilakukan Rasulullah ﷺ.
Sahih al-Bukhari no. 6725–6726.
Pesan pentingnya adalah bahwa peninggalan terbesar Rasulullah ﷺ bukanlah harta dunia, melainkan ilmu, petunjuk, tauhid, sunnah, dan risalah yang beliau sampaikan.
11. PERTEMUAN TERAKHIR RASULULLAH ﷺ DENGAN PARA SAHABAT
Pada pagi hari ketika beliau sedang sakit, Rasulullah ﷺ melihat para sahabat melaksanakan shalat berjamaah.
Beliau tersenyum ketika melihat mereka.
Hal tersebut menjadi pemandangan terakhir yang dilihat para sahabat dari Rasulullah ﷺ sebelum beliau wafat.
Betapa besar kecintaan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Namun peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus diwujudkan dengan mengikuti ajarannya, bukan dengan menganggap beliau tidak mengalami kematian.
12. DETIK-DETIK TERAKHIR RASULULLAH ﷺ
Pada saat-saat terakhir, Rasulullah ﷺ berada di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau menggunakan siwak yang diberikan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar setelah Aisyah melembutkannya untuk beliau.
Kemudian Rasulullah ﷺ mengalami beratnya sakaratul maut. Beliau mengucapkan:
“Lā ilāha illallāh, Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakarat.”
Kemudian beliau mengangkat tangannya dan berdoa agar dikumpulkan bersama Ar-Rafiq Al-A'la. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memilih Ar-Rafiq Al-A'la sebagai tempat kembali.
"Allahummaghfir-lī warham-nī wa-alhiq-nī bir-Rafīqil-A'lā"
(Ya Allah, ampunilah aku, rahmati aku, dan kumpulkanlah aku bersama ar-Rafiqal-A'la).
Sumber: Sahih al-Bukhari no. 6348.
13. RASULULLAH ﷺ WAFAT
Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa beliau wafat pada usia 63 tahun.
Sumber: Sahih al-Bukhari no. 3536.
Adapun mengenai tanggal tepat wafatnya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah. Tanggal 12 Rabi'ul Awwal merupakan pendapat yang sangat masyhur, tetapi penetapan tanggal tersebut secara pasti diperselisihkan.
Karena itu, dalam penulisan ilmiah sebaiknya dibedakan antara:
- hari wafat: Senin, yang dikenal kuat dalam riwayat;
- tahun wafat: 11 H;
- tanggal bulan: terdapat perbedaan pendapat.
14. ABU BAKAR DAN AYAT YANG MENGHADAPI KESEDIHAN PARA SAHABAT
Wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menimbulkan duka mendalam di kota Madinah. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, karena rasa sedih yang sangat hebat, sempat berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil hingga menolak warta wafatnya Nabi dan mengancam siapa saja yang menyebut Nabi telah meninggal.
Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu 'anhu yang baru tiba dari wilayah As-Sunah langsung masuk ke kamar Aisyah, membuka kain penutup wajah Nabi, lalu mencium dahi beliau seraya menangis dan berkata:
"Betapa indahnya engkau saat hidup maupun mati. Kematian yang telah ditetapkan untukmu telah engkau jalani."
Abu Bakar kemudian keluar menghadapi massa dan menyampaikan khotbahnya yang sangat monumental:
HR. Bukhari no. 1241
أَلَا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
"Amma ba'du. Barang siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup dan tidak akan pernah mati."
Abu Bakar kemudian membacakan firman Allah:
QS. Ali 'Imran: 144
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyuk
Riwayat: Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Sumber: Sahih al-Bukhari, dalam bab wafatnya Nabi ﷺ.
Mendengar ayat tersebut dibacakan, para sahabat menyadari situasi yang sebenarnya. Umar bin Khattab meratapi kepedihannya hingga kakinya lemas dan jatuh ke tanah setelah menyadari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam benar-benar telah wafat.
15. KEMATIAN ADALAH KETETAPAN ALLAH
Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًاۗ
“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan.” ( QS. Ali 'Imran ayat 145)
Ayat ini menegaskan bahwa kematian berada di bawah ketetapan Allah. Manusia tidak dapat mempercepat atau menunda ajal yang telah ditetapkan.
