Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.
Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, 'Berhentilah dari berbuat dosa.' Dia menjawab, 'Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.' Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, 'Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni olehNya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.'
Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul 'Alamin. Allah ﷻ berfirman kepada lelaki ahli ibadah, 'Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.' Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, 'Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmatKu.' Sementara kepada ahli ibadah dikatakan, 'Masukkan orang ini ke neraka'.
📖 Hadits Shahih riwayat Ahmad, 2/323: Abu Dawu, 4901: Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd 314, Ibnu Abi Duniya dalam Husnuzh Zhan, 45: al-Baghawi dalam Syarah as-Sunnah, 14/385.
Diwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika malam aku di isra'kan aku mencium bau yang sangat wangi, aku bertanya, 'Wahai Jibril, bau apakah ini?' Jibril menjawab, 'Ini adalah bau wangi tukang sisir anak perempuan Firaun dan anak laki-laki tukang sisir itu.' Aku bertanya, 'Bagaimana bisa demikian?' Jibril menjawab, 'Ketika ia menyisir rambut anak putri Fir'aun tiba-tiba sisirnya jatuh kemudian wanita itu mengambilnya dengan membaca Bismillah. Anak putri Fir'aun berkata, 'Hai, dengan nama bapakku.' Wanita tukang sisir menjawab, 'Tidak, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu demikian juga Tuhan ayahmu.' Anak putri Fir'aun bertanya, 'Kalau begitu kamu punya Tuhan selain ayahku?' Wanita tukang sisir itu menjawab, 'Ya.' Anak putri Fir'aun berkata, 'Akan aku laporkan pada ayahku.' Wanita tukang sisir menjawab, Silahkan!"
Kemudian anak putri Fir'aun memberitahukan kejadian ini kepada ayahnya dan akhirnya wanita tukang sisir dipanggil Fir'aun, dia bertanya, "Wahai Fulanah, betulkah kamu mempunyai Tuhan selain aku? Wanita tukang sisir menjawab, 'Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah."
Kemudian Fir'aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu mulai dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.
Beberapa saat kemudian, wanita tukang sisir mengajukan permohonan kepada Fir'aun, dengan berkata, 'Ada satu permintaan dariku.' Fir'aun menjawab, 'Apa permintaanmu?' Wanita tukang sisir menjawab, 'Aku ingin tulang tubuhku dan tulang-tulang anak lelakiku kelak dibungkus dalam satu kain untuk kemudian dikuburkan.' Fir'aun menjawab, 'Akan aku penuhi permintaanmu.' Anak-anak lelaki tukang sisir itu masih terus dilemparkan ke dalam periuk mendidih hingga terakhir kalinya tiba giliran anak yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu, tetapi tiba-tiba bayi yang masih menyusu itu berkata, "Wahai ibuku, ceburkan diri ibu ke dalam periuk yang mendidih itu, karena sesungguhnya siksa dunia ini jauh lebih ringan dibanding siksa akhirat'.
📖 HR. Ahmad: 3/309, ath-Thabrani dalam Al Mu'jam Al Kabir : 12279, 12280; Ibnu Hibban: 2892, 2893.
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khaththyy Radhiyallahu’anhuma berkata, “Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Dulu sebelum kamu, ada tiga orang berjalan-jalan kemudian mereka mendapatkan sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh, maka merekapun masuk ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba ada batu dari atas bukit yang menggelinding dan menutup pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar.
Salah seorang diantara mereka berkata, “Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu sekalian dari bencana ini kecuali bila kamu sekalian berdo’a kepada Allah ﷻ denga menyebutkan amal-amal shalih yang pernah kalian perbuat.
Salah seorang di antara mereka menimpali, “Wahai Allah, saya mempunyai ayah ibu yang sudah tua renta, saya biasa mendahulukan memberi minuman susu kepada keduanya sebelum saya memberikannya kepada keluarga dan budak saya. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu dan saya menemui keduanya sudah tidur, saya terus memerah susu untuk persediaan minum keduanya. Karena saya mendapati mereka berdua telah tidur maka saya pun enggan untuk membangunka mereka. Kemudian saya berjanji tidak akan memberi minum susu itu baik kepada keluarga maupun kepada budak sebelum saya memberi minum kepada ayah bunda.