Allah juga berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Karena itu, yang terpenting bukanlah berusaha menghindari kematian—karena hal tersebut mustahil—melainkan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
16. PERISTIWA UHUD DAN TURUNNYA QS. ALI ‘IMRAN: 144
Dalam Perang Uhud tersebar berita bahwa Rasulullah ﷺ telah terbunuh.
Sebagian sahabat mengalami guncangan yang sangat berat. Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian dari konteks turunnya firman Allah:
وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul...” (QS. Ali ‘Imran: 144)
Ayat ini mengajarkan bahwa keimanan tidak boleh bergantung pada keberadaan fisik seorang manusia.
Rasulullah ﷺ adalah utusan Allah. Adapun yang wajib disembah adalah Allah semata.
17. NABI ISA عليه السلام TIDAK DIBUNUH DAN TIDAK DISALIB
Pembahasan berikutnya berkaitan dengan Nabi Isa عليه السلام.
Al-Qur'an secara tegas menyebutkan bahwa Isa عليه السلام tidak dibunuh dan tidak disalib sebagaimana klaim orang-orang yang mengaku telah membunuhnya.
Allah berfirman:
وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْۗ
“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 157).
Kemudian Allah berfirman:
بَلْ رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيْهِۗ
“Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” QS. An-Nisa: 158
QS. An-Nisa: 157–158: Ayat ini menjadi dasar penting dalam pembahasan akidah tentang Nabi Isa عليه السلام.
18. NABI ISA عليه السلام AKAN TURUN MENJELANG KIAMAT
Turunnya Nabi Isa عليه السلام kembali ke bumi merupakan perkara yang disebutkan dalam hadis-hadis sahih.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Isa bin Maryam akan turun, kemudian memerintah dengan adil.
Di antara perkara yang disebutkan dalam hadis tersebut adalah bahwa beliau akan menghancurkan salib dan membunuh babi.
Sumber: Sahih al-Bukhari no. 3448.
Dengan demikian, pembahasan tentang Nabi Isa tidak berhenti pada peristiwa beliau diangkat oleh Allah. Hadis juga menjelaskan bahwa beliau akan turun kembali menjelang akhir zaman.
Para ulama sepakat (ijma') berdasarkan hadis-hadis mutawatir bahwa Nabi Isa alaihis salam saat ini masih hidup di langit kedua, baik jasad maupun ruhnya. Di akhir zaman kelak, beliau akan diturunkan kembali ke bumi untuk membunuh Dajjal, mematahkan salib, membunuh babi, dan menegakkan keadilan dengan syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah menjalankan tugasnya di bumi selama kurun waktu tertentu (24 atau 40 tahun menurut beberapa riwayat), barulah beliau akan diwafatkan dan disalatkan oleh kaum muslimin.
Makna Kata Mutawaffika dalam QS. Ali 'Imran: 55
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
QS. Ali 'Imran: 55
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ
"(Ingatlah), ketika Allah berfirman: 'Hai Isa, sesungguhnya Aku mutawaffīka (mengambil/mewafatkanmu) dan mengangkat kamu kepada-Ku...'"
Menurut penjelasan Imam Ibnul Jauzi dalam kitab tafsir Zadul Masir, kata mutawaffīka memiliki beberapa makna di kalangan ahli tafsir:
- Menyempurnakan (Istifa'): Berasal dari kata istifā'ul-'adad, artinya Allah mengambil dan mengangkat Nabi Isa ke langit secara utuh dan sempurna, tanpa ada bagian jasadnya yang terluka, terpotong, atau terkena paku. Pendapat ini dipegang oleh Hasan Al-Basri, Ibnu Juraij, Ibnu Qutaibah, dan Al-Farra.
- Penerapan Taqdim wa Ta'khir: Makna kata tersebut tetap berarti mematikan/mewafatkan, namun terdapat struktur penyampaian taqdim wa ta'khir (pendahuluan dan pengakhiran frasa dalam bahasa Arab). Sehingga makna ayat tersebut adalah: "Aku akan mengangkatmu kepada-Ku (sekarang) dan Aku akan mewafatkanmu (nanti setelah engkau turun kembali ke bumi)."
19. QS. AL-MA'IDAH: 117 DAN PERKATAAN NABI ISA
Allah berfirman dalam dialog tentang Nabi Isa dalam QS. Al-Ma'idah: 117
“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”
Ayat ini juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai makna tawaffa dan hubungan antara keberadaan Nabi Isa bersama kaumnya dengan keadaan beliau setelah Allah mengangkatnya.
Dalam kajian disebutkan adanya pembahasan tafsir terhadap urutan peristiwa dan makna lafaz tersebut. Karena persoalan ini memiliki pembahasan tafsir yang panjang, hendaknya tidak mengambil satu lafaz secara terpisah dari keseluruhan dalil.
20. SETELAH TURUN, NABI ISA JUGA AKAN MENINGGAL
Turunnya Nabi Isa عليه السلام bukan berarti beliau akan hidup selama-lamanya di dunia.
Hadis-hadis tentang turunnya beliau menunjukkan bahwa beliau akan menjalani kehidupan di bumi pada akhir zaman, kemudian mengalami kematian sebagaimana manusia lainnya.
Adapun mengenai berapa lama beliau tinggal setelah turun, terdapat beberapa riwayat dan penjelasan ulama yang berbeda. Karena itu, angka tertentu tentang lamanya masa tinggal Nabi Isa sebaiknya disebut sebagai pendapat berdasarkan riwayat tertentu, bukan sebagai perkara yang tidak memiliki perbedaan.
21. PELAJARAN BESAR DARI WAFATNYA PARA NABI
Dari pembahasan tentang wafatnya Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa عليه السلام, terdapat sejumlah pelajaran penting.
- Kematian adalah sunnatullah: Tidak ada manusia yang akan hidup selamanya.
- Para nabi adalah manusia yang dimuliakan dengan wahyu: Kemuliaan kenabian tidak berarti mereka tidak mengalami kematian.
- Yang wajib disembah hanyalah Allah: Wafatnya Rasulullah ﷺ menjadi pelajaran bahwa ibadah tidak boleh bergantung kepada keberadaan seseorang.
- Dunia bukan tujuan akhir: Kehidupan dunia akan berakhir, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal.
- Sakit tidak selalu merupakan keburukan: Bagi seorang mukmin, sakit dapat menjadi sebab penghapusan dosa.
- Seorang mukmin harus mempersiapkan kematian: Bukan dengan ketakutan yang membuatnya putus asa, tetapi dengan memperbanyak amal saleh, bertobat, menjaga tauhid, dan berharap kepada rahmat Allah.
- Sunnah Rasulullah ﷺ harus tetap dipegang setelah beliau wafat: Rasulullah ﷺ telah menyampaikan risalah dengan sempurna. Wafatnya beliau tidak berarti berakhirnya kewajiban mengikuti ajaran beliau.
- Jangan berlebihan dalam mencintai makhluk: Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ adalah bagian dari iman, tetapi beliau sendiri mengajarkan agar ibadah hanya ditujukan kepada Allah.
- Kematian harus menjadi pengingat: Setiap orang akan sampai kepada ajalnya. Yang akan dibawa menuju akhirat bukan harta dan kedudukan, tetapi iman dan amal.
PENUTUP
Wafatnya Rasulullah ﷺ merupakan peristiwa yang sangat berat bagi umat Islam. Namun dari peristiwa tersebut terdapat pelajaran akidah yang sangat besar.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengingatkan para sahabat dengan firman Allah: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul...” QS. Ali ‘Imran: 144.
Rasulullah ﷺ telah wafat, tetapi Allah tidak pernah mati.
Karena itu, setelah Rasulullah ﷺ wafat, kewajiban umat Islam tetap sama: menyembah Allah, menjaga tauhid, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, memperbanyak amal saleh, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Kisah wafatnya para nabi bukan sekadar sejarah. Ia adalah pengingat bahwa setiap manusia akan menghadapi kematian.
Allah berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” QS. Ali ‘Imran: 185.
Maka pertanyaan terpenting bukanlah kapan kita akan mati, tetapi: Apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian?
Poster Ringkasan

*